Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"tenggelam" poems
Palembang, 18 Desember 2011 Ku tak ingat pertama kali aku membuka mata tuk melihat dunia Yang ku ingat aku hidup bersama keluarga kecil yang bahagia Semasa hidup dunia tak pernah berubah 7 samudera, 7 benua Tetap Bukti kecintaan Sang Pencipta kepada manusia Cinta itu penipu Bisa berperan menjadi apa saja dan siapapun Ombak di laut lepas, itulah cinta Sinar mentari pagi, itulah cinta Tetes embun pagi, itulah cinta Dingin angin malam, itulah cinta Cinta itu tirta Sama seperti air, tak dapat disentuh, hanya bisa dirasakan Cinta itu air sungai yang mengalir Cinta itu jalanan berkelok di pegunungan Cinta itu pepohonan di kaki gunung Cinta itu butiran pasir di Sahara Cinta mampu hidup di mana saja Bak parasit yang mengikuti kemana manusia Cinta itu suci di Mekkah Cinta itu tinggi di Everest Cinta itu luas di Pasifik Cinta itu dingin di Antartika Namun terkadang cinta bisa menjadi liar Tak mau disentuh, pantang diucap Cinta bagaikan Viranha di Amazon Bagaikan Voldemort, The Dark Lord Bagaikan Troll di pedalaman Bagaikan kota hilang di Peru Cinta bagaikan mumi di Mesir Bagaikan terowongan di Jalur Gaza Bagaikan Titanic yang tenggelam Bagaikan laut mati di Yugoslavia Aku merenung,, diam Memandang jam,, terus berdetak Ku akan tinggal di Laguna indah Jauh dari semua,, jauh dari cinta
0
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:26 AM UTC
CINTA dan Dunia
Senja masih terasa sama , ia hadir menyapa seakan menghadirkan sejuta tanya ? kemudian tak lama 'anganku mulai bermain , berhalusinasi akan sebuah daun yang jatuh kemudian terbang bersama angin . hidup tanpa senja seakan berjalan tiada tulang , tak berdaya , rentan dan rapuh . appapun yang ingin aku sampaikan melalui goresan ini , adalah bukti bahwa aku tidak pernah mengingkari janji Allah , bahwa senja akan terus menemuiku setiap ia akan pulang . meskipun terkadang ia hadir bersama rintikan hujan yg terus menerus membasahi tanah jakarta Dan aku tak tau lagi , kapan aku bisa menyaksikan senja tenggelam di pinggir pantai lengkap dengan deburan ombak . Senja engkau berhasil membuat rekaman itu selalu berputar memplay memori ku bersama bapak . memori dan kenangan di masa kecil itu . aku tidak pernah memikirkan apakah yg harus ku cari esok hari
0
Feb 11, 2015
Feb 11, 2015 at 5:04 AM UTC
Antara 10 Februari , Senja , dan awan Mendung
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
ada gelap, redup, lalu apa?
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
Continue reading...
31
kursi di bawah pohon kenari masih dengan setia duduk disana tidak peduli siapa yang mendudukinya atau siapa yang lewat di depannya ia tetap setia menunggu kedatangannya burung-burung dengan bebas menyuarakan nada-nada indah berisi pesan untuk diberikan kepadamu, tuan tanpa nama jangan berpura-pura tidak peduli kepada dunia di lubuk hatimu yang terdalam, sial, aku sangat yakin kau kesepian kau membutuhkan seorang teman yang rela mendengar ocehan mautmu sampai matahari tenggelam di ufuk barat nantinya kemarilah, tuan tanpa nama duduk bersamaku di bawah pohon kenari dan menikmati indahnya matahari senja
0
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 7:14 PM UTC
kau mendengarku
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan. tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia. aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat. bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa peduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku. namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.” namaku sederhana. sederhana dan akan selalu nyaman. setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak. namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya. aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati. rumah.
0
Jan 18, 2019
Jan 18, 2019 at 8:53 AM UTC
Akan Ku Peluk Apa yang Berantakan Darimu
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan. tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia. aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat. bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa peduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku. namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.” namaku sederhana. sederhana dan akan selalu nyaman. setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak. namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya. aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati. rumah.
Continue reading...
