Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"sesekali" poems
voice over: narrator Pemberitahuan terakhir disuarakan, keberangkatan pesawat tujuan Frankfurt Airport akan lepas landas tak lama lagi lagi, orang-orang bersiap masuk kabin. Ada satu hal yang terlintas di pikiran Atlas; ia tahu Venus tidak akan datang. Tidak dalam hitungan waktu tiga puluh menit, sepuluh menit, apalagi lima menit. Percuma saja menunggu, Venus benar-benar tidak datang. Perpisahan mereka sudah berlangsung semalam, pertemuan terakhir yang berhasil membuat Atlas berkali-kali memutar ulang seluruh adegan, mendengar suara gelak tawa mantan pacarnya dalam benak khayal, membayangkan senyuman Venus yang ia lukiskan untuknya terakhir kali. Pertemuan terakhir mereka kemarin bahkan tidak terasa seperti perpisahan, namun tetap bagi Atlas terasa begitu janggal. Mungkin karena terlalu tiba-tiba dan cepat, pertemuan terakhir yang merupakan perpisahan, pertemuan terakhir paling bahagia dan paling sedih, yang juga menyudahi hubungan singkat mereka. Sejenak Atlas merasa sendu. Dalam lubuk hatinya masih sesekali berharap Venus meneleponnya, mengatakan bahwa ia akan datang mengucapkan selamat tinggal. Namun, nyatanya ucapan selamat tinggal Venus hanya berupa memori-memori tentangnya; seratus hal yang tertanam sejati di dalam hati Atlas mengenai segala hal tentang kejanggalan perempuan itu, gelak tawanya, senyumanya, aroma tubuhnya, kerlingan matanya, rambut hitam tebalnya, wajah pemikirnya, serta sosoknya yang seringkali membuat dirinya bertanya-tanya; kisah apa saja yang tidak diketahuinya, yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya sehingga membentuk pribadi sepertinya yang begitu terlihat bagai keajaiban seni paling nyata di mata Atlas? Baginya, Venus adalah sebuah takdir dan keajaiban menjadi satu. Dan, ia tidak akan pernah ada niat untuk melupakannya.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 6:56 AM UTC
daydreaming part 2: tentang perpisahan
voice over: narrator Pemberitahuan terakhir disuarakan, keberangkatan pesawat tujuan Frankfurt Airport akan lepas landas tak lama lagi lagi, orang-orang bersiap masuk kabin. Ada satu hal yang terlintas di pikiran Atlas; ia tahu Venus tidak akan datang. Tidak dalam hitungan waktu tiga puluh menit, sepuluh menit, apalagi lima menit. Percuma saja menunggu, Venus benar-benar tidak datang. Perpisahan mereka sudah berlangsung semalam, pertemuan terakhir yang berhasil membuat Atlas berkali-kali memutar ulang seluruh adegan, mendengar suara gelak tawa mantan pacarnya dalam benak khayal, membayangkan senyuman Venus yang ia lukiskan untuknya terakhir kali. Pertemuan terakhir mereka kemarin bahkan tidak terasa seperti perpisahan, namun tetap bagi Atlas terasa begitu janggal. Mungkin karena terlalu tiba-tiba dan cepat, pertemuan terakhir yang merupakan perpisahan, pertemuan terakhir paling bahagia dan paling sedih, yang juga menyudahi hubungan singkat mereka. Sejenak Atlas merasa sendu. Dalam lubuk hatinya masih sesekali berharap Venus meneleponnya, mengatakan bahwa ia akan datang mengucapkan selamat tinggal. Namun, nyatanya ucapan selamat tinggal Venus hanya berupa memori-memori tentangnya; seratus hal yang tertanam sejati di dalam hati Atlas mengenai segala hal tentang kejanggalan perempuan itu, gelak tawanya, senyumanya, aroma tubuhnya, kerlingan matanya, rambut hitam tebalnya, wajah pemikirnya, serta sosoknya yang seringkali membuat dirinya bertanya-tanya; kisah apa saja yang tidak diketahuinya, yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya sehingga membentuk pribadi sepertinya yang begitu terlihat bagai keajaiban seni paling nyata di mata Atlas? Baginya, Venus adalah sebuah takdir dan keajaiban menjadi satu. Dan, ia tidak akan pernah ada niat untuk melupakannya.
Continue reading...
