"pintu" poems
Jakarta, 25 Mei 2008
Kapan ku boleh ke sana
Dunia terindah untuk semua
Udara harum nan sejuk
Tiada panas mentari yang menyengat
Boleh kah aku melangkah
Menuju ke pintu surge
Impian semua manusia
Sudikah Kau Tuhan?
Bila ku pijakkan kaki di surge
Merasakan hidup istimewa
Penuh ayat-ayat doa
Surga-Mu indah Tuhan…
Bolehkah ku sentuh sejenak
Merasa damai nan indah
Ku mulai masuk ‘tuk selamanya
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:39 AM UTC
4:00 pagi kita bangun solat subuh, kemudian kita bersiap2 utk ke tempat kerja, sampai kantor pukul 7:00 pagi, hari masih gelap.
Mungkin kita anggap hari ini akan hujan, jadi abaikan. Masuk kantor, bekerja dan kita lihat pukul 12:00 siang, sudah waktunya makan siang, tapi keadaan masih tetap gelap.
Keluar pintu kantor, suasana masih gelap, hitam pekat seperti malam..mungkin masih bisa dianggap hari ini akan hujan lagi. Jadi abaikan saja.
Tapi kalo jam 14:00 pm pun hari masih gelap.. pertanda apa itu?..keesokkan pun sama, nonton tv semua orang kalang kabut menceritakan bahawa dunia ini sudah tidak ada lagi siangnya..dan begitu juga dengan lusa..masih tidak ada lagi matahari..
Tetapi pada hari keempat kita bangun pagi, kita dapat melihat matahari, tetapi jangan terkejut karena matahari telah terbit dari sebelah barat..
Kehebatan ahli dunia akan mengatakan itu fenomena alam, tapi sadarkah, itulah pertanda besar yang paling awal sebelum tibanya hari kiamat!!
Maka telah tertutuplah pintu taubat..
Saat itu, kita akan lihat satu fenomena luar biasa di mana golongan kaya akan keluarkan semua harta utk diinfakkan, golongan yang tidak pernah baca quran, 24 jam baca quran, golongan yang tak pernah solat jemaah akan berlari2 menunaikan solat secara berjemaah..tapi sayangnya semuanya sudah tidak berguna lagi..
Bismillahirrahmanirrahim.
Mar 25, 2015
Mar 25, 2015 at 11:14 PM UTC
Payudaramu
Masih menatapku dengan murung
Entah sudah berapa lama kupegang
Mungkin ratusan ribu kali.
Temaram yang dibentang
Oleh lampu kecil di sudut kamar;
Ranjang yang bermain melodi sendu
Poster kusam mimpi hari depan
Dan radio tua yang tak henti-henti
Menabuh genderang yang telah hilang
Semangat.
Ah, siluetmu
Yang bergoyang-goyang di tiup
Angin asmara.
Aku mencintaimu malam ini
Lebih dari apapun,
Bilang pada bulan
Jangan berhenti bersinar
Dan taburilah wajahnya
Banyak-banyak cahaya bintang.
Aku mencintaimu malam ini
Lebih dari apapun, sampai pintu bilik di ketuk.
(Batam, 17 Mei 09)
Apr 8, 2011
Apr 8, 2011 at 7:42 AM UTC
Sebetulnya tidak ada yang terlalu berbeda pada Jogja malam itu, namun memang spesial.
Ada kamu di hadapanku, diterangi remangnya lampu kedai kecil tempat kita berdua berteduh dari gerimis dan dinginnya kota Jogja malam itu.
Kamu tidak banyak bicara, sibuk dengan sepiring gudeg dan segelas wedang jahe favoritmu.
Aku tidak bisa berhenti memandangi parasmu. Meski hanya diterangi lampu remang-remang, dan peluh yang basah akan air hujan, bagiku kamu tetap nomor satu.
Sang pemilik kedai pun memutar piringan hitam miliknya, terlantunlah ‘Berdua Saja’.
Aku masih ingat betul tatapanmu malam itu seiring dengan alunan lagu. Sederhana, teduh, dan penuh dengan kehangatan.
Malam itu, aku sadar bahwa rumah tempatku pulang bukanlah bangunan bata beratap dengan satu pintu dan dua jendela.
