Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"mengembalikan" poems
Desember bersambut hujan, menderas berlukiskan mendung. Sejuk menusuk tulang, yah hujan desember memang tak main - main dan tak tanggung - tanggung, serius. Memelukmu dingin bertubi - tubi. Belajar dari 'hujan desember' Pengorbanan seperti apa yang akan kau ukir untuk membuka pintu kemenangan dakwah ? Setergenang jalan setapak kah, dengan guyuran hujan ? Atau, sesemangat hujan desember kah ? Dengan turunnya susul menyusul melembabkan tanah tahun depan, menyusun rencana agar tanah tak mengering dan gugurlah dedaunan karena cuaca tak menentu .. Segemuruh deras hujan kah ? Berirama dan memberi isyarat bahwa lagi - lagi akan menggenang walau ada saja suara sumbang "aah, hujan turun lagi, sampai kapan " Dan entah akan kembali kah ia, dengan desember yang sama atau justru tertelan waktu dan mati .. Maka, prestasi apa yang telah terukir setahun ini dan rencana - rencana apa yang telah tersusun rapi untuk mendobrak peradaban kelam ini ? Mengembalikan peradaban gemilang "KHILAFAH ISLAMIYAH" .. Mengubur Demokrasi Kapitalisme Sekularisme dan tak bergairah lagi untuk bangkit .. Jangan sampai waktu tak menggenapkan umur . Jangan sampai terlanjur gigit jari, menyesal. Dan, jangan pernah bosan untuk tetap menyeru walau terus dihujat . Demi terterapkannya syari'at islam dan hidup sejahtera dalam naungannya .. Maka, jangan lupa sedekapkan kedua tangan dan berdoalah akan kemenangan islam dipercepat .. Karena hidup adalah IBADAH, AMANAH, dan MUHASABAH .. Allahumma Shayyiban Naafi'an ..
0
Feb 23, 2015
Feb 23, 2015 at 4:51 AM UTC
Be Rain
Desember bersambut hujan, menderas berlukiskan mendung. Sejuk menusuk tulang, yah hujan desember memang tak main - main dan tak tanggung - tanggung, serius. Memelukmu dingin bertubi - tubi. Belajar dari 'hujan desember' Pengorbanan seperti apa yang akan kau ukir untuk membuka pintu kemenangan dakwah ? Setergenang jalan setapak kah, dengan guyuran hujan ? Atau, sesemangat hujan desember kah ? Dengan turunnya susul menyusul melembabkan tanah tahun depan, menyusun rencana agar tanah tak mengering dan gugurlah dedaunan karena cuaca tak menentu .. Segemuruh deras hujan kah ? Berirama dan memberi isyarat bahwa lagi - lagi akan menggenang walau ada saja suara sumbang "aah, hujan turun lagi, sampai kapan " Dan entah akan kembali kah ia, dengan desember yang sama atau justru tertelan waktu dan mati .. Maka, prestasi apa yang telah terukir setahun ini dan rencana - rencana apa yang telah tersusun rapi untuk mendobrak peradaban kelam ini ? Mengembalikan peradaban gemilang "KHILAFAH ISLAMIYAH" .. Mengubur Demokrasi Kapitalisme Sekularisme dan tak bergairah lagi untuk bangkit .. Jangan sampai waktu tak menggenapkan umur . Jangan sampai terlanjur gigit jari, menyesal. Dan, jangan pernah bosan untuk tetap menyeru walau terus dihujat . Demi terterapkannya syari'at islam dan hidup sejahtera dalam naungannya .. Maka, jangan lupa sedekapkan kedua tangan dan berdoalah akan kemenangan islam dipercepat .. Karena hidup adalah IBADAH, AMANAH, dan MUHASABAH .. Allahumma Shayyiban Naafi'an ..
Continue reading...
