"ujung" poems
Hati sedih nan gelisah
Tak tau apa yang harus diperbuat
Kaki bagai lari ke ujung dunia
Peluh terasa lengket bercucuran
Seakan hanya mengikuti jejak
Tak tau arah yang benar
Mata sayup ingin terpejam
Terhalang Guntur yang menggelegar
Menggelegarkan nadi meretakan hati
Serpih-serpih peluh yang menjadi-jadi
Seakan lari menggapai dunia
Melawan angin yang amat kencang
Sambil berpegang kawat besi tembaga
Berjalan di atas angin yang bergoyang
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:01 AM UTC
Palembang, Kamis 6 Januari 2011
Aku tak mengerti apa arti dari Cinta Sejati
Yang ku tahu hanya cinta itu membuat kita sakit hati
Tapi, mengapa rasa ini lain, tak seperti yang lalu
Ku cemas bagaimana bila aku jatuh cinta dengan nya?
Jatuh cinta...
Cukup umurkah aku tuk mengenalnya?
Aku takut itu akan berujung penyesalan
Tapi, selama ini aku hanya diam tak ada gairah
Diakah yang akan membuatku bangkit dan berdiri?
Cinta... Cinta... Cinta...
Hanya cintakah yang paling mudah di dunia ini?
Mudah untuk mencintai, mudah tuk menyayangi
Mudah tuk melukai, mudah tuk menyakiti
Dan mudah-mudah lainnya...
Aku heran, mengapa aku harus kenal cinta
Bila ujung-ujungnya ku harus menyesal
Semoga cepat ku dapatkan jodoh ku
Supaya penyesalan, penantian, semuanya!
Tidak berlaku lagi dan ku hidup bebas
Cepat katakanlah cintamu
Mungkin itulah yang ku tunggu
Mungkin? Ya, bisa iya
Bisa juga tidak
I'm waiting all alone here
Nov 4, 2011
Nov 4, 2011 at 1:52 AM UTC
*Kata demi kata
Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat
Demi melepas seikat rindu
Untuk seseorang berpandangan sayu
Yang telah lama diombang-ambing oleh gelombang kelabu
Seberat langit mendung yang sendu
Berpayung ia lama mencari lentera menuju ujung jalan
Sembari menanti hentinya rintik hujan
Tanah becek berlumpur tempat kakinya lama singgah
Di mana guntur tak ada lelahnya menumpah ruahkan gundah
Kata demi kata
Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat
Demi melekatkan seikat harapan
Untuk seseorang yang tengah dihuyung geramnya badai topan
Yang tak hentinya berharap agar matanya dibutakan mentari pagi
Jiwanya lama berkelana mencari, entah ke mana cahaya itu pergi
Jauh dalam sudut yang gelap ia dibiarkan sendiri*
-------------------------------------------------------------------------------------------
Telah kuleburkan kata demi kata menjadi beberapa helai untaian kalimat
Untuk kompas dalam hidupmu yang telah kehilangan arah
Dibutakan oleh gulungan-gulungan masalah
Juga dalam doa-doa malamku dan setiap sujudku di atas sajadah,
Kubisikkan sebuah pinta agar dirimu selalu dalam pentunjuk-Nya,
Agar kelak dapat kau baca helaian untaian kalimat penyamangatku,
Yang kusampirkan dalam saku jaketmu hari itu,
Dapat merontokkan seluruh perasaan kelabu dalam kalbumu,
Mendepakmu dari sudut gelap di ruang tergelap pikiranmu sendiri.