Malam itu aku sadar, Sepasang mata bola yang teduh dan hangat itulah tempatku pulang.
Kamulah tempatku pulang.
Oct 22, 2016
Oct 22, 2016 at 12:20 AM UTC
Palembang, 21 Oktober 2012
Aku berjalan,
menyusuri lorong gelap dan dingin
Menatap lurus pada satu tujuan
Pintu berukiran abstrak
Tanpa kunci aku bisa masuk dengan mudahnya
Tanpa kode aku lolos dari tes keamanan
Aku terus berjalan,
menapaki lantai yang lembap
Menuju suatu benda tinggi besar yang datar
Aku berhenti.
Berdiam diri cukup lama
Terpaku tanpa mampu berkata
Aku berdiri di depan cermin
Aku melihat diriku
Lihat Dia!
Dialah aku yang haus akan cinta
Dialah aku yang menadah kasih sayang
Aku berlutut dan meminta
Bawa dia ke sini Tuhan
Ke hatiku
Aku masih terdiam terpaku
Menyaksikan apa yang ada di hadapanku
Berpikir, betapa bodohnya aku
Aku berbalik tanpa berkata sepatah pun
Dan pergi meninggalkan aku yang masih terperangkap di cermin itu
Masih bisa kuubah, ucapku pada diriku
Takkan ku biarkan penderitaan menyentuh hidupku,
sedikitpun
Aku akan berbalik dan melupakan semua
Melanjutkan perjalanan hingga tugasku usai
Oct 21, 2012
Oct 21, 2012 at 12:49 PM UTC
Desember bersambut hujan, menderas berlukiskan mendung. Sejuk menusuk tulang, yah hujan desember memang tak main
- main dan tak tanggung - tanggung, serius. Memelukmu dingin bertubi - tubi.
Belajar dari 'hujan desember'
Pengorbanan seperti apa yang akan kau ukir untuk membuka pintu kemenangan dakwah ?
Setergenang jalan setapak kah, dengan guyuran hujan ?
Atau, sesemangat hujan desember kah ? Dengan turunnya susul menyusul melembabkan tanah tahun depan, menyusun rencana agar tanah tak mengering dan gugurlah dedaunan karena cuaca tak menentu ..
Segemuruh deras hujan kah ? Berirama dan memberi isyarat bahwa lagi - lagi akan menggenang walau ada saja suara sumbang "aah, hujan turun lagi, sampai kapan "
Dan entah akan kembali kah ia, dengan desember yang sama atau justru tertelan waktu dan mati ..
Maka, prestasi apa yang telah terukir setahun ini dan rencana - rencana apa yang telah tersusun rapi untuk mendobrak peradaban kelam ini ?
Mengembalikan peradaban gemilang "KHILAFAH ISLAMIYAH" ..
Mengubur Demokrasi Kapitalisme Sekularisme dan tak bergairah lagi untuk bangkit ..
Jangan sampai waktu tak menggenapkan umur .
Jangan sampai terlanjur gigit jari, menyesal.
Dan, jangan pernah bosan untuk tetap menyeru walau terus dihujat . Demi terterapkannya syari'at islam dan hidup sejahtera dalam naungannya ..
Maka, jangan lupa sedekapkan kedua tangan dan berdoalah akan kemenangan islam dipercepat ..
Karena hidup adalah IBADAH, AMANAH, dan MUHASABAH ..
Allahumma Shayyiban Naafi'an ..
Feb 23, 2015
Feb 23, 2015 at 4:51 AM UTC
Jakarta, 29 April 2008
Ku langkahkan kaki ku
Naik sesuatu yang akan membawa ku
Roda berputar mengelilingi kota
Yang panjang berkelok-kelok
Di tengah jalan ku lihat dia
Dengan lekuk senyum penuh sinar
Sesaat saja aku melihatnya
Aku pun berlalu lanjutkan perjalanan
Roda berhenti, aku keluar
Menghirup udara luar
Kerlipan cahaya hiasi malam
Langkahku mulai dekati pintu
Aku keluar dengan perut kenyang
Masuk kembali dan bawa ku pulang
Di tengah jalan ku antusias
Mencari dia lagi yang indah
Tapi, tak terlihat senyum cahayanya
Aku berlalu jauh dari dia
Hatiku sedih tak memandangnya
Aku pun pulang diantar roda
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 9:56 AM UTC
"Mudahnya buat janji, semudah ingkar janji"
Ke utara, selatan
kau ikut
kata kau, asal ada aku ada kau.
