Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"mataku" poems
sedikit demi sedikit, aku sudah tidak merasakan kamu di cangkir kopiku setiap pagi. entah rasanya mengapa sangat sangat habar. seakan kamu sudah benar-benar pergi dari sini. tidak ada yang membuat jantung ini seakan sudah tidak berada di tempatnya lagi ketika mataku menangkap sosokmu. aku tahu, nantinya memang kamu akan pergi. mencintai pilihanmu yang lebih sempurna dariku. aku hanya manusia, mi querido. aku bukan dia yang lebih dari manusia normal. dia spesial untukmu. sedangkan aku tidak. oh, tidak. aku tidak pernah kemana-kemana. aku tidak pergi. aku tetap disini dan menunggu. hanya sepertinya kamu saja yang tidak pernah sadar jika aku disini. sudah menerka-nerka. semua ini akan berakhir tidak berbalas. semua ini berakhir sia-sia. tapi apakah kamu tahu? semenjak kamu bersama dia, aku sangat menikmati hobiku merangkai aksara tentangmu. walau kadang maknamu sudah terasa hambar. kamu tahu mengapa? karena tangan ini tidak akan pernah mampu meringkuh wajahmu dan mulut ini akan kaku ketika bertatapan denganmu. aku membiarkan tangan ini menari-nari diatas papan kata dan merangkai karangan tentangmu.
0
Aug 11, 2014
Aug 11, 2014 at 7:09 PM UTC
tidak terucap
Jakarta, 31 Desember 2009 Dulu aku cinta kamu Kamu satu yang indah bagiku Dirimu yang ku rindu dalam tidur ku Tapi dulu… Hanya dulu… Entah… Ku tak paham rasa ini Alasan ku betapa cinta kamu Tapi, cinta ku memang tanpa alas an Sekarang, baying mu kabur Cahaya mu redup Tak tahu aku kemana mencari Engkau berubah liar… kejam! Tak sudi lagi air mataku Menangisi makhluk seperti mu Tapi memang, aku masih cinta kamu!
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:35 AM UTC
Masih Cinta
sore itu dingin. kupandangi tetes-tetes air yang perlahan hinggap di atas permukaan kaca jendela secangkir teh dalam genggaman, berbalut tabahnya menahan rindu. kutunggu kabar namun tak juga kunjung datang duduk di atas kursi teras, menanti suaramu hadir di ujung pesawat. teleponku lagi-lagi kau abaikan, seperti tak pernah sekalipun terlintas minat untuk kau angkat. terlalu sibuk atau apa? biar kunanti lagi bersama rintik hujan. semenit lima menit sepuluh menit dua puluh menit lima puluh menit kutunggu telepon balasanmu namun belum juga kau izinkan aku mendengar suaramu aku diam bersama alunan musik yang dimainkan hujan, air mataku turun biarkan! aku letih berpura-pura merasa tidak sakit hati bersama lantunan rintik hujan, serta guntur yang belum pula lelah bersahutan, pada dunia mereka seolah mengatakan; alam pun bisa menyuarakan air matanya, dan memiliki jeda jujur yang panjang, berhenti berusaha ceria. kemudian aku sadar; seperti alam yang sedang menangis, aku benar-benar letih berpura-pura.
