Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"kalimat" poems
Palembang, 14 Januari 2014 Apa yang susah? Menguasai diri sendiri memang susah Melakukan ini tapi takut, takut salah Tapi tidak dilakukan akan menyesal, juga salah Apa yang mudah? Memerintah orang memang mudahnya Menyuruh orang melakukan kehendaknya Entah siapa yang untung dan rugi di antaranya Apa yang gampang? Menghakimi orang juga gampang Tak peduli tampang Mau presiden, mau pejabat, mau gembel asal hati senang Apa yang gampil? Menasehati orang juga gampil Tinggal ucapkan kalimat kecil Berlagak bak orang yang terbiasa nan terampil Apa yang sukar? Menyadarkan orang itu yang sukar Meski hati sudah dongkol dan mulai terbakar Apa daya orang itu tak sadar-sadar #miris
0
Jan 14, 2014
Jan 14, 2014 at 11:42 AM UTC
Apa Yang Sukar?
"Dunia ini terlalu indah untuk dilukis, Sayang," Begitu katanya "Dunia ini juga terlalu luas untuk dipahami, Sayang," Begitu pula katanya Aku tetap tak mengerti Mengapa masih ada orang yang merasa dunia ini Terlalu sempit untuk diketahui Terlalu sulit untuk dijelajahi Apakah jendela cakrawala mereka saja yang sempit? Atau nyali mereka saja yang tak bisa berdiri sendiri? Hanya berani menguntit ditemani mata menyipit? Barangkali pikiran mereka juga hanya bisa mengintip? "Dunia ini dipenuhi orang aneh, Sayangku," Ujarnya kemudian Secangkir teh diteguknya perlahan "Dunia ini juga dipenuhi orang berotak kosong, kamu tahu itu," Kukatakan dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini dihuni benak-benak yang melayang liar di balik masing-masing bahu Yang tak bisa diam walau hanya menunggu waktu Menunggu pikiran gila lainnya merayap masuk ke dalam kepalanya Membuat secarik kertas dan sebuah pulpen meleleh di tangannya Melantunkan kalimat-kalimat indah menjadi sebuah sajak Menyulapnya menjadi sebuah mahakarya yang terus menanjak Kukatakan sekali lagi dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini juga dihuni benak-benak licik yang tak punya dinding malu Yang meraup beribu untung tak kenal waktu Diam-diam aku bertanya juga Di manakah jiwa-jiwa kotor itu bisa membeli dinding malu? Mengapa mentalnya tak beda jauh dengan mental para benalu? Orang-orang aneh itu masih terus menunggu waktu Orang-orang berotak kosong itu malah berlari meninggalkan waktu Orang-orang aneh itu terus menciptakan karya Orang-orang berotak kosong itu malah dibicarakan di berita pagi dan dunia maya Orang-orang aneh itu terus menumbuhkan bunga di atas nama bangsa Orang-orang berotak kosong itu malah menumbuhkan duri di bawah nama bangsa Seperti yang saat ini banyak terjadi, Seniman dan Koruptor.
0
Jan 18, 2014
Jan 18, 2014 at 2:37 AM UTC
Dunia, Seni, Koruptor
"Dunia ini terlalu indah untuk dilukis, Sayang," Begitu katanya "Dunia ini juga terlalu luas untuk dipahami, Sayang," Begitu pula katanya Aku tetap tak mengerti Mengapa masih ada orang yang merasa dunia ini Terlalu sempit untuk diketahui Terlalu sulit untuk dijelajahi Apakah jendela cakrawala mereka saja yang sempit? Atau nyali mereka saja yang tak bisa berdiri sendiri? Hanya berani menguntit ditemani mata menyipit? Barangkali pikiran mereka juga hanya bisa mengintip? "Dunia ini dipenuhi orang aneh, Sayangku," Ujarnya kemudian Secangkir teh diteguknya perlahan "Dunia ini juga dipenuhi orang berotak kosong, kamu tahu itu," Kukatakan dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini dihuni benak-benak yang melayang liar di balik masing-masing bahu Yang tak bisa diam walau hanya menunggu waktu Menunggu pikiran gila lainnya merayap masuk ke dalam kepalanya Membuat secarik kertas dan sebuah pulpen meleleh di tangannya Melantunkan kalimat-kalimat indah menjadi sebuah sajak Menyulapnya menjadi sebuah mahakarya yang terus menanjak Kukatakan sekali lagi dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini juga dihuni benak-benak licik yang tak punya dinding malu Yang meraup beribu untung tak kenal waktu Diam-diam aku bertanya juga Di manakah jiwa-jiwa kotor itu bisa membeli dinding malu? Mengapa mentalnya tak beda jauh dengan mental para benalu? Orang-orang aneh itu masih terus menunggu waktu Orang-orang berotak kosong itu malah berlari meninggalkan waktu Orang-orang aneh itu terus menciptakan karya Orang-orang berotak kosong itu malah dibicarakan di berita pagi dan dunia maya Orang-orang aneh itu terus menumbuhkan bunga di atas nama bangsa Orang-orang berotak kosong itu malah menumbuhkan duri di bawah nama bangsa Seperti yang saat ini banyak terjadi, Seniman dan Koruptor.
