"kenapa" poems
Gua sama sekali gak maksudbuat ngejelekin, ngejatuhin cowo gua yang sekarang
gua punya cerita yang mungkin lu semua pernah ngadapin dengan kejadia yang sama
gua punya cowo, asli gua sayang banget sama dia, gua pengen ngebahagia in dia kayak gua pengen ngebahagian keluarga gua. Tapi, ada banyak hal yang selalu buat gua ragu sama dia.
1. dia gak pernah sms ato nelponin gua duluan alesan tidur.
2. gak pernah bilang sayang sama gua, kecuali waktu nembak
3. kalo di ajakin alesan nya segudang, mungkin penuh kali tu gudang
pasti lu semua punya pikiran kalo dia Cuma mainin gua, ato pun gak sayang sama gua?
tapi biarpun dia kayak gitu, gak tau kenapa gua tetep aja sayang. Gua ikut aturan dia, gua ikut apa maunuya dia. Pokoknya semua maunya dia gua jabanin deh
karena ada satu hal di diri dia yang sulit banget gua lupain selama ini adalah KENYAMANAN kalo dideket dia.
Padahal yah, gua punya seseorang yang jelas.jelas sayang sa,ma gua, bias ngasih apa aja yang gua mau, yang bias ngebahagia in gua dengan semua hal yang dia punya, dia adalah mantan gua yang pacaran sama gua 2 tahun lebih.
gua udah banyak ngelewatin hari sama dia, susah maupun senang, dia mungkin satu.satu cowo yang paling ngerti siapa gua.
cowo yang paling care sama gua, pokok nya cowo yang paling sempurna deh dia
meskipun kayak gitu tetep aja gua gak bisa boongin ati mgua sendiri, pacaran sama dia tapi inget orang lain buat apa coba?
lagian gua harus nurut apa kata orang tua gua gak boleh pacaran sama dia, toh gua gak bias ngelawan.
*buat kamu cowo yang jadi pacar aku : please donk sayang, jangan cuek sama aku.
jangan suka banyak alesan, aku tuh sayang banget sama kamu.
coba deh kamu yang ngertiin aku sekali.kali jangan akunya terus donk
*buat kamu cowo yang aku sakitin : maapin aku udah nyakitin kaamu, semoga diluar sana kamu bakal ketemu cewe yang syang banget sama kamu.
maapin aku
#sekarang gua Cuma pengen satu hal yaitu lepas dari kedua.duanya.
gua mau orang baaru, tapi gua takut tuk memulai itu semua
sangat.sangat btakut
Apr 19, 2012
Apr 19, 2012 at 5:16 AM UTC
*Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi… Sepi dan sendiri aku benci.
Aku ingin bingar. Aku mau di pasar.
Bosan aku dengan penat,
dan enyah saja kau, pekat!
Seperti berjelaga jika aku sendiri
Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
Ahh.. ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang
di tembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya?
Biar terderah,
atau… aku harus lari ke hutan belok ke pantai?*
Jun 9, 2013
Jun 9, 2013 at 4:43 AM UTC
Jakarta, 10 Mei 2008
Lirik lagu tentang cinta itu
Buatku seakan dia ciptakan untukku
Padahal dia ciptakan untuk yang lain
Tapi kenapa harus dia
Yang indah buatku luluh
Angin bawakan sejuk untukku
Karenanya suara lirik itu terdengar
Aku pun menangis
Begitu indahnya sampai ku bermimpi
Tak henti mimpi sampai saat ini
Yang tak ingin ku akhiri
Percuma, dia takkan tahu aku di sini
Meski ku kuras s’luruh air mata
Ku ucapkan seluruh kata cinta
Hingga tak tersisa lagi
Berulang kali angin bawakan lagu itu
Sekali lagi untukku, dari dia yang indah
Selamanya sungguh ku cinta
Karna sampai kini tak pernah ku lupa
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 9:18 AM UTC
kamu...
seperti kamar yang kamu tinggali...
seperti ruangan yang menjadi sejarah kita...
terbuka, tanpa sekat, tanpa jendela....
kamu dingin
tapi dalam pelukmu aku merasa hangat...
angin kencang atau hujan gerimis....
mana kamu peduli...
kamu bilang, "asal kamu disini, semua menjadi hangat"
kenapa kita berbeda?
kenapa ruanganmu lebih besar?
bukankah kita saudara?
bukankah aku adik terbaikmu?
lalu, kenapa aku tidak ingat masa kecilku disini?
ya, lagipula...
semua itu hanya mimpi...