4
Aku berdosa, Telingaku bunuh diri. Sudah baru-baru ini Aku sepenuhnya tuli Aku tak tahu lagi   Apa kata dedaunan Pada tanah yang terantuk lemas dibawah Atau ceracau yang diteriakkan Bunga keparat Untuk mayat dingin si kumbang. Bahkan di restoran tua Yang setiap sela kayunya berdarah dingin, Tempat rintihan musik bisumu selalu dialunayunkan Semuanya hanya tertawa hening lalu mati begitu saja. Dan meskipun duduk menghadapmu Aku masih tak dapat mendengar Suara mengaji jam setengah mati Yang kerap menceritakan Dongeng gelap kita Dari lampau sampai me— La lala la la       lala la lala La la la la la lala            La la la lalala la la La —Lampaui Pemakaman hati yang mati dipancung Di pekarangan rumah tiap senja gulana Yah, baru-baru ini aku tuli Bisu lagi, Mampunya cuma mengumpat dalam tulis. Dan dihadapkan denganmu, Sesekali dalam terkadang Aku anehnya dapat mendengar Serintikan isak tangis yang Sama sekali tidak kita cucurkan Lalu ini semua salah siapa, Kalau aku baru tuli Lalu kamu sudah bisu? Apa memang ini dosaku? Di palangnya tertulis; Nama: Siapapun yang menangis Di sela-sela pengakuan dosa Kematian telinga gila Dan kelumpuhan bibir hambar Kita tiba-tiba melongo, Tuhan tertawa Sabar lagi bahagia, Mengisyaratkan untuk Sudah, ya, Simpul mati saja senyum satu sama lain.
0
Aug 30, 2015
Aug 30, 2015 at 8:46 AM UTC
Pengakuan Dosa Penyair Tuli Pada Sebuah Film Bisu
Kepada Kamu. Kita terlalu sama. Suka menangis diam diam. Kelihatan tegar di luar, padahal hancur di dalam. Ketika kini kulihat tawamu yang terlalu keras, aku tahu bahwa kau sedang tidak baik baik saja. Kau memang ahli bermain peran, tapi tidak di hadapanku. Cobalah hidup jujur terhadap apapun yang kau rasa. Tuhan tidak menciptakan apapun untuk sia-sia. Hidup tidak melulu soal bahagia, tapi juga sebaliknya. Itu kemutlakan yang tak bisa kau tolak. Seperti sekarang, jangan selingkuhi perasaanmu sendiri, menangislah. Sungguh, tidak ada yang salah dengan jatuhnya airmata. Airmata bukan penanda lemah, sebaliknya itu pertanda agar kau tidak lengah. Setiap kita memiliki lukanya sendiri sendiri. Juga, memiliki cara sendiri sendiri untuk memulihkannya. Airmata adalah cara lain kau berbahasa dan mengungkap rasa, ketika kau tak sanggup mengolah kata. Biarkan luka terbawa oleh setiap tetes airmata yang menitik sukarela. Terkutuklah mereka yang percaya ‘anak hebat tidak menangis’ lalu menurunkan kebijakan yang tidak bijak itu pada anaknya. Mereka pasti mati rasa. Izinkan aku menemanimu, tanpa banyak bicara, memberi petuah yang menjemukan, atau bertingkah konyol agar kau tertawa. Aku hanya akan duduk di sampingmu, menemani selama kau mau. Dan sesekali memberi genggaman, untuk menguatkan. Note: bahkan airmata adalah buah tawa, saat aku bahagia bisa menemanimu dan mendengar cerita kegiatanmu seharian.
