Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"terjebak" poems
Aku terlalu kecil Sekecil titik di atas kertas kusut Aku hanyalah satu dari ribuan bahkan tak terlihat Terlindung dalam cangkang sempit dan tipis Bersembunyi di balik daun yang mulai berubah warna Rumah pertamaku akhirnya aku terlahir sebagai sesuatu yang aneh Aku si buruk rupa Tubuhku dipenuhi bulu Merangkak lemah menyusuri ranting Menggerogoti daun disekitar membuatnya berlubang melarikan diri dari burung Bergulat dengan semut rangrang Membuat saya jatuh ke tanah Hingga buluku rontok berserakan Hanya cacing yang menyapa Mereka membenci saya sangat Aku bisa terbunuh, tidak semuanya menerimaku sampai aku terjebak dalam dimensi lain Aku si  ulatbulu kesepian yang bersembunyi Bertapa di dalam kantung usang yang kecil Mencoba untuk membunuh waktu Berjuang dalam kegelapan untuk mencapai keindahan Sudah cukup persinggahanku Mengarungi kerasnya penantian panjang yang membelenggu Aku terlahir kembali menjadi berbeda dan mereka menyukaiku kebahagiaan berlimpah tiba terbang tanpa batas dengan kedua sayap yang cantik pergi ketempat yang indah yang kumau
0
Sep 16, 2016
Sep 16, 2016 at 10:23 PM UTC
Metamorfosa
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
ada gelap, redup, lalu apa?
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
Continue reading...
31
Tak ada yang bergerak di luar jendela Rahasia tersimpan rapi diantara bantal-bantal yang tersusun Izinkan aku untuk masuk Aku tak akan menyakitimu Kita terjebak diantara Surga dan Neraka Mencari tempat berlindung Ketika rasa sakit mengalir turun seperti hujan Mereka membagikan rasa itu secara cuma-cuma Saat bagian tersulit berakhir Kita akan terus berada disini Kita bisa memberitahu Iblis untuk kembali ke tempat ia berasal Karena kau dan aku telah melawati batas-batas ketakutan berdua.
0
Jun 5, 2016
Jun 5, 2016 at 10:01 AM UTC
Selisih
Hey buddy Engkau yang tak pernah mungkin kembali Kau yang membuatku terjebak dalam sebuah ironi Kita dihadapkan dengan sebuah hukum pasti Semua yang terlahir pasti akan mati Pada masanya 10 tahun penuh makna Bersamamu ku dapat melihat indahnya dunia Ya, indahnya dunia Walaupun sekarang engkau sudah di alam baka Dan sosokmu hanya tergambar dalam sebuah berkas kamera Kehadiranmu kala itu bak seberkas cahaya Yang membuatku tetap ingin bertahan di tengah ketidakadilan dan penindasan yg bermakna Di saat aku tidak bisa lagi melihat sisi baik 'manusia' Ketika aku pulang dari kandang ilmu dengan penuh tangisan Seakan engkau menanyakan 'apa yg sedang terjadi?' Ketika aku hanya ingin berhenti Berhenti dari segalanya Bahkan untuk sekedar bersinggungan dengan udara Engkau seakan tak rela Aku tak pernah ingin mengulang waktu Walaupun itu bersamamu Waktu yang begitu berat bagi hidupku Waktu yang membuat semua yg kucita-citakan seakan tabu Waktu yang telah membentukku sebagai sosok pemalu Malu dalam segala hal Bahkan terlalu malu hanya untuk sekedar mengatakan 'aku' Aku hanya ingin menambah waktuku bersamamu Agar aku bisa membagi kisahku denganmu Aku yang sudah bisa pergi jauh Yang sudah banyak mengenal Medan baru Yang sedikit banyak telah mendapat penerimaan waktu Dulu, saat aku jatuh Engkau selalu ada didekatku Dengan untaian kata motivasi dan semangat alamu Tapi, di usia rentamu Aku terlalu peduli dengan sibukku Hingga ku lupa hanya sekedar menyapa keadaanmu Entah apa yg ada dipikirku Sungguh egois memang Tapi, apa mau dikata Semua telah tertulis rapi dicatatan-Nya Aku hanya bisa menjalankan Dengan tetap menjagamu dalam lamunan
0
Jan 4, 2019
Jan 4, 2019 at 10:20 PM UTC
Memori
