Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"disana" poems
dibalik jendela pesawat terbang, ada bulan purnama bulat dan terangnya sempurna malam ini saya mengarungi awan yang bentuknya jelas karena pantulan cahaya bulan bergumpal, halus, keemasan indah terpantul pada retina mata, menakjubkan lalu saya tertidur dalam mimpi saya berkereta menuju cahaya bulan saya akan sampai disana, dibulan turbolensi membangunkan saya tepat pukul 11.42 malam diluar bayangan samudra masih gelap, tidak terlihat 1 jam lagi saya akan sampai di negeri cina, kata seseorang dengan pengeras suara tidak jadi kebulan? tak apa, berbeloklah dahulu baru ke bulan Diatas awan, 26 Februari 2013
0
Mar 10, 2013
Mar 10, 2013 at 1:34 AM UTC
berbelok dahulu
kursi di bawah pohon kenari masih dengan setia duduk disana tidak peduli siapa yang mendudukinya atau siapa yang lewat di depannya ia tetap setia menunggu kedatangannya burung-burung dengan bebas menyuarakan nada-nada indah berisi pesan untuk diberikan kepadamu, tuan tanpa nama jangan berpura-pura tidak peduli kepada dunia di lubuk hatimu yang terdalam, sial, aku sangat yakin kau kesepian kau membutuhkan seorang teman yang rela mendengar ocehan mautmu sampai matahari tenggelam di ufuk barat nantinya kemarilah, tuan tanpa nama duduk bersamaku di bawah pohon kenari dan menikmati indahnya matahari senja
0
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 7:14 PM UTC
kau mendengarku
Aku cemburu pada embun pagi hari yang selalu ada disana untukmu Aku cemburu pada sinar matahari yang leluasa mendekapmu tiap kali kau terbangun dari tidurmu Kadang aku cemburu melihat hal yang membuatmu selalu tersenyum Angin yang berhembus pun tahu untuk siapa rinduku tertuju Namun aku tak ingin banyak bicara tentangmu Aku hanya ingin berada disampingmu
0
Mar 2, 2016
Mar 2, 2016 at 2:19 AM UTC
Merindu
Cinta Mungkin adalah hal yang paling sakral di kehidupan Terjadi ketika 2 insan bertemu Saling menerangi sesama Rindu Mungkin adalah hal yang paling ajaib di kehidupan Terjadi ketika dirimu terlintas di benakku Turbulensi yang bergejolak di hati dan pikiran Doa Adalah saat ketika keajaiban akan terjadi Ketika kuucapkan namamu yang begitu indah di doaku Agar didengar oleh Allah SWT Dirimu Sebuah anugerah yang sangat dijaga Begitu sucinya dirimu untuk dilihat Seolah-olah menggugurkan segala bintang Diriku.. Lelaki yang mendambakanmu Seperti kerumunan semut yang berciuman dan yang mencubit Pada waktu satu anak kecil yang menggigit-gigit kuku jari Rindu adalah bulu matamu, bergulung-gulung layaknya ombak Perempuan ciptaan cahaya Perempuan semua anggrek kesayangan Kau layaknya labuhan terjauh, pekat, tidak berujung Bolehkah aku berlayar disana?
0
Nov 11, 2017
Nov 11, 2017 at 8:33 AM UTC
Seseorang.
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 1:23 AM UTC
RUMAH
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
Continue reading...
36
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
0
Apr 6, 2019
Apr 6, 2019 at 1:49 AM UTC
Laut punya caranya
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
Continue reading...
36
berawal dari waktu memaksaku menyeret kakiku melangkah gontai sambil pergi aku merengek, terisak ! dan mengadu pada-Nya tunggu ini secepat aku berkedip barusaja ya, dulu memang aku kecil nyaliku memang masih payah masih terjerat pada keduanya bahkan sekarangpun.. keduanya ingin aku yang terbaik aku tak tahu yang dirasa mereka tapi aku sendiri berontak menyalahkan waktu yang jelas tak akan berhenti aku kutuk waktu mengapa begitu kilat ragaku masih ingin tetap dirumah tunggu, sejenak aku merasa keliru bukankah ini baik aku juga ingin membuat keduanya senang mimpi harus coba kupanjat tangga itu sudah dihadapanku aku termasuk yang beruntung bersyukurlah! batinku melerai aku meyakinkan diriku sekuat tenaga "ini bukan rumahku" gertakku saat aku tiba ditempat asing itu akupun terpaksa tinggal demi pengetahuan yang ingin kuraup iya, jika belum paham akan kujelaskan aku seorang mahasiswa sekarang predikat yang melekat padaku kini berat.. pandangan semuanya akan berbeda terhadapku sungguh aku menemui teman baik berjuang sama sama, namun tetap harus sendiri aku menarik nafas.. waktuku kini juga telah memaksaku rasanya pagi sudah menjadi sore agaknya aku harus selesaikan hariku mengerjakan tugas akhirku disana...
