Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"tanganku" poems
Dear Nakama...       Kau tenang saja, mulai sekarang aku tak kan marah, kesal, sedih, cemburu, iri, ataupun jengkel saat kau berhubungan dengan Dia. Aku tak apa-apa. J Dear Nakama...       Sekarang, kau bisa melakukan apa saja sesuka hatimu padanya. Toh, Aku sudah melupakan semua perasaan itu, Aku sudah bisa bangkit dari keterpurukan ini. Jadi, tak ada lagi alasan untuk mu menjauhkan? Dear Nakama...       Aku merindukanmu, Tak ingin melihat kau seperti ini, mengapa kau seperti ini? L Dear Nakama...       Bukankah, kita sudah saling berjanji takkan pernah saling menyakiti,  akan terus menghubungi dan jangan sampai hilang hubungan? Dan sekarang, Aku ingin menagih janji itu... Dear Nakama...       Aku di sini sedang sedih. Tapi semoga, Kau baik-baik saja... Dear Nakama...       Apakah aku tidak boleh mengetahui keadaanmu? Tapi, bukankah itu suatu hal yang wajar di antara hubungan persahabatan? Aku tak mau kehilangan “TEMANKU”, aku tak mau kehilangan “SAHABATKU”, dan Aku tak mau kehilangan “KAKAKKU”...  :’( Dear Nakama...       Selama ini hanya Kau orang yang bisa mengerti Aku, mempercayaiku, dan menyayangiku dengan setulus hati. Akupun Selalu berusaha agar bisa menjadi seperti itu... Dear Nakama...       Setiap hari aku menimbun sedih, menyembunyikan sakit, menampung rindu, menabung kekecewaan, mengumpulkan kegelisahan, dan terus menelan air mata hanya untukmu... Dear Nakama...       Pandanganku kabur, pergerakanku kaku, kakiku lesu, tanganku beku, lidahku kelu, air mata terus jatuh, dan sesaat aku merasa duniaku runtuh ketika mengetahui kau sedang berusaha menjauh... Dear Nakama...       Apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali seperti dulu? Saat-saat di mana Aku belum mengenalnya, saat-saat di mana aku masih menjadi gadis kecil yang polos dan tidak mengenal cinta, saat-saat di mana kita sering berbincang tentang kartun kesukaan kita! Dear Nakama...       Aku minta maaf, jelas-jelas ini salahku. Dan bodohnya lagi, Aku baru menyadarinya sekarang. Maafkan Aku jika Aku melakukan kesalahan yang membuatmu tersakiti. Kesalahan yang di sengaja maupun tidak di sengaja... Semoga kau berkenan untuk memaafkanku... Sahabatmu : Haruna J
0
Jul 31, 2014
Jul 31, 2014 at 5:52 PM UTC
Dear NAKAMA
Dear Nakama...       Kau tenang saja, mulai sekarang aku tak kan marah, kesal, sedih, cemburu, iri, ataupun jengkel saat kau berhubungan dengan Dia. Aku tak apa-apa. J Dear Nakama...       Sekarang, kau bisa melakukan apa saja sesuka hatimu padanya. Toh, Aku sudah melupakan semua perasaan itu, Aku sudah bisa bangkit dari keterpurukan ini. Jadi, tak ada lagi alasan untuk mu menjauhkan? Dear Nakama...       Aku merindukanmu, Tak ingin melihat kau seperti ini, mengapa kau seperti ini? L Dear Nakama...       Bukankah, kita sudah saling berjanji takkan pernah saling menyakiti,  akan terus menghubungi dan jangan sampai hilang hubungan? Dan sekarang, Aku ingin menagih janji itu... Dear Nakama...       Aku di sini sedang sedih. Tapi semoga, Kau baik-baik saja... Dear Nakama...       Apakah aku tidak boleh mengetahui keadaanmu? Tapi, bukankah itu suatu hal yang wajar di antara hubungan persahabatan? Aku tak mau kehilangan “TEMANKU”, aku tak mau kehilangan “SAHABATKU”, dan Aku tak mau kehilangan “KAKAKKU”...  :’( Dear Nakama...       Selama ini hanya Kau orang yang bisa mengerti Aku, mempercayaiku, dan menyayangiku dengan setulus hati. Akupun Selalu berusaha agar bisa menjadi seperti itu... Dear Nakama...       Setiap hari aku menimbun sedih, menyembunyikan sakit, menampung rindu, menabung kekecewaan, mengumpulkan kegelisahan, dan terus menelan air mata hanya untukmu... Dear Nakama...       Pandanganku kabur, pergerakanku kaku, kakiku lesu, tanganku beku, lidahku kelu, air mata terus jatuh, dan sesaat aku merasa duniaku runtuh ketika mengetahui kau sedang berusaha menjauh... Dear Nakama...       Apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali seperti dulu? Saat-saat di mana Aku belum mengenalnya, saat-saat di mana aku masih menjadi gadis kecil yang polos dan tidak mengenal cinta, saat-saat di mana kita sering berbincang tentang kartun kesukaan kita! Dear Nakama...       Aku minta maaf, jelas-jelas ini salahku. Dan bodohnya lagi, Aku baru menyadarinya sekarang. Maafkan Aku jika Aku melakukan kesalahan yang membuatmu tersakiti. Kesalahan yang di sengaja maupun tidak di sengaja... Semoga kau berkenan untuk memaafkanku... Sahabatmu : Haruna J
Continue reading...