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 7:28 AM UTC
Pukul satu, kakiku melangkah ke sudut warung kecil itu
Sunyi, lalu ku pilih tempat duduk di ujung sana
Setelah memesan kopi, pilot ku menggores kertas
Yang sama putihnya dengan kulitmu
Tak lupa kubakar ujung rokokku
Yang namanya sehangat pelukanmu
Lalu kuhembuskan kepulan asap tembakau
Menguar sama harumnya dengan tubuhmu
Sepekat nikotin di pembuluhku
Ku tulis kisah kita, dari awal mula hingga akhir bersua
Yang terdampar di sudut kenangan dan rindu,
dan kupaksakan masuk ke dalam loker kerjaku
Sehingga lupa ku adalah tabu, dan memoir adalah *****
Dirimu ku lukis dalam surat ini;
"Di hingar bingar kota, dimanakah kau berada?
Jika lelahmu beradu, dimakah kau berteduh?
Aku disini kasih, Surabaya tempatmu lari
Menolehlah jika kau ada di sudut persimpangan
Mungkin, aku disitu mencari dan mencari
Sisa-sisa cintamu jika itu memang terjatuh
Menadah air matamu, jika itu memang tercecer.
Temui aku, jika berkenan menjumpa nostalgia"
Kuhembuskan uap-uap tar yang menguning
Menerawang di bohlam remang-remang.
Ketika kabut itu pergi, begitu pula aku
Saat api ini padam, redup juga jiwaku
Pukul tiga aku beranjak,
Bayar dan pergi
Surat itu kutinggalkan di atas meja.
Apr 7, 2016
Apr 7, 2016 at 2:05 AM UTC
Pada hari yang baik di bulan yang baik ini;
Hujan turun lagi membasahi segenap pertanahan;
Di balik bulirnya seorang pujangga termenung;
Menuliskan kembali lirik-lirik tersedih dalam puisinya:
Wahai imaji hujan di masa lalu;
Pernah kulupa namun mengapa belum kurela?
Wahai melodi hujan di masa lalu;
Kembali kau ketuk palung paling dalam;
Kehalusan suara wanita yang pernah ada;
Mengapa tak lenyap bersama kejatuhanmu?
Apakah lagi-lagi aku berdiri pada persimpangan yang sama?
Penuh kabut, memudar namun seyogianya belum sirna;
Tahun demi tahun telah berlalu bersama kejatuhan hujan;
Namun mengapa kesepian tak pernah berlalu?
Walau kesedihan menolak segala kefanaan;
Yang belum berubah menjadi sebuah kejadian;
Yang menolak segala bentuk pengulangan;
Apakah kekosongan merupakan bentuk realita tertunggal
Yang selamanya akan terus berbahasa dalam kebisuannya?
Mengapa masih aku mengaku yang tertabah;
Jika musibah tak mampu melenyapkan;
Segala terpaan angin rindu yang pernah berhembus?
Jika segala ketakuan masih menjadi ada dalam tiada;
Mengapa pernah juga kau lepas ikatan kita?
Perlahan kata-kata itu meresap kepada perakaran;
Sebolehjadinya ujung pena tak mampu memahami;
Segala makna yang tersirat dalam rampaian puisinya;
Bila kepergianmu adalah kesenduan dari berkat kehidupan;
Ajarkanlah aku berdamai dengan segala bentuk prasangka;
Yang datang bersama bayanganmu di kala hujan.
Jun 19, 2017
Jun 19, 2017 at 6:45 AM UTC
sore itu dingin.
kupandangi tetes-tetes air yang perlahan hinggap di atas permukaan kaca jendela
secangkir teh dalam genggaman, berbalut tabahnya menahan rindu.
kutunggu kabar
namun tak juga kunjung datang
duduk di atas kursi teras, menanti suaramu hadir di ujung pesawat.
teleponku lagi-lagi kau abaikan, seperti tak pernah sekalipun terlintas minat untuk kau angkat.
terlalu sibuk atau apa?
biar kunanti lagi bersama rintik hujan.
semenit
lima menit
sepuluh menit
dua puluh menit
lima puluh menit
kutunggu telepon balasanmu
namun belum juga kau
izinkan aku mendengar suaramu
aku diam
bersama alunan musik yang dimainkan hujan, air mataku turun
biarkan!
aku letih
berpura-pura merasa tidak sakit hati
bersama lantunan rintik hujan, serta guntur yang belum pula lelah bersahutan, pada dunia mereka seolah mengatakan; alam pun bisa menyuarakan air matanya, dan memiliki jeda jujur yang panjang, berhenti berusaha ceria.
kemudian aku sadar;
seperti alam yang sedang menangis, aku benar-benar letih berpura-pura.