11
voice over: Atlas Ketika langit mengubah rupanya menjadi senja sewarna matahari tenggelam, kuajak Venus duduk di kafe tak jauh dari stasiun. Perjalanan hari ini cukup lelah, meskipun pengamatan kami berjalan lancar. Tapi, aku selalu berharap anggota kelompok kami lainnya lebih sering ikut bergerak agar kami tidak selalu pergi berdua. Museum yang kami kunjungi kali ini adalah museum seni, yang kuduga salah satu hal yang amat Venus hargai. Ia penikmat karya seni. Matanya terus memandang takjub karya-karya yang kebanyakan orang tak pahimi apa maknanya, namun Venus menatapnya seolah barang yang dilihatnya ialah nyata. Kau tahu, memandangi seorang perempuan berambut gelombang sepunggung, yang bertinggi badan hanya sehidungmu, rahang tegas, alis yang tebal, memandangi karya-karya seni di hadapannya dengan tatapan antusiasmenya; bukankah ia definisi seni yang sesungguhnya? Yang paling nyata di depan mataku? Dan, kemudian ia menoleh, tersenyum saat sadar aku memandanginya dari belakang. Ia mengatakan sesuatu, "Atlas, lihat sini! Lukisan yang satu ini benar-benar indah." Dan, setelah 3 bulan meragukannya, sekarang aku yakin; aku menyukainya, sangat menyukainya, saat kurasakan Venus adalah seni yang lebih indah, terindah.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 6:51 AM UTC
daydreaming part 1: keajaiban seni yang paling nyata
Selamat pagi Aku kira hari ini berbeda Aku kira hari ini kita berdua Akan kembali Bersatu lagi Tapi venus pergi Meninggalkan hampa Dan secerca air mata Kamu berkata ingin berhenti Untuk sementara Selamat pagi Mungkin tadi hanya mimpi Tentu saja tidak Semuanya asli Semuanya benar terjadi Seperti ombak yang memecah karang Rusak dan terhanyut Ke dasar laut Aku tenggelam terdiam Dan engkau berlari pergi Selamat malam Cukup sudah Aku tidak ingin hariku lagi Selamat malam Bangunkan aku Bila kamu tlah kembali
0
Oct 8, 2016
Oct 8, 2016 at 12:16 AM UTC
Selamat Pagi Selamat Malam
Justru inilah yang tak pernah bisa ku pahami; kamu mengenal aku seperti belakang tanganmu sendiri kamu itu selalu memiliki pilihan untuk jadi bahagiaku di siang dan malam atau buatku tenggelam dan tersesak dalam dinginnya diam namun pilihan kedua selalu menjadi pilihan favorit mu pun kamu tau bahwa dulu itu menjadi alasanku tinggalkanmu
0
Aug 2, 2015
Aug 2, 2015 at 9:45 PM UTC
Diam
Tenggelam dalam riak nafasmu Bagai ombak bertalu-talu di tepian kalbu Terbuai oleh lantunan irama kehidupan Bersenandung dibalik kerangkeng iga Aku perahu di lautan luasmu Tanpa dermaga yang hendak ku tuju Hening malam tak kuasa membungkam Detak yang berteriak memuja semesta _______________________________ *Engulfed in the ripples of your breath Tides pulsing at the shorelines of soul Lulled by the chanting rhythm of life Strumming against the rib cage I am a boat in your vast ocean Without a harbor to go to The silence of night can't hold in the heartbeats that bellow praises to universe*
0
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:43 AM UTC
Perahu
Palembang, 27 Maret 2017 Hari ini aku tak ingin berhenti menulis Bagiku menulis itu sangat berarti Aku bisa mencurahkan isi pikiranku tanpa aku harus berucap Ucapanku terkadang tak didengar orang, kau tahu? AH, bukan! Ucapanku bahkan tak pernah didengar orang Aku hanya batu, yang hanya dilangkahi orang setiap kali berjalan Hari ini mentari bersembunyi di balik awan mendung Namun panas teriknya masih bisa ku rasakan dikulitku Aku hanya bisa berteduh di bawah atap kamarku Padahal jiwa ini ingin sekali menari di bawah mentari Padahal kaki ini ingin sekali tenggelam di pasir pantai yang kasar Ingin sekali rasanya membawa diri ini ke air laut biru nan luas Aku ingin sekali mengapung di air garam yang bening Namun yang kulakukan hanya mengetik tulisan tak berarti Hujan mulai turun Apa daya aku hanya bisa menunggu Aku terkurung di dalam dunia sendiri AKu belum berani tuk berkelana sendiri
0
Mar 27, 2017
Mar 27, 2017 at 1:11 AM UTC
Untitled #4
terus tenggelam dalam kisah silam kekal bertentangan dengan kisah hadapan sudah menjadi resam penuh dengan harapan pencarian berterusan mencari perlindungan apakah erti pendewasaan apakah erti kemerdekaan satu batang tubuh katanya penentu jaya atau buntu kekal tunduk patuh menjarah sesuatu diam membatu.
