"sebelumnya" poems
*Hujan hari ini begitu deras
Dan selepasnya tak kulihat pelangi
Tak seperti dongeng-dongeng malam
Atau ayat-ayat motivasi penguat hati*
*Hujan hujan sebelumnya juga begitu
Ku lihat ikan-ikan kesakitan terkena derai siram hujan
Lelaki tua peminta kedinginan kebasahan
Listrik menyambar, tiang jatuh, seorang anak tertimpa*
Buruk, buruk, buruk
"Hei ayo bermain!"
*Lamunanku terjerat
Segerombolan bocah kecil menari dibawah derasnya hujan
Bernyanyi gembira nyengir tak terkira
Aku menjeling, aku mempelajari, aku mulai tersenyum
Agaknya aku yang lupa
Tak kupandang rumput kehausan bersorak menanti tibanya air minum mereka
Sisi pandangkulah salah
Aku menyalahkan pelangi
Tak kulihat bahwa petani begitu bahagia dan menanti
Ini semua bukan tentang pelangi warna warni itu
Pelangi yang sesungguhnya ada disekelilingmu
Jangan merana
Jangan sepertiku
Yang kulihat hanya aku dan segala kesepian ini*
Oct 15, 2016
Oct 15, 2016 at 8:52 AM UTC
Aku tak mengenal dirimu sebelumnya
kamu tak tahu diriku
tapi saat itu..
Awan abu- abu menggantung dilangit
menumpahkan isinya
ya hujan..
hujanlah yang mengawali pertemuan kita
pertemuan yang indah
hujan jadi saksi cinta kita
NA.2016
Jul 13, 2016
Jul 13, 2016 at 6:18 PM UTC
Malam itu hujan,
Entah Tuhan ingin membuatku semakin sedih karena suasana yang mendukung,
Atau Tuhan tidak ingin semua mengetahui kalau aku menangis.
Malam itu hujan,
Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu membuat aku bertanya,
Apakah kamu benar-benar orang yang pernah aku sayang dahulu?
Apakah kamu benar-benar orang yang selama ini aku perjuangkan?
Karena malam itu ketika hujan,
Aku seperti tidak mengenal dirimu.
Malam itu hujan,
Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu tidak lebih hanya membuat aku merasa sakit,
Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita baik-baik saja?
Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita tidak bertemu kata perpisahan?
Tapi tidak dengan malam itu ketika hujan,
Kamu bersikap seperti orang asing yang tidak aku kenal,
Kamu mendorongku untuk pergi dari kehidupanmu,
Kamu itu siapa?
Aku yakinkan diriku sekali lagi,
Apa kamu benar-benar orang yang selama ini aku sayang?
Malam itu hujan,
Aku tidak bisa berkutik kecuali meneteskan air mata,
Semudah itu untukmu?
Ketika selama ini aku bertahan dengan alasan yang mengharuskan diriku untuk pergi,
Semudah itu untukmu?
Ketika aku harus menahan rindu setiap malam,
Bertanya-tanya apakah dirimu baik saja di sana,
Semudah itu untukmu?
Tapi aku tidak menyalahkan malam itu ketika hujan,
Kepergianmu malam itu membuat aku sadar,
Kenapa aku terlalu takut untuk pergi sebelumnya,
Sedangkan kamu bisa melakukan dengan semudah itu?
Pergilah, aku merelakanmu.
Pergilah, bawa hujan di malam itu sebagai simbol akhir dari segalanya,
Pergilah, jangan pernah kau menoleh ke belakang untuk melihatku,
Aku yakin akan baik-baik saja,
Walau kini aku masih menangis bersama hujan.
Jul 17, 2017
Jul 17, 2017 at 4:38 PM UTC
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku.
Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap.
Sama seperti pelukanmu kala itu,
yang terus mengunciku,
berontak tiada artinya
sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu.
Kita pernah bahagia,
Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air,
Mengintip manisnya pantulan diri air biru.
Yang lama terasa singkat.
Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik.
Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak,
Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya.
Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku.
Namun arus laut begitu kuat,
begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan.
Semesta punya ceritanya,
berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus,
namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan.
Mungkin itu cara semesta beritahu
bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku.
Aku menyerah.
Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut,
satu per satu rontok,
aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air
dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air.
Itulah kau.
Laut punya caranya.
Semuanya akan terjadi alami.
Semesta poros pengaturnya.
Biarlah laut hapuskan kau.
Tenang saja,
aku akan kembali baik-baik saja.
Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin.
