Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"sebelum" poems
Palembang, 22 Juni 2011 Api itu hampir merajai waktu Merenggut harta benda tanpa ampun Mangarang tubuh yang sesepuh Duduk pun terdiam di kursi besi butut Kekuatan api bagai Sang Supernova Membumbung tinggi tak ada yang terjaga Meletup-letup bagai haus dan lapar Tinggallah hamparan abu di senja tiba Sebelum fajar menyingsing indah Berisik di tengah jalan sirine mengulang Langkah kaki mondar-mandir yang tentu arah Bergotong royong pun dengan peluh dan baju basah Ku duduk terdiam terpaku Setengah melamun di sebelum senja muncul Ku tersadar pun di tengah padam lampu Dan ku lihat Monalisa tersenyum pada ku Ku duduk bersimpuh di kaki Menunduk dan berharap ini hanya mimpi Dan aku bangkit tuk lihat situasi Ku dengar mayat rapuh bagai tiada arti lagi Tak mampu tumpah air mata Hanya tubuh kaku mati rasa Pikiran yang ingin selalu waspada Mental ini rapuh butuh udara Abu terasa di mana-mana Terinjak, menyatu dengan tanah Menutup mata kini selaalu terjaga Menjaga hari tanpa Supernova 9 Juni penuh cerita Di bawah tangisan dan panikan Wanita memasak dan menjaga anak Pria bahu membahu membangun rumah
0
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:26 AM UTC
Cerita Semi (9 Juni 2011)
4:00 pagi kita bangun solat subuh, kemudian kita bersiap2 utk ke tempat kerja, sampai kantor pukul 7:00 pagi, hari masih gelap. Mungkin kita anggap hari ini akan hujan, jadi abaikan. Masuk kantor, bekerja dan kita lihat pukul 12:00 siang, sudah waktunya makan siang, tapi keadaan masih tetap gelap. Keluar pintu kantor, suasana masih gelap, hitam pekat seperti malam..mungkin masih bisa dianggap hari ini akan hujan lagi. Jadi abaikan saja. Tapi kalo jam 14:00 pm pun hari masih gelap.. pertanda apa itu?..keesokkan pun sama, nonton tv semua orang kalang kabut menceritakan bahawa dunia ini sudah tidak ada lagi siangnya..dan begitu juga dengan lusa..masih tidak ada lagi matahari.. Tetapi pada hari keempat kita bangun pagi, kita dapat melihat matahari, tetapi jangan terkejut karena matahari telah terbit dari sebelah barat.. Kehebatan ahli dunia akan mengatakan itu fenomena alam, tapi sadarkah, itulah pertanda besar yang paling awal sebelum tibanya hari kiamat!! Maka telah tertutuplah pintu taubat.. Saat itu, kita akan lihat satu fenomena luar biasa di mana golongan kaya akan keluarkan semua harta utk diinfakkan, golongan yang tidak pernah baca quran, 24 jam baca quran, golongan yang tak pernah solat jemaah akan berlari2 menunaikan solat secara berjemaah..tapi sayangnya semuanya sudah tidak berguna lagi.. Bismillahirrahmanirrahim.
0
Mar 25, 2015
Mar 25, 2015 at 11:14 PM UTC
MUHASABBAH
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
0
Mar 5, 2016
Mar 5, 2016 at 7:57 AM UTC
Bidadari Fajar
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
Continue reading...
