"sejenak" poems
Jakarta, 25 Mei 2008
Kapan ku boleh ke sana
Dunia terindah untuk semua
Udara harum nan sejuk
Tiada panas mentari yang menyengat
Boleh kah aku melangkah
Menuju ke pintu surge
Impian semua manusia
Sudikah Kau Tuhan?
Bila ku pijakkan kaki di surge
Merasakan hidup istimewa
Penuh ayat-ayat doa
Surga-Mu indah Tuhan…
Bolehkah ku sentuh sejenak
Merasa damai nan indah
Ku mulai masuk ‘tuk selamanya
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:39 AM UTC
voice over: narrator
Pemberitahuan terakhir disuarakan, keberangkatan pesawat tujuan Frankfurt Airport akan lepas landas tak lama lagi lagi, orang-orang bersiap masuk kabin. Ada satu hal yang terlintas di pikiran Atlas; ia tahu Venus tidak akan datang. Tidak dalam hitungan waktu tiga puluh menit, sepuluh menit, apalagi lima menit. Percuma saja menunggu, Venus benar-benar tidak datang. Perpisahan mereka sudah berlangsung semalam, pertemuan terakhir yang berhasil membuat Atlas berkali-kali memutar ulang seluruh adegan, mendengar suara gelak tawa mantan pacarnya dalam benak khayal, membayangkan senyuman Venus yang ia lukiskan untuknya terakhir kali. Pertemuan terakhir mereka kemarin bahkan tidak terasa seperti perpisahan, namun tetap bagi Atlas terasa begitu janggal. Mungkin karena terlalu tiba-tiba dan cepat, pertemuan terakhir yang merupakan perpisahan, pertemuan terakhir paling bahagia dan paling sedih, yang juga menyudahi hubungan singkat mereka.
Sejenak Atlas merasa sendu. Dalam lubuk hatinya masih sesekali berharap Venus meneleponnya, mengatakan bahwa ia akan datang mengucapkan selamat tinggal. Namun, nyatanya ucapan selamat tinggal Venus hanya berupa memori-memori tentangnya; seratus hal yang tertanam sejati di dalam hati Atlas mengenai segala hal tentang kejanggalan perempuan itu, gelak tawanya, senyumanya, aroma tubuhnya, kerlingan matanya, rambut hitam tebalnya, wajah pemikirnya, serta sosoknya yang seringkali membuat dirinya bertanya-tanya; kisah apa saja yang tidak diketahuinya, yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya sehingga membentuk pribadi sepertinya yang begitu terlihat bagai keajaiban seni paling nyata di mata Atlas? Baginya, Venus adalah sebuah takdir dan keajaiban menjadi satu.
Dan, ia tidak akan pernah ada niat untuk melupakannya.
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 6:56 AM UTC
Hidup dengan segala problematikanya
sejenak senang sejenak tenang
sejenak buram sejenak suram
Matahari bawaku cahaya
Tapi aku kepanasan
Hijab bawaku perlindungan
Tapi aku tertutup
Pohon bawaku udara
Tapi aku tumbangkan untuk wi-fi
Ini baik tapi ini buruk.
Lalu hadir kerutan ditengah keningku
Melengkapi lipatan hitam mata ini
Hasil semua akar-akar pikiran
Bola matapun sekarang berfilter
Kuingat mawar pemberiannya
Gambar persembahan mereka
Seluruh tumpahan merah muda itu
Tapi tetap saja kabut dari belakang datang
Ia bersembunyi hanya tuk muncul kembali
-
-
-
Mengapa begini?
Terlalu banyak tapi
Mengindahkan kebingungan
Terbawa kelelahan
Nov 10, 2014
Nov 10, 2014 at 6:58 AM UTC
Perasaan ini terus bergelung
Bersembunyi di dalam relung.
Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung.
Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya
Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya
Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama.
Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah,
Ia tak pernah bosan untuk membendungnya
Dan menunggu,
Menunggu datangnya hujan.
Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya.
Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang.
Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit,
yang dengan setia mendengar celotehannya.
Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami.
Mendongak menatap langit, dan bercerita.
Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar
dan menemukan ketenangannya sendiri.
Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan.
Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya.
Ia tersenyum.
Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat.
Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras.
Inilah kebahagiaannya.
Namun juga kesedihannya.
Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis.
Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka,
namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya.
“Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC
Palembang, Kamis 6 Januari 2011
Memori itu, bila ku ingat
Semakin ku tersenyum
Bahagia akan kesendirian hatiku
Tuk sejenak seseorang mengisi hatiku
Tak tahu akankah itu bisa bertahan
Ataukah akan cepat berlalu?
Aku takut jatuh cinta
Untuk sekarang
Karena hidup ku sudah kelabu
Aku takut...
Bila ia bisa menerangiku
Ku berjanji tuk menjaganya
Namun bila tidak, kecewa lagi yang ku dapatkan
Nov 4, 2011
Nov 4, 2011 at 2:11 AM UTC
Kamu benar, aku gentar
Kamu malu, aku palsu
Lalu, siapa yag palsu karna malu?
Hukumkah yang membuat kamu harus berbelok
di setiap persimpangan?
Aku tahu kamu letih memilih arah
Kamu buka Tuhan
yang sedang bermain teka-teki kehidupan
Berhentilah dengan idealisme mu
Berhentilah sejenak
Duduk disampingku
Menikmati senja ini.
Mar 31, 2014
Mar 31, 2014 at 10:54 AM UTC
Aku menulis
Menulis lagi hal yang semu
Makna yang tak pasti
Aku berpikir keras,
kata demi kata ku ketik
Klik, Klik, Klik
Berharap kelak tulisanku terpajang indah di tembok lorong
Aku tidak melihat ke depan,
ataupun ke belakang
Aku hanya fokus pada layar yang ada di depanku
Memandang, membaca, memahami
Mengimajinasikan visual hidupku ke dalam kata
Terus
Klik, Klik,
klik
Aku berusaha tak terputus,
terus mengetik
Tiada orang lain yang ada dipikiranku
Tidak diiidiii, ibuku, bahkan kawanku
Hanya berpikir, huruf apalagi yang harus ku tulis setelah huruf ini?
Klik,
klik,
klik,
Aku mulai melambat
Namun ku tak pernah menyerah
Tak ingin kutinggal
Kini pikiranku buntu
Di saat aku mulai meninggalkan layarku
Sejenak imajinasiku berbicara
"You can not be changed... But you can make a change."
.
.
.
Tak ada lagi Klik, Klik, Klik
Aku hanya memikirkannya
Dan semua selesai
Hanya dengan satu KLIK
May 28, 2013
May 28, 2013 at 7:55 AM UTC
*Ini aku, gambaran hatiku
Kusertakan padamu, kusisipkan untukmu*
Sejenak aku rebah, luka tanpa daya
Aku didera puluhan cabikan
Aku kalah dalam perang
Perang melawan hatiku
Gersang namun hujan
Tandus namun ranum
Itulah hatiku
Malam demi malam kulalui
Dengan mata terjaga
Hari demi hari kulewati
Ditemani gundah gulana
*Aku yang hanya menunggu,
bagaikan menantang murka laut*
Tiang layarku patah dihantam ombak
Kain layarku robek diterjang badai
Aku terombang-ambing antara suka dan duka
Ombak bergulung-gulung menanti di depanku
Aku menoleh ke belakang,
Menimang untuk merubah haluan
Kutak rela
Aug 29, 2017
Aug 29, 2017 at 1:47 PM UTC
Aku jahat bukan?
Merampas hatimu ketika kau sesungguhnya masih sangat mencintainya?
Aku egois kah?
Membiarkan hati kecilmu itu menghianati cinta yang sebenarnya. Cinta yg lain yang lebih besar dari
yang kupunya.
Bukankah aku jahat?
Merasa diriku yang sangat sakit, padahal hatimulah yang lebih sakit dari ini. Kau tersiksa dalam kebimbanganmu sendiri.