May 22, 2016
May 22, 2016 at 7:20 AM UTC
Inderalaya, 27 Agustus 2014
Aku putus asa di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan
Di saat aku sedang sibuk menyemangati orang lain untuk bertahan
Tepat di saat aku berceramah agar mereka terselamatkan
Aku membela orang lain padahal aku sendiri seorang tahanan
Aku sendiri tak mampu untuk mengembalikan kehidupan, hanya berangan
Melewati waktu tanpa batas yang membuat aku tersesat di jalan
Dengan berani ku telusuri labirin tak berujung di hari tak berawan
Aku mampu menjadi lentera orang lain, di jalan gelap di ujung perapian
Namun aku tetaplah lilin yang tak berapi, angin meniup api dan angan
Aku masih tetap menjadi tahanan yang ingin terbakar di ujung perapian
Aug 26, 2014
Aug 26, 2014 at 10:29 PM UTC
Aku berdiri kaku di depan cermin menatap nanar dirimu.
Bertanya...
Berapa banyak malam yang kau habiskan untuk mencaci tubuh tak bersalah itu?
Mencabiknya agar kau tetap bisa merasa hidup.
Biru dan ungu selalu menjadi tanda bahwa kau menang melawanku.
Aku ingat beberapa orang
mengubahmu menjadi kelabu,
membunuhmu dengan kejam,
lalu membuangmu jauh ke jurang hitam.
Kita berjalan beriringan dengan kapak berlumur kata-kata tak dimaksudkan,
tapi kau bilang kau telah mati jauh sebelum kita berdamai.
Lalu bagaimana denganku?
Seperti ruang kosong yang hilang ditelan kesendiriannya,
aku berjalan menuju ujung lorong yang tak pernah sempat kau injak.
Menari-nari di bawah binar harapan seperti aku lupa bahwa kau tak lagi diam di sana.
Ingatkah kau saat kita duduk di meja makan bersama dua orang asing?
Kau sibuk bermain dengan gelisahmu,
sementara aku tersenyum lebar berperan sebagai hantu.
Kau melahap habis semua isi di sana, tetapi hanya berakhir pada kamar air yang sengaja kau sembunyikan.
Kau mati.
Lalu bagaimana denganku?
Oct 4, 2016
Oct 4, 2016 at 7:24 AM UTC
katakanlah, aku celaka
tersandung ke dalam lumbung asmara.
celaka kah aku
mengendap-endap di bawah rumah mu?
katakanlah, aku terkutuk
seorang yang tak diundang
tak semestinya duduk di ruang tamu.
terkutuk kah aku
membubung asa di atas hampa?
sadarkah aku
sedang menanti sekarat
dan karamnya harap?
dan ku akui,
aku ini binatang keparat
--berharap dua cincin akan enyah jua dimakan karat.
sampai jumpa cinta masa muda,
aku akan menanti di ujung tua
menyesal, sembari menatap
harap dan nyata
mustahil bersua.
maafkan aku menunggu hingga renta,
tak lain karena dirimu di relungku, sintas.
Oct 12, 2018
Oct 12, 2018 at 11:16 AM UTC
Palembang, 20 Januari 2013
Rasanya kalau sudah bicara denag-Nya,
Seperti menempelkan goresan luka di hati dengan hansaplas
Pedih, tapi lekas sembuh
Tak berdarah, tak berbekas
Rasanya kalau selesai mengadu pada-Nya,
Seperti membersihkan darah yang menetes dari ujung jari
Perih, dan darah kan berhenti
Luka tertutup kembali
Rasanya kalau belum menghadap-Nya,
Seperti menunggu pengumuman juara kelas di sekolah
Detak jantung berirama kencang
Perut mual bak naik Halilintar
Malah tangis memecah
Jan 20, 2014
Jan 20, 2014 at 10:02 AM UTC
Pernah aku melihat sebuah keikhlasan
dari gugurnya daun pohon jati itu
Relakah dia meranggas untuk menghargai
waktu.