Hey buddy Engkau yang tak pernah mungkin kembali Kau yang membuatku terjebak dalam sebuah ironi Kita dihadapkan dengan sebuah hukum pasti Semua yang terlahir pasti akan mati Pada masanya 10 tahun penuh makna Bersamamu ku dapat melihat indahnya dunia Ya, indahnya dunia Walaupun sekarang engkau sudah di alam baka Dan sosokmu hanya tergambar dalam sebuah berkas kamera Kehadiranmu kala itu bak seberkas cahaya Yang membuatku tetap ingin bertahan di tengah ketidakadilan dan penindasan yg bermakna Di saat aku tidak bisa lagi melihat sisi baik 'manusia' Ketika aku pulang dari kandang ilmu dengan penuh tangisan Seakan engkau menanyakan 'apa yg sedang terjadi?' Ketika aku hanya ingin berhenti Berhenti dari segalanya Bahkan untuk sekedar bersinggungan dengan udara Engkau seakan tak rela Aku tak pernah ingin mengulang waktu Walaupun itu bersamamu Waktu yang begitu berat bagi hidupku Waktu yang membuat semua yg kucita-citakan seakan tabu Waktu yang telah membentukku sebagai sosok pemalu Malu dalam segala hal Bahkan terlalu malu hanya untuk sekedar mengatakan 'aku' Aku hanya ingin menambah waktuku bersamamu Agar aku bisa membagi kisahku denganmu Aku yang sudah bisa pergi jauh Yang sudah banyak mengenal Medan baru Yang sedikit banyak telah mendapat penerimaan waktu Dulu, saat aku jatuh Engkau selalu ada didekatku Dengan untaian kata motivasi dan semangat alamu Tapi, di usia rentamu Aku terlalu peduli dengan sibukku Hingga ku lupa hanya sekedar menyapa keadaanmu Entah apa yg ada dipikirku Sungguh egois memang Tapi, apa mau dikata Semua telah tertulis rapi dicatatan-Nya Aku hanya bisa menjalankan Dengan tetap menjagamu dalam lamunan
Continue reading...
44
"Apa benar, khayalan bisa menjadi kenangan sekuat kenangan dari kenyataan?" Aku berandai-andai menanyakan itu pada Tuan Lalu sekiranya Tuan bertanya, "Puan, perihal apakah gerangan?" Akan kujawab, "Tuan, tak sadarkah kita terjebak?" Tuan bergeming. "Tuan, jika saja kau tahu; perihal kita tiada sederhana”
0
Aug 24, 2019
Aug 24, 2019 at 7:00 AM UTC
Kepada: Tuan
Lupakan luka itu Memori usang telah berubah menjadi debu Aku memang pernah merasa kecewa Semesta bahkan tahu Tapu Sadarilah bahwa ada sesuatu yang hilang Sekarang aku jatuh ke dalam perasaan abstrak Aku tak tahu kemana takdir akan membawaku Sampai akhirnya kamu mendekat Aku tak bisa menjadi kekasihmu Jujur pada diri sendiripun aku tidak mudah Karena aku terlalu sibuk, Sibuk untuk pura pura tidak mengenalmu Mencoba terus mengabaikanmu Sebenarnya kali ini aku tidak bisa mengenali diriku sendiri Tapi aku tidak butuh bantuanmu Aku memilih untuk terjebak dalam kegelapan, di tempat persembunyianku Menyembunyikan perasaan rahasiaku Aku sama kuatnya dengan egoku Aku memang pengecut, aku cukup tahu itu Aku tak tahu sampai sekarang atau nanti Sampai sekarang atau nanti
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 12:36 PM UTC
Rasaku
Aku bukanlah siapa-siapa Hanya seorang pria berdasi merah Yang mencintai perempuan berambut coklat Aku bukanlah siapa-siapa Hanya seorang pria bertopi hitam Yang hanya ingin merasakan cinta Aku bukanlah siapa-siapa Hanya seorang pria menyedihkan Yang masih terjebak masa lalu kelam Aku bukanlah siapa-siapa, Hanya seorang pria yang masih mencintaimu Yang tidak akan pernah bisa melupakanmu
0
Sep 10, 2018
Sep 10, 2018 at 12:29 PM UTC
Aku bukanlah siapa-siapa
Bukan yang pertama, Diriku seakan terjebak di ruang waktu yang entah ada di mana jalan keluarnya. Bukan yang pertama, Hatiku seakan tercabik-cabik ketika semuanya terulang. Bukan yang pertama, Mata ini selalu meneteskan kesedihan yang sama ketika semua berhenti. Bukan yang pertama, Seharusnya aku sudah tahu akan bagaimana akhirnya. Mengapa aku terus kembali? Bukannya seharusnya aku sudah membencimu?