Apr 23, 2015
Apr 23, 2015 at 10:40 PM UTC
Kenapa sulit bagi ku
Menulis puisi dengan namamu?
Tersesat selalu aku di sini
Menulis namamu tertulis yang lain
Ingin ku bakar diri ini
Tak bisa dicintai oleh mu
Ku yakin kau tak di sini
Membawa cinta yang ku harapkan
Karena ku tahu ku tak indah
Dari Dewi lain yang pernah kau kenal
Tapi, semua tak punya hati
Meninggalkanmu dan tak setia
Ku berjanji kan setia
Tapi, kau tak mau juga tak apa
Namun, izinkan aku sekali saja
Ucapkan cinta pertama tuk selamanya
Created by Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:46 AM UTC
Aku harus mendaki tebing bernama proses; menaklukannya. Legenda berkata bahwa diujungnya tinggallah sesuatu yang baik. Namun memang semua pendaki tau bahwa tebing yang satu ini tidaklah mulus. Bebatuan, dataran curam, udara dingin, debu menyesakkan, silahkan kau sebut semua hal itu. Mereka ada di tebing ini, selalu.
Semesta kejam dan kamu sendirian. Setidaknya itulah yang harus aku ingat. Aku tidak mau berujung hanya sebagai seonggok jasad dengan nama tertulis. Maka dari itu datanglah keharusan untuk mengejar sesuatu yang baik ini.
Aku takut. Aku takut. Sebenarnya aku takut. Karena semacam tebing bukanlah rumahku. Tebing kurang akan rasa nyaman dan rasa cukup tau. Sungguh tak pula aku paham benar dengan apa yang dimaksud dengan 'sesuatu yang baik'. Namun semua orang tetap harus mendaki, entah kenapa.
Nov 7, 2015
Nov 7, 2015 at 5:52 AM UTC
kau masih melukiskan jingga di kepala
bertanya pada sudut jalan yang tak pernah sepi
“seperti apa senja di kota?”
ya seperti ini
tak dingin oleh kabut
tak terasa oleh waktu
kau akan sibuk menyeberang jalan
sebelahmu akan mati kejang – kejang
dan mereka masih akan meliput gedung
metromini memainkan dendang dengan kencang
selagi pengamen berteriak minta makan
“dan kamu?”
mataku ini akan merah berair
“kenapa?”
apa beda aku dengan senja di kota?
Jan 10, 2016
Jan 10, 2016 at 9:54 AM UTC
Serasa haru , campur bahagia , sedih , kesal senang juga . bercampur menjadi satu ketika aku mendengar bahwa sahabat tercintaku akan menikah dengan kekasih pujaannya . Haru kenapa? Terharu saja , disisi lain aku kagum akan usahanya memperjuangkan cintanya trhdp org yg dia cinta sejak bbrpa tahun lalu. padahal , jika boleh menengok kebelakang , kisah cinta mereka terbilang sangat rempong . Yaaa... beberapa kali sebut saja novi kerap menghubungiku utk meminta petuah2 apa saja yang bisa membuat dia gak cemburu buta lagi hanya karena si cwoknya ketemu mantan via jalur reuni .
Dan kesalnya adalah , mereka menikah dengan jalan pacaran . Padahal , Dalam islam tdk menganjurkan pacaran ,meskipun kegiatan itu sudah menjadi budaya seluruh dunia . Tidak melihat dari sisi buruk . aku hanya bisa mendoakan saja , agar ALLAH memudahkan segala hajat . menjadikan kalian sepasang suami istri yg saling mencinta di dunia sampai meggapai jannahNYA . Semoga Bahagia selalu sahabatku NOVI APRIANI ,
Mar 6, 2015
Mar 6, 2015 at 4:09 AM UTC
31 Oktober 2016
Dini hari, Jakarta-Surabaya, Pukul 00.45
30 menit yang lalu, kau bertanya kepadaku,
"apa yang membuatmu bahagia?"
secangkir kopi, malam dan hujan jawabku
lalu kau mengernyitkan kedua alismu dan bertanya,
"kenapa? kopi itu pahit, malam itu sendu dan hujan hanya membawa pilu"
"Karena aku menyukai kejujuran pada kopi,
Ia jujur akan dirinya. ia yang pahit rasanya. ia yang hitam parasnya. tanpa bersandiwara. tapi itulah hal yang mencandu darinya.