Pernah aku melihat sebuah kerahasiaan
dari kata-kata manis seorang ibu
Matikah dia menangis untuk menjadi
hantu.
Tapi seumur hidup aku baru melihat
sebuah kejujuran, dari ujung jarimu
Yang membelai untaian benang biru
kusut, tanpa keluh
Berpeluh namun tak mengenal sendu
Lalu apa artinya ikhlas tanpa rela
ditengah rahasia tanpa kata
dibasuh hujan air mata yang tak jatuh
Membasahi rona merahmu
*Doa kita sampaikan pada awan Nimbus
dan bintang Polaris
Berharap, berdua kita mendapati senyap
Bersama nyala lilin.*
Oct 9, 2016
Oct 9, 2016 at 3:30 PM UTC
habisnya seluruh suara
lenyap ditelan Samudra
bersembunyi di ujung lidahku
satu lautan cinta untuk kamu
ngga akan aku ucapkan
kamu ngga perlu tau
Mar 21, 2016
Mar 21, 2016 at 7:02 AM UTC
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya.
Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman.
Serreh, 2017
Aug 17, 2017
Aug 17, 2017 at 10:21 AM UTC
Setanmu itu,
Ia masih menghampiriku
Duduk di ujung kuku kakiku
Untuk mengaji
Agar aku tidak pernah lupa
Pada satu pertanyaannya:
Mengapa
Aku sampai membakar diri
Untuk menjual jiwa
Pada nyala sepercik
Padahal lamanya
Tak lebih dari sedetik
Kenapa, tanyanya,
Aku terbaring siang dan malam
Dengan jarum-jarum
Di sekujur tubuh
Yang dengan sendiri kutusuk
Kenapa,
Balik kutanya,
Kenapa
Aku masih di sini?
Sep 8, 2016
Sep 8, 2016 at 10:03 AM UTC
O, malam yang suci
Sayang, kau mau kecap itu?
Kecaplah sunyi malam di ujung lidahmu, julurkan sepanjang tangan
Bilamana gelap telah menghujani hari, teguklah dingin dalam gua mulutmu
O sayang, kau mau dengar itu?
Sendengkan telingamu, dengarkan sekali lagi
Dengarkan ketika gelap dan terang tengah melenguh
Harmoni saat daun dan ranting mencumbu satu sama lain
O, sayang, kau mau merasakan itu?
Sentuhlah bibir bulan itu, kau bisa merasakan dia tengah bernyanyi
Bibirnya mengatup dan membuka, mendaraskan kidung yang seketika senja
O, sayang, kau mau melihat itu?
Buka matamu, lihat mereka saling bergesekan, menaut dan berkelindan
Tak ubahnya sepasang kekasih yang tengah bersanggama
Sep 28, 2016
Sep 28, 2016 at 3:36 PM UTC
Sesekali
Malam bersaksi
Ialah yang kau pandang
Lewat satu-satunya
Jendela hatimu
Jam dinding
Pada tiap detiknya
Merana
Setelah menghitung
Detak jantungmu
Tembok kerap
Meniup nestapa
Saat kau di pembaringan
Meliuk pada
Hamburan mimpimu
Selamat tidur,
Degup duka.
Aku sebuah gelas
Di ujung kamarmu
Yang terlalu penuh
Minumlah sebelum
Terlelap
Agar aku dapat juga
Bersaksi perihal
Kecup dan detak jantungmu
Mar 19, 2016
Mar 19, 2016 at 3:41 AM UTC
Bagi anda sekalian
Yang meranggas merana
Di pintu sesal, sesegukan,
Saya menjual mawar merah meradang;
Khusus ditanam untuk menebus dosa-dosa.
