Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"buruk" poems
Senja djakarta enam belas januari dua ribu lima belas . di hadapan leptop , aku merangkai kata demi kata untuk menghasilkan sebuah karya yang indah . ku tatapi sekelilingku ... benda mati , sepi, lengang ... andai printer yang disampingku itu berbicara... gunting itu berkata, dan pulpen ini berteriak , akan aku ceritakan sebuah kisah klasik ini di hadapan benda-benda itu . entah apa yang aku rasakan saat ini . abstark sepertinya . aku pernah berangan-angan menikmati teh rosela bersama bapakku didalam dekapan senja hangat mengantarkan mentari itu pulang , dalam dekapan . bapak yang aku rindukan kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini . Maafkan aku mama, aku tidak pernah serindu ini kepada bapakku . tapi percayalah , kedudukanmu dihatiku selalu ku prioritaskan bak malaikat yang selalu menjagaku setiap hari . Mama... bisakah engkau wakilkan rasa ini kepada bapakku , bahwa aku ingin mencium tangannya . kemudian ia tersenyum merasakan hangat cinta anakknya . rasa apa yg lebih berarti daripada menahan rindu ini , menahan rindu akan sosok bapakku yang genap 8 tahun sudah tidak pernah menyapaku lagi . aku tidak ingin mengingatnya dengan kenangan buruk , tetapi aku akan mencoba menguburnya ,dan ini lah saatnya aku menjadi pribadi yang berubah . bapak, tahukah engkau pak , aku sudah beranjak dewasa, dr dewasa itu aku menemukan siapa diriku sebenarnya . sadar bahwa aku bukanllah apa-apa tanpamu pak . sadara bahwa aku di dunia ini karena mu dan ibu . maafkan aku yang tidak pernah mendegarkanmu . Senja ... saksikanlah bahwa aku ingin sekali bapak duduk di pelaminan bersama ibu , dan aku berada tepat di bawah kakiknya . sembah sungkem merestui pernikahanku bersama pria yang dikirimkan ALLAH untukku .
0
Jan 16, 2015
Jan 16, 2015 at 6:09 AM UTC
Senja
Senja djakarta enam belas januari dua ribu lima belas . di hadapan leptop , aku merangkai kata demi kata untuk menghasilkan sebuah karya yang indah . ku tatapi sekelilingku ... benda mati , sepi, lengang ... andai printer yang disampingku itu berbicara... gunting itu berkata, dan pulpen ini berteriak , akan aku ceritakan sebuah kisah klasik ini di hadapan benda-benda itu . entah apa yang aku rasakan saat ini . abstark sepertinya . aku pernah berangan-angan menikmati teh rosela bersama bapakku didalam dekapan senja hangat mengantarkan mentari itu pulang , dalam dekapan . bapak yang aku rindukan kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini . Maafkan aku mama, aku tidak pernah serindu ini kepada bapakku . tapi percayalah , kedudukanmu dihatiku selalu ku prioritaskan bak malaikat yang selalu menjagaku setiap hari . Mama... bisakah engkau wakilkan rasa ini kepada bapakku , bahwa aku ingin mencium tangannya . kemudian ia tersenyum merasakan hangat cinta anakknya . rasa apa yg lebih berarti daripada menahan rindu ini , menahan rindu akan sosok bapakku yang genap 8 tahun sudah tidak pernah menyapaku lagi . aku tidak ingin mengingatnya dengan kenangan buruk , tetapi aku akan mencoba menguburnya ,dan ini lah saatnya aku menjadi pribadi yang berubah . bapak, tahukah engkau pak , aku sudah beranjak dewasa, dr dewasa itu aku menemukan siapa diriku sebenarnya . sadar bahwa aku bukanllah apa-apa tanpamu pak . sadara bahwa aku di dunia ini karena mu dan ibu . maafkan aku yang tidak pernah mendegarkanmu . Senja ... saksikanlah bahwa aku ingin sekali bapak duduk di pelaminan bersama ibu , dan aku berada tepat di bawah kakiknya . sembah sungkem merestui pernikahanku bersama pria yang dikirimkan ALLAH untukku .
Continue reading...