0
May 22, 2016
May 22, 2016 at 7:20 AM UTC
untuk segala hal yang letih berpura-pura
ketika berjalan di atas rumput waktu seakan melambat seakan aku melangkah terseok seakan bumi berusaha menelan kakiku kubiarkan tubuhku terjatuh sementara mataku memanah langit menunggu alam menjamahku menggerogoti nadiku tulang sumsumku nyawaku biarlah darahku menjadi nutrisi bagi tanah mungkin dagingku bergizi bagi hewan liar sementara tubuhku membusuk bersatu dengan hara tunas-tunas mungil muncul dari dalam dan bunga-bungaan bermekaran di antara tulang rusukku
0
May 7, 2014
May 7, 2014 at 9:03 AM UTC
untitled
Palembang, Senin 7 November 2011 Bagaikan berharganya air mataku Hanya terjatuh bagi para berlian hatiku Yang sangat berarti bagiku Yang sangat dekat dengan ku Bagaikan rapuhnya hati ini Terasa sesak setiap mengingat dia Serasa ingin mati saja Tak mau lagi hidup jika ada dia Doaku tak sering ku panjatkan Hanya bisikan hati yang sering terngiang Rasaku sudah cukup tak perlu diberitahu Toh orang pun tak mau tahu Selalu minta yang terbaik Sungguh aku menginginkannya Agar tak lagi aku menangis sepi Supaya tak perlu aku berpura-pura Bagaikan tak terjadi apa-apa Padahal hati ini penuh luka
0
Nov 7, 2011
Nov 7, 2011 at 10:30 AM UTC
Air Mata Ku
kau masih melukiskan jingga di kepala bertanya pada sudut jalan yang tak pernah sepi “seperti apa senja di kota?” ya seperti ini tak dingin oleh kabut tak terasa oleh waktu kau akan sibuk menyeberang jalan sebelahmu akan mati kejang – kejang dan mereka masih akan meliput gedung metromini memainkan dendang dengan kencang selagi pengamen berteriak minta makan “dan kamu?” mataku ini akan merah berair “kenapa?” apa beda aku dengan senja di kota?
0
Jan 10, 2016
Jan 10, 2016 at 9:54 AM UTC
serpihan senja di jakarta
Temukan aku, cari aku Hancurkan aku, remukkan aku Caci diriku hinakan jiwaku Buat aku berlutut menangis di hadapanmu Hempaskan tubuhku rebahkan kepalaku Lakukanlah, hancurkan diriku. Tapi ketika saatnya tiba Ulurkan tanganmu, raihlah kepalaku Berjongkoklah, sentuh pipiku Elus rambutku hapus air mataku Tundukkan kepalamu, dekatkan ke telingaku Bisikkan padaku sebuah kata dari dalam hatimu Hembuskan padaku sebuah harapan Lantunkan lagu itu, lagu kehidupan Tatap mataku, ajak aku berdiri Pandang wajahku, yakinkan aku Genggamlah tanganku sementara kau mulai melangkah Peluk erat jariku dengan jemari lentikmu Berikan hangat tubuhmu, genggam erat tanganku Ayunkan kakimu, berlarilah Bawa aku bersamamu, beri aku jalan Menolehlah sesekali ke belakang Aku akan tetap berada di sana Memandangi jemarimu memeluk jemariku
0
Aug 27, 2017
Aug 27, 2017 at 2:11 AM UTC
Kau, Rasa Sakit Sekaligus Obatku
Jakarta, 5 Mei 2008 Kau kah itu? Bayangan yang kabur Lepas dari ragamu Kau kah itu? Yang memetik senar Dan mulai berlagu Kau kah itu? Yang buat ku tersenyum Tiada henti di setiap waktu Kau kah itu? Yang buat mataku S’lalu tertuju padamu Kau kah itu? Yang buat ku gila Tak henti memikirkanmu My King… Kau kah itu? Yang kini ku rindu Selalu… Kau kah itu?
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:45 AM UTC
Kau Kah Itu?
voice over: Atlas Ketika langit mengubah rupanya menjadi senja sewarna matahari tenggelam, kuajak Venus duduk di kafe tak jauh dari stasiun. Perjalanan hari ini cukup lelah, meskipun pengamatan kami berjalan lancar. Tapi, aku selalu berharap anggota kelompok kami lainnya lebih sering ikut bergerak agar kami tidak selalu pergi berdua. Museum yang kami kunjungi kali ini adalah museum seni, yang kuduga salah satu hal yang amat Venus hargai. Ia penikmat karya seni. Matanya terus memandang takjub karya-karya yang kebanyakan orang tak pahimi apa maknanya, namun Venus menatapnya seolah barang yang dilihatnya ialah nyata. Kau tahu, memandangi seorang perempuan berambut gelombang sepunggung, yang bertinggi badan hanya sehidungmu, rahang tegas, alis yang tebal, memandangi karya-karya seni di hadapannya dengan tatapan antusiasmenya; bukankah ia definisi seni yang sesungguhnya? Yang paling nyata di depan mataku? Dan, kemudian ia menoleh, tersenyum saat sadar aku memandanginya dari belakang. Ia mengatakan sesuatu, "Atlas, lihat sini! Lukisan yang satu ini benar-benar indah." Dan, setelah 3 bulan meragukannya, sekarang aku yakin; aku menyukainya, sangat menyukainya, saat kurasakan Venus adalah seni yang lebih indah, terindah.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 6:51 AM UTC
daydreaming part 1: keajaiban seni yang paling nyata
Mendengarmu berceloteh, Daun telingaku kian mengecil, Menciut sesak dalam lubangnya, Hingga tiada bunyi menggugah pikiran. Memandangmu beserta materimu, Kelopak mataku tak kuasa terbuka, Ku paksa terbelalak, menatap tajam, Sampai pandanganku kosong hampa. Menghadiri kelas mata kuliahmu, Detik jarum jam seakan tertidur tuk berdetak, Ruangan seakan penuh dengan jeritan jiwa, Tinggallah hasrat untuk kembali pulang. Wahai bapak dosenku, Adakah engkau menawarkan air di panasnya hati, Akankah kau menabur harum bunga di otak yang usang, Atau apakah rasa jemu takkan terganti?.