0
Mar 4, 2015
Mar 4, 2015 at 2:40 AM UTC
Tear
Palembang, 3 November 2011 Aku bersabar . . . Tetap berusaha dengan penuh harap Supaya bisa melihat wajah mereka Mendengar suara mereka Menyaksikan kekompakan mereka yang sangat aku cinta Aku tidak menangis . . Hampir, tetapi ku hapus air mata dan ku pasang senyum bahagia ku tersenyum sesekali, tertawa bersama mereka Aku tidak mengerti bahasa mereka Tapi aku mengetahui yang mereka bicarakan Aku tidak pernah bertemu mereka Tapi aku bisa merasakan mereka sangat dekat Aku tidak mengenal mereka Tapi aku sangat mencintai mereka Dari dulu hingga sekarang rasa ini tak akan berubah Meskipun aku belum beruntung Doa membantuku memberitahu-Nya Bahwa aku sangat merindukan mereka Sekarang,,, Aku sedang memandang mereka Merekam setiap kata, gerak, dan ekspresi mereka Hal terindah yang pernah aku rasakan Terima Kasih Tuhan, , , Hadiah ku datang Created by. Aridea P
0
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 11:57 AM UTC
Hadiah Ku Datang :)
Gadis itu pulang dengan kepingan jiwanya Berusaha untuk menahan segala rasa sakit Semua ia simpan rapat-rapat walau tersirat dari matanya Ia menghempaskan badan diatas tempat tidur Sambil sesekali memijat keningnya, berharap rasa sakit tak akan hinggap kesana. Lalu ia berusaha tak mengingat-ingat semuanya Berharap entah bagaimana caranya agar ia mematikan perasaannya Dalam hati ia bertanya "kapan terakhir kali kau bahagia?" Tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan itu Ia hanya menatap langit-langit kamar  sambil tersenyum pahit. "Yah, begitulah realita hidupmu. Tersiksa karena jatuh berkali-kali untuk orang yang salah" Otaknya berbicara pada hati yang masih kukuh membela perasaan yang ia punya Ia tak bisa lagi menampik bahwa kepala dan hatinya setelah ini tak akan pernah ada di kubu yang sama Karena kelalaian hatinya lah ia berada disini sehingga logika menghukum hati itu, menutup pintunya rapat-rapat dan menenggelamkan kuncinya kedalam samudera pemikirannya. Suara hujan mengiringi gadis itu Tak terasa satu demi satu tetes air mata mengalir Ia hanya bisa memejamkan mata dan berkata "Aku sudah tak punya hati lagi"
0
Dec 14, 2015
Dec 14, 2015 at 7:09 AM UTC
Hujan Desember
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan. tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia. aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat. bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa peduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku. namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.” namaku sederhana. sederhana dan akan selalu nyaman. setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak. namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya. aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati. rumah.
0
Jan 18, 2019
Jan 18, 2019 at 8:53 AM UTC
Akan Ku Peluk Apa yang Berantakan Darimu
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan. tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia. aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat. bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa peduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku. namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.” namaku sederhana. sederhana dan akan selalu nyaman. setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak. namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya. aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati. rumah.
Continue reading...
11
Temukan aku, cari aku Hancurkan aku, remukkan aku Caci diriku hinakan jiwaku Buat aku berlutut menangis di hadapanmu Hempaskan tubuhku rebahkan kepalaku Lakukanlah, hancurkan diriku. Tapi ketika saatnya tiba Ulurkan tanganmu, raihlah kepalaku Berjongkoklah, sentuh pipiku Elus rambutku hapus air mataku Tundukkan kepalamu, dekatkan ke telingaku Bisikkan padaku sebuah kata dari dalam hatimu Hembuskan padaku sebuah harapan Lantunkan lagu itu, lagu kehidupan Tatap mataku, ajak aku berdiri Pandang wajahku, yakinkan aku Genggamlah tanganku sementara kau mulai melangkah Peluk erat jariku dengan jemari lentikmu Berikan hangat tubuhmu, genggam erat tanganku Ayunkan kakimu, berlarilah Bawa aku bersamamu, beri aku jalan Menolehlah sesekali ke belakang Aku akan tetap berada di sana Memandangi jemarimu memeluk jemariku
0
Aug 27, 2017
Aug 27, 2017 at 2:11 AM UTC
Kau, Rasa Sakit Sekaligus Obatku
