"akhir" poems
Chand ko dekhkar yaad tumhari aati hai,
Chand ki chandni b sath rahkar door hojati hai,
Chand ne auron ko to khush rakhti hai chandni apne ujale se,
Par chand se poocho jara k vo usk paas kab aati hai ?,
Raat bhar jagkar jo duniya ko roshan karta hai,
Andar hi andar vo bhi judai ki aag me jalta hai,
** kar rahe ae mere khushiyon k maalik tum bhi kuch aisa,
Mai dhoondhta rahta hu tumko paas apne,
Aur tum kahiin door nikal jate **
Fir bhi na jane kyun chand ko dekhkar tum yaad aate **
Kyun khataye meri tumhe har baar dikh jati hai,
Kabhi paas aakar to dekho mai kitna gunahgaar hu,
Tum to ruswa ** jate ** bewajah mujhse,
Aur na ki hui khata ki saja mujhe de jate **
Fir bhi na jane kyun chand ko dekhkar tum yaad aate **
Choot jate hai jo judai ki maar se mai vo dil ka saudagar nahi,
Tum to bas kuch pal bitakar sath me fir se meri duniya ko banjar bana jate **
Kabhi tum bhi mujhe aaajma kar dekho kareeb se,
Kyun door rahkar mujhe doori ka ehsaas kara jate **
** tum hi sirf meri jindagi me jise chaha dil ki har khwahish se,
Aur tum ** k gairon ko mera batakar rooth jate **
Fir bhi na jane kyun chand ko dekhkar tum yaad aate **
Mai nai hu vo jise duniya dil parast kahti hai,
Mai to deewana hu tumhari har baat ka,
Fir bhi na jane ku roothkar tapadne k liye chod jate **
Ban jaun ttera har pal ka sathi,
Kyun aisi koi saja nahi,
Jindagi bhar rone k liye,
Har baar kyun tanha kar k chale jate **
Fir bhi na jane kyun chand ko dekhkar tum yaad aate **
Kyun bhool jate ** k mai bhi hu tumhari raah me,
Khada hi aankhen band kark tumhe paane ki chah me,
Akhir aisa bhi kya k mere rone se bhi tum rooth jate **
Mujhe apna banakar pal bhar me paraya ban jate **
Fir bhi na jaane ku chaand ko dekhkar yum yaad aate **
i love you alot. N you are my only wish, need n reason. Trust me i love you n only you. Please my sweet heart marry me.
I cant live widout you n our baby.
May 11, 2019
May 11, 2019 at 8:04 AM UTC
wo din bhi kya the
jab neend hume sulati thi
sapno ki ek duniya
hume kahin dur le jati thi
wahin pe ab dafan hai
beete dino ki pehchan
mere har kal mai
aur meri har saans
beete dino ki wo duniya
guzre zamane ke wo pal
kahin gum hain wo garmiyan
ab to bus suna hai ye kal
gumshuda hain wo chehre
jinhone hume jeena sikhaya
rakh ** chale wo chehre
jinhe mitna ras aya
me bhi ek chehra ***
anginat ankhon me se ek
is samandar me mera bhi
wo haq hai
chahe lakhon me ek
par wo bolten hain
me to *** hi ek *****
ki ek tuta dil
fir nahi dhadakta hai
wo puchten nahi
in bhari mehfil
is tute dil me-
akhir kya rakha hai
Jun 19, 2015
Jun 19, 2015 at 7:15 AM UTC
Untukmu Cinta
Sejuta kata tercipta untukmu
Segenap jiwa ku serahkan padamu
Hingga akhir waktu ku sembahkan hanya untuk mu
Meski tak kau terima
Cinta dalam hati ku
Terhempas begitu saja
Bagai dari langit ku jatuh
Ingin ku berenang di lautan
Arungi samudera bersama ombak
Desir pasir melagukan alunan daun
Lambaian tangan untuk berselancar
Indah cinta mengikat raga
Satu aliran nadi di salam darah
Mulut mengucap selalu kata cinta
Hati pun akan selalu bahagia
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:53 AM UTC
Kau... membenciku kah?
tidak menyukaiku? atau mungkin kau iri padaku?
Kau begitu munafik!
dulu aku selalu bercerita tentangnya padamu, meskipun aku dan dia sudah tak lagi bersama kau pun tahu aku masih sangat sangat menyukainya. Kau tahu aku mengaguminya berbulan bulan, kau juga tahu untuk mendapatkan hatinya seperti berlari mendapatkan satu bintang kecil. Walau pada akhir nya aku hanya jadi pelampiasan perasaannya, tapi aku masih sangat menyukainya pada waktu itu meski kenyataannya harus seperti itu.
