Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"belajar" poems
Kau datang di saat ku menginginkanmu Kau bagaikan menerangi hidupku Ku tersenyum di setiap waktu Ku selalu memikirkanmu Kau menjauh entah mengapa Ku tersadar bahwa ku yang memulainya Kau tak sedetikpun berbicara Ku hanya bisa menyesal Ku mulai belajar tuk melupakanmu Ku buka hati ini tuk yang lain Namun tiba-tiba kau datang dengan sejuta kata Entah apakah kau berpura-pura peduli pada ku Kau menyentuh hidup ku, lagi Kau buat aku menginginkanmu, lagi Kau buat aku salah tingkah, lagi Serasa tak ingin aku kehlangan mu, lagi Kau membuat aku bersyukur pernah mengenal mu Kau adalah hal terindah yang tak nyata yang pernah aku tahu Kau adalah semua topik pembicaraan yang ku ceritakan Kau adalah yang mengiringi perjalanan singkat hidup ku Kau yang amat susah lepas dari ingatan ku Kau yang menerangi hidup ku Kau lah alasan aku tersenyum di setiap waktu Kau lah yang ku harap hadir di mimpi ku Kau... Yang selalu aku harapkan hadir di sisi ku Yang selalu membuatku ingin merasakan peluk mu Yang ingin sekali mengecup bibir mu Kau... Yang selalu membuat aku gelisah Yang membuat aku berusaha lebih baik Yang membuat ku berusaha lebih pantas tuk dimiliki Kau... Tak pernah habis kata-kata untuk mu Selalu ku puji dirimu Ku ingin bisa mengatakan bahwa Aku sangat mencintaimu I LOVE YOU
0
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 8:41 PM UTC
Semua Tentang Kau
*lagi, aku menulis untukmu. tidak pernah bosan jemari ini menari diatas kertas putih merangkai kata hanya untukmu, seseorang yang lebih berharga dari sebutir berlian termahal di duna ini. teruntuk seseorang yang namanya masih belum mampu aku tulis diatas kertas ini, selamat hari minggu. semoga minggu depan lebih baik dari minggu ini. tenang saja, aku sudah meminta kepada Tuhan untuk menukar seluruh kesedihanmu selama seminggu ke depan dengan kebahagiaanku. ah, tenang saja. aku bisa menahan rasa sedih sebanyak apapun itu. apa kabar? bagaimana senjamu kemarin? apakah mengesankan? ah, sangat disayangkan. bagiku, setiap senja datang mengunjungi mengintip dari sela-sela jendela kamar, sinarnya selalu mengingatkanku kepadamu. aneh, bukan? hah, mengapa setiap hal yang aku lihat selalu mengingatkanku padamu? mau sampai kapan kamu tetap bersarang dibenakku? tapi aku berjanji, setelah kamu selesai membaca surat usang ini, aku sudah melupakanmu dan seluruh kenangan indah tentangmu. tujuanku kali ini adalah untuk mengucapkan terima kasih. terima kasih telah mengajariku bagaimana rasanya dijaga dan diperhatikan. bagaimana rasanya jatuh hati. bagaimana rasanya ditinggalkan begitu saja. bagaimana rasanya mengukir rindu diatas batu. aku ingin berterima kasih kepadamu. dan aku berterimakasih kepadamu. karenamu, aku dapat paham bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa timbal balik. aku hendak pergi. maka itu, aku menulis surat ini sebagai tanda perpisahan denganmu. aku akan pergi meninggalkanmu di belakang. aku akan melepasmu pergi, membiarkanmu mencari kebahaigaanmu sendiri. karena aku akan berkelana mencari kebahagiaanku. aku akan mengikuti kemana angin akan membawaku. aku ingin bebas leluasa mencari penggantimu. tidak mungkin selamanya aku akan hidup di dalam bejanamu. sudah cukup banyak air mata yang tertahan karena diam mengagumi dari jauh. hal itu sudah cukup membuat hati tersayat sangat dalam. bahkan dengan kecupan macam apapun tidak akan memperbaikinya. satu hal yang aku minta darimu. berbahagialah dengan siapapun itu perempuan pilihanmu. hargai dia dan perlakukan dia seperti dia adalah perempuan terakhir yang akan kamu lihat. aku tidak akan pernah berhenti mendoakan kebahagiaanmu. dimanapun kamu berada, berbahagialah. selamat tinggal. terima kasih untuk 1.700 hari ini. aku belajar sangat banyak. aku tidak akan melupakanmu seutuhnya. aku akan selalu mengingatmu sebagai senja favoritku.*
0
Mar 13, 2016
Mar 13, 2016 at 9:12 AM UTC
sepucuk senja januari