Aku tahu, aku hanya menjadi bayang-bayang gelap diantara kalian.
Aku juga tahu kau hanya rehat sejenak darinya.
Maaf, telah menjadi orang ketiga diantara kau dan dirinya~
Oct 23, 2013
Oct 23, 2013 at 8:00 PM UTC
Seorang Part I
Baru-baru ini aku merasakan yang hidup ini tidak lagi bermakna buat aku. Di mana aku rasa kosong setiap kali nak memulakan sesuatu. Bagaikan terputus tali layang-layang yang asyik ditiup angin di langit biru itu. Aku cuba dan terus mencuba untuk memahami setiap apa yang berlaku di sekeliling aku. Akhirnya aku masih di situ dan terbelenggu keseorangan tanpa sesiapa pun sedar aku di mana. Tidak ada tangan yang mahu menolong aku apatah lagi bahu untuk ku sandarkan tiap kali aku mencurahkan air mata. Aku keseorangan.
Seorang Part II
Aku masih diam di situ kaku. Sejenak aku terdetik untuk mendongak ke langit. Tika itu kelihatan malam pekat dihiasi dengan bintang-bintang berkerlipan penuh gemerlapan dan juga bulan yang terang memukau aku seketika. Waktu itu aku masih ingin menangis lagi kerana aku lupa pada Yang Maha Mendengar Yang Maha Melihat Yang Maha Mengasihi. Aku alpa kerna selama ini aku melupakan Yang Maha Berkuasa. Aku merasakan kerdil waktu itu dan pada saat itu juga aku merasakan aku dibius semangat baru.
Seorang Part III
...........................................................................................
Nov 28, 2014
Nov 28, 2014 at 2:57 PM UTC
berawal dari waktu
memaksaku menyeret kakiku
melangkah gontai sambil pergi
aku merengek, terisak !
dan mengadu pada-Nya
tunggu ini secepat aku berkedip barusaja
ya, dulu memang aku kecil
nyaliku memang masih payah
masih terjerat pada keduanya
bahkan sekarangpun..
keduanya ingin aku yang terbaik
aku tak tahu yang dirasa mereka
tapi aku sendiri berontak
menyalahkan waktu yang jelas tak akan berhenti
aku kutuk waktu
mengapa begitu kilat
ragaku masih ingin tetap dirumah
tunggu, sejenak aku merasa keliru
bukankah ini baik
aku juga ingin membuat keduanya senang
mimpi harus coba kupanjat
tangga itu sudah dihadapanku
aku termasuk yang beruntung
bersyukurlah!
batinku melerai
aku meyakinkan diriku sekuat tenaga
"ini bukan rumahku" gertakku
saat aku tiba ditempat asing itu
akupun terpaksa tinggal
demi pengetahuan yang ingin kuraup
iya, jika belum paham akan kujelaskan
aku seorang mahasiswa sekarang
predikat yang melekat padaku kini
berat..
pandangan semuanya akan berbeda terhadapku
sungguh aku menemui teman baik
berjuang sama sama, namun tetap harus sendiri
aku menarik nafas..
waktuku kini juga telah memaksaku
rasanya pagi sudah menjadi sore
agaknya aku harus selesaikan hariku
mengerjakan tugas akhirku disana...
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:28 PM UTC
Pukul 02.30
Aku terdiam tanpa berbahasa
Memikirkan sejuta hal yang seharusnya kulakukan
Aku terbiasa bermimpi
Namun kini aku tak mampu
Pukul 02.30
Andai waktu adalah lomba
Maka aku selalu kalah
Lagi-lagi aku tidak dapat terpejam
Pukul 02.30
Aku dan semua lamunanku
Terhenti sejenak oleh suara dengkuran disebelahku
atau mungkin suara angin sejuk dari mesin diatasku
Pukul 02.30
Aku ingin berlari ke dalam lautan
Menantang ombak berderu kencang
Lalu terhempas oleh bayang-bayang
Pukul 02.30
Aku berurai air mata
Berusaha mengartikan rasa
Pencarian yang tak berujung
Pukul 02.30
Katanya Tuhan itu Mahakuasa
Maka aku percaya jawaban itu ada
Dan kupejamkan mataku
Harap semua ini sirna
-wonderwall-
Aug 12, 2019
Aug 12, 2019 at 3:53 PM UTC
teruntuk kamu yang harumnya sudah hilang dari sisiku
yang jalannya sudah bukan aku yang mendampingi
yang tidurnya sudah bukan aku yang dimimpikan
tuan, apakah kamu pernah sesekali memikirkanku setelah sejenak pergi?
