Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"bukanlah" poems
*ada kalanya dimana aku akan duduk tersungkur di pojok ruangan memandangi selembar foto dirimu tersenyum bahagia disebelahnya kau sangat cocok bersamanya bahkan, tangan yang dulu rasanya pas disela-sela tanganku itu terlihat lebih cocok bersamanya dibandingkan denganku sudah beberapa kali aku mencoba untuk merelakanmu tanpa pernah memilikimu ikatan batinku terlalu kuat tidak bisa begitu saja aku melepasnya 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar, bukan? aku sudah tidak menunggumu pulang lagi karena aku tahu kau tidak akan pernah pulang lagi kepadaku dan aku harus belajar melepasmu*
0
Aug 14, 2014
Aug 14, 2014 at 8:53 PM UTC
tanpa judul
Sebetulnya tidak ada yang terlalu berbeda pada Jogja malam itu, namun memang spesial. Ada kamu di hadapanku, diterangi remangnya lampu kedai kecil tempat kita berdua berteduh dari gerimis dan dinginnya kota Jogja malam itu. Kamu tidak banyak bicara, sibuk dengan sepiring gudeg dan segelas wedang jahe favoritmu. Aku tidak bisa berhenti memandangi parasmu. Meski hanya diterangi lampu remang-remang, dan peluh yang basah akan air hujan, bagiku kamu tetap nomor satu. Sang pemilik kedai pun memutar piringan hitam miliknya, terlantunlah ‘Berdua Saja’. Aku masih ingat betul tatapanmu malam itu seiring dengan alunan lagu. Sederhana, teduh, dan penuh dengan kehangatan. Malam itu, aku sadar bahwa rumah tempatku pulang bukanlah bangunan bata beratap dengan satu pintu dan dua jendela. Malam itu aku sadar, Sepasang mata bola yang teduh dan hangat itulah tempatku pulang. Kamulah tempatku pulang.
0
Oct 22, 2016
Oct 22, 2016 at 12:20 AM UTC
11.00 - Aku, Kamu dan Jogja.
Palembang, 5 September 2012 Aku melihatmu, sama seperti waktu pertama kali aku melihatnya. Bukan karena ketampananmu, tetapi karena kamu seorang Lelaki. Namun dia bukan kamu,,, dan kamu bukanlah dirinya,,, Tak pernah aku melihat jari-jemarinya, seperti aku melihat jemarimu. Bukan hazel green eyes dia juga yang kulihat, melainkan hitam bola matamu. Aku melihatmu, dari kursi belakang bus. Did you see me? Aku turun dari bus dan menghampirimu. Namun yang kulihat bukan senyumanmu, karena kamu tak pernah tersenyum kepadaku. Bukan senyumannya juga yang ku harapkan, melainkan senyumanmu.
0
Sep 6, 2012
Sep 6, 2012 at 7:59 AM UTC
Aku Melihatmu
(Palembang, 9 Februari 2015) Hatiku ini rapuh, kamu tau? Aku sendiri pun tak mampu menyentuhnya dengan perkataan Aku selalu membungkusnya dengan kebahagiaan Hatiku ini istimewa, kamu mengerti? Aku menjaganya agar selalu bersih dan suci Aku menyimpannya untukku bagi dengan orang-orang yang sedih Dimana hatimu? Kamu berlagak semua baik saja dan meninggalkan hatiku terluka Kau menorehkan pecahan beling di hatiku dan menganggapnya tak terluka Dimana