Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"bentuk" poems
Palembang, 16 Maret 2013 Serasa aku kembali ke masa lalu Membaca pesanmu, dan menerka bentuk wajahmu Kamu kembali lagi Menyirami kebun senyumku yang mekar kini Membuatku ingin terus terjaga Tuk menunggu pesan darimu lagi Kini aku di sini lagi Mengagumimu, untuk alasan yang tak pasti Membanggakanmu, betapa kau peduli padaku Aku hanya bayangan bagimu Kamu hanya bayangan bagiku Interaksi yang membuat kita jadi nyata Aku mencintaimu, untuk alasan yang tak masuk akal Aku sungguh mencintaimu, melebihi rasa yang kau berikan padaku Aku sangat mencintaimu, namun ku tak berharap memilikimu Aku mencintaimu, seperti dia mencintaimu Dulu aku masih lugu Menyatakan cinta padamu Dan kau menertawakanku hahahaha Aku pun juga begitu Lantas aku merasa malu, Aku memutuskan komunikasi denganmu Mencoba tuk berhenti mencintaimu Berhenti mengagumimu Ya, meski hanya beberapa bulan Aku tak sanggup lama-lama mengacuhkanmu "Thanks, we're friends again." Itu kata pertama yang kamu ucapkan padaku Setelah aku memutuskan untuk kembali mengagumimu Mencintaimu adalah hal yang selalu membuatku rindu Aku selalu malu jika mendapatkan pesan darimu Aku takut selalu salah jika membalas pesanmu Tapi ku coba apa adanya dihadapanmu Terima kasih kamu mau menjadi temanku Andai aku bisa mengerti perasaan ini Aku ingin sekali saja mencintaimu, yaitu kali ini Aku tak ingin berlama-lama mengagumimu Itu hanya akan membawa dukaku di kemudian hari Aku beruntung bisa mencintai orang sepertimu Kamu tahu? Tak sedetikpun aku tidak memikirkan kamu Andai aku bisa mengerti perasaan ini
0
Mar 16, 2013
Mar 16, 2013 at 2:58 AM UTC
Andai Aku Bisa Mengerti Perasaan Ini
Palembang, 16 Maret 2013 Serasa aku kembali ke masa lalu Membaca pesanmu, dan menerka bentuk wajahmu Kamu kembali lagi Menyirami kebun senyumku yang mekar kini Membuatku ingin terus terjaga Tuk menunggu pesan darimu lagi Kini aku di sini lagi Mengagumimu, untuk alasan yang tak pasti Membanggakanmu, betapa kau peduli padaku Aku hanya bayangan bagimu Kamu hanya bayangan bagiku Interaksi yang membuat kita jadi nyata Aku mencintaimu, untuk alasan yang tak masuk akal Aku sungguh mencintaimu, melebihi rasa yang kau berikan padaku Aku sangat mencintaimu, namun ku tak berharap memilikimu Aku mencintaimu, seperti dia mencintaimu Dulu aku masih lugu Menyatakan cinta padamu Dan kau menertawakanku hahahaha Aku pun juga begitu Lantas aku merasa malu, Aku memutuskan komunikasi denganmu Mencoba tuk berhenti mencintaimu Berhenti mengagumimu Ya, meski hanya beberapa bulan Aku tak sanggup lama-lama mengacuhkanmu "Thanks, we're friends again." Itu kata pertama yang kamu ucapkan padaku Setelah aku memutuskan untuk kembali mengagumimu Mencintaimu adalah hal yang selalu membuatku rindu Aku selalu malu jika mendapatkan pesan darimu Aku takut selalu salah jika membalas pesanmu Tapi ku coba apa adanya dihadapanmu Terima kasih kamu mau menjadi temanku Andai aku bisa mengerti perasaan ini Aku ingin sekali saja mencintaimu, yaitu kali ini Aku tak ingin berlama-lama mengagumimu Itu hanya akan membawa dukaku di kemudian hari Aku beruntung bisa mencintai orang sepertimu Kamu tahu? Tak sedetikpun aku tidak memikirkan kamu Andai aku bisa mengerti perasaan ini
Continue reading...
