Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"langkah" poems
Palembang, 22 Juni 2011 Api itu hampir merajai waktu Merenggut harta benda tanpa ampun Mangarang tubuh yang sesepuh Duduk pun terdiam di kursi besi butut Kekuatan api bagai Sang Supernova Membumbung tinggi tak ada yang terjaga Meletup-letup bagai haus dan lapar Tinggallah hamparan abu di senja tiba Sebelum fajar menyingsing indah Berisik di tengah jalan sirine mengulang Langkah kaki mondar-mandir yang tentu arah Bergotong royong pun dengan peluh dan baju basah Ku duduk terdiam terpaku Setengah melamun di sebelum senja muncul Ku tersadar pun di tengah padam lampu Dan ku lihat Monalisa tersenyum pada ku Ku duduk bersimpuh di kaki Menunduk dan berharap ini hanya mimpi Dan aku bangkit tuk lihat situasi Ku dengar mayat rapuh bagai tiada arti lagi Tak mampu tumpah air mata Hanya tubuh kaku mati rasa Pikiran yang ingin selalu waspada Mental ini rapuh butuh udara Abu terasa di mana-mana Terinjak, menyatu dengan tanah Menutup mata kini selaalu terjaga Menjaga hari tanpa Supernova 9 Juni penuh cerita Di bawah tangisan dan panikan Wanita memasak dan menjaga anak Pria bahu membahu membangun rumah
0
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:26 AM UTC
Cerita Semi (9 Juni 2011)
3 Maret 1924.. Tak banyak уαηg tahu αρα уαηg telah terjadi ∂ι hari itu | dahsyatnya makar & kemunduran umat telah melupakan peristiwa detik2 hancurnya institusi daulah Khilafah sang pemersatu Hingga derita mendera bertubi silih berganti menimpa muslim ∂ι segala penjuru | teraniaya,terhina,tercabik,tertindas,tersakiti,terjajah,menangis tersedu Umat уαηg satu tak lagi menyatu | terpecah tersekat oleh nation state buatan sekutu | bak anak ayam kehilangan induk terancam hidupnya sewaktu-waktu Begitulah wajah muslim hari ini | ketika tiada lagi institusi уαηg melindungi | problematika terjadi tiada henti Hari ini | tepat 91 tahun umat Islam hidup tanpa institusi Khilafah | saatnya melawan lupa & bergerak mewujudkannya Khilafah janji Allah tersampaikan melalui lisan mulia Rasulullah SAW | walau banyak уαηg beranggapan utopis kembali mewujudkannya | yakinlah tiada janji уαηg pernah ingkar kecuali janjiNya Nabi saw bersabda, "Akan datang kepada kalian masa kenabian,& atas kehendak Allah masa itu akan datang.Kemudian,Allah akan menghapusnya,jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu,akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah;& atas kehendak Allah masa itu akan datang.Lalu,Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu,akan datang kepada kalian,masa raja menggigit (raja yang dzalim),& atas kehendak Allah masa itu akan datang.Lalu,Allah menghapusnya,jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu,akan datang masa raja dictator (pemaksa);& atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian,datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam". [HR. Imam Ahmad ] Saudaraku, Telah tiba saatnya satukan langkah satukan perjuangan, Menyongsong kembali janji Allah Sang Penggegam Kehidupan, Tegaknya kembali Daulah Khilafah ∂ι atas jalan kenabian.. Takbir !! Allahuakbar ! SalamPerjuangan! ‪#‎3RDMARCH1924‬ ‪#‎melawanLupa‬
0
Mar 2, 2015
Mar 2, 2015 at 11:20 PM UTC
#3RDMARCH1924
3 Maret 1924.. Tak banyak уαηg tahu αρα уαηg telah terjadi ∂ι hari itu | dahsyatnya makar & kemunduran umat telah melupakan peristiwa detik2 hancurnya institusi daulah Khilafah sang pemersatu Hingga derita mendera bertubi silih berganti menimpa muslim ∂ι segala penjuru | teraniaya,terhina,tercabik,tertindas,tersakiti,terjajah,menangis tersedu Umat уαηg satu tak lagi menyatu | terpecah tersekat oleh nation state buatan sekutu | bak anak ayam kehilangan induk terancam hidupnya sewaktu-waktu Begitulah wajah muslim hari ini | ketika tiada lagi institusi уαηg melindungi | problematika terjadi tiada henti Hari ini | tepat 91 tahun umat Islam hidup tanpa institusi