aku letih mencari sendiri jawaban dari semua pertanyaan
aku letih mencari kesalahanku dari semua amarahmu
untuk satu senja di bulan desember
selamat menikmati purnaku dalam bayanganmu
Dec 13, 2018
Dec 13, 2018 at 11:42 AM UTC
Disana,
Diantara bisingnya kerumunan kota,
Aku berdiri sejenak,
Mendengar alunan musik mengendus sajak.
Beberapa pasangan mata menoleh,
Menutur, menyinyir,
Mengikuti bayangan dosa lama
Yang telah tenggelam,
Dilahap oleh manisnya senyum
Dan tawa para badut malam.
Lepuh, rasanya.
Lilin-lilin yang menginduk di kulitku kian meletih
Teriak pedih tak kunjung hari
Terhambur sudah harapan palsu ini.
Jan 19, 2018
Jan 19, 2018 at 10:53 AM UTC
Denganmu
Seakan kenyataan berlari - lari
Imajinasi menghanyutkan diri
Membuat mimpi sempurna
Menjadi diriku yang sebenarnya
Membuat dirimu tempat ku berpulang
Seakan dunia berhenti sejenak
Memberiku kesempatan untuk melihatmu
Suatu keindahan yang mampu merajut rindu
Lukisan yang berharga akan dirimu
Lagu romantis yang merdu
Menjadikan arti dari dirimu.
Oct 21, 2017
Oct 21, 2017 at 11:04 AM UTC
indahnya kota jogjakarta pada malam itu
tidak seberapa indah dengan
binar mata
dan senyum lekuk bibir mu
pada malam itu,
bising klakson mobil pada kemacatan malam itu bahkan bukanlah perihal yang menggangu. nyaman, bahkan bagiku semua tenang.
teringat jelas bagaimana kita menelusuri kota jogja sambil mendengarkan lagu saat kau menggengam tanganku erat, bagaikan takut kehilangannya.
untukmu Tuan,
sosok yang selalu memberikan ku kehangatan di malam hari disaat semua bergetar kedinginan.
tubuh dan ragamu yang amat ku kasihi,
terima kasih sudah memperlihatkan indahnya dunia yang pernah jahat ini.
padamu Tuan,
aku mengundangmu untuk sejenak meletakan kepala mu dibahuku dan menikmati malam yang indah, berdua.
Jan 9, 2019
Jan 9, 2019 at 12:30 PM UTC
dan aku kembali memikirkanmu lagi.
disela segala kesibukan yang mengekang jiwa
diantara tumpukan pekerjaan yang seharusnya lebih nyata
terselip dalam lamunan
terbayang di ujung tangan.
aku kembali memikirkamu.
Aku memang tidak seharusnya tinggal diam
kesibukan ini seperti candu
canduku untuk sejenak melupakanmu
walau pada akhirnya aku kembali memikirkanmu lagi.
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 4:04 PM UTC
Berikut adalah percakapan antara aku dan aku;
Aku bertanya, apa itu self love ?
Mencintai diri sendiri jawabku.
Bagaimana bentuknya ?
Mencintai dan menjaga diri sendiri.
Bagaimana spesifiknya kalau boleh tahu ?
Merawat diri sendiri baik dari tubuh, pikiran, dan hati.
Bisa beri detail lebih jelas mengenai merawat tubuh, pikiran, dan hati ?
Tentu saja.