47
*is there nights still exist.. and helpless cries.. i always remember the part of missing stories... i slept with dry eyes.. as the sun sets in the sky.. my hopes go along with it.. everything’s seem leaden in solemn.. until i’m alone again without you come into my night.. i guess i should be thankful... at least we have one thing in common.. all i think of is you.. and i know that you do the same too.. when moon's climb in the leaden night slowly... i can see your face figure in the stars.. don't you know that  i’m always  thinking of you.. i wish you’d think of me too.. if i wonder how this will work.. when you think of nothing but, yourself,  your poems,  your life and i can’t help but love the way you telling it into the poems.. but maybe this what the fate is.. a twisted series of two soul and mind's fused.. and maybe i’m destined.. to be the victim of my feelings .. but how can i blame the fate..? for something that i have control over... i know you don’t thinking the same as mine.. and i know i’ve fallen too deep into my imagination of your figure.. you have them lined up.. just another notch on your belt.. am i the fool...? am i the one who fell...? but i definitely don't  mind at all.. you twist my yearning around your sincerity... and your lies around my words.. you’re the definition of beauty.. horror, pain, desire  and love... should i run...? should i give up..? sometimes i wish i could just sleep... or  never get  wake up when i was dream of you..* ┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶  ƦУ  »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈ apakah masih ada bentuk malam itu.. . dan ketidak berdayaan sebuah tangisan... masih teringat aku akan sepenggal kisah yang hilang itu.. saat kuterpulasi dengan mata yang kering.. bak mentari yang tebenam dilangit.. begitupun keinginanku yang melaju turut.. segalanya tampak kelam dan hening.. hiingga aku sendiri tanpa engkau singgahi malamku.. harus kusyukuri.. setidaknya kita memiliki satu kesamaan .. aku mengenangmu  .. dan kutahu bahwa engkau melakukan hal yang sama .. saat rembulan mendaki malam kelam perlahan ... aku dapat melihat gambar wajahmu diantara bintang .. tahukah kamu bahwa aku selalu mengenangmu .. ...... dang... why i should made two ver for my poems anyway.. lol.. just writing...
0
Jan 11, 2014
Jan 11, 2014 at 10:22 PM UTC
grateful for the blessing
*is there nights still exist.. and helpless cries.. i always remember the part of missing stories... i slept with dry eyes.. as the sun sets in the sky.. my hopes go along with it.. everything’s seem leaden in solemn.. until i’m alone again without you come into my night.. i guess i should be thankful... at least we have one thing in common.. all i think of is you.. and i know that you do the same too.. when moon's climb in the leaden night slowly... i can see your face figure in the stars.. don't you know that  i’m always  thinking of you.. i wish you’d think of me too.. if i wonder how this will work.. when you think of nothing but, yourself,  your poems,  your life and i can’t help but love the way you telling it into the poems.. but maybe this what the fate is.. a twisted series of two soul and mind's fused.. and maybe i’m destined.. to be the victim of my feelings .. but how can i blame the fate..? for something that i have control over... i know you don’t thinking the same as mine.. and i know i’ve fallen too deep into my imagination of your figure.. you have them lined up.. just another notch on your belt.. am i the fool...? am i the one who fell...? but i definitely don't  mind at all.. you twist my yearning around your sincerity... and your lies around my words.. you’re the definition of beauty.. horror, pain, desire  and love... should i run...? should i give up..? sometimes i wish i could just sleep... or  never get  wake up when i was dream of you..* ┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶  ƦУ  »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈ apakah masih ada bentuk malam itu.. . dan ketidak berdayaan sebuah tangisan... masih teringat aku akan sepenggal kisah yang hilang itu.. saat kuterpulasi dengan mata yang kering.. bak mentari yang tebenam dilangit.. begitupun keinginanku yang melaju turut.. segalanya tampak kelam dan hening.. hiingga aku sendiri tanpa engkau singgahi malamku.. harus kusyukuri.. setidaknya kita memiliki satu kesamaan .. aku mengenangmu  .. dan kutahu bahwa engkau melakukan hal yang sama .. saat rembulan mendaki malam kelam perlahan ... aku dapat melihat gambar wajahmu diantara bintang .. tahukah kamu bahwa aku selalu mengenangmu .. ...... dang... why i should made two ver for my poems anyway.. lol.. just writing...
Continue reading...
