Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"bermain" poems
Senja masih terasa sama , ia hadir menyapa seakan menghadirkan sejuta tanya ? kemudian tak lama 'anganku mulai bermain , berhalusinasi akan sebuah daun yang jatuh kemudian terbang bersama angin . hidup tanpa senja seakan berjalan tiada tulang , tak berdaya , rentan dan rapuh . appapun yang ingin aku sampaikan melalui goresan ini , adalah bukti bahwa aku tidak pernah mengingkari janji Allah , bahwa senja akan terus menemuiku setiap ia akan pulang . meskipun terkadang ia hadir bersama rintikan hujan yg terus menerus membasahi tanah jakarta Dan aku tak tau lagi , kapan aku bisa menyaksikan senja tenggelam di pinggir pantai lengkap dengan deburan ombak . Senja engkau berhasil membuat rekaman itu selalu berputar memplay memori ku bersama bapak . memori dan kenangan di masa kecil itu . aku tidak pernah memikirkan apakah yg harus ku cari esok hari
0
Feb 11, 2015
Feb 11, 2015 at 5:04 AM UTC
Antara 10 Februari , Senja , dan awan Mendung
Payudaramu Masih menatapku dengan murung Entah sudah berapa lama kupegang Mungkin ratusan ribu kali. Temaram yang dibentang Oleh lampu kecil di sudut kamar; Ranjang yang bermain melodi sendu Poster kusam mimpi hari depan Dan radio tua yang tak henti-henti Menabuh genderang yang telah hilang Semangat. Ah, siluetmu Yang bergoyang-goyang di tiup Angin asmara. Aku mencintaimu malam ini Lebih dari apapun, Bilang pada bulan Jangan berhenti bersinar Dan taburilah wajahnya Banyak-banyak cahaya bintang. Aku mencintaimu malam ini Lebih dari apapun, sampai pintu bilik di ketuk. (Batam, 17 Mei 09)
0
Apr 8, 2011
Apr 8, 2011 at 7:42 AM UTC
Ara
Kepada Kamu. Kita terlalu sama. Suka menangis diam diam. Kelihatan tegar di luar, padahal hancur di dalam. Ketika kini kulihat tawamu yang terlalu keras, aku tahu bahwa kau sedang tidak baik baik saja. Kau memang ahli bermain peran, tapi tidak di hadapanku. Cobalah hidup jujur terhadap apapun yang kau rasa. Tuhan tidak menciptakan apapun untuk sia-sia. Hidup tidak melulu soal bahagia, tapi juga sebaliknya. Itu kemutlakan yang tak bisa kau tolak. Seperti sekarang, jangan selingkuhi perasaanmu sendiri, menangislah. Sungguh, tidak ada yang salah dengan jatuhnya airmata. Airmata bukan penanda lemah, sebaliknya itu pertanda agar kau tidak lengah. Setiap kita memiliki lukanya sendiri sendiri. Juga, memiliki cara sendiri sendiri untuk memulihkannya. Airmata adalah cara lain kau berbahasa dan mengungkap rasa, ketika kau tak sanggup mengolah kata. Biarkan luka terbawa oleh setiap tetes airmata yang menitik sukarela. Terkutuklah mereka yang percaya ‘anak hebat tidak menangis’ lalu menurunkan kebijakan yang tidak bijak itu pada anaknya. Mereka pasti mati rasa. Izinkan aku menemanimu, tanpa banyak bicara, memberi petuah yang menjemukan, atau bertingkah konyol agar kau tertawa. Aku hanya akan duduk di sampingmu, menemani selama kau mau. Dan sesekali memberi genggaman, untuk menguatkan. Note: bahkan airmata adalah buah tawa, saat aku bahagia bisa menemanimu dan mendengar cerita kegiatanmu seharian.