4
Hidup dengan segala problematikanya sejenak senang sejenak tenang sejenak buram sejenak suram Matahari bawaku cahaya Tapi aku kepanasan Hijab bawaku perlindungan Tapi aku tertutup Pohon bawaku udara Tapi aku tumbangkan untuk wi-fi Ini baik tapi ini buruk. Lalu hadir kerutan ditengah keningku Melengkapi lipatan hitam mata ini Hasil semua akar-akar pikiran Bola matapun sekarang berfilter Kuingat mawar pemberiannya Gambar persembahan mereka Seluruh tumpahan merah muda itu Tapi tetap saja kabut dari belakang datang Ia bersembunyi hanya tuk muncul kembali - - - Mengapa begini? Terlalu banyak tapi Mengindahkan kebingungan Terbawa kelelahan
0
Nov 10, 2014
Nov 10, 2014 at 6:58 AM UTC
Kontradiksi
*Hujan hari ini begitu deras Dan selepasnya tak kulihat pelangi Tak seperti dongeng-dongeng malam Atau ayat-ayat motivasi penguat hati* *Hujan hujan sebelumnya juga begitu Ku lihat ikan-ikan kesakitan terkena derai siram hujan Lelaki tua peminta kedinginan kebasahan Listrik menyambar, tiang jatuh, seorang anak tertimpa* Buruk, buruk, buruk "Hei ayo bermain!" *Lamunanku terjerat Segerombolan bocah kecil menari dibawah derasnya hujan Bernyanyi gembira nyengir tak terkira Aku menjeling, aku mempelajari, aku mulai tersenyum Agaknya aku yang lupa Tak kupandang rumput kehausan bersorak menanti tibanya air minum mereka Sisi pandangkulah salah Aku menyalahkan pelangi Tak kulihat bahwa petani begitu bahagia dan menanti Ini semua bukan tentang pelangi warna warni itu Pelangi yang sesungguhnya ada disekelilingmu Jangan merana Jangan sepertiku Yang kulihat hanya aku dan segala kesepian ini*
0
Oct 15, 2016
Oct 15, 2016 at 8:52 AM UTC
Pelangi Ucapan Syukur
Aku terlalu kecil Sekecil titik di atas kertas kusut Aku hanyalah satu dari ribuan bahkan tak terlihat Terlindung dalam cangkang sempit dan tipis Bersembunyi di balik daun yang mulai berubah warna Rumah pertamaku akhirnya aku terlahir sebagai sesuatu yang aneh Aku si buruk rupa Tubuhku dipenuhi bulu Merangkak lemah menyusuri ranting Menggerogoti daun disekitar membuatnya berlubang melarikan diri dari burung Bergulat dengan semut rangrang Membuat saya jatuh ke tanah Hingga buluku rontok berserakan Hanya cacing yang menyapa Mereka membenci saya sangat Aku bisa terbunuh, tidak semuanya menerimaku sampai aku terjebak dalam dimensi lain Aku si  ulatbulu kesepian yang bersembunyi Bertapa di dalam kantung usang yang kecil Mencoba untuk membunuh waktu Berjuang dalam kegelapan untuk mencapai keindahan Sudah cukup persinggahanku Mengarungi kerasnya penantian panjang yang membelenggu Aku terlahir kembali menjadi berbeda dan mereka menyukaiku kebahagiaan berlimpah tiba terbang tanpa batas dengan kedua sayap yang cantik pergi ketempat yang indah yang kumau
0
Sep 16, 2016
Sep 16, 2016 at 10:23 PM UTC
Metamorfosa
Palembang, 26 April 2015 Dear Mama, Aku ingin bercerita Aku seperti orang buta, Mama Aku tidak bisa melihat mana hal yang baik, mana hal yang buruk Aku tidak bisa membedakan di antara keduanya, Mama Mama Sayang, Aku ingin bercerita Aku seperti orang lumpuh, Mama Aku tidak bisa menyelesaikan masalahku sendiri Bahkan aku memilih berdiam diri daripada menghadapinya Mamaku yang Cantik, Aku ingin bercerita Aku seperti orang tuli Aku sedikitpun aku tidak menghiraukan dunia sekitar Aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri Mama, Aku ingin bercerita Aku pembuat onar di sini, aku ingin pulang ke pelukanmu Aku ingin jadi anak baik Seperti saat masih di dalam pengasuhanmu Mama, aku rindu Mama
0
Apr 26, 2015
Apr 26, 2015 at 12:51 PM UTC