Ada waktu
naluri wanitaku meragui
setiap kata yang menari
di belahan mulutmu.
Namun
apalah daya kerak nasi
berlawan dengan air.
Dan saat aku
membuka seluas-luasnya pintu
kau jadi penghuni
setia
untuk sementara.
Sehingga tiba satu ketika
langkah kakimu dihayun
menapak keluar
dari ruang yang kau huni ini
Ingatlah
bukan aku yang menjemput kau
menghuni ruang ini
dan bukan aku juga lah
yang menghambat kau pergi.
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 1:41 PM UTC
Bapak, aku ingin pulang
Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah
Tapi kau telah mempunyainya.
Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu
Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak.
Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan
Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan.
Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang
Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu;
yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini
Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini.
Kau tak akan menemukannya disana
Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu
Kau adalah rumahmu
Tapi kau adalah bukan tempat singgah
Badanmu bak ruang luas tak terbatas
Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja
Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka
Ribuan pintu tersebut tertutup adanya
Terkunci dengan rapat
Namun kuncinya telah kau telan
Dibalik pintu itu,
Lagi-lagi ribuan misteri
Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran
Tersimpan terlalu aman
Jiwamu adalah fondasi
Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang
Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang
Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama
Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan
Namun parasmu, anakku sayang,
Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap
Hati-hati dalam memberi izin
Jaga rumahmu
Bersihkan
Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 1:23 AM UTC
Bagi anda sekalian
Yang meranggas merana
Di pintu sesal, sesegukan,
Saya menjual mawar merah meradang;
Khusus ditanam untuk menebus dosa-dosa.
Hanya dengan seisak air mata dan kepalsuan
Anda bisa mendapatkan:
1. Sekuntum bunga jelita
2. Semaksiat dusta terulang
3. Seampun tangis di ujung mata
Silahkan memilih salah satu yang
Paling ingin di sia-siakan.
Semoga memuaskan.
Feb 8, 2016
Feb 8, 2016 at 8:49 AM UTC
1/
Biasanya aku melihatmu di pojokan ruang itu. Melamun betapa sedih dan merananya jika jadi dirimu. Senyummu usang, sudah selayaknya kau buang. Atau paling tidak, kau gadaikan ke pasar loak. Pertimbangkan, aku bahkan menawarkan diri untuk jadi gerobak rombengnya.
2/
Mengamatimu bagai meneliti susunan arsitektur sarang semut, bercabang rumit walau sekelumit rahasiamu tak terungkit, atau paling tidak cerita masa lalu mu tak pernah terkuak.
Omong-omong, sudah tiga hari aku datang dan duduk di bangku yang sama, bahkan meja dan kursinya tak segan menyapaku dari kejauhan "kawan, mari duduk sini dan amati keindahan". Aku tak begitu paham bahasa furnitur, jadi ku jawab seadanya.
3/
Duduk diam mengawasi kerumunan, siapa tahu kau kembali terlihat, tanpa terhalangi punggung, atau ransel. Pintu maupun kerudung. Jangan bilang aku penguntit, karena aku tak bermaksud buruk. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk sekedar bertukar sapa, atau paling tidak tatapan mata. Menurut ku matamu cukup layu jika tak ada kawanmu yang menemani. Air mukamu tak pernah kulihat benar-benar menikmati hidup merdeka, mereka tetap saja terjajah. Entah karena sedih atau kecewa.
4/
Hari ini kau tak ada di antara kerumunan, tak ada dalam ruang, tak ada diantara rekan, tak pula hadir dalam lamunan. Aku takut telah menculikmu tanpa sengaja dengan tatapan. Aku terus memandang kedepan, mendengar percakapan.
5/
Tak ada. Aku tahu. Tak berharap pula aku akan tibamu di dalam ruang.