0
Mar 4, 2015
Mar 4, 2015 at 2:40 AM UTC
Tear
*Hujan hari ini begitu deras Dan selepasnya tak kulihat pelangi Tak seperti dongeng-dongeng malam Atau ayat-ayat motivasi penguat hati* *Hujan hujan sebelumnya juga begitu Ku lihat ikan-ikan kesakitan terkena derai siram hujan Lelaki tua peminta kedinginan kebasahan Listrik menyambar, tiang jatuh, seorang anak tertimpa* Buruk, buruk, buruk "Hei ayo bermain!" *Lamunanku terjerat Segerombolan bocah kecil menari dibawah derasnya hujan Bernyanyi gembira nyengir tak terkira Aku menjeling, aku mempelajari, aku mulai tersenyum Agaknya aku yang lupa Tak kupandang rumput kehausan bersorak menanti tibanya air minum mereka Sisi pandangkulah salah Aku menyalahkan pelangi Tak kulihat bahwa petani begitu bahagia dan menanti Ini semua bukan tentang pelangi warna warni itu Pelangi yang sesungguhnya ada disekelilingmu Jangan merana Jangan sepertiku Yang kulihat hanya aku dan segala kesepian ini*
0
Oct 15, 2016
Oct 15, 2016 at 8:52 AM UTC
Pelangi Ucapan Syukur
Kamu benar, aku gentar Kamu malu, aku palsu Lalu, siapa yag palsu karna malu? Hukumkah yang membuat kamu harus berbelok di setiap persimpangan? Aku tahu kamu letih memilih arah Kamu buka Tuhan yang sedang bermain teka-teki kehidupan Berhentilah dengan idealisme mu Berhentilah sejenak Duduk disampingku Menikmati senja ini.
0
Mar 31, 2014
Mar 31, 2014 at 10:54 AM UTC
Kamu dan kehidupan
Aku berdiri kaku di depan cermin menatap nanar dirimu. Bertanya... Berapa banyak malam yang kau habiskan untuk mencaci tubuh tak bersalah itu? Mencabiknya agar kau tetap bisa merasa hidup. Biru dan ungu selalu menjadi tanda bahwa kau menang melawanku. Aku ingat beberapa orang mengubahmu menjadi kelabu, membunuhmu dengan kejam, lalu membuangmu jauh ke jurang hitam. Kita berjalan beriringan dengan kapak berlumur kata-kata tak dimaksudkan, tapi kau bilang kau telah mati jauh sebelum kita berdamai. Lalu bagaimana denganku? Seperti ruang kosong yang hilang ditelan kesendiriannya, aku berjalan menuju ujung lorong yang tak pernah sempat kau injak. Menari-nari di bawah binar harapan seperti aku lupa bahwa kau tak lagi diam di sana. Ingatkah kau saat kita duduk di meja makan bersama dua orang asing? Kau sibuk bermain dengan gelisahmu, sementara aku tersenyum lebar berperan sebagai hantu. Kau melahap habis semua isi di sana, tetapi hanya berakhir pada kamar air yang sengaja kau sembunyikan. Kau mati. Lalu bagaimana denganku?
0
Oct 4, 2016
Oct 4, 2016 at 7:24 AM UTC
Bagaimana Denganku?
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
0
Apr 6, 2019
Apr 6, 2019 at 1:49 AM UTC
Laut punya caranya
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
Continue reading...