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:28 PM UTC
GARIS WAKTU
Poligami itu hukumnya mubah (QS. An Nisa 3) tidak ada thalab (seruan) disana secara jazm (yang menguatkan) untuk disebut berhukum sunnah, ataupun wajib. Dan tidak ada illat ataupun syarat yang menjadikannya wajib ataupun sunah. Di ayat tersebut ada frase "ma thoba" (yang kalian senangi), jadi disitu Allah memberi pilihan (atas keMahatahuannya Allah atas mahluk-Nya), karena memang mubah itu statusnya "pilihan" Kalau dianalogikan, seperti orang makan lauk kerupuk. Ada yang suka/memilih makan pake kerupuk, ada yang nggak suka. Bukan berarti yang suka makan kerupuk, lebih terpuji, dan yang tidak suka makan kerupuk, tidak terpuji. Atau sebaliknya. Dan 'adil' bukanlah illat atau syarat, dibolehkannya seorang laki-laki (suami) untuk berpoligami (menikah lagi)... Sederhananya begitu cara memahami 'hukum Allah' yang satu ini. Jangan sampai suka dan ketidaksukaan kita terhadap sesuatu membuat kita salah persepsi tentang hukum yang satu ini... Wallahu'alam ======================== Semoga yang baca nggak salah persepsi ya...
0
Mar 19, 2015
Mar 19, 2015 at 12:57 AM UTC
POLIGAMI
Mata itu membiru duka lama yang menderu Badai dan lindu mengantar jasad tubuhku Terbilang sudah berapa kali kau dan aku berjanji Diantara pagi haru dan sedikit isak tangis merdu Aku suka kala kau menangisi canda tawa terbawa pula hawa panas diantara kata berlalu Rapat-rapat tak ada dalam bisik-bisik mayat Sedepak dari liang lahat berpijak, jemari kaki peti-peti mati digusur pergi Lelah lelaki itu bertelingkah Membuang gelas yang telah dituang Meracau melampau dari batas kewarasan Disana dia merumput maut, meraut ribut Pergi pulang membaur diantar lalu lalang kabut
0
Nov 16, 2016
Nov 16, 2016 at 12:39 PM UTC
Diantar Pulang Kabut
Kutarik secarik kertas putih Kutumpahkan tinta hitam Kutulis namamu Kuceritakan segalanya Cintaku kepadamu yang terawali layaknya sebuah kepompong Hingga menjadi sebuah kupu-kupu Terbang melintas dunia Berakhir dengan kematian Tetes demi tetes tinta Menyusun kata per kata Membentuk sebuah kalimat yang ramai Mewakilkan mulutku yang membisu Untuk siapa kubuat tulisan ini? Tulisan yang tak lebih melibatkan amarah dan kebencian Namun ditulis dengan sedikit rasa cinta yang masih melekat Putih suci ditimpah hitam penuh dosa Bisik Sang Hati " Lipat dan buang. Sudah cukup sudah. " Jemari bergerak melipat surat itu Berbentuk perahu Perahu kertas. Raga berjalan ke tepi laut Seakan jiwa yang menggerakkan Mulut yang berbisu mengucapkan sebuah doa Tangan melepaskan surat itu Perahu kertas, Bawalah mimpi buruk ini berlayar denganmu Berlabuhlah di neraka Agar dosa dan penyesalan ikut terbakar disana.
0
Nov 18, 2017
Nov 18, 2017 at 4:32 AM UTC
Perahu Kertas.
