Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"sudut" poems
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC
Hujan Pembawa Rindu
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Continue reading...
29
Payudaramu Masih menatapku dengan murung Entah sudah berapa lama kupegang Mungkin ratusan ribu kali. Temaram yang dibentang Oleh lampu kecil di sudut kamar; Ranjang yang bermain melodi sendu Poster kusam mimpi hari depan Dan radio tua yang tak henti-henti Menabuh genderang yang telah hilang Semangat. Ah, siluetmu Yang bergoyang-goyang di tiup Angin asmara. Aku mencintaimu malam ini Lebih dari apapun, Bilang pada bulan Jangan berhenti bersinar Dan taburilah wajahnya Banyak-banyak cahaya bintang. Aku mencintaimu malam ini Lebih dari apapun, sampai pintu bilik di ketuk. (Batam, 17 Mei 09)
0
Apr 8, 2011
Apr 8, 2011 at 7:42 AM UTC
Ara
*Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melepas seikat rindu Untuk seseorang berpandangan sayu Yang telah lama diombang-ambing oleh gelombang kelabu Seberat langit mendung yang sendu Berpayung ia lama mencari lentera menuju ujung jalan Sembari menanti hentinya rintik hujan Tanah becek berlumpur tempat kakinya lama singgah Di mana guntur tak ada lelahnya menumpah ruahkan gundah Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melekatkan seikat harapan Untuk seseorang yang tengah dihuyung geramnya badai topan Yang tak hentinya berharap agar matanya dibutakan mentari pagi Jiwanya lama berkelana mencari, entah ke mana cahaya itu pergi Jauh dalam sudut yang gelap ia dibiarkan sendiri* ------------------------------------------------------------------------------------------- Telah kuleburkan kata demi kata menjadi beberapa helai untaian kalimat Untuk kompas dalam hidupmu yang telah kehilangan arah Dibutakan oleh gulungan-gulungan masalah Juga dalam doa-doa malamku dan setiap sujudku di atas sajadah, Kubisikkan sebuah pinta agar dirimu selalu dalam pentunjuk-Nya, Agar kelak dapat kau baca helaian untaian kalimat penyamangatku, Yang kusampirkan dalam saku jaketmu hari itu, Dapat merontokkan seluruh perasaan kelabu dalam kalbumu, Mendepakmu dari sudut gelap di ruang tergelap pikiranmu sendiri.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 7:28 AM UTC
ruang tergelap
Aku memiliki seribu mimpi tapi ibu bilang aku tak tahu diri Tak mengerti keadaan dan kondisi, akupun berhenti membicarakan itu dengannya. Kopi panas yang ku seduh dengan kekecewaan kemarin pagi diseruput lega olehnya. "Jadikan perkataan mereka cambuk bagimu" Salah seorang teman pernah berkata begitu padaku. Tapi kepalaku ini berisi setan-setan bengal! Mereka hanya mengerti kesedihan dan kemarahan. Aku tidur dengan tangan penuh tinta merah setiap malam, berusaha memindahkan kotak-kotak terlarang dari sudut mimpi ke ruang kegagalan. Mereka berhenti mencoba membunuhku tapi kali ini mereka menaruh racun disetiap gelas yang akan ku teguk Bukan! Bukan racun mematikan tapi cukup membuat jiwaku lumpuh untuk waktu yang tak menentu Aku berhenti membicarakan mimpi-mimpiku kepada siapapun Aku tak ingin mimpi yang tersisa hancur diinjak-injak oleh kaki yang bahkan tak peduli berapa lama aku membangunnya 'kembali' Tahun-tahun tak bernyawa Meludah kata-kata serapah seakan hatiku dinding beton dingin Kecukupan seperti apa yang membuat mereka bahagia! Atau biarkan aku tergeletak di kasur lembut itu Jangan! Jangan coba bangunkan aku Mungkin ketenangan di dalam sana mampu meredam kekacauan di kepala malamku
0
Jan 23, 2016
Jan 23, 2016 at 12:53 AM UTC
Kotak Mimpi
Pukul satu, kakiku melangkah ke sudut warung kecil itu Sunyi, lalu ku pilih tempat duduk di ujung sana Setelah memesan kopi, pilot ku menggores kertas Yang sama putihnya dengan kulitmu Tak lupa kubakar ujung rokokku Yang namanya sehangat pelukanmu Lalu kuhembuskan kepulan asap tembakau Menguar sama harumnya dengan tubuhmu Sepekat nikotin di pembuluhku Ku tulis kisah kita, dari awal mula hingga akhir bersua Yang terdampar di sudut kenangan dan rindu, dan kupaksakan masuk ke dalam loker kerjaku Sehingga lupa ku adalah tabu, dan memoir adalah ***** Dirimu ku lukis dalam surat ini; "Di hingar bingar kota, dimanakah kau berada? Jika lelahmu beradu, dimakah kau berteduh? Aku disini kasih, Surabaya tempatmu lari Menolehlah jika kau ada di sudut persimpangan Mungkin, aku disitu mencari dan mencari Sisa-sisa cintamu jika itu memang terjatuh Menadah air matamu, jika itu memang tercecer. Temui aku, jika berkenan menjumpa nostalgia" Kuhembuskan uap-uap tar yang menguning Menerawang di bohlam remang-remang. Ketika kabut itu pergi, begitu pula aku Saat api ini padam, redup juga jiwaku Pukul tiga aku beranjak, Bayar dan pergi Surat itu kutinggalkan di atas meja.