36
Di saat ku termenung Dia selalu ada untukku Di saat aku sedih Dia selalu menghiburku Sahabatku sangat sayang padaku Aku pun begitu, Tak ingin rasanya aku menyakitimu Mari kita bermain, bercanda sesuka hati Agar persahabatan kita akan selalu abadi
0
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:59 PM UTC
Persahabatan Abadi
debu di kaca berbingkai kayu rapuh buat rayap tak berselera makan buatnya tak berselera mengintai wanita sunyi di pekarangan berpagar besi mendung buat ia tak berselera bermain buat ia terdiam di rumah seharian di tingkap pandangnya wanita kecil bermain tawa di tingkap rancangnya pikiran abu akan wanita usia fajar di tingkap ia pandang luapan dahaga pada satu raga sepi di pekarangan berhias rumput pulang ayah datang bawa bidan
0
Jan 10, 2016
Jan 10, 2016 at 9:55 AM UTC
tingkap
Lahir dan besar di desa yang bisa dibilang sangat sejuk Tumbuh dengan aman, nyaman dan bahagia Bermain ke ladang, kebun, sungai, bahkan hampir seperti hutan Selalu aman dan tetap jauh dari bahaya Teman-teman berdatangan ke rumah untuk bermain dan berbagi cerita Berkumpul seperti keluarga besar Lalu aku pergi dari desa dimana aku dilahirkan dan mulai tinggal di tempat yang baru di desa yang baru dengan situasi yang berbeda Aku tumbuh disana dan mengenal berbagai pembaharuan Hari demi hari hingga bertahun-tahun aku menyaksikan berbagai perubahan Dimana banyak perubahan yang sulit dipercaya Hampir segala sesuatu yang aku lihat dan alami sulit dipercaya Hingga timbul perasaan tidak nyaman, gerah, takut, sesak, terancam, tertindas di tempat yang ku sebut rumah Rumah, bukan bangunan yang aku tinggali Tapi disini, di tanah aku berpijak Semua sudah tak lagi sama Hingga muncul dalam otakku Haruskah aku tinggal atau aku tinggalkan? Rumah, Aku merindukanmu
0
Feb 10, 2017
Feb 10, 2017 at 1:46 AM UTC
Rumah
Dia ingin bermain kata-kata ternyata. Sampah! Mari kita permainkan dia bersama kata-kata! Akankah takut siapa yang tahu jika tidak pernah kita coba! Kita perlu membencinya! Membenci kebohongan busuk akal manusia. Mari kita bermain kata-kata! Siapa yang takut jika ia sering di cerca oleh pertanyaan mengapa! Baiklah, bunyinya seperti ini. Kau busuk akal rupa juga canda tawa tidak pernah ada artinya. Kalimat yang kau lontarkan tidak pernah bermakna lantas apa arti jika harus hidup tak bisa bebas dan merdeka! Bebas dan merdeka hanya kata-kata, tindakan ada setelahnya, apa yang kau perbuat setelah bermain lantas kau bereskan semua permainan yang ada! Kau dalang permainan yang sejak awal kau ingin menang di dalamnya! Masih ingin bermain? Masih ingin bermain atau kau tak punya lawan main? Seperti apa kata-kata kita cipta seperti apa kau punya wewenang kuasa! Lupa cara, buta aturan semua kau yang pegang! Itu ujaran kebencian katanya!
0
Feb 11, 2021
Feb 11, 2021 at 4:33 AM UTC
Ini ujaran kebencian katanya!
Menuju Maret, pagi-pagi matahari meninggi sambil menyeduh minuman penolak kantuk. Sesekali ia aduk minuman di gelas melawan arah jarum jam. Katanya agar berbeda, Padahal sedari dulu ia sudah berbeda. Pagi-pagi matahari cepat meninggi Mungkin membawa kabar dari Bapak menyertakan terimakasih. 'Terimakasih' suara bapak dari ponsel genggam buatan negara berkelopak mata monolid. Menuju Maret hati yang disini berduka. Menolak umur ditambah dengan satu angka, Belum lagi kalau dia ingat suara pintu pagar besi yang dimainkan anak-anak tetangga. Rindu katanya, Ia belum pulang, sebagian jiwanya sedang bermain pasir di masa lalu. Tapi ia malah lari mengejar lagi. 'Sudah cukup, aku mau ikut' katanya Sekarang ia siap, menuju Maret dan segala kebaikan di dalam dan setelahnya. B_Art 07-Feb-2019