Dari tubuh,
Jika engkau ingin mempercantik dirimu tetapi benar benar untuk dirimu. Bukan hanya sekedar konsumsi publik semata agar engkau dianggap kualitas super hanya dari fisik. Maka, lakukanlah.
Dari pikiran,
Oke ini level dua. Sulit.
Kau harus pandai mengolah semua pikiran negatifmu. Cobalah ubah menjadi sebaliknya, rasa takut kau ubah sebagai rasa penasaran menghadapi suatu hal, singkirkanlah logis yang terlalu mengedepankan ego sejenak, ajak pikiranmu tenang lalu coba bawa ia ke tempat yang luas.
Dari hati,
Sulit. Karena mungkin sejatinya sifat tiap kamu kamu itu terefleksi dari sini. Tinggal pilih, mau babak belur mencoba lebih baik atau nyaman di tempat kotor ?
Kalau ini caraku.
Cobalah untuk selalu berbuat kebaikan, banyak orang yang akan sering berkata kamu nanti terlalu naif, munafik. Halah, persetan dengan itu semua. Jalani hidupmu sendiri sendiri, senang itu tergantung kita bukan orang lain. Kita yang putuskan mau senang apa tidak.
Coba lihat, karena apa ?
Ego mereka sulit diolah, atau bahkan sudah diracuni oleh ego sendiri ?
Apapun itu, aku turut berduka untuk mereka.
Intinya berbuat baik, tidak hanya kepada makhluk hidup saja.
Alam jangan dilupakan.
Kau itu sama sama ciptaan-Nya, bukankah kalau saling sayang kita akan selalu tenang ?
May 19, 2018
May 19, 2018 at 9:51 PM UTC
pasal IV: tentang hujan yang tak kunjung reda, dan tangis yang tak kunjung berakhir.
- terkadang, ada beberapa hal yang datang, selain membawa berkah dan kebahagiaan, juga turut di dalamnya kesedihan yang berlarutlarut. seperti halnya hujan, yang datang membawa unsur kehidupan, tapi kemudian, dinginnya mengundang pilu, berusah mencari kehangatan. begitu pula dirimu, datang sekiranya membuatku bahagia walau di awal, namun akhirnya memilih pergi setelah membunuh setiap harapan baru yang tumbuh dengan tega.
- ada beberapa hal yang terjadi, namun datangnya tak dapat dihentikan, dan kepergiannya tak dapat dipaksakan, layaknya hujan ketika mentari tengah bersinar, membuat sebagian orang mendengus kesal, banyak hal rencana yang gagal. seperti halnya dirimu, ketika dirimu datang ketika ku tengah sedemikian rupa menata hati. kau datang mengambil setitik kecil potonganmu yang tertinggal, kemudian justru potongan kecil itu yang menghancurkan hati yang telah tertata rapi. hancur. kembali. lalu kau beranjak pergi, layaknya hujan badai yang reda, seolah tak terjadi apaapa.
- setelahnya, setelah sisasisa hujan pada dedaunan mengering, dan musim hujan telah berlalu, masih sesekali duakali ia datang, mebawa harapan sekilas, kemudian pergi seolah tak ingin kembali. sejenak menentramkan, meluruhkan kotoran di udara, namun tetesannyamengandung racun yang tak baik. seperti ketikamu datang tibatiba, seolaholah baikbaik saja, ternyata memang tidak ada apaapa, bukan benarbenar tidak ada, hanya saja, bukan untukku, tapi untuk dia yang lain.
- selalu ada akhir dari jutaan tetesan air yang jatuh ke bumi, dan semoga, hal itu juga berlaku pada diriku. entah kapan tangis akan reda, namun kau tetap saja berlalu, semoga kau tak lagi datang membawa harapan. maafkan keegoisanku memilih menangisi kepergianmu.
prdks.