6
Yang mengutarakan salam pagi ini Hanya sesayat keheningan Dari reruntuhan nafas yang tiap isapnya Riuh dirundung rindu Perhatikan, Ini salah satu pertanda Soal dekadensi kidung Yang biasanya, tanpa kita sadari Teralun lemas tiap pagi Lembut tanpa gemericik Kidung itu bisa jadi sudah keterlaluan Bisa jadi ia terlalu sadis pada sepi tiap subuh. Senandung itu, memang benar, Sebatas bisikan-bisikan lantang Yang gemar memuja sepi dengan memporak-porandakannya, Yang gemar menghantui sunyi agar  terlelap sebelum terbit. Mungkin, kidung itu terlalu masokis Bernyanyi sendiri tanpa ada yang Peduli pada dendangnya yang kelewat mengusik Dan kelewat menggoda, sehingga semua lebih memilih Terlelap saja. Bukan berdansa. Ini salah satu pertanda Soal dekadensi kidung perih Yang biasanya teralun malas tiap pagi Menggerakkan setan-setan kecil Untuk membutakan mata dan membuat tuli dalam sekejap. Jangan berdansa. Tak ada yang peduli, semua masih tertidur. Dan itu bisa jadi salahmu sendiri. Tapi tak apa, iblis masih menyayangimu Dengan sangat manusiawi. Lagipula, seperti pagi ini, Kesunyian kembali bersila pada permadaninya Ditemani kicauan mencibir burung rohani. Selamat pagi, Senyap. Anda yakin tidak ingin bangun Dan menanggapi kidung yang terus memanggil Untuk berdansa setengah jiwa? Subuh hanya datang seterbit sekali. Tuhan hanya merindu lima kali sehari.
0
Feb 16, 2016
Feb 16, 2016 at 11:02 AM UTC
Dekadensi Kidung Tiap Pagi
Palembang, 18 Desember 2011 Pernahkah kamu berada di Padang Pasir dan tak tahu arah pulang? Pernahkah kamu kehabisan bekal sebelum sampai ke tujuan? Aku pernah Pernahkah kamu tidur di atas rumput duri dan punggungmu tak terluka? Pernahkah kamu merasa sakit setelahnya tetapi hati yang terluka? Aku pernah Tapi pernahkah kamu selalu memiliki tabungan ketika uang mu habis? Pernahkah kamu membeli makanan ketika kamu lapar? Pernahkah kamu menelpon Ibu mu ketika kamu sedih? Pernahkah kamu ditemani orang yang kamu cintai saat kamu butuh? Aku tidak pernah Pernahkah kamu kehilangan jarum padahal hampir berhasil memasukkan benang? Pernahkah kamu terjatuh dari tebing dan tidak pakai tali pengaman? Aku pernah Dan pernahkah kamu berfikir tuk bertemu dengan Sang Pencipta? Pernahkah kamu berfikir tuk selalu berbuat hal baik seumur hidupmu? Pernahkah kamu merasa kamu pantas mendapatkan kesempatan kedua? Dan pernahkah kamu mencintai seseorang melebihi dirimu sendiri? Aku, kamu, pasti pernah
0
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:17 AM UTC
Aku Pernah
Inilah Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita! Sesaat sebelum mati, Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin ditelinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi. 0 Menit Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen. 1 Menit Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin. 3 Menit Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir. 4 – 5 Menit Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah. 7 – 9 Menit Penghubung ke otak mulai mati. 1 – 4 Jam Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati. 4 – 6 Jam Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam. 6 Jam Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan. 8 Jam Suhu tubuh langsung menurun drastis. 24 – 72 Jam Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri. 36 – 48 Jam Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina. 3 – 5 Hari Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung. 8 – 10 Hari Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah. Beberapa Minggu Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas. Satu Bulan Kulit Anda mulai mencair. Satu Tahun Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan. Jadi, apa lagi yg mau disombongkan org sebenarnya???? BAGUS UNTUK DIRENUNGKAN..... Kita tak membawa apapun juga saat kita meninggalkan dunia yg fana ini..