AKHI, JIKA BENAR ENGKAU MENCINTAI ISTRIMU... Ijinkan dia berdakwah... Berkumpul dengan akhwat seperjuangan.... Relakan kepergiannya ke berbagai majelis ilmu... Sekalipun itu mengurangi waktunya, untukmu... Banyak suami salah prioritas... Istrinya boleh bekerja di luar rumah... Bebas beraktivitas jika hasilnya menunjang ekonomi keluarga... Bahkan didukung untuk kuliah pascasarjana... Tapi, minta ijin 2 jam saja dalam seminggu untuk ngaji, TIDAK BOLEH? Jangan egois, wahai saudaraku.. Suami memang punya "hak veto" dalam rumah tangga... Keputusannya adalah kewajiban istri mentaatinya... Larangannya adalah keharusan istri meninggalkannya... Maka, gunakanlah kewenangan itu dalam PRIORITAS YANG BENAR... Dakwah itu wajib, bagi pria juga wanita... Doronglah istri ikut berjuang di jalan dakwah... Sesekali ambil alih kerjaannya di rumah agar dia bisa leluasa bergerak... Sudah pasti ini mengurangi kebersamaanmu dengannya... Tapi, percayalah ini hanya sementara... Kelak ada masa bebas bercengkerama dengan yang tercinta... Di dalam surga, dan kalian berdua akan terus bergembira... ﺍﺩْﺧُﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺃَﻧﺘُﻢْ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟُﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺒَﺮُﻭﻥَ "Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan". (QS. Az-Zukhruf, 43: 70) ‪#‎women‬ and sharia
0
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 4:48 AM UTC
Ya Akhi
teruntuk kamu yang harumnya sudah hilang dari sisiku yang jalannya sudah bukan aku yang mendampingi yang tidurnya sudah bukan aku yang dimimpikan tuan, apakah kamu pernah sesekali memikirkanku setelah sejenak pergi? aku letih mencari sendiri jawaban dari semua pertanyaan aku letih mencari kesalahanku dari semua amarahmu untuk satu senja di bulan desember selamat menikmati purnaku dalam bayanganmu
0
Dec 13, 2018
Dec 13, 2018 at 11:42 AM UTC
senja di bulan desember
Pada suatu hari yang kejam. Budi mau ke sekolah. Ganti baju, minum susu, tidak lupa gosok gigi. “Buk, Budi berangkat dulu ya.” Ibu pertiwi tidak menjawab. Budi melongok ke dapur lalu melihat ibu pertiwi. Tampangnya kusut, pakaiannya berantakan dan matanya sembab. Budi marah. Sosok bangsat macam mana yang telah membuat ibu pertiwi sedih ! Di mana bapak pertiwi? Ibu pertiwi sudah jadi janda dan masih dicabuli. Memang anjing ! Jadi siapa yang telah membuat ibu pertiwi sedih? Apakah si bangsat itu adalah mereka? Yang menanam beton raksasa dan mengambil semua dengan paksa? Atau apakah si bangsat itu adalah kalian? Yang menumpang dan mengotori air udara tanah, menggusur alam atas nama pembangunan? Atau apakah si bangsat itu adalah dia ? Yang berjalan angkuh dan tamak. Sesekali mencari peluang, sumber daya mana lagi yang bisa di sikat ? Babat terus tambang, sekalian laut, hutan, juga hewan! Atau apakah si bangsat itu adalah saya ? Bersembunyi di balik hati nurani yang katanya peduli, katanya cinta bumi, saya adalah omong kosong! Saya tidak benar-benar cinta. Jijik betul merasa ibu pertiwi sungguh berarti, ikut menjerit ketika ia ternodai, mana yang lebih munafik apakah diri saya atau aksi ? Pada suatu hari yang kejam, Budi tidak berangkat ke sekolah. Akal sehat budi meronta ingin lari selamatkan diri bersama ibu pertiwi. Anak cicit Adam dan Hawa terlalu goblok dan jahat. Manusia terlalu serakah dan merasa berkuasa. Lihat itu, Asap hitam pekat bergerak mendekat. Mampus kau! Ibu pertiwi sudah sekarat! Pada suatu hari yang kejam, malam datang dan manusia mulai buta. Ibu pertiwi gelap gulita, budi merangkak tanpa arah. Apa perlu listrik untuk buka mata? Atau cukup hanya sepercik bara? Budi bingung. Ibu pertiwi sedih. Bapak pertiwi bodo amat.
0
Jun 22, 2019
Jun 22, 2019 at 12:10 PM UTC
Pada Suatu Hari yang Kejam
Pada suatu hari yang kejam. Budi mau ke sekolah. Ganti baju, minum susu, tidak lupa gosok gigi. “Buk, Budi berangkat dulu ya.” Ibu pertiwi tidak menjawab. Budi melongok ke dapur lalu melihat ibu pertiwi. Tampangnya kusut, pakaiannya berantakan dan matanya sembab. Budi marah. Sosok bangsat macam mana yang telah membuat ibu pertiwi sedih ! Di mana bapak pertiwi? Ibu pertiwi sudah jadi janda dan masih dicabuli. Memang anjing ! Jadi siapa yang telah membuat ibu pertiwi sedih? Apakah si bangsat itu adalah mereka? Yang menanam beton raksasa dan mengambil semua dengan paksa? Atau apakah si bangsat itu adalah kalian? Yang menumpang dan mengotori air udara tanah, menggusur alam atas nama pembangunan? Atau apakah si bangsat itu adalah dia ? Yang berjalan angkuh dan tamak. Sesekali mencari peluang, sumber daya mana lagi yang bisa di sikat ? Babat terus tambang, sekalian laut, hutan, juga hewan! Atau apakah si bangsat itu adalah saya ? Bersembunyi di balik hati nurani yang katanya peduli, katanya cinta bumi, saya adalah omong kosong! Saya tidak benar-benar cinta. Jijik betul merasa ibu pertiwi sungguh berarti, ikut menjerit ketika ia ternodai, mana yang lebih munafik apakah diri saya atau aksi ? Pada suatu hari yang kejam, Budi tidak berangkat ke sekolah. Akal sehat budi meronta ingin lari selamatkan diri bersama ibu pertiwi. Anak cicit Adam dan Hawa terlalu goblok dan jahat. Manusia terlalu serakah dan merasa berkuasa. Lihat itu, Asap hitam pekat bergerak mendekat. Mampus kau! Ibu pertiwi sudah sekarat! Pada suatu hari yang kejam, malam datang dan manusia mulai buta. Ibu pertiwi gelap gulita, budi merangkak tanpa arah. Apa perlu listrik untuk buka mata? Atau cukup hanya sepercik bara? Budi bingung. Ibu pertiwi sedih. Bapak pertiwi bodo amat.