Aku teman mu, dan aku juga tahu kau juga temannya lebih dekat dari sekedar pertemananku denganmu.
tapi apa kau tak bisa mengahargai perasaanku sebagai temanmu?
kau tahu semua isi hatiku tentangnya, tapi mengapa kau sekarang?
memadu kasih dengan dirinya yang sampai detik ini kau tahu aku masih sangat mengaguminya!
kau jahat! kau benar-benar penghianat bertopeng pertemanan!
kau bukan lagi temanku sekarang. Itu terlalu sakit, sangat sakit untuk ku percaya.
kau bahkan hanya mengatakan maaf hanya untuk sekali seumur hidupmu?! itukah dirimu yang sebenarnya? menikamku tanpa ampun.
kalian berdua sama saja, tak ada gunanya aku mempertahankan seorang teman penghianat, dan sorang pengagum yang gila perempuan.
'seorang pencuri kekasih sesungguhnya mencuri seorang penghianat!'
Oct 10, 2013
Oct 10, 2013 at 11:30 PM UTC
Palembang 2 Januari 2012
Mark,
Kamu adalah satu-satunya orang yang buat ku kesal sepanjang akhir tahun
Membuatku selalu ingin menangis,
Bila ku dengar suaramu,
Bila ku lihat raut wajahmu
Tetapi Mark,
Kamu juga orang pertama yang hadir di awal tahun baru
Membuatku tersenyum bahagia
Membuatku menangis haru
Jan 2, 2012
Jan 2, 2012 at 4:54 AM UTC
*Berderap tegap nyaring bersuara
Saat pertama ku pajang jakun menutup pundak dan dada
**"Universitasku universitas Indonesia. "
"Terangkum dalam frasa 'buku pesta dan cinta'"**
Sayang hanya dalam nyanyian belaka
Isi kisahku hanya buku, tanpa pesta dan cinta
Jangan kurang jangan lebih jua
Pesta dan cinta punya takar unik pas tuk dicoba
Seperti kopi kelebihan kekurangan gula
Ada takaran pas 'tuk tiap lidah yg meminta
Kisah uiku kisah pesta
Pesta merayakan kebahagiaan, kejayaan, atau mungkin lepasnya keperjakaan
Kisah uiku kisah cinta
Cinta teman sebaya, cinta maba alat pelampiasan atau cinta kakak tingkat kece mempesona
Jika kisah uimu belum ada pesta dan cinta
Maka jangan paksa diri menyeret kaki lepas dari skripsi dan tugas yang ada
**Entah malang atau baik nasib akhir kisahnya
Jangan mau lulus jika belum mencoba***
Oct 24, 2016
Oct 24, 2016 at 1:09 PM UTC
Pukul satu, kakiku melangkah ke sudut warung kecil itu
Sunyi, lalu ku pilih tempat duduk di ujung sana
Setelah memesan kopi, pilot ku menggores kertas
Yang sama putihnya dengan kulitmu
Tak lupa kubakar ujung rokokku
Yang namanya sehangat pelukanmu
Lalu kuhembuskan kepulan asap tembakau
Menguar sama harumnya dengan tubuhmu
Sepekat nikotin di pembuluhku
Ku tulis kisah kita, dari awal mula hingga akhir bersua
Yang terdampar di sudut kenangan dan rindu,
dan kupaksakan masuk ke dalam loker kerjaku
Sehingga lupa ku adalah tabu, dan memoir adalah *****
Dirimu ku lukis dalam surat ini;
"Di hingar bingar kota, dimanakah kau berada?
Jika lelahmu beradu, dimakah kau berteduh?
Aku disini kasih, Surabaya tempatmu lari
Menolehlah jika kau ada di sudut persimpangan
Mungkin, aku disitu mencari dan mencari
Sisa-sisa cintamu jika itu memang terjatuh
Menadah air matamu, jika itu memang tercecer.
Temui aku, jika berkenan menjumpa nostalgia"
Kuhembuskan uap-uap tar yang menguning
Menerawang di bohlam remang-remang.
Ketika kabut itu pergi, begitu pula aku
Saat api ini padam, redup juga jiwaku
Pukul tiga aku beranjak,
Bayar dan pergi
Surat itu kutinggalkan di atas meja.
Apr 7, 2016
Apr 7, 2016 at 2:05 AM UTC
Jakarta, Selasa 8 April 2008
Kerlip indah di malam
Awal hidup bahagia
Melukiskan kata cinta
Indah cinta tercipta
Bagai bintang di surga
Cinta ku indah di atas
Bintang yang bercahaya terang
Membawa kasih cinta
Menebarkan padanya
Cinta ku suci padanya
Surga-Mu indah penuh bintang
Membawa kasih cinta
Tuk sampaikan padanya
Bercahayalah tenang
Hingga akhir jiwa ku
Hingga hati kan terluka
Indah cinta terlukiskan
Bagai bintang di surga
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:02 AM UTC
Jakarta, Tuesday 2 September 2008
Sudahkah akhir cerita ku
Namun mengapa kamu di sini
Semakin indah semakin ku sayang
Hingga, ku tak bisa pergi tanpa mu
Namun, diriku tidak mampu
Diri ku tak berdaya
Bila melihatmu lebih nahagia dengannya
Mengapa, bukan ku yang di sana
Mengapa, senyum ku tidak ada
Ku hanya senyum sendiri
Melihatmu bahagia
Tubuhku tak berdaya
Sambil terluka . . .
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:31 AM UTC
a fair question, deserving of thought,
goodly soft care and hard consideration,
strangely, instantly and undeniable,
one worldly, word achieves **********
whether first or foremost,
après ma raison d'être,
cannot list, nor rank or certain state,
yet my heart repeats, nation, nation,
my understanding, instant and complete
worthy journey to self-fulfillment,
contentedly unhappy to be permanently,
one poem short on the one continuum,
the-road-trip to salvation,
my end, my finality / our self-acualization
aking pagtatapos, ang aking katotohanan
my einde, my realiteit
fen m 'yo, reyalite mwen
akhir saya, realiti saya
ma fin, ma réalité
M
write of the ifs of a man's life,
and come aboutface to conclusions,
instant and long in the making,
there are willing ears on this globe,
welcoming me open armed, opened lipped,
knowing firstly this open-eyed greeting,
welcome poet, tell us
for we are one nation, everywhere invisible,
indivisible with liberty and justice inherent,
creation our common good, in fact it is our
lifelong wares and goods, letter by letter composing,
we sell for the price of free
This then single common currency,
our ouro, derivation of
languages multi and mellifluous here spoke,
this my/our nation where birthright and
citizenship ego-and-geo boundless,
my loves, continentally arrayed,
to whom I pledge until last breath
utter all, guttural devotion
when one of us creates,
good manifests, I care not
in what tongue,
for our tongues
intertwine and intertaste
this one flavor,
communitas,
meine gemeinschaft, meine gesellschaft
where spoken
goodness all the days of life,
it has goodly gotten me to you...
Mar 1, 2014
Mar 1, 2014 at 6:55 AM UTC
Segenap usia t'lah ku pegang. Namun, akankah telepas? Usia akhir hampirkah dekat. Apakah raga akan terbunuh?
Cintaku belum tergapai. Bisik hasut baik, terngiang di telinga. menyerukan kata indah tentang cinta. Agar ku tak merasa terikat usia.
Belum lama ku cicipi dunia. Akankah kandas bagai tergilas. Tiupan angin menjadi puing. Terbakar api menjadi debu.
Nyawa kini menjadi asap. Tak berguna tanpa cinta. Menangis haru karena suara indah. Dan tersenyum bahagia bermimpi cinta.
Created by. Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:55 AM UTC
JOGJA
“Jogja sedang berusaha menutupi kesedihan karena penyesalannya, buktinya akhir-akhir ini Jogja ramai sekali”
“Untuk apa Jogja bersedih?
Bukankah banyak yang mencintainya selama ini?
Buktinya Jogja bisa dengan mudahnya tebar keramahan kesana-kemari kemudian mendapatkan banyak hati.”
JAKARTA
“Jakarta sudah tidak kuat lagi menahan sakit perasaannya hingga ia menangis, buktinya kemarin hujannya turun deras sekali”
“Untuk apa Jakarta menangis?
Bukankah Jakarta begitu kuat?
Buktinya ia tahan mendengar suara bising dari banyak pasangan kekasih yang melempar janji-janji palsu selama ini.”
BANDUNG
“Bandung bingung menanggapi apa yang terjadi terhadap Jogja dan Jakarta, buktinya ia hanya bisa diam.”
“Tidakkah kau tahu bahwa bandung selalu bersuara?
Tetapi selama ini suaranya tersamarkan oleh suara hujan.
Buktinya suaranya tidak bisa dibuktikan.”
Dec 15, 2017
Dec 15, 2017 at 2:11 PM UTC
Setia ku hingga akhir waktu
Cinta ku tak mati meski hancur
Kasih ku tak habis slalu merindu
Diriku kan mati ditinggal mu
Suara hati ini bisu
Jejak langkah ini lumpuh
Tapi tetap kepakkan sayap
Menuju surga hidup kebahagiaan
Lagu cinta hilang
Berasa hening kali ini
Suara indah berhenti
Hatipun bersedih
Luapan cintaku tak berakhir
Sampai nanti, sampai aku mati
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:50 AM UTC
Malam itu hujan,
Entah Tuhan ingin membuatku semakin sedih karena suasana yang mendukung,
Atau Tuhan tidak ingin semua mengetahui kalau aku menangis.
Malam itu hujan,
Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu membuat aku bertanya,
Apakah kamu benar-benar orang yang pernah aku sayang dahulu?
Apakah kamu benar-benar orang yang selama ini aku perjuangkan?
Karena malam itu ketika hujan,
Aku seperti tidak mengenal dirimu.
Malam itu hujan,
Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu tidak lebih hanya membuat aku merasa sakit,
Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita baik-baik saja?
Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita tidak bertemu kata perpisahan?
Tapi tidak dengan malam itu ketika hujan,
Kamu bersikap seperti orang asing yang tidak aku kenal,
Kamu mendorongku untuk pergi dari kehidupanmu,
Kamu itu siapa?
Aku yakinkan diriku sekali lagi,
Apa kamu benar-benar orang yang selama ini aku sayang?
Malam itu hujan,
Aku tidak bisa berkutik kecuali meneteskan air mata,
Semudah itu untukmu?
Ketika selama ini aku bertahan dengan alasan yang mengharuskan diriku untuk pergi,
Semudah itu untukmu?
Ketika aku harus menahan rindu setiap malam,
Bertanya-tanya apakah dirimu baik saja di sana,
Semudah itu untukmu?
Tapi aku tidak menyalahkan malam itu ketika hujan,
Kepergianmu malam itu membuat aku sadar,
Kenapa aku terlalu takut untuk pergi sebelumnya,
Sedangkan kamu bisa melakukan dengan semudah itu?
Pergilah, aku merelakanmu.
Pergilah, bawa hujan di malam itu sebagai simbol akhir dari segalanya,
Pergilah, jangan pernah kau menoleh ke belakang untuk melihatku,
Aku yakin akan baik-baik saja,
Walau kini aku masih menangis bersama hujan.
Jul 17, 2017
Jul 17, 2017 at 4:38 PM UTC
Beruntung bisa berbincang
Terikat dalam dunia mu
Mencinta dibalik pertemanan
Menumbuhkan bibit cerita diriku & dirimu
Izinkan aku untuk memberi isyarat
Biarkanlah perasaan mu menjalar
Dekaplah bila terasa nyaman
Rasa ini telah menyatakan
Semesta yang menjadi saksi
Bahwa keajaiban terjadi di hati ku
Mendekatlah
Tangan mu akan merasakan detak ini
Berdetak hanya untuk mu
Sampai akhir hayat
Terikat dengan mu
Mendekatlah.
Jan 23, 2018
Jan 23, 2018 at 8:24 AM UTC
Jakarta, Jumat 31 Agustus 2007
Ya Allah …
Segala puji bagi-Mu
Untuk hamba sujud kepada-Mu
Berdoa meminta ampunanmu
Dari khilaf yang terus muncul
Ya Allah …
Bila hamba berdosa
Tunjukkanlah jalan-Mu
Bukan hamba yang kau siksa
Namun, syaitan-syaitan yang terkutuk
Ya Allah …
Hamba ingin hidup kekal
Menikmati dunia hingga akhir hayat
Merasakan indahnya kebahagiaan
Sekalipun hamba berdosa
Hamba siap menuju akhirat
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:15 AM UTC
Aku selalu senang berbincang pada semesta
Membicarakan dia,laki laki yang kucinta
Yang selalu ku sebut ditiap bait bait doa
Meminta pada penguasa
Untuk menjadikannya pendamping selamanya
Dan dipisahkan ketika sudah akhir usia
Egois memang,
Tapi bukannya ketika kita meminta harus katakan yang sejujurnya
Sekalipun itu memaksa ?
Intinya,aku mencintainya.
Semoga semesta selalu baik kepadanya.
Jul 25, 2019
Jul 25, 2019 at 12:54 AM UTC
Dahulu ku punya cerita
Tentang aku dan juga dirinya
Ingin ku akhiri saja
Meski menyakitkan
Hati ku selamanya
Baik ku lupakan saja
Kau bahagia dengan nya
Tak usah bertemu kita berdua
Meski menyakitkan
Hati ku selamanya
Created by Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:36 AM UTC
Jakarta, 30 Maret 2009
Jangan takut musuh negeri ini
Jangan takut penguasa negeri ini
Takutlah pada air bah yang mengalir
Takutlah pada penyapu kota ini
Jangan percaya kata mereka
Jangan percaya janji mereka
Percayalah pada diri sendiri
Percayalah pada Allah SWT
Maret pertandakan akhir
Pembayaran hutan akan janji
Amuk amarah alam negeri ini
Sebab tak satupun pemimpin peduli
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:59 PM UTC
pasal IV: tentang hujan yang tak kunjung reda, dan tangis yang tak kunjung berakhir.
- terkadang, ada beberapa hal yang datang, selain membawa berkah dan kebahagiaan, juga turut di dalamnya kesedihan yang berlarutlarut. seperti halnya hujan, yang datang membawa unsur kehidupan, tapi kemudian, dinginnya mengundang pilu, berusah mencari kehangatan. begitu pula dirimu, datang sekiranya membuatku bahagia walau di awal, namun akhirnya memilih pergi setelah membunuh setiap harapan baru yang tumbuh dengan tega.
- ada beberapa hal yang terjadi, namun datangnya tak dapat dihentikan, dan kepergiannya tak dapat dipaksakan, layaknya hujan ketika mentari tengah bersinar, membuat sebagian orang mendengus kesal, banyak hal rencana yang gagal. seperti halnya dirimu, ketika dirimu datang ketika ku tengah sedemikian rupa menata hati. kau datang mengambil setitik kecil potonganmu yang tertinggal, kemudian justru potongan kecil itu yang menghancurkan hati yang telah tertata rapi. hancur. kembali. lalu kau beranjak pergi, layaknya hujan badai yang reda, seolah tak terjadi apaapa.
- setelahnya, setelah sisasisa hujan pada dedaunan mengering, dan musim hujan telah berlalu, masih sesekali duakali ia datang, mebawa harapan sekilas, kemudian pergi seolah tak ingin kembali. sejenak menentramkan, meluruhkan kotoran di udara, namun tetesannyamengandung racun yang tak baik. seperti ketikamu datang tibatiba, seolaholah baikbaik saja, ternyata memang tidak ada apaapa, bukan benarbenar tidak ada, hanya saja, bukan untukku, tapi untuk dia yang lain.
- selalu ada akhir dari jutaan tetesan air yang jatuh ke bumi, dan semoga, hal itu juga berlaku pada diriku. entah kapan tangis akan reda, namun kau tetap saja berlalu, semoga kau tak lagi datang membawa harapan. maafkan keegoisanku memilih menangisi kepergianmu.
prdks.
Sep 25, 2017
Sep 25, 2017 at 8:52 AM UTC
Setelah kurasa lelahku butuh hiburan
Aku ingin meredakan linu-linu
Lancong ke kepalamu mungkin bisa jadi pilihan
Membawa kangen yang tertumpuk penuh akhir akhir ini
Merebahkan tubuhku disana
dan bicara tentang senja yang memar di punggungmu
May 14, 2018
May 14, 2018 at 4:56 AM UTC
Bersama suara tawa
Terdengung hasrat hati sedikit kata
Dia yang berbaik hati
Dan saya yang bersakit sakit
Merangkak dibawah kebaikannya
Menggumam kala dia tertawa
Gapai senyumnya yang tak kasat hati
Bahkan, rela tenggelam dalam pasir khayalnya
Hm, apakah ini saatnya?
Pengakuan akan hasrat hati sebenarnya?
Mengenai rasa dan karsa
Di akhir petang ini,
Bersama riakan air dan sapaan ombak
Bahkan ditemani oleh anak kepiting lucu
Dan lembayung surya sebagai saksi
Saya, sang khalayak yang tengah berdiri
Memintanya untuk berhenti
Baik dalam melangkah, ataupun berlari
Karena saya akan mencari sisi ujung lembayung surya yang lain
Dan dia tak perlu tahu jika memang tak ingin
Terima kasih
Aug 7, 2019
Aug 7, 2019 at 11:56 AM UTC
Bukan saatnya, kawan,
Kau tertunduk dengan tangisan
Seakan dunia sudah kiamat.
Mungkin hatimu sedang tertusuk
Oleh buaian para pemberi harapan
Dan setan pembisik di telingamu.
Tapi ingat,
Ceritamu hanya sebatas koma,
Masih ada kalimat panjang
Yang menantimu sampai akhir hayat.
Nov 1, 2018
Nov 1, 2018 at 6:39 AM UTC