"suratan" poems
katamu, aku hanya butuh percaya.
katamu, aku tak perlu menyita waktuku dengan adanya kamu di tiap detikku.
katamu, aku pun sudah fasih memahami isi kepalamu.
dan, ya, aku memilih untuk percaya.
nyatanya, tidak semudah bak sang matahari yang rela menyembunyikan teriknya sepanjang malam untuk memikat sang bulan.
kamu hanya tidak tahu seberapa dalam lukaku, kemarin.
kamu hanya tidak tahu seberapa besar rasa sakitku, hingga saat ini.
entah bagaimana,
entah karena apa,
terbesit oleh pikirmu untuk melakukan itu.
apa ini karenaku?
atau memang suratan takdir untukku?
bagaimana dengan semua katamu?
bagaimana dengan semua percayaku?
semukah?
Mar 20, 2017
Mar 20, 2017 at 2:12 PM UTC
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila
Di saat kewarasanku sedang ambruk
Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa
Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya
Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini
Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini
Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu
Dengan bunga berwarna kuning di telinga
Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri
Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu
Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku
Aku tak pernah berburu air mata
Cacatnya tindak-tanduk
Dambaan-dambaan fana
Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi
Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku
Tak paham raut lukaku
Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya
Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat
Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan
Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya?
Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini
Si Manis, yang tutur kata nya lembut
Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu
Ruam pada tubuhmu
Bukan salahmu
Masihkah kau berdiam mematung?
Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat
Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan
Dan kaki-kaki yang kau pijat
Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
Jan 22, 2021
Jan 22, 2021 at 11:45 PM UTC
damo na hin duro an 𝘴𝘵𝘪𝘤𝘬𝘺 𝘯𝘰𝘵𝘦𝘴 haak lamesa
takip-takip an kabutang pero dire ak nakakabasa,
han mga pulong nga akon nasurat,
mga letra nga nag buru-balighot ngan nag papaplanat.
waray na gihapon tinta an akon 𝘣𝘢𝘭𝘭𝘱𝘦𝘯 ubos na an paypay han 𝘯𝘰𝘵𝘦𝘣𝘰𝘰𝘬 nga sinurat-suratan hin magka-durudilain nga pangandoy, mga pulong nga ha inop nala natutuman—mga pulong nga karuyag ko unta mabatian—
tikang haimo mga im-im, an katam-is han mga saad nga sugad hin dugos,
an mga hinumduman nga sugad hin daan nga telegrama, nga ha akon kasing-kasing nakahipos.
gintatapo-tapo na an mga surat nga linukot, waray na ka abrihi tikang han kaparong han lanterna han aton gugma.
nga an dagaang nga an hadi akon na aabat, tumaghom na tikang han imo paglakat.
ngan sugad han 𝘴𝘵𝘪𝘤𝘬𝘺 𝘯𝘰𝘵𝘦𝘴 nga buot mag pahinumdom, akon man liwat nangalimtan an pag-lara han gugma,
waray na punto an mga sinurat, ighahapil ko na la ada.
Jan 26, 2025
Jan 26, 2025 at 9:59 AM UTC