akalmu saat ini? Kamu membuat hatiku sedih, hatiku tak mampu berikan kebahagiaan bagi orang lain Kamu tak punya hati hanya memikirkan dirimu sendiri Hatiku ini bukan barang yang bisa kamu banting saat kamu marah Hatiku ini bukan pisau tumpul yang kamu tusukan ke dalam tanah Hatiku ini hanyalah air yang masih dibutuhkan orang lain Hatiku ini hanyalah udara yang tak terlihat namun memberikan kehidupan Hatiku ini bukanlah gabus yang bisa kau cabik-cabik, hanya untuk membuat hatimu senang Hatiku hanyalah hati yang bisa mati
0
Feb 9, 2015
Feb 9, 2015 at 10:35 AM UTC
Hatiku
Sebelum nafasku yang terakhir Ku luar kan kepadamu Engkaulah yang ku tunggu Engkaulah bintangku Dan kamu Aku masih sayang kepadamu Biarlah ini satu rahsia buatmu Adakah ini suatu mimpi Yang selama ini engkau menyelami Menyinari Menghiasi alamku dengan warna cinta pelangi Engkau ada tetap dihatiku walau ku tiada Engkau ada tetap dijiwaku walau bisa Dan ku harap kau maafkanlah segala dosa Sebelum ku pejamkan mata untuk selama-lamanya Dan kamu Aku masih sayang kepadamu Biarlah ini satu mimpi indah bagiku Apabila nadiku berhenti Tamatlah sudah puisiku ini Tapi ini bukanlah satu erti Kuharap engkau kan terus bermimpi Kubina cinta di alam mimpi Bayanganmu ku kan salji Selalu berada sentiasa disisi Selamanya kepadamu Aku.. Aku berjanji.. ©2014 RevoLusi ©2014 Maman Screams
0
Jan 11, 2014
Jan 11, 2014 at 4:11 AM UTC
Mimpiku Yang Terakhir (My Last Dying Dream)
Allah.. Allah adalah Tuhanku Oh Allah.. Dzat Yang Maha Agung Tiada Tuhan selain Allah Kaulah Yang Maha Menciptakan Kau ciptakan surga bagi orang yang beriman Kau berikan rahmat kepada hamba-MU yang bersungguh-sungguh Ya Allah! Ya Tuhanku! Hambamu bukanlah teroris Hambamu hanya menyembah kepada-MU Ya Allah! Tuntunlah aku ke jalan yang benar Ya Allah! Dalam gelap kau bangkitkan aku yang putus asa -Kediri, 22 Maret 2018-
0
Mar 26, 2018
Mar 26, 2018 at 12:00 AM UTC
Allah Tuhanku
Palembang, 30 Desember 2013 Ini terjadi lagi, tuk yang kesekian kali Jiwaku terbentur batu, keras sekali Retak, hampir pecah berapi Gesekan kemarahan dan penyelesaian hati Menjadi mayat tak berhati Tak mampu berfikir lagi Menahan diri tuk bertahan dalam raga ini Meski kaki ini tak mampu berdiri Nafas ini tak mampu berhembus lagi Hanya satu yang aku yakini Keajaiban yang benar ada di dunia ini Rencana indah Tuhan yang lain Yang tak pernah bisa dihindari Hidup tidak selalu buruk atau baik Perubahan kecil sangatlah berarti Tuk hidupku yang sunyi Aku memang sendiri Tapi ku tak ingin sembunyi Apapun yang kan terjadi akan ku hadapi aku yang memilih aku yang jalani Ini bukanlah janji Ini adalah curahan hati Keinginan yang tak mampu ku raih Namun ku jua tak lelah berlari Meraih keingnan di hidup ini Jika kalian membaca ini Tolong, hargai dan temani Aku di sini sendiri ...