Hanya dengan seisak air mata dan kepalsuan
Anda bisa mendapatkan:
1. Sekuntum bunga jelita
2. Semaksiat dusta terulang
3. Seampun tangis di ujung mata
Silahkan memilih salah satu yang
Paling ingin di sia-siakan.
Semoga memuaskan.
Feb 8, 2016
Feb 8, 2016 at 8:49 AM UTC
1/
Biasanya aku melihatmu di pojokan ruang itu. Melamun betapa sedih dan merananya jika jadi dirimu. Senyummu usang, sudah selayaknya kau buang. Atau paling tidak, kau gadaikan ke pasar loak. Pertimbangkan, aku bahkan menawarkan diri untuk jadi gerobak rombengnya.
2/
Mengamatimu bagai meneliti susunan arsitektur sarang semut, bercabang rumit walau sekelumit rahasiamu tak terungkit, atau paling tidak cerita masa lalu mu tak pernah terkuak.
Omong-omong, sudah tiga hari aku datang dan duduk di bangku yang sama, bahkan meja dan kursinya tak segan menyapaku dari kejauhan "kawan, mari duduk sini dan amati keindahan". Aku tak begitu paham bahasa furnitur, jadi ku jawab seadanya.
3/
Duduk diam mengawasi kerumunan, siapa tahu kau kembali terlihat, tanpa terhalangi punggung, atau ransel. Pintu maupun kerudung. Jangan bilang aku penguntit, karena aku tak bermaksud buruk. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk sekedar bertukar sapa, atau paling tidak tatapan mata. Menurut ku matamu cukup layu jika tak ada kawanmu yang menemani. Air mukamu tak pernah kulihat benar-benar menikmati hidup merdeka, mereka tetap saja terjajah. Entah karena sedih atau kecewa.
4/
Hari ini kau tak ada di antara kerumunan, tak ada dalam ruang, tak ada diantara rekan, tak pula hadir dalam lamunan. Aku takut telah menculikmu tanpa sengaja dengan tatapan. Aku terus memandang kedepan, mendengar percakapan.
5/
Tak ada. Aku tahu. Tak berharap pula aku akan tibamu di dalam ruang.
6/
Aku mendengar gosip dan rumor, bahwa kau yang di ujung ruang telah berpindah ke lain ruang. Ujung koridor. Aku bergegas kesana.
7/
Hari ini aku berhasil mengejarmu, berbicara padamu. Tapi kau tampak tak senang, dan hanya mengulang kata-kataku. Aku juga tak sengaja menemuimu di toilet. Masih mengulang kata-kataku. Sore ini aku berjanji akan menemuimu di ruang ujung koridor.
Kala itu, dia menghadap cermin. Menyapa citranya sendiri. Di ruang ujung koridor.
Oct 18, 2017
Oct 18, 2017 at 11:08 PM UTC
Venus pukul 5 pagi
Berpendar sendu di ujung timur
Hatinya meraung bergema
Lengannya memeluk kenangan yang mulai buyar
Matanya menerawang kisah-kisah lampau
Pasrah dirinya hanyut, bermuara ke alam sadar
Jiwanya hampir roboh
Beruntai-untai tali penopang mulai usang
Seutas tetap bertahan
Yang terbuat dari cintanya,
Yang dirajut oleh sang terkasih
Mengikat rohnya tetap dalam raganya
Berderai senyap air mata yang tak pernah kering
Mengecup pelan bibir yang tak mampu berkata
Membalas tatap mata yang tak pernah terlelap
Memeluk hangat tubuh yang tak lagi merasakan hangat
Menyambut lembut mimpi yang tak pernah selesai,
Mimpi yang tak ingin disudahi
Nov 1, 2018
Nov 1, 2018 at 2:46 AM UTC
Hiruk-pikuk menjual dirinya
Pada hening yang mengekang
Ia mulai merindukan
Wujudnya
Diam-diam,
Diintipnya cermin
Yang tergeletak di ujung
Taman bunga
Sudah sebagian layu,
Tua, takhayul, dan
Ngeri,
Tapi di sanalah satu-satunya tempat
Di mana perwujudan
Berani menampakkan diri sejujur-jujurnya
Maka dipanjatkannya
Beribu pekikan isyarat namanya:
Hiruk-pikuk
Ramai
Gegap-gempita
Gelegar.