0
Mar 14, 2015
Mar 14, 2015 at 3:10 AM UTC
To : Mr. Dozzen
Jakarta, 22 Mei 2008 Ku tuliskan apa yang ku rasakan Jantungku berdebar kencang Nadiku bergetar kuat Darah ku mengalir deras Ku gambarkan apa yang kurasakan Aku teriak keras Aku mengacak semua Aku menangis kencang Ragaku tegang Mataku kantuk Suasana seram Begitu malam gelap Larut sudah ku tonton Cerita hantu bertaruh nyawa Ya, meski hanya sebuah cerita Namun ini karya mereka Yang harus dihargai Ada pun senang melihatnya
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:40 AM UTC
Rasa 1
Masih kubayangkan seperti apa jadinya aku apabila suatu saat aku benar-benar bisa memiliki dia. Mencintai dia begitu dekat. Sedekat tarikan napas dari setiap udara segar yang aku hirup di pagi hari. Masuk ke dalam paru-paru. Kemudian bercumbu di sana. Benar apabila aku memang sangat ingin bisa memiliki, segala hal yang mungkin tidak pernah bisa aku miliki. Begitu naif apabila kita sedang belajar mencintai seseorang. O wajahnya. O matanya. O hidungnya. O pipinya. O bibirnya. O rambutnya yang panjang tergerai jatuh di bahunya. Begitu jelas, hingga mimpi seperti realita. Dia begitu jelas terlihat. Dia begitu nyata, bahkan kurasakan sesuatu berdetak begitu cepat dan kencang, seperti angin yang menyibak rambutnya. Senyumnya membuat segala yang hancur menyatu kembali, tetapi tidak, tidak untuk setiap kali. Aku masih mencintainya, begitulah cinta yang semestinya aku akan katakan apabila memang dia benar ada di sini. Tetapi dia tidak di sini. Dan aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya. Dia begitu dekat, tetapi juga begitu jauh. Dia jauh dari mataku. Dan dia begitu jauh untuk bisa merasakan perasaanku padanya.
0
Mar 23, 2021
Mar 23, 2021 at 5:57 AM UTC
Nyanyian Kesedihan dan Patah Hati
Pukul 02.30 Aku terdiam tanpa berbahasa Memikirkan sejuta hal yang seharusnya kulakukan Aku terbiasa bermimpi Namun kini aku tak mampu Pukul 02.30 Andai waktu adalah lomba Maka aku selalu kalah Lagi-lagi aku tidak dapat terpejam Pukul 02.30 Aku dan semua lamunanku Terhenti sejenak oleh suara dengkuran disebelahku atau mungkin suara angin sejuk dari mesin diatasku Pukul 02.30 Aku ingin berlari ke dalam lautan Menantang ombak berderu kencang Lalu terhempas oleh bayang-bayang Pukul 02.30 Aku berurai air mata Berusaha mengartikan rasa Pencarian yang tak berujung Pukul 02.30 Katanya Tuhan itu Mahakuasa Maka aku percaya jawaban itu ada Dan kupejamkan mataku Harap semua ini sirna -wonderwall-
0
Aug 12, 2019
Aug 12, 2019 at 3:53 PM UTC
Pukul 02.30
terbalas pertemuan singkat tadi siang dengan sedikit berdebah dengan ego malu menukik dan gemetar beramai gaduh sulit juga, berjuang dengan lara yang kian runyam kian dalam kian menepis dalam malam aku yakin dia bertanya "kenapa dia?" haha.. apa aku harus jawab aku rindu aku rindu seperti dulu bukan apa-apa tidak ada lugas kata atau tindakannya hanya saja aku sudah terlajur menyukainya menyukai derap langkahnya lemah gemulai tubuhnya beradu dengan udara sekitar aku juga suka saat matanya bertemu dengan mataku sisi lainnya muncul lebih hangat dari yang kubayangkan bolehkah juga aku berseru ? aku menyukaimu ! sangat.. lungai sudah jika itu terucap pasrah.. tapi tenang, aku masi pandai menyimpan masih pandai menukik ego tapi tetap aku rindu,.,.,.,. -rindu,mengenang-
0
May 22, 2018
May 22, 2018 at 12:18 PM UTC
Rindu
Terbatas; terkunci; sendirian. Mataku menyerap gambar-gambar di dalam lingkunganku, Dan sekali-kali saya menemukan tanganku mencoba bergenggam Masa depan yang punya saya; Mungkin hanya di pikiranku. Saya adalah seekor kucing kecil di pingir jalan; Diabaikan, kotor, jelek.