6/
Aku mendengar gosip dan rumor, bahwa kau yang di ujung ruang telah berpindah ke lain ruang. Ujung koridor. Aku bergegas kesana.
7/
Hari ini aku berhasil mengejarmu, berbicara padamu. Tapi kau tampak tak senang, dan hanya mengulang kata-kataku. Aku juga tak sengaja menemuimu di toilet. Masih mengulang kata-kataku. Sore ini aku berjanji akan menemuimu di ruang ujung koridor.
Kala itu, dia menghadap cermin. Menyapa citranya sendiri. Di ruang ujung koridor.
Oct 18, 2017
Oct 18, 2017 at 11:08 PM UTC
Dirimu menawan meski dalam gelap
Tubuhmu pilu
Bibirmu sendu
Matamu sembilu
Kau berdiri membeku
Diruang gelap bernama kenangan
Meninggalkan kekasih yang terlupakan
Hingga yang terlupakan merasa luka
Kini luka melawan waktu
Memakan rindu yang kelabu
Dan kekasih,
Kita tak akan seperti dulu
Kini aku telah menutup pintu
Tak bisa kau sentuh
Nov 8, 2017
Nov 8, 2017 at 10:55 PM UTC
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun.
Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata.
Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni.
Ini tentang apa yang hidup di dalam sana.
Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja.
Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu.
Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir.
Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya.
Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku.
Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
Apr 25, 2019
Apr 25, 2019 at 5:39 AM UTC
Jam tujuh pagi tadi Ibu mengetuk pintu
Bunyi ketukan itu sampai empat kali terulang
Di ketukan empat setengah,
Pintu terbuka setengah juga
“Ya?”
“Mandi, Mbak.”
“Pingin tidur lagi.”
“Tapi hari ini hari kemenangan.”
Raut wajahnya yang telah menjadi warisanku tak sedikitpun menunjukkan bahwa dia telah memenangkan apapun.
Tidak seperti kebanyakan orang,
Untuknya hari ini bukanlah tentang seberapa kental kolam santan yang menyimbahi santapan-santapan
Bukan juga tentang berpeluk-rindu dengan orang-orang sambil sesekali bertukar kabar
Lelah mengutuk dirinya karena seumur hidup merasa kalah,
Aku tahu bahwa sehari saja ia ingin merasa menang.
Ia sendiri tahu betul saat hari ini berakhir dan tamu berpamit untuk pulang setelah semua habis terkunyah; ia akan kembali merasa kalah.
Menang atas dan untuk apa?
Seribu kata maaf pun ia telan begitu saja tanpa mencerna kata tersebut keluar dari mulut siapa
Tanpa adanya hari kemenangan yang dibanjiri oleh teks bersampul maaf,
Hidupnya memang sudah tentang meminta maaf dan memaafkan
Tak ada pilihan lain.
Hanya saja hari ini sinar sendu wajahnya menunjukkan bahwa akhirnya,
Setidaknya untuk dia,
Harapan pahitnya terhadap ‘maaf dan memaafkan’ akan diselebrasikan;
Dan seperti dirinya, lebih dari sejuta orang akan melakukannya walaupun untuk sehari saja.
Kepada siapa lagi ia harus meminta maaf dan meminta dimaafkan?
Jun 5, 2019
Jun 5, 2019 at 8:40 AM UTC
"Dalam segala manis dan tragisnya perkawinan,
Kami sebagai perempuan, mati berkali-kali
Dan lahir pula kembali—
Tentu juga berkali-kali
Disaat kau menyaksikan puluhan katup bibir yang mengatakan “Sah.”
Disaat itu pula,
Kau seakan disadarkan
Bahwa kau tak lebih dari pisau yang harus terus diasah
Bukan supaya tajam untuk dapat menikam,
Namun supaya siap mencacah manis-pahitnya peristiwa kehidupan menjadi dadu-dadu kecil
Lalu menanyakan untuk menyerapnya kembali
Untuk diri sendiri
Kau,
Mati dan lahir lagi,
Bukan sebagai isteri,
Namun seutuhnya sebagai wanita yang mengayomi
Sampai akhirnya kematian itu berdiri di depan pintu
Untuk menjemputmu lagi
Disaat kau duduk dan melihat pandangan puluhan manusia
Yang seakan-akan mengatakan,
“Berpandailah dengan urusan dapur.”