0
Dec 6, 2017
Dec 6, 2017 at 2:33 PM UTC
Kamu bukan yang pertama.
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman. Kadang sendiri, kadang bersama kawan. Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa. "Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman. Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan. Luka bekas sayatan menganga lebar di dada. Ia bermandikan darah dan air mata. Gadis kecil berpipi bulat terkesima. "Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas. Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya. "Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan. Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap. Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.                   Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya. [Jakarta, 17 Juni 2019.] _________ Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka. Tuan Singa pandai bersandiwara! Sesekali tertawa di selipan duka. Gadis kecil berpipi bulat melihat. Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan. Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa. Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa. Gadis kecil berpipi bulat terdiam. "Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa. Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau. Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur. "Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya. Selamat tidur dan bermimpi. Semoga mimpi malam ini indah." Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas. [ Jakarta, 22 Juni 2019 ] —— Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak. Gawat. Raja hutan mempermainkan teka-tekinya. Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri. “Tuan singa. Tuan singa. Apa yang tuan inginkan? Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?” [5 Agustus 2019] —— Raja Singa sedang terluka. Ia gelisah. Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati. Atau, bukan dia, yang sang raja cari ? [19 September 2019] ____ Cukup. Waktunya telah tiba. Gadis kecil berpipi bulat harus pergi. Semoga kamu bisa tidur. [04 Oktober 2019]
0
Jun 18, 2019
Jun 18, 2019 at 11:16 AM UTC
Buku Harian Gadis Kecil Berpipi Bulat
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman. Kadang sendiri, kadang bersama kawan. Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa. "Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman. Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan. Luka bekas sayatan menganga lebar di dada. Ia bermandikan darah dan air mata. Gadis kecil berpipi bulat terkesima. "Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas. Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya. "Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan. Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap. Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.                   Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya. [Jakarta, 17 Juni 2019.] _________ Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka. Tuan Singa pandai bersandiwara! Sesekali tertawa di selipan duka. Gadis kecil berpipi bulat melihat. Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan. Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa. Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa. Gadis kecil berpipi bulat terdiam. "Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa. Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau. Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur. "Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya. Selamat tidur dan bermimpi. Semoga mimpi malam ini indah." Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas. [ Jakarta, 22 Juni 2019 ] —— Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak. Gawat. Raja hutan mempermainkan teka-tekinya. Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri. “Tuan singa. Tuan singa. Apa yang tuan inginkan? Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?” [5 Agustus 2019] —— Raja Singa sedang terluka. Ia gelisah. Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati. Atau, bukan dia, yang sang raja cari ? [19 September 2019] ____ Cukup. Waktunya telah tiba. Gadis kecil berpipi bulat harus pergi. Semoga kamu bisa tidur. [04 Oktober 2019]
Continue reading...