Continue reading...
35
Sesekali Malam bersaksi Ialah yang kau pandang Lewat satu-satunya Jendela hatimu Jam dinding Pada tiap detiknya Merana Setelah menghitung Detak jantungmu Tembok kerap Meniup nestapa Saat kau di pembaringan Meliuk pada Hamburan mimpimu Selamat tidur, Degup duka. Aku sebuah gelas Di ujung kamarmu Yang terlalu penuh Minumlah sebelum Terlelap Agar aku dapat juga Bersaksi perihal Kecup dan detak jantungmu
0
Mar 19, 2016
Mar 19, 2016 at 3:41 AM UTC
Angan
pasal IV: tentang hujan yang tak kunjung reda, dan tangis yang tak kunjung berakhir. - terkadang, ada beberapa hal yang datang, selain membawa berkah dan kebahagiaan, juga turut di dalamnya kesedihan yang berlarutlarut. seperti halnya hujan, yang datang membawa unsur kehidupan, tapi kemudian, dinginnya mengundang pilu, berusah mencari kehangatan. begitu pula dirimu, datang sekiranya membuatku bahagia walau di awal, namun akhirnya memilih pergi setelah membunuh setiap harapan baru yang tumbuh dengan tega. - ada beberapa hal yang terjadi, namun datangnya tak dapat dihentikan, dan kepergiannya tak dapat dipaksakan, layaknya hujan ketika mentari tengah bersinar, membuat sebagian orang mendengus kesal, banyak hal rencana yang gagal. seperti halnya dirimu, ketika dirimu datang ketika ku tengah sedemikian rupa menata hati. kau datang mengambil setitik kecil potonganmu yang tertinggal, kemudian justru potongan kecil itu yang menghancurkan hati yang telah tertata rapi. hancur. kembali. lalu kau beranjak pergi, layaknya hujan badai yang reda, seolah tak terjadi apaapa. - setelahnya, setelah sisasisa hujan pada dedaunan mengering, dan musim hujan telah berlalu, masih sesekali duakali ia datang, mebawa harapan sekilas, kemudian pergi seolah tak ingin kembali. sejenak menentramkan, meluruhkan kotoran di udara, namun tetesannyamengandung racun yang tak baik. seperti ketikamu datang tibatiba, seolaholah baikbaik saja, ternyata memang tidak ada apaapa, bukan benarbenar tidak ada, hanya saja, bukan untukku, tapi untuk dia yang lain. - selalu ada akhir dari jutaan tetesan air yang jatuh ke bumi, dan semoga, hal itu juga berlaku pada diriku. entah kapan tangis akan reda, namun kau tetap saja berlalu, semoga kau tak lagi datang membawa harapan. maafkan keegoisanku memilih menangisi kepergianmu. prdks.