0
Apr 7, 2016
Apr 7, 2016 at 2:05 AM UTC
Secarik Surat Cinta dan Sebatang Rokok Surya
Palembang, 21 Oktober 2012 Kini aku menulis dari sudut kiri Memalingkan mukaku dari hadapanmu Tak ingin terlihat olehmu Di sini, aku membaca sembunyi-sembunyi Menahan kedip, Tak ingin melewatkan membaca namamu Di sini dingin, hujan baru saja turun Membasahi jalanan yang terlalu lama kering Aku tak ingin pergi keluar Hanya ingin di sini Merasakan rasa ini lagi Rasa seperti ini Sekarang ini, saat aku menulis ini Rasa yang sulit tuk diungkapkan Lebih sulit dari berjalan di atas bara Lebih sulit dari mengingat namamu Sangat sulit daripada menulis namamu Sangat amat sulit daripada menyebut namamu Rasa, yang tak akan pernah berhenti membuatku menulis Rasa, yang tak mampu ku ucapkan sendiri Rasa ini Rasa yang sulit tuk dimengerti Rasa yang tak akan pernah hilang Rasa yang sulit tuk tak dibahas Terima kasih tlah membuatku menulis dari kiri
0
Oct 21, 2012
Oct 21, 2012 at 6:22 AM UTC
Rasa 2
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
ada gelap, redup, lalu apa?
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
Continue reading...
31
Jakarta, 13 Mei 2007 Ku pandang sisi-sisi sudut di sebuah ruangan Tiada apapun yang dapat ku kenang Selain seorang teman yang setia kawan Ku harap ada seorang kawan yang menemaniku Di kesunyian malam yang terus mengancam Seolah tak peduli akan ketenangan Namun Ku mencoba untuk sabar menanti kerinduan Pada seorang terkasih yang s’lalu ku dambakan (Puisi ini dibuat untuk dinilai oleh guru bahasa pada tanggal 14 Mei 2007, dan mendapat nilai 8)
0
Jan 2, 2012
Jan 2, 2012 at 4:42 AM UTC
Sabar Menanti
Terkadang raga ini lelah melangkah Berjalan tanpa tahu pasti kemana Apakah akan singgah sebentar di sudut itu Atau mungkin akan berhenti di pelabuhan timur Malam itu aku tertatih Menahan perih dan luka Tanpa ada satupun yang sadar Dalam hati mengumpat watak manusia yang acuh Namun aku juga manusia Aku.. manusia yang tak akan pernah berhenti belajar Walau harus merajut asa dalam sakit Ditemani oleh temaram lampu kota aku menari Hingga raga ini tak sanggup Dan jiwa ini hilang dibawa angin malam
0
Apr 4, 2016
Apr 4, 2016 at 10:20 AM UTC
Temaram Lampu
kau masih melukiskan jingga di kepala bertanya pada sudut jalan yang tak pernah sepi “seperti apa senja di kota?” ya seperti ini tak dingin oleh kabut tak terasa oleh waktu kau akan sibuk menyeberang jalan sebelahmu akan mati kejang – kejang dan mereka masih akan meliput gedung metromini memainkan dendang dengan kencang selagi pengamen berteriak minta makan “dan kamu?” mataku ini akan merah berair “kenapa?” apa beda aku dengan senja di kota?