0
Mar 27, 2015
Mar 27, 2015 at 5:20 AM UTC
Inallillahi
Inilah Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita! Sesaat sebelum mati, Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin ditelinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi. 0 Menit Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen. 1 Menit Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin. 3 Menit Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir. 4 – 5 Menit Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah. 7 – 9 Menit Penghubung ke otak mulai mati. 1 – 4 Jam Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati. 4 – 6 Jam Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam. 6 Jam Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan. 8 Jam Suhu tubuh langsung menurun drastis. 24 – 72 Jam Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri. 36 – 48 Jam Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina. 3 – 5 Hari Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung. 8 – 10 Hari Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah. Beberapa Minggu Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas. Satu Bulan Kulit Anda mulai mencair. Satu Tahun Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan. Jadi, apa lagi yg mau disombongkan org sebenarnya???? BAGUS UNTUK DIRENUNGKAN..... Kita tak membawa apapun juga saat kita meninggalkan dunia yg fana ini..
Continue reading...
36
Sebelum nafasku yang terakhir Ku luar kan kepadamu Engkaulah yang ku tunggu Engkaulah bintangku Dan kamu Aku masih sayang kepadamu Biarlah ini satu rahsia buatmu Adakah ini suatu mimpi Yang selama ini engkau menyelami Menyinari Menghiasi alamku dengan warna cinta pelangi Engkau ada tetap dihatiku walau ku tiada Engkau ada tetap dijiwaku walau bisa Dan ku harap kau maafkanlah segala dosa Sebelum ku pejamkan mata untuk selama-lamanya Dan kamu Aku masih sayang kepadamu Biarlah ini satu mimpi indah bagiku Apabila nadiku berhenti Tamatlah sudah puisiku ini Tapi ini bukanlah satu erti Kuharap engkau kan terus bermimpi Kubina cinta di alam mimpi Bayanganmu ku kan salji Selalu berada sentiasa disisi Selamanya kepadamu Aku.. Aku berjanji.. ©2014 RevoLusi ©2014 Maman Screams
0
Jan 11, 2014
Jan 11, 2014 at 4:11 AM UTC
Mimpiku Yang Terakhir (My Last Dying Dream)
Jakarta, Minggu, 13 Mei 2007 Dulu sebelum aku dan kawanku merasakan dunia Ku lewati dulu masa-masaku yang suram dan kelam Namun... setelah Tuhan menegurku Ku tinggalkan semua kebiasaan burukku Aku dan kawan-kawanku Tersentak akan suara adzan itu Kami pun mencoba menjadi orang yang beriman Kami pun terus melewatinya Sampai... kami telah menemukan rasa dunia Kami telah menjadi orang yang berkarya dan beriman Namun... kami pun tak pernah melupakan masa dulu Yang penuh kesengsaraan Semua... itu kami ungkapkan dalam sebuah lagu Yang berisi tentang suka-duka yang kami lewati dulu Semoga... cara kami ingin berbagi cerita Akan sukses dan dapat di terima semua orang
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:48 AM UTC
Kisah Ku
Palembang, 28 Juni 2012 Haruskah kita percaya pada mimpi? Jika sebelum tidur malam tak bersahabat Arah kanan atau kiri tak berlaku lagi Dan mata yang tertutup tak benar-benar tidur Haruskah kita tersenyum ketika bangun di pagi hari? Mengingat mimpi semalam yang amat indah Yang membawa harapan Menjadi pikiran hingga malam selanjutnya Haruskah kita menggapai mimpi itu? Mimpi yang samar dan semu Mimpi, pembawa harapan palsu Apakah “Raihlah Mimpimu” masih berlaku?
0
Jul 6, 2012
Jul 6, 2012 at 9:05 PM UTC
Mimpi Itu
Palembang, 8 September 2011 Dia adalah.. yang mampu membersihkan fikiranku, membuatku tertidur di malam hari, menemaniku hingga pagi. Dia adalah.. yang berharga dari benda apapun, sangat suci dan terang, sumber hidup yang bermakna. Dia adalah.. penerang jalan selamanya, takkan pernah berubah, terkadang dilupakan. Dia adalah kitab milik Nabi ku Muhammad, yang abadi, indah, warisan paling mulia. Dia adalah Al-Qur'an, hal yang selalu ku baca sebelum tidur, ayat yang selalu bku ulang setiap sholat, nilai yang selalu ku aplikasikan di dalam kehidupan. Aku cinta Al-Qur'an.