0
Sep 25, 2017
Sep 25, 2017 at 8:52 AM UTC
sajaksajakrasa
pasal IV: tentang hujan yang tak kunjung reda, dan tangis yang tak kunjung berakhir. - terkadang, ada beberapa hal yang datang, selain membawa berkah dan kebahagiaan, juga turut di dalamnya kesedihan yang berlarutlarut. seperti halnya hujan, yang datang membawa unsur kehidupan, tapi kemudian, dinginnya mengundang pilu, berusah mencari kehangatan. begitu pula dirimu, datang sekiranya membuatku bahagia walau di awal, namun akhirnya memilih pergi setelah membunuh setiap harapan baru yang tumbuh dengan tega. - ada beberapa hal yang terjadi, namun datangnya tak dapat dihentikan, dan kepergiannya tak dapat dipaksakan, layaknya hujan ketika mentari tengah bersinar, membuat sebagian orang mendengus kesal, banyak hal rencana yang gagal. seperti halnya dirimu, ketika dirimu datang ketika ku tengah sedemikian rupa menata hati. kau datang mengambil setitik kecil potonganmu yang tertinggal, kemudian justru potongan kecil itu yang menghancurkan hati yang telah tertata rapi. hancur. kembali. lalu kau beranjak pergi, layaknya hujan badai yang reda, seolah tak terjadi apaapa. - setelahnya, setelah sisasisa hujan pada dedaunan mengering, dan musim hujan telah berlalu, masih sesekali duakali ia datang, mebawa harapan sekilas, kemudian pergi seolah tak ingin kembali. sejenak menentramkan, meluruhkan kotoran di udara, namun tetesannyamengandung racun yang tak baik. seperti ketikamu datang tibatiba, seolaholah baikbaik saja, ternyata memang tidak ada apaapa, bukan benarbenar tidak ada, hanya saja, bukan untukku, tapi untuk dia yang lain. - selalu ada akhir dari jutaan tetesan air yang jatuh ke bumi, dan semoga, hal itu juga berlaku pada diriku. entah kapan tangis akan reda, namun kau tetap saja berlalu, semoga kau tak lagi datang membawa harapan. maafkan keegoisanku memilih menangisi kepergianmu. prdks.
Continue reading...
6
Jam tujuh pagi tadi Ibu mengetuk pintu Bunyi ketukan itu sampai empat kali terulang Di ketukan empat setengah, Pintu terbuka setengah juga “Ya?” “Mandi, Mbak.” “Pingin tidur lagi.” “Tapi hari ini hari kemenangan.” Raut wajahnya yang telah menjadi warisanku tak sedikitpun menunjukkan bahwa dia telah memenangkan apapun. Tidak seperti kebanyakan orang, Untuknya hari ini bukanlah tentang seberapa kental kolam santan yang menyimbahi santapan-santapan Bukan juga tentang berpeluk-rindu dengan orang-orang sambil sesekali bertukar kabar Lelah mengutuk dirinya karena seumur hidup merasa kalah, Aku tahu bahwa sehari saja ia ingin merasa menang. Ia sendiri tahu betul saat hari ini berakhir dan tamu berpamit untuk pulang setelah semua habis terkunyah; ia akan kembali merasa kalah. Menang atas dan untuk apa? Seribu kata maaf pun ia telan begitu saja tanpa mencerna kata tersebut keluar dari mulut siapa Tanpa adanya hari kemenangan yang dibanjiri oleh teks bersampul maaf, Hidupnya memang sudah tentang meminta maaf dan memaafkan Tak ada pilihan lain. Hanya saja hari ini sinar sendu wajahnya menunjukkan bahwa akhirnya, Setidaknya untuk dia, Harapan pahitnya terhadap ‘maaf dan memaafkan’ akan diselebrasikan; Dan seperti dirinya, lebih dari sejuta orang akan melakukannya walaupun untuk sehari saja. Kepada siapa lagi ia harus meminta maaf dan meminta dimaafkan?
0
Jun 5, 2019
Jun 5, 2019 at 8:40 AM UTC
?
Ditarik, kami diarahkan membaca apapun yang tidak ada penjelasannya. Dikodratkan harus paham isi kepala makhluk yang hanya sesekali berkata iya dan tidak. Kami terpingkal, Puan. Bagaimana tidak?; Kain yang kau gunting sendiri dan pintal dengan rajut sedari subuh sudah cantik--tapi kau merasa kurang, dan kami adalah penyebabnya katamu. Duduk kami melingkar bersama dengan gelas gelas berisi teh melati, Hangat membaur aroma kebingungan kaum kami. Sekali beberapa menit kami terpingkal lagi, berusaha terus membaca setiap halaman kosong dan beberapa titik saja di sudut kiri kanannya. Tidak ada barang satupun buku yang mengerti keinginan puan. Cemasnya puan ingin dilindungi, Lembutnya puan yang ingin dikasihi, Ah, apalagi tangisan yang tiba-tiba terisak di malam sehabis mimpi. Tersenyum kami menahan tawa dan kantuk, sembari melihat-lihat wajah puan yang tertunduk mengharap ditanya mengenai hari ini. Semenit dua menit kami lihat lekat-lekat wajah puan. Kami bisa tidur malam ini, Jawaban kebingungan lelaki bukan tertulis pada buku-buku; tapi dua bola mata yang senantiasa banyak bercerita setiap ia duduk hening tanpa berbicara. Ah, engkau puan~ Buku pelajaran yang tak ada tamatnya. B_A 10 Mei 2019
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 12:23 AM UTC
Ah, engkau puan~
Menuju Maret, pagi-pagi matahari meninggi sambil menyeduh minuman penolak kantuk. Sesekali ia aduk minuman di gelas melawan arah jarum jam. Katanya agar berbeda, Padahal sedari dulu ia sudah berbeda. Pagi-pagi matahari cepat meninggi Mungkin membawa kabar dari Bapak menyertakan terimakasih. 'Terimakasih' suara bapak dari ponsel genggam buatan negara berkelopak mata monolid. Menuju Maret hati yang disini berduka. Menolak umur ditambah dengan satu angka, Belum lagi kalau dia ingat suara pintu pagar besi yang dimainkan anak-anak tetangga. Rindu katanya, Ia belum pulang, sebagian jiwanya sedang bermain pasir di masa lalu. Tapi ia malah lari mengejar lagi. 'Sudah cukup, aku mau ikut' katanya Sekarang ia siap, menuju Maret dan segala kebaikan di dalam dan setelahnya. B_Art 07-Feb-2019
0
Feb 6, 2019
Feb 6, 2019 at 10:36 PM UTC
Khatam