0
Jan 10, 2016
Jan 10, 2016 at 9:54 AM UTC
serpihan senja di jakarta
Dalam retrospeksi minda naif kecilku pernah berimaginasi memikirkan dunia luar sana yang bagaikan fantasi hati merontakan suatu kebebasan yang diimpi namun kini ku sedari, itu semua hanyalah persepsi seorang gadis kecil yang dahulunya bercita-cita tinggi masa sudah tiba untuk kembali ke realiti. Selamat datang ke Kota Korupsi di mana manusia-manusia bertopengkan syaitan kehausan kuasa, kerakusan harta duniawi dipuja, dipuji dan disanjung tinggi pil penawar pula makanan ruji untuk depresi tiada lagi tempat mengadu, tempat meluahkan hati hanya tinggal kata-kata yang kehilangan erti terpapar di kotak skrin empat segi. Bangsaku semakin alpa, agamaku jauh sekali soal halal haram tidak dipertikaikan lagi hanya topik sembang santai di kedai kopi bicara hari nanti ditolak dahulu ke tepi. Dunia yang dahulu semakin pudar hanya serpihan di hujung sudut memori masa berlalu terlalu pantas, terlepas dari jari-jemari sekarang sudahpun tiba generasi baru menapakkan kaki namun, lihatlah sejarah mengulangi dirinya sekali lagi selagi nafas belum terhenti selagi kita belum pergi.
0
Dec 29, 2017
Dec 29, 2017 at 6:45 AM UTC
Kota Korupsi
bukan tidak percaya diri, hanya saja... rasanya sulit ketika kau berulang kali tenggelam sampai akhirnya kau lelah untuk meraih udara di atas lalu nyaman dengan kedalaman maksudku haruskah kita selalu berkembang diatas ? bukankah sama saja ? semua sudah ditimbang baik buruknya, tergantung dari sudut mana kau melihatnya. untukku, aku yang masih 17 tahun ini sempat terbesit sudah ingin hidup di ketenangan itu tidak mau terlalu banyak mengambil bintang usahakan lebih banyak bersyukur bercengkrama dengan anemon laut di bawah sana hiu maupun predator buas pun akan coba kuakrabkan kalau memang kita tidak diterima diatas kenapa tidak coba membangun istana di bawah ? apa salahnya terus berusaha tetapi lain jalur dengan para mayoritas ?
0
Jul 2, 2018
Jul 2, 2018 at 7:25 AM UTC
aku, mencoba menenangkan diri sendiri
Ya Langit ini terlalu indah untuk dilihat saja Tanah ini terlalu luas sebagai sebuah pijakan Bisakah aku melihat sisi langit lainnya? Bisakah aku mengenal sudut pijakan lainnya? Aku juga ingin bertemu dengan senja di langit utara Apalagi saat fajar mengintip di langit selatan Aku tidak dari timur Ataupun barat Aku ditengah. Ditengah tengah kebingungan Aku hanya ingin mengenal tanah di sudut barat daya Di sisi tenggara Menyapa tanaman dan makhluk hidup lainnya Salahkah aku? Aku hanya makhluk yang serba ingin tahu Tolong, jelaskan padaku mengapa ini salah Mengapa ini dilarang?! Aku juga ingin menikmati sinar sang surya dari sisi yang berbeda Apakah aku terhukum? Aku bukan peminta Apalagi pengemis Tapi kali ini, bisakah kau jelaskan padaku? Apa? Mengapa?