0
Feb 19, 2015
Feb 19, 2015 at 3:54 PM UTC
kejebur
Disini aku masih di bawah langit milik bumiku Tapi berbeda tempat dan aroma tanah Aku merasa di atmosfer era abad pertengahan Melihat banyak kastil dengan arsitektur tua Pemandangan yang indah di Montmartre, sebuah kerajaan seni yang siap memanjakan mataku seketika Musim gugur menciptakan lukisan indah secara alami Tempat itu seperti kanvas Diciptakan oleh kuas ajaib anugrah yang kuasa Meski Claude Monete dan Renoir sudah tidak ada lagi Aku bisa melihat perpaduan warna cantik di musim gugur dengan mata telanjang kuning, oranye, merah dan coklat Lukisan yang begitu indah Biarkan aku memakai jaket hari ini Sebab udara membuatku cukup dingin Aku berjalan-jalan di pedesaan Prancis Pohon-pohon gugur di sepanjang jalan ditemani oleh nyanyian burung yang menyemarakan hariku Ini sudah waktunya panen Aku menyukai labu di ladang Memilih apel dan pir di kebun dekat benteng Talcy Prancis seperti harta karun emas Paris di musim gugur bulan ini Menara Eiffel sudah menungguku kali ini aku berjalan di atas dedaunan Begitu renyah di bawah kakiku Pohon maple di atas saya memayungi meski hari tak hujan Daunnya yang tersentuh angin berputar-putar Mengirim mereka untuk menari di udara Sangat romantis Aku sedang duduk di bangku kayu Ah jika September tiba...
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 12:24 PM UTC
Jika September tiba
Aku Tertidur. Sudah lama tertidur. Hampir saja kau bangunkanku atau mungkin sudah kau bangunkan... Entahlah, aku tidak yakin Kamu yang tidak jelas. Membangunkanku, lalu pergi; membuka mataku, lalu pergi; mengusir alam bawah sadarku, lalu pergi; membangunkanku, lalu pergi. Tak sudi aku bangun tanpa teman Tak sudi aku bangun dengan haus begini Makanya, Aku kembali tidur. Biar kuberi tahu, aku tertidur - kembali. Sudah lama tertidur. Dan kali ini, sakit tidurku...
0
Sep 3, 2014
Sep 3, 2014 at 10:40 AM UTC
Tertidur
Kamu tidak tahu Apa yang nylempit di antara mataku Rasanya seperti dipukul palu Lalu lari sambil malu-malu Kamu tidak tahu yang nylempit itu Rindu
0
Oct 22, 2016
Oct 22, 2016 at 8:45 AM UTC
Wagu
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun. Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata. Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni. Ini tentang apa yang hidup di dalam sana. Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja. Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu. Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir. Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya. Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku. Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
0
Apr 25, 2019
Apr 25, 2019 at 5:39 AM UTC
Rumah
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun. Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata. Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni. Ini tentang apa yang hidup di dalam sana. Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja. Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu. Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir. Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya. Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku. Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
Continue reading...