Aku telah buat kesalahan. Kusebut itu kau. Kau; kesalahanku, yang dengan sengaja kulakukan hanya demi keegoisanku. Setiap kata 'aku sayang kamu' yang kau terima, tak pernah ada dalam ketulusan. Setiap peluk yang kau rasakan, tak pernah ada dalam kenyamanan. Semua kulakukan hanya agar kau percaya bahwa rasaku itu nyata. Brengsek! Aku mengutuk diriku sendiri. Meski kau hidup dalam kebohongan, aku selalu berupaya. Membuka hatiku sedikit demi sedikit, hanya agar kau tak terluka. Namun Tuhan Maha Adil, dan aku hampir melupa. Saat aku berupaya, kau menggores luka. Kau bertindak suka-suka, dan aku diam saja. Sesekali kuangkat bicara, dan kau tutup telinga. "Terserah" kataku. Dan kuakhiri semuanya. Kini, berulang kali kau memintaku tuk kembali, tetapi enggan untukku mengulangi. Kita hanya akan sama-sama menyakiti, Dan menyayangi diri sendiri.
0
Jun 11, 2017
Jun 11, 2017 at 3:55 AM UTC
Untitled
Dia hanyalah angin sejuk yang dengan cepat berlalu dikehidupanku, Tetapi aku, terlalu egois Aku menginginkan angin sejuk itu terus menemaniku, Aku berusaha untuk membawanya, Berusaha menyimpannya, Sekuat tenaga Namun usahaku hanyalah sia-sia Dia hanyalah angin sejuk yang hanya sesekali menghampiriku, menemaniku Tetapi aku malah hanyut dalam kesejukannya, Sampai rasanya aku tak sanggup jika tidak menghirup dan merasakannya.
0
Sep 2, 2017
Sep 2, 2017 at 7:01 AM UTC
Dia, si Angin Sejuk
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman. Kadang sendiri, kadang bersama kawan. Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa. "Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman. Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan. Luka bekas sayatan menganga lebar di dada. Ia bermandikan darah dan air mata. Gadis kecil berpipi bulat terkesima. "Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas. Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya. "Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan. Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap. Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.                   Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya. [Jakarta, 17 Juni 2019.] _________ Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka. Tuan Singa pandai bersandiwara! Sesekali tertawa di selipan duka. Gadis kecil berpipi bulat melihat. Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan. Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa. Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa. Gadis kecil berpipi bulat terdiam. "Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa. Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau. Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur. "Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya. Selamat tidur dan bermimpi. Semoga mimpi malam ini indah." Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas. [ Jakarta, 22 Juni 2019 ] —— Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak. Gawat. Raja hutan mempermainkan teka-tekinya. Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri. “Tuan singa. Tuan singa. Apa yang tuan inginkan? Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?” [5 Agustus 2019] —— Raja Singa sedang terluka. Ia gelisah. Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati. Atau, bukan dia, yang sang raja cari ? [19 September 2019] ____ Cukup. Waktunya telah tiba. Gadis kecil berpipi bulat harus pergi. Semoga kamu bisa tidur. [04 Oktober 2019]
0
Jun 18, 2019
Jun 18, 2019 at 11:16 AM UTC
Buku Harian Gadis Kecil Berpipi Bulat
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman. Kadang sendiri, kadang bersama kawan. Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa. "Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman. Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan. Luka bekas sayatan menganga lebar di dada. Ia bermandikan darah dan air mata. Gadis kecil berpipi bulat terkesima. "Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas. Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya. "Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan. Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap. Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.                   Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya. [Jakarta, 17 Juni 2019.] _________ Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka. Tuan Singa pandai bersandiwara! Sesekali tertawa di selipan duka. Gadis kecil berpipi bulat melihat. Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan. Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa. Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa. Gadis kecil berpipi bulat terdiam. "Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa. Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau. Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur. "Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya. Selamat tidur dan bermimpi. Semoga mimpi malam ini indah." Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas. [ Jakarta, 22 Juni 2019 ] —— Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak. Gawat. Raja hutan mempermainkan teka-tekinya. Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri. “Tuan singa. Tuan singa. Apa yang tuan inginkan? Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?” [5 Agustus 2019] —— Raja Singa sedang terluka. Ia gelisah. Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati. Atau, bukan dia, yang sang raja cari ? [19 September 2019] ____ Cukup. Waktunya telah tiba. Gadis kecil berpipi bulat harus pergi. Semoga kamu bisa tidur. [04 Oktober 2019]
Continue reading...