Dear Mama
Palembang, 30 Desember 2013 Ini terjadi lagi, tuk yang kesekian kali Jiwaku terbentur batu, keras sekali Retak, hampir pecah berapi Gesekan kemarahan dan penyelesaian hati Menjadi mayat tak berhati Tak mampu berfikir lagi Menahan diri tuk bertahan dalam raga ini Meski kaki ini tak mampu berdiri Nafas ini tak mampu berhembus lagi Hanya satu yang aku yakini Keajaiban yang benar ada di dunia ini Rencana indah Tuhan yang lain Yang tak pernah bisa dihindari Hidup tidak selalu buruk atau baik Perubahan kecil sangatlah berarti Tuk hidupku yang sunyi Aku memang sendiri Tapi ku tak ingin sembunyi Apapun yang kan terjadi akan ku hadapi aku yang memilih aku yang jalani Ini bukanlah janji Ini adalah curahan hati Keinginan yang tak mampu ku raih Namun ku jua tak lelah berlari Meraih keingnan di hidup ini Jika kalian membaca ini Tolong, hargai dan temani Aku di sini sendiri ...
0
Dec 30, 2013
Dec 30, 2013 at 2:09 AM UTC
Curahan Hati
Serasa haru , campur bahagia , sedih , kesal senang juga . bercampur menjadi satu ketika aku mendengar bahwa sahabat tercintaku akan menikah dengan kekasih pujaannya . Haru kenapa? Terharu saja , disisi lain aku kagum akan usahanya memperjuangkan cintanya trhdp org yg dia cinta sejak bbrpa tahun lalu. padahal , jika boleh menengok kebelakang , kisah cinta mereka terbilang sangat rempong . Yaaa... beberapa kali sebut saja novi kerap menghubungiku utk meminta petuah2 apa saja yang bisa membuat dia gak cemburu buta lagi hanya karena si cwoknya ketemu mantan via jalur reuni . Dan kesalnya adalah , mereka menikah dengan jalan pacaran . Padahal , Dalam islam tdk menganjurkan pacaran ,meskipun kegiatan itu sudah menjadi budaya seluruh dunia . Tidak melihat dari sisi buruk . aku hanya bisa mendoakan saja , agar ALLAH memudahkan segala hajat . menjadikan kalian sepasang suami istri yg saling mencinta di dunia sampai meggapai jannahNYA . Semoga Bahagia selalu sahabatku NOVI APRIANI ,
0
Mar 6, 2015
Mar 6, 2015 at 4:09 AM UTC
^_^
Mumet i hate you ! Mumet tingkat kecamatan ! Mumet adalah ketika suasana hati sedang tidak bagus + badan yang lelah karena kerja terus-menerus + fikiran tidak fokus + tempat kerja yang jenuh menjerumus + dompet telah kurus + temen berprasangka buruk dan berkata ketus + orang tua banyak menuntut khusus + janji diingkari terus + keinginan terputus + harus menunggu, akhirnya emosi tingkat kedusunan menyebabkan pening d bagian alis kiri yang serius + semua orang tiba2 pergi dengan berbagai jurus = Sehingga merasa sendiri tak terurus... akhirnya sakit tipus, tinggal menunggu waktunya pupus*
0
Mar 2, 2015
Mar 2, 2015 at 4:31 AM UTC
Mumet
Kutarik secarik kertas putih Kutumpahkan tinta hitam Kutulis namamu Kuceritakan segalanya Cintaku kepadamu yang terawali layaknya sebuah kepompong Hingga menjadi sebuah kupu-kupu Terbang melintas dunia Berakhir dengan kematian Tetes demi tetes tinta Menyusun kata per kata Membentuk sebuah kalimat yang ramai Mewakilkan mulutku yang membisu Untuk siapa kubuat tulisan ini? Tulisan yang tak lebih melibatkan amarah dan kebencian Namun ditulis dengan sedikit rasa cinta yang masih melekat Putih suci ditimpah hitam penuh dosa Bisik Sang Hati " Lipat dan buang. Sudah cukup sudah. " Jemari bergerak melipat surat itu Berbentuk perahu Perahu kertas. Raga berjalan ke tepi laut Seakan jiwa yang menggerakkan Mulut yang berbisu mengucapkan sebuah doa Tangan melepaskan surat itu Perahu kertas, Bawalah mimpi buruk ini berlayar denganmu Berlabuhlah di neraka Agar dosa dan penyesalan ikut terbakar disana.