Khilafah | saatnya melawan lupa & bergerak mewujudkannya Khilafah janji Allah tersampaikan melalui lisan mulia Rasulullah SAW | walau banyak уαηg beranggapan utopis kembali mewujudkannya | yakinlah tiada janji уαηg pernah ingkar kecuali janjiNya Nabi saw bersabda, "Akan datang kepada kalian masa kenabian,& atas kehendak Allah masa itu akan datang.Kemudian,Allah akan menghapusnya,jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu,akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah;& atas kehendak Allah masa itu akan datang.Lalu,Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu,akan datang kepada kalian,masa raja menggigit (raja yang dzalim),& atas kehendak Allah masa itu akan datang.Lalu,Allah menghapusnya,jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu,akan datang masa raja dictator (pemaksa);& atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian,datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam". [HR. Imam Ahmad ] Saudaraku, Telah tiba saatnya satukan langkah satukan perjuangan, Menyongsong kembali janji Allah Sang Penggegam Kehidupan, Tegaknya kembali Daulah Khilafah ∂ι atas jalan kenabian.. Takbir !! Allahuakbar ! SalamPerjuangan! ‪#‎3RDMARCH1924‬ ‪#‎melawanLupa‬
Continue reading...
23
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
0
Sep 23, 2016
Sep 23, 2016 at 12:19 PM UTC
Sepenggal Cerita 68 tahun
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
Continue reading...
35
Jakarta, Minggu 15 Mei 2008 Di sini hanya sesal Ku tak melangkah kepada mu Yang berdiri di padang rumput Tersilau cahaya di pagi hari Meski tak kulihat kamu Mata hati ku menyusuri Tak ingin ku kehilangan mu Walau harus terpisah jauh Tuhan mendengar doa ku Saat petunjuknya hadir untukku Ku hindari tak sengaja Karena dua pilihan menerkam ku Apakah jalan ini salah? Ku menangis penuh sesal Tak bisa melihat kamu yang indah Padahal, hanya satu langkah aku kan sampai
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:43 AM UTC
Sesal
Palembang, 11 Januari 2015 Aku jatuh cinta lagi Benarkah ini cinta? Mengapa rasanya begitu berbeda? Tak ada rasa takut saat aku menatap matanya Tak ada rasa sungkan untuk menyentuh kulitnya Dan aku sangat menyukai bau tubuhnya Aku suka bersandar di punggungnya Menyandarkan keningku di tengkuknya Memainkan jemariku menyentuh punggungnya Mencium aroma parfumnya Aku suka berjalan di belakangnya, menunduk Memandangi langkah kakinya ketika berjalan Sangat lebar dari langkah kakiku Aku tak mampu menyusulnya Di saat seperti itu aku membutuhkan tangannya Tuk menggenggam tanganku Menuntunku tuk berada di sampingnya Agar aku tidak tertinggal Apa benar aku mencintainya? Tapi tunggu dulu Apa itu cinta? Bagaimana rasanya mencintai seseorang? Apa yang akan aku lakukan ketika mencintai seseorang? Inikah cinta?
0
Jan 10, 2015
Jan 10, 2015 at 12:34 PM UTC
Inikah Cinta?
Setiap tarikan napas Satu hembusan Aku berhutang Setiap langkah kaki Satu jejak Aku berhutang Seribu Seratus ribu Satu juta Berjuta-juta rupiah Aku dapatkan Aku pun berhutang Hutang yang kekal Hutang yang indah Hutang turun temurun Pada mu Pahlawan ku Aku berhutang Berhutang kemerdekaan Berhutang kebahagiaan Berhutang persatuan Pada mu Pahlawan ku Aku berjanji Menjaga Indonesia Membanggakan Indonesia Untuk membayar Perjuangan hebat mu
0
Aug 27, 2018
Aug 27, 2018 at 4:27 AM UTC
Bangsa Indonesia Berhutang
"Mudahnya buat janji, semudah ingkar janji" Ke utara, selatan kau ikut kata kau, asal ada aku ada kau. Ada waktu naluri wanitaku meragui setiap kata yang menari di belahan mulutmu. Namun apalah daya kerak nasi berlawan dengan air. Dan saat aku membuka seluas-luasnya pintu kau jadi penghuni setia untuk sementara. Sehingga tiba satu ketika langkah kakimu dihayun menapak keluar dari ruang yang kau huni ini Ingatlah bukan aku yang menjemput kau menghuni ruang ini dan bukan aku juga lah yang menghambat kau pergi.