*lagi, aku menulis untukmu. tidak pernah bosan jemari ini menari diatas kertas putih merangkai kata hanya untukmu, seseorang yang lebih berharga dari sebutir berlian termahal di duna ini. teruntuk seseorang yang namanya masih belum mampu aku tulis diatas kertas ini, selamat hari minggu. semoga minggu depan lebih baik dari minggu ini. tenang saja, aku sudah meminta kepada Tuhan untuk menukar seluruh kesedihanmu selama seminggu ke depan dengan kebahagiaanku. ah, tenang saja. aku bisa menahan rasa sedih sebanyak apapun itu. apa kabar? bagaimana senjamu kemarin? apakah mengesankan? ah, sangat disayangkan. bagiku, setiap senja datang mengunjungi mengintip dari sela-sela jendela kamar, sinarnya selalu mengingatkanku kepadamu. aneh, bukan? hah, mengapa setiap hal yang aku lihat selalu mengingatkanku padamu? mau sampai kapan kamu tetap bersarang dibenakku? tapi aku berjanji, setelah kamu selesai membaca surat usang ini, aku sudah melupakanmu dan seluruh kenangan indah tentangmu. tujuanku kali ini adalah untuk mengucapkan terima kasih. terima kasih telah mengajariku bagaimana rasanya dijaga dan diperhatikan. bagaimana rasanya jatuh hati. bagaimana rasanya ditinggalkan begitu saja. bagaimana rasanya mengukir rindu diatas batu. aku ingin berterima kasih kepadamu. dan aku berterimakasih kepadamu. karenamu, aku dapat paham bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa timbal balik. aku hendak pergi. maka itu, aku menulis surat ini sebagai tanda perpisahan denganmu. aku akan pergi meninggalkanmu di belakang. aku akan melepasmu pergi, membiarkanmu mencari kebahaigaanmu sendiri. karena aku akan berkelana mencari kebahagiaanku. aku akan mengikuti kemana angin akan membawaku. aku ingin bebas leluasa mencari penggantimu. tidak mungkin selamanya aku akan hidup di dalam bejanamu. sudah cukup banyak air mata yang tertahan karena diam mengagumi dari jauh. hal itu sudah cukup membuat hati tersayat sangat dalam. bahkan dengan kecupan macam apapun tidak akan memperbaikinya. satu hal yang aku minta darimu. berbahagialah dengan siapapun itu perempuan pilihanmu. hargai dia dan perlakukan dia seperti dia adalah perempuan terakhir yang akan kamu lihat. aku tidak akan pernah berhenti mendoakan kebahagiaanmu. dimanapun kamu berada, berbahagialah. selamat tinggal. terima kasih untuk 1.700 hari ini. aku belajar sangat banyak. aku tidak akan melupakanmu seutuhnya. aku akan selalu mengingatmu sebagai senja favoritku.*
Continue reading...
10
*ada kalanya dimana aku akan duduk tersungkur di pojok ruangan memandangi selembar foto dirimu tersenyum bahagia disebelahnya kau sangat cocok bersamanya bahkan, tangan yang dulu rasanya pas disela-sela tanganku itu terlihat lebih cocok bersamanya dibandingkan denganku sudah beberapa kali aku mencoba untuk merelakanmu tanpa pernah memilikimu ikatan batinku terlalu kuat tidak bisa begitu saja aku melepasnya 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar, bukan? aku sudah tidak menunggumu pulang lagi karena aku tahu kau tidak akan pernah pulang lagi kepadaku dan aku harus belajar melepasmu*
0
Aug 14, 2014
Aug 14, 2014 at 8:53 PM UTC
tanpa judul
seluruh hidup, kau akan berdengung menyanyikan lagu selamat tidur ke telinga ini, dan di tempat tidur mati ini akan menjadi semua saksi.. suatu hari ku kan memuat sebuah memoar di dalam genggaman tanganmu..diiringi sebuah melodi terputus-putus dan bergetar.. mereka menemukan cinta dan ketenangan seperti mereka belum pernah mengenalnya..seperti sebuah daging yang diangkat dari sinar matahari mereka menemukan cinta dan ketenangan seperti mereka belum pernah mengenalnya..dan tulisan berakhir tanpa sebuah resolusi..sebuah revolusi sebuah kesudahan perlahan, meleleh, melebur melalui ruang dan waktu ke dalam diri lagi..kebutuhan sebuah realita akan menjadi hampa.. mereka berteriak kepada kehampaan “oh wahai kosmos, oh cahaya suci!”.. ia akhirnya belajar dari sebuah bayangan tidak hanya pada kegelapan dan kepada mereka yang tidak percaya pada sebuah proses, kelak akan menjadi akar yang busuk di dalam sebuah kandungan.