Mereka dengan bodohnya menutup mata kepada fakta
Bahwa sekarang, kau adalah busur
Yang dengan senantiasa akan mengarahkan kemana anak-anak panahmu melaju
Kau, bertulang rusuk dan adalah tulang rusuk
Bukan tulang rusuk dari lanangmu,
Namun dari rumah segala rumah
Disaat insan keci itu menangis lahir,
Disitulah Tuhan dengan segala kuasa-Nya menyemukakanmu
Dengan kelahiran yang absolut.
Mutlak. Nyata. Tanpa majas atau embel-embel.
Kau, bukan hanya wanita bersusu yang menyusui;
Walau serapanmu terhadap puji-kejinya kehidupan
Akan juga diserap oleh ‘anak panah’ mu
Melalui air susu dan tutur katamu
Disaat kau melahirkan anak manusia,
Tentunya tanpa tanda tanya,
Kau betul-betul
Lahir kembali."
Apr 18, 2019
Apr 18, 2019 at 10:25 PM UTC
Pagi ini kugantung kemeja favoritmu depan pintu
Sambil menarik satu senyuman
Menahan apa yang tertahan di kerongkongan
Yang seakan jika kuhembuskan saja
Bisa sampai merobek paru-paru
Lalu aku memakai serba hitam
Merayakan kepergian ini sendirian
Atas dirimu yang tak lagi ada untuk menyapa.
Oct 6, 2020
Oct 6, 2020 at 10:39 PM UTC
Menuju Maret, pagi-pagi matahari meninggi sambil menyeduh minuman penolak kantuk.
Sesekali ia aduk minuman di gelas melawan arah jarum jam.
Katanya agar berbeda,
Padahal sedari dulu ia sudah berbeda.
Pagi-pagi matahari cepat meninggi
Mungkin membawa kabar dari Bapak menyertakan terimakasih.
'Terimakasih' suara bapak dari ponsel genggam buatan negara berkelopak mata monolid.
Menuju Maret hati yang disini berduka. Menolak umur ditambah dengan satu angka,
Belum lagi kalau dia ingat suara pintu pagar besi yang dimainkan anak-anak tetangga.
Rindu katanya,
Ia belum pulang, sebagian jiwanya sedang bermain pasir di masa lalu.
Tapi ia malah lari mengejar lagi. 'Sudah cukup, aku mau ikut' katanya
Sekarang ia siap, menuju Maret dan segala kebaikan di dalam dan setelahnya.
B_Art
07-Feb-2019
Feb 6, 2019
Feb 6, 2019 at 10:36 PM UTC
Dia sering mengetuk pintu
: sebanyak lima kali
dalam sehari
tetapi di saat-saat itu,
telinga kita mendadak tuli
dan mata kita mendadak buta
atau barangkali,
kita tak berada
di dalam rumah
(kanya, 2017)
Aug 11, 2017
Aug 11, 2017 at 10:33 PM UTC
Kamu berhenti berbicara dengan jendela
Padahal dia mengatup dan terbuka dengan sendirinya
Jika kamu pergi, bukankah pintu mengatakan untuk tidak kembali?
Lalu kamu turuni anak tangga seperti menuruni tingkat kesadaran
Berguling bergelimang bintang diantara remang lampu jalan
Hanya saja kamu hilang tepekur diantara gang-gang gelap hutan
Pertanyaanku, apakah selama ini kamu mengerti bahwa rambu jalan melarangmu untuk berhenti?
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:44 PM UTC
Dapatkah kamu merasakannya?
Bisakah kamu melihatnya?
Kamu memiliki monster di dalam diri kamu.
Setiap hari, dan setiap malam kamu tidak bisa lengah dari monster itu.
Bisakah kamu mendengarnya mengetuk di depan pintu ketakutan kamu?
Memberitahu kamu untuk membiarkannya masuk, dan kamu tidak perlu takut.
Menunggu dengan sabar dalam bayang-bayang kebahagiaan kamu,
Yang akan menyerang setelah kamu dikuasai oleh kesedihan kamu sendiri.