0
Nov 7, 2018
Nov 7, 2018 at 12:35 PM UTC
Mohonku
Setelah kesekian kalinya, Dia berusaha Di sudut nyala lilin kecil Dia dapat kembali menangis Terisak hingga kelelahan Mengeluarkan semuanya Dan jatuh tertidur Wahai puan, Berapa lama topengmu itu kau gunakan? Tak apa jika kau ingin bersedih, Tak apa jika kau ingin marah, Tak apa jika kau merasa dunia ini tak adil Jangan mengunci dirimu, Terdapat langkah kaki yang ingin menemanimu diluar sana Persilahkan lah Untukmu, Tolong jangan memenjarakan diri sendiri
0
Dec 13, 2018
Dec 13, 2018 at 10:10 AM UTC
Kepada Puan Bertopeng
kau putar lagi satu lagu bernada manis dan mudah didengar itu, sederhana. berbeda dengan musik-musik yang biasa kusimpan di playlist-ku, yang nadanya keras dan isinya tak mudah dicerna. kumpulan seni berisi teka-teki. sejenis indie, mereka bilang. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda; kamu yang begitu lembut dan aku yang mereka beri label seorang laki-laki berwajah datar, tak berperasaan. salah. kukatakan sekali lagi, salah. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda, yang juga saling tarik-menarik tak pernah mau lepas pada waktu yang sama. dengan segala perbedaan yang mereka pikir terlalu sulit untuk dipersatukan, logika dan imajinasi, bagai minyak dan air, aku dan kamu memilih untuk saling membenahi satu sama lain. isi pikiranmu adalah buku berjalan bagiku dan ruang kosong dalam sudut otakku yang biasa kau sebut sebagai ‘ruang khayal’-ku, kau jadikan ia sebagai salah satu guru dalam hidupmu. dari sana kau pelajari bagaimana caranya mengenali berbagai nada musik dan segala makna dari balik kiasannya yang beresonansi, kisah-kisah yang hanya dapat hidup dalam dimensi imajinasi, serta inspirasi-inspirasi yang dapat kau cari dari peristiwa sehari-hari. aku dan kamu tak pernah sama, kamu satu perempuan berambut lembut dengan suara yang lembut, isi pikiran yang berjalan mulus. orang-orang bilang kamu perempuan berpendidikkan, jenis perempuan berwawasan luas, berjiwa luas. sementara aku laki-laki penggila musik yang menganggap seni adalah satu hal yang perlu ditekuni seuntuhnya. menjadi musisi adalah satu impian besar yang membuatku tak pernah berhenti berlari untuk mencapainya dan kamu pendukungnya, nomor satu. kamu ingin jadi jurnalis dan aku ingin jadi pemusik. aku dan kamu berasal dari ranah yang jauh berbeda, namun disatukan karena cinta.
0
Dec 9, 2017
Dec 9, 2017 at 9:34 AM UTC
satu lagi kisah singkat yang sempat terbuang
kau putar lagi satu lagu bernada manis dan mudah didengar itu, sederhana. berbeda dengan musik-musik yang biasa kusimpan di playlist-ku, yang nadanya keras dan isinya tak mudah dicerna. kumpulan seni berisi teka-teki. sejenis indie, mereka bilang. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda; kamu yang begitu lembut dan aku yang mereka beri label seorang laki-laki berwajah datar, tak berperasaan. salah. kukatakan sekali lagi, salah. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda, yang juga saling tarik-menarik tak pernah mau lepas pada waktu yang sama. dengan segala perbedaan yang mereka pikir terlalu sulit untuk dipersatukan, logika dan imajinasi, bagai minyak dan air, aku dan kamu memilih untuk saling membenahi satu sama lain. isi pikiranmu adalah buku berjalan bagiku dan ruang kosong dalam sudut otakku yang biasa kau sebut sebagai ‘ruang khayal’-ku, kau jadikan ia sebagai salah satu guru dalam hidupmu. dari sana kau pelajari bagaimana caranya mengenali berbagai nada musik dan segala makna dari balik kiasannya yang beresonansi, kisah-kisah yang hanya dapat hidup dalam dimensi imajinasi, serta inspirasi-inspirasi yang dapat kau cari dari peristiwa sehari-hari. aku dan kamu tak pernah sama, kamu satu perempuan berambut lembut dengan suara yang lembut, isi pikiran yang berjalan mulus. orang-orang bilang kamu perempuan berpendidikkan, jenis perempuan berwawasan luas, berjiwa luas. sementara aku laki-laki penggila musik yang menganggap seni adalah satu hal yang perlu ditekuni seuntuhnya. menjadi musisi adalah satu impian besar yang membuatku tak pernah berhenti berlari untuk mencapainya dan kamu pendukungnya, nomor satu. kamu ingin jadi jurnalis dan aku ingin jadi pemusik. aku dan kamu berasal dari ranah yang jauh berbeda, namun disatukan karena cinta.