0
Mar 29, 2012
Mar 29, 2012 at 10:47 AM UTC
Revolusi dalam Kandungan
Desember bersambut hujan, menderas berlukiskan mendung. Sejuk menusuk tulang, yah hujan desember memang tak main - main dan tak tanggung - tanggung, serius. Memelukmu dingin bertubi - tubi. Belajar dari 'hujan desember' Pengorbanan seperti apa yang akan kau ukir untuk membuka pintu kemenangan dakwah ? Setergenang jalan setapak kah, dengan guyuran hujan ? Atau, sesemangat hujan desember kah ? Dengan turunnya susul menyusul melembabkan tanah tahun depan, menyusun rencana agar tanah tak mengering dan gugurlah dedaunan karena cuaca tak menentu .. Segemuruh deras hujan kah ? Berirama dan memberi isyarat bahwa lagi - lagi akan menggenang walau ada saja suara sumbang "aah, hujan turun lagi, sampai kapan " Dan entah akan kembali kah ia, dengan desember yang sama atau justru tertelan waktu dan mati .. Maka, prestasi apa yang telah terukir setahun ini dan rencana - rencana apa yang telah tersusun rapi untuk mendobrak peradaban kelam ini ? Mengembalikan peradaban gemilang "KHILAFAH ISLAMIYAH" .. Mengubur Demokrasi Kapitalisme Sekularisme dan tak bergairah lagi untuk bangkit .. Jangan sampai waktu tak menggenapkan umur . Jangan sampai terlanjur gigit jari, menyesal. Dan, jangan pernah bosan untuk tetap menyeru walau terus dihujat . Demi terterapkannya syari'at islam dan hidup sejahtera dalam naungannya .. Maka, jangan lupa sedekapkan kedua tangan dan berdoalah akan kemenangan islam dipercepat .. Karena hidup adalah IBADAH, AMANAH, dan MUHASABAH .. Allahumma Shayyiban Naafi'an ..
0
Feb 23, 2015
Feb 23, 2015 at 4:51 AM UTC
Be Rain
Desember bersambut hujan, menderas berlukiskan mendung. Sejuk menusuk tulang, yah hujan desember memang tak main - main dan tak tanggung - tanggung, serius. Memelukmu dingin bertubi - tubi. Belajar dari 'hujan desember' Pengorbanan seperti apa yang akan kau ukir untuk membuka pintu kemenangan dakwah ? Setergenang jalan setapak kah, dengan guyuran hujan ? Atau, sesemangat hujan desember kah ? Dengan turunnya susul menyusul melembabkan tanah tahun depan, menyusun rencana agar tanah tak mengering dan gugurlah dedaunan karena cuaca tak menentu .. Segemuruh deras hujan kah ? Berirama dan memberi isyarat bahwa lagi - lagi akan menggenang walau ada saja suara sumbang "aah, hujan turun lagi, sampai kapan " Dan entah akan kembali kah ia, dengan desember yang sama atau justru tertelan waktu dan mati .. Maka, prestasi apa yang telah terukir setahun ini dan rencana - rencana apa yang telah tersusun rapi untuk mendobrak peradaban kelam ini ? Mengembalikan peradaban gemilang "KHILAFAH ISLAMIYAH" .. Mengubur Demokrasi Kapitalisme Sekularisme dan tak bergairah lagi untuk bangkit .. Jangan sampai waktu tak menggenapkan umur . Jangan sampai terlanjur gigit jari, menyesal. Dan, jangan pernah bosan untuk tetap menyeru walau terus dihujat . Demi terterapkannya syari'at islam dan hidup sejahtera dalam naungannya .. Maka, jangan lupa sedekapkan kedua tangan dan berdoalah akan kemenangan islam dipercepat .. Karena hidup adalah IBADAH, AMANAH, dan MUHASABAH .. Allahumma Shayyiban Naafi'an ..