Lahir dan besar di desa yang bisa dibilang sangat sejuk Tumbuh dengan aman, nyaman dan bahagia Bermain ke ladang, kebun, sungai, bahkan hampir seperti hutan Selalu aman dan tetap jauh dari bahaya Teman-teman berdatangan ke rumah untuk bermain dan berbagi cerita Berkumpul seperti keluarga besar Lalu aku pergi dari desa dimana aku dilahirkan dan mulai tinggal di tempat yang baru di desa yang baru dengan situasi yang berbeda Aku tumbuh disana dan mengenal berbagai pembaharuan Hari demi hari hingga bertahun-tahun aku menyaksikan berbagai perubahan Dimana banyak perubahan yang sulit dipercaya Hampir segala sesuatu yang aku lihat dan alami sulit dipercaya Hingga timbul perasaan tidak nyaman, gerah, takut, sesak, terancam, tertindas di tempat yang ku sebut rumah Rumah, bukan bangunan yang aku tinggali Tapi disini, di tanah aku berpijak Semua sudah tak lagi sama Hingga muncul dalam otakku Haruskah aku tinggal atau aku tinggalkan? Rumah, Aku merindukanmu
0
Feb 10, 2017
Feb 10, 2017 at 1:46 AM UTC
Rumah
Disana, Diantara bisingnya kerumunan kota, Aku berdiri sejenak, Mendengar alunan musik mengendus sajak. Beberapa pasangan mata menoleh, Menutur, menyinyir, Mengikuti bayangan dosa lama Yang telah tenggelam, Dilahap oleh manisnya senyum Dan tawa para badut malam. Lepuh, rasanya. Lilin-lilin yang menginduk di kulitku kian meletih Teriak pedih tak kunjung hari Terhambur sudah harapan palsu ini.
0
Jan 19, 2018
Jan 19, 2018 at 10:53 AM UTC
Kecemasan Tak Kunjung Kala
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun. Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata. Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni. Ini tentang apa yang hidup di dalam sana. Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja. Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu. Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir. Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya. Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku. Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
0
Apr 25, 2019
Apr 25, 2019 at 5:39 AM UTC
Rumah
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun. Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata. Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni. Ini tentang apa yang hidup di dalam sana. Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja. Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu. Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir. Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya. Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku. Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
Continue reading...
10
Bersahut Melontarkan kata Bukan, ternyata kalimat Bukan, tapi sajak Kalau sajak, Tak tercerminkan keindahan Seperti nyanyian Bukan, tak ada nada indah disana Mempelai pria siap Si Pitung bajakan muncul Mempelai wania siap Bapaknya datang Hingga 'Aye terima pihak mempelai pria'
0
Apr 22, 2016
Apr 22, 2016 at 7:01 AM UTC
Gurindam
Tubuhmu seperti lukisan abstrak— Tapi aku ingin tetap melihat. Disana, mungkin aku bisa menemukan sesuatu; Sesuatu yang membuatku singgah Seperti memori indah.
0
Oct 30, 2018
Oct 30, 2018 at 1:07 AM UTC
Kamu
aku bersebrangan dengan angan dan mauku sulit jika tak ada prantara jatuh terperosok mungkin hal biasa terjungkal aku tak mengapa hanya jembatan asa yang dirajut harapan kuat yang jadi kebutuhan dan kekuatan
0
Nov 15, 2018
Nov 15, 2018 at 7:15 AM UTC
ada mimpi disana
Katanya aku berani suatu masa pernah kuikuti bela diri tetapi dibilang seperti lelaki sedikit sulit untuk merelakan ucapan lewati kuping kiri padahal seringkali harus kulakukan segalanya sendiri kadang pernah berandai punyai saudara atau saudari Ya, aku tahu itu cuma mimpi Kusyukuri saja dan nikmati Katanya lagi pasti semuanya dituruti tidak seperti yg dipikiri terkadang kucicipi sunyi namun ada yang lebih sepi toh nantipun disana* juga sendiri bila boleh meminta..jangan pernah pergi, pelangi bila jujur tak bisa ku sendiri ajariku tuk lebih dewasa lagì dengan warnamu ku pelajari bahwa hidup miliki arti
0
Nov 6, 2019
Nov 6, 2019 at 9:47 AM UTC
Kepada diri
Setelah kurasa lelahku butuh hiburan Aku ingin meredakan linu-linu Lancong ke kepalamu mungkin bisa jadi pilihan Membawa kangen yang tertumpuk penuh akhir akhir ini Merebahkan tubuhku disana dan bicara tentang senja yang memar di punggungmu
0
May 14, 2018
May 14, 2018 at 4:56 AM UTC
Lancong
Jangan kegeeran Siapa tau lo nyari nama gue di hellopoetry Bukan apa-apa Semua puisi yang pernah gue tulis Bukan buat lo Tapi buat gue sendiri Gue emang pengecut cuma bisa nyampein disini Yakali juga gue bilang ke lo Sadar Lo juga pengecut Cuma bisa ngira Gue mikirin lo suka lo dll Mau tahu orang yang beneran gue sayang? Yang beneran gue suka? Yang udah mandiri Yang udah bisa mikir masa depan Yang gak manja ke mama papanya. Orang kaya gitu ada And i fell in love with him Not with you ******* -tertanda, cewek yang cuma nganggep lo gak lebih dari seorang pecundang.
