"pisau" poems
(Palembang, 9 Februari 2015)
Hatiku ini rapuh, kamu tau?
Aku sendiri pun tak mampu menyentuhnya dengan perkataan
Aku selalu membungkusnya dengan kebahagiaan
Hatiku ini istimewa, kamu mengerti?
Aku menjaganya agar selalu bersih dan suci
Aku menyimpannya untukku bagi dengan orang-orang yang sedih
Dimana hatimu?
Kamu berlagak semua baik saja dan meninggalkan hatiku terluka
Kau menorehkan pecahan beling di hatiku dan menganggapnya tak terluka
Dimana akalmu saat ini?
Kamu membuat hatiku sedih, hatiku tak mampu berikan kebahagiaan bagi orang lain
Kamu tak punya hati hanya memikirkan dirimu sendiri
Hatiku ini bukan barang yang bisa kamu banting saat kamu marah
Hatiku ini bukan pisau tumpul yang kamu tusukan ke dalam tanah
Hatiku ini hanyalah air yang masih dibutuhkan orang lain
Hatiku ini hanyalah udara yang tak terlihat namun memberikan kehidupan
Hatiku ini bukanlah gabus yang bisa kau cabik-cabik, hanya untuk membuat hatimu senang
Hatiku hanyalah hati yang bisa mati
Feb 9, 2015
Feb 9, 2015 at 10:35 AM UTC
Kekasihku telah meninggal
Tak ada lagi yang tersisa dari
Rambut panjangnya
Bahkan sekarang
Senyumnya berbau masam
Kekasihku telah meninggal
Sudah tak dapat lagi ia ucap
Sajak-sajak getir
Laut di ufuk
Apalagi senandung bintang atas kita
Kekasihku telah meninggal
Sentuhannya dingin
Tubuhnya kaku
Kelembutannya menjadi pisau
Dan gurauannya antarkan duka
Ia tetap tertawa dalam kematiannya
Karena jasadnya dapat terus hidup
Sebagai manusia lain
Yang bagiku, entah siapa
Yang bahkan tak kukenali danurnya
Jika bisa
Aku ingin mengembalikan tubuh itu padanya
Akan kugali kuburan dalam hatinya
Kutarik keluar jenazahnya dan kubangkitkan,
Dalam sebuah peluk dan angan
Akan kubiarkan ia merasuk
Pada tubuh tak berhati
Tak berjiwa itu
Tubuh budak
Peradaban lama
Akan kubiarkan ia merasuk
Panjang rambutnya yang fana
Senyumnya yang binar
Hatinya yang murni
Harus ku kembalikan
Pada
Tubuh
Hidup
Gentayangan
Itu
Apr 19, 2016
Apr 19, 2016 at 4:14 AM UTC
ini ceritanya jejak si bucin
'dasar bucin !'
'mau mauan aja, bucin !'
'jangan bucin kenapasih !'
salah menyampaikan sayang ?
salah menyuarakan cinta ?
salah mengekspresikan kasih ?
itu semua salah ?
terlebih terhadap pasangan
sana sini memandang, bucin
kenapa ?
berlebihan ?
ya. demi botol nestle kemarin
mungkin berlebihan tapi tidak juga
apakah lebih baik pistol dan pisau daripada bunga dan pita ?
iya saya juga bingung
bucin dianggap remeh
seperti benda yang harus dilepeh
ada apa si dengan bucin ?
makhluk hidup yang mengekspresikan rasanya kan ?
ah tidak tau
tapi semenjak aku bertemu dia
aku tidak apa disebut bucin
karena membuat lengkung di bibirnya
salah satu pencapaian
sudah ya,
pokok pikirannya tidak dapat.
sudah pusing.
hahaha.
salam bucin !
Dec 1, 2018
Dec 1, 2018 at 7:01 AM UTC
Bodohnya aku
Mendatangi rumah sakit untuk berobat
Namun hanya tawa kencang ketika aku mengatakan keluhan
Bodoh
Bodoh
Kemarin dia membawa pisau tajam
Dan menghunuskan tepat di dadaku
Mengatakan "Aku mencintai sahabatmu."
Tepat di situ aku sakit
Feb 20, 2017
Feb 20, 2017 at 6:51 PM UTC
"Dalam segala manis dan tragisnya perkawinan,
Kami sebagai perempuan, mati berkali-kali
Dan lahir pula kembali—
Tentu juga berkali-kali
Disaat kau menyaksikan puluhan katup bibir yang mengatakan “Sah.”