0
Feb 6, 2019
Feb 6, 2019 at 10:36 PM UTC
Khatam
Rumah joglo di tengah sawah. Dengan cahaya remang yang berasal dari pojok ruangan ini. Pemutar piringan hitammu baru selesai kau perbaiki. Ku memilih untuk mendengarkan album Chet Baker Sings dengan vokalnya, seingatku itu milik mendiang kakekmu. Gelas-gelas tinggi sudah kau siapkan, sebotol anggur dari Bordeaux sudah ku buka. Makan malam kita sudah tandas, dua piring penuh berisi daging sapi yang sore tadi ku panggang, hampir matang penuh, bersama hancuran kentang yang sedikit dibubuhi garam dan lada, dengan saus krim jamur. Jasmu sudah kau tanggalkan dan sampirkan di sisi sofa coklat tua itu. Gaun hitamku masih rapih melekat pada tubuhku, namun rambutku, yang hanya sepanjang bahu, sudah ku urai, agar kau bisa menghirup harum bunga sakuranya. Kita menari, pelan, sembari menengguk asam dan manisnya anggur Bordeaux itu. Ku kira Chet Baker telah letih bernyanyi dan bermain trumpet, suaranya perlahan hilang, digantikan oleh suara jangkrik dari luar sana. Aku pun lelah, ku rebahkan tubuhku di sofa coklat itu, menyandarkan kepala di dekat sampiran jasmu, menghirup bau cendana yang hampir hilang. Kau menghampiriku, memelukku erat, menghirup leherku, pipiku, dan mengecup bibirku. Pelan-pelan, satu per satu pakaian kita tanggal, di bawah cahaya temaram, ditemani suara jangkrik, kita melebur, melebur jadi satu. Tanah Ubud, tak pernah gagal membuatku jatuh cinta, sengaja maupun tidak.
0
Jun 5, 2020
Jun 5, 2020 at 1:57 PM UTC
Malam Malam, Ubud
pasal VI: tentang aku dan kau; sebuah rasa dalam diam. - yang aku percaya, skenario tuhan selalu indah walau tak kelihatan di awal, sebab tentu saja, pemandangan akan lebih nampak anggunnya dari ketinggian. dan ini perkara melihat sesuatu dari direksi yang berbeda, atau bahkan berlawanan. rasa dalam diam. - perihal rasa yang terus saja terpendam, anggap saja aku hanyalah secuil makhluk yang kagum kepadamu, terlepas dari senyummu yang menawan, atau paasmu yang santun, dan hal "wah" yang mereka utarakan lainnya. rasaku apa adanya, tanpa menuntut apapun darimu. - mengingat kau dan aku tak pernah bersua dengan sengaja, kurasa, rasarasa yang kumiliki hanya akan bertepuk sebelah rasa, sekedar sapa, dan berujung tanpa kata. toh nyatanya entah aku yang sanggup bertahan ataukah memang aku yang terlalu bodoh karena masih saja bertahan, hitungan tahun tanpa jawaban terus saja membuatku beradaptasi dengan keadaan. - dan jika dilihat, mungkin hanya usahakulah yang terus membuatku bertahan, melihat segalanya hanya jarak dan jarak yang membuat kita dekat, walau kau masih saja entah purapura tak peduli, atau mungkin memang tak peduli. tapi kuharap kau tak bosan menjadi tempat rasaku bermuara. - menuntut kejelasan? oh, tentu bukan caraku bermain dengan memaksa kehendak. karena dimataku, rasa bukan hanya sekedar hasrat, melainkan suatu hal yang sensitif, terlepas dari rasionalnya akal. takutku kemudian hari, salah rasaku menetap, kemudian menjadikanku lupa arah pulang sebenarnya. - sampai nanti di akhir cerita, kau menjawab segala tanya yang tak kuharap terjawab. rasa mu sedikitbanyak memiliki kesamaan denganku, sama2 dalam diam, memilih berdiam diri dalam kediamannya. hanya saja kau lebih mahir, sedangkan aku memilih nyaman dalam zona amatir. - bahagia? kupikir begitu, mengingat rasa kita sudah samasama berirama, terlepas dari tujuanku yang enggan menjalin hubungan (entah apa alasannya). kukira jawab yang membuatku senang, namun haluan berubah arah. justru jenuh yang kurasa, lelah, dan memilih berpaling di kemudian hari. prdks.