58
di ruang 3x3 meter kusesap lagi secangir kopi yang sudah tak lagi hangat masam terkecap, pahit tersisa buih-buih krema berjejer rapi di ujung mulut cangkir menggetarkan diri menciptakan nada detak jantung yang semakin tinggi dan mengundang semut-semut emosi pada ujung jemariku didekap dibekap kebencian bersarang pada ekor jiwaku yang semerawut semakin hari, semakin menjadi-jadi amarah yang tak terbendung perkara hati bukanlah sebatas ruang bukan juga sekedar sudut yang bisa disinggahi, diacak-acak, lalu ditinggal begitu saja tanpa dibereskan ibumu saja marah kalau kamarmu berantakan debaran  demi debaran candu pada cairan pekat ini terkadang mengundang rasa kantuk bagai lorong tanpa ujung pikiranku melayang masuk ke masa lampau amarah dan kebencian mengombangambingku belum reda kesalku kutuk bertaburan dari bibirku ada rangkaian rencana cela yang menari-nari di kepalaku apa warasku pergi? apa warasku pergi? apa warasku pergi? benci ini tak perlu lagi disiram terjebak realita semu, mantra-mantra sukar dipahami tetapi nyata efeknya betapa sulitnya meracik ramuan ketenangan jiwa kalau kamu jahat, lalu aku balas jahat apa bedanya kamu dan aku? aku tidak mau sepertimu bukan pilhan pasif, dengan sadarku warasku ada aku pemenang petak umpetnya!
0
Jul 3, 2019
Jul 3, 2019 at 12:56 PM UTC
W A R A S
terjebak dalam difraksi momen menatap segala hirauanmu yang kuanggap sebuah petuah aku berdiri dalam kesunyian diacuhkan dalam situasi yang kuharap segera berlalu
0
Jan 5, 2019
Jan 5, 2019 at 6:24 AM UTC
difraksi momen
Aku menyusuri jalan, kembali ke tempat itu, memesan kopi yang sama, mengulangi rutinitas kecil yang entah kenapa terasa menenangkan. Kadang aku terjebak hujan, di perjalanan berangkat, atau saat hendak pulang. Tapi aku tak benar-benar sendiri, selalu ada kisah-kisah kecil yang menemani, seperti sore itu: sebuah keluarga kecil menepi di tengah derasnya hujan, anak mereka bersembunyi di antara dua tubuh yang hangat. Aku terdiam, menunduk, berdoa dalam hati: “Semoga rezekimu dilapangkan Dek. Semoga orang tuamu suatu hari bisa membawamu pulang dengan nyaman tanpa perlu basah seperti ini.” Aku jadi ingat, aku pun pernah berdiri di tempat yang sama. Hujan membasahi tanah yang sebelumnya tandus, bersama seorang anak sekolah, dan beberapa orang asing yang memilih meneduh, diam-diam berbagi waktu di bawah atap yang sama. Kala itu, jas hujan ada di sepedaku, tapi aku tetap memilih tinggal. Entah kenapa, terasa penting: melihat hujan membasahi tanah yang dulu kering. Karena aku percaya, kering tak selamanya, dan kita semua di waktu yang sama, sedang bertumbuh.