0
Nov 18, 2017
Nov 18, 2017 at 4:32 AM UTC
Perahu Kertas.
1/ Biasanya aku melihatmu di pojokan ruang itu. Melamun betapa sedih dan merananya jika jadi dirimu. Senyummu usang, sudah selayaknya kau buang. Atau paling tidak, kau gadaikan ke pasar loak. Pertimbangkan, aku bahkan menawarkan diri untuk jadi gerobak rombengnya. 2/ Mengamatimu bagai meneliti susunan arsitektur sarang semut, bercabang rumit walau sekelumit rahasiamu tak terungkit, atau paling tidak cerita masa lalu mu tak pernah terkuak. Omong-omong, sudah tiga hari aku datang dan duduk di bangku yang sama, bahkan meja dan kursinya tak segan menyapaku dari kejauhan "kawan, mari duduk sini dan amati keindahan". Aku tak begitu paham bahasa furnitur, jadi ku jawab seadanya. 3/ Duduk diam mengawasi kerumunan, siapa tahu kau kembali terlihat, tanpa terhalangi punggung, atau ransel. Pintu maupun kerudung. Jangan bilang aku penguntit, karena aku tak bermaksud buruk. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk sekedar bertukar sapa, atau paling tidak tatapan mata. Menurut ku matamu cukup layu jika tak ada kawanmu yang menemani. Air mukamu tak pernah kulihat benar-benar menikmati hidup merdeka, mereka tetap saja terjajah. Entah karena sedih atau kecewa. 4/ Hari ini kau tak ada di antara kerumunan, tak ada dalam ruang, tak ada diantara rekan, tak pula hadir dalam lamunan. Aku takut telah menculikmu tanpa sengaja dengan tatapan. Aku terus memandang kedepan, mendengar percakapan. 5/ Tak ada. Aku tahu. Tak berharap pula aku akan tibamu di dalam ruang. 6/ Aku mendengar gosip dan rumor, bahwa kau yang di ujung ruang telah berpindah ke lain ruang. Ujung koridor. Aku bergegas kesana. 7/ Hari ini aku berhasil mengejarmu, berbicara padamu. Tapi kau tampak tak senang, dan hanya mengulang kata-kataku. Aku juga tak sengaja menemuimu di toilet. Masih mengulang kata-kataku. Sore ini aku berjanji akan menemuimu di ruang ujung koridor. Kala itu, dia menghadap cermin. Menyapa citranya sendiri. Di ruang ujung koridor.