58
Pergi lagi ia keluar rumah, mencari spasi di kerumunan manusia. Dipesannya air penghambat kantuk, Dituangkan pada gelas putih bercorak ayam kuno. Ia ceritakan kesenangannya menemukan tempat itu, diajaknya orang lain mengingat masalalu yang pahit untuk mengangkat bahak yang panjang. Penat benar hatinya... Dipaksanya mereka guyon tapi pikirannya kebingungan. Sesekali lamunan anak mudanya dibaca orang lain. Pura-pura ia ikut tertawa lagi; dan ia menyendiri B_A 30 Januari 2019
0
May 14, 2019
May 14, 2019 at 6:07 PM UTC
+20
Kemarin malam Keheningan datang merayu Untuk memulai sebuah percakapan denganmu Dengan topik ringan tentang kehidupan Duduk di atas motor berboncengan Sesekali kamu mencuri pandang melalui kaca spion sambil tersenyum Sedangkan aku berusaha mengendalikan debar  di dada Ah, senyummu sungguh mempesona Tapi, apakah kita bisa bersama?
0
Nov 1, 2019
Nov 1, 2019 at 4:38 PM UTC
Keraguan.
Namamu memudar dari otakku Seakan-akan hanya sesekali terlintas Namamu menjadi tak seperti dulu Selalu hadir seperti tanpa batas Apa aku terjangkit amnesia? Melupakan nama yang pernah kucinta Sedikit demi sedikit wajahmu mulai sirna Perlahan bayangmu mulai tiada Baguslah jika benar itu adanya Aku tidak perlu susah susah lagi berupaya Membuatku lelah dalam mencinta Lalu aku pergi seenaknya
0
May 5, 2018
May 5, 2018 at 8:02 AM UTC
Lupa
Hari ini namamu sembunyi, tapi dia belajar merangkak sendiri setelah aku matikan. Pikirmu aku sudah pergi tanpa sesekali berkunjung lagi. Memang benar ia telah kami asingkan, aku dan pikiranku. Hari ini namamu sembunyi, sesekali mengintip mengendap melihat dengan kening dinaikkan sedikit, tenang aku sudah pergi. Jangan bersusah membungkukkan badan sepertiga dari tumpukan gorden yang belum disetrika. Hari ini namamu sembunyi, yang aku matikan hidup lagi dan pulang sendiri tanpa dipaksa pergi. B_A 05 jan'19
0
Jan 5, 2019
Jan 5, 2019 at 3:56 AM UTC
Namamu sembunyi
Jiwa yang berlalu lalang Dibawah ratusan ataupun ribuan Payung hitam yang mengembang Berlindung dari jeritan nestapa . Hanya tersisa kantuk yang menguap Di sepanjang trotoar jalan ataupun dalam kemacetan dan asap rokok yang mengepul di pinggir halte bus yang ramai tak jelas . Sesekali, seseorang akan menoleh Dari jendela mobil dan berkata "Aku tak melihat apa-apa" Lalu tenggelam dalam sinisnya Diantara bising klakson mobil Ataupun kesibukan siluet kota . Layaknya seperti papan reklame Yang terpampang nyata Dengan warna monokrom "Selamat datang bagi pendatang baru, dan Selamat tinggal."
0
May 9, 2019
May 9, 2019 at 1:38 PM UTC
Sang Makhluk Sosial.
Sesekali aku ingin bermain catur dengan ayah mu, sambil berkata; Mereka boleh mengambil Raja pasukan, bahkan istanaku, tapi tidak untuk putrimu.
0
Feb 21, 2022
Feb 21, 2022 at 5:17 AM UTC
Skak Mat