0
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 1:41 PM UTC
Menabur Garam ke Luka
*aku iri kepada sang mentari yang dapat kapanpun mengikuti jejak langkah kakimu aku iri kepada sang rembulan yang menemanimu saat kau tidak dapat terlelap di malam hari aku iri kepada udara yang kau hirup setiap waktu aku iri kepada hujan yang membasahi tubuhmu ketika kau merasa sedih aku iri karena aku tidak pernah bisa ada disampingmu ketika kau membutuhkanku*
0
Jan 13, 2016
Jan 13, 2016 at 7:57 AM UTC
aku iri
Setia ku hingga akhir waktu Cinta ku tak mati meski hancur Kasih ku tak habis slalu merindu Diriku kan mati ditinggal mu Suara hati ini bisu Jejak langkah ini lumpuh Tapi tetap kepakkan sayap Menuju surga hidup kebahagiaan Lagu cinta hilang Berasa hening kali ini Suara indah berhenti Hatipun bersedih Luapan cintaku tak berakhir Sampai nanti, sampai aku mati
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:50 AM UTC
Untitled
Inderalaya, 30 September 2014 Hati ini tlah tua Tlah bertahan lama meski diterpa topan Tetap kokoh walau diterjang karang Masih bernyawa setelah diterkam cakar Hati ini rapuh di dalam Tak berwujud, tak berasa, tak berupa Tak bernyanyi, tak bersuara, diam Kosong, hampa, berbaur senyap Hati ini lelah Berjalan berjuta-juta kilometer langkah Menyimpan berbagai rasa dunia AKhirnya terluka dalam asa Hati ini menangis Tak mampu menahan lagi Tak sanggup bertahan untuk sedetik Mengisakkan sunyi
0
Oct 20, 2014
Oct 20, 2014 at 7:09 AM UTC
Hati Ini
APA KAU TAK DENGAR ?? Sebuah nyanyian gerakan melingking lurus tajam ke arah penguasa yang menusuk hati rakyat. Para pemuda dan mahasiswa yang berada dalam pusaran arus kerusakan Maka tiada lagi, kita harus melawan ! Disaat buku hanya berada dikantong saku berdebu Disaat pena tak lagi mengeluarkan goresan tajamnya Disaat megaphonemu tak lagi bersuara karena usang Disaat tongsismu membunuh sikap kritis ! Mana raunganmu wahai Pemuda ? Keluarlah dari barak kos dan sekretariatanmu Mahasiswa ! Apa kau tak dengar ?? Mana raunganmu wahai Pemuda ? Keluarlah dari barak kos dan sekretariatanmu Mahasiswa ! Apa kau tak dengar ?? Sungguh ibumu tak kan rela melihat dapur rumahnya yang tak lagi mengepul Apa kau tak dengar ?? Sungguh bapakmu tak kan rela melihat kau menderita karena miskin tenaga Apa kau tak dengar ?? Sungguh jalan raya merindukan berbagai aksi aksimu disetiap hentakan langkah kakimu Apa kau tak dengar ?? Sungguh engkau adalah Generasi yang diharapkan ummat Muhammad ! Wahai Mahasiswa.. Kau pembebas dunia Wahai Mahasiswa.. Kau penerus negeri Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah ! Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah ! Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah ! ‪#‎RinduPergolakan‬
0
Mar 18, 2015
Mar 18, 2015 at 12:15 AM UTC
ICMS 2014
Setelah kesekian kalinya, Dia berusaha Di sudut nyala lilin kecil Dia dapat kembali menangis Terisak hingga kelelahan Mengeluarkan semuanya Dan jatuh tertidur Wahai puan, Berapa lama topengmu itu kau gunakan? Tak apa jika kau ingin bersedih, Tak apa jika kau ingin marah, Tak apa jika kau merasa dunia ini tak adil Jangan mengunci dirimu, Terdapat langkah kaki yang ingin menemanimu diluar sana Persilahkan lah Untukmu, Tolong jangan memenjarakan diri sendiri
0
Dec 13, 2018
Dec 13, 2018 at 10:10 AM UTC
Kepada Puan Bertopeng
Tik tik berakhir tok Kau bersua laksana si empu sendok Meniti waktu dengan langkah jongkok Asal bukan dengan otak yang pekok. Satu menit kau pergi Tiga menit kau balik lagi Menit ke-lima kau berlari Menit ke-tuju kau cuma berdiri. Kejar kejaran jarum kau paling peduli Bunyi desah jarum kau paling kagumi Salah sedikit kau hitungi Sedang waktu kau coba bagi.
