"pandang" poems
Jakarta, 13 Mei 2007
Ku pandang sisi-sisi sudut di sebuah ruangan
Tiada apapun yang dapat ku kenang
Selain seorang teman yang setia kawan
Ku harap ada seorang kawan yang menemaniku
Di kesunyian malam yang terus mengancam
Seolah tak peduli akan ketenangan
Namun
Ku mencoba untuk sabar menanti kerinduan
Pada seorang terkasih yang s’lalu ku dambakan
(Puisi ini dibuat untuk dinilai oleh guru bahasa pada tanggal 14 Mei 2007, dan mendapat nilai 8)
Jan 2, 2012
Jan 2, 2012 at 4:42 AM UTC
Temukan aku, cari aku
Hancurkan aku, remukkan aku
Caci diriku hinakan jiwaku
Buat aku berlutut menangis di hadapanmu
Hempaskan tubuhku rebahkan kepalaku
Lakukanlah, hancurkan diriku.
Tapi ketika saatnya tiba
Ulurkan tanganmu, raihlah kepalaku
Berjongkoklah, sentuh pipiku
Elus rambutku hapus air mataku
Tundukkan kepalamu, dekatkan ke telingaku
Bisikkan padaku sebuah kata dari dalam hatimu
Hembuskan padaku sebuah harapan
Lantunkan lagu itu, lagu kehidupan
Tatap mataku, ajak aku berdiri
Pandang wajahku, yakinkan aku
Genggamlah tanganku sementara kau mulai melangkah
Peluk erat jariku dengan jemari lentikmu
Berikan hangat tubuhmu, genggam erat tanganku
Ayunkan kakimu, berlarilah
Bawa aku bersamamu, beri aku jalan
Menolehlah sesekali ke belakang
Aku akan tetap berada di sana
Memandangi jemarimu memeluk jemariku
Aug 27, 2017
Aug 27, 2017 at 2:11 AM UTC
Aku tak pernah anggap kau penting tau,
langsung tak pernah.
Balik-balik muka kau,
Balik-balik muka kau,
Pastu satu hari kau takde,
Aku mula cari kau.
Tiba-tiba kau jadi penting,
Sampaikan tertoleh-toleh kiri kanan cari kau.
Pastu tengok kau,
Dekat belakang tembok pandang aku,
Senyum.
Celakanya,
Berdegup jantung aku.
Mar 3, 2015
Mar 3, 2015 at 11:51 AM UTC
Sesekali
Malam bersaksi
Ialah yang kau pandang
Lewat satu-satunya
Jendela hatimu
Jam dinding
Pada tiap detiknya
Merana
Setelah menghitung
Detak jantungmu
Tembok kerap
Meniup nestapa
Saat kau di pembaringan
Meliuk pada
Hamburan mimpimu
Selamat tidur,
Degup duka.
Aku sebuah gelas
Di ujung kamarmu
Yang terlalu penuh
Minumlah sebelum
Terlelap
Agar aku dapat juga
Bersaksi perihal
Kecup dan detak jantungmu
Mar 19, 2016
Mar 19, 2016 at 3:41 AM UTC
debu di kaca berbingkai kayu
rapuh
buat rayap tak berselera makan
buatnya tak berselera mengintai wanita
sunyi di pekarangan berpagar besi
mendung
buat ia tak berselera bermain
buat ia terdiam di rumah seharian
di tingkap pandangnya wanita kecil bermain tawa
di tingkap rancangnya pikiran abu akan wanita usia fajar
di tingkap ia pandang luapan dahaga pada satu raga
sepi di pekarangan berhias rumput
pulang
ayah datang bawa bidan
Jan 10, 2016
Jan 10, 2016 at 9:55 AM UTC
lalu aku perlahan berjalan menjauh
mencoba menjarak pada sepotong hati yang membiru
luka tak pandang bulu, tak pandang rupa atau apapun
sempat aku titipkan sepenuh hatiku
kudapati sekarang tak berupa
aku tak cukup mau untuk berlari
sebentar..aku hanya ingin memastikan hatiku kembali baik
ku tahu kamu tak sengaja
membuat hatiku jatuh lalu memar
sakit memang.. tapi lebih sakit jika aku tidak mencinta lagi
karena aku percaya, hatimu baik..
Nov 30, 2018
Nov 30, 2018 at 8:37 AM UTC
ada yang berkata untuk urusi urusanmu sendiri
ada juga yang menganjurkan kita saling bantu
oiya, kita juga disalahkan karena apapun yang kita pilih
semuanya akan selalu berjalan seperti itu
oiya sebenarnya disini;
tidak ada yang benar benar salah
tidak ada yang benar benar betul
jika dilihat dari banyak sudut pandang
jika memang berkata;
biarlah, orang itu sendiri sendiri
ya harus konsisten
tidak usah memaksakan kehendak suatu makhluk.
tuhannya ? tidak usah ditanya.
tidak sopan.
Jan 29, 2019
Jan 29, 2019 at 3:07 AM UTC
Mungkin memang hanya diriku
Yang terlalu dalam jatuh dalam godaan asmara
Hingga membuatku terasa mati dibunuh diri sendiri
Sengaja menyayat hati
Menutupi bingar amarah ini
Sakit yang membuatku terenyum
Tersenyum dengan hati merintih pedih
Bunda, tak ada tempat bagiku untuk kembali
Siapakah diriku
Dimanakah hati ini terbuang
Hanya memandang kosong dalam angan tanpa buaian selayang pandang
Meratap pada langit
Berdusta pada tanah
Kini tinggallah aku berdua dengan-Mu
Masih adakah tempat bagiku di pangkuan-Mu?
Jun 6, 2017
Jun 6, 2017 at 11:54 PM UTC
Kalau saja kau sempat.
Pandang,
bagaimana mulut ini bisa saja menegur,
tersenyum?
Tapi otak membeku bungkam bagai impuls macat karena motor neuron salah menghantar ke jalur yang tak seharusnya
Aku coba pulang,
balik bak kala kau amati
sosokku yang periang dan sayang
Bukannya aneh waktu dulu semua lihat ku dan kamu serupa kawan tanpa ada salah tingkah didalamnya
Ceritakan sekali lagi bagaimana diriku yang dulu
Agar aku kembali,
jadi kita,
aku yang mudah,
kau yang tak ada apa-apa.
Tiap pertama bertemu,
doaku kutak lagi buat kesalahan yang sama.
Semata-mata memang karena,
kau teman yang begitu berharga.
Mar 12, 2018
Mar 12, 2018 at 11:36 PM UTC
Kemarin malam
Keheningan datang merayu
Untuk memulai sebuah percakapan denganmu
Dengan topik ringan tentang kehidupan
Duduk di atas motor berboncengan
Sesekali kamu mencuri pandang melalui kaca spion sambil tersenyum
Sedangkan aku berusaha mengendalikan debar di dada
Ah, senyummu sungguh mempesona
Tapi, apakah kita bisa bersama?
Nov 1, 2019
Nov 1, 2019 at 4:38 PM UTC