Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"mendengarkan" poems
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
0
Mar 5, 2016
Mar 5, 2016 at 7:57 AM UTC
Bidadari Fajar
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
Continue reading...
6
Waktu adalah sahabatku Jarak adalah musuhku Bersamamu adalah saat kesukaanku Berjarak denganmu adalah keengananku Terlintas di benak ingin membuat mesin waktu Melintasi waktu Teleportasi menuju duniamu Menghabiskan waktu yang tersisa bersamamu Berbicara segala hal Mendengarkan segala hal Mencintai segala hal tentangmu Bersenggama selamanya denganmu Tuhan telah menurunkan malaikat di hidupku Setiap malam kubisikkan doa-doa ku kepadaNya agar diriku layak Setiap hal di dirimu membuat segalanya sempurna untuk menjadi layak Tuhan, jaga malaikat ini untuk tetap disisiku.
0
Dec 6, 2017
Dec 6, 2017 at 11:56 AM UTC
Ruang lintas.
Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau mulai memberi nasihat, kau tak melakukan apa yang kuminta. Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau mulai bilang aku tak perlu merasa begitu, kau menginjak-injak perasaanku. Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau merasa harus berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalahku, kau telah mengecewakanku, memang aneh kelihatannya. Dengar! Yang kuminta hanya kau mendengarkan bukan bicara atau berbuat—hanya dengarkan aku. Nasehat itu murah; 60 sen akan memberimu rubrik nasehat yang ada di koran. Dan itu bisa kulakukan sendiri. Aku bukan tak berdaya, mungkin kecil hati dan bimbang, tapi bukan tak berdaya. Ketika kau lakukan sesuatu untukku yang bisa dan perlu kulakukan sendiri, kau menambah ketakutan dan kelemahanku. Tapi saat kau terima kenyataan bahwa aku merasa apa yang kurasa betapapun tak masuk akal, aku bisa berhenti mencoba meyakinkanmu dan memahami apa di balik perasaan yang tak masuk akal. Dan ketika semuanya jernih jawaban menjadi jelas dan aku tak butuh nasehat. Perasaan-perasaan yang tak masuk akal menjadi sebaliknya saat kau memahami ada apa di balik semuanya. Mungkin karena doa itu manjur, terkadang, untuk sebagian orang karena Tuhan tak bersuara, dan tak memberi nasehat atau mencoba memperbaiki sesuatu. Tuhan hanya mendengarkan dan membiarkanmu menyelesaikannya sendiri. Jadi, tolong dengar dan hanya mendengarkanku. Dan bila kau mau bicara, tunggulah giliranmu, dan aku akan mendengarkanmu.
0
Mar 5, 2015
Mar 5, 2015 at 3:22 AM UTC
Dengar
Sahabat.. orang yang selalu ada disaatku bahagia maupun didalam kepiluan Orang yang selalu membuatku kesal tapi aku tak menyesal mengenalmu Orang yang tak pernah lelah mendengarkan ribuan ceritaku yang sama Kini saatnya aku pergi sementara Membawa kenangan yang tak lekang oleh waktu Sahabat Jalan..
0
Dec 12, 2014
Dec 12, 2014 at 7:08 AM UTC
Sahabat Jalan
teruntuk atau kepada engkau atau kamu tersayang atau terkasih taukah kamu? bulan berdesir pelan menyelusup ke sela- sela kabut hitam malam yang pekat aku tak sendiri, ada sepi yang mememani aku mengisahkan padanya perihal perih tapi tidak sakit, tentang rindu yang tak berujung temu aku ingin memberitahunya aku senang jika ia mendengarkan cerita- ceritaku aku akan menunggu biar waktu yang akan membawamu disini aku memelukmu dengan mantra sakti yang aku miliki
0
Jan 16, 2019
Jan 16, 2019 at 7:17 PM UTC
pertemuan
Tahun lalu kita menyusun rencana Menuliskannya pada setiap lembar catatan Di antara selipan buku laporan Meletakkannya secara berantakan Hingga lupa mana tulisan Mana struk belanjaan Memang benar tolol aku kala itu Membangun cinta di atas rasa penasaran Dan selalu berakhir pada tempat pelarian Malam itu kau membelikanku sebuah rak buku Untuk hadiah ulang tahunku Karena tidak ada lagi yang dapat kita perbincangkan Setelah lepas habis cerita kau bacakan Dan aku selalu ketiduran dan tak pernah serius mendengarkan Hujan kembali berderai dengan ringan Malam pekat angin berhebus tak karuan Aku masih mabuk di pangkuan kegelisahan Memukul rata puisi menuliskannya hingga nanti aku mati
0
Apr 13, 2021
Apr 13, 2021 at 7:41 AM UTC
Rencana
indahnya kota jogjakarta pada malam itu tidak seberapa indah dengan binar mata dan senyum lekuk bibir mu pada malam itu, bising klakson mobil pada kemacatan malam itu bahkan bukanlah perihal yang menggangu. nyaman, bahkan bagiku semua tenang. teringat jelas bagaimana kita menelusuri kota jogja sambil mendengarkan lagu saat kau menggengam tanganku erat, bagaikan takut kehilangannya. untukmu Tuan, sosok yang selalu memberikan ku kehangatan di malam hari disaat semua bergetar kedinginan. tubuh dan ragamu yang amat ku kasihi, terima kasih sudah memperlihatkan indahnya dunia yang pernah jahat ini. padamu Tuan, aku mengundangmu untuk sejenak meletakan kepala mu dibahuku dan menikmati malam yang indah, berdua.
0
Jan 9, 2019
Jan 9, 2019 at 12:30 PM UTC
Jogjakarta malam itu
mungkin akan menjadi cerita ter-lusuh yang pernah aku tulis ----- ingat ketika aku dan kamu di padang rumput yang menguning? lalu kita sama-sama terpukau dengan pemandangan di depan mata waktu itu kita sama-sama tidak berusaha memotretnya karena masing-masing kita hanya fokus mencari ide untuk memulai percakapan mungkin saat itu aku sudah terpikir sesuatu untuk aku mulai tapi lucunya, malah kamu yang memulai percakapan waktu itu kamu bertanya tentang kehidupanku semester ini baik atau tidak baik seperti biasa aku mengumpat, sungguh, tidak baik hidupku satu semester ini kamu tertawa, entah menertawakan nasibku atau reaksiku kamu tertawa seakan aku baru saja memberi lelucon terlucu abad ini mungkin kalau kamu bukan kamu, aku sudah marah tapi aku justru suka dan jujur, aku bisa saja bersyukur mempunyai nasib seburuk itu hanya untuk mendengarkanmu tertawa setelah itu giliranmu bercerita aku sudah bisa menebak, ceritamu pasti seputar hal yang tidak penting dan memang benar..... tapi aku tetap mendengarkan, karena pupil matamu melebar tanda kamu suka dengan hal yang kamu ceritakan dan aku suka ketika kamu semangat dalam meceritakannya aku mendengarkan -//- waktu berjalan, obrolan kami mulai masuk dalam topik yang rumit tentang penciptaan, tentang dunia, tentang alasan kami hidup biasanya otakku mulai memanas ketika membicarakan hal ini dengan lawan bicara yang lain tapi denganmu, aku mengidamkan lebih seperti perpustakaan yang disinari lampu kuning hangat dan kutu buku yang tersenyum membaca tumpukan buku harum setelahnya...
0
Jan 5, 2020
Jan 5, 2020 at 11:23 AM UTC
catatan waktu itu1
mungkin akan menjadi cerita ter-lusuh yang pernah aku tulis ----- ingat ketika aku dan kamu di padang rumput yang menguning? lalu kita sama-sama terpukau dengan pemandangan di depan mata waktu itu kita sama-sama tidak berusaha memotretnya karena masing-masing kita hanya fokus mencari ide untuk memulai percakapan mungkin saat itu aku sudah terpikir sesuatu untuk aku mulai tapi lucunya, malah kamu yang memulai percakapan waktu itu kamu bertanya tentang kehidupanku semester ini baik atau tidak baik seperti biasa aku mengumpat, sungguh, tidak baik hidupku satu semester ini kamu tertawa, entah menertawakan nasibku atau reaksiku kamu tertawa seakan aku baru saja memberi lelucon terlucu abad ini mungkin kalau kamu bukan kamu, aku sudah marah tapi aku justru suka dan jujur, aku bisa saja bersyukur mempunyai nasib seburuk itu hanya untuk mendengarkanmu tertawa setelah itu giliranmu bercerita aku sudah bisa menebak, ceritamu pasti seputar hal yang tidak penting dan memang benar..... tapi aku tetap mendengarkan, karena pupil matamu melebar tanda kamu suka dengan hal yang kamu ceritakan dan aku suka ketika kamu semangat dalam meceritakannya aku mendengarkan -//- waktu berjalan, obrolan kami mulai masuk dalam topik yang rumit tentang penciptaan, tentang dunia, tentang alasan kami hidup biasanya otakku mulai memanas ketika membicarakan hal ini dengan lawan bicara yang lain tapi denganmu, aku mengidamkan lebih seperti perpustakaan yang disinari lampu kuning hangat dan kutu buku yang tersenyum membaca tumpukan buku harum setelahnya...
Continue reading...
32
Kau duduk dalam diam Segaris senyum kau tebar Aku yang lemah menyerah kalah Membakar omong kosong Menciptakan bara apiku Aku terpaku, pertama kalinya bagiku Suara renyah bergairah Menggelitik daun telinga Mendarat indah di relung hati Tak perduli yang kau katakan Aku hanya ingin mendengarkan Ingin rasanya kugenggam tanganmu Menculikmu dengan gagah berani Layaknya ksatria dan kau sang putri Menyibak rambut ombakmu Kusematkan bunga Yang kita petik bersama Namun... Aku bukanlah ksatria Dan kau sendirilah pemilik kastil itu Tak ada bunga mekar yang bisa kupetik hari itu Namun di lain hari kuharap kita bertemu lagi
0
Sep 29, 2017
Sep 29, 2017 at 4:58 AM UTC
Pertama Kalinya
Silau mobil menabrak kelopak mataku Bersandar pada jendela kenangan Sambil tangan berpeluk pada ruang hampa Aku melewati bekas tapakan kita, lagi Aku langsung mengembara melewati waktu Masa itu, kita duduk berdampingan Sangat jelas diingatanku Didalam bis, kita mengobrol Kau duduk bersandar di bangku mu Dan aku yang bersandar di jendela Kau hanya fokus padaku Menatap ku dengan sabar sambil mendengarkan cerita ku Bahkan, kalau boleh jujur, pada masa sekarang pun aku masih ingin tatapan itu, lagi Bagaimana kau tersenyum melihatku berimajinasi Menyambut segala harapanku Tuan, aku ingin melihatmu lagi Adakah celah kesempatan itu? Masihkah kau sama seperti isi memori ku?
0
Sep 6, 2019
Sep 6, 2019 at 10:40 AM UTC
Tuan, Rinduku Mengusikku
Rumah joglo di tengah sawah. Dengan cahaya remang yang berasal dari pojok ruangan ini. Pemutar piringan hitammu baru selesai kau perbaiki. Ku memilih untuk mendengarkan album Chet Baker Sings dengan vokalnya, seingatku itu milik mendiang kakekmu. Gelas-gelas tinggi sudah kau siapkan, sebotol anggur dari Bordeaux sudah ku buka. Makan malam kita sudah tandas, dua piring penuh berisi daging sapi yang sore tadi ku panggang, hampir matang penuh, bersama hancuran kentang yang sedikit dibubuhi garam dan lada, dengan saus krim jamur. Jasmu sudah kau tanggalkan dan sampirkan di sisi sofa coklat tua itu. Gaun hitamku masih rapih melekat pada tubuhku, namun rambutku, yang hanya sepanjang bahu, sudah ku urai, agar kau bisa menghirup harum bunga sakuranya. Kita menari, pelan, sembari menengguk asam dan manisnya anggur Bordeaux itu. Ku kira Chet Baker telah letih bernyanyi dan bermain trumpet, suaranya perlahan hilang, digantikan oleh suara jangkrik dari luar sana. Aku pun lelah, ku rebahkan tubuhku di sofa coklat itu, menyandarkan kepala di dekat sampiran jasmu, menghirup bau cendana yang hampir hilang. Kau menghampiriku, memelukku erat, menghirup leherku, pipiku, dan mengecup bibirku. Pelan-pelan, satu per satu pakaian kita tanggal, di bawah cahaya temaram, ditemani suara jangkrik, kita melebur, melebur jadi satu. Tanah Ubud, tak pernah gagal membuatku jatuh cinta, sengaja maupun tidak.
0
Jun 5, 2020
Jun 5, 2020 at 1:57 PM UTC
Malam Malam, Ubud
benar adanya, bahagia itu sederhana. seperti berlarian di pekarangan monumen nasional sore itu. seakan kita ada di sana untuk yang pertama dan; mungkin untuk yang terakhir kali. kumohon, jangan ada yang berubah. tetap lah menjadi sederhana. seperti kala kau tersenyum setelah melahap makanan kesukaanmu. seperti kala kau bersenandung ketika mendengarkan lagu idola lamamu.
