#hati
Angin berbisik berita,
Cerita satu baris kata,
Disini berakhir segalanya,
Senyum mu,
Gelak tawa mu,
Sedih dan Amarah
Menghempas bumi,
Kini tinggal di masa lalu,
Luka yang telah mati,
Tidak kembali berdarah,
Coretan di hati ini,
Kekal sebagai parut sesal,
Kesilapan aku mencipta memori,
Pada khayalan yang tidak pasti.
Wahai dunia yang mengkhianati,
Seandai aku tidak berdaya lagi,
Izinkan teladan ini menjadi nukilan,
Pada jalan yg tidak dijulang.
Mar 26, 2024
Mar 26, 2024 at 11:41 PM UTC
Masih kubayangkan seperti apa jadinya aku apabila suatu saat aku benar-benar bisa memiliki dia. Mencintai dia begitu dekat. Sedekat tarikan napas dari setiap udara segar yang aku hirup di pagi hari. Masuk ke dalam paru-paru. Kemudian bercumbu di sana.
Benar apabila aku memang sangat ingin bisa memiliki, segala hal yang mungkin tidak pernah bisa aku miliki.
Begitu naif apabila kita sedang belajar mencintai seseorang.
O wajahnya. O matanya. O hidungnya. O pipinya. O bibirnya. O rambutnya yang panjang tergerai jatuh di bahunya. Begitu jelas, hingga mimpi seperti realita.
Dia begitu jelas terlihat. Dia begitu nyata, bahkan kurasakan sesuatu berdetak begitu cepat dan kencang, seperti angin yang menyibak rambutnya.
Senyumnya membuat segala yang hancur menyatu kembali, tetapi tidak, tidak untuk setiap kali.
Aku masih mencintainya, begitulah cinta yang semestinya aku akan katakan apabila memang dia benar ada di sini. Tetapi dia tidak di sini. Dan aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya.
Dia begitu dekat, tetapi juga begitu jauh. Dia jauh dari mataku. Dan dia begitu jauh untuk bisa merasakan perasaanku padanya.
Mar 23, 2021
Mar 23, 2021 at 5:57 AM UTC
Akankah…
Kita akan terus begini?
Terpisah oleh jarak bermil – mil
Walau hanya dalam dunia fatamorgana
Kuingin kau kembali ke sisi
Seperti saat kita bersama dahulu
Akankah…
Pertemuan pertama kita
Hanya tinggal kenangan?
Walau hanya dalam dunia fatamorgana
Kuingin kau kembali dan melinkupiku dengan sayapmu
Seperti saat kita pertama berjumpa dahulu
Akankah…
Janji kita
Hanya tinggal sebuah janji?
Walau hanya dalam dunia fatamorgana
Kuingin kau kembali dan kita saling mengkaitkan jari
Seperti saat kita berjanji dahulu
Akankah…
Cinta kita
Hanya tinggal sebuah kata?
Walau hanya dalam dunia fatamorgana
Kuingin kau kembali dan berkata
Walau jarak dan ruang memisahkan kita
Aku percaya jika hati t’lah bicara
Takkan ada yang mampu memisahkan kita
Jun 16, 2020
Jun 16, 2020 at 8:14 AM UTC
Raguku telah kau hapus
Namun bungkammu sendiri yang membuatmu mampus
Tak terkesan serius
Mana kutahu kau mau berlabuh atau lanjut terus
Kamu kira aku jenius
Kau saja telah berhenti mengurus
Tiada perhatian, peduli, ataupun aplaus
Gelagatmu tandus
Payah kau, si rakus
Secuil sesal ini membius
Sayangnya tak ada rumus
Hanya bersisa putus
Ah sudah pupus
Tak mau lagi ku terjerumus
Kamu tetap jadi kultus
May 22, 2019
May 22, 2019 at 4:41 AM UTC
Lunas sudah
selepas kutelusuri
segenap
frekuensi relatif
tak bersisa
aksiku menghadang dirimu.
Bukan khayal
angsa anggunku
satelit jiwa kala lampau
heranku dibuatnya
gamblangnya usaikan
cerita.
Benarkah
kesembronoanku?
Dambaku, kau tanya nalarmu.
Buram rekamanku
namun tak lagi
ada inginku berceloteh
per kau lempar ke kolong
tak beri sela kompromi.
Mustahil pudarkan rasaku,
hanya pikiranku,
luruh binasa.
Setakar janjiku,
ini kali terakhir aku datang padamu.
Makasih ya
Kini, aku berhenti mengugat
walau tanganku bergetar pelak
Tuhan buat yang baik menyeruak
kutenang, tak lagi koyak,
toh jika baik, kembali dipersatukan kelak.
demikianlah.
akhirnya kulepas juga genggamanku.
May 21, 2019
May 21, 2019 at 5:38 AM UTC
lalu aku perlahan berjalan menjauh
mencoba menjarak pada sepotong hati yang membiru
luka tak pandang bulu, tak pandang rupa atau apapun
sempat aku titipkan sepenuh hatiku
kudapati sekarang tak berupa
aku tak cukup mau untuk berlari
sebentar..aku hanya ingin memastikan hatiku kembali baik
ku tahu kamu tak sengaja
membuat hatiku jatuh lalu memar
sakit memang.. tapi lebih sakit jika aku tidak mencinta lagi
karena aku percaya, hatimu baik..