0
Apr 2, 2018
Apr 2, 2018 at 9:10 PM UTC
sajaksajakrasa
pasal VI: tentang aku dan kau; sebuah rasa dalam diam. - yang aku percaya, skenario tuhan selalu indah walau tak kelihatan di awal, sebab tentu saja, pemandangan akan lebih nampak anggunnya dari ketinggian. dan ini perkara melihat sesuatu dari direksi yang berbeda, atau bahkan berlawanan. rasa dalam diam. - perihal rasa yang terus saja terpendam, anggap saja aku hanyalah secuil makhluk yang kagum kepadamu, terlepas dari senyummu yang menawan, atau paasmu yang santun, dan hal "wah" yang mereka utarakan lainnya. rasaku apa adanya, tanpa menuntut apapun darimu. - mengingat kau dan aku tak pernah bersua dengan sengaja, kurasa, rasarasa yang kumiliki hanya akan bertepuk sebelah rasa, sekedar sapa, dan berujung tanpa kata. toh nyatanya entah aku yang sanggup bertahan ataukah memang aku yang terlalu bodoh karena masih saja bertahan, hitungan tahun tanpa jawaban terus saja membuatku beradaptasi dengan keadaan. - dan jika dilihat, mungkin hanya usahakulah yang terus membuatku bertahan, melihat segalanya hanya jarak dan jarak yang membuat kita dekat, walau kau masih saja entah purapura tak peduli, atau mungkin memang tak peduli. tapi kuharap kau tak bosan menjadi tempat rasaku bermuara. - menuntut kejelasan? oh, tentu bukan caraku bermain dengan memaksa kehendak. karena dimataku, rasa bukan hanya sekedar hasrat, melainkan suatu hal yang sensitif, terlepas dari rasionalnya akal. takutku kemudian hari, salah rasaku menetap, kemudian menjadikanku lupa arah pulang sebenarnya. - sampai nanti di akhir cerita, kau menjawab segala tanya yang tak kuharap terjawab. rasa mu sedikitbanyak memiliki kesamaan denganku, sama2 dalam diam, memilih berdiam diri dalam kediamannya. hanya saja kau lebih mahir, sedangkan aku memilih nyaman dalam zona amatir. - bahagia? kupikir begitu, mengingat rasa kita sudah samasama berirama, terlepas dari tujuanku yang enggan menjalin hubungan (entah apa alasannya). kukira jawab yang membuatku senang, namun haluan berubah arah. justru jenuh yang kurasa, lelah, dan memilih berpaling di kemudian hari. prdks.
Continue reading...
9
Febian, Rizky, Aisyah Aziz. 2018. Indah Pada Waktunya. Kanal        Yutubnya NET Talent Management. Matterhalo, Nadin Amizah. 2017. Teralih. Kanal Yutubnya        Matterhalo. Nelwan, Christofer. 2012. Jari-jari Cantik. Kanal Yutubnya        Argonycus. Pusakata. 2018. Kehabisan Kata. Kanal Yutubnya MyMusic        Records. Ranti, Jason, Ari Malibu (The Rollies). 2016. Kau Yang Kusayang.        Kanal Yutubnya Ruang Putih. Rock, One OK. 2011. Pierce. Kanal Yutubnya Pratama Aji. Stahl, Fredrika. 2011. Twinkle Twinkle Little Star. Kanal Yutubnya         Oresund Bleu. Teduh, Payung. 2017. Puan Bermain Hujan. Kanal Yutubnya        Anggit Setyo.