Karena aku menyukai kesederhanaan malam,
Ia tak perlu harus bersinar, ia cukup indah dengan bintang di dalamnya tanpa dengki ingin menjadi siang.
Karena aku menyukai keikhlasan hujan,
Ia tetap ikhlas menjatuhkan dirinya meski banyak yang memaki dirinya dan berharap ia tak pernah datang."
kau termenung kembali,
dahimu berkerut memikirkan sesuatu
"apakah hanya itu?" tuturmu lagi
dan aku hanya tersenyum,
"aku hanya ingin menjadikan diriku seperti mereka, tidak berlebih pun tidak mengapa, hanya ingin menjadi dan merasakan kejujuran seperti kopi, kesederhanaan seperti malam dan keihklasan seperti hujan."
kau tersenyum mengejek
"Kau terlalu naif" tandasmu dan aku hanya tergelak,
seperti itulah aku, jawabku
pada akhirnya, kau turut tergelak jua bersamaku
menutup pembicaraan dini hari kita kala itu.
Oct 30, 2016
Oct 30, 2016 at 2:05 PM UTC
Teriakan demi teriakan
Kami... menangis...
Sakit... sakit...
Kenapa? Mengapa?
Setiap detik hati kami
Selalu resah dan gelisah
Terbelenggu, kami terbelenggu
Apa salah kami? Apa yang jadi dendam?
Anak cucu kami
Tak bersalah? Tak tahu menahu?
Tapi mengapa?
Kau binasakan mereka?
Kau hancurkan kami?
Mengapa kami, tempat tinggal kami?
Kenapa? Mengapa?
Tolong... tolong... Tuhan
Apa rencana-Mu?
Apa yang Kau inginkan?
Kami sabar, kami diam!
Seakan menunggu ajal datang
Kami diam, kami takut
Suara ledakan hancurkan hati kami
Kenapa? Tak ada pembelaan?
Mengapa? Harus ada perang?
Kami lemah kami tak berdaya!
Kami hanya bisa menunggu!
Entah apa yang ditunggu.
Ajalkah...
Damaikah...
Ataupun derita...
Ya Tuhan kami...
Mengapa ini terjadi??
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:58 AM UTC
Malam itu hujan,
Entah Tuhan ingin membuatku semakin sedih karena suasana yang mendukung,
Atau Tuhan tidak ingin semua mengetahui kalau aku menangis.
Malam itu hujan,
Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu membuat aku bertanya,
Apakah kamu benar-benar orang yang pernah aku sayang dahulu?
Apakah kamu benar-benar orang yang selama ini aku perjuangkan?
Karena malam itu ketika hujan,
Aku seperti tidak mengenal dirimu.
Malam itu hujan,
Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu tidak lebih hanya membuat aku merasa sakit,
Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita baik-baik saja?
Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita tidak bertemu kata perpisahan?
Tapi tidak dengan malam itu ketika hujan,
Kamu bersikap seperti orang asing yang tidak aku kenal,
Kamu mendorongku untuk pergi dari kehidupanmu,
Kamu itu siapa?
Aku yakinkan diriku sekali lagi,
Apa kamu benar-benar orang yang selama ini aku sayang?
Malam itu hujan,
Aku tidak bisa berkutik kecuali meneteskan air mata,
Semudah itu untukmu?
Ketika selama ini aku bertahan dengan alasan yang mengharuskan diriku untuk pergi,
Semudah itu untukmu?
Ketika aku harus menahan rindu setiap malam,
Bertanya-tanya apakah dirimu baik saja di sana,
Semudah itu untukmu?