0
Jan 24, 2017
Jan 24, 2017 at 2:14 AM UTC
membagi waktu.
setiap arah yang kita lalui itu adalah berbeza. tiap kali takdir akan menemukan kita tanpa sedar. pada satu saat itu. bila kita berpaling antara satu sama lain. kita akan bertentang mata. setiap langkah yang menuju ke arah cinta itu. tiap kali takdir akan menemukan kita tanpa sedar. pada saat itu juga. kita akan berjalan pada arah yang sama. dan sekali lagi kita bertemu. betapa takdir itu tidak bisa disangkal. dan kita anggap cinta itu seperti jenaka. kita tidak bisa menafikan hati kita berdua. bolehkah kita mengisi jawapan bersama? di tempat kosong iaitu hati kita berdua.
0
Nov 28, 2014
Nov 28, 2014 at 4:57 PM UTC
Cinta I
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 9:17 AM UTC
Suara Tanpa Rupa
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
Continue reading...
29
Aku adalah sang waktu Pejalan klise dari masa lalu Aku adalah sang waktu Tak pernah terbayang apalagi tersentuh Aku adalah sang waktu Hujan dan badai tak pernah hentikan laju Aku adalah sang waktu Sering dilupakan namun tak kenal pilu Aku adalah sang waktu Langkah tak berdaya siap membunuhmu Aku adalah sang waktu Menggerus detik yang kian rapuh Aku adalah sang waktu Tak diharapkan namun seketika membelenggu
0
Jan 18, 2019
Jan 18, 2019 at 9:39 AM UTC
Sang Waktu
Aku termenung pasrah Menunggu lelah Mendapat kabar tak indah Membuat hati gundah Waktu pasti akan mengobati hati Hidup akan terus di jalani Semakin pahit kehidupan Semakin banyak perjuangan Semakin panjang waktu kehidupan Semakin dalam pengorbanan Aku hanya akan menatap ke depan Tanpa memperdulikan masalah kehidupan Aku hanya akan terus melangkah maju Tanpa menoleh lagi padamu, wahai masa lalu Aku tidak melupakanmu Aku hanya sedikit menapak satu langkah di depanmu Aku hanya sedikit sibuk dengan dunia baruku Bukan berarti melupakanmu, wahai masa lalu Kau guru terbaikku Mengajarkanku untuk lebih baik di masa depan Memberiku pengalaman yang tak mungkin terlupakan Membekaliku dengan keikhlasan dan kesabaran Kata semoga dariku takkan pernah lekang untukmu Walau mungkin kau takkan pernah tahu itu, wahai masa lalu
0
May 5, 2018
May 5, 2018 at 7:59 AM UTC
Wahai Masa Lalu
Dari 1000 langkah bersama, Ku tau artinya Kita bukan selangkah Tapi setujuan Kau ingin melalui B dengan tujuan C Aku ingin melalui A dengan tujuan C Aku baik baik saja Aku percaya, berbeda bukan berarti salah Kau selalu membenarkan argumen Mengagungkan apa yang kau yakini Mengucilkan yang berbeda denganmu Tidak bisakah kau akui saja? Aku benar dengan pandanganku Dan kau juga benar dengan pandanganmu Tidak bisakah kita redam ego Dan melangkah sejajar? Bukankah tujuan kita di awal seperti itu?
0
Aug 21, 2019
Aug 21, 2019 at 12:00 PM UTC
Kita, Selangkah?