Continue reading...
1
Pernahkah aku menjadi kembang apimu Meletup-letup berirama Mempesona penuh warna Memantik rindu tak kunjung reda Pernahkah aku menjadi senyummu Segaris indah warna merah Membentuk sudut surga Di atas pipimu yang merona Pernahkah aku menjadi bungamu Harum mewangi walaupun sepi Senyum melekat tiada henti Bermekaran di relung hati Atau Apakah aku ini sedihmu Terbendung oleh pelupuk Membasahi mata cokelatmu Tumpah menyusuri sudut matamu
0
Sep 9, 2017
Sep 9, 2017 at 12:45 PM UTC
Pernahkah aku
ada yang berkata untuk urusi urusanmu sendiri ada juga yang menganjurkan kita saling bantu oiya, kita juga disalahkan karena apapun yang kita pilih semuanya akan selalu berjalan seperti itu oiya sebenarnya disini; tidak ada yang benar benar salah tidak ada yang benar benar betul jika dilihat dari banyak sudut pandang jika memang berkata; biarlah, orang itu sendiri sendiri ya harus konsisten tidak usah memaksakan kehendak suatu makhluk. tuhannya ? tidak usah ditanya. tidak sopan.
0
Jan 29, 2019
Jan 29, 2019 at 3:07 AM UTC
iya juga ya
Ditarik, kami diarahkan membaca apapun yang tidak ada penjelasannya. Dikodratkan harus paham isi kepala makhluk yang hanya sesekali berkata iya dan tidak. Kami terpingkal, Puan. Bagaimana tidak?; Kain yang kau gunting sendiri dan pintal dengan rajut sedari subuh sudah cantik--tapi kau merasa kurang, dan kami adalah penyebabnya katamu. Duduk kami melingkar bersama dengan gelas gelas berisi teh melati, Hangat membaur aroma kebingungan kaum kami. Sekali beberapa menit kami terpingkal lagi, berusaha terus membaca setiap halaman kosong dan beberapa titik saja di sudut kiri kanannya. Tidak ada barang satupun buku yang mengerti keinginan puan. Cemasnya puan ingin dilindungi, Lembutnya puan yang ingin dikasihi, Ah, apalagi tangisan yang tiba-tiba terisak di malam sehabis mimpi. Tersenyum kami menahan tawa dan kantuk, sembari melihat-lihat wajah puan yang tertunduk mengharap ditanya mengenai hari ini. Semenit dua menit kami lihat lekat-lekat wajah puan. Kami bisa tidur malam ini, Jawaban kebingungan lelaki bukan tertulis pada buku-buku; tapi dua bola mata yang senantiasa banyak bercerita setiap ia duduk hening tanpa berbicara. Ah, engkau puan~ Buku pelajaran yang tak ada tamatnya. B_A 10 Mei 2019
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 12:23 AM UTC
Ah, engkau puan~
Perihal bertanya Terkadang aku bingung Aku ini siapa sampai boleh meragu Tapi setiap perjuangan butuh alasan Lalu jika jawaban bahkan tak menyelesaikan Apa yang kamu lakukan? Melukai atau mengobati? Menyakiti atau mencintai? Terdengar seperti wacana ya Lagipula semesta kadang ingin becanda Kamu tahu kenapa bumi bulat? Karena semesta ingin dicintai tanpa rasa bosan Iya, sudut yang membuatmu berhenti mencinta Membuat semesta murung Begitu juga aku disini Masih berperasaan karena memiliki tujuan Jika ingin melihatmu bahagia Atau sekedar nafsu belaka Omong kosong namanya Aku mencinta dengan mudah Hanya untuk tumbuh bersama Masih terdengar wacana kan? Makanya ayo lakukan Semesta sudah mengijinkan kok
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 11:34 AM UTC
Bertanya sampai memaksa