Bagai tapak kaki di basahnya pasir,
berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
Apr 6, 2019
Apr 6, 2019 at 1:49 AM UTC
dia berusaha meyakinkan aku salah
dia mencintai apapun yang kulakukan
mau itu benar atau salah―dia menganggapnya itu indah
dia mencintai setiap inci sayatan di lenganku
mau itu masih berbekas atau tidak―dia menganggapnya itu indah
dia mencintai seluruh buah ide di benakku
mau itu akan berhasil atau tidak―dia menganggapnya itu indah
dia mencintai seluruh jiwa ragaku
mau itu penuh dengan luka atau tidak―dia menganggapnya itu indah
dia mencintai keadaan fisik dan mentalku
mau itu sempurna atau tidak―dia menganggapnya itu indah
dan dari sekian lama aku hidup
tidak pernah merasa seyakin ini sebelumnya
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 10:08 AM UTC
Palembang, 27 Maret 2017
aku pernah bermimpi tentangmu
kamu menggenggam erat tanganku
menuntunku ke tempat yang belum pernah ku tuju
sesaat kau hilangkan semua perasaan sesak dihatiku
kita bergandengan berdua, ya, di dalam mimpiku
kamu begitu tampan sehingga ku tak bisa berpaling memandangmu
kamu seorang yang belum pernah ku temui sebelumnya
kamu yang membuatku teringat kembali rasanya jatuh cinta
kamu menghargai setiap aksiku
kamu memandangiku bak perhiasan yang berharga
kamu jua lah yang membuatku berharap ketika ku kembali ke dunia nyata
Mar 26, 2017
Mar 26, 2017 at 11:58 PM UTC
Desember telah di sini
Dan seperti janji yang telah terucap;
saya akan memaafkan diri saya
karena telah mencintai kamu di bulan-bulan sebelumnya.
Dec 11, 2017
Dec 11, 2017 at 12:19 PM UTC
Pernahkah kita memikirkan, bagaimana cara Maria melahirkan Yesus
P i k i r k a n l a h....
Ya...benar sama seperti manusia, seperti seorang ibu yang melahirkan
Menahan sakit dan berpeluh
Tak seorang dokter ataupun bidan membantu
Hanya tangan Tuhan, Sang Allah Bapa yang memberikan kekuatan
Menopang dan dapat menjalankan persalinan dengan sempurna
Maria seorang perawan yang tidak pernah melahirkan sebelumnya
Melakukan kehendak Tuhan seperti yang sudah dikatakannya:
"Jadilah kepadaku seperti kehendakMu"
Berserah ditanganNya, diantara kesendirian dan kemustahilan
Berseru kepada Tuhan:' KehendakMu Tuhan kulaksanakan!"
Jadilah kita seperti Maria pada jaman ini
Berserah akan kehendak Tuhan
Walau jalan tak lapang, walau rintangan tak kurang
Tetapi tanganNya tak pernah melepaskan kita
Pelukkannya tak pernah kurang kehangatan
KasihNya yang selalu menyertai
IMANUEL...
Dec 20, 2016
Dec 20, 2016 at 9:12 PM UTC
Di bawah lampu bulan,
Aku sadar kau menatapku
Aku yang tengah tersipu,
Berusaha tetap fokus akan topik pembicaraan
Ditengah emosional, kau menarikku ke pinggir
Berteduh di matamu yang sejuk
Ya. Kau berusaha menurunkan suhunya
Agar tidak sepanas sebelumnya
Masih ada beberapa hal kecil yang ku ingat tentang dulu
Dan ku rindu
Walaupun kau tak ingin mengingatnya
Hanya untuk malam ini
Biarkan ku kirim rindu ku
Aku pernah membaca,
“Kau hiduplah bahagia, untuk rindu ini biar aku yang mengurusnya, karena aku pemiliknya”.
Sekian dan salam rindu.
Feb 25, 2019
Feb 25, 2019 at 12:23 PM UTC
Menuju malam sabtu, lagi lagi aku menghela napas
Melihat caramu menatapku, itu membuatku sakit
Mendengar suara mu saja aku muak
Bagaimana kau melangkah
Bersenandung kala di motor
Menyapa mereka yang kau bilang teman
Memuakkan
Kau tau? Bahkan saat menggenggam tanganku, rasanya seperi kau mencekik hatiku
Sesak
Kau; Tertawa hingga berurai air mata
Aku; Menangis tanpa melepas air mata
Kau lihat kan perbedaannya?
Apa memang aku yang harus bersakit?
Apa aku layak menerima ini?
Apa yang sudah ku lakukan di kehidupan sebelumnya hingga aku mendapatkan rasa seperti ini?
Tolong jawab aku
Jul 7, 2020
Jul 7, 2020 at 1:30 PM UTC
Hari ini aku merasakannya
Aku kira tidak akan secepat ini
Ternyata aku keliru
Terbesit rasa untuk berbagi
Berbagi ruang dan waktu
Berbagi tawa
Berbagi kesedihan dan kekecewaan
Aku yang tak ahli dibidangnya
Merasa diperbudak
Akal sehat ku tersisihkan
Padahal, sebelumnya aku seorang rasional
Batin bersorai bersama aku yang keliru
Menelan pahitnya kata yang tak terucap
“Apa aku mulai merindukannya?”