Kertas putih kosong, Cat putih kosong Cat merah menyala Cat hitam yang kelam Warna-warni Langit dalam hati Tangis tawa Ruang hampa penuh maaf Tak dihargai Diulangi lagi Berkali-kali Lemas terkulai Hati ragu Langkah berhenti Pergi saja Pergi Ingin saya pergi Atau kamu yang pergi Kemudian berlalu Berlabuh Garis pantai dan pohon rindang Hangat Cerah Dalam rangkulnya Matahari bernyanyi Satu ruang penuh tawa Ruang hampa bersajak cinta Penuh harapan penuh asa : Jatuh cinta.
0
Mar 1, 2018
Mar 1, 2018 at 9:29 AM UTC
tembalang, 3 maret 2018
dengan apa aku harus mencintaimu? bertahun-tahun aku habiskan untuk mencari namamu entah pada do'a yang mana atau pada ayat ke berapa dengan apa aku harus mencintaimu? bertahun-tahun aku lewatkan demi menemukanmu entah pada sunyi yang mana atau pada sepi di mana dengan apa aku harus mencintaimu? bertahun-tahun aku arungi dengan menyusuri jejakmu entah pada dzikir yang bagaimana atau sujud yang mana dengan apa aku harus mencintaimu? bertahun-tahun aku membayangkan wajahmu pada setiap entah dan setiap langkah yang ngungun lalu aku bertanya: dengan apa aku harus mencintaimu?
0
Aug 3, 2017
Aug 3, 2017 at 9:39 AM UTC
dengan apa aku harus mencintaimu
Tepat di hari kedua sebelum akhir Agustus, entah repetisi yang keberapa kali--aku bertanya pada aku. Sedang aku meninggalkan apa yang aku tunggu, sebagian lain dari aku membiarkan apa yang datang menuju. Tepat di peralihan pagi dan khotbah Jumat, ia datang lagi. Yang harusnya kubiarkan pergi sendiri dengan maunya Ntah akan kusambut kembali atau nanti menjadi babak tercanggung. Ntah, kali ini jawaban entah telah ditolak sepersekian lebih awal sebelum ditanyakan. Aku menolak mengikhlaskan apa yang aku sendiri tidak tau apa inginnya. Melalui percakapan rutin beberapa kali sehari, seminggu dan sudah masuk separuh tahun. Tepat menuju penghujung hari, aku membiasakan apapun ia boleh lakukan. Aku biarkan semaunya menghirup-hirup apa yang sudah dilewati. Agar jika pada bagian akhir yang awal nanti ia tak salah langkah, kembali kesini atau mengantar kabar lain yang lebih ia senangi. 30 Agustus 2019 B_A
0
Aug 30, 2019
Aug 30, 2019 at 1:17 AM UTC
-
Mungkin benar adanya, menantang ketidaktahuan telah dengan pasti menggiring kesadaran pada sebuah langkah menuju keberanian bersikap. Yang karenanya juga, telah turut menjadikan hati begitu lapang di ruang yang begitu sempit, menempatkan intuisi dalam usaha menyeimbangkan ego dan benci, menuntun arah pikiran menuju muara kebijaksanaan. Sebuah pertanyaan akan kegelisahan, berhak untuk ditelusuri muasal kebenarannya. Semua berhak akan hal itu. Untuk sebuah dinding yang membatasi penglihatan indrawi, merobohkannya adalah kepatutan. Untuk sebuah ketidaktahuan yang memenjarakan, manusia yang berjuang atas akal pikirannya sendiri—berhak untuk terbebas dari kungkungannya. Meminjam dari Aristoteles, terbang menuju keselarasan ide serta realitas yang tidak terbatas! Jangan biarkan gelap menguasai malam. Usaha demi setitik cahaya harus selalu terpatri dalam diri. Melekatkan sikap keraguan-raguan pada pikiran adalah sebuah keharusan. Hanya itu bahan bakar yang paling mungkin, untuk menyalakan setitik cahaya yang dimimpikan. Biarlah menjadi berbeda, biarlah diasingkan. Karena bagi mereka yang merindukan merdeka, beranjak dari ketidaktahuan adalah sebuah keniscayaan!
0
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 10:24 AM UTC
MENANTANG KETIDAKTAHUAN