0
Dec 30, 2013
Dec 30, 2013 at 2:09 AM UTC
Curahan Hati
Hidup ku ini bukanlah permainan! Yang bisa dimulai dan dihentikan kapan pun Perasaan ku juga bukanlah medan perang! Yang terus saja tertindas Kau buat lemah! Kau buat aku tak berdaya Hati ku ini adalah emas Yang apabila hilang, aku akan jatuh miskin Miskin iman karena kehilangan arah Miskin materi karena pikiran ku tak jalan Aku ini bukanlah babu! Yang selalu menuruti apa mau mu Aku ini hanyalah pekerja lepas Yang tak mau terkekang manghadapi mu Aku ini hanyalah pasien rawat jalan Meski sakit parah tapi tetap berjuan untuk hidup Kau kira aku ini apa? Kau membuat ku menjadi korban terparah Aku pecundang di antara manusia Mengapa kau tidak pergi saja dari hidup ku? Hey, aku ini bukan papan catur 'tuk dipandangi Aku juga bukan sarung tinju tuk menuruti mu Lepaskan aku! Ku mohon lepaskan aku Aku tak ingin lagi menangisi hidup ku Ku ingin berhenti mengasihani hidup ku Tolong, damaikanlah hidup ku
0
Dec 30, 2011
Dec 30, 2011 at 11:52 AM UTC
Ini Suara Hati Ku
Aku harus mendaki tebing bernama proses; menaklukannya. Legenda berkata bahwa diujungnya tinggallah sesuatu yang baik. Namun memang semua pendaki tau bahwa tebing yang satu ini tidaklah mulus. Bebatuan, dataran curam, udara dingin, debu menyesakkan, silahkan kau sebut semua hal itu. Mereka ada di tebing ini, selalu. Semesta kejam dan kamu sendirian. Setidaknya itulah yang harus aku ingat. Aku tidak mau berujung hanya sebagai seonggok jasad dengan nama tertulis. Maka dari itu datanglah keharusan untuk mengejar sesuatu yang baik ini. Aku takut. Aku takut. Sebenarnya aku takut. Karena semacam tebing bukanlah rumahku. Tebing kurang akan rasa nyaman dan rasa cukup tau. Sungguh tak pula aku paham benar dengan apa yang dimaksud dengan 'sesuatu yang baik'. Namun semua orang tetap harus mendaki, entah kenapa.
0
Nov 7, 2015
Nov 7, 2015 at 5:52 AM UTC
Sajak #1
Awan hitam tersenyum telak Hujan datang menyambut Jari jemari yang biasa menari Terlelap dalam dingin Membeku membiru Sinarnya telah hilang Dibawa oleh lamunan Dikandaskan oleh waktu Api yang dulu merah meradang Kini hilang ditelan sunyi Bercak emas itu bukanlah dia Dibiarkanlah semua membeku Dengan begitu ia tak perlu tertatih berjalan Biar waktu yang membunuhnya perlahan
0
Feb 24, 2016
Feb 24, 2016 at 4:28 AM UTC
Terbujur Dingin
“I am just not afraid of being alone,” Dia datang dari bumi sebelah sana, jauh ke sini untuk mencari lupa pada dunia. Pada suatu sore menjelang senja, dia menyari bahwa bentuk ganda muncul karena rasa takut pada tunggal semata. Menjadi sendiri bisa membawa resah, terlebih ketika semua berkata ini sudah waktunya. Harga diri bisa membantah, namun di dalam hati takut memang menjadi jawab untuk sebuah tanya; ketika kondisi belum menyajikan jalan untuk berpasangan, apa yang sebenarnya di khawatirkan? Bila sendiri berupa satu kalut yang perlu dihindari, adakah untuk meraih tenang memang lewat menjadi dua? Bila bahagia adalah satu titik yang telah dilimitasi, apakah untuk mencapainya harus melalui sebuah jika? Para pendaki bisa menemukan damai pada puncak walau tanpa kawan, petapa sengaja menyepi demi bertemu tenang, biksu bisa merasa teduh walau tanpa sandingan, mereka yang khusyuk menemukan tentram dalam sujudnya yang panjang. Sendiri, walau secara manusiawi. "Now, I’m just enough with myself," Melihat keberpasangan sebagai sebuah hasrat memang tak akan pernah bertemu lengkap, karena bersua dengan damai hanya lewat kata cukup. Setelah kata cukup dipungut, menjadi sepasang bukanlah lagi sekedar penawar kalut. "So, isn’t this enough?"