Continue reading...
17
Terkadang raga ini lelah melangkah Berjalan tanpa tahu pasti kemana Apakah akan singgah sebentar di sudut itu Atau mungkin akan berhenti di pelabuhan timur Malam itu aku tertatih Menahan perih dan luka Tanpa ada satupun yang sadar Dalam hati mengumpat watak manusia yang acuh Namun aku juga manusia Aku.. manusia yang tak akan pernah berhenti belajar Walau harus merajut asa dalam sakit Ditemani oleh temaram lampu kota aku menari Hingga raga ini tak sanggup Dan jiwa ini hilang dibawa angin malam
0
Apr 4, 2016
Apr 4, 2016 at 10:20 AM UTC
Temaram Lampu
Masih kubayangkan seperti apa jadinya aku apabila suatu saat aku benar-benar bisa memiliki dia. Mencintai dia begitu dekat. Sedekat tarikan napas dari setiap udara segar yang aku hirup di pagi hari. Masuk ke dalam paru-paru. Kemudian bercumbu di sana. Benar apabila aku memang sangat ingin bisa memiliki, segala hal yang mungkin tidak pernah bisa aku miliki. Begitu naif apabila kita sedang belajar mencintai seseorang. O wajahnya. O matanya. O hidungnya. O pipinya. O bibirnya. O rambutnya yang panjang tergerai jatuh di bahunya. Begitu jelas, hingga mimpi seperti realita. Dia begitu jelas terlihat. Dia begitu nyata, bahkan kurasakan sesuatu berdetak begitu cepat dan kencang, seperti angin yang menyibak rambutnya. Senyumnya membuat segala yang hancur menyatu kembali, tetapi tidak, tidak untuk setiap kali. Aku masih mencintainya, begitulah cinta yang semestinya aku akan katakan apabila memang dia benar ada di sini. Tetapi dia tidak di sini. Dan aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya. Dia begitu dekat, tetapi juga begitu jauh. Dia jauh dari mataku. Dan dia begitu jauh untuk bisa merasakan perasaanku padanya.
0
Mar 23, 2021
Mar 23, 2021 at 5:57 AM UTC
Nyanyian Kesedihan dan Patah Hati
Aku telah belajar banyak dari sunyi. Bagaimana menyimpan sendiri hal - hal yang orang lain susah mengerti. Kau boleh berfikir aku penuh teka teki, tetapi memang itulah satu - satunya cara agar ketika aku kecewa, aku tidak akan menyalahkan siapa - siapa.
0
Jun 26, 2018
Jun 26, 2018 at 3:52 AM UTC
Untitled pt.1
Aku selalu suka caramu menceritakan dunia, dengan barisan kata yang asing, membuatku harus memutar otakku yang rendah kapasitasnya ini. Aku selalu suka caramu bahagia, bahkan kamu tidak tersenyum ketika bahagia. Hebatnya kamu, bahagiamu bisa sampai ku rasa tanpa senyumanmu yang hadir. Aku selalu suka caramu bersedih, kamu selalu kehabisan kata. Melampiaskannya dengan hal yang bisa mematikanmu, namun pada akhirnya kamu juga butuh pelukanku. Aku selalu suka caramu marah, kamu selalu terdiam. Sampai pada akhirnya kata maaf terucap, karena kamu takut aku akan terganggu dengan marahmu. Aku selalu suka caramu optimis, membanggakan dirimu sendiri sampai lupa kalau di dunia ini ada orang sehebat Pak Habibie. Aku selalu suka caramu pesimis, tidak henti menyalahkan diri sendiri, tapi tidak memakan waktu lama. Setelah itu kamu bangkit lagi. Tapi satu yang tidak aku suka, caramu yang selalu mematikan rasa. Kamu tidak pernah membiarkan rasa-rasa dalam dirimu menyala. Kamu benci rasa. Sama seperti aku membenci diriku sendiri. Tapi tidak apa, Nanti kita sama-sama belajar untuk merasa lagi, ya? Namun, akan lebih baik jika pada akhirnya kita yang bisa saling menumbuhkan rasa.