24
*ada kalanya dimana aku akan duduk tersungkur di pojok ruangan memandangi selembar foto dirimu tersenyum bahagia disebelahnya kau sangat cocok bersamanya bahkan, tangan yang dulu rasanya pas disela-sela tanganku itu terlihat lebih cocok bersamanya dibandingkan denganku sudah beberapa kali aku mencoba untuk merelakanmu tanpa pernah memilikimu ikatan batinku terlalu kuat tidak bisa begitu saja aku melepasnya 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar, bukan? aku sudah tidak menunggumu pulang lagi karena aku tahu kau tidak akan pernah pulang lagi kepadaku dan aku harus belajar melepasmu*
0
Aug 14, 2014
Aug 14, 2014 at 8:53 PM UTC
tanpa judul
Palembang, 11 Januari 2015 Aku jatuh cinta lagi Benarkah ini cinta? Mengapa rasanya begitu berbeda? Tak ada rasa takut saat aku menatap matanya Tak ada rasa sungkan untuk menyentuh kulitnya Dan aku sangat menyukai bau tubuhnya Aku suka bersandar di punggungnya Menyandarkan keningku di tengkuknya Memainkan jemariku menyentuh punggungnya Mencium aroma parfumnya Aku suka berjalan di belakangnya, menunduk Memandangi langkah kakinya ketika berjalan Sangat lebar dari langkah kakiku Aku tak mampu menyusulnya Di saat seperti itu aku membutuhkan tangannya Tuk menggenggam tanganku Menuntunku tuk berada di sampingnya Agar aku tidak tertinggal Apa benar aku mencintainya? Tapi tunggu dulu Apa itu cinta? Bagaimana rasanya mencintai seseorang? Apa yang akan aku lakukan ketika mencintai seseorang? Inikah cinta?
0
Jan 10, 2015
Jan 10, 2015 at 12:34 PM UTC
Inikah Cinta?
Temukan aku, cari aku Hancurkan aku, remukkan aku Caci diriku hinakan jiwaku Buat aku berlutut menangis di hadapanmu Hempaskan tubuhku rebahkan kepalaku Lakukanlah, hancurkan diriku. Tapi ketika saatnya tiba Ulurkan tanganmu, raihlah kepalaku Berjongkoklah, sentuh pipiku Elus rambutku hapus air mataku Tundukkan kepalamu, dekatkan ke telingaku Bisikkan padaku sebuah kata dari dalam hatimu Hembuskan padaku sebuah harapan Lantunkan lagu itu, lagu kehidupan Tatap mataku, ajak aku berdiri Pandang wajahku, yakinkan aku Genggamlah tanganku sementara kau mulai melangkah Peluk erat jariku dengan jemari lentikmu Berikan hangat tubuhmu, genggam erat tanganku Ayunkan kakimu, berlarilah Bawa aku bersamamu, beri aku jalan Menolehlah sesekali ke belakang Aku akan tetap berada di sana Memandangi jemarimu memeluk jemariku
0
Aug 27, 2017
Aug 27, 2017 at 2:11 AM UTC
Kau, Rasa Sakit Sekaligus Obatku
Jakarta, 28 Mei 2009 Suatu malam aku gelisah Menunggunya tuk hadir di sini Dia yang sangat ku cinta Pangeran dari Kerajaan Inggris Ya Tuhan Maafkanlah aku Aku t’lah mencintai orang yang salah Tolong bangunkan aku Aku diam seribu bahasa Aku menangis, “Aku hanya bermimpi!” Lalu ku lihat seorang pria Berdiri di depanku “Ya Tuhan, aku bermimpi lagi” Dia menyentuh tanganku Sekali lagi... “Ya Tuhan, ini nyata!” Aku memeluknya Dan kemudian aku benar-benar sadar Inilah kenyataannya Pangeran dari Kerajaan Inggris
0
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:52 PM UTC
Pangeran Dari Kerajaan Inggris