0
Mar 6, 2015
Mar 6, 2015 at 4:14 AM UTC
self
esensi sebuah cinta bukanlah pelampiasan perasaan kepada seseorang. esensi sebuah cinta adalah saat [ia] rela meminjamkan kebahagianya hanya untuk melihat [dia] tersenyum. kemudian seseorang bertanya, "lalu mengapa [mereka] harus berpisah?" sungguh, hanya semesta yang tau mengapa mereka harus berpisah. mungkin ideologi cinta yang selalu mereka gengam tidaklah memliki arti yang sama lagi, biarlah semesta yang menjawabnya. tetapi, jika semesta ini melukis dirinya dengan sebegitu indahnya, bisa apa kita selain jatuh cinta?
0
Feb 5, 2019
Feb 5, 2019 at 6:12 AM UTC
Esensi sebuah Cinta
Hentian tak bermakna tiba kegelapan tak semestinya hiba keindahan tunjang sehingga pucuknya bukanlah anugerah dalam sekilat cahaya sambungan cerita kita yang punya tapi beza adaptasinya terkadang patah renyuk tak disangka terkadang wangi semerbak bunga terkadang terik memancar sinar terkadang kaku kelu membisu namanya perjuangan masihkan kekal entahkan wujud entahkan binasa menggapai semua mampukah kita menyelongkar hingga tak ketemu jua masakan diri menongkah jaya moga memijak di alam nyata agar sempurna gambaran selamanya....
0
Oct 11, 2014
Oct 11, 2014 at 10:05 AM UTC
Di mana...
Poligami itu hukumnya mubah (QS. An Nisa 3) tidak ada thalab (seruan) disana secara jazm (yang menguatkan) untuk disebut berhukum sunnah, ataupun wajib. Dan tidak ada illat ataupun syarat yang menjadikannya wajib ataupun sunah. Di ayat tersebut ada frase "ma thoba" (yang kalian senangi), jadi disitu Allah memberi pilihan (atas keMahatahuannya Allah atas mahluk-Nya), karena memang mubah itu statusnya "pilihan" Kalau dianalogikan, seperti orang makan lauk kerupuk. Ada yang suka/memilih makan pake kerupuk, ada yang nggak suka. Bukan berarti yang suka makan kerupuk, lebih terpuji, dan yang tidak suka makan kerupuk, tidak terpuji. Atau sebaliknya. Dan 'adil' bukanlah illat atau syarat, dibolehkannya seorang laki-laki (suami) untuk berpoligami (menikah lagi)... Sederhananya begitu cara memahami 'hukum Allah' yang satu ini. Jangan sampai suka dan ketidaksukaan kita terhadap sesuatu membuat kita salah persepsi tentang hukum yang satu ini... Wallahu'alam ======================== Semoga yang baca nggak salah persepsi ya...
0
Mar 19, 2015
Mar 19, 2015 at 12:57 AM UTC
POLIGAMI
Selamat ulangtahun anakku Sudah dewasa kau kini.... Bertambah2lah kau bijak Pandai2lah kau bergaul Biarlah ucap dan lakumu baik Orang akan memperhitungkan engkau Selamat ulangtahun anakku Dewasa bukanlah jumlah umur Bukan pula besar tubuh Apalagi tinggi badanmu Rendahkanlah hati Berbagi dan peduli yang lain Itulah dewasa yang sesungguhnya Selamat ulangtahun anakku Terbanglah tinggi setinggi citamu Lepaskalah segala belenggu yang mencekam dan menahanmu Untuk maju dan maju Menapak dikesuksesan yang menunggu Selamat ulangtahun anakku Ingin kuucapkan kata2 ini Sampai usiaku tinggi Menggapai Sang Khalik
0
Mar 22, 2017
Mar 22, 2017 at 9:32 PM UTC
Ulang tahun
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya. Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman. Serreh, 2017
0
Aug 17, 2017
Aug 17, 2017 at 10:21 AM UTC
Memamah Bangkai di Halaman
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya. Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman. Serreh, 2017
Continue reading...