Continue reading...
39
*Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melepas seikat rindu Untuk seseorang berpandangan sayu Yang telah lama diombang-ambing oleh gelombang kelabu Seberat langit mendung yang sendu Berpayung ia lama mencari lentera menuju ujung jalan Sembari menanti hentinya rintik hujan Tanah becek berlumpur tempat kakinya lama singgah Di mana guntur tak ada lelahnya menumpah ruahkan gundah Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melekatkan seikat harapan Untuk seseorang yang tengah dihuyung geramnya badai topan Yang tak hentinya berharap agar matanya dibutakan mentari pagi Jiwanya lama berkelana mencari, entah ke mana cahaya itu pergi Jauh dalam sudut yang gelap ia dibiarkan sendiri* ------------------------------------------------------------------------------------------- Telah kuleburkan kata demi kata menjadi beberapa helai untaian kalimat Untuk kompas dalam hidupmu yang telah kehilangan arah Dibutakan oleh gulungan-gulungan masalah Juga dalam doa-doa malamku dan setiap sujudku di atas sajadah, Kubisikkan sebuah pinta agar dirimu selalu dalam pentunjuk-Nya, Agar kelak dapat kau baca helaian untaian kalimat penyamangatku, Yang kusampirkan dalam saku jaketmu hari itu, Dapat merontokkan seluruh perasaan kelabu dalam kalbumu, Mendepakmu dari sudut gelap di ruang tergelap pikiranmu sendiri.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 7:28 AM UTC
ruang tergelap
Jakarta Senin 7 Mei 2007 Suatu ketika tak sengaja Aku terbayang seseorang Yang indah dengan senyuman Sejak itu pun Aku mulai menulis kata-kata Dan aku rangkai Sehingga menjadi kalimat-kalimat yang indah Itulah puisi yang akan kupersembahkan Hanya untuk dirinya Di suatu tempat terindah di langit sana Betapa senangnya hati ku T’lah ku sampaikan isi hati ku Lewat puisi yang indah Yang tak pernah ku lupakan sepanjang waktu
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:49 AM UTC
PUISI
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku. Topeng yang dengan bangga kalian pakai tak ubahnya ketelanjangan hanya mengumbar malu dan aib Tawa yang sesenggukan kalian jeritkan hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar memutihkan kejujuran dan kebajikan Oh, beginikah cara kerja dunia berduri dan berbatu, sama saja disetiap lajurnya kemanapun aku pergi, dijejali mulutku dengan dusta dan hanya dusta belaka Menghitamnya jiwaku, seandainya bagai langit malam tak ada chandra di ufuknya Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian. Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali! Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir. Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan. Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi. Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku. Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku? Menyesali kalian.
0
Sep 7, 2016
Sep 7, 2016 at 12:30 PM UTC
Sebotol Penawar
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku. Topeng yang dengan bangga kalian pakai tak ubahnya ketelanjangan hanya mengumbar malu dan aib Tawa yang sesenggukan kalian jeritkan hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar memutihkan kejujuran dan kebajikan Oh, beginikah cara kerja dunia berduri dan berbatu, sama saja disetiap lajurnya kemanapun aku pergi, dijejali mulutku dengan dusta dan hanya dusta belaka Menghitamnya jiwaku, seandainya bagai langit malam tak ada chandra di ufuknya Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian. Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali! Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir. Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan. Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi. Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku. Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku? Menyesali kalian.