0
Oct 18, 2017
Oct 18, 2017 at 11:08 PM UTC
Anagram Sirnaksit di Ruang Ujung Koridor
1/ Biasanya aku melihatmu di pojokan ruang itu. Melamun betapa sedih dan merananya jika jadi dirimu. Senyummu usang, sudah selayaknya kau buang. Atau paling tidak, kau gadaikan ke pasar loak. Pertimbangkan, aku bahkan menawarkan diri untuk jadi gerobak rombengnya. 2/ Mengamatimu bagai meneliti susunan arsitektur sarang semut, bercabang rumit walau sekelumit rahasiamu tak terungkit, atau paling tidak cerita masa lalu mu tak pernah terkuak. Omong-omong, sudah tiga hari aku datang dan duduk di bangku yang sama, bahkan meja dan kursinya tak segan menyapaku dari kejauhan "kawan, mari duduk sini dan amati keindahan". Aku tak begitu paham bahasa furnitur, jadi ku jawab seadanya. 3/ Duduk diam mengawasi kerumunan, siapa tahu kau kembali terlihat, tanpa terhalangi punggung, atau ransel. Pintu maupun kerudung. Jangan bilang aku penguntit, karena aku tak bermaksud buruk. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk sekedar bertukar sapa, atau paling tidak tatapan mata. Menurut ku matamu cukup layu jika tak ada kawanmu yang menemani. Air mukamu tak pernah kulihat benar-benar menikmati hidup merdeka, mereka tetap saja terjajah. Entah karena sedih atau kecewa. 4/ Hari ini kau tak ada di antara kerumunan, tak ada dalam ruang, tak ada diantara rekan, tak pula hadir dalam lamunan. Aku takut telah menculikmu tanpa sengaja dengan tatapan. Aku terus memandang kedepan, mendengar percakapan. 5/ Tak ada. Aku tahu. Tak berharap pula aku akan tibamu di dalam ruang. 6/ Aku mendengar gosip dan rumor, bahwa kau yang di ujung ruang telah berpindah ke lain ruang. Ujung koridor. Aku bergegas kesana. 7/ Hari ini aku berhasil mengejarmu, berbicara padamu. Tapi kau tampak tak senang, dan hanya mengulang kata-kataku. Aku juga tak sengaja menemuimu di toilet. Masih mengulang kata-kataku. Sore ini aku berjanji akan menemuimu di ruang ujung koridor. Kala itu, dia menghadap cermin. Menyapa citranya sendiri. Di ruang ujung koridor.
Continue reading...
16
Aku membencimu, karena kau buatku benci akan diri. Ya, benci tidak bukan adalah rasa yang buruk. Tetap saja kubenci. Aku benci Untuk semua indera kesepian yang kerap kau tebar, oh hanya untukku. Atas semua rasa ketidakbisaan yang tentu diberi tanpa sadarmu. Kepada semua cita keserupaan yang dengan sederhana menyeret sendu. Dalam semua ragam roman yang buatku mati kutu. Lalu yang terpenting... dengan semua daya tarikmu. Tidak, kau keliru. Aku tidak memujimu, sudah jelas tertera; aku membencimu. Ugh, kau buatku sesak sampai kepayang Tersengal-sengal, girang.
0
Jan 19, 2015
Jan 19, 2015 at 9:41 AM UTC
Roman Kepunyaanmu
mungkin aku gila semua tidak ada yang sempurna.. bagaimana hati ini bisa berlabuh di kamu? aku tak ingin mengiginkanmu lebih dari apapun aku ingin sendiri.. aku tak mau mengulangi kesalahan itu lagi memang aku harus akui jikalau.. bahwa aku tidak bisa menerima dengan apa adanya itu bukanlah hal yang buruk karena aku memang layak.. pantas mendapatkan cinta yang sebenarnya
0
Feb 14, 2017
Feb 14, 2017 at 10:27 AM UTC
mungkin aku gila (perhaps i'm crazy) // [bahasa]
Diamku itu sebentuk kedewasaan hasil tempaan semesta Pura-pura rabunku itu sebentuk kedewasaan bisikan suruhan semesta Jarak tubuhku yang sengaja kujauhkan itu sebentuk kedewasaan kesadaran yang ditumbuhkan semesta Mungkin bumi terlalu banyak diputari bulan mungkin juga ini jawaban doamu sampai akhirnya membawaku padamu lagi aku bisa saja menghampiri & menhakimimu atau memuntahkan segala rasa & pikiran saat itu Kedewasaanku itu bukan hanya cerdiknya lidah bertutur manis kau saksikan sendiri matangku Memang masih sedikit perih hantu kenangan buruk yang terpanggil dadakan Kedewasaanku itu adalah sebentuk ikhlas adalah bentuk penepatan janjiku bahwa tidak akan kuganggu dirimu Kau tahu tidak?