17
Inderalaya, 27 Agustus 2014 Aku putus asa di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan Di saat aku sedang sibuk menyemangati orang lain untuk bertahan Tepat di saat aku berceramah agar mereka terselamatkan Aku membela orang lain padahal aku sendiri seorang tahanan Aku sendiri tak mampu untuk mengembalikan kehidupan, hanya berangan Melewati waktu tanpa batas yang membuat aku tersesat di jalan Dengan berani ku telusuri labirin tak berujung di hari tak berawan Aku mampu menjadi lentera orang lain, di jalan gelap di ujung perapian Namun aku tetaplah lilin yang tak berapi, angin meniup api dan angan Aku masih tetap menjadi tahanan yang ingin terbakar di ujung perapian
0
Aug 26, 2014
Aug 26, 2014 at 10:29 PM UTC
Di Ujung Perapian
Kekasihku telah meninggal Tak ada lagi yang tersisa dari Rambut panjangnya Bahkan sekarang Senyumnya berbau masam Kekasihku telah meninggal Sudah tak dapat lagi ia ucap Sajak-sajak getir Laut di ufuk Apalagi senandung bintang atas kita Kekasihku telah meninggal Sentuhannya dingin Tubuhnya kaku Kelembutannya menjadi pisau Dan gurauannya antarkan duka Ia tetap tertawa dalam kematiannya Karena jasadnya dapat terus hidup Sebagai manusia lain Yang bagiku, entah siapa Yang bahkan tak kukenali danurnya Jika bisa Aku ingin mengembalikan tubuh itu padanya Akan kugali kuburan dalam hatinya Kutarik keluar jenazahnya dan kubangkitkan, Dalam sebuah peluk dan angan Akan kubiarkan ia merasuk Pada tubuh tak berhati Tak berjiwa itu Tubuh budak Peradaban lama Akan kubiarkan ia merasuk Panjang rambutnya yang fana Senyumnya yang binar Hatinya yang murni Harus ku kembalikan Pada Tubuh Hidup Gentayangan Itu
0
Apr 19, 2016
Apr 19, 2016 at 4:14 AM UTC
Pada Tubuh Hidup Gentayangan Itu
Jumat, 6 Agustus 2010 Tak lagi kini kata syukur pada diriku Tak ku sadari begitu bencinya Dia Hingga kini ku diberi kesempatan Yang tak ku sadari adalah cahaya-Nya Tak lagi kini ku terpanggil untuk-Nya Tak tahu aku ada apa dengan raga Dan jiwa pun kini ku tak tahu di mana berada Hanya ocehan kasar yang terucap Tingkah laku yang berdosa saja Perenungan yang membawa hasil Namun tak sanggup aku berkata maaf Sudah terlambat dan telah berlalu Ku hanya bisa menangis sedu Dan menanggung perasaan malu Ku harap kali ini Ku mampu memanfaatkan waktu Demi hatapan dan tujuanku Mengembalikan kata syukur pada diriku Dan ku ucap syukur itu setiap waktu Created by. Aridea .P
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:44 AM UTC
... Syukur
Bandung begitu kelabu, dadaku kosong rentang fokus kabur entah kemana ada kacau yang meruang di tubuhku tersisip kicau yang kian gaduh kepalaku terus menerus menimbang mempertanyakan perkara ranah juang bolak balik singgah pada keraguan lalu sebentar mampir pada keyakinan ia, aku, terpicu keras sekali kilas balik membeludak dalam benak beririsan dengan manisnya kenyataan yang juga selalu menjagaku erat aku benci terpicu seperti ini, guru geografi pernah ajarkan ketika panas bertemu dingin, terjadilah puting beliung ada puting beliung yang meruang di tubuhku lalu hembusan nafas mengembalikan sadarku cepat-cepat harus kukerdilkan imajinasi ya Bapa di Sorga, bebaskan aku dari kekang gelisah aku hanya ingin melepaskan apa yang perlu dilepaskan aku lelah mengunci diri dalam kegelapan
0
Mar 2, 2020
Mar 2, 2020 at 1:44 PM UTC
Residu Rasa
merasa seperti tidak layak untuk siapapun merasa kosong hampir setahun merasa cuma diri saja yang melewati titik termuak kah ? tidak tau titik tercapek kah? tidak tau mungkin masih di dasrar mungkin akan ada puncak kalut yang lebih tinggi atau mungkin ini sudah hampir berakhir gaada yang tau, bahkan diri sekalipun sempat berharap mencoba mengembalikan keutuhan kepada orang lain tapi, gagal. mau sampai kapan?
0
Jul 18, 2021
Jul 18, 2021 at 2:47 PM UTC
donexiety
Aku jatuh cinta kepada apapun yang bebas. Bebas yang bukan seperti layangan-layang di langit lapangan. Terlihat bebas namun angin dan benang tak terlihat oleh mata. Menggerakkan yang apa ada di udara. Bebas yang bukan seperti para ikan. Mereka berenang di dalam lautan, menyusuri lautan yang sepertinya tak terbatas. Mereka berenang ke air mana pun yang mereka mau. Mereka berenang tanpa tanpa tahu, terdapat langit di atas lautan, yang merampas dan mengembalikan air laut mereka. Bebas bukan seperti aku. Menulis ini dengan bahasa, yang katanya bahasa dari bangsa yang telah merdeka. Kemerdekaan bukan sembarang kemerdekaan. Bangsa yang merebut kemerdekaan, namun rasanya kemerdekaan ku hanya berpindah lengan.
0
Jun 30, 2022
Jun 30, 2022 at 2:30 AM UTC
Bebas
tuanku telah meninggal sudah tak dapat lagi ia ucap sajak-sajak getir perlawanan atas tuhan apalagi senandung bintang atas kita tuanku telah meninggal sentuhannya dingin tubuhnya kaku sajaknya menjadi pisau dan gurauannya antarkan duka ia tetap tertawa dalam kematiannya karena jasadnya dapat terus hidup sebagai manusia lain yang bagiku, entah siapa yang bahkan tak kukenali danurnya jika bisa aku ingin mengembalikan tubuh itu padanya akan kugali kuburan dalam hatinya kutarik keluar jenazahnya dan kubangkitkan, dalam sebuah peluk dan angan akan kubiarkan ia merasuk pada tubuh tak berhati, tak berjiwa itu pada tubuh hidup gentayangan itu
0
Dec 6, 2020
Dec 6, 2020 at 6:24 AM UTC
Jasad Mana Tempat Ragamu Kini Bersemayam?