Apr 26, 2019
Apr 26, 2019 at 4:20 PM UTC
Badan ranjang tidurku rapih sedikit berdebu
Ujung selimut terlipat dan banyak abu
Jendela kamar terbuka seperapat untuk semburan angin masuk
Pintu dibiarkan ternganga sekiranya ada yang mau bertamu
Tamu terakhir hadir seminggu lalu
Berbeda dengan si angin yang rajin keluar masuk
Tamu terakhir pamit untuk tak lagi membesuk
Memang bukan kepergian namanya kalau tak menusuk;
Seruangan bergemuruh menyaksikan kaki jenjangnya melangkah kian jauh
Bukan hanya ruang secara dimensi,
Tapi ruang tubuh ini yang lima menit lalu baru ia isi
Tak sampai esok hari jantung dari ruang tubuh ini seakan memohon untuk berhenti
Telingaku seakan mendengar hati meretih;
Cukup jangan terjadi lagi
Namun si akal bajingan menimpali;
Ya memang ada kalanya manusia harus sendiri
Hari hampir pagi
Biarkan kubakar rokok satu batang lagi.
May 13, 2019
May 13, 2019 at 11:04 AM UTC
Rinduku pemalu
tidak melulu sampai kepadamu,
kadang tersesat dalam diam
termenung, terhuyung, melamun
atau yang terparah
sudah sampai di depan pintu hatimu,
tapi Rindu lupa cara mengetuk pintu.
Apr 28, 2023
Apr 28, 2023 at 2:20 AM UTC
Andaikan aku dirimu
Akan kulangkahkan kakiku keluar pintu
Melayang seringan bunga kertas
Kan kupenuhi hari-harimu dengan warna indahku
Andaikan aku dirimu
Akan kujelajahi setiap sudut kota
Kutelisik namamu di papan-papan pengumuman
Kucari wajahmu dalam setiap poster iklan
Kan kuceritakan padamu hargamu bagiku
Sambil mengantarmu pulang ke rumah
Andaikan aku dirimu
Aku akan berkawan dengan malam
Kutangisi bintang-bintang jauh yang berpendar lemah
Kemudian kupeluk rembulan dengan erat
Kurayu agar ia mau menyinari jendela kamarmu
Dan sinar lembut sewarna perak menerpa wajahmu
Indah menemani kau yang terlelap
Andaikan aku dirimu
Jikalau nanti kau tak melihat diriku
Aku sedang mencari pulau yang tak dikelilingi air
Biar kuisi dengan lautan kembang api
Agar kau menyaksikan letupan-letupan rindu penuh warna
Merasakan jarak indah yang menyiksa
Jan 31, 2018
Jan 31, 2018 at 10:21 AM UTC
Daun kuning berjatuhan
Angin dingin menghantarkan salam dari Tuhan
Aku melihat pepohonan yang menari
Semua tampak indah menyejukkan hati
Aku hanya diam..
Diam tak tahu harus kemana
Kabut putih menutup mataku
Mendorongku yang berdiri terpaku
Imajinasiku kabur
Aku akan jatuh
Dan...
Dimanakah aku?
Diruangan serba putih aku terbangun
Menatap dengan pandangan memudar
Siapakah kamu?
Gadis kecil berlari dan tertawa
Berlari menjatuhkan bunga-bunga
Membuka pintu diujung ruangan
Aku berjalan...
Berjalan membuka pintu yang sama
Wanita cantik berambut pirang
Cantik rupawan mengalahkan Godiva
Seorang gadis kecil memeluknya erat
Dia...
Dia yang selama ini kucari
Dia yang selama ini kunanti
Aku mencoba...
Mencoba untuk menyentuhnya
Jari-jarinya yang ramping menepisku
Aku berpikir dia membenciku
Namun tidak
tidak...
Dia berkata padaku,
"Kembalilah, ini belum saatnya"
Kematian bernegosiasi dengan kemungkinan
Kemungkinan untuk meraih kehidupan
Di alam bawah sadar
Aku akan kembali menemukannya
-Kediri, 18 Maret 2018
Mar 25, 2018
Mar 25, 2018 at 11:22 PM UTC