0
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 6:21 AM UTC
Dia adalah Al-Qur'an Ku
kiranya semua cintaku yang tak terbantahkan ini tak luber, keluar dari hatiku ke lidahku yang busuk ini kiranya telingamu tak mendengar dan hatimu tak merasakan cinta ini kiranya aku bisa menyimpan ini sendirian, dalam tangisan nelangsa sebelum tidur yang mengoyak kepalaku kiranya lautan menelanku jika ada saat dimana kau mengerti semua yang kupendam dalam ini
0
Jul 13, 2016
Jul 13, 2016 at 1:53 PM UTC
kiranya
Setahun yang lalu kupikir kita akan bersama Menjadi satu persahabatan yang tak terkalahkan Walaupun jalanmu berbeda Aku tetap mengikuti dengan senyuman Berharap kita memang untuk selamanya Dua tahun yang lalu aku masih rabun Berjalan tanpa suara Berhenti hanya untuk menangis Tanpa istirahat, terus saja Menyalahi diri sendiri Tiga tahun yang lalu aku sendiri Meluapkan amarah Dan mau menangnya sendiri Masih buta akan siapa yang salah Masih berdarah luka di hati ini Dari semua jalan yang kutempuh Kehilangan seperti mati Tanpa rasa tanpa cahaya Kemarin tersenyum sekarang bisu Kemarin bersama sekarang sendiri Apakah adakah sedikit saja di pikiranmu keinginan untuk memelukku, sebelum kau pergi?
0
Mar 6, 2016
Mar 6, 2016 at 9:47 AM UTC
Proper Goodbye
Aku berdiri kaku di depan cermin menatap nanar dirimu. Bertanya... Berapa banyak malam yang kau habiskan untuk mencaci tubuh tak bersalah itu? Mencabiknya agar kau tetap bisa merasa hidup. Biru dan ungu selalu menjadi tanda bahwa kau menang melawanku. Aku ingat beberapa orang mengubahmu menjadi kelabu, membunuhmu dengan kejam, lalu membuangmu jauh ke jurang hitam. Kita berjalan beriringan dengan kapak berlumur kata-kata tak dimaksudkan, tapi kau bilang kau telah mati jauh sebelum kita berdamai. Lalu bagaimana denganku? Seperti ruang kosong yang hilang ditelan kesendiriannya, aku berjalan menuju ujung lorong yang tak pernah sempat kau injak. Menari-nari di bawah binar harapan seperti aku lupa bahwa kau tak lagi diam di sana. Ingatkah kau saat kita duduk di meja makan bersama dua orang asing? Kau sibuk bermain dengan gelisahmu, sementara aku tersenyum lebar berperan sebagai hantu. Kau melahap habis semua isi di sana, tetapi hanya berakhir pada kamar air yang sengaja kau sembunyikan. Kau mati. Lalu bagaimana denganku?
0
Oct 4, 2016
Oct 4, 2016 at 7:24 AM UTC
Bagaimana Denganku?
Aku ingin peluk kakak Sebelum ku sambut tidur Aku ingin kakak di sini Hingga ku terlelap mimpi Aku ingin kakak tetap di sini Aku ingin melihat wajah kakak Saat aku buka mata di pagi hari Aku ingin kakak selalu di sini Memberi ku senyum indah Yang bercahaya menyinari Andai dunia tau aku di sini Ingin kakak selalu temani Hingga nanti aku pergi Selamanya tak akan kembali By. Aridea Purple
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 12:02 PM UTC
Senyum Terakhir
dan kamu selalu berhasil menemukan cara paling tepat untuk membuatku tersenyum, terdiam, terluka. kadang ada jeda waktunya, kadang dalam saat yang sama. mungkin itu tanda signifikansimu di hidupku. mungkin itu tanda aku yang semakin tak mampu. mungkin itu tanda aku semakin mencintaimu. just a mere sight of you brigthen my day. just a mere sight of you darken my day. sebut saja aku serakah. aku memang tidak bisa berbagi. sebut saja aku egois. rasa sakit ini begitu nyata. membuatku tak sanggup tak buang muka. dan pergi meninggalkanmu sebelum semuanya terbuka.