0
Feb 26, 2020
Feb 26, 2020 at 2:16 PM UTC
02.16
Dalam lembut cahaya hidup yang temaram, Dengan yang tercinta di dekat, hati tetap bimbang. Di balik senyum, ada kehampaan, Saat malam tiba, menyelimuti kesunyian, Engkau berdiri sendiri dalam kesulitan, Jiwa terombang-ambing di lautan kehidupan. Di ruang riuh, sulit memeluk percaya, Seribu wajah, namun jiwa tetap waspada. Pada akhirnya, hanya dirimu, Yang menanggung langit biru. Dalam kesendirian, kita belajar menangis, Karena kesepian tak pernah habis.
0
Aug 18, 2024
Aug 18, 2024 at 10:55 PM UTC
Kesepian Sendirian
Pada akhirnya, yang mengerti adalah bayangan dan diri sendiri Sementara orang lain mati, pergi tanpa sempat kembali Pada akhirnya, yang berkeras hati adalah jantung yang menolak berhenti Sementara kaki mulai lelah berlari, meraung ingin menyudahi Pada akhirnya, yang abadi adalah sunyi dan sepi Sementara mimpi-mimpi, hilang tergerus tanpa arti
0
Dec 4, 2018
Dec 4, 2018 at 8:09 PM UTC
Belajar Berdamai (dengan Diri Sendiri)
Akhir memaksa hadir di sela-sela kisah yang sementara kita bangun dengan asa—tanpa aba-aba. Bersamanya getir, menetapkan takdir dari apa yang tak pernah kau dan aku amini sebelumnya. Mengaburkan fungsi intuisi, hilang arah semua kata demi kata dalam kepala. Membekukan imaji, runtuh semua rasa dan karsa. Ditengah terombang-ambingnya alur cerita yang kita garap, kau tetiba menyerah dan berhenti berharap. Menanggalkan semua mimpi dan asa, biar berserakan di atas meja tanpa perduli akan masa depan cerita. Meninggalkan aku, yang pernah menjadi ruang bagimu menuangkan ide perihal apa saja yang kau cinta. Adalah karenamu, duniaku kembali berputar. Adalah karenamu, aku belajar menulis tentang rasa. Adalah karenamu pula, aku mencoba mengartikan perihal cara mengikhlaskan. Dan mungkin itu sebabnya—tanpa sadar, kau juga mengajarkan soal kedatangan dan kepergian. Hadirmu menghentakkan semestaku untuk bergerak dan mesti beradaptasi. Tanpamu semestaku berusaha untuk terus berjalan tanpa harus kembali berhenti. Aku mencoba bertanggungjawab atas apa yang telah kita mulai. Mencoba menantang badai meski hanya berteman bayangan diri sendiri. Peran menulis naskah cerita kini sepenuhnya milikku, yang dulunya adalah tugas kita bersama. Terus melanjutkan dan memikirkan penyelesaiannya—meski tak ada lagi peleburan ide kita didalamnya. Semua yang rumpang akan rampung, sedih akan berbalas bahagia pada akhirnya. Waktu adalah saksi, upaya dan sabar akan menjawabnya. Belajar bangkit dari keterpurukan, hadapi dan rangkul baik segala kenyataan.