Palembang 27 Maret 2017 Untuk diriku sang penikmat kopi Aku telah bangun saat fajar masih terlelap Kemudian aku membuka jendela agar embun menatapku Ku biarkan tamu pagi nan sejuk menyapu rambutku yang pirang Seketika itu aku teringat tuk menyeruput kopi di gelas favoritku Segelas Capuccinno hangat di tanganku sekarang Mulai ku teguk sambil ku pejamkan mata Ku rasakan manisnya krimer di lidahku Mengingatkanku pada kamu Pemanis di dalam hidupku Aku hendak bekerja seperti biasanya Kini mentari menantangku untuk menakhlukkannya Ku pasang perisaiku dengan lengkap Kemudian ku berpikir tuk mendapatkan segelas Caramel Frappe tuk menyejukkan hari ini Tak terasa mentari kini telah lelah tuk bersinar Sehingga membuat dunia kian gelap Aku seduh Black Coffee tanpa gula Tak ku hiraukan rasa pahitnya ketika menyentuh lidahku Lebih pahit mana dengan kenyataan aku hidup tanpa cintamu?
0
Mar 27, 2017
Mar 27, 2017 at 12:49 AM UTC
Dear Me, Sang Penikmat Kopi
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
0
Apr 6, 2019
Apr 6, 2019 at 1:49 AM UTC
Laut punya caranya
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
Continue reading...
36
Ruang-ruang kosong di jiwa Sangat merindukanmu Langit berbintang memelukku erat Hingga sendiri menjadi nyaman Terbanglah bersamaku bila kau mau Kau tahu hanya butuh memanggil namaku Genggamlah tanganku Kau tahu kau tidak sendiri melawan dunia ini Hati akan berbicara Bila kegundahan menerpa Meski tak sempurna Cintaku akan mengisi gema ruang-ruang hatimu Disisimu, akan kubawa kau berlayar Menuju dunia tanpa kesedihan Disisiku, akan kubuat kau bahagia Membuat dirimu merangkum rasa.
0
Jan 2, 2018
Jan 2, 2018 at 10:00 AM UTC
Merindu Untuk Mengerti.
Terbatas; terkunci; sendirian. Mataku menyerap gambar-gambar di dalam lingkunganku, Dan sekali-kali saya menemukan tanganku mencoba bergenggam Masa depan yang punya saya; Mungkin hanya di pikiranku. Saya adalah seekor kucing kecil di pingir jalan; Diabaikan, kotor, jelek.
0
Feb 19, 2015
Feb 19, 2015 at 3:54 PM UTC
kejebur
Palembang, 27 Maret 2017 aku pernah bermimpi tentangmu kamu menggenggam erat tanganku menuntunku ke tempat yang belum pernah ku tuju sesaat kau hilangkan semua perasaan sesak dihatiku kita bergandengan berdua, ya, di dalam mimpiku kamu begitu tampan sehingga ku tak bisa berpaling memandangmu kamu seorang yang belum pernah ku temui sebelumnya kamu yang membuatku teringat kembali rasanya jatuh cinta kamu menghargai setiap aksiku kamu memandangiku bak perhiasan yang berharga kamu jua lah yang membuatku berharap ketika ku kembali ke dunia nyata
0
Mar 26, 2017
Mar 26, 2017 at 11:58 PM UTC
Untitled #3
indahnya kota jogjakarta pada malam itu tidak seberapa indah dengan binar mata dan senyum lekuk bibir mu pada malam itu, bising klakson mobil pada kemacatan malam itu bahkan bukanlah perihal yang menggangu. nyaman, bahkan bagiku semua tenang. teringat jelas bagaimana kita menelusuri kota jogja sambil mendengarkan lagu saat kau menggengam tanganku erat, bagaikan takut kehilangannya. untukmu Tuan, sosok yang selalu memberikan ku kehangatan di malam hari disaat semua bergetar kedinginan. tubuh dan ragamu yang amat ku kasihi, terima kasih sudah memperlihatkan indahnya dunia yang pernah jahat ini. padamu Tuan, aku mengundangmu untuk sejenak meletakan kepala mu dibahuku dan menikmati malam yang indah, berdua.