0
Sep 1, 2015
Sep 1, 2015 at 10:38 PM UTC
you are, who is brighter than the sun
sekiranya kau dapati dirimu cemaskan diriku maka tunggulah aku pulang.. dalam pelukmu, dalam relungmu, aku kan datang kembali padamu obati aku, rinduku, dengan hangat kehadiranmu yang tak kunjung henti kunanti jemputlah aku sebelum hilang rasa madu dari bibirmu..
0
Feb 2, 2022
Feb 2, 2022 at 11:01 AM UTC
rasa madu (sebelum hilang)
Basah, ku lihat pipimu. Katanya kau kelelahan, Tapi yang ku lihat bukan keringat. Kata nenekku, itu air mata, Karena matamu merah. Mana mungkin, kau berkeringat dengan mata merah dan sedikit bengkak? Lusuh, ku lihat mukamu. Katanya kau tak menyentuh air seharian. Debu yang kemarin kau dapatkan ketika menjemputku di Taman Kota masih menempel, katamu. Lusuhmu bukan karena debu, Kata Ibuku, itu karena lapar. Ternyata kau sudah berhenti makan, Sejak dua hari sebelum kita bertemu. Kenapa memang? Memang aku tidak berhak tahu kalau kau sedang tidak baik saja? Alih-alih kau tidak ingin menambah bebanku, Kau selalu mengatakan kalimat-kalimat yang tidak benar adanya. Kenapa memang? Memang aku tidak berhak untuk paling tidak, membuat mu merasa lebih baik? Ah benar saja, Aku kan tidak pernah mampu, Sebab, siapa aku? Hanya tempat pelampiasan nafsu.
0
Nov 30, 2020
Nov 30, 2020 at 12:46 AM UTC
Salatiga
Kebanyakan orang tinggal bersamanya, saya tidak. Seperti bisa memasak, tapi tidak terlalu pandai seperti Ibu. Selalu lebih, kadang lebih asin, kadang lebih hambar. Pernah saya membencinya, sebelum saya tau isi hatinya. Memaafkan adalah hal yang sangat luar biasa, entah ada mantra apa di dalamnya, namun setelah itu saya merasa sangat tenang. Dia bilang bahwa saya mirip dengan seseorang. Katanya, dia persis seperti saya saat kecil, rambut tipis agak ikal, hidung, bibir dan matanya, katanya persis seperti saya. Saya menangis, entah sedih, sakit, senang, atau haru. Saya tidak pernah diajarkan untuk membenci seseorang, sekalipun yang sudah menghancurkan saya. Sudah saya bilang, bahwa ada mantra ajaib dibalik kata maaf. Bisa saja saya membencinya, namun saya tidak memilih hal itu. Bukan hanya saya yang terluka, dia juga lebur.
0
Jun 1, 2019
Jun 1, 2019 at 5:28 PM UTC
Hal yang baik
Salam hangat untuk pembaca yang terhormat, Apa kamu tahu apa yang lebih cerdas dari berada di tengah-tengah dan jadi pengamat sebelum benar-benar memihak? Atau, apa menurutmu tindakan itu bukanlah tindakan yang akan dilakukan oleh orang-orang intelektual yang sesungguhnya? Apakah menurutmu itu adalah tindakan orang-orang bodoh yang tidak peduli atau orang-orang pemikir yang berhati-hati? Kakekku menyisipkan kata ‘median’ pada nama awalku dan ia jadikan kata itu sebagai nama kecilku, juga nama panggilanku. Di antara nama lengkapku yang berbunyi, Mediana Prawirahardja, kata yang diartikan sebagai nilai tengah itu ia tetapkan sebagai nama panggilan untukku. Harapannya adalah agar aku akan memiliki sifat yang sama dengan kata itu. Berada di tengah. Netral. Damai. Berada di tengah  dan menilai, atau berada di tengah dan memiliki nilai. Nama adalah doa dan lama-kelamaan, aku mulai lelah menjadi pengamat yang hanya bisa menyaksikan dan mencari-cari kebenaran yang belum terungkap di antara hiruk-pikuk masyarakat yang hilir-mudik penuh hingar-bingar ini, di balik dunia yang berantakan ini.