0
Apr 29, 2025
Apr 29, 2025 at 2:55 AM UTC
Ketika Waktu Menumbuhkan Semua yang Pernah Kering
Trotoar yang basah karena es yang mencair, Ungkapan penyesalan beserta cacian terlontarkan. Seseorang memilih hidup di masa lalu, Seseorang yang ingin merubah semuanya, Seseorang yang ingin mencari tujuan, Kita semua punya dosa masing-masing bukan "Kami tertawa kami sepakat ini semua baru permulaan." Beberapa pria sulit menceritakan hal buruk yang terjadi pada dirinya, Beberapa dari kita terjebak dalam rutinitas yang tidak pernah kita sukai, Pola yang berulang setiap pekan. 21 yang menyebalkan, namun penuh pelajaran Kami melempar dadu yang sama berkali-kali dan menebak angka yang salah, Kami anggap ini skakmat kehidupan Menunggu dimakan atau membalas menyerang. 2025 reydmh
0
May 19, 2025
May 19, 2025 at 3:23 PM UTC
Pagar besi & botol hijau
/I/ Tik, tik, tik, angka-angka berdetak di tengah malam yang riuh dalam sunyi. Aku melukis senyum pada langit pirau yang terjebak dalam ruang-ruang gelap. Jendela mempersilahkan gagak masuk menyampaikan rekam tawa dari orang-orang yang melukis kesedihan di birai bibir. Seolah parade, bergembiralah seisi ruangan yang hanya ada aku saja di dalamnya. /II/ Kota mulai curiga kepada siapa saja yang mencoba menetap. Berlari dan tergesa adalah cara bunuh diri dalam kota yang melaju cepat dan semakin cepat. Aku memilih menjebak diriku dalam ruang tak berpintu, yang lantainya kususun dari debur gelombang bulan purnama. Ranjangnya mencekik kerongkonganku di pagi hari yang tak pernah tiba. /III/ Apakah terlambat untuk menjadi diriku sendiri? Ataukah terlalu cepat untuk menemukan diriku dalam tubuh yang nirmakna? Jika kesunyian berbunga makna, seharusnya aku menemui makna atas diriku pada suatu pagi di ujung simpul tali. Aku melayang, engkau menerka udara. Aku hidup, engkau perdebatkan prosesi pemakaman dalam daftar-daftar tak kasat mata. /IV/ Seekor nyamuk menganggu kewarasaannya dalam menghitung berapa bintang yang tak pernah melempar cahaya. Keningnya menjelma komidi putar, menjauh, mendekat, pergi dan kembali. Suara-suara berbaris, mempersempit lorong waktu dan jembatan kota yang mulai menua. Telapak tangannya bergetar seiring detak jantung yang terus mempercepat kembang-kempisnya. /V/ Senang pernah bersua, tapi aku tak ingat. Di antara aku dan lainnya, siapa yang memperkenalkan diri di awal pertemuan? Begitu juga esok hari, wajah siapa yang tergores dalam cermin? Siapa yang mengucap selamat tinggal dalam jumpa yang seharusnya tak pernah menjadi sebuah perpisahan?
0
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:28 AM UTC
Berdansa Dalam Gemerlap Rumah Sakit Jiwa.
/I/ Tik, tik, tik, angka-angka berdetak di tengah malam yang riuh dalam sunyi. Aku melukis senyum pada langit pirau yang terjebak dalam ruang-ruang gelap. Jendela mempersilahkan gagak masuk menyampaikan rekam tawa dari orang-orang yang melukis kesedihan di birai bibir. Seolah parade, bergembiralah seisi ruangan yang hanya ada aku saja di dalamnya. /II/ Kota mulai curiga kepada siapa saja yang mencoba menetap. Berlari dan tergesa adalah cara bunuh diri dalam kota yang melaju cepat dan semakin cepat. Aku memilih menjebak diriku dalam ruang tak berpintu, yang lantainya kususun dari debur gelombang bulan purnama. Ranjangnya mencekik kerongkonganku di pagi hari yang tak pernah tiba. /III/ Apakah terlambat untuk menjadi diriku sendiri? Ataukah terlalu cepat untuk menemukan diriku dalam tubuh yang nirmakna? Jika kesunyian berbunga makna, seharusnya aku menemui makna atas diriku pada suatu pagi di ujung simpul tali. Aku melayang, engkau menerka udara. Aku hidup, engkau perdebatkan prosesi pemakaman dalam daftar-daftar tak kasat mata. /IV/ Seekor nyamuk menganggu kewarasaannya dalam menghitung berapa bintang yang tak pernah melempar cahaya. Keningnya menjelma komidi putar, menjauh, mendekat, pergi dan kembali. Suara-suara berbaris, mempersempit lorong waktu dan jembatan kota yang mulai menua. Telapak tangannya bergetar seiring detak jantung yang terus mempercepat kembang-kempisnya. /V/ Senang pernah bersua, tapi aku tak ingat. Di antara aku dan lainnya, siapa yang memperkenalkan diri di awal pertemuan? Begitu juga esok hari, wajah siapa yang tergores dalam cermin? Siapa yang mengucap selamat tinggal dalam jumpa yang seharusnya tak pernah menjadi sebuah perpisahan?