Disaat itu pula,
Kau seakan disadarkan
Bahwa kau tak lebih dari pisau yang harus terus diasah
Bukan supaya tajam untuk dapat menikam,
Namun supaya siap mencacah manis-pahitnya peristiwa kehidupan menjadi dadu-dadu kecil
Lalu menanyakan untuk menyerapnya kembali
Untuk diri sendiri
Kau,
Mati dan lahir lagi,
Bukan sebagai isteri,
Namun seutuhnya sebagai wanita yang mengayomi
Sampai akhirnya kematian itu berdiri di depan pintu
Untuk menjemputmu lagi
Disaat kau duduk dan melihat pandangan puluhan manusia
Yang seakan-akan mengatakan,
“Berpandailah dengan urusan dapur.”
Mereka dengan bodohnya menutup mata kepada fakta
Bahwa sekarang, kau adalah busur
Yang dengan senantiasa akan mengarahkan kemana anak-anak panahmu melaju
Kau, bertulang rusuk dan adalah tulang rusuk
Bukan tulang rusuk dari lanangmu,
Namun dari rumah segala rumah
Disaat insan keci itu menangis lahir,
Disitulah Tuhan dengan segala kuasa-Nya menyemukakanmu
Dengan kelahiran yang absolut.
Mutlak. Nyata. Tanpa majas atau embel-embel.
Kau, bukan hanya wanita bersusu yang menyusui;
Walau serapanmu terhadap puji-kejinya kehidupan
Akan juga diserap oleh ‘anak panah’ mu
Melalui air susu dan tutur katamu
Disaat kau melahirkan anak manusia,
Tentunya tanpa tanda tanya,
Kau betul-betul
Lahir kembali."
Apr 18, 2019
Apr 18, 2019 at 10:25 PM UTC
Sambil mengendarai mobil, aku melirik calar yang menghiasi tangan kananku. Merah seakan salah satu kucingku baru saja mengamuk. Tapi hanya aku dan sebilah pisau di kamar yang tahu itu bukan hasil karya seekor kucing melainkan binatang yang jauh lebih biadab, depresi.
Lampu dijalanan berubah merah, sambil melihat sekeliling aku tersenyum mengamati hiruk pikuk yang sedang terjadi.
Aku jadi rindu perasaan utuh yang lambat laun terkikis waktu dan kalimat-kalimat bernoda.
"Kurang kuat iman sih"
Tak ada kaitannya dengan imanku, sayang.
"Mungkin cuma ada di kepalamu saja."
Dan kepalaku adalah satu-satunya tempat dimana aku tak bisa lari.
"Memang penyebab depresimu apa?"
Karena 1095 hariku tercemar darah, puntung rokok, pecahan gelas, dan caci makian tiada henti. Tak semudah itu untuk keluar hidup-hidup dari kandang singa, harus ada luka yang aku tanggung seumur hidup.
"Apakah kau gila?"
Aku bukan gila, aku baik-baik saja. Hanya ada bagian di dalam sana yang mati dan tak bisa diperbaiki lagi.
Lampu hijau dan klakson dari mobil membangunkanku dari suara-suara itu.
Tapi ketika sudah melaju dengan kecepatan yang nyaman ada satu suara yang muncul lagi, menoreh hatiku.
"Aku tak habis pikir bagaimana seseorang bisa nekat melukai dirinya sendiri sedangkan masih banyak yang bisa dilakukan"
Kalau kau tak paham, tak mengapa.
Tapi aku melakukan itu bukan untuk mati, aku lelah tak merasa apapun karena ada bagian di dalamku yang memang sudah mati.
"Kau mirip banteng ketaton"
Ya, aku marah kalau kau seenaknya menyebut aku gila.
Aku terluka kalau kau seenaknya main hakim sendiri.
Calar itu adalah sebuah pengingat bahwa aku masih hidup.
May 30, 2018
May 30, 2018 at 8:15 AM UTC
tuanku telah meninggal
sudah tak dapat lagi ia ucap
sajak-sajak getir perlawanan atas tuhan
apalagi senandung bintang atas kita
tuanku telah meninggal
sentuhannya dingin
tubuhnya kaku
sajaknya menjadi pisau
dan gurauannya antarkan duka
ia tetap tertawa dalam kematiannya
karena jasadnya dapat terus hidup
sebagai manusia lain
yang bagiku, entah siapa
yang bahkan tak kukenali danurnya
jika bisa
aku ingin mengembalikan tubuh itu padanya
akan kugali kuburan dalam hatinya
kutarik keluar jenazahnya dan kubangkitkan,
dalam sebuah peluk dan angan
akan kubiarkan ia merasuk
pada tubuh tak berhati, tak berjiwa itu
pada tubuh hidup gentayangan itu
Dec 6, 2020
Dec 6, 2020 at 6:24 AM UTC