"puan" poems
Setelah kesekian kalinya,
Dia berusaha
Di sudut nyala lilin kecil
Dia dapat kembali menangis
Terisak hingga kelelahan
Mengeluarkan semuanya
Dan jatuh tertidur
Wahai puan,
Berapa lama topengmu itu kau gunakan?
Tak apa jika kau ingin bersedih,
Tak apa jika kau ingin marah,
Tak apa jika kau merasa dunia ini tak adil
Jangan mengunci dirimu,
Terdapat langkah kaki yang ingin menemanimu diluar sana
Persilahkan lah
Untukmu,
Tolong jangan memenjarakan diri sendiri
Dec 13, 2018
Dec 13, 2018 at 10:10 AM UTC
Apa kabar, Tuan?
Lama tak beradu tatap.
Bagaimana kehidupanmu tanpaku?
Sepi,
senang
atau
lebih dari tenang.
Kenang memori kita, Puan bersedih.
Puan tahu diluar kehendaknya untuk memohon kembali kepadamu.
Namun tiap malam Puan meraung sepi, terisak sesak. Puan menyerah namun Puan tak bisa melepaskan.
Puan hanya ingin berbicara barang lima detak,
Puan ingin Tuan tahu,
Tuan masih bertahta di hati Puan.
Oct 5, 2018
Oct 5, 2018 at 11:48 PM UTC
"Apa benar, khayalan bisa menjadi kenangan sekuat kenangan dari kenyataan?"
Aku berandai-andai menanyakan itu pada Tuan
Lalu sekiranya Tuan bertanya, "Puan, perihal apakah gerangan?"
Akan kujawab, "Tuan, tak sadarkah kita terjebak?"
Tuan bergeming.
"Tuan, jika saja kau tahu; perihal kita tiada sederhana”
Aug 24, 2019
Aug 24, 2019 at 7:00 AM UTC
Ditarik, kami diarahkan membaca apapun yang tidak ada penjelasannya.
Dikodratkan harus paham isi kepala makhluk yang hanya sesekali berkata iya dan tidak.
Kami terpingkal, Puan.
Bagaimana tidak?; Kain yang kau gunting sendiri dan pintal dengan rajut sedari subuh sudah cantik--tapi kau merasa kurang, dan kami adalah penyebabnya katamu.
Duduk kami melingkar bersama dengan gelas gelas berisi teh melati,
Hangat membaur aroma kebingungan kaum kami.
Sekali beberapa menit kami terpingkal lagi, berusaha terus membaca setiap halaman kosong dan beberapa titik saja di sudut kiri kanannya.
Tidak ada barang satupun buku yang mengerti keinginan puan.
Cemasnya puan ingin dilindungi,
Lembutnya puan yang ingin dikasihi,
Ah, apalagi tangisan yang tiba-tiba terisak di malam sehabis mimpi.
Tersenyum kami menahan tawa dan kantuk, sembari melihat-lihat wajah puan yang tertunduk mengharap ditanya mengenai hari ini.
Semenit dua menit kami lihat lekat-lekat wajah puan.
Kami bisa tidur malam ini,
Jawaban kebingungan lelaki bukan tertulis pada buku-buku; tapi dua bola mata yang senantiasa banyak bercerita setiap ia duduk hening tanpa berbicara.
Ah, engkau puan~
Buku pelajaran yang tak ada tamatnya.
B_A
10 Mei 2019
May 10, 2019
May 10, 2019 at 12:23 AM UTC
Matanya yang kalap di kotak
menghampas debur debu dari atap ke puncak dahan. Menutup temaram lampion.
Berusaha menampik getar di dada yang telanjang. Itu-kini
sampai kesekian lintas kelokan. Terlewati.
Enam uang logam terbuai lendir lintah saat kududuki kursi tak ubahnya senjakala & engkau sadar. Berdiam & terus bungkam
menunggu henti nyanyian puan nun sumbang
berkaca daku yang terpasung, itu di abu
letupan yang mencandu hujam asam &
melulu jadi bisu-kita. Di renda setengah tertutup/ semua orang sudah tahu.
Perihal hening yang memang tak pernah membuah harap.
Hilangnya alkisah kemuning pala kambing yang enggan memerah.
Walau bertumpu akan cita dalam almanak musnah-karam
/ tiada henti di jaga oleh wajah-wajah muram;
di garis vertikal
di persegi dua dimensi/ hitam
pun segitiga/ jajar genjang
& semut kita mengerubung oval. Seraya penonton menyilang dua lengan di dada
di lingkar rafia sementara ini semakin terasa di Kursi. Meja. Cangkir. Jendela. Cat. Kuas & Tv. Lentera. Buku. Radio. Senter
/beringin di jiwa.
Jul 6, 2019
Jul 6, 2019 at 3:46 PM UTC
Febian, Rizky, Aisyah Aziz. 2018. Indah Pada Waktunya. Kanal
Yutubnya NET Talent Management.
Matterhalo, Nadin Amizah. 2017. Teralih. Kanal Yutubnya
Matterhalo.
Nelwan, Christofer. 2012. Jari-jari Cantik. Kanal Yutubnya
Argonycus.
Pusakata. 2018. Kehabisan Kata. Kanal Yutubnya MyMusic
Records.
Ranti, Jason, Ari Malibu (The Rollies). 2016. Kau Yang Kusayang.
Kanal Yutubnya Ruang Putih.
Rock, One OK. 2011. Pierce. Kanal Yutubnya Pratama Aji.
Stahl, Fredrika. 2011. Twinkle Twinkle Little Star. Kanal Yutubnya
Oresund Bleu.
Teduh, Payung. 2017. Puan Bermain Hujan. Kanal Yutubnya
Anggit Setyo.
Jun 6, 2018
Jun 6, 2018 at 2:00 PM UTC
"Cik" to "Puan"
"Encik" to "Tuan"
"Cik" to unwedded,
seemingly chaste,
selectively-sweet
glorified young women.
Men as "Encik"
regardless of marriage,
status or demeanour—
but only those
with higher,
superior
authority
as, "Tuan"?
"Bahasa jiwa bangsa,
kenapa kau nak terasa.”
These are some
of the patriarchy
in a white-collar vocabulary
that it is not so much
of the vocabulary
but the society.
Jadi aku unbottle
them all out in this rant.
Nov 30, 2020
Nov 30, 2020 at 8:27 AM UTC