Langit sore memerah malu Saat ia menatap ketat lembayung senja Sejurus angin bertiup lembut Menggoda tiap helai rambutnya Untaian awan paham akan isi hatinya Melepaskan dahaga penikmat rindu Pelipur lara di kala sendu Tumpah ruah menghujani bumi Rintik hujan memancing senyum di bibirnya Butiran awan menggantung malas Di antara bulu matanya yang lentik Turun menyusuri sudut matanya Pipinya merona tak peduli dinginnya senja Tangannya terulur menyambut sang malam Gadis hujan yang ingin mencintai malam Malam yang menciptakan badai dari hujan
0
Apr 24, 2018
Apr 24, 2018 at 3:11 AM UTC
Gadis Hujan
Hampir lebih separuh hidupku Tidak ada hati yang ada.. Ya, hati ini sudah terisi sebuah batu yang amat keras Tetapi bukannya Aku tidak mau ada.. Terkadang Aku termenung sendiri di dalam kesendirian Sesambil menatap pemandangan yang ada di depan mata Hati ini terus bertanya-tanya Sebenarnya apa.. Apa yang Aku inginkan? Apa yang Aku butuhkan? Lelaki seperti apa? Siapa dia? Kepala ini selalu berbisik bahwa ada saatnya akan hadir Jiwa ini juga mengatakan untuk tetap menjaganya Menjaga jiwa dan hati ini untuk suatu raga.. Raga yang tidak bisa ku sentuh keberadaanya Rasa ini selalu meyakini dia ada Ya, mungkin di suatu sudut yang sangat tidak terlihat.. Bahkan mugkin tidak ada Dan tidak pernah..
0
Jun 20, 2017
Jun 20, 2017 at 2:31 PM UTC
Tidak Pernah Ada (Never Existed) // [bahasa]
Yang dipegang tidak ingin diikat, inginnya pergi menjemput belikat. Bukan rahasia kalau belikatnya adalah hidupnya, nanti dia tidak bisa terbang, katanya. Yang diberi hati tidak ingin jatuh hati, dia sudah jatuh, katanya. Sedikit lagi sampai, katanya. Sedikit lagi yang dicarinya digenggamnya, katanya lagi. Yang diinginkan bahagia juga inginnya bahagia, untungnya. Tapi bukan untuk satu sama lain, sayangnya. Tidak apa-apa, kan yang penting bahagia, katanya. Dia tidak mengerti, sayangnya lagi. Dia tidak mengerti, dia ada menghantui sudut ruang, nyata dan berakar, langkahnya tak bergravitasi keluar sangkar, inginnya berputar melingkar, tetap tinggal, tidak meninggalkan. Perasaan ini bermassa, dia sudah pasti tak memberi asa, sudah biasa. Sudah biasa, tidak apa-apa. Jadi dia dibiarkan kembali duduk di sudut ruangan.
0
Jun 18, 2020
Jun 18, 2020 at 1:33 PM UTC
—yang duduk, yang tinggal.
di ruang 3x3 meter kusesap lagi secangir kopi yang sudah tak lagi hangat masam terkecap, pahit tersisa buih-buih krema berjejer rapi di ujung mulut cangkir menggetarkan diri menciptakan nada detak jantung yang semakin tinggi dan mengundang semut-semut emosi pada ujung jemariku didekap dibekap kebencian bersarang pada ekor jiwaku yang semerawut semakin hari, semakin menjadi-jadi amarah yang tak terbendung perkara hati bukanlah sebatas ruang bukan juga sekedar sudut yang bisa disinggahi, diacak-acak, lalu ditinggal begitu saja tanpa dibereskan ibumu saja marah kalau kamarmu berantakan debaran  demi debaran candu pada cairan pekat ini terkadang mengundang rasa kantuk bagai lorong tanpa ujung pikiranku melayang masuk ke masa lampau amarah dan kebencian mengombangambingku belum reda kesalku kutuk bertaburan dari bibirku ada rangkaian rencana cela yang menari-nari di kepalaku apa warasku pergi? apa warasku pergi? apa warasku pergi? benci ini tak perlu lagi disiram terjebak realita semu, mantra-mantra sukar dipahami tetapi nyata efeknya betapa sulitnya meracik ramuan ketenangan jiwa kalau kamu jahat, lalu aku balas jahat apa bedanya kamu dan aku? aku tidak mau sepertimu bukan pilhan pasif, dengan sadarku warasku ada aku pemenang petak umpetnya!
0
Jul 3, 2019
Jul 3, 2019 at 12:56 PM UTC
W A R A S