0
Sep 13, 2018
Sep 13, 2018 at 7:28 PM UTC
Konfrontasi dalam Meditasi
Lantunan lagu sendu mengiringi malam Ketika mereka lelap dalam senyap Mata yang tak tertutup itu menangis Memandang bintang-bintang di angkasa Berharap bisa tenggelam di dalam gelapnya Namun semesta sedang bercanda Seakan-akan mereka mengutuknya untuk selalu ingat Tanpa henti sehingga mata itu tak bisa lagi tertutup Bagaimana bisa tertutup Ketika malam tiba ia selalu ada
0
Feb 19, 2016
Feb 19, 2016 at 3:54 PM UTC
Mimpi
bukan tidak percaya diri, hanya saja... rasanya sulit ketika kau berulang kali tenggelam sampai akhirnya kau lelah untuk meraih udara di atas lalu nyaman dengan kedalaman maksudku haruskah kita selalu berkembang diatas ? bukankah sama saja ? semua sudah ditimbang baik buruknya, tergantung dari sudut mana kau melihatnya. untukku, aku yang masih 17 tahun ini sempat terbesit sudah ingin hidup di ketenangan itu tidak mau terlalu banyak mengambil bintang usahakan lebih banyak bersyukur bercengkrama dengan anemon laut di bawah sana hiu maupun predator buas pun akan coba kuakrabkan kalau memang kita tidak diterima diatas kenapa tidak coba membangun istana di bawah ? apa salahnya terus berusaha tetapi lain jalur dengan para mayoritas ?
0
Jul 2, 2018
Jul 2, 2018 at 7:25 AM UTC
aku, mencoba menenangkan diri sendiri
aku tenggelam di dalam lautan kenangan indah masa lalu yang sangat sangat pahit untuk diingat kirim aku sebuah sampan agar kubisa mendayung ke seberang sana dan berlabuh bersamamu
0
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 9:45 AM UTC
kapal selam
Disana, Diantara bisingnya kerumunan kota, Aku berdiri sejenak, Mendengar alunan musik mengendus sajak. Beberapa pasangan mata menoleh, Menutur, menyinyir, Mengikuti bayangan dosa lama Yang telah tenggelam, Dilahap oleh manisnya senyum Dan tawa para badut malam. Lepuh, rasanya. Lilin-lilin yang menginduk di kulitku kian meletih Teriak pedih tak kunjung hari Terhambur sudah harapan palsu ini.
0
Jan 19, 2018
Jan 19, 2018 at 10:53 AM UTC
Kecemasan Tak Kunjung Kala
Aku mengejarmu ke tempat bayanganmu pernah singgah Mencari suaramu di tengah hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur Sepi menoreh di tengah keramaian Ketika orang mabuk oleh ilusi, Aku sadar akan ketiadaan Ketika mereka tenggelam dalam lautan cahaya, Aku pudar dalam kelamnya sunyi Mengejarmu ke kota yang telah kau tinggalkan ------- I'm chasing you to the place your shadow once alighted Finding your voice in the midst of cacophony of the city that never sleeps Solitude incised through the crowd People are drunk with illusion Alone I am aware of the void They are drowned in a sea of lights I am fading inside the leaden silence Chasing you to the place you've left behind
0
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:42 AM UTC
Solivagus
tenggelam sudah hatiku saat melihatmu. hanya perkara waktu, kapan dua hati kita menyatu?
0
Oct 28, 2020
Oct 28, 2020 at 2:23 PM UTC
Untitled
Dirimu bagaikan api yang membara Panas jika disentuh sembarang, Tapi indah jika aku menatapnya dengan benar. Dirimu bagaikan lautan yang luas Tenggelam jika tidak berhati-hati, Tapi bisa membuatku menghargai keindahanya. Bagiku dirimu adalah keindahan Tapi bagimu diriku hanyalah sepotong cerita masa lalu.
0
Jun 23, 2018
Jun 23, 2018 at 1:14 PM UTC
Keindahan Sendiri
Bersama suara tawa Terdengung hasrat hati sedikit kata Dia yang berbaik hati Dan saya yang bersakit sakit Merangkak dibawah kebaikannya Menggumam kala dia tertawa Gapai senyumnya yang tak kasat hati Bahkan, rela tenggelam dalam pasir khayalnya Hm, apakah ini saatnya? Pengakuan akan hasrat hati sebenarnya? Mengenai rasa dan karsa Di akhir petang ini, Bersama riakan air dan sapaan ombak Bahkan ditemani oleh anak kepiting lucu Dan lembayung surya sebagai saksi Saya, sang khalayak yang tengah berdiri Memintanya untuk berhenti Baik dalam melangkah, ataupun berlari Karena saya akan mencari sisi ujung lembayung surya yang lain Dan dia tak perlu tahu jika memang tak ingin Terima kasih
0
Aug 7, 2019
Aug 7, 2019 at 11:56 AM UTC
Ujung Lembayung Surya
Tertera kah di alam bahwa hati manusia tenggelam tak mampu menghirup tenang, mengambang, hanyut dalam tegang membusuk takut menjalani hidup
0
Aug 1, 2018
Aug 1, 2018 at 12:19 PM UTC
Psikologi
"Kelak kamu akan mengerti; setelah tenggelam dalam sepi lalu menangisi apa yang sudah pergi"
0
Jun 13, 2020
Jun 13, 2020 at 12:37 PM UTC
Menenangkan Duka
aksaraku benar benar mati, tenggelam bersama tangis, meringis, miris, teriris. selamat tuan, kau pandai memerankan peran antagonis berkedok protagonis.
0
Nov 10, 2019
Nov 10, 2019 at 11:34 AM UTC
—aksara