0
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 10:02 AM UTC
RAMPUNG
Akhir memaksa hadir di sela-sela kisah yang sementara kita bangun dengan asa—tanpa aba-aba. Bersamanya getir, menetapkan takdir dari apa yang tak pernah kau dan aku amini sebelumnya. Mengaburkan fungsi intuisi, hilang arah semua kata demi kata dalam kepala. Membekukan imaji, runtuh semua rasa dan karsa. Ditengah terombang-ambingnya alur cerita yang kita garap, kau tetiba menyerah dan berhenti berharap. Menanggalkan semua mimpi dan asa, biar berserakan di atas meja tanpa perduli akan masa depan cerita. Meninggalkan aku, yang pernah menjadi ruang bagimu menuangkan ide perihal apa saja yang kau cinta. Adalah karenamu, duniaku kembali berputar. Adalah karenamu, aku belajar menulis tentang rasa. Adalah karenamu pula, aku mencoba mengartikan perihal cara mengikhlaskan. Dan mungkin itu sebabnya—tanpa sadar, kau juga mengajarkan soal kedatangan dan kepergian. Hadirmu menghentakkan semestaku untuk bergerak dan mesti beradaptasi. Tanpamu semestaku berusaha untuk terus berjalan tanpa harus kembali berhenti. Aku mencoba bertanggungjawab atas apa yang telah kita mulai. Mencoba menantang badai meski hanya berteman bayangan diri sendiri. Peran menulis naskah cerita kini sepenuhnya milikku, yang dulunya adalah tugas kita bersama. Terus melanjutkan dan memikirkan penyelesaiannya—meski tak ada lagi peleburan ide kita didalamnya. Semua yang rumpang akan rampung, sedih akan berbalas bahagia pada akhirnya. Waktu adalah saksi, upaya dan sabar akan menjawabnya. Belajar bangkit dari keterpurukan, hadapi dan rangkul baik segala kenyataan.
Continue reading...
10
Hari ini namamu sembunyi, tapi dia belajar merangkak sendiri setelah aku matikan. Pikirmu aku sudah pergi tanpa sesekali berkunjung lagi. Memang benar ia telah kami asingkan, aku dan pikiranku. Hari ini namamu sembunyi, sesekali mengintip mengendap melihat dengan kening dinaikkan sedikit, tenang aku sudah pergi. Jangan bersusah membungkukkan badan sepertiga dari tumpukan gorden yang belum disetrika. Hari ini namamu sembunyi, yang aku matikan hidup lagi dan pulang sendiri tanpa dipaksa pergi. B_A 05 jan'19
0
Jan 5, 2019
Jan 5, 2019 at 3:56 AM UTC
Namamu sembunyi
Minggu, 18 November Siang menuju sore, panas. Halo, Aku lulu 18 tahun masih bingung masih belum terbiasa dengan kehidupan 18 tahun ini akhir november ini aku lebih suka sendiri tidak ada keinginan untuk bersinggungan dengan sesama manusia semangat hidup ? apalagi bukan ingin mati, tepatnya tidak ada niat untuk berbuat suatu apa tidak mau mati dulu kasihan keluarga yang membiayai pemakaman, mahal. utangku kepada mereka juga belum ada satupun yang lunas malah bertambah iya, utang seluruh hal yang bersifat rohani dan materi aku tidak ingin diikhlaskan bukan, tidak bisa diikhlaskan kupikir semua yang diberikan adalah utang terkecuali hal hal dari mereka yang sekiranya memang ikhlas. oiya, kecuali juga kalau aku pergi untuk yang ini harus ikhlas hahahaha aku ? selalu mencoba untuk belajar ikhlas doakan ya ! oiya aku juga sudah stabil sepertinya aku sudah tidak membuat badanku sakit semoga bertahan tapi yang ada mereka terus hadir tidak begitu kuat, namun sering dibilang ghoib ya bukan dibilang kasat mata ya bukan sepertinya sugestiku hmmm sudah hiraukan saja
0
Nov 18, 2018
Nov 18, 2018 at 2:43 AM UTC
Halo
••• Tak apa.. Dalam hidup pasti akan ada cela Tak apa.. Biarkanlah mereka semua tertawa Hidup memang tidak akan pernah sempurna Namun, hidup akan selalu menyimpan cerita Dan selalu ada makna indah tersirat di dalamnya Yang akan menuntunmu untuk belajar dewasa Dirimu hanyalah milikmu Ragamu akan selamanya menjadi milikmu Begitu pula dengan sukmamu, Yang akan selalu terikat dan melekat pada jiwamu Mereka yang mencela Hanya melihat yang ada di depan mata Namun, dirimu lah yang tahu semua di balik realita Biarkan mereka puas mencela tanpa rasa iba Namun, kau harus percaya Tiap nyawa memiliki kebaikannya Tiap jiwa memiliki indah benderangnya Dan tiap insan, pasti memiliki jalan terbaiknya Kamu hebat meski tidak sempurna Kamu indah meski tanpa dasar fakta Teruslah berteman dengan semesta, Niscaya kau kan temukan "bahagia" •••
0
Jun 7, 2020
Jun 7, 2020 at 9:49 AM UTC
Bahagia di Balik Semua Cela
Kalau penulis adalah seorang yang bisa menulis dalam kondisi apa saja Kalau pembelajar dapat belajar dalam kondisi apa saja Maka, untuk menjadi seorang ahli Butuh perubahan prefiks me, ber, menjadi pe, pen, dan lain. Belajarlah berani mencinta agar menjadi ahli cinta?