Aku tidak tau pasti
Tapi yang penting,
aku sudah memasukkanmu kedalam jurnal pikiranku
Dan itu berarti kau akan menjadi orang penting bagi ku
Nov 7, 2019
Nov 7, 2019 at 7:30 PM UTC
Aku menyusuri jalan,
kembali ke tempat itu, memesan kopi yang sama,
mengulangi rutinitas kecil yang entah kenapa terasa menenangkan.
Kadang aku terjebak hujan,
di perjalanan berangkat, atau saat hendak pulang.
Tapi aku tak benar-benar sendiri,
selalu ada kisah-kisah kecil yang menemani,
seperti sore itu:
sebuah keluarga kecil menepi di tengah derasnya hujan,
anak mereka bersembunyi di antara dua tubuh yang hangat.
Aku terdiam, menunduk,
berdoa dalam hati:
“Semoga rezekimu dilapangkan Dek.
Semoga orang tuamu suatu hari bisa membawamu pulang
dengan nyaman tanpa perlu basah seperti ini.”
Aku jadi ingat,
aku pun pernah berdiri di tempat yang sama.
Hujan membasahi tanah yang sebelumnya tandus,
bersama seorang anak sekolah,
dan beberapa orang asing yang memilih meneduh,
diam-diam berbagi waktu di bawah atap yang sama.
Kala itu, jas hujan ada di sepedaku,
tapi aku tetap memilih tinggal.
Entah kenapa, terasa penting:
melihat hujan membasahi tanah yang dulu kering.
Karena aku percaya,
kering tak selamanya,
dan kita semua di waktu yang sama,
sedang bertumbuh.
Apr 29, 2025
Apr 29, 2025 at 2:55 AM UTC
Akhir memaksa hadir di sela-sela kisah yang sementara kita bangun dengan asa—tanpa aba-aba. Bersamanya getir, menetapkan takdir dari apa yang tak pernah kau dan aku amini sebelumnya. Mengaburkan fungsi intuisi, hilang arah semua kata demi kata dalam kepala. Membekukan imaji, runtuh semua rasa dan karsa.
Ditengah terombang-ambingnya alur cerita yang kita garap, kau tetiba menyerah dan berhenti berharap.
Menanggalkan semua mimpi dan asa, biar berserakan di atas meja tanpa perduli akan masa depan cerita. Meninggalkan aku, yang pernah menjadi ruang bagimu menuangkan ide perihal apa saja yang kau cinta.
Adalah karenamu, duniaku kembali berputar.
Adalah karenamu, aku belajar menulis tentang rasa.
Adalah karenamu pula, aku mencoba mengartikan perihal cara mengikhlaskan.
Dan mungkin itu sebabnya—tanpa sadar, kau juga mengajarkan soal kedatangan dan kepergian. Hadirmu menghentakkan semestaku untuk bergerak dan mesti beradaptasi. Tanpamu semestaku berusaha untuk terus berjalan tanpa harus kembali berhenti.
Aku mencoba bertanggungjawab atas apa yang telah kita mulai. Mencoba menantang badai meski hanya berteman bayangan diri sendiri.
Peran menulis naskah cerita kini sepenuhnya milikku, yang dulunya adalah tugas kita bersama. Terus melanjutkan dan memikirkan penyelesaiannya—meski tak ada lagi peleburan ide kita didalamnya.
Semua yang rumpang akan rampung, sedih akan berbalas bahagia pada akhirnya. Waktu adalah saksi, upaya dan sabar akan menjawabnya. Belajar bangkit dari keterpurukan, hadapi dan rangkul baik segala kenyataan.
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 10:02 AM UTC
Malam ini aku teringat akan dirimu
Sosok yg selalu aku rindukan
Semasa dulu hingga saat itu
Sebelum diriku berubah.
Kini kita menjauh
Aku tak tahu apa yg membuat kita jauh
Aku pun tak mengerti
Mengapa engkau begitu dingin
Tak bisakah engkau sedikit menengok ku? Atau kembali menyapa diriku seperti sebelumnya?
Jul 20, 2019
Jul 20, 2019 at 11:28 AM UTC
Aku sering di beritahu
bahawa apa yang kita buat
pada hari ini dan sebelumnya
bakal ada balasannya di kemudian hari
sama ada dalam bentuk baik atau tidak
dan aku sering berfikir bahawa
tidak kira berapa teruk kita di layan orang
dan berapa buruk perlakuan yang orang lakukan pada kita
akan di balas dengan kebaikan
pada masa hadapan.
