Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
Lunas sudah selepas kutelusuri segenap frekuensi relatif tak bersisa aksiku menghadang dirimu. Bukan khayal angsa anggunku satelit jiwa kala lampau heranku dibuatnya gamblangnya usaikan cerita. Benarkah kesembronoanku? Dambaku, kau tanya nalarmu. Buram rekamanku namun tak lagi ada inginku berceloteh per kau lempar ke kolong tak beri sela kompromi. Mustahil pudarkan rasaku, hanya pikiranku, luruh binasa. Setakar janjiku, ini kali terakhir aku datang padamu. Makasih ya Kini, aku berhenti mengugat walau tanganku bergetar pelak Tuhan buat yang baik menyeruak kutenang, tak lagi koyak, toh jika baik, kembali dipersatukan kelak. demikianlah. akhirnya kulepas juga genggamanku.
0
May 21, 2019
May 21, 2019 at 5:38 AM UTC
"Apalagi?"
Lunas sudah selepas kutelusuri segenap frekuensi relatif tak bersisa aksiku menghadang dirimu. Bukan khayal angsa anggunku satelit jiwa kala lampau heranku dibuatnya gamblangnya usaikan cerita. Benarkah kesembronoanku? Dambaku, kau tanya nalarmu. Buram rekamanku namun tak lagi ada inginku berceloteh per kau lempar ke kolong tak beri sela kompromi. Mustahil pudarkan rasaku, hanya pikiranku, luruh binasa. Setakar janjiku, ini kali terakhir aku datang padamu. Makasih ya Kini, aku berhenti mengugat walau tanganku bergetar pelak Tuhan buat yang baik menyeruak kutenang, tak lagi koyak, toh jika baik, kembali dipersatukan kelak. demikianlah. akhirnya kulepas juga genggamanku.
210519 | 14:42 PM | meja kayu bundar Setelah berdoa sepanjang malam dan pagi, akhirnya memutuskan kirim pesan lewat nomor baru, nothing to lose. Aku tak akan pernah tenng kalau tak begini, akan kuusahakan apa yang kubisa, daripada diam menunggu & menebak-nebak apa yang ada di kepalanya. Janjiku, ga masalaj jika hasilnya bukan seperti apa yang kuhendaki, yang penting udah kucoba perjuangin. Untuknya yang memilih menjauh, kenapa bergegas segitu cepat? kamu pakai ayat-ayat kudus menyakitkan, karena akupun menyerahkan semuanya ini ke tangan Bapa yang mengirimu padaku. Kali ini, ini yang terakhir, aku doakan yang terbaik bagimu. Makasih untuk 7 tahun ini, agar kau tahu sampai saat ini hanya kamu yang kubiarkan masuk ke pintu kehidupanku I put 110% jiwaku ke kamu, di bali ini kalo aku liat makanan enak aku mikirinnya kamu, gimana caranya biar aku bisa buatin itu buat km pas berkeluarga, walaupun mungkin sebaliknya aku justru suam-suam kuku di semestamu. Sampaikan salamku pada keluargamu, aku pamit, maafkan apapun kesalahnku padamu. Semoga suatu saat nanti pintu silaturahmi yg kamu tutup itu, bisa jadi baik. Entah.
megittaignacia
Written by
May 21, 2019
May 21, 2019 at 5:38 AM UTC
Request permission to use this poem