Continue reading...
27
Aku mengingatmu di sela waktuku bertualang di setiap spasi dalam kalimat 'kita' aku mengingatmu. Kau buatku menetap tanpa alasan. Lantas pergilah aku bertualang; pergi terbang ingin kau tau kau tidak mengekang ingin kau tau aku bisa, kapan saja, terbang. Tapi di setiap kepakan sayap, aku merindu. Di labuhanku yang berganti-ganti, aku menemukanmu. Duduklah kau rapih, sambut ku yang selalu pulang.
0
Jun 24, 2015
Jun 24, 2015 at 4:13 AM UTC
Terbang Lalu Pulang
Pagi ini aku menangis Bukan karena ketakutan Namun ini masalah mimpi yang mengecewakan Bulanlah yang menjadi saksinya Ketika kamu mengatakan yang selama ini ingin aku dengar Kalimat yang cukup membanggakan "Aku mencintaimu" Aku lupa jika ini hanya mimpi Mimpi jika aku mendengar kalimat itu dengan mulut kecilmu Meski kuucap semua kata pinta
0
Mar 16, 2017
Mar 16, 2017 at 9:53 AM UTC
Kalimat Cukup Membanggakan
Basah, ku lihat pipimu. Katanya kau kelelahan, Tapi yang ku lihat bukan keringat. Kata nenekku, itu air mata, Karena matamu merah. Mana mungkin, kau berkeringat dengan mata merah dan sedikit bengkak? Lusuh, ku lihat mukamu. Katanya kau tak menyentuh air seharian. Debu yang kemarin kau dapatkan ketika menjemputku di Taman Kota masih menempel, katamu. Lusuhmu bukan karena debu, Kata Ibuku, itu karena lapar. Ternyata kau sudah berhenti makan, Sejak dua hari sebelum kita bertemu. Kenapa memang? Memang aku tidak berhak tahu kalau kau sedang tidak baik saja? Alih-alih kau tidak ingin menambah bebanku, Kau selalu mengatakan kalimat-kalimat yang tidak benar adanya. Kenapa memang? Memang aku tidak berhak untuk paling tidak, membuat mu merasa lebih baik? Ah benar saja, Aku kan tidak pernah mampu, Sebab, siapa aku? Hanya tempat pelampiasan nafsu.
0
Nov 30, 2020
Nov 30, 2020 at 12:46 AM UTC
Salatiga
Kutarik secarik kertas putih Kutumpahkan tinta hitam Kutulis namamu Kuceritakan segalanya Cintaku kepadamu yang terawali layaknya sebuah kepompong Hingga menjadi sebuah kupu-kupu Terbang melintas dunia Berakhir dengan kematian Tetes demi tetes tinta Menyusun kata per kata Membentuk sebuah kalimat yang ramai Mewakilkan mulutku yang membisu Untuk siapa kubuat tulisan ini? Tulisan yang tak lebih melibatkan amarah dan kebencian Namun ditulis dengan sedikit rasa cinta yang masih melekat Putih suci ditimpah hitam penuh dosa Bisik Sang Hati " Lipat dan buang. Sudah cukup sudah. " Jemari bergerak melipat surat itu Berbentuk perahu Perahu kertas. Raga berjalan ke tepi laut Seakan jiwa yang menggerakkan Mulut yang berbisu mengucapkan sebuah doa Tangan melepaskan surat itu Perahu kertas, Bawalah mimpi buruk ini berlayar denganmu Berlabuhlah di neraka Agar dosa dan penyesalan ikut terbakar disana.
0
Nov 18, 2017
Nov 18, 2017 at 4:32 AM UTC
Perahu Kertas.