3
Salam hangat untuk pembaca yang terhormat, Apa kamu tahu apa yang lebih cerdas dari berada di tengah-tengah dan jadi pengamat sebelum benar-benar memihak? Atau, apa menurutmu tindakan itu bukanlah tindakan yang akan dilakukan oleh orang-orang intelektual yang sesungguhnya? Apakah menurutmu itu adalah tindakan orang-orang bodoh yang tidak peduli atau orang-orang pemikir yang berhati-hati? Kakekku menyisipkan kata ‘median’ pada nama awalku dan ia jadikan kata itu sebagai nama kecilku, juga nama panggilanku. Di antara nama lengkapku yang berbunyi, Mediana Prawirahardja, kata yang diartikan sebagai nilai tengah itu ia tetapkan sebagai nama panggilan untukku. Harapannya adalah agar aku akan memiliki sifat yang sama dengan kata itu. Berada di tengah. Netral. Damai. Berada di tengah  dan menilai, atau berada di tengah dan memiliki nilai. Nama adalah doa dan lama-kelamaan, aku mulai lelah menjadi pengamat yang hanya bisa menyaksikan dan mencari-cari kebenaran yang belum terungkap di antara hiruk-pikuk masyarakat yang hilir-mudik penuh hingar-bingar ini, di balik dunia yang berantakan ini.
0
Sep 5, 2017
Sep 5, 2017 at 2:52 AM UTC
Dari Median
Dibalik sejuta bunga yang tertanam disini, ada dirimu; sebuah keindahan yang tidak pernah meminta perhatian. tersenyum tanpa terpaksa menangis tanpa air mata tertawa tanpa aba-aba jika boleh tau, mengapa kita harus berpisah? apa karena kau terlalu menyukai kota sejuta bunga? atau karena aku bukanlah laki-laki yang baik untuk hubungan kita? apapun alasanya, kuharap kau bahagia. karena sesungguhnya, keindahan sepertimu tidak akan pernah meminta perhatian. terhalang keindahan kota sejuta bunga. tertanam dibawah, tersembunyi tanpa jejak amarah. kalau begitu, laki-laki ini ingin pamit; membawa segala pilu yang membiru tanpa perlu pusing memikirkan hatinya.
0
Mar 10, 2019
Mar 10, 2019 at 9:12 PM UTC
Magelang; Kota Sejuta Bunga
memang aku tak pantas aku bukan yang bisa dimiliki memiliki pasangan jiwa yang bisa yang mampu.. selalu kuingat kamu malam ini yang penuh dengan hati gegana.. aku sekarang percaya kamu adalah bisa.. berbohong bukanlah pilihanku hati ini berteriak seolah berkata ..bahwa memang tidak ada yang layak setelah setahun berlalu sudah kulihat yang ada.. tidak ada dan tidak ada aku tak mengerti mengapa hati ini terus berteriak.. seolah tidak ingin tidak ada kamu disini hati memang membutuhkanmu hati memang tidak bisa menolak ..karena hanya kamu yang mampu berjalan hingga kiamat nanti dan hanya dirimu yang mampu menyakiti jiwa dan ragaku takkan ada yang bisa takkan pernah.
0
Oct 7, 2016
Oct 7, 2016 at 2:27 PM UTC
takkan pernah (wouldn't ever) // [bahasa]
Ketika kamu tak bisa melihatku, itu bukanlah kuasa ku. Aku serahkan itu kepada mu. Ketika kamu tak bisa menghargaiku, itu pun juga bukan kuasa ku. Sepenuhnya pilihanmu. Namun, tahukah kamu? Kamu pun tidak memiliki kuasa ketika kaki ini sudah beranjak pergi meninggalkan. Kamu punya pilihan untuk melihatku atau tidak, menganggapku atau tidak. Namun tidak ketika aku sudah beranjak pergi. Kamu tak punya kuasa apapun.
0
Jul 11, 2018
Jul 11, 2018 at 12:37 PM UTC
Semua pilihanmu.