0
Jan 9, 2019
Jan 9, 2019 at 12:30 PM UTC
Jogjakarta malam itu
Lunas sudah selepas kutelusuri segenap frekuensi relatif tak bersisa aksiku menghadang dirimu. Bukan khayal angsa anggunku satelit jiwa kala lampau heranku dibuatnya gamblangnya usaikan cerita. Benarkah kesembronoanku? Dambaku, kau tanya nalarmu. Buram rekamanku namun tak lagi ada inginku berceloteh per kau lempar ke kolong tak beri sela kompromi. Mustahil pudarkan rasaku, hanya pikiranku, luruh binasa. Setakar janjiku, ini kali terakhir aku datang padamu. Makasih ya Kini, aku berhenti mengugat walau tanganku bergetar pelak Tuhan buat yang baik menyeruak kutenang, tak lagi koyak, toh jika baik, kembali dipersatukan kelak. demikianlah. akhirnya kulepas juga genggamanku.
0
May 21, 2019
May 21, 2019 at 5:38 AM UTC
"Apalagi?"
Tiiin. Lalu lalang kendaraan Aku masih disini berdiri, dengannya Apa aku menunggu sepi? Tidak Aku juga tidak tau sedang apa. Haha Tiba tiba kulitku tersengat Bukan. Bukan terkena listrik Ia memegang tanganku dan menarikku Mengikutinya Kami melangkah menyusuri jalanan Tiba tiba, dia melepas tanganku Dia terlihat.....kaget? Dia kaget, bagaimana denganku? Haha lucu sekali dia ini Aku jadi suka Tapi, tunggu.... Ini aneh Tanganku yang ditariknya, Namun mengapa seakan seluruh pusat perhatian ku yang ditariknya? Sengaja ya? Dia ini haus akan perhatian ya? Bilang saja padaku, biar aku perhatikan hehe
0
Aug 3, 2019
Aug 3, 2019 at 7:15 AM UTC
Bersama kecanggungan
kau adalah puisi berputar dalam imajinasi mengendalikan tanganku untuk menulis entahlah, aku memang tak mampu menyulam kata kata manis terkadang bingung memilah kosa kata yang kurasa memang terbatas tapi kau adalah puisi ku menulismu dibawah lampu temaram duduk termangu menjelajah inspirasi aku ingin sekali menulismu aku akan menulismu tunggu sampai kau menjadi puisiku
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:11 PM UTC
PUISI
Menuju malam sabtu, lagi lagi aku menghela napas Melihat caramu menatapku, itu membuatku sakit Mendengar suara mu saja aku muak Bagaimana kau melangkah Bersenandung kala di motor Menyapa mereka yang kau bilang teman Memuakkan Kau tau? Bahkan saat menggenggam tanganku, rasanya seperi kau mencekik hatiku Sesak Kau; Tertawa hingga berurai air mata Aku; Menangis tanpa melepas air mata Kau lihat kan perbedaannya? Apa memang aku yang harus bersakit? Apa aku layak menerima ini? Apa yang sudah ku lakukan di kehidupan sebelumnya hingga aku mendapatkan rasa seperti ini? Tolong jawab aku
0
Jul 7, 2020
Jul 7, 2020 at 1:30 PM UTC
Jeritan
Ayo, pergi bersamaku. Aku akan mengajakmu pergi menikmati angin malam sambil melihat gemerlap cahaya dari gedung tinggi ibu kota Ayo, pergi bersamaku. Kita akan menyanyikan lagu indie sambil berteriak lirik yang salah, menatap jalanan besar yang kosong dan tertawa bersama Ayo, pergi bersamaku. Aku akan mengajakmu menikmati senja jauh dari kerumunan ibu kota diantara rerumputan liar dan kehangatan sentuhan telapak tanganku yang kasar. Ayo, pergi bersamaku. Aku akan membelikanmu baju bekas dengan brand ternama dan memakaikanmu kacamata hitam untuk perjalanan yang panjang nantinya Ayo, pergi bersamaku. Sini, ke mobilku. Tapi, kenapa kamu hanya menatapku?