0
Sep 4, 2018
Sep 4, 2018 at 10:17 AM UTC
Rumus Menjadi Sang Maha
Mana pernah kau paham tentang perasaanku walau berulang kali sudah kusampaikan. Sekedar mendengar saja tidak. Sudah tau begitu, masih pula aku menaruh pengharapan yang besarnya melebih-lebihi besar nafsu makanku. Kasihan ya melihat naifku ini. Memaksakan sesuatu yang sudah mati. Aku ini kadang ingin terbahak karena lucunya kisah kamu dan aku, tapi anehnya masih selalu membuatku terpana, seperti terhipnots. Kepalaku yang sekeras batu dan hatiku yang serapuh kulit telur disanding dengan kepalamu yang pula berisikan batu, juga hatimu yang sedingin kutub utara sebelum global warming. Aku dan diriku, dan kamu dengan dirimu. Memang benar mungkin, kita hanya ditemukan untuk saling belajar, bukan untuk berakhir bersatu. Sebenar-benarnya, kamu adalah yang aku mau. Tapi rasanya permintaanku ini terlalu bertele-tele jika yang ku minta adalah kamu dan tidak ada luka. Karena memilih bersamamu akan selalu satu paket dengan luka dan perih. Aku saja yang sombongnya setengah mati, menutup mata dari ratusan pertanda yang Tuhan berikan.
0
Dec 4, 2019
Dec 4, 2019 at 11:12 PM UTC
Sudah
Untaian yang kusut Saat sedang belajar mengenalimu Kembali terurai dengan sendirinya Bersama perasaan yang pernah berharap Kini berganti seiring waktu Karena aku tau Aku bukan sosok yang kamu mau Aku juga tidak ingin jadi sosok itu Dan aku sudah tidak mau berjuang sendirian lagi Bukannya tidak mau kenal denganmu Menghindar darimu Karena takut timbul rasa lagi Hanya itu yang hinggap di pikiranku Dan aku tidak mengharapkan kamu kembali, sayang Jadi tolong untuk kali ini saja, mengertilah
0
May 31, 2019
May 31, 2019 at 2:10 PM UTC
BENANG MERAH
Menikahi berarti menenun siap dengan siapa, membangun kesiapan dengan segala persiapan. Tapi darimana mulainya? Dari mata yang mengeja teduh Dari telinga yang belajar tabah Dari hati yang mengejar teguh Dari situ, kita tahu artinya biduk ialah bicara dan duduk. Dari sini, bisakah kita mulai, Abadi?
0
Nov 5, 2023
Nov 5, 2023 at 7:44 PM UTC
Dari Sini Mulanya Abadi
Mimpi buruk ini menjadi nyata Tetapi tetap tidak seburuk yang kukira Ketika melihat kau lebih bahagia Meskipun harus meninggalkan luka. Belajar melupakan nya Seraya mengharap kedatangannya Berusaha menerima kenyataan Tetapi tetap saja berfikir cara untuk mendapatkan kembali hatinya.