Sabar itu indah,
tapi ter kadang aku hilang sabar,
menghadap manusia yang ignorant,
menghadap manusia yang bodoh,
manusia yang pentingkan ego,
dan manusia yang kurang ajar.
Jun 23, 2017
Jun 23, 2017 at 2:13 PM UTC
Pernah, satu hari dari banyak hari lebaran, aku pergi ke Indomaret sendirian. Jarak rumah dengan tempat itu tidak jauh, tapi perjalanan ke sana terasa lamban. Tahu kenapa? Sebab aku pergi dengan sembunyi-sembunyi hihii. Tujuannya hanya satu, untuk berburu es krim corong Wall's Moo.
Kalau dingat-ingat, rasa es krimnya memang tidak sepremium Magnum. Wall's Moo hanya menyuguhkan rasa susu dan itu sudah lebih dari cukup bagi kami kaum anak lugu tahun 2009-2010.
Sesampainya di rumah, aku sama sekali tidak disambut marah oleh orang-orang rumah. Mbak Chandrani menghampiri.
"Habis jajan yaa? Beli apa?"
"Iya, beli Wall's Moo satu."
"Cuma satu ya? Yasudah nda apa-apa, lain kali harus ingat kalau ada angka 3 setelah angka 2 dan angka 1 sebelumnya, ya?"
"Hah? Maksudnya apa, Mbak?"
"Lain kali, kalau kamu merasa ada cukup uang untuk jajan apa aja, cobalah ambil tiga atau nda sama sekali.
Supaya apa? Supaya selalu ada cukup ruang di hati untuk biasa berbagi."
May 10, 2022
May 10, 2022 at 11:18 AM UTC
aku memang beda
tidak seperti laki-laki yang sebelumnya kau temui
aku...
tidak pernah yang namanya setengah
hidupku
tidak pernah yang namanya setengah
aku puas telah mencoba segala hal dengan tidak setengah setengah
aku di ajari untuk menyelam
bukan mengapung
disaat ini
aku membebaskan mu dengan sebebas bebasnya manusia
aku membebaskan mu untuk memilih
disaat aku sakit hati kau tau?
itu sakit yang bukan setengah-setengah
aku pernah di posisi yang serupa seperti ini
mungkin sekarang aku bisa lebih menerima hal tersebut,
pendewasaan mungkin?
setidaknya kau tau, bagai mana perasaan laki-laki yang tidak setengah-setengah ini pecah bagai beling, dan ku injak beling tersebut sampai aku merasakan hal seperti ini lagi, bagai bunga lily aku kembali mekar....
disaat kau kembali...
setidaknya kamu tahu, aku memaafkanmu tidak setengah dan tidak akan membiarkan mu sakit kembali, akibat berkelana terlalu jauh...
kamu rapuh...
tuhan masih baik menunjukan sesuatu itu padaku
bukan kepadamu...
mungkin kalo tuhan melihatkan padamu...
hal yang kurasakan, akan kau rasakan juga...
aku belajar untuk tidak ikut campur lagi soal hubungan barumu
mungkin nanti...
kamu akan sadar
dan tergampar akan realita yang besar
memar... bagai terkena tinju
biru... bagai lebam terpukul amarah batin
aku disini, berlatih menjadi laki-laki
untuk bisa menerima kekuranganmu, mungkin nanti tatapan ku masih seperti pertama kita bertemu, harapan yang dulu kita bual-bualkan akan ku realisasikan, hati-hati dijalan, aku menunggu di rumah...
menunggumu pulang dengan sejuta cerita yang telah kau lewati...
Mar 23, 2022
Mar 23, 2022 at 1:01 PM UTC
Mungkin kalian bertanya mengenai sosok yang aku sebutkan di tulisan ku sebelumnya
Yaa.. Satya
Seorang laki-laki yang mengisi hari demi hari seorang perempuan yang dari dulu sudah sendirian, kesepian, dan kesakitan menghadapi dunia nya
Bagaikan bias pelangi yang melukis abu-abu nya langit, begitulah ia
Hadirnya mengisi segala kekosongan yang ada pada diri ini dan mengisi penuh sesak dengan kasih sayang nya yang tak terhingga
Setelah ribuan pertanyaan yang selalu menyerbu kepala, lalu sampai pada kesimpulan "ternyata aku bisa ya dicintai sebegininya oleh seseorang?"
Menjadi cinta terakhir nya adalah kalimat yang selalu ia utarakan di bibir yang selalu menampakkan senyum manis nya
Namun perempuan ini tidak menyangka dalam waktu yang sangat singkat hal itu menjadi kenyataan, sebelum sekarang ia sudah berada di tempat terbaiknya
Ia berpulang.
Feb 19, 2024
Feb 19, 2024 at 11:07 AM UTC