0
Mar 1, 2020
Mar 1, 2020 at 8:15 AM UTC
Bukan Tidak Bisa Bergerak
Aku terbakar dalam diam Dengan detak jantung kencang Dan kekuatan menghilang Kesunyian di dalam diriku ini Tak mempunyai ketenangan Ia memberontak, membising, Menjatuhkan serpihan kaca Dengan tangan lantang Aku mencoba berteriak Tapi tenggorokanku menolak, Seolah dicekik oleh tangan hitam Yang mengingat mimpi buruk malam.
0
Oct 25, 2018
Oct 25, 2018 at 9:12 PM UTC
Terbakar dalam Diam
Hembusan angin menderu rayu, Tak henti aku mendengar cerita tentang bagaimana kau sangat mencintai hidupmu, Bagaimana kau selalu melihat kebaikan dalam segala keburukan. Bagaimana kau selalu memaafkan dalam segala kecerobohan. Sial, bagaimana ada orang seperti kamu hadir di dunia? Tidak pernah mengkhawatirkan tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi, Tidak seperti aku. Kembali aku menoleh ke matamu, Yang katanya bintang pun tidak bisa bersinar se terang itu. Ku pertajam lagi tatapku, Meyakinkan diri bahwa bintang pasti menang, Dia pasti menang atas dirimu. Sial, aku salah lagi. Kamu menang atas segalanya. Termasuk atas diriku.
0
Sep 24, 2019
Sep 24, 2019 at 3:27 PM UTC
Kamu.
Semesta, aku sedang senang Mungkin awalnya dia duluan yang senang Tapi dia berikan aku kata dalam suara Bukan sekedar huruf Tapi ini bukan tentang dia yang kamu tau Bukan, bukan dia yang berhasil singgah dihati Masih dia yang menjadi sahabat dalam sepi Dia yang bercerita dalam hujan Seolah suaranya datang bersama angin Tapi anehnya, yang aku rasakan hanya bahagia Tidak ada takut sedikitpun Tidak ada niatan buruk tersirat apalagi tersurat Senyumnya sejuk seolah membawa pelangi Sehabis hujanku reda
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 11:35 AM UTC
Senyum sejuk
Bulan kembali memutari bumi untuk ke-enam kalinya di tahun ini. Bersyukur, hanya itu yang dapat kulakukan untuk segala nikmat yang masih kurasakan. Kalau kata Pak Sapardi, dalam sajaknya « Hujan Bulan Juni ». Ia itu tabah, bijak, dan arif. Namun, akankah ia turun kali ini? untuk merahasiakan, menghapus, dan membiarkan–– ––segala sesuatu perbuatan manusia, pun baik dan buruk.
0
Jun 1, 2020
Jun 1, 2020 at 2:25 PM UTC
JUNI
Aku sering di beritahu bahawa apa yang kita buat pada hari ini dan sebelumnya bakal ada balasannya di kemudian hari sama ada dalam bentuk baik atau tidak dan aku sering berfikir bahawa tidak kira berapa teruk kita di layan orang dan berapa buruk perlakuan yang orang lakukan pada kita akan di balas dengan kebaikan pada masa hadapan. Sabar itu indah, tapi ter kadang aku hilang sabar, menghadap manusia yang ignorant, menghadap manusia yang bodoh, manusia yang pentingkan ego, dan manusia yang kurang ajar.
0
Jun 23, 2017
Jun 23, 2017 at 2:13 PM UTC
Hidup.
