Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
Amira I Jun 2020
Jemariku bergetar saat menuangkan isi hati dan kepalaku kali ini.
Entah sudah berapa purnama ku lewatkan tanpa berada di bawah atap yang sama denganmu.
Bertukar suara via telepon genggam —yang hanya secuil dibanding dengan waktu duapuluh empat jam— pun ku sudah lupa rasanya.
Namun satu hal yang pasti, bagian darimu akan selalu jadi bagian dariku.
Akan ku bawa sampai ke ujung waktu.
Mungkin aku akan pergi lebih dulu, atau mungkin engkau? Tak ada yang tahu.
Semoga Tuhan tetap melindungi, di mana pun kau berada sampai nantinya kita akan bertemu kembali.

“Namamu jadi rahasia, dalam diam kan ku bawa; mendarah.”
–Mendarah, Nadin Amizah
Terinspirasi dari lagu Nadin Amizah berjudul Mendarah.
Kau puisi indah pengisi kekosongan jiwa
Tapi kau pinta menukarnya dengan luka yang mendarah deras
Luka untuk benakku yang layu
Dapatkah kau rasakan perihnya? Hingga kau buat tangisku terkuras
Kau sentuh hati ini dengan kebohongan
Aku tersesat dalam jerat samudara kepicikan nuranimu
Kau ciptakan murka nan segunung lara di pijakan rapuhku
Hanya puisi singkat yang ditulis ketika masih SMA tahun 2011

— The End —