Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"tertawa" poems
Jumat, 1 Oktober 2010 Alangkah gembiranya aku Ingin ku tak henti tuk tersenyum Tertawa, bahagia karena mereka Terima Kasih Tuhan,,, Kini banyak yang sayang pada ku Mereka begitu berarti bagiku Yang hiasi hari-hari di sekolahku Terima Kasih Tuhan... Mereka tidak kehilanganku Mereka selalu memuat ku tersenyum Dan selalu tersenyum untukku ku Bersyukur aku atas yang ku dapat Aku sayang kalian, Sahabat-Sahabat ku... Created by. Aridea .P
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:49 PM UTC
Sahabat Ku
***Jika kau tanya siapa aku Bagaimana harus kujawab?*** *Tiada hari tanpa kukenakan kedok tebal ini Menebar senyum, canda, berpesta Aku meraung sambil tertawa Riasan mata dan bibir dengan berbagai opsi warna Jangan! Jangan terlalu pucat juga jangan terlalu mencolok Nanti orang tidak senang Kau kan harus memuaskan setiap mata Jangan lupa pasang tameng itu tanggal demi tanggal Jika tak lalai kalungkan secercah pamor dan aga Bagaimana jika terlalu pucat? Ah ya orang  tidak suka Cakap nista kan menghardik Memekik Menghamun Siapa monyet abu kucam menjijikkan didepanku? Namun jika terlalu mencolok Jua hinaan berkunjung ada Biar ku beritahu Mereka tak suka kau lebih darinya Aku benci dunia Aku berantakan Kecurian Namaku hilang dimakan cacian Bagaikan karang tertutup berjebah rumput lautan Aku mahkota yang hilang Ah! Omong kosong semua! Enyah kau kepala cemar Umbi harus kembali didekat akar Aku berkenan rujuk atas jasadku Biar aku melalak tinggal abu Aku enggan gemang Aku punya Sembilan nyawa Jika kau tanya siapa aku Aku namaku Jangan berani-berani hina nama itu! Marcapada boleh berlimpah belang dan muka dua Aku  jijik serupa dengan dunia*
0
May 11, 2016
May 11, 2016 at 8:54 AM UTC
Jika Kau Tanya Siapa Aku
Aku berdosa, Telingaku bunuh diri. Sudah baru-baru ini Aku sepenuhnya tuli Aku tak tahu lagi   Apa kata dedaunan Pada tanah yang terantuk lemas dibawah Atau ceracau yang diteriakkan Bunga keparat Untuk mayat dingin si kumbang. Bahkan di restoran tua Yang setiap sela kayunya berdarah dingin, Tempat rintihan musik bisumu selalu dialunayunkan Semuanya hanya tertawa hening lalu mati begitu saja. Dan meskipun duduk menghadapmu Aku masih tak dapat mendengar Suara mengaji jam setengah mati Yang kerap menceritakan Dongeng gelap kita Dari lampau sampai me— La lala la la       lala la lala La la la la la lala            La la la lalala la la La —Lampaui Pemakaman hati yang mati dipancung Di pekarangan rumah tiap senja gulana Yah, baru-baru ini aku tuli Bisu lagi, Mampunya cuma mengumpat dalam tulis. Dan dihadapkan denganmu, Sesekali dalam terkadang Aku anehnya dapat mendengar Serintikan isak tangis yang Sama sekali tidak kita cucurkan Lalu ini semua salah siapa, Kalau aku baru tuli Lalu kamu sudah bisu? Apa memang ini dosaku? Di palangnya tertulis; Nama: Siapapun yang menangis Di sela-sela pengakuan dosa Kematian telinga gila Dan kelumpuhan bibir hambar Kita tiba-tiba melongo, Tuhan tertawa Sabar lagi bahagia, Mengisyaratkan untuk Sudah, ya, Simpul mati saja senyum satu sama lain.
0
Aug 30, 2015
Aug 30, 2015 at 8:46 AM UTC
Pengakuan Dosa Penyair Tuli Pada Sebuah Film Bisu
Aku menangis, padahal tak ada yang harus ditangisi Aku tertawa, padahal tak ada yang harus ditertawai Aku berjanji... Tanpa tahu akankah ku tepati Aku bersumpah Tanpa tahu azab apa yang akan ku dapati Keinginan hati hanya mimpi Hati munafik padahal baik Mangapa jiwa ku terbagi? Selalu hadir bergant-ganti Jiwa keras hadir, terluluhkan oleh dia Sesal pun menghampiri Air mata curahan hati Jiwa lembut hadir, tertegur perkataan "MUNAFIK" Mengucap kata meyakini Inilah aku yang asli Mengapa jadi serba salah? Hati ku keras, hati ku lembut Selalu berakhir air mata Bertanya, dosakah aku pada Tuhan? Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:44 AM UTC
MUNAFIK
Kepada Kamu. Kita terlalu sama. Suka menangis diam diam. Kelihatan tegar di luar, padahal hancur di dalam. Ketika kini kulihat tawamu yang terlalu keras, aku tahu bahwa kau sedang tidak baik baik saja. Kau memang ahli bermain peran, tapi tidak di hadapanku. Cobalah hidup jujur terhadap apapun yang kau rasa. Tuhan tidak menciptakan apapun untuk sia-sia. Hidup tidak melulu soal bahagia, tapi juga sebaliknya. Itu kemutlakan yang tak bisa kau tolak. Seperti sekarang, jangan selingkuhi perasaanmu sendiri, menangislah. Sungguh, tidak ada yang salah dengan jatuhnya airmata. Airmata bukan penanda lemah, sebaliknya itu pertanda agar kau tidak lengah. Setiap kita memiliki lukanya sendiri sendiri. Juga, memiliki cara sendiri sendiri untuk memulihkannya. Airmata adalah cara lain kau berbahasa dan mengungkap rasa, ketika kau tak sanggup mengolah kata. Biarkan luka terbawa oleh setiap tetes airmata yang menitik sukarela. Terkutuklah mereka yang percaya ‘anak hebat tidak menangis’ lalu menurunkan kebijakan yang tidak bijak itu pada anaknya. Mereka pasti mati rasa. Izinkan aku menemanimu, tanpa banyak bicara, memberi petuah yang menjemukan, atau bertingkah konyol agar kau tertawa. Aku hanya akan duduk di sampingmu, menemani selama kau mau. Dan sesekali memberi genggaman, untuk menguatkan. Note: bahkan airmata adalah buah tawa, saat aku bahagia bisa menemanimu dan mendengar cerita kegiatanmu seharian.
0
Mar 4, 2015
Mar 4, 2015 at 2:40 AM UTC
Tear
Palembang, 3 November 2011 Aku bersabar . . . Tetap berusaha dengan penuh harap Supaya bisa melihat wajah mereka Mendengar suara mereka Menyaksikan kekompakan mereka yang sangat aku cinta Aku tidak menangis . . Hampir, tetapi ku hapus air mata dan ku pasang senyum bahagia ku tersenyum sesekali, tertawa bersama mereka Aku tidak mengerti bahasa mereka Tapi aku mengetahui yang mereka bicarakan Aku tidak pernah bertemu mereka Tapi aku bisa merasakan mereka sangat dekat Aku tidak mengenal mereka Tapi aku sangat mencintai mereka Dari dulu hingga sekarang rasa ini tak akan berubah Meskipun aku belum beruntung Doa membantuku memberitahu-Nya Bahwa aku sangat merindukan mereka Sekarang,,, Aku sedang memandang mereka Merekam setiap kata, gerak, dan ekspresi mereka Hal terindah yang pernah aku rasakan Terima Kasih Tuhan, , , Hadiah ku datang Created by. Aridea P
0
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 11:57 AM UTC
Hadiah Ku Datang :)
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
0
Sep 23, 2016
Sep 23, 2016 at 12:19 PM UTC
Sepenggal Cerita 68 tahun
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
Continue reading...
35
Kekasihku telah meninggal Tak ada lagi yang tersisa dari Rambut panjangnya Bahkan sekarang Senyumnya berbau masam Kekasihku telah meninggal Sudah tak dapat lagi ia ucap Sajak-sajak getir Laut di ufuk Apalagi senandung bintang atas kita Kekasihku telah meninggal Sentuhannya dingin Tubuhnya kaku Kelembutannya menjadi pisau Dan gurauannya antarkan duka Ia tetap tertawa dalam kematiannya Karena jasadnya dapat terus hidup Sebagai manusia lain Yang bagiku, entah siapa Yang bahkan tak kukenali danurnya Jika bisa Aku ingin mengembalikan tubuh itu padanya Akan kugali kuburan dalam hatinya Kutarik keluar jenazahnya dan kubangkitkan, Dalam sebuah peluk dan angan Akan kubiarkan ia merasuk Pada tubuh tak berhati Tak berjiwa itu Tubuh budak Peradaban lama Akan kubiarkan ia merasuk Panjang rambutnya yang fana Senyumnya yang binar Hatinya yang murni Harus ku kembalikan Pada Tubuh Hidup Gentayangan Itu
0
Apr 19, 2016
Apr 19, 2016 at 4:14 AM UTC
Pada Tubuh Hidup Gentayangan Itu
waktu tidak serta merta memberi salam maupun pamit ia berjalan saja mengikuti poros dan terkadang aku tak merasanya cepat.. kemarin rasanya aku baru akrab denganmu, setalah kebungkaman yang berbicara menahun aku hanya bisa tertawa, jika aku ingat dulu. kamu dan aku kemudian dibawa waktu untuk saling bicara untuk pertama kali sebenernya aku dipaksa karena aku membutuhkan bantuanmu aku memanfaatmu..agar kita dekat mungkin itulah cara-Nya maaf.. sampailah kita diakhir studi kuliah topi bertali dan jubah sudah mantap kita kenakan tapi dihari itu aku tak melihatmu mauku melihatmu dengan jas hitam dan kemeja merah mudamu yang manis tapi aku senang. semoga kamu gapai maumu selalu dan selamat.. aku masih merepotkanmu hingga detik ini
0
Nov 30, 2018
Nov 30, 2018 at 9:44 AM UTC
Untitled
Di perjalanan yang kau dan aku tempuh Mencari makna tentang kata kita Di tengah semarak laskar kuning menggemuruh Romantika ganjil antara dua pasang mata Masih banyak petualangan yang menanti Ekspedisi kupu-kupu atau jelajah taman satwa Di atas bis ini kau dan aku temukan teman sejati Layaknya anak kecil, bersama tertawa Bait-bait ini mungkin tak mengandung arti Bagi mereka yang tak pernah mengalami Baik-baik kau simpan rahasia ini dalam hati Begitupun aku, jauh di selubuk memori
0
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:45 AM UTC
B.I.S
Aku ikut tertawa Aku ikut tersenyum Tapi rasanya berbeda Aku bersama mereka Tapi aku tidak bisa menggapai Dan tidak ada yang menggapai..ku Ku kira aku air Ternyata aku hanya embun Ku kira aku cahaya Ternyata aku hanya bayangan Aku berada di kotak ilusi Berdinding fatamorgana Bersama tapi terpisah Hanya aku Hanya aku yang dipisahkan Haruskah ku pergi? Atau mereka yang ternyata berbeda?
0
Nov 3, 2018
Nov 3, 2018 at 12:10 AM UTC
Beda Rasa
Ketika pagi beranjak malam Memutar seribu kenangan di angan Menelusuri ruang ruang berkarat Hingga berhenti disatu titik Teringat asam manis kehidupan Jiwaku terenyuh Hanyut dalam ombak mendayu dayu Itukah kamu cinta Sayang yang melekat seperti nadi Suara jangkrik menjadi iringan Berlari, tertawa, menangis bersama Aku tau aku tak bisa Menarik memorimu dan berdansa Kasih lain telah membawamu Ketempat suci Yang bahkan tak bisa ku raih
0
Dec 24, 2016
Dec 24, 2016 at 10:42 PM UTC
Imaji
Bahkan hembusan angin berbahana Dua tiga pasang jiwa bercakap Tertawa pun berteriak Bila mata terpejam tenangnya Alam tak lagi bisu Kau dan aku Mengunci tatapan dan suara Kita adalah bisu Diam dalam kesunyian yang kekal Debaran jantung berdetak sepi Jangankan seulas senyum Mata saja enggan berbicara Lantas satu di antara kita akan sadar Diam juga bagian dari percakapan yang tidak berujung.
0
Jun 1, 2018
Jun 1, 2018 at 12:43 AM UTC
Deru Hati yang Telah Usai
kau tahu tentang rasa? rasa kesal yang bisa ku luapkan dengan amarah, rasa sedih yang bisa ku gambarkan dengan tangisan, rasa bahagia yang bisa ku lukis dengan tersenyum, bahkan tertawa. namun bagaimana dengan rindu? aku harus apa? menahannya? perih.
0
Oct 7, 2016
Oct 7, 2016 at 11:36 AM UTC
Rasa
Dalam diam kau mencari sosokku Dekat namun tak tergapai Aku ingin menyentuhmu Namun kau hanyalah sebatas suara bagiku Aku menatap wajahmu Sorot tajam diasah sepi Dalam kesendirianmu kau mencari sosokku Namun aku hanyalah sebatas kenangan bagimu Hujan yang memancing air matamu Daun gugur yang menemani ratapanmu Aku ingin kau melihatku Kau ingin aku menyentuhmu Aku ingin kau tersenyum untukku Kau ingin aku tertawa untukmu Waktu akan menghampiri Tanpa bisa diingkari Aku menemani dirimu Walau hanya suara Kau memberikan hangatmu Sedih dan duka Lalui, tidur dan lewati Suatu hari nanti katakan padaku Dengan suara lembutmu Aku yang larut dalam air mata Gemerlap berkaca-kaca   Semburat jingga langit sore Gelap langit malam sewarna abu Menjadi tinta dalam hatiku Mengukir dengan indah hari-hari itu Saat kau bersama denganku
0
Dec 5, 2017
Dec 5, 2017 at 8:40 AM UTC
Suaramu Tinta Dalam Hatiku
Dibalik sejuta bunga yang tertanam disini, ada dirimu; sebuah keindahan yang tidak pernah meminta perhatian. tersenyum tanpa terpaksa menangis tanpa air mata tertawa tanpa aba-aba jika boleh tau, mengapa kita harus berpisah? apa karena kau terlalu menyukai kota sejuta bunga? atau karena aku bukanlah laki-laki yang baik untuk hubungan kita? apapun alasanya, kuharap kau bahagia. karena sesungguhnya, keindahan sepertimu tidak akan pernah meminta perhatian. terhalang keindahan kota sejuta bunga. tertanam dibawah, tersembunyi tanpa jejak amarah. kalau begitu, laki-laki ini ingin pamit; membawa segala pilu yang membiru tanpa perlu pusing memikirkan hatinya.
0
Mar 10, 2019
Mar 10, 2019 at 9:12 PM UTC
Magelang; Kota Sejuta Bunga
Biarkan aku bercerita, tentang anggun nya malam kala kita bersama. Dua insan yang terlihat saling suka. Tertawa lepas tentang angan yang berkelana. Menyanyikan lagu kesukaan yang ternyata sama. Berbaring dan saling tatap. Biarkan aku bercerita, Tentang isak tangis sang wanita kala rindu menyergap. Penantian panjang pesan yang tak dibalas. Lagu yang tak lagi terdengar menyenangkan. Berbaring dengan harapan sang pujangga kembali datang.
0
Sep 7, 2018
Sep 7, 2018 at 11:09 AM UTC
Biarkan aku bercerita
"Dulu aku pernah merasa kalau dicintai dan diterima saja sudah cukup, ternyata sisanya hati dan pikiran jadi babak belur" Dia tertawa sangat puas, "Lalu? Kapan kamu sadar ternyata manusia punya tiga wajah?"
0
Jun 5, 2021
Jun 5, 2021 at 12:19 PM UTC
Mitsumen
Hallo kamu, ini aku Aku yang sudah lama mengenalmu, walau kamu belum mengenalku Aku yang sudah lama mendukungmu, walau kamu belum jumpa dengan ku Aku adalah seseorang yang selalu tertawa dan tersenyum karenamu Walau kamu bukan tertawa dan tersenyum karenaku Tetapi aku selalu ada Bersorai untuk kamu Jika suatu hari keberuntungan mulai berpihak pada ku Kamu akan tahu siapa aku dan aku tahu kamu akan berkata Hallo kamu, ini aku dan aku pun akan menjadi kamu
0
Jul 30, 2019
Jul 30, 2019 at 2:07 AM UTC
Aku dan Kamu
Banyak hari telah kita lewati bersama Aku mengamatimu cukup dalam, entah dengan kamu Dari mulai caramu membuka mata setelah bangun dari tidur, Caramu memperhatikanku ketika sedang berbicara, Caramu tertawa ketika aku mengatakan sesuatu konyol, Dan hal-hal lain yang kuanggap obat dari segala masalahku. Aku tahu, kita dekat bukan dalam hal lumrah dalam sepasang manusia yang saling memiliki rasa cinta. Aku hanya mengagumi. Menjadi pengagummu adalah pilihanku. Mencintaimu dim-diam hanya sebatas itu kuasaku. Tak meminta apa-apa darimu Bahkan ketika rindu meminta temu. Maaf jika aku menjadi pengagummu yang mungkin membuatmu merasa bersalah akan hal itu, Tapi tak apa. Asalkan kau baik-baik saja, akupun begitu Terimakasih pada waktu yang telah memberikan kenangan cukup indah tentan aku yang bersamamu kala itu.