Aku bukanlah siapa-siapa Hanya seorang pria berdasi merah Yang mencintai perempuan berambut coklat Aku bukanlah siapa-siapa Hanya seorang pria bertopi hitam Yang hanya ingin merasakan cinta Aku bukanlah siapa-siapa Hanya seorang pria menyedihkan Yang masih terjebak masa lalu kelam Aku bukanlah siapa-siapa, Hanya seorang pria yang masih mencintaimu Yang tidak akan pernah bisa melupakanmu
0
Sep 10, 2018
Sep 10, 2018 at 12:29 PM UTC
Aku bukanlah siapa-siapa
aku tak ingin tak berbahagia karena cinta tapi... bukanlah cinta bertumbuh sebagai dua? pagi dan malam duka dan suka tangis dan tawa kemudian, datang lalu hilang
0
Jun 4, 2021
Jun 4, 2021 at 5:44 AM UTC
aku tak ingin, namun tak bisa
indahnya kota jogjakarta pada malam itu tidak seberapa indah dengan binar mata dan senyum lekuk bibir mu pada malam itu, bising klakson mobil pada kemacatan malam itu bahkan bukanlah perihal yang menggangu. nyaman, bahkan bagiku semua tenang. teringat jelas bagaimana kita menelusuri kota jogja sambil mendengarkan lagu saat kau menggengam tanganku erat, bagaikan takut kehilangannya. untukmu Tuan, sosok yang selalu memberikan ku kehangatan di malam hari disaat semua bergetar kedinginan. tubuh dan ragamu yang amat ku kasihi, terima kasih sudah memperlihatkan indahnya dunia yang pernah jahat ini. padamu Tuan, aku mengundangmu untuk sejenak meletakan kepala mu dibahuku dan menikmati malam yang indah, berdua.
0
Jan 9, 2019
Jan 9, 2019 at 12:30 PM UTC
Jogjakarta malam itu
silahkan jika menganggapnya tidak penting kalimat ini dibuat atas dasar jatuh cinta kok, 'saya menyukaimu' dan saya harap, menyukaimu bukanlah hal yang akan dilupakan. sebab mencari cara lupa adalah pekerjaan yang paling merepotkan.
0
Jun 11, 2019
Jun 11, 2019 at 5:18 AM UTC
kalimat, untuk kamu.
Jam tujuh pagi tadi Ibu mengetuk pintu Bunyi ketukan itu sampai empat kali terulang Di ketukan empat setengah, Pintu terbuka setengah juga “Ya?” “Mandi, Mbak.” “Pingin tidur lagi.” “Tapi hari ini hari kemenangan.” Raut wajahnya yang telah menjadi warisanku tak sedikitpun menunjukkan bahwa dia telah memenangkan apapun. Tidak seperti kebanyakan orang, Untuknya hari ini bukanlah tentang seberapa kental kolam santan yang menyimbahi santapan-santapan Bukan juga tentang berpeluk-rindu dengan orang-orang sambil sesekali bertukar kabar Lelah mengutuk dirinya karena seumur hidup merasa kalah, Aku tahu bahwa sehari saja ia ingin merasa menang. Ia sendiri tahu betul saat hari ini berakhir dan tamu berpamit untuk pulang setelah semua habis terkunyah; ia akan kembali merasa kalah. Menang atas dan untuk apa? Seribu kata maaf pun ia telan begitu saja tanpa mencerna kata tersebut keluar dari mulut siapa Tanpa adanya hari kemenangan yang dibanjiri oleh teks bersampul maaf, Hidupnya memang sudah tentang meminta maaf dan memaafkan Tak ada pilihan lain. Hanya saja hari ini sinar sendu wajahnya menunjukkan bahwa akhirnya, Setidaknya untuk dia, Harapan pahitnya terhadap ‘maaf dan memaafkan’ akan diselebrasikan; Dan seperti dirinya, lebih dari sejuta orang akan melakukannya walaupun untuk sehari saja. Kepada siapa lagi ia harus meminta maaf dan meminta dimaafkan?
0
Jun 5, 2019
Jun 5, 2019 at 8:40 AM UTC
?