0
Jun 6, 2018
Jun 6, 2018 at 2:00 PM UTC
Bukan Daftar Pustaka
Bermekaran bunga mengiringi senyummu Harum mewangi semanis madu Rendahkan sedikit sekuntum kelopakmu Tak ayal kumbang bergemuruh Semanis madu kau mengundang Aku terbuai layaknya kumbang Indah gemulai tak kunjung lekang Kau ratuku bukan sembarang Tak kusadar burung berkeciap Gagah benar paruh mengkilap Hebat benar kepakkan sayap Kumbang limbung terbangnya kalap Bunga indah harum mewangi Ternyata pandai bermain api Tak disangka membakar janji Batang indah bertumbuh duri Kumbang sesak terbangnya lirih Perihnya hati dusta sang terkasih Berharap terang hujanpun masih Berharap lekang sayangpun masih
0
Nov 8, 2017
Nov 8, 2017 at 12:19 AM UTC
Si Malang Kumbang
TANDUS Ketika kamu sudah mulai terbiasa, apa yang bisa memaksa? Segala bentuk, bahkan segala hal yang buruk rupa Yang kau benci pada mulanya Sekarang kau menikmatinya, bukan? Apa yang tumbuh di dalam sana? Di tanah yang mati kelihatannya. Yang tak pernah berharap ada biji yang tumbuh disana Tak ada buah yang diinginkan Hanya tanah tandus tanpa harapan Betapa hebatnya waktu, bermain diatas hati manusia. Mencoret, daan sekenanya menghapus tanpa mengizinkanku untuk memilih. Kenapa tanah itu tak terus tandus saja? Entah dari mana datangnya biji emas itu. Yang hanya menimbulkan keserakahan dan kedengkian hati manusia. Cuma aku sekarang disini. Diatas tanah subur yang dulunya tandus Ditengah bunga bunga yang sedang merekah. Jadi gagak hitam yang mematuki biji emas. Antara berusaha mengukir emas dengan paruh tuanya Atau berpikir emaslah sisa hidupnya. Dua-duanya mustahil. Tanah yang tandus itu sendiri, tak juga bergeming dari bubungan harapan. Menanyakan ketulusan, dimanakah letaknya?
0
Mar 24, 2018
Mar 24, 2018 at 10:26 AM UTC
Tandus
Sesekali aku ingin bermain catur dengan ayah mu, sambil berkata; Mereka boleh mengambil Raja pasukan, bahkan istanaku, tapi tidak untuk putrimu.
0
Feb 21, 2022
Feb 21, 2022 at 5:17 AM UTC
Skak Mat
Bulan tampak besar dan terang. Aku memandangnya pada saat tengah malam. Sambil berdiri di tepi sawah yang sepi. Dekat rel kereta pinggiran Surabaya. Kukeluarkan ponselku dari saku celana. Lalu kupotret bulan yang kupandang. Setelah itu langsung kuunggah fotonya. Pada akun Instagramku. Kulihat ada banyak postingan foto. Dari akun Instagram orang orang Gaza. Ternyata mereka juga sedang memandang bulan. Bulan yang sama dengan yang kupandang. Maha sedang duduk di atap rumah. Dia memandang bulan sambil minum kopi. Tanpa peduli bombardir pesawat jet. Meledakkan pemukiman di Deir El Balah. Omar sedang nongkrong dengan temannya. Dia memandang bulan sambil merokok. Melepas lelah setelah membantu relawan. Membagikan makanan di Khan Yunis. Mariam sedang termenung di depan tenda. Dia memandang bulan sambil mengenang. Kehidupannya yang hilang tak tersisa. Terkubur puing puing rumahnya di Tel El Hawa. Malak sedang menangis sedih. Dia memandang bulan sambil mengingat. Seorang teman akrabnya yang telah tiada. Tewas terkena tembakan ****** Dr Abraham sedang duduk di balkon. Dia memandang bulan sambil mengeluh. Kelelahan mengurusi orang orang terluka. Memenuhi rumah sakit Al Nasser. Saleh sedang melihat sekumpulan anak muda. Mereka gembira menari dabke dan bermain oud. Di atas puing puing reruntuhan bangunan. Sementara bulan bersinar terang di belakang. Begitulah bulan yang besar dan terang. Menjadi penghias malam orang orang Gaza. Yang masih terjebak kekacauan panjang. Tanpa tahu kapan akan berakhir. October 2024 By Alvian Eleven