0
Jun 10, 2017
Jun 10, 2017 at 3:45 AM UTC
Dirimu
sama-sama tahu janji tidak akan ditepati semesta pun tertawa, bodoh sekali dua orang yang saling jatuh cinta saling mengucapkan harapan agar bahagia tidak cepat berlalu
0
Nov 24, 2019
Nov 24, 2019 at 1:42 PM UTC
semu
mungkin akan menjadi cerita ter-lusuh yang pernah aku tulis ----- ingat ketika aku dan kamu di padang rumput yang menguning? lalu kita sama-sama terpukau dengan pemandangan di depan mata waktu itu kita sama-sama tidak berusaha memotretnya karena masing-masing kita hanya fokus mencari ide untuk memulai percakapan mungkin saat itu aku sudah terpikir sesuatu untuk aku mulai tapi lucunya, malah kamu yang memulai percakapan waktu itu kamu bertanya tentang kehidupanku semester ini baik atau tidak baik seperti biasa aku mengumpat, sungguh, tidak baik hidupku satu semester ini kamu tertawa, entah menertawakan nasibku atau reaksiku kamu tertawa seakan aku baru saja memberi lelucon terlucu abad ini mungkin kalau kamu bukan kamu, aku sudah marah tapi aku justru suka dan jujur, aku bisa saja bersyukur mempunyai nasib seburuk itu hanya untuk mendengarkanmu tertawa setelah itu giliranmu bercerita aku sudah bisa menebak, ceritamu pasti seputar hal yang tidak penting dan memang benar..... tapi aku tetap mendengarkan, karena pupil matamu melebar tanda kamu suka dengan hal yang kamu ceritakan dan aku suka ketika kamu semangat dalam meceritakannya aku mendengarkan -//- waktu berjalan, obrolan kami mulai masuk dalam topik yang rumit tentang penciptaan, tentang dunia, tentang alasan kami hidup biasanya otakku mulai memanas ketika membicarakan hal ini dengan lawan bicara yang lain tapi denganmu, aku mengidamkan lebih seperti perpustakaan yang disinari lampu kuning hangat dan kutu buku yang tersenyum membaca tumpukan buku harum setelahnya...
0
Jan 5, 2020
Jan 5, 2020 at 11:23 AM UTC
catatan waktu itu1
mungkin akan menjadi cerita ter-lusuh yang pernah aku tulis ----- ingat ketika aku dan kamu di padang rumput yang menguning? lalu kita sama-sama terpukau dengan pemandangan di depan mata waktu itu kita sama-sama tidak berusaha memotretnya karena masing-masing kita hanya fokus mencari ide untuk memulai percakapan mungkin saat itu aku sudah terpikir sesuatu untuk aku mulai tapi lucunya, malah kamu yang memulai percakapan waktu itu kamu bertanya tentang kehidupanku semester ini baik atau tidak baik seperti biasa aku mengumpat, sungguh, tidak baik hidupku satu semester ini kamu tertawa, entah menertawakan nasibku atau reaksiku kamu tertawa seakan aku baru saja memberi lelucon terlucu abad ini mungkin kalau kamu bukan kamu, aku sudah marah tapi aku justru suka dan jujur, aku bisa saja bersyukur mempunyai nasib seburuk itu hanya untuk mendengarkanmu tertawa setelah itu giliranmu bercerita aku sudah bisa menebak, ceritamu pasti seputar hal yang tidak penting dan memang benar..... tapi aku tetap mendengarkan, karena pupil matamu melebar tanda kamu suka dengan hal yang kamu ceritakan dan aku suka ketika kamu semangat dalam meceritakannya aku mendengarkan -//- waktu berjalan, obrolan kami mulai masuk dalam topik yang rumit tentang penciptaan, tentang dunia, tentang alasan kami hidup biasanya otakku mulai memanas ketika membicarakan hal ini dengan lawan bicara yang lain tapi denganmu, aku mengidamkan lebih seperti perpustakaan yang disinari lampu kuning hangat dan kutu buku yang tersenyum membaca tumpukan buku harum setelahnya...
Continue reading...
32
Malang; Biarkan aku bercerita, tentang anggun nya malam kala kita bersama. Dua insan yang terlihat saling suka. Tertawa lepas tentang angan yang berkelana. Menyanyikan lagu kesukaan yang ternyata sama. Berbaring dan saling tatap. Menyadari cinta selalu ada.
0
Dec 29, 2018
Dec 29, 2018 at 12:27 PM UTC
Malang.