Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"kuning" poems
Waktu aku kecil Dunia adalah kubus empat belas inci Yang menayangkan gambar warna-warni Penuh imajinasi Waktu aku kecil Dunia adalah permen loli warna pelangi Merah jingga kuning hijau biru nila ungu menari Rasanya manis seperti senyum mentari Waktu aku kecil Dunia adalah bulir-bulir air hujan Yang jatuh mengaliri selokan Disambut riang tawa kawan-kawan Waktu aku kecil Dunia adalah daun-daun kering Tertiup angin ketika fajar menyingsing Lalu berputar seperti gasing Waktu aku kecil Apalah arti politik dan ekonomi Tak mengerti sengketa dan perang sana-sini Yang aku mau boneka Barbie! Sekarang.. Waktu dan Aku sudah tidak kecil lagi Waktu tambah berisi Aku bertambah tinggi Harus lalui gejolak emosi Tak bisa bicara seenak hati Harus menyadari Banyak tanggung jawab masih menanti Waktu.. maukah berputar bersamaku? Biarkan angin bertiup Kembali ke masa itu
0
Jul 17, 2013
Jul 17, 2013 at 10:13 AM UTC
Waktu Aku Kecil
Palembang, 31 Agustus 2012 Bulan Bulat Kuning Terang Di dunia yang gelap, segelap hidupku Bulan Sendirian Berlari Mengejar mentari Membutuhkan sinar, sama seperti aku Aku masih bisa mendengar lagu di udara Hingga mentari tiba Bulan pun hilang, seperti akal ku Aku ditinggal sendiri Dan lagu pun berhenti
0
Sep 1, 2012
Sep 1, 2012 at 8:45 AM UTC
Bulan
Di perjalanan yang kau dan aku tempuh Mencari makna tentang kata kita Di tengah semarak laskar kuning menggemuruh Romantika ganjil antara dua pasang mata Masih banyak petualangan yang menanti Ekspedisi kupu-kupu atau jelajah taman satwa Di atas bis ini kau dan aku temukan teman sejati Layaknya anak kecil, bersama tertawa Bait-bait ini mungkin tak mengandung arti Bagi mereka yang tak pernah mengalami Baik-baik kau simpan rahasia ini dalam hati Begitupun aku, jauh di selubuk memori
0
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:45 AM UTC
B.I.S
Lalu lintas jalan padat merayap pengap namun tetap senyap Karena dia menulikan setiap kata-kata di perempatan jalan Pula desah resah mata-mata yang memandang Kunang-kunang kuning itu tiba-tiba melintas tenang Mengambang lembut bagai daun dihanyutkan arus Membius lampu-lampu sein agar berhenti mengedip Malam itu, di perempatan jalan itu cahaya meredup Orang-orang tak tahu menahu, beberapa berandai Indah juga jika dipelihara di pekarangan rumah Satu bangkit lalu berjingkat mendekat Kunang-kunang kuning itu melesat Tiba-tiba semua orang mengejar berlari Ingin agar Kunang-kunang itu dipelihara di rumah Tukang becak, penjaja koran, bos besar perusahaan, mahasiswa, semuanya tak mau mengalah Berlari, menyerobot, menggapai, meraih, mendorong, menginjak, menjambak, mendepak, merusak, menolak. Lelah. Kunang-kunang Kuning menang Tak ada yang berhasil merebutnya Orang-orang pun lesu, menyumpah, dan kembali ke apa yang mereka kerjakan sesaat lalu sambil bergumam "Tak ada Kunang-kunang Kuning di pekarangan rumah" Kemudian semua berubah normal Seperti lalu lintas biasanya Hanya ada aku, yang masih memandang, kemana Kunang-kunang Kuning itu terbang. Aku tahu, bahwa di kota ini, tidak ada rumah yang memiliki pekarangan
0
Nov 18, 2016
Nov 18, 2016 at 1:29 PM UTC
Kunang-kunang Kuning di Remang-remang Jalan
Disini aku masih di bawah langit milik bumiku Tapi berbeda tempat dan aroma tanah Aku merasa di atmosfer era abad pertengahan Melihat banyak kastil dengan arsitektur tua Pemandangan yang indah di Montmartre, sebuah kerajaan seni yang siap memanjakan mataku seketika Musim gugur menciptakan lukisan indah secara alami Tempat itu seperti kanvas Diciptakan oleh kuas ajaib anugrah yang kuasa Meski Claude Monete dan Renoir sudah tidak ada lagi Aku bisa melihat perpaduan warna cantik di musim gugur dengan mata telanjang kuning, oranye, merah dan coklat Lukisan yang begitu indah Biarkan aku memakai jaket hari ini Sebab udara membuatku cukup dingin Aku berjalan-jalan di pedesaan Prancis Pohon-pohon gugur di sepanjang jalan ditemani oleh nyanyian burung yang menyemarakan hariku Ini sudah waktunya panen Aku menyukai labu di ladang Memilih apel dan pir di kebun dekat benteng Talcy Prancis seperti harta karun emas Paris di musim gugur bulan ini Menara Eiffel sudah menungguku kali ini aku berjalan di atas dedaunan Begitu renyah di bawah kakiku Pohon maple di atas saya memayungi meski hari tak hujan Daunnya yang tersentuh angin berputar-putar Mengirim mereka untuk menari di udara Sangat romantis Aku sedang duduk di bangku kayu Ah jika September tiba...
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 12:24 PM UTC
Jika September tiba
mungkin akan menjadi cerita ter-lusuh yang pernah aku tulis ----- ingat ketika aku dan kamu di padang rumput yang menguning? lalu kita sama-sama terpukau dengan pemandangan di depan mata waktu itu kita sama-sama tidak berusaha memotretnya karena masing-masