Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"menyalahkan" poems
Palembang, Selasa 29 November 2011 Aku yang selalu menyalahkan diri sendiri atas kesalahan ku Terus menerus berfikir apa pantas tuk mendapatkan itu Bila berdoa saja pun aku selalu bolos Aku yang kata orang tak sadar diri Selalu dan selalu membela diri Memang iya, aku melakukannya sendiri Aku yang sedang-sedang saja Tak pintar, tak menarik pun tak beruang Masih mau bersedekah untuk batin ini juga Aku yang segalanya Segalanya bohong, malas, bodoh Hanya bisa menangis ataupun acuh seperti orang hilang Aku yang masa depannnya suram Tak berani berucap mau jadi apa Kalau mengadu pada-Nya saja aku sungkan Aku yang hidupnya menyedihkan Duduk memangku harapan Menunggu keajaiban Tuhan
0
Nov 29, 2011
Nov 29, 2011 at 7:44 AM UTC
Aku Yang Menunggu Keajaiban Tuhan
*Hujan hari ini begitu deras Dan selepasnya tak kulihat pelangi Tak seperti dongeng-dongeng malam Atau ayat-ayat motivasi penguat hati* *Hujan hujan sebelumnya juga begitu Ku lihat ikan-ikan kesakitan terkena derai siram hujan Lelaki tua peminta kedinginan kebasahan Listrik menyambar, tiang jatuh, seorang anak tertimpa* Buruk, buruk, buruk "Hei ayo bermain!" *Lamunanku terjerat Segerombolan bocah kecil menari dibawah derasnya hujan Bernyanyi gembira nyengir tak terkira Aku menjeling, aku mempelajari, aku mulai tersenyum Agaknya aku yang lupa Tak kupandang rumput kehausan bersorak menanti tibanya air minum mereka Sisi pandangkulah salah Aku menyalahkan pelangi Tak kulihat bahwa petani begitu bahagia dan menanti Ini semua bukan tentang pelangi warna warni itu Pelangi yang sesungguhnya ada disekelilingmu Jangan merana Jangan sepertiku Yang kulihat hanya aku dan segala kesepian ini*
0
Oct 15, 2016
Oct 15, 2016 at 8:52 AM UTC
Pelangi Ucapan Syukur
Malam itu hujan, Entah Tuhan ingin membuatku semakin sedih karena suasana yang mendukung, Atau Tuhan tidak ingin semua mengetahui kalau aku menangis. Malam itu hujan, Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu membuat aku bertanya, Apakah kamu benar-benar orang yang pernah aku sayang dahulu? Apakah kamu benar-benar orang yang selama ini aku perjuangkan? Karena malam itu ketika hujan, Aku seperti tidak mengenal dirimu. Malam itu hujan, Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu tidak lebih hanya membuat aku merasa sakit, Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita baik-baik saja? Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita tidak bertemu kata perpisahan? Tapi tidak dengan malam itu ketika hujan, Kamu bersikap seperti orang asing yang tidak aku kenal, Kamu mendorongku untuk pergi dari kehidupanmu, Kamu itu siapa? Aku yakinkan diriku sekali lagi, Apa kamu benar-benar orang yang selama ini aku sayang? Malam itu hujan, Aku tidak bisa berkutik kecuali meneteskan air mata, Semudah itu untukmu? Ketika selama ini aku bertahan dengan alasan yang mengharuskan diriku untuk pergi, Semudah itu untukmu? Ketika aku harus menahan rindu setiap malam, Bertanya-tanya apakah dirimu baik saja di sana, Semudah itu untukmu? Tapi aku tidak menyalahkan malam itu ketika hujan, Kepergianmu malam itu membuat aku sadar, Kenapa aku terlalu takut untuk pergi sebelumnya, Sedangkan kamu bisa melakukan dengan semudah itu? Pergilah, aku merelakanmu. Pergilah, bawa hujan di malam itu sebagai simbol akhir dari segalanya, Pergilah, jangan pernah kau menoleh ke belakang untuk melihatku, Aku yakin akan baik-baik saja, Walau kini aku masih menangis bersama hujan.
0
Jul 17, 2017
Jul 17, 2017 at 4:38 PM UTC
Hari di mana kau memutuskan untuk pergi.
Malam itu hujan, Entah Tuhan ingin membuatku semakin sedih karena suasana yang mendukung, Atau Tuhan tidak ingin semua mengetahui kalau aku menangis. Malam itu hujan, Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu membuat aku bertanya, Apakah kamu benar-benar orang yang pernah aku sayang dahulu? Apakah kamu benar-benar orang yang selama ini aku perjuangkan? Karena malam itu ketika hujan, Aku seperti tidak mengenal dirimu. Malam itu hujan, Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu tidak lebih hanya membuat aku merasa sakit, Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita baik-baik saja? Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita tidak bertemu kata perpisahan? Tapi tidak dengan malam itu ketika hujan, Kamu bersikap seperti orang asing yang tidak aku kenal, Kamu mendorongku untuk pergi dari kehidupanmu, Kamu itu siapa? Aku yakinkan diriku sekali lagi, Apa kamu benar-benar orang yang selama ini aku sayang? Malam itu hujan, Aku tidak bisa berkutik kecuali meneteskan air mata, Semudah itu untukmu? Ketika selama ini aku bertahan dengan alasan yang mengharuskan diriku untuk pergi, Semudah itu untukmu? Ketika aku harus menahan rindu setiap malam, Bertanya-tanya apakah dirimu baik saja di sana, Semudah itu untukmu? Tapi aku tidak menyalahkan malam itu ketika hujan, Kepergianmu malam itu membuat aku sadar, Kenapa aku terlalu takut untuk pergi sebelumnya, Sedangkan kamu bisa melakukan dengan semudah itu? Pergilah, aku merelakanmu. Pergilah, bawa hujan di malam itu sebagai simbol akhir dari segalanya, Pergilah, jangan pernah kau menoleh ke belakang untuk melihatku, Aku yakin akan baik-baik saja, Walau kini aku masih menangis bersama hujan.
Continue reading...
36
berawal dari waktu memaksaku menyeret kakiku melangkah gontai sambil pergi aku merengek, terisak ! dan mengadu pada-Nya tunggu ini secepat aku berkedip barusaja ya, dulu memang aku kecil nyaliku memang masih payah masih terjerat pada keduanya bahkan sekarangpun.. keduanya ingin aku yang terbaik aku tak tahu yang dirasa mereka tapi aku sendiri berontak menyalahkan waktu yang jelas tak akan berhenti aku kutuk waktu mengapa begitu kilat ragaku masih ingin tetap dirumah tunggu, sejenak aku merasa keliru bukankah ini baik aku juga ingin membuat keduanya senang mimpi harus coba kupanjat tangga itu sudah dihadapanku aku termasuk yang beruntung bersyukurlah! batinku melerai aku meyakinkan diriku sekuat tenaga "ini bukan rumahku" gertakku saat aku tiba ditempat asing itu akupun terpaksa tinggal demi pengetahuan yang ingin kuraup iya, jika belum paham akan kujelaskan aku seorang mahasiswa sekarang predikat yang melekat padaku kini berat.. pandangan semuanya akan berbeda terhadapku sungguh aku menemui teman baik berjuang sama sama, namun tetap harus sendiri aku menarik nafas.. waktuku kini juga telah memaksaku rasanya pagi sudah menjadi sore agaknya aku harus selesaikan hariku mengerjakan tugas akhirku disana...
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:28 PM UTC
GARIS WAKTU
Aku telah belajar banyak dari sunyi. Bagaimana menyimpan sendiri hal - hal yang orang lain susah mengerti. Kau boleh berfikir aku penuh teka teki, tetapi memang itulah satu - satunya cara agar ketika aku kecewa, aku tidak akan menyalahkan siapa - siapa.
0
Jun 26, 2018
Jun 26, 2018 at 3:52 AM UTC
Untitled pt.1
Aku selalu suka caramu menceritakan dunia, dengan barisan kata yang asing, membuatku harus memutar otakku yang rendah kapasitasnya ini. Aku selalu suka caramu bahagia, bahkan kamu tidak tersenyum ketika bahagia. Hebatnya kamu, bahagiamu bisa sampai ku rasa tanpa senyumanmu yang hadir. Aku selalu suka caramu bersedih, kamu selalu kehabisan kata. Melampiaskannya dengan hal yang bisa mematikanmu, namun pada akhirnya kamu juga butuh pelukanku. Aku selalu suka caramu marah, kamu selalu terdiam. Sampai pada akhirnya kata maaf terucap, karena kamu takut aku akan terganggu dengan marahmu. Aku selalu suka caramu optimis, membanggakan dirimu sendiri sampai lupa kalau di dunia ini ada orang sehebat Pak Habibie. Aku selalu suka caramu pesimis, tidak henti menyalahkan diri sendiri, tapi tidak memakan waktu lama. Setelah itu kamu bangkit lagi. Tapi satu yang tidak aku suka, caramu yang selalu mematikan rasa. Kamu tidak pernah membiarkan rasa-rasa dalam dirimu menyala. Kamu benci rasa. Sama seperti aku membenci diriku sendiri. Tapi tidak apa, Nanti kita sama-sama belajar untuk merasa lagi, ya? Namun, akan lebih baik jika pada akhirnya kita yang bisa saling menumbuhkan rasa.
0
Feb 26, 2020
Feb 26, 2020 at 2:16 PM UTC
02.16
Semuanya berteriak dalam pikir Mengutuk diri berulang kali Menyalahkan atas yang terjadi Dia menginginkan aku untuk pergi Tuhan, aku ingin pulang Rumah di sini tidak senyaman milikmu Di sini berisik Aku dicekik berkali-kali Aku kedinginan Aku ingin hangat yang menenangkan Barangkali sajak ini sampai saat tak ada senyum merekah Tuhan, maaf, aku sudah menyerah
0
Feb 22, 2025
Feb 22, 2025 at 11:08 AM UTC
Sajak 'tak Bertuan
Nanti, jika 2 Januari sudah sampai di ujung langit tepuk pundakku Jika sebagian nadi masih dingin tepuk lagi sampai terbangun Rasanya apa yang berbelit harus dititipkan padanya dengan kaleng kotak berisi tiga beras putih Masing-masing dibalut kertas pertanyaan dan pernyataan menyalahkan Ntah marah kepada Rabb-mu, atau apapun yang berdiri disekelilingnya Lebih memalukan lagi ia telah menjadi orang lain Nanti, jika langit 2 Januari sudah berubah kuning kemerahan, usap punggungku Ia cuma perlu tenang yang menenangkan.
0
Jan 1, 2019
Jan 1, 2019 at 7:57 PM UTC
2 januari
lagi, ingin ku menyalahkan takdir yang menyeretku kaki demi kaki saat kusadari, kaulah hening yang tercipta di setiap kata sunyi. ku harap kau yang ada di sini, jiwa dari tempat yang tiap hari kita datangi. kali ini hanya ada suara jangkrik yang kegirangan karena aku mulai terhanyut sepi. kucoba abaikan tapi ada kosong yang selalu mengajakku kembali “sini menangis lagi, aku tau kau tak sekuat ini” tak apa, malam nanti kita akan bersua dalam malam yang enggan berdusta kuharap aku sedang mati, tapi hanya terdengar ejekan raungan knalpot mobil yang tak peduli. -“Aquarium kaca”, 17 April 2017
0
Mar 24, 2018
Mar 24, 2018 at 10:45 AM UTC
Kaki Demi Kaki