Sep 25, 2017
Sep 25, 2017 at 8:52 AM UTC
istirahatlah untuk sejenak
pendar hangatmu masih istimewa
“selamat malam” mu masih ku simpan untuk malam malam yang tidak bisa ku jinak-kan
jangan khawatir ibu
istirahatlah untuk sejenak
temui aku saat kau muda kembali
dan kerut senyum mu pudar abadi
Apr 19, 2019
Apr 19, 2019 at 11:17 PM UTC
Pertama kalinya kugenggam tanganmu
Satu kembang api dipantik dari ulu hatiku
Seribu lainnya menyusul saat jemari kita saling bertaut
Menghiasi langit malam dengan pendar menggoda
Hitam pekat dibasuh percik api warna-warni
Kusaksikan dengan jelas saat kutatap wajahmu lekat-lekat
Kala itu tak satupun kata berhasil kita ucapkan
Namum dalam hati, tiap detik kulayangkan ribuan doa
dan segala mantra :
"Tuhan sang empunya dunia ini, hendaklah hentikan waktu sejenak untuk hambamu ini. Atau panjangkanlah malam sebelum mentari terbit nanti. Terima kasih Engkau turunkan bidadari, tepat disebelah hambamu ini".
Rambutmu bagaikan ombak musim panas
Bergulung-gulung indah harum manis bergairah
Namun dadaku layaknya laut dikala badai
Gemuruh layaknya seribu ksatria berkuda
Inginku berteriak sekencang-kencangnya
Gemanya terdengar sampai kampung Ayah-Ibuku
Jikalau nun jauh di belahan dunia sana
Seseorang berhasil menginjakkan kakinya di bulan
Inginku umumkan pada dunia
Malam itu akulah manusia pertama yang berhasil menggenggam bulan
Akulah pungguk yang melawan seluruh hukum gravitasi
Akulah pungguk yang tak lagi merindukan bulan
Kalau saja bisa, saat itu juga
Ingin kutuliskan berlembar-lembar puisi cinta
Ingin kupetik gitar dan bersenandung mesra
Karena bisikan lembutmu melantunkan hasrat hidup
Tatapan sayumu membiaskan mimpi-mimpiku
Senyuman indahmu melukiskan harapan-harapanku
Mimpi dan harapan seorang lelaki biasa
Menghabiskan hidup dengannya, tuan putriku ratuku, malaikatku, wanitaku yang istimewa
Jun 4, 2018
Jun 4, 2018 at 12:31 PM UTC
Aku mengikuti intuisi jiwaku intuisi jiwaku,
kemana masa depan membawaku?
sejenak kuberpikir kita hanya menari di bumi
ini hanya untuk sementara.
aku tahu impian ini cukup besar, maka
perkecil ekspetasi akan hal itu
tentang menjadi ayah yang baik
rumah yang luas dan nyaman,
kacamata coklat gagang yang patah,
itu tidak bertahan selamanya.
Aku keras seperti batu tebing, aku
melihat daun yang layu hingga mekar
mudah percaya dan naif tentang banyak hal,
banyak hal yang kutentang tetapi aku hanya diam dan lebih banyak mendengarkan.
dihantui perasaan kehilangan berlebihan
dan perasaan bersalah tentang banyak hal,
dan aku benci film romance
yang berkendara di tepi pantai,
anak kecil yang nakal,
berita hoax,
kedai kopi yang memutar lagu terlalu keras,
sate yang belum matang,
semut, dan wanita yang menari di tempat umum,
tabel - tabel membuatku bingung,
drama tentang pria ideal juga membuatku muak,
Netanyahu keparat dan pembunuh.
2025
reydmh
May 3, 2025
May 3, 2025 at 11:03 AM UTC
Datang tanpa diduga
Kamu datang memberiku kata
Entah ini senang atau sekedar bingung
Menanyakan kabar pada hati yang juga ikut dibuat bingung
Karena aku juga tak tahu
Aku ini pelabuhan; tempatmu singgah sejenak
Atau rumah; tempatmu diam menetap
Entah perasaan ini harus dibawa kemana
Yang jelas kutitipkan pada semesta
Malam ini, di bawah kendali perahumu
Apr 15, 2019
Apr 15, 2019 at 11:47 AM UTC