Tentang kopi pekat yang baru mengantar ku pulang dengan mata setengah terpejam Lalu, dirimu yang mulai hilang diantara inginku yang terlalu dipenuhi angan serta kalimat-kalimat basi yang datang pelan dan ringan Dan jarak, Jarak menjelma menjadi tubuh yang menggantikan diriku di lenganmu gadis bermata terang yang bersandar malas di dadamu
0
May 29, 2022
May 29, 2022 at 9:31 AM UTC
Malam Minggu
Sepucuk surat berisi tentang mu Kalimat - Kalimat yang kususun Surat cinta untuk mu Yang lama kupendam Terlahirnya dirimu di dunia ini Diantara milyaran manusia Hatiku menemukan mu Kubuat sebuah perahu kertas, berlayar kepada mu Berlayar membawa kata-kata indah Mengarungi lautan berombak Menjaga surat cinta Untuk berlabuh di hatimu Tiada halangan bagiku Untuk mencintaimu Mimpi - Mimpiku, duniaku Melewati lautan, untuk dirimu.
0
Dec 15, 2017
Dec 15, 2017 at 8:29 AM UTC
Perahu Kertas II.
Bersahut Melontarkan kata Bukan, ternyata kalimat Bukan, tapi sajak Kalau sajak, Tak tercerminkan keindahan Seperti nyanyian Bukan, tak ada nada indah disana Mempelai pria siap Si Pitung bajakan muncul Mempelai wania siap Bapaknya datang Hingga 'Aye terima pihak mempelai pria'
0
Apr 22, 2016
Apr 22, 2016 at 7:01 AM UTC
Gurindam
Dia ingin bermain kata-kata ternyata. Sampah! Mari kita permainkan dia bersama kata-kata! Akankah takut siapa yang tahu jika tidak pernah kita coba! Kita perlu membencinya! Membenci kebohongan busuk akal manusia. Mari kita bermain kata-kata! Siapa yang takut jika ia sering di cerca oleh pertanyaan mengapa! Baiklah, bunyinya seperti ini. Kau busuk akal rupa juga canda tawa tidak pernah ada artinya. Kalimat yang kau lontarkan tidak pernah bermakna lantas apa arti jika harus hidup tak bisa bebas dan merdeka! Bebas dan merdeka hanya kata-kata, tindakan ada setelahnya, apa yang kau perbuat setelah bermain lantas kau bereskan semua permainan yang ada! Kau dalang permainan yang sejak awal kau ingin menang di dalamnya! Masih ingin bermain? Masih ingin bermain atau kau tak punya lawan main? Seperti apa kata-kata kita cipta seperti apa kau punya wewenang kuasa! Lupa cara, buta aturan semua kau yang pegang! Itu ujaran kebencian katanya!
0
Feb 11, 2021
Feb 11, 2021 at 4:33 AM UTC
Ini ujaran kebencian katanya!
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 9:17 AM UTC
Suara Tanpa Rupa
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
Continue reading...
29
silahkan jika menganggapnya tidak penting kalimat ini dibuat atas dasar jatuh cinta kok, 'saya menyukaimu' dan saya harap, menyukaimu bukanlah hal yang akan dilupakan. sebab mencari cara lupa adalah pekerjaan yang paling merepotkan.
0
Jun 11, 2019
Jun 11, 2019 at 5:18 AM UTC
kalimat, untuk kamu.
Halo Tuan, Masih ingatkah waktu kita tersesat? Dilabirin Waktu bersama Kau seolah paham dengan alurnya Menuntunku Aku tersenyum dari belakang Mengikuti tapak kakimu Ditengah jalan, kau berhenti “Aku sadar” katamu. Mari kita berpisah Dan jika memang benar alurnya, Kita akan bertemu di ujung labirin ini Aku berhenti dan menabrak punggungmu “Mengapa?” “Apa?” Aku masih tidak bisa berpikir jernih Hanya kalimat tanya yang ku pikirkan Kau tau aku tak paham dengan labirin ini kan? Dan kau suruh aku berjalan sendirian, Dengan hadiah “jika benar kita akan bertemu di ujung labirin” Tidak Tuan, lebih baik kita tak bersama dari awal Akan sangat mudah bagiku untuk memahami alur ini jika aku sendiri saja Terimakasih untuk setengah perjalanan ini Dan untuk ujung labirin, Ku harap aku menemukan ujung labirin lain, Dan kau pasti tau alasannya.