Dan diintipnya cermin itu
Dilihatnya wujudnya:
Masih tiada.
Ia telah dihilangkan.
Hanya ada bising
Yang terus bergulir.
Kau tahu dirimu
Adalah keberisikan,
Siapa suruh menjual diri pada hening?
Jun 23, 2016
Jun 23, 2016 at 8:22 AM UTC
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal
Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya
Tak peduli jika doaku belum juga dijabah
Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah
Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah
Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat.
“Sampai ketemu.”
Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat
Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat
Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu?
Aku bersumpah, tak ada yang tahu.
—
Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing
Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya.
Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa,
Hati ini hanya bisa berkata;
“Akhirnya aku kembali melihat matanya.”
Setengah sayup setengah berbinar,
Sepasang bola mata itu menatap milikku,
Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita;
“Aku lelah.”
“Aku tahu.”
Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku,
Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk
Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian.
Saat pakaianku dilempar ke lantai,
Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya.
Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama
Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak
Aku bergegas mengambil seribu jejak,
Di jalan pulang aku menerima pesan;
“Terima kasih.”
“Kembali.”
Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki.
Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
May 27, 2019
May 27, 2019 at 12:42 AM UTC
dan aku kembali memikirkanmu lagi.
disela segala kesibukan yang mengekang jiwa
diantara tumpukan pekerjaan yang seharusnya lebih nyata
terselip dalam lamunan
terbayang di ujung tangan.
aku kembali memikirkamu.
Aku memang tidak seharusnya tinggal diam
kesibukan ini seperti candu
canduku untuk sejenak melupakanmu
walau pada akhirnya aku kembali memikirkanmu lagi.
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 4:04 PM UTC
Halo Tuan,
Masih ingatkah waktu kita tersesat?
Dilabirin Waktu bersama
Kau seolah paham dengan alurnya
Menuntunku
Aku tersenyum dari belakang
Mengikuti tapak kakimu
Ditengah jalan, kau berhenti
“Aku sadar” katamu.
Mari kita berpisah
Dan jika memang benar alurnya,
Kita akan bertemu di ujung labirin ini
Aku berhenti dan menabrak punggungmu
“Mengapa?”
“Apa?”
Aku masih tidak bisa berpikir jernih
Hanya kalimat tanya yang ku pikirkan
Kau tau aku tak paham dengan labirin ini kan?
Dan kau suruh aku berjalan sendirian,
Dengan hadiah “jika benar kita akan bertemu di ujung labirin”
Tidak
Tuan, lebih baik kita tak bersama dari awal
Akan sangat mudah bagiku untuk memahami alur ini jika aku sendiri saja
Terimakasih untuk setengah perjalanan ini
Dan untuk ujung labirin,
Ku harap aku menemukan ujung labirin lain,
Dan kau pasti tau alasannya.
Feb 14, 2019
Feb 14, 2019 at 10:53 AM UTC
Melihatmu melukis warna
Merah cerah dan jingga
Mengangkat kedua ujung bibir
Membawa bahagia dengan sihir
Namun kini bukanlah yang lalu
Melihatmu menyobek raga
Merah darah dan infeksi
Menggebuk harapan memfana
Mengenakan topeng yang berseri
Jan 3, 2019
Jan 3, 2019 at 5:23 AM UTC