Tapi aku tidak menyalahkan malam itu ketika hujan,
Kepergianmu malam itu membuat aku sadar,
Kenapa aku terlalu takut untuk pergi sebelumnya,
Sedangkan kamu bisa melakukan dengan semudah itu?
Pergilah, aku merelakanmu.
Pergilah, bawa hujan di malam itu sebagai simbol akhir dari segalanya,
Pergilah, jangan pernah kau menoleh ke belakang untuk melihatku,
Aku yakin akan baik-baik saja,
Walau kini aku masih menangis bersama hujan.
Jul 17, 2017
Jul 17, 2017 at 4:38 PM UTC
Hati ku terbakar
Melihat mu berpelukan
Dengan dia di sana
Kenapa bukan aku saja?
Aku cinta kamu
Tapi, cinta ku tak sampai
Setulus hati, ku sayang kamu
Tapi, kamu tak tahu
Aku di sini menunggu
Kamu tak merasa ditunggu
Aku di sini cemburu
Kamu tak mersa membuat ku cemburu
Bila kamu bahagia dengan itu
Ku pendam dalam cinta ku
Biar tangis sebagai pelampiasan
Hingga ku bertemu kamu tuk bersama
Created by Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:31 AM UTC
terbalas pertemuan singkat tadi siang
dengan sedikit berdebah dengan ego
malu menukik dan gemetar beramai gaduh
sulit juga, berjuang dengan lara yang
kian runyam
kian dalam
kian menepis dalam malam
aku yakin dia bertanya
"kenapa dia?"
haha.. apa aku harus jawab aku rindu
aku rindu seperti dulu
bukan apa-apa
tidak ada lugas kata atau tindakannya
hanya saja aku sudah terlajur menyukainya
menyukai derap langkahnya
lemah gemulai tubuhnya beradu dengan udara sekitar
aku juga suka saat matanya bertemu dengan mataku
sisi lainnya muncul
lebih hangat dari yang kubayangkan
bolehkah juga aku berseru ?
aku menyukaimu ! sangat..
lungai sudah jika itu terucap
pasrah..
tapi tenang, aku masi pandai menyimpan
masih pandai menukik ego
tapi tetap
aku rindu,.,.,.,.
-rindu,mengenang-
May 22, 2018
May 22, 2018 at 12:18 PM UTC
melihat kamu meluru laju dan melambai
biarpun jauh, hatimu aku baca
lantas aku bilang maaf
pantas dan cepat aku meluah
jelas setiap rasa aku khabarkan
sayangku,
hakikat dunia tiada siapa mahu sunyi
namun aku harus gagahi jua rasa ini
andai ada hari kita tidak bersua seperti ini lagi
dalam tidur aku sentiasa ku rasa dakapmu
dan dalam setiap hariku, sentiasa indah dengan wujud imaginasi aku tentang kamu
sayang,
bukan kah amaran dunia pada kita sudah jelas?
tentang rindu yang tak bersahutan
cerita perasan yang sentiasa dan selamanya tak pasti
dan sentiasa aku pinta kamu
untuk terus percaya aku
lalu lembut tanganmu menyapa aku
meminta aku berhenti
entah kenapa
dalam diam dan biacaraku berhenti
aku rasa nyaman dalam dakapmu
mungkin ada pekara yang patutnya aku diamkan
--mungkin ragu aku adalah sama resah hatinya
mungkin.
?
-f 1030pm oct 2nd
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 10:08 AM UTC
Basah, ku lihat pipimu.
Katanya kau kelelahan,
Tapi yang ku lihat bukan keringat.
Kata nenekku, itu air mata,
Karena matamu merah.
Mana mungkin, kau berkeringat dengan mata merah dan sedikit bengkak?
Lusuh, ku lihat mukamu.
Katanya kau tak menyentuh air seharian.
Debu yang kemarin kau dapatkan ketika menjemputku di Taman Kota masih menempel, katamu.
Lusuhmu bukan karena debu,
Kata Ibuku, itu karena lapar.
Ternyata kau sudah berhenti makan,
Sejak dua hari sebelum kita bertemu.
Kenapa memang?
Memang aku tidak berhak tahu kalau kau sedang tidak baik saja?
Alih-alih kau tidak ingin menambah bebanku,
Kau selalu mengatakan kalimat-kalimat yang tidak benar adanya.
Kenapa memang?
Memang aku tidak berhak untuk paling tidak, membuat mu merasa lebih baik?
Ah benar saja,
Aku kan tidak pernah mampu,
Sebab, siapa aku?
Hanya tempat pelampiasan nafsu.
Nov 30, 2020
Nov 30, 2020 at 12:46 AM UTC
ini ceritanya jejak si bucin
'dasar bucin !'
'mau mauan aja, bucin !'
'jangan bucin kenapasih !'
salah menyampaikan sayang ?
salah menyuarakan cinta ?
salah mengekspresikan kasih ?
itu semua salah ?
terlebih terhadap pasangan
sana sini memandang, bucin
kenapa ?
berlebihan ?
ya. demi botol nestle kemarin
mungkin berlebihan tapi tidak juga
apakah lebih baik pistol dan pisau daripada bunga dan pita ?
iya saya juga bingung
bucin dianggap remeh
seperti benda yang harus dilepeh
ada apa si dengan bucin ?
makhluk hidup yang mengekspresikan rasanya kan ?
ah tidak tau
tapi semenjak aku bertemu dia
aku tidak apa disebut bucin
karena membuat lengkung di bibirnya
salah satu pencapaian
sudah ya,
pokok pikirannya tidak dapat.
sudah pusing.
hahaha.
salam bucin !
Dec 1, 2018
Dec 1, 2018 at 7:01 AM UTC
bukan tidak percaya diri,
hanya saja...
rasanya sulit ketika kau berulang kali tenggelam
sampai akhirnya kau lelah untuk meraih udara di atas
lalu nyaman dengan kedalaman
maksudku
haruskah kita selalu berkembang diatas ?
bukankah sama saja ?
semua sudah ditimbang baik buruknya,
tergantung dari sudut mana kau melihatnya.
untukku, aku yang masih 17 tahun ini
sempat terbesit
sudah ingin hidup di ketenangan itu
tidak mau terlalu banyak mengambil bintang
usahakan lebih banyak bersyukur
bercengkrama dengan anemon laut di bawah sana
hiu maupun predator buas pun akan coba kuakrabkan
kalau memang kita tidak diterima diatas kenapa tidak coba membangun istana di bawah ?
apa salahnya terus berusaha tetapi lain jalur dengan para mayoritas ?
Jul 2, 2018
Jul 2, 2018 at 7:25 AM UTC
Setanmu itu,
Ia masih menghampiriku
Duduk di ujung kuku kakiku
Untuk mengaji
Agar aku tidak pernah lupa
Pada satu pertanyaannya:
Mengapa
Aku sampai membakar diri
Untuk menjual jiwa
Pada nyala sepercik
Padahal lamanya
Tak lebih dari sedetik
Kenapa, tanyanya,
Aku terbaring siang dan malam
Dengan jarum-jarum
Di sekujur tubuh
Yang dengan sendiri kutusuk
Kenapa,
Balik kutanya,
Kenapa
Aku masih di sini?
Sep 8, 2016
Sep 8, 2016 at 10:03 AM UTC
*do i not ever come to you ..?
although only a jiffy night ..?
dark current visible universe embroider ..
when the earth and the moon would not come together ..
don't you know ..?
and why we do not accept each other ..?
though i still want to be together during the yearnings ..?
differences that make us fall in love ..
measurable distance, treated flavor ..
lest you get hurt ..
i'm always right there ..*
┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶ ƦУ »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈
apakah aku pernah tiada datang kepadamu..?
meskipun hanya sekejap malam..?
saat gelap semesta terlihat menyulam..
saat bumi dan rembulan tiada mau bersatu..
tidakkah engkau mengetahui..?
dan kenapa kita tak saling menerima..?
meski aku selama berdegup masih ingin bersama..?
perbedaan yang membuat kita saling jatuh cinta..
jarak yang terukur, rasa yang terobati..
jangan sampai engkau terluka..
aku kan selalu ada..
Dec 29, 2013
Dec 29, 2013 at 3:54 AM UTC
~a letter for you
Kita,
Dari daerah melangsir ke kota
Dari kota berbalik ke daerah
Dan takkan dapat lagi ke kota
Lain sebab apa, lain sebab kenapa
Kendatipun impresi memberontak kita
Kota,
Kita ingat tentang kota
Kota takkan ingat kita
Sebab kita tak miliki tahta
Lain sebab apa, lain sebab kenapa
Apa daya reminisensi meronta
Kota,
Kita ingat tentang kota
Kawanan sutet di kota kita
Menari menawan menara kota
Dekorasi dari kita, gradasi ufuk dunia
Persuasi para penguasa kota
Prasasti Suwarnadwipa, pula
Visualisasi ragam abiotik Tuhan Yang Esa
Kota,
Kita ingat tentang kota
Hamparan ladang pabrik di kota
Riasan pipa asap terus-menerus menyala, gradasi ufuk dunia
Luas menggugah animo di daerah
Meski honorarium tak seberapa
Kita duga cukup tuk besar di kota
Manalagi di daerah
Kita,
Telah lama tak singgah pada kota
Lain sebab apa, lain sebab kenapa
Kota kita indah katanya
Kota, bilamana kita berjumpa pula?
Kita takkan abaikan memori tentang kota
Lain sebab apa, lain sebab kenapa
Kota kita indah katanya
Kota, bilamana kita berjumpa pula?
Dari pengagummu di daerah
Tuk segenap kenangan kota yang hampa.
May 14, 2020
May 14, 2020 at 10:40 AM UTC
Hoam....sudah jam 4 pagi
Alarm sudah berbunyi
Memanggilku untuk segera berdiri
Keluar dari hangatnya selimut
Hoam....aku masih mengantuk sayang
Dan dengarlah suara rintik hujan
Dan riuhnya gemuruh diatas
Bertanda hujan belum akan usai
Hoam....berilah aku beberapa menit lagi
Untuk mengumpulkan kekuatan dan kemauan
Mengalahkan segala bisikan
Untuk tetap tinggal saja dirumah
Hoam....baiklah, baiklah
Alarm kembali berbunyi
Kenapa kau paksa aku pergi
Sedangkan tubuhku begitu pedih
Untuk mendapat sekucur air dingin
Membuka mata lebar-lebar
Menggerakkan tangan dan kaki
Untuk berkarya dan bekerja kembali
Mar 22, 2017
Mar 22, 2017 at 9:12 PM UTC
Apakah langit sedang sedih?
Kenapa menangis?
Memandang langit yang bermuram durja
Bajuku baru! Aku tak mau basah
Baju merah berbintik hitam
Pas sekali
Memetik daun peterseli
Memandang refleksi diri di genangan air
Bajuku baru! Jangan kehujanan
Baju merah berbintik hitam
Melekat manis di tubuh mungil
Mar 23, 2014
Mar 23, 2014 at 8:40 AM UTC
Gelapku membisiki
Ada iblis
Dalam dirimu
Dan ia tidak bisa mati
Kau diikuti
Dari pekatnya malam
Di sela-sela lampu jalan
Kau lalu dirasuki
Kenapa iblis, bukan setan,
Tanyamu
Gelapku membisiki,
Karena ia kini kaujadikan raja
Kau tak yakin pada gelapku
Pada yang akan kau lakukan:
Akan mati, atau terus hidup
Kau tak merasa disusupi
Ada iblis dalam dirimu
Dan ia kekal rupanya
Sekarang yang mencintaiku
Kau atau iblismu?
Siapa nama Sang Iblis?
Tanyamu pada sayup gelap
Gelapku membisiki:
Namanya Harap, ia mengindahkan borok
Apr 19, 2016
Apr 19, 2016 at 3:40 AM UTC
Kenapa harus kita
berlari dari
kenyataan
Kenyataan itu
melegakan
Kenyataan itu
mendewasakan
Kenyataan itu
memaknakan
Ayuh ke sini
kenyataan,
kuhidangkanmu
persoalan.
Sep 10, 2018
Sep 10, 2018 at 3:39 AM UTC