Continue reading...
26
Bulan tampak besar dan terang. Aku memandangnya pada saat tengah malam. Sambil berdiri di tepi sawah yang sepi. Dekat rel kereta pinggiran Surabaya. Kukeluarkan ponselku dari saku celana. Lalu kupotret bulan yang kupandang. Setelah itu langsung kuunggah fotonya. Pada akun Instagramku. Kulihat ada banyak postingan foto. Dari akun Instagram orang orang Gaza. Ternyata mereka juga sedang memandang bulan. Bulan yang sama dengan yang kupandang. Maha sedang duduk di atap rumah. Dia memandang bulan sambil minum kopi. Tanpa peduli bombardir pesawat jet. Meledakkan pemukiman di Deir El Balah. Omar sedang nongkrong dengan temannya. Dia memandang bulan sambil merokok. Melepas lelah setelah membantu relawan. Membagikan makanan di Khan Yunis. Mariam sedang termenung di depan tenda. Dia memandang bulan sambil mengenang. Kehidupannya yang hilang tak tersisa. Terkubur puing puing rumahnya di Tel El Hawa. Malak sedang menangis sedih. Dia memandang bulan sambil mengingat. Seorang teman akrabnya yang telah tiada. Tewas terkena tembakan ****** Dr Abraham sedang duduk di balkon. Dia memandang bulan sambil mengeluh. Kelelahan mengurusi orang orang terluka. Memenuhi rumah sakit Al Nasser. Saleh sedang melihat sekumpulan anak muda. Mereka gembira menari dabke dan bermain oud. Di atas puing puing reruntuhan bangunan. Sementara bulan bersinar terang di belakang. Begitulah bulan yang besar dan terang. Menjadi penghias malam orang orang Gaza. Yang masih terjebak kekacauan panjang. Tanpa tahu kapan akan berakhir. October 2024 By Alvian Eleven
0
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:21 PM UTC
MEREKA MEMANDANG BULAN
Bulan tampak besar dan terang. Aku memandangnya pada saat tengah malam. Sambil berdiri di tepi sawah yang sepi. Dekat rel kereta pinggiran Surabaya. Kukeluarkan ponselku dari saku celana. Lalu kupotret bulan yang kupandang. Setelah itu langsung kuunggah fotonya. Pada akun Instagramku. Kulihat ada banyak postingan foto. Dari akun Instagram orang orang Gaza. Ternyata mereka juga sedang memandang bulan. Bulan yang sama dengan yang kupandang. Maha sedang duduk di atap rumah. Dia memandang bulan sambil minum kopi. Tanpa peduli bombardir pesawat jet. Meledakkan pemukiman di Deir El Balah. Omar sedang nongkrong dengan temannya. Dia memandang bulan sambil merokok. Melepas lelah setelah membantu relawan. Membagikan makanan di Khan Yunis. Mariam sedang termenung di depan tenda. Dia memandang bulan sambil mengenang. Kehidupannya yang hilang tak tersisa. Terkubur puing puing rumahnya di Tel El Hawa. Malak sedang menangis sedih. Dia memandang bulan sambil mengingat. Seorang teman akrabnya yang telah tiada. Tewas terkena tembakan ****** Dr Abraham sedang duduk di balkon. Dia memandang bulan sambil mengeluh. Kelelahan mengurusi orang orang terluka. Memenuhi rumah sakit Al Nasser. Saleh sedang melihat sekumpulan anak muda. Mereka gembira menari dabke dan bermain oud. Di atas puing puing reruntuhan bangunan. Sementara bulan bersinar terang di belakang. Begitulah bulan yang besar dan terang. Menjadi penghias malam orang orang Gaza. Yang masih terjebak kekacauan panjang. Tanpa tahu kapan akan berakhir. October 2024 By Alvian Eleven
Continue reading...
42