Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
rb_mld
rb_mld
27/M/ID
Hijaunya daun, birunya langit, wangi tanah selepas hujan aku tahu rasanya, atau setidaknya pernah. Hangat pagi, angin sore, suara-suara kecil di waktu sepi, semuanya terasa dekat di kepala dan ingatan. Tapi aneh, hal sesederhana itu kadang lebih mudah kurasakan di imaji dan mimpi, daripada di hidup yang nyata.
0
May 21
May 21, 2026 at 10:11 AM UTC
Imaji dan Nyata
Senyumnya lembut, tatapannya teduh seperti sore yang tak tergesa pulang. Cara bicaranya pelan, cukup untuk membuat waktu terasa lebih ringan. Hari-hari berjalan biasa, obrolan kecil, tawa yang datang tanpa dipaksa, dan rasa nyaman yang tumbuh tanpa banyak suara. Sampai akhirnya aku mengerti, beberapa orang memang hadir seindah itu, hanya untuk menjadi sebuah jeda.
0
May 7
May 7, 2026 at 4:20 PM UTC
Jeda yang Tenang
Kopi dan Kue menemani masaku kala itu. Orang-orang ramai di sekitarku, berbincang, tertawa, menyatu dengan riuhnya kota. Dan entah bagaimana, Aku kembali ke tempat ini tidak sepenuhnya sama, tapi cukup untuk diingat. Rasanya seperti memegang dua waktu sekaligus: masa dulu dan sekarang, sama-sama dekat, tapi tak lagi benar-benar sama. Aku duduk di sana, melihat sekitar, mendengar suara yang terasa asing namun cukup akrab. Mungkin Kamu juga pernah, kembali ke tempat yang sama, lalu sadar yang berubah bukan cuma suasana, tapi cara Kita merasakannya. Dan pada akhirnya, Kita tidak benar-benar mencari tempat itu lagi, Kita hanya ingin merasakan diri Kita yang dulu meski sebentar, syahdu di kala itu.
0
Mar 23
Mar 23, 2026 at 10:10 AM UTC
Syahdu Kala Itu
sore itu udara terasa sejuk fisik sedang membaik lalu lalang kendaran begitu ramai pergi berlibur dan pulang ke rumah namu hati seseorang sedang tertusuk menahan sakitnya patah hati semakin gelap, semakin dingin dunia tetap berjalan selalu ada secercah harapan secangkir kopi dan kesendirian jadi saksi melangkahkan hati yang sedang patah dan berkata serta memeluk "panjang umur untuk semua hal baik"
0
Dec 3, 2025
Dec 3, 2025 at 1:42 AM UTC
Harapan di Bulan Desember
Hal apa yang disedihkan sampai ingin mati? uang, obrolan, ataukah jodoh? Sesak? Coba tantang semesta "ayo, selesaikan sekarang juga!", diam, kosong, tak terjadi apa-apa kan? Kau mungkin bertanya, Apa Dia tak melihatku? tak mendengarku? atau bahkan Dia tak beritahu bahwasannya Aku sudah mati sejak dulu? Bunda berbisik, “Jangan begitu.”   Ayah bertanya setengah tertawa, “Emang iya?” Kakak melotot, “Apaan sih?”   Sepertiku, dengan teguh aku berpegang, bahwa keluargaku, sahabat, dan teman-temanku, Mereka pernah ingin mati, mereka pernah sakit hati, bahkan mereka pernah padam api. Kali ini, Aku pilih bercerita dibanding diam, Aku hidupkan emosiku dan Aku tantang semesta bahwa kali terbaru hari ini, Aku ingin mati! Untuk bunda, ayah, kakak, dan semua sahabat serta temanku; Setiap masalah yg sedang kita hadapi, Aku tak tahu sampai kapan kita bisa berdiri. Namun, tantang saja semesta, coba beberapa kali (lagi, lagi, dan lagi), dan biar Tuhan berikan Solusi atau Mati!