0
Oct 28, 2018
Oct 28, 2018 at 2:35 PM UTC
Ayo
kekasih, sebelum takdir melenyapkan tubuhku dan takbirku menjadi sesuatu yang senyap ajari aku mencintaimu: ajari lidahku menyebut namamu ajari mataku melihat parasmu ajari telingaku mendengar suaramu ajari tanganku memegang tanganmu ajari kakiku melangkah padamu sekali lagi agar aku, kekasih, yang cuma hamba sahaya ini bisa merdeka merdeka adalah berada di haribaan cintamu sepanjang waktu
0
Oct 1, 2017
Oct 1, 2017 at 8:32 AM UTC
ajari aku
Nyatanya aku masih terjaga Disaat kuucapkan selamat tidur untukmu Setiap jengkal serat tubuhku tak ingin berpisah darimu Sekalipun malam telah membelaimu dengan lembut, siap sedia menyanyikan lagu tidur untukmu Aku tak rela Nyatanya aku masih bermimpi, di pagi hari kau membangunkanku Tak ingin kulepaskan genggaman tanganku Tak ingin kusudahi wajah kita yang saling menatap Takkan kubiarkan hangat tubuhmu menguap Aku tak ingin terjaga Nyatanya aku merindukan dirimu Saat aku mengurungkan niat untuk berkabar Saat amarah memberi mata pada cinta, hingga ia tak lagi buta Ketika tawa tak lagi terdengar Ketika kata tak mampu terucap Aku tak ingin berpisah Nyatanya kau tetap setia Sekalipun cintamu berlayar dalam diam Kala sumpah serapah yang membabi buta, mengawali malam kejam yang tak membiarkanmu terlelap Meskipun air mata telah menggantikan suara Dan dua surga yang tak bisa bersatu Maafkan aku
0
Sep 9, 2018
Sep 9, 2018 at 9:21 PM UTC
Nyata Kita
✫  ·    + . ✵    . ·    .•°•Trepidation•°•. .      ˚  *           .  . ⋆ *   ˚     .  ⊹ Bunga-bunga menjauh dari jalanku Membiarkanku seakan kehilangan ragaku Duri menghiasi setiap jalan Sinar matahari memudar di sela-sela dedaunan Burung-burung merintih dalam pedih Biarlah ketakutan mengambil kesempatanku Kesempatan untuk kembali ke jalanku Jalan yang tak mungkin kutemui lagi Di kegelapan aku mencoba menyisir cahaya Menyisir cahaya dan kudapati rontokan bintang Aku takut.. Aku takut pada malam Malam yang semakin pekat Kemana aku akan berlari? Lututku berdarah menapaki jalan tanpa arah Semua ini tampak seperti ilusi bagiku Menemukan jalan yang benar adalah delusi Tak ada rasa sakit, tak ada kesenangan Namun kesenangan itu hanyalah angan-angan Aku tak ingin menyerah Walau kurasa hatiku berdarah Bila dunia ini berhenti Siapapun takkan bisa mengunciku lagi Selamatkan aku... Keluarkan aku dari sini Seperti apa akhir dari jalan ini? Aku takut... Keluarkan aku dari sini Ku mohon peganglah tanganku Di dalam hatimu, di dalam mimpimu Bangunkanlah kembali bintang-bintang -Kediri, 17 Maret 2018
0
Mar 25, 2018
Mar 25, 2018 at 11:23 PM UTC
Trepidation
Jika kau adalah pendosa Maka genggamlah tanganku Jangan lagi kau hitung waktu Nerakalah tempat kita menunggu Namun kaulah malaikat Andaikan kau genggam tanganku Sekalipun dinanti surga Sekalipun surga, kau dan aku Surga yang berbeda
0
Jan 9, 2018
Jan 9, 2018 at 1:22 PM UTC
Surga yang Berbeda
Kenanganku dalam bayangan itu sederhana Seolah semesta tak ingin aku disakiti Memberi kejutan dibawah sadarku Kamu pasti tahu pangeran beruangku Dia memegang tanganku Dan tidur di dekatku Seolah aku ini orang yang berharga untuknya Entah kenapa malah pangeran beruang Bukan pangeran kimia yang muncul Mungkin semesta memang suka bercanda
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 11:37 AM UTC
Mimpi tentang pangeran
Genggam tanganku malam ini Untuk pertama kalinya Sebelum September beranjak Dan mungkin untuk terakhir kalinya Ceritakan padaku rasa hatimu Karena telah kau kuras habis isi hatiku Tampaknya kau sudah lebih tahu Sesal dan kebodohanku Kugadaikan separuh hatiku Aku mau sedikit tawa, senyum, dan waktumu Tahukah engkau hati terasa lebih berat saat terbelah dua Semoga kau kembalikan nanti padaku September segera berlalu Kenapa tak kau kecup saja bibirku Untuk pertama kalinya Dan mungkin untuk terakhir kalinya
0
Sep 1, 2020
Sep 1, 2020 at 6:05 AM UTC
September