0
Feb 14, 2019
Feb 14, 2019 at 10:53 AM UTC
Tuan Labirin
Aku akan mengatakannya sekali lagi Pada matahari tengah malam di belahan bumi lain Ada tapi tak pernah kau lihat Siapa di dalam benakmu ketika terdengar kalimat pahit itu Aku akan mengatakannya sekali lagi Hujan di tengah langit cerah biru sekilas awan bergerak pelan Nyata tapi kebencianmu padanya Lagi aku mengatakannya padamu Aku cinta kamu Terakhir kali sebelum melepas yang harusnya bebas Selamat tinggal, cintaku yang konyol.
0
Jun 20, 2018
Jun 20, 2018 at 9:15 AM UTC
Salam Terakhir Untukmu
Laki-laki itu menangis Tidak ada seorang pun tahu Atau mau tahu Sebab sekian juta jiwa berucap Sejatinya lelaki tidak menangis. Dan di sana seorang gadis Terpaksa menutup mata dan mulut Buta akan pemandangan getir di hadapannya Bisu akan kalimat pereda lara Sebab sekian ribu jiwa berucap Sejatinya lelaki tidak lemah. Yang sama dari keduanya Hati dan perasaan tak kian menutup Akal tak kelabu layaknya Ribuan orang yang mengutuk mereka. Lalu akan sangat tidak adil bagi adam Jika tangis dilarang dalam kamus hidup Yang kuat juga menangis Yang menangis bukan arti lemah
0
Aug 5, 2018
Aug 5, 2018 at 8:34 AM UTC
Stigma
Bukan saatnya, kawan, Kau tertunduk dengan tangisan Seakan dunia sudah kiamat. Mungkin hatimu sedang tertusuk Oleh buaian para pemberi harapan Dan setan pembisik di telingamu. Tapi ingat, Ceritamu hanya sebatas koma, Masih ada kalimat panjang Yang menantimu sampai akhir hayat.
0
Nov 1, 2018
Nov 1, 2018 at 6:39 AM UTC
Titik
“Whats wrong?” “Kenapa? Ada apa?” Kalimat yang selalu ku tunggu Saat aku butuh wadah bercerita Bentuk kepeduliankah? Atau hanya seutas penasaran? Aku tidak peduli Setidaknya, kau masih ada saat aku butuh sandaran Dan tempat berbagi cerita Walaupun kita sedang berjarak, Tidak selucu dan semenggemaskan dulu Tapi terimakasih Karena selalu siaga ada disisiku
0
May 15, 2019
May 15, 2019 at 7:06 PM UTC
Arti hadirmu
Kalimat "iya aku janji" Hanyalah penenang diri, supaya kau tak patah hati.
0
May 14, 2018
May 14, 2018 at 4:44 AM UTC
Iya, aku janji
coba jelaskan lagi waktu itu saat kau bilang sesuatu hatiku sulit mencernanya seperti kalimat kiasan yang coba kumaknai ada apa dibalik tirai itu? lihat aku malu angin menertawakanku aku ingin mendengarnya lagi suara dari hatimu waktu itu suara mobil memecah pendengaranku aku tatap saja bingkai itu nadiku berletup cepat lalu kau tersenyum
0
Aug 21, 2017
Aug 21, 2017 at 9:05 PM UTC
detak
Seharusnya aku ingat bagaimana penampilanku saat pertama bertemu denganmu Seharusnya aku ingat kalimat pertama yang kuucapkan padamu Seharusnya aku ingat harum minyak wangi yang kupakai saat pertama bertemu denganmu Sekarang aku kebingungan, bagaimana agar membuatmu jatuh hati lagi padaku
0
Aug 29, 2017
Aug 29, 2017 at 10:53 PM UTC
Renungan Rindu