58
*at the end of the ticking time that rushing .. i contemplate the expanse of despair that has passed .. at the junction of desire that embroider serene ... my hopes are pinned hard petrified .. as i trudged up the ladder of life .. you bolster me in order to stay ahead .. when i am tired to hit hardest desire .. you wash my sweat with exuberant embrace.. when i get wounded by the sharp of blade  of era .. you wrapped me with sincerity .. there's no string of words that look beautiful to me, i spit all over the rhymester while reading pen script from your conscience .. there's no shade of voice that sounded good to me, i throw up the whole commercial hypocritical preacher when  hear advice  from your sincerely .. if the shape of the grateful is exist, then i will chisel your figure in a stretch of horizon .. if a form of sincerity can be visible to the eye, then i will paint your smile in the court of canvas twilight .. my polite to my friend my angel, i ask god,  salvation for you .. i ask the cause of prime  substance , health for you.. because your happiness is an honor for me ..* -the poetry is dedicated to a sincere friend of mine, Ha- ┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶  ƦУ  »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈ sahabatku malaikatku dipenghujung waktu yang berdetak laju.. kurenungkan hamparan asa yang telah berlalu.. dipersimpangan keinginan yang menyulam syahdu... kusematkan harapan yang keras membatu.. saatku tertatih menapaki tangga kehidupan.. engkau papah aku agar selalu terdepan.. saatku lelah menghantam kerasnya keinginan.. engkau basuh peluhku dengan rimbunnya dekapan.. saatku terluka terhunus tajamnya pedang roda jaman.. engkau balur perihku dengan sejuknya ketulusan.. tiada untaian kata yang terlihat  indah bagiku, kuludahi seluruh pujangga  saat membaca  torehan pena aksara nuranimu.. tiada keteduhan suara yang terdengar merdu bagiku, kumuntahi seluruh pendakwah komersial nan fasik saat mendengar tausyah tulus darimu.. apabila bentuk dari  bersykur itu ada, maka akan kupahat figurmu dihamparan cakrawala.. apabila wujud ketulusan itu dapat terlihat mata, maka akan kulukis senyummu dipelataran kanvas senja.. santunku untuk sahabatku malaikatku, keselamatan bagimu kupintakan pada Penciptaku .. kesehatan bagimu kumohonkan pada Dzat penguasaku karena kebahagianmu merupakan kehormatan bagiku..
0
Dec 31, 2013
Dec 31, 2013 at 7:34 AM UTC
friend of angel
*at the end of the ticking time that rushing .. i contemplate the expanse of despair that has passed .. at the junction of desire that embroider serene ... my hopes are pinned hard petrified .. as i trudged up the ladder of life .. you bolster me in order to stay ahead .. when i am tired to hit hardest desire .. you wash my sweat with exuberant embrace.. when i get wounded by the sharp of blade  of era .. you wrapped me with sincerity .. there's no string of words that look beautiful to me, i spit all over the rhymester while reading pen script from your conscience .. there's no shade of voice that sounded good to me, i throw up the whole commercial hypocritical preacher when  hear advice  from your sincerely .. if the shape of the grateful is exist, then i will chisel your figure in a stretch of horizon .. if a form of sincerity can be visible to the eye, then i will paint your smile in the court of canvas twilight .. my polite to my friend my angel, i ask god,  salvation for you .. i ask the cause of prime  substance , health for you.. because your happiness is an honor for me ..* -the poetry is dedicated to a sincere friend of mine, Ha- ┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶  ƦУ  »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈ sahabatku malaikatku dipenghujung waktu yang berdetak laju.. kurenungkan hamparan asa yang telah berlalu.. dipersimpangan keinginan yang menyulam syahdu... kusematkan harapan yang keras membatu.. saatku tertatih menapaki tangga kehidupan.. engkau papah aku agar selalu terdepan.. saatku lelah menghantam kerasnya keinginan.. engkau basuh peluhku dengan rimbunnya dekapan.. saatku terluka terhunus tajamnya pedang roda jaman.. engkau balur perihku dengan sejuknya ketulusan.. tiada untaian kata yang terlihat  indah bagiku, kuludahi seluruh pujangga  saat membaca  torehan pena aksara nuranimu.. tiada keteduhan suara yang terdengar merdu bagiku, kumuntahi seluruh pendakwah komersial nan fasik saat mendengar tausyah tulus darimu.. apabila bentuk dari  bersykur itu ada, maka akan kupahat figurmu dihamparan cakrawala.. apabila wujud ketulusan itu dapat terlihat mata, maka akan kulukis senyummu dipelataran kanvas senja.. santunku untuk sahabatku malaikatku, keselamatan bagimu kupintakan pada Penciptaku .. kesehatan bagimu kumohonkan pada Dzat penguasaku karena kebahagianmu merupakan kehormatan bagiku..
Continue reading...
47
Palembang, Sabtu 2 Oktober 2010 Hari ini terjadi lagi Kakak ku yang indah bertambah usia Kini ia berbeda dari 29 tahun kemarin Yang mana masih muda dan polosnya Tak bisa ku berikan apa-apa Kecuali doa yang tak henti ku panjatkan Supaya kakak ku panjang umur Sehat selalu dan cepat menikah Pesanku untuknya, adalah Teruslah ciptakan lirik indah Karena ku suka saat kau berkata Dalam bentuk nada yang indah Pesanku kan ku sampaikan Melalui sinyal-sinyal batin kita Semoga Allah SWT melindunginya Dan biarkan ia hidup bahagia Created By. Aridea Purple To Arlonsy M.
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:43 PM UTC
Doa Untuk Kakak
Pada hari yang baik di bulan yang baik ini; Hujan turun lagi membasahi segenap pertanahan; Di balik bulirnya seorang pujangga termenung; Menuliskan kembali lirik-lirik tersedih dalam puisinya: Wahai imaji hujan di masa lalu; Pernah kulupa namun mengapa belum kurela? Wahai melodi hujan di masa lalu; Kembali kau ketuk palung paling dalam; Kehalusan suara wanita yang pernah ada; Mengapa tak lenyap bersama kejatuhanmu? Apakah lagi-lagi aku berdiri pada persimpangan yang sama? Penuh kabut, memudar namun seyogianya belum sirna; Tahun demi tahun telah berlalu bersama kejatuhan hujan; Namun mengapa kesepian tak pernah berlalu? Walau kesedihan menolak segala kefanaan; Yang belum berubah menjadi sebuah kejadian; Yang menolak segala bentuk pengulangan; Apakah kekosongan merupakan bentuk realita tertunggal Yang selamanya akan terus berbahasa dalam kebisuannya? Mengapa masih aku mengaku yang tertabah; Jika musibah tak mampu melenyapkan; Segala terpaan angin rindu yang pernah berhembus? Jika segala ketakuan masih menjadi ada dalam tiada; Mengapa pernah juga kau lepas ikatan kita? Perlahan kata-kata itu meresap kepada perakaran; Sebolehjadinya ujung pena tak mampu memahami; Segala makna yang tersirat dalam rampaian puisinya; Bila kepergianmu adalah kesenduan dari berkat kehidupan; Ajarkanlah aku berdamai dengan segala bentuk prasangka; Yang datang bersama bayanganmu di kala hujan.
0
Jun 19, 2017
Jun 19, 2017 at 6:45 AM UTC
Sabda Hujan di Musim Semi
“I am just not afraid of being alone,” Dia datang dari bumi sebelah sana, jauh ke sini untuk mencari lupa pada dunia. Pada suatu sore menjelang senja, dia menyari bahwa bentuk ganda muncul karena rasa takut pada tunggal semata. Menjadi sendiri bisa membawa resah, terlebih ketika semua berkata ini sudah waktunya. Harga diri bisa membantah, namun di dalam hati takut memang menjadi jawab untuk sebuah tanya; ketika kondisi belum menyajikan jalan untuk berpasangan, apa yang sebenarnya di khawatirkan? Bila sendiri berupa satu kalut yang perlu dihindari, adakah untuk meraih tenang memang lewat menjadi dua? Bila bahagia adalah satu titik yang telah dilimitasi, apakah untuk mencapainya harus melalui sebuah jika? Para pendaki bisa menemukan damai pada puncak walau tanpa kawan, petapa sengaja menyepi demi bertemu tenang, biksu bisa merasa teduh walau tanpa sandingan, mereka yang khusyuk menemukan tentram dalam sujudnya yang panjang. Sendiri, walau secara manusiawi. "Now, I’m just enough with myself," Melihat keberpasangan sebagai sebuah hasrat memang tak akan pernah bertemu lengkap, karena bersua dengan damai hanya lewat kata cukup. Setelah kata cukup dipungut, menjadi sepasang bukanlah lagi sekedar penawar kalut. "So, isn’t this enough?"
0
Mar 6, 2015
Mar 6, 2015 at 4:14 AM UTC
self
Dengarlah gemuruh hujan pada malam hari ini; Dengan irama tetesannya kebisuan dicurahkan; Dalam kegelapan jua para pencari melangkah; Menyusuri persimpangan jalanan yang basah; Mungkinkah sudah keraguan mereka terhapuskan? Ataukah praduganya telah menjadi satu bentuk prasangka, Yang sekiranya kembali menolak untuk lagi-lagi berbicara? Dengan satu sapuan halusnya kembalilah dikau sunyi menjadi hening, Hening menjadi tiada, seperti tiada memunculkan hampa; Lalu hampa pergi meninggalkan luka yang menganga pada dikau; Hanya kesembuhan dari hujan yang dinanti mereka yang terluka; Seperti juga berkat yang dinantikan dikau yang tak lelah menanti; Memegang erat setiap butiran yang mungkin tak mampu dimiliki; Mendengar irama yang selamanya tak mampu dimengerti; Bersabdalah hujan pada semesta di malam hari ini; Hanya kesunyian yang terus ia ajak bicara dalam isyarat; Hanya kegelapan yang selamanya tak mampu ia lihat; Pengheningan resah telah menjadi gundah sang hujan; Seperti gundah itu sendiri menjadi gulana dikau; Seperti dikau yang hadir dan hilang dalam rimbanya hujan, Kembali dicari namun tak mampu dihilangkan.
0
Jun 24, 2017
Jun 24, 2017 at 5:56 AM UTC
Perbincangan Dengan Sang Hujan
Papa sekarang sudah di puncak Turun kebawah bukan tugasnya. Mama hanya bisa terseret Laksanakan tugas seorang pasangan. Apadayaku yang berada di sini.. dalam, dalam, di bawah tanah. berteriak jua tak sampai bisingku tak kuasa menyentuh Semata-mata mengandalkan kacang; puluhan bungkus tuk bahagia Semata-mata mengandalkan air; puluhan gelas tuk air mata Mama mengingatkan tuk bersua Nyatanya bersua itu lemah, dan anak 16 tahun tidak kuat. Gaduh, gaduh, gaduh saja bisanya. Semak pun belukar menjadi-jadi sebuah bentuk proteksi yang nyata. Biarkan durinya berfungsi; bak pedang tuk mereka.
0
Feb 13, 2015
Feb 13, 2015 at 8:53 AM UTC
Untitled
jika sebuah botol berisi api harus dilemparkan ke wajah-wajah anonimus sebagai bentuk pembelaan terhadap kaum-kaum marjinal. akan kuisi botol ini berisi bunga dan kulemparkan kepada dirimu sebagai bentuk pembelaan diriku terhadap benih-benih benci dirimu kepadaku.
0
Mar 29, 2012
Mar 29, 2012 at 7:16 AM UTC
Botol Bunga
Penyair itu melangkahi pengemis pincang yang lelap itu. Kasurnya adalah trotoar dan mimpinya ntah apa. Jangan bahas mimpi jadi jutawan dengan kemeja dasi rambut klimis. Mimpi basah saja harus sembunyi sembunyi. Kan takut toh masturbasi di pinggir kali ? Soalnya guys, coli itu pun harus pake tangan kanan selain soal tekanannya yang konstan .. KALAU TANGAN KIRI KIRI KIRI, Disangka PKI ! Ini perihal dosa Illahi saudara saudari! — Lalu pengemis itu Menatap angannya setinggi bintang di lantai 53 menara menara ibu kota. Mengelus ngelus perut kurusnya. Alhamdullilah, hari ini bisa santap sisa paha ayam dari restoran kebarat baratan itu. Mungkin baginya, Tuhan menjelma dalam bentuk tempat sampah. Menyediakan pangan sisa sisa umat kesayangan-Nya. Dan dia, umat yang lupa ia punya. Pagi datang. Ia terus berjalan tanpa alas kaki. Sekelibat melihat lamborgini, berkawal polisi. Presiden mungkin ah? Nomor satu, atau duah? Dia tidak pernah berharap pada Tuhan. Atau presiden. Mungkin ia harus tetap berjalan saja. Atau mungkin ia harus berharap pada ratu adil. Entah kapan ia munculnya. Apa ketika jari-jari kakinya lepas. Hingga tidak bisa melangkah lagi. Atau lelah menguasai tubuh. Hingga enggan melangkah lagi. Atau seluruh kakinya patah Pun ia tidak peduli lagi? Apa ratu adil sedang sibuk memasang konde besarnya Takut takut tidak terlihat cantik saat hadir sebagai pahlawan kesiangan. Atau ratu adil sedang sibuk Memutuskan hukuman adil untuk penyair ini yang mempertanyakan kuasa Ilahi dia punya? Atau mungkin ratu adil berhati dingin. Seharusnya iya karena mana mungkin beliau yang welas asih membiarkan hambanya pontang panting, malah sibuk mengurus penyair mengkritik program kerja-Nya tahun ini. Yah .. Memperhatikan pengemis itu terpincang-pincang lebih asyik daripada mengurus Tuhan. Presiden. Atau ratu adil. Apakah Mas Aristoteles meramalkan distopia pada nusantara?
0
May 14, 2019
May 14, 2019 at 1:28 PM UTC
Penyair Setelah Tahun '65
Penyair itu melangkahi pengemis pincang yang lelap itu. Kasurnya adalah trotoar dan mimpinya ntah apa. Jangan bahas mimpi jadi jutawan dengan kemeja dasi rambut klimis. Mimpi basah saja harus sembunyi sembunyi. Kan takut toh masturbasi di pinggir kali ? Soalnya guys, coli itu pun harus pake tangan kanan selain soal tekanannya yang konstan .. KALAU TANGAN KIRI KIRI KIRI, Disangka PKI ! Ini perihal dosa Illahi saudara saudari! — Lalu pengemis itu Menatap angannya setinggi bintang di lantai 53 menara menara ibu kota. Mengelus ngelus perut kurusnya. Alhamdullilah, hari ini bisa santap sisa paha ayam dari restoran kebarat baratan itu. Mungkin baginya, Tuhan menjelma dalam bentuk tempat sampah. Menyediakan pangan sisa sisa umat kesayangan-Nya. Dan dia, umat yang lupa ia punya. Pagi datang. Ia terus berjalan tanpa alas kaki. Sekelibat melihat lamborgini, berkawal polisi. Presiden mungkin ah? Nomor satu, atau duah? Dia tidak pernah berharap pada Tuhan. Atau presiden. Mungkin ia harus tetap berjalan saja. Atau mungkin ia harus berharap pada ratu adil. Entah kapan ia munculnya. Apa ketika jari-jari kakinya lepas. Hingga tidak bisa melangkah lagi. Atau lelah menguasai tubuh. Hingga enggan melangkah lagi. Atau seluruh kakinya patah Pun ia tidak peduli lagi? Apa ratu adil sedang sibuk memasang konde besarnya Takut takut tidak terlihat cantik saat hadir sebagai pahlawan kesiangan. Atau ratu adil sedang sibuk Memutuskan hukuman adil untuk penyair ini yang mempertanyakan kuasa Ilahi dia punya? Atau mungkin ratu adil berhati dingin. Seharusnya iya karena mana mungkin beliau yang welas asih membiarkan hambanya pontang panting, malah sibuk mengurus penyair mengkritik program kerja-Nya tahun ini. Yah .. Memperhatikan pengemis itu terpincang-pincang lebih asyik daripada mengurus Tuhan. Presiden. Atau ratu adil. Apakah Mas Aristoteles meramalkan distopia pada nusantara?
Continue reading...
45
Diamku itu sebentuk kedewasaan hasil tempaan semesta Pura-pura rabunku itu sebentuk kedewasaan bisikan suruhan semesta Jarak tubuhku yang sengaja kujauhkan itu sebentuk kedewasaan kesadaran yang ditumbuhkan semesta Mungkin bumi terlalu banyak diputari bulan mungkin juga ini jawaban doamu sampai akhirnya membawaku padamu lagi aku bisa saja menghampiri & menhakimimu atau memuntahkan segala rasa & pikiran saat itu Kedewasaanku itu bukan hanya cerdiknya lidah bertutur manis kau saksikan sendiri matangku Memang masih sedikit perih hantu kenangan buruk yang terpanggil dadakan Kedewasaanku itu adalah sebentuk ikhlas adalah bentuk penepatan janjiku bahwa tidak akan kuganggu dirimu Kau tahu tidak?
0
Mar 1, 2020
Mar 1, 2020 at 8:15 AM UTC
Bukan Tidak Bisa Bergerak
Pemerintah Indonesia secara terang-terangan melakukan pemerasan dan perampasan terhadap sumber kekayaaan di tanah Papua. Masyarakat Papua kerap dihalangi dalam menentukan taraf hidupnya, mereka dibenturkan dengan kebijakan yang justru bertentangan dengan kebiasaan hidup masyarakat Papua. Bentuk menghalan-halangi masyarakat Papua untuk bertanggung jawab dan menentukan kehidupannya sendiri merupakan sebuah bentuk penindasan yang ditutupi dengan iming-iming kesejahteraan palsu. Hal ini hendak menggambarkan campur tangan pemerintah Indonesia dalam mencampuri fitrah ontologi penentuan nasib masyarakat Papua. Hingga kini pemerintah Indonesia melakukan tindakan yang semakin memperlihatkan penindasan terhadap masyarakat Papua. Mereka dituduh makar, ditakuti-takuti, diteror bahkan hingga dibunuh! Pemerintah Indonesia layak menyandang julukan "si kejam" atas tindakannya selama ini kepada masyarakat Papua. Pemerintah Indonesia yang dengan kekuasaannya melahirkan orang - orang yg terhempas dari kehidupannya sendiri. Bagaimana bisa masyarakat Papua memulai kehidupan yang bebas, sedangkan mereka adalah hasil dari kekejaman itu sendiri? Bagaimana mungkin mereka mendukung suatu tindakan yang membawa mereka kepada kehidupan yang terindas?
0
Jun 18, 2020
Jun 18, 2020 at 1:18 PM UTC
Negara, Teror & kesejahteraan palsu
“Whats wrong?” “Kenapa? Ada apa?” Kalimat yang selalu ku tunggu Saat aku butuh wadah bercerita Bentuk kepeduliankah? Atau hanya seutas penasaran? Aku tidak peduli Setidaknya, kau masih ada saat aku butuh sandaran Dan tempat berbagi cerita Walaupun kita sedang berjarak, Tidak selucu dan semenggemaskan dulu Tapi terimakasih Karena selalu siaga ada disisiku
0
May 15, 2019
May 15, 2019 at 7:06 PM UTC
Arti hadirmu
Mengambil bentuk paling bahagia dari bias sore yang sayup melantunkan nada-nada melankoli, perihal perpisahan. Tersapu wajah oleh angin laut, biru terbakar di ujung cakrawala, sepasang mata menatap dalam baskara—mengisyaratkan, "saatnya pulang dengan lapang".
0
Mar 8, 2021
Mar 8, 2021 at 4:55 PM UTC
LAPANG
SEMESTA, DALAM, JIKA MERUJUK, MAKA BERTANAH, HASIL, JIKA BUTUH INTI, KEPADA HANGTUAH, BILA, MERATAP, HIM. RAYAKAN VISUAREKAN #1 * FORM, SHAPE, ADALAH BENTUK⊙
0
Sep 24, 2019
Sep 24, 2019 at 4:43 AM UTC
OKLASASADU
Aku sering di beritahu bahawa apa yang kita buat pada hari ini dan sebelumnya bakal ada balasannya di kemudian hari sama ada dalam bentuk baik atau tidak dan aku sering berfikir bahawa tidak kira berapa teruk kita di layan orang dan berapa buruk perlakuan yang orang lakukan pada kita akan di balas dengan kebaikan pada masa hadapan. Sabar itu indah, tapi ter kadang aku hilang sabar, menghadap manusia yang ignorant, menghadap manusia yang bodoh, manusia yang pentingkan ego, dan manusia yang kurang ajar.
0
Jun 23, 2017
Jun 23, 2017 at 2:13 PM UTC
Hidup.
Terhampar dan berserakan ke segala penjuru, harap dan segala bentuk kejahatan yang diperbuatnya. Begitu berani, konyol dan tak tahu malu. Mengambil tempat semaunya di ruang hati—tanpa permisi, menebas nyawa logika. Menuntun karsa menuju pemakaman terakhirnya. Mengubur rasa hingga lagi 'tak mampu mencercah cahaya. Sikap harap begitu manis, sampai 'tak sadar ada kuasa diri yang teracuhkan dan teraniaya. Sifat harap adalah antagonis, manusia-lah yang menolak percaya.
0
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 10:45 AM UTC
ADIKSI AMBISI
TANDUS Ketika kamu sudah mulai terbiasa, apa yang bisa memaksa? Segala bentuk, bahkan segala hal yang buruk rupa Yang kau benci pada mulanya Sekarang kau menikmatinya, bukan? Apa yang tumbuh di dalam sana? Di tanah yang mati kelihatannya. Yang tak pernah berharap ada biji yang tumbuh disana Tak ada buah yang diinginkan Hanya tanah tandus tanpa harapan Betapa hebatnya waktu, bermain diatas hati manusia. Mencoret, daan sekenanya menghapus tanpa mengizinkanku untuk memilih. Kenapa tanah itu tak terus tandus saja? Entah dari mana datangnya biji emas itu. Yang hanya menimbulkan keserakahan dan kedengkian hati manusia. Cuma aku sekarang disini. Diatas tanah subur yang dulunya tandus Ditengah bunga bunga yang sedang merekah. Jadi gagak hitam yang mematuki biji emas. Antara berusaha mengukir emas dengan paruh tuanya Atau berpikir emaslah sisa hidupnya. Dua-duanya mustahil. Tanah yang tandus itu sendiri, tak juga bergeming dari bubungan harapan. Menanyakan ketulusan, dimanakah letaknya?
0
Mar 24, 2018
Mar 24, 2018 at 10:26 AM UTC
Tandus
kapan kamu mau menyadari bahwa bentuk ganda muncul karena rasa takut pada tunggal semata? menjadi sendiri memang bisa membawa resah, terlebih ketika semua berkata ini sudah waktunya harga diri bisa membantah, namun di dalam hati takut memang menjadi jawab untuk sebuah tanya bila sendiri berupa satu kalut yang perlu dihindari, adakah untuk meraih tenang hanya lewat menjadi dua? tapi kamu lupa; petapa sengaja menyepi demi bertemu tenang, biksu bisa merasa teduh walau tanpa sandingan, mereka yang khusyuk menemukan tentram dalam sujudnya yang panjang sendiri, walau secara manusiawi karena bersua dengan damai hanya lewat kata cukup setelah kata cukup dipungut, menjadi sepasang bukanlah lagi sekedar penawar kalut
0
Nov 27, 2020
Nov 27, 2020 at 5:55 AM UTC
Ini, Kan, Yang Kamu Takutkan?
Hai, sudah lama rupanya diri ini tidak mencurahkan segala hal yang ada di kepala nya melalui platform ini.. Karena selama ini aku mempunyai diary berjalanku yang kini sudah berpulang ke pangkuan yang Maha Kuasa Rupanya, dan ya memang aku kembali menemukan diriku yang berkelut dengan kata demi kata yang berisik di kepala nya Sebagai bentuk coping mechanism nya aku menuangkan melalui untaian kata, dan mungkin aku mulai menulis lagi? Ntahlah Aku mulai sajak ini dengan.. Mengisi takdir baik untuk diriku. 19/02/2024
0
Feb 19, 2024
Feb 19, 2024 at 10:37 AM UTC
Mengisi takdir baik untuk diriku
Aku menciptakan bingkisan berbentuk hati, membungkusnya dalam rusuk rapat melengkung agar tidak ada celah sedikitpun untuk kesedihan itu terlihat padamu. Puisi-puisi kita pernah menjadi hadiah untuk duka dan luka yang samar-samar, lalu air mata adalah bentuk kebahagiaan itu sendiri. Kita adalah kado untuk perayaan perpisahan di tiap hidup seseorang. Awal kita adalah degup jantung kencang yang membuat rasa penasaran, sebelum akhirnya napas kita tersengal-sengal.
0
Jan 31, 2021
Jan 31, 2021 at 1:59 AM UTC
KITA ADALAH KADO UNTUK PERAYAAN PERPISAHAN