0
Sep 13, 2025
Sep 13, 2025 at 4:21 AM UTC
Terakhir-baru Ingin Mati
Bagai debu namun berharga, katanya utama tapi tak berharga, terucap tapi tak didengar. Semua diam dan ini realitas, ohh, dunia jadi terasa fana. Pada siapa Aku berbicara kalau bukan Kau. Monyet, burung, anjing, kerbau tak bisa diskusi. Mereka bisa bersuara seperti kita berbicara, terasa sama, hanya saja sedikit berbeda. Bayangkan betapa rumitnya puisi ini. Katanya hal inti tapi tak akan dirasa, seperti debu namun bernilai juta-juta. Jika Kau menjadi pati dan lebu, Akankah Kau sayangi pati? Dan Kau jaga lebu? Bayangkan saja, namun Aku berharap monyet, burung, anjing, kerbau tak menjadi Kita.
0
Sep 7, 2025
Sep 7, 2025 at 10:57 AM UTC
Distraksi Bumi
In these modern days, we carry the weight of it all. Hoping somehow, things will turn out fine. The first step was small, just forcing ourselves to move. The second one, we faced our own thoughts, and they felt heavier than we knew. We never planned for this struggle, never asked for these wounds, but here we are, learning how pain can shape us, how falling can still lead to standing. We don’t know where this road will end. But deep inside, we know we’re still here, still breathing. Not just surviving, but finding worth in every step we take.
0
Jul 22, 2025
Jul 22, 2025 at 5:16 PM UTC
Harder than We Expected
Night by night sometimes full moon, sometimes none at all. Last night, the sky cried. Tonight, it exhales something warmer, softer. Spotify becomes my escape, letting the songs take over like an old soul tuning in to who I used to be. How do I feel? Neither sad nor happy. Just… peaceful. Let the next song play, let me sit with this quiet. I turn down the lights. Coffee in one hand, slow good music in the air I tell myself, this is enough for now. If I were a cake, the topping would be cheese: simple, sweet and savory, not asking for attention. If I were an animal, I’d be a firefly glowing only when it’s dark enough to be seen. If I were a flower, it’d be the kind that blooms when no one’s watching. Maybe being alone doesn’t always mean being lonely. Maybe this stillness is growth with softer shoes. If someone ever asked where I’ve been all this time, I’d smile and say, “I’ve been learning how to be enough, even without a crowd to clap for it."
0
May 16, 2025
May 16, 2025 at 2:05 PM UTC
Nice Guy Stands Alone
Aku menyusuri jalan, kembali ke tempat itu, memesan kopi yang sama, mengulangi rutinitas kecil yang entah kenapa terasa menenangkan. Kadang aku terjebak hujan, di perjalanan berangkat, atau saat hendak pulang. Tapi aku tak benar-benar sendiri, selalu ada kisah-kisah kecil yang menemani, seperti sore itu: sebuah keluarga kecil menepi di tengah derasnya hujan, anak mereka bersembunyi di antara dua tubuh yang hangat. Aku terdiam, menunduk, berdoa dalam hati: “Semoga rezekimu dilapangkan Dek. Semoga orang tuamu suatu hari bisa membawamu pulang dengan nyaman tanpa perlu basah seperti ini.” Aku jadi ingat, aku pun pernah berdiri di tempat yang sama. Hujan membasahi tanah yang sebelumnya tandus, bersama seorang anak sekolah, dan beberapa orang asing yang memilih meneduh, diam-diam berbagi waktu di bawah atap yang sama. Kala itu, jas hujan ada di sepedaku, tapi aku tetap memilih tinggal. Entah kenapa, terasa penting: melihat hujan membasahi tanah yang dulu kering. Karena aku percaya, kering tak selamanya, dan kita semua di waktu yang sama, sedang bertumbuh.
0
Apr 29, 2025
Apr 29, 2025 at 2:55 AM UTC
Ketika Waktu Menumbuhkan Semua yang Pernah Kering
I didn’t have it all figured out, but I kept walking anyway. Some days I wandered, others; I ran toward things that didn’t always stay. I met people who stayed for a season, laughed in places I couldn’t pronounce, got lost, and somehow; found pieces of myself in coffeeshops and streets, even in silent rooms where I sat with my thoughts. I learned not just from books, but from heartbreaks, quiet kindness, and questions without answers. I collected memories like messages I never published. Some drafted. Some still written. And still, I keep moving not chasing the finish line, just turning the page to whatever comes next.
0
Apr 21, 2025
Apr 21, 2025 at 4:17 AM UTC
Twenty-Six