Trotoar yang basah karena es yang mencair, Ungkapan penyesalan beserta cacian terlontarkan. Seseorang memilih hidup di masa lalu, Seseorang yang ingin merubah semuanya, Seseorang yang ingin mencari tujuan, Kita semua punya dosa masing-masing bukan "Kami tertawa kami sepakat ini semua baru permulaan." Beberapa pria sulit menceritakan hal buruk yang terjadi pada dirinya, Beberapa dari kita terjebak dalam rutinitas yang tidak pernah kita sukai, Pola yang berulang setiap pekan. 21 yang menyebalkan, namun penuh pelajaran Kami melempar dadu yang sama berkali-kali dan menebak angka yang salah, Kami anggap ini skakmat kehidupan Menunggu dimakan atau membalas menyerang. 2025 reydmh
0
May 19, 2025
May 19, 2025 at 3:23 PM UTC
Pagar besi & botol hijau
TANDUS Ketika kamu sudah mulai terbiasa, apa yang bisa memaksa? Segala bentuk, bahkan segala hal yang buruk rupa Yang kau benci pada mulanya Sekarang kau menikmatinya, bukan? Apa yang tumbuh di dalam sana? Di tanah yang mati kelihatannya. Yang tak pernah berharap ada biji yang tumbuh disana Tak ada buah yang diinginkan Hanya tanah tandus tanpa harapan Betapa hebatnya waktu, bermain diatas hati manusia. Mencoret, daan sekenanya menghapus tanpa mengizinkanku untuk memilih. Kenapa tanah itu tak terus tandus saja? Entah dari mana datangnya biji emas itu. Yang hanya menimbulkan keserakahan dan kedengkian hati manusia. Cuma aku sekarang disini. Diatas tanah subur yang dulunya tandus Ditengah bunga bunga yang sedang merekah. Jadi gagak hitam yang mematuki biji emas. Antara berusaha mengukir emas dengan paruh tuanya Atau berpikir emaslah sisa hidupnya. Dua-duanya mustahil. Tanah yang tandus itu sendiri, tak juga bergeming dari bubungan harapan. Menanyakan ketulusan, dimanakah letaknya?
0
Mar 24, 2018
Mar 24, 2018 at 10:26 AM UTC
Tandus
Ku berharap esok pagi matahari bersinar cerah Ku berharap hatiku yang gelisah sirnah Ku berharap perjalanan hidupku berubah Ku berharap segala kegalauan ku pecah Ku berharap hari-hariku bahagia Ku berharap kanan kiriku sejahtera Ku berharap atas bawahku mulia Ku berharap sisi-sisi kehidupan terarah Ku berharap masa depan yang ceria Ku berharap kegelapan tidak nyata Ku berharap mata dan hati terbuka Ku berharap hanya sukacita melanda Ku berharap segala yang buruk tiada Ku berharap kemajuan semata Ku berharap matahari dan cahaya Ku berharap kakiku tetap lincah Tapi semua itu hanya ku berharap Belum tentu seperti yang Kau tatap Ajarku tetap berharap Hanya kepada Kau saja....
0
Oct 31, 2017
Oct 31, 2017 at 11:13 PM UTC
Harapanku
Mimpi buruk ini menjadi nyata Tetapi tetap tidak seburuk yang kukira Ketika melihat kau lebih bahagia Meskipun harus meninggalkan luka. Belajar melupakan nya Seraya mengharap kedatangannya Berusaha menerima kenyataan Tetapi tetap saja berfikir cara untuk mendapatkan kembali hatinya.
0
Oct 19, 2019
Oct 19, 2019 at 6:16 AM UTC
1
Bagaimana jika sebenarnya dia tahu? Setiap malam aku bertanya hal yang—tidak penting. Mungkin dia berpikir aku hanya bosan, atau kembali ke kalimat pertama. Konsekuensi yang kudapat akan lebih buruk dari yang kukira, sudahlah. Ingin menyerah tapi sebut saja "Janur kuning belum melengkung" Lagipula, yang datang belum tentu singgah, apalagi tinggal.
0
Apr 12, 2020
Apr 12, 2020 at 10:07 PM UTC
Senin, 13 April 2020
Kau juga tau bahwa melepaskan sesuatu akan selalu terasa berat.. Apa lagi jika yang kau lepaskan itu adalah hal yang ter-amat-sangat berarti bagi hidupmu. Tapi melepaskan juga tidak selalu buruk. Apa lagi jika itu selalu membuatmu merasa tertekan. Tidak semuanya yang berarti untukmu akan selalu membuatmu bahagia, terkadang justru malah menjadi beban. Kini aku pun sadar.. Dan kau akan selalu tau bahwa aku tak pernah berani untuk melepaskan. Tapi kali ini rasanya untuk apa aku terus mengikat yang sudah hilang. Dengan sisa kekuatan yang aku punya Dengan rasa enggan yang teramat sangat Aku akan melepaskan.
0
Nov 21, 2019
Nov 21, 2019 at 9:27 AM UTC
Melepaskan