0
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:21 PM UTC
MEREKA MEMANDANG BULAN
Bulan tampak besar dan terang. Aku memandangnya pada saat tengah malam. Sambil berdiri di tepi sawah yang sepi. Dekat rel kereta pinggiran Surabaya. Kukeluarkan ponselku dari saku celana. Lalu kupotret bulan yang kupandang. Setelah itu langsung kuunggah fotonya. Pada akun Instagramku. Kulihat ada banyak postingan foto. Dari akun Instagram orang orang Gaza. Ternyata mereka juga sedang memandang bulan. Bulan yang sama dengan yang kupandang. Maha sedang duduk di atap rumah. Dia memandang bulan sambil minum kopi. Tanpa peduli bombardir pesawat jet. Meledakkan pemukiman di Deir El Balah. Omar sedang nongkrong dengan temannya. Dia memandang bulan sambil merokok. Melepas lelah setelah membantu relawan. Membagikan makanan di Khan Yunis. Mariam sedang termenung di depan tenda. Dia memandang bulan sambil mengenang. Kehidupannya yang hilang tak tersisa. Terkubur puing puing rumahnya di Tel El Hawa. Malak sedang menangis sedih. Dia memandang bulan sambil mengingat. Seorang teman akrabnya yang telah tiada. Tewas terkena tembakan ****** Dr Abraham sedang duduk di balkon. Dia memandang bulan sambil mengeluh. Kelelahan mengurusi orang orang terluka. Memenuhi rumah sakit Al Nasser. Saleh sedang melihat sekumpulan anak muda. Mereka gembira menari dabke dan bermain oud. Di atas puing puing reruntuhan bangunan. Sementara bulan bersinar terang di belakang. Begitulah bulan yang besar dan terang. Menjadi penghias malam orang orang Gaza. Yang masih terjebak kekacauan panjang. Tanpa tahu kapan akan berakhir. October 2024 By Alvian Eleven
Continue reading...
42
Perasaan terkadang kamu anggap mainan Seperti bola yang dioper pada kawan Kamu memberi ruang agar tenang Iya, kamu yang tenang dan senang Dapat mendekati siapapun tanpa peduli Perasaan yang pernah kamu titipkan Atau sekedar kamu jatuhkan Untuk melihat dan membohongi dia Dia yang sungguh-sungguh ingin hatimu Kalau kamu masih ingin bermain Ayo kita lakukan Aku masih ingat caranya Berapa lama pun itu, ayo bermain saja Jadi hatimu tidak akan kupertanyakan lagi Kita lupakan rasa Kita lupakan tentang kenangan
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 11:50 AM UTC
Bermain dengan rasa
Sejenak kita tunda laju lalu-lalang kendaraan yang kebingungan di kota kecil yang mulai penuh sesak. Menghentikan bising suara mesin di kepala. Memejamkan mata dari keriuhan yang rumit dalam saku. Menggantung gaun-gaun yang telah lama tak kita baringkan. Barangkali kita terlalu sibuk melupakan. Terlalu berusaha menjauh dari diri sendiri. Mungkin kita ini tak pernah tersesat pada dunia yang menyesatkan siapa saja. Tersedak tawa oleh lelucon yang mencekik mimpi-mimpi. Kita terus berlari tanpa tahu arah, kebingungan dan gelisah. Seperti kereta kuda di taman bermain yang sepi pengunjung. Kita terus saja berbicara tanpa pernah merasa. Seperti suara klakson yang meraung-raung di kota yang semakin sibuk. Kita terlalu berapi-api memperdebatkan apa saja. Terus berteriak dan terbakar. Terlalu sering menertawai, tanpa tahu lelucon sesungguhnya. Tanpa tahu upacara kematian telah dipersiapkan di akhir tawa.
0
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:21 AM UTC
Undangan Pesta Untuk Orang-Orang Kesepian.