0
Feb 26, 2018
Feb 26, 2018 at 5:39 AM UTC
sederhana
Aku berharap Tak pernah bertegur sapa denganmu Tak pernah menatap wajahmu Tak pernah menikmati rintik hujan bersamamu Aku berharap Tak pernah melihat senyummu Tak pernah mencium wangi rambutmu Tak pernah mendengar suaramu memanggil namaku Aku berharap Tak pernah menceritakan masa laluku dan menanyakan masa lalumu Tak pernah membagi malamku dan mendengarkan kisahmu Aku berharap Tak pernah tersenyum untukmu Tak pernah memimpikanmu Tak pernah berharap kau akan menyembuhkan lukaku
0
Sep 1, 2019
Sep 1, 2019 at 7:09 PM UTC
Harap
Aku mengikuti intuisi jiwaku intuisi jiwaku, kemana masa depan membawaku? sejenak kuberpikir kita hanya menari di bumi ini hanya untuk sementara. aku tahu impian ini cukup besar, maka perkecil ekspetasi akan hal itu tentang menjadi ayah yang baik rumah yang luas dan nyaman, kacamata coklat gagang yang patah, itu tidak bertahan selamanya. Aku keras seperti batu tebing, aku melihat daun yang layu hingga mekar mudah percaya dan naif tentang banyak hal, banyak hal yang kutentang tetapi aku hanya diam dan lebih banyak mendengarkan. dihantui perasaan kehilangan berlebihan dan perasaan bersalah tentang banyak hal, dan aku benci film romance yang berkendara di tepi pantai, anak kecil yang nakal, berita hoax, kedai kopi yang memutar lagu terlalu keras, sate yang belum matang, semut, dan wanita yang menari di tempat umum, tabel - tabel membuatku bingung, drama tentang pria ideal juga membuatku muak, Netanyahu keparat dan pembunuh. 2025 reydmh
0
May 3, 2025
May 3, 2025 at 11:03 AM UTC
Dari kekacauan sampai {KEDAMAIAN}
6 a.m di Surabaya - 1 a.m di Gaza Saat bangun tidur badanku terasa lemas. Masih terlalu pagi aku masih ingin berbaring di kasur. Sambil kubuka akun X orang orang Gaza yang kukenal. Tapi hanya akun Omar yang tampak aktif. Memposting apapun yang sedang dia alami. Omar mengeluh susah tidur. Kedinginan berselimut kain tipis usang. Banyak nyamuk masuk ke tendanya. Sementara di luar suara zanana mengganggu. Diselingi ledakan bombardir pesawat jet. 10 a.m di Surabaya - 05 a.m di Gaza Aku bosan menunggu antrian bank yang ramai. Sambil menunggu sepi kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh melihat banyak belatung. Merubung sisa tepungnya yang hampir kadaluwarsa.   Dia tak bisa lagi membuat roti. 11 a.m di Surabaya - 06 a.m di Gaza Aku menunggu ojek online di tepi jalan. Sambil merokok kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh kehabisan sabun dan shampo. Sementara air untuk mandi dan mencuci. Hanya tersisa setengah ember. 01 p.m di Surabaya - 08 a.m di Gaza Aku sedang makan siang di Peneleh. Makan pecel sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh saat mengantri di toko. Menghabiskan waktu dan tenaga. Berdesak desakan hanya untuk sekantung roti. 04 p.m di Surabaya - 11 a.m di Gaza Saat sore aku nongkrong di Wonokromo. Minum kopi sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah belanja di pasar. Bawang , tomat , terong , kentang dan cabai. Harganya semakin naik tak terjangkau. 06 p.m di Surabaya - 01 p.m di Gaza Aku sedang duduk di beranda masjid. Menunggu isya sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah berjalan jauh. Merasakan kepanasan dan kelelahan. Hanya untuk mengecas ponselnya di solar panel dekat pantai. 08 p.m di Surabaya - 03 p.m di Gaza Aku masih makan malam di Tunjungan. Makan rawon sambil kubuka lagi akun Omar. Ternyata di Gaza sedang hujan deras. Omar mengeluh setelah tendanya kebanjiran. Barang barangnya basah terkena air hujan. 09. p.m di Surabaya - 04 p.m di Gaza Temanku mengajak minum kopi di kafe. Minum cappucino sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh sudah lama tidak makan ayam. Yang bisa dia lakukan hanyalah menggambar ayam. Lalu menaruhnya di atas piring kosong. 10 p.m di Surabaya - 5 p.m di Gaza Aku sedang menonton sepakbola. Saat jeda kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah memeriksa Gofundme. Hampir seminggu tak mendapat donasi. Sementara uangnya hanya tersisa puluhan shekel. 01 a.m di Surabaya - 08 p.m di Gaza Tengah malam aku bersiap tidur. Sambil berbaring di kasur kubuka lagi akun Omar. Ternyata pemukiman dekat tendanya baru saja dibombardir. Omar mengeluh setelah kelelahan membantu evakuasi. Dia hampir muntah melihat serpihan tubuh berlumuran darah. 03. a.m di Surabaya - 10 p.m di Gaza Aku merasa kesulitan tidur. Sambil mendengarkan musik kubuka lagi akun Omar. Ternyata dia masih tetap mengeluh. Merasa lelah terus menerus mengeluh. Terlalu banyak keluhan hingga kelelahan mengeluh. Aku juga lelah melihat Omar terus mengeluh. Tapi orang yang menderita memang harus mengeluh. Hanya mayat yang tak bisa lagi mengeluh. Mayat tak merasakan penderitaan untuk dikeluhkan. Daripada menjadi mayat lebih baik Omar tetap hidup walaupun terus mengeluh. November 2024 By Alvian Eleven
0
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:44 PM UTC
OMAR SELALU MENGELUH
6 a.m di Surabaya - 1 a.m di Gaza Saat bangun tidur badanku terasa lemas. Masih terlalu pagi aku masih ingin berbaring di kasur. Sambil kubuka akun X orang orang Gaza yang kukenal. Tapi hanya akun Omar yang tampak aktif. Memposting apapun yang sedang dia alami. Omar mengeluh susah tidur. Kedinginan berselimut kain tipis usang. Banyak nyamuk masuk ke tendanya. Sementara di luar suara zanana mengganggu. Diselingi ledakan bombardir pesawat jet. 10 a.m di Surabaya - 05 a.m di Gaza Aku bosan menunggu antrian bank yang ramai. Sambil menunggu sepi kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh melihat banyak belatung. Merubung sisa tepungnya yang hampir kadaluwarsa.   Dia tak bisa lagi membuat roti. 11 a.m di Surabaya - 06 a.m di Gaza Aku menunggu ojek online di tepi jalan. Sambil merokok kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh kehabisan sabun dan shampo. Sementara air untuk mandi dan mencuci. Hanya tersisa setengah ember. 01 p.m di Surabaya - 08 a.m di Gaza Aku sedang makan siang di Peneleh. Makan pecel sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh saat mengantri di toko. Menghabiskan waktu dan tenaga. Berdesak desakan hanya untuk sekantung roti. 04 p.m di Surabaya - 11 a.m di Gaza Saat sore aku nongkrong di Wonokromo. Minum kopi sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah belanja di pasar. Bawang , tomat , terong , kentang dan cabai. Harganya semakin naik tak terjangkau. 06 p.m di Surabaya - 01 p.m di Gaza Aku sedang duduk di beranda masjid. Menunggu isya sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah berjalan jauh. Merasakan kepanasan dan kelelahan. Hanya untuk mengecas ponselnya di solar panel dekat pantai. 08 p.m di Surabaya - 03 p.m di Gaza Aku masih makan malam di Tunjungan. Makan rawon sambil kubuka lagi akun Omar. Ternyata di Gaza sedang hujan deras. Omar mengeluh setelah tendanya kebanjiran. Barang barangnya basah terkena air hujan. 09. p.m di Surabaya - 04 p.m di Gaza Temanku mengajak minum kopi di kafe. Minum cappucino sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh sudah lama tidak makan ayam. Yang bisa dia lakukan hanyalah menggambar ayam. Lalu menaruhnya di atas piring kosong. 10 p.m di Surabaya - 5 p.m di Gaza Aku sedang menonton sepakbola. Saat jeda kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah memeriksa Gofundme. Hampir seminggu tak mendapat donasi. Sementara uangnya hanya tersisa puluhan shekel. 01 a.m di Surabaya - 08 p.m di Gaza Tengah malam aku bersiap tidur. Sambil berbaring di kasur kubuka lagi akun Omar. Ternyata pemukiman dekat tendanya baru saja dibombardir. Omar mengeluh setelah kelelahan membantu evakuasi. Dia hampir muntah melihat serpihan tubuh berlumuran darah. 03. a.m di Surabaya - 10 p.m di Gaza Aku merasa kesulitan tidur. Sambil mendengarkan musik kubuka lagi akun Omar. Ternyata dia masih tetap mengeluh. Merasa lelah terus menerus mengeluh. Terlalu banyak keluhan hingga kelelahan mengeluh. Aku juga lelah melihat Omar terus mengeluh. Tapi orang yang menderita memang harus mengeluh. Hanya mayat yang tak bisa lagi mengeluh. Mayat tak merasakan penderitaan untuk dikeluhkan. Daripada menjadi mayat lebih baik Omar tetap hidup walaupun terus mengeluh. November 2024 By Alvian Eleven
Continue reading...
78