Sambil mengendarai mobil, aku melirik calar yang menghiasi tangan kananku. Merah seakan salah satu kucingku baru saja mengamuk. Tapi hanya aku dan sebilah pisau di kamar yang tahu itu bukan hasil karya seekor kucing melainkan binatang yang jauh lebih biadab, depresi. Lampu dijalanan berubah merah, sambil melihat sekeliling aku tersenyum mengamati hiruk pikuk yang sedang terjadi. Aku jadi rindu perasaan utuh yang lambat laun terkikis waktu dan kalimat-kalimat bernoda. "Kurang kuat iman sih" Tak ada kaitannya dengan imanku, sayang. "Mungkin cuma ada di kepalamu saja." Dan kepalaku adalah satu-satunya tempat dimana aku tak bisa lari. "Memang penyebab depresimu apa?" Karena 1095 hariku tercemar darah, puntung rokok, pecahan gelas, dan caci makian tiada henti. Tak semudah itu untuk keluar hidup-hidup dari kandang singa, harus ada luka yang aku tanggung seumur hidup. "Apakah kau gila?" Aku bukan gila, aku baik-baik saja. Hanya ada bagian di dalam sana yang mati dan tak bisa diperbaiki lagi. Lampu hijau dan klakson dari mobil membangunkanku dari suara-suara itu. Tapi ketika sudah melaju dengan kecepatan yang nyaman ada satu suara yang muncul lagi, menoreh hatiku. "Aku tak habis pikir bagaimana seseorang bisa nekat melukai dirinya sendiri sedangkan masih banyak yang bisa dilakukan" Kalau kau tak paham, tak mengapa. Tapi aku melakukan itu bukan untuk mati, aku lelah tak merasa apapun karena ada bagian di dalamku yang memang sudah mati. "Kau mirip banteng ketaton" Ya, aku marah kalau kau seenaknya menyebut aku gila. Aku terluka kalau kau seenaknya main hakim sendiri. Calar itu adalah sebuah pengingat bahwa aku masih hidup.
0
May 30, 2018
May 30, 2018 at 8:15 AM UTC
Ketaton
Sambil mengendarai mobil, aku melirik calar yang menghiasi tangan kananku. Merah seakan salah satu kucingku baru saja mengamuk. Tapi hanya aku dan sebilah pisau di kamar yang tahu itu bukan hasil karya seekor kucing melainkan binatang yang jauh lebih biadab, depresi. Lampu dijalanan berubah merah, sambil melihat sekeliling aku tersenyum mengamati hiruk pikuk yang sedang terjadi. Aku jadi rindu perasaan utuh yang lambat laun terkikis waktu dan kalimat-kalimat bernoda. "Kurang kuat iman sih" Tak ada kaitannya dengan imanku, sayang. "Mungkin cuma ada di kepalamu saja." Dan kepalaku adalah satu-satunya tempat dimana aku tak bisa lari. "Memang penyebab depresimu apa?" Karena 1095 hariku tercemar darah, puntung rokok, pecahan gelas, dan caci makian tiada henti. Tak semudah itu untuk keluar hidup-hidup dari kandang singa, harus ada luka yang aku tanggung seumur hidup. "Apakah kau gila?" Aku bukan gila, aku baik-baik saja. Hanya ada bagian di dalam sana yang mati dan tak bisa diperbaiki lagi. Lampu hijau dan klakson dari mobil membangunkanku dari suara-suara itu. Tapi ketika sudah melaju dengan kecepatan yang nyaman ada satu suara yang muncul lagi, menoreh hatiku. "Aku tak habis pikir bagaimana seseorang bisa nekat melukai dirinya sendiri sedangkan masih banyak yang bisa dilakukan" Kalau kau tak paham, tak mengapa. Tapi aku melakukan itu bukan untuk mati, aku lelah tak merasa apapun karena ada bagian di dalamku yang memang sudah mati. "Kau mirip banteng ketaton" Ya, aku marah kalau kau seenaknya menyebut aku gila. Aku terluka kalau kau seenaknya main hakim sendiri. Calar itu adalah sebuah pengingat bahwa aku masih hidup.
Continue reading...
20
Hatimu tumpah, malam pecah Maka sirna sudah gelisah Dan semua kalimat lelah Hatimu tumpah, kemudian malam terbelah Dan aku hanya bisa mencintaimu lewat dinding tanpa celah
0
Apr 29, 2025
Apr 29, 2025 at 11:13 AM UTC
April 2020