Nov 30, 2018
Nov 30, 2018 at 8:37 AM UTC
Apa kabar, Tuan?
Lama tak beradu tatap.
Bagaimana kehidupanmu tanpaku?
Sepi,
senang
atau
lebih dari tenang.
Kenang memori kita, Puan bersedih.
Puan tahu diluar kehendaknya untuk memohon kembali kepadamu.
Namun tiap malam Puan meraung sepi, terisak sesak. Puan menyerah namun Puan tak bisa melepaskan.
Puan hanya ingin berbicara barang lima detak,
Puan ingin Tuan tahu,
Tuan masih bertahta di hati Puan.
Oct 5, 2018
Oct 5, 2018 at 11:48 PM UTC
terbalas pertemuan singkat tadi siang
dengan sedikit berdebah dengan ego
malu menukik dan gemetar beramai gaduh
sulit juga, berjuang dengan lara yang
kian runyam
kian dalam
kian menepis dalam malam
aku yakin dia bertanya
"kenapa dia?"
haha.. apa aku harus jawab aku rindu
aku rindu seperti dulu
bukan apa-apa
tidak ada lugas kata atau tindakannya
hanya saja aku sudah terlajur menyukainya
menyukai derap langkahnya
lemah gemulai tubuhnya beradu dengan udara sekitar
aku juga suka saat matanya bertemu dengan mataku
sisi lainnya muncul
lebih hangat dari yang kubayangkan
bolehkah juga aku berseru ?
aku menyukaimu ! sangat..
lungai sudah jika itu terucap
pasrah..
tapi tenang, aku masi pandai menyimpan
masih pandai menukik ego
tapi tetap
aku rindu,.,.,.,.
-rindu,mengenang-
May 22, 2018
May 22, 2018 at 12:18 PM UTC
Kini aku menulis lagi
Tapi tidak tentang dirimu
Apalagi teruntuk dirimu
Tidak
Didalam rasa dan kata yang hilang
Kini aku merasa lagi
Hati yang telah lama mati
Kini bangkit kembali
Aku jatuh cinta lagi
May 12, 2018
May 12, 2018 at 8:22 AM UTC
Kebodohanku,
Berharap yang hilang kembali lagi
Kebodohanmu,
Sekejap saja kau khianati hati
Kebodohannya,
Mencintaimu yang masih mencintaiku
Dec 7, 2017
Dec 7, 2017 at 6:43 AM UTC
Kutarik secarik kertas putih
Kutumpahkan tinta hitam
Kutulis namamu
Kuceritakan segalanya
Cintaku kepadamu yang terawali layaknya sebuah kepompong
Hingga menjadi sebuah kupu-kupu
Terbang melintas dunia
Berakhir dengan kematian
Tetes demi tetes tinta
Menyusun kata per kata
Membentuk sebuah kalimat yang ramai
Mewakilkan mulutku yang membisu
Untuk siapa kubuat tulisan ini?
Tulisan yang tak lebih melibatkan amarah dan kebencian
Namun ditulis dengan sedikit rasa cinta yang masih melekat
Putih suci ditimpah hitam penuh dosa
Bisik Sang Hati " Lipat dan buang. Sudah cukup sudah. "
Jemari bergerak melipat surat itu
Berbentuk perahu
Perahu kertas.
Raga berjalan ke tepi laut
Seakan jiwa yang menggerakkan
Mulut yang berbisu mengucapkan sebuah doa
Tangan melepaskan surat itu
Perahu kertas,
Bawalah mimpi buruk ini berlayar denganmu
Berlabuhlah di neraka
Agar dosa dan penyesalan ikut terbakar disana.
Nov 18, 2017
Nov 18, 2017 at 4:32 AM UTC
Cinta, kini kau datang juga
Cinta, sungguh indah citramu
Dunia terasa hampa
Bila kau tiada
Arti cinta yang melingkar disekitarmu
Demi kasih yang kudambakan selalu
Kusembahkan hatiku yang murni
Untuk disinggah oleh dirimu
Cinta, kesucian yang sakral
Cinta, sumber luka yang menyakitkan
Mampu membawa raga dan jiwa
Keabadian atau Kematian.
Oct 28, 2017
Oct 28, 2017 at 11:02 AM UTC
*Ini aku, gambaran hatiku
Kusertakan padamu, kusisipkan untukmu*
Sejenak aku rebah, luka tanpa daya
Aku didera puluhan cabikan
Aku kalah dalam perang
Perang melawan hatiku
Gersang namun hujan
Tandus namun ranum
Itulah hatiku
Malam demi malam kulalui
Dengan mata terjaga
Hari demi hari kulewati
Ditemani gundah gulana
*Aku yang hanya menunggu,
bagaikan menantang murka laut*
Tiang layarku patah dihantam ombak
Kain layarku robek diterjang badai
Aku terombang-ambing antara suka dan duka
Ombak bergulung-gulung menanti di depanku
Aku menoleh ke belakang,
Menimang untuk merubah haluan
Kutak rela
Aug 29, 2017
Aug 29, 2017 at 1:47 PM UTC