0
Oct 19, 2019
Oct 19, 2019 at 6:16 AM UTC
1
aku memang beda tidak seperti laki-laki yang sebelumnya kau temui aku... tidak pernah yang namanya setengah hidupku tidak pernah yang namanya setengah aku puas telah mencoba segala hal dengan tidak setengah setengah aku di ajari untuk menyelam bukan mengapung disaat ini aku membebaskan mu dengan sebebas bebasnya manusia aku membebaskan mu untuk memilih disaat aku sakit hati kau tau? itu sakit yang bukan setengah-setengah aku pernah di posisi yang serupa seperti ini mungkin sekarang aku bisa lebih menerima hal tersebut, pendewasaan mungkin? setidaknya kau tau, bagai mana perasaan laki-laki yang tidak setengah-setengah ini pecah bagai beling, dan ku injak beling tersebut sampai aku merasakan hal seperti ini lagi, bagai bunga lily aku kembali mekar.... disaat kau kembali... setidaknya kamu tahu, aku memaafkanmu tidak setengah dan tidak akan membiarkan mu sakit kembali, akibat berkelana terlalu jauh... kamu rapuh... tuhan masih baik menunjukan sesuatu itu padaku bukan kepadamu... mungkin kalo tuhan melihatkan padamu... hal yang kurasakan, akan kau rasakan juga... aku belajar untuk tidak ikut campur lagi soal hubungan barumu mungkin nanti... kamu akan sadar dan tergampar akan realita yang besar memar... bagai terkena tinju biru... bagai lebam terpukul amarah batin aku disini, berlatih menjadi laki-laki untuk bisa menerima kekuranganmu, mungkin nanti tatapan ku masih seperti pertama kita bertemu, harapan yang dulu kita bual-bualkan akan ku realisasikan, hati-hati dijalan, aku menunggu di rumah... menunggumu pulang dengan sejuta cerita yang telah kau lewati...
0
Mar 23, 2022
Mar 23, 2022 at 1:01 PM UTC
buka mata mu!!!
aku memang beda tidak seperti laki-laki yang sebelumnya kau temui aku... tidak pernah yang namanya setengah hidupku tidak pernah yang namanya setengah aku puas telah mencoba segala hal dengan tidak setengah setengah aku di ajari untuk menyelam bukan mengapung disaat ini aku membebaskan mu dengan sebebas bebasnya manusia aku membebaskan mu untuk memilih disaat aku sakit hati kau tau? itu sakit yang bukan setengah-setengah aku pernah di posisi yang serupa seperti ini mungkin sekarang aku bisa lebih menerima hal tersebut, pendewasaan mungkin? setidaknya kau tau, bagai mana perasaan laki-laki yang tidak setengah-setengah ini pecah bagai beling, dan ku injak beling tersebut sampai aku merasakan hal seperti ini lagi, bagai bunga lily aku kembali mekar.... disaat kau kembali... setidaknya kamu tahu, aku memaafkanmu tidak setengah dan tidak akan membiarkan mu sakit kembali, akibat berkelana terlalu jauh... kamu rapuh... tuhan masih baik menunjukan sesuatu itu padaku bukan kepadamu... mungkin kalo tuhan melihatkan padamu... hal yang kurasakan, akan kau rasakan juga... aku belajar untuk tidak ikut campur lagi soal hubungan barumu mungkin nanti... kamu akan sadar dan tergampar akan realita yang besar memar... bagai terkena tinju biru... bagai lebam terpukul amarah batin aku disini, berlatih menjadi laki-laki untuk bisa menerima kekuranganmu, mungkin nanti tatapan ku masih seperti pertama kita bertemu, harapan yang dulu kita bual-bualkan akan ku realisasikan, hati-hati dijalan, aku menunggu di rumah... menunggumu pulang dengan sejuta cerita yang telah kau lewati...
Continue reading...
34
biarkan saja membekas kalau memang ia murni; sejati jangan dipagari buat apa repot-repot? "aku yang bunuh", ujarmu tapi selalu kau cari ia yang bersalah kau tak pahat tumbuh; tak juga lukis mekar tanggalkan permainanmu seolah-olah Tuhan lupa kah tuan pernah belajar melangkah saat ibu membawamu ke gurun? tanpa se-utas pun hak memilih bahwa taman adalah cita-citamu — a
0
Apr 16, 2020
Apr 16, 2020 at 12:03 PM UTC
di antara
tuhan, BANGUN! DASAR PEMALAS! SUDAH SAATNYA kau IBADAH, MENYEMBAH AKU. tuhan, BELAJAR! MASIH ADA SEMBILAN PULUH SEMBILAN SIFAT BAIKKU YANG BELUM kau TERAPKAN UNTUK DUNIA. JANGAN HANYA BISA (..........)
0
Dec 22, 2019
Dec 22, 2019 at 10:27 PM UTC
OKLASASADU