10
Inderalaya, 30 September 2014 Rasanya ingin saja aku menutup mata ini, tertidur Menuai mimpi yang selalu bahagia ceritanya, terhibur Hati tak ingin terbangun namun mataku berkata lain, terlanjur Semangat hati tuk melanjutkan tidur pun haidr, dan Bangunkan aku saat September berakhir
0
Oct 20, 2014
Oct 20, 2014 at 7:00 AM UTC
Wake Me Up When September Ends
Malam itu lampu indah kelap-kelip Jemari kita saling bertautan Kau yang paling indah malam itu Menebar semburat warna-warni di mataku Genggamanmu hangat padaku Daya pikatmu menciptakan ilusi Kau, semerbak tubuhmu, warna-warni lampu Perpaduan yang sempurna! Aku terlena Kau menuntunku ke karnaval ini Tempat yang indah dengan sejuta rasa Di mana seorang pencuri hatinya telah dicuri Seorang yatim piatu mendapatkan saudaranya Apakah ini nyata? Karena kau menciptakan bumi berbentuk apel Yang hanya menumbuhkan apel Untuk kita berdua Sungguh luar biasa, inikah rasanya karnaval? Mari kita nikmati, kau berbisik Menyuruhku memejamkan mata Kuikut saja, penasaran di mana aku terbangun nanti
0
Sep 5, 2017
Sep 5, 2017 at 8:59 AM UTC
Karnaval
Silau mobil menabrak kelopak mataku Bersandar pada jendela kenangan Sambil tangan berpeluk pada ruang hampa Aku melewati bekas tapakan kita, lagi Aku langsung mengembara melewati waktu Masa itu, kita duduk berdampingan Sangat jelas diingatanku Didalam bis, kita mengobrol Kau duduk bersandar di bangku mu Dan aku yang bersandar di jendela Kau hanya fokus padaku Menatap ku dengan sabar sambil mendengarkan cerita ku Bahkan, kalau boleh jujur, pada masa sekarang pun aku masih ingin tatapan itu, lagi Bagaimana kau tersenyum melihatku berimajinasi Menyambut segala harapanku Tuan, aku ingin melihatmu lagi Adakah celah kesempatan itu? Masihkah kau sama seperti isi memori ku?
0
Sep 6, 2019
Sep 6, 2019 at 10:40 AM UTC
Tuan, Rinduku Mengusikku
Langitku penjajah Menghalangi hangatnya mentari tubuhku diinjak, teriakanku dibantah Air mataku mengalir, ketawanya nyaring Dimana langitku dijunjung Disana diriku ditindas
0
Aug 30, 2019
Aug 30, 2019 at 1:42 PM UTC
Cerita bumi
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila Di saat kewarasanku sedang ambruk Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu Dengan bunga berwarna kuning di telinga Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku Aku tak pernah berburu air mata Cacatnya tindak-tanduk Dambaan-dambaan fana Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku Tak paham raut lukaku Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya? Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini Si Manis, yang tutur kata nya lembut Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu Ruam pada tubuhmu Bukan salahmu Masihkah kau berdiam mematung? Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan Dan kaki-kaki yang kau pijat Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
0
Jan 22, 2021
Jan 22, 2021 at 11:45 PM UTC
Suratan dan Imbalan
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila Di saat kewarasanku sedang ambruk Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu Dengan bunga berwarna kuning di telinga Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku Aku tak pernah berburu air mata Cacatnya tindak-tanduk Dambaan-dambaan fana Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku Tak paham raut lukaku Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya? Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini Si Manis, yang tutur kata nya lembut Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu Ruam pada tubuhmu Bukan salahmu Masihkah kau berdiam mematung? Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan Dan kaki-kaki yang kau pijat Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
Continue reading...
32
kekasih, sebelum takdir melenyapkan tubuhku dan takbirku menjadi sesuatu yang senyap ajari aku mencintaimu: ajari lidahku menyebut namamu ajari mataku melihat parasmu ajari telingaku mendengar suaramu ajari tanganku memegang tanganmu ajari kakiku melangkah padamu sekali lagi agar aku, kekasih, yang cuma hamba sahaya ini bisa merdeka merdeka adalah berada di haribaan cintamu sepanjang waktu
0
Oct 1, 2017
Oct 1, 2017 at 8:32 AM UTC
ajari aku