0
Sep 5, 2017
Sep 5, 2017 at 2:52 AM UTC
Dari Median
Aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya bisa ku gapai tangannya saja Yang mampu ku lihat bayangannya namun tak akan pernah bisa ku raih Seseorang yang hadirnya tak menentu bagai musim Sebelum kaki ini mampu mengejarnya Seseorang yang hanya bisa ku kirimkan isyarat Sehalus awan di langit Atau hujan yang telah mengiringi beberapa hari ini
0
Dec 21, 2015
Dec 21, 2015 at 1:17 PM UTC
Kepingan
Sesekali Malam bersaksi Ialah yang kau pandang Lewat satu-satunya Jendela hatimu Jam dinding Pada tiap detiknya Merana Setelah menghitung Detak jantungmu Tembok kerap Meniup nestapa Saat kau di pembaringan Meliuk pada Hamburan mimpimu Selamat tidur, Degup duka. Aku sebuah gelas Di ujung kamarmu Yang terlalu penuh Minumlah sebelum Terlelap Agar aku dapat juga Bersaksi perihal Kecup dan detak jantungmu
0
Mar 19, 2016
Mar 19, 2016 at 3:41 AM UTC
Angan
Ku putar sekali lagi nyanyianmu malam ini, sebagai penghantar tidur dan penyemangatku esok pagi. Katamu aku mataharimu, menebar kehangatan ke sekitarku. Kau bilang kau tak dapat lupakanku, juga tak mampu menyatakan ku milikmu. Tak sadar kah kau yang membohongi diri sendiri, menyamar sebagai pujangga yang hanya bisa berjanji. Janji yang kita berdua tahu, bahwa kata-katamu itu palsu. Berjanjilah malam ini; bahwa kau takkan ada di sisiku. Tepati, amali, sebelum waktu ‘kan berlalu.
0
Feb 26, 2018
Feb 26, 2018 at 10:36 PM UTC
tepati janji
Nama mu terukir sangat indah Kebahagiaan yang tiada dua Kisah kita memang baru sebentar Namun hatimu ingin beranjak Tanya hatimu, Sebelum engkau pergi Masihkah diriku menghuni didalamnya? Terlalu rapuh untuk tersandar dan menerima Diriku memang tidak mendekati sempurna Aku... Gagal... Membahagiakan mu Diriku tak pernah berhenti mencoba Aku... Tidak... Layak Sebelum kau memilih untuk pergi Aku tak pernah lelah menanti Nama mu yang selalu ada di setiap doa Aku akan merindukanmu Terima kasih untuk segalanya.
0
Dec 8, 2017
Dec 8, 2017 at 5:44 AM UTC
Aku Tidak Sempurna.
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 9:17 AM UTC
Suara Tanpa Rupa
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
Continue reading...
29
kita bertemu dikala petang dua jari saling bersilang aku minta izin bertualang kau beri restu penuh sayang dengan itu ku bertualang tak peduli akan halang rintang semua halang aku terjang dan diujung senja aku menang wajah penat berganti riang sang aku menjadi sang petualang semua halang kan ku kenang untuk diceritakan kepada sang sayang sebelum sang senja hilang kupenuhi janji untuk pulang dan dikalau aku datang aku disambut sang mata berlinang
0
Mar 2, 2019
Mar 2, 2019 at 12:49 AM UTC
MAMA