0
Mar 24, 2017
Mar 24, 2017 at 11:14 AM UTC
Hai, yang disana.
Langitku penjajah Menghalangi hangatnya mentari tubuhku diinjak, teriakanku dibantah Air mataku mengalir, ketawanya nyaring Dimana langitku dijunjung Disana diriku ditindas
0
Aug 30, 2019
Aug 30, 2019 at 1:42 PM UTC
Cerita bumi
Bacakan untukku tragedi penghancur semesta Dalam bayang yang merana Ditengah malam para pendosa Bacakan untukku kematian yang harum Melesat masuk kedalam ringkuhnya tulang-tulangmu Hingga remuk berbutir pasir Panggil para penguasa dalam mayanya utopia Biar mereka merangkak disana
0
Aug 11, 2020
Aug 11, 2020 at 12:18 PM UTC
Bacakan
Hembusan angin sayu, menyapa rumput sendu Rintik hujan turun segan, basah ranting kerontang Seolah bersatu padu, gambarkan kecewaku Mereka kata "lihat mata si bodoh keluar tangis" Kubilang "pergi jauh dasar iblis" Sendiri kini kau disana Gantung diri hilang kecewa Jatinangor, 21 Desember 2017
0
Dec 21, 2017
Dec 21, 2017 at 9:05 AM UTC
Seni Diri
Bukan sinonim matahari atau mentari, namun, sama-sama menyinari. Jika aku harus memilih untuk menghirup satu aroma, dengan lantang akan ku jawab "aroma tubuh mungilnya, wahai saudara." Seakan tersihir oleh cengkih khasnya, lekuk tubuhmu buatku merona. Sungguh, kau buatku sakit jiwa. Aku ingin terus menghisap tubuh indahnya. Menikmati setiap rasa manis yang ada disana. Karena manismu absolut, tertinggal dalam bibir penuh asap kabut. Kiranya bisa ku putar kembali waktu, nampaknya akan ku salami orangtuamu, meminta restu untuk hidup lebih lama bersamamu. Kiranya diberi nyawa, nampaknya ku terpesona jatuh cinta. Kiranya bisa kau tebak, sedang ku nikmati tubuh surya dalam malam nan panjang.
0
Feb 13, 2025
Feb 13, 2025 at 11:49 AM UTC
Surya
TANDUS Ketika kamu sudah mulai terbiasa, apa yang bisa memaksa? Segala bentuk, bahkan segala hal yang buruk rupa Yang kau benci pada mulanya Sekarang kau menikmatinya, bukan? Apa yang tumbuh di dalam sana? Di tanah yang mati kelihatannya. Yang tak pernah berharap ada biji yang tumbuh disana Tak ada buah yang diinginkan Hanya tanah tandus tanpa harapan Betapa hebatnya waktu, bermain diatas hati manusia. Mencoret, daan sekenanya menghapus tanpa mengizinkanku untuk memilih. Kenapa tanah itu tak terus tandus saja? Entah dari mana datangnya biji emas itu. Yang hanya menimbulkan keserakahan dan kedengkian hati manusia. Cuma aku sekarang disini. Diatas tanah subur yang dulunya tandus Ditengah bunga bunga yang sedang merekah. Jadi gagak hitam yang mematuki biji emas. Antara berusaha mengukir emas dengan paruh tuanya Atau berpikir emaslah sisa hidupnya. Dua-duanya mustahil. Tanah yang tandus itu sendiri, tak juga bergeming dari bubungan harapan. Menanyakan ketulusan, dimanakah letaknya?
0
Mar 24, 2018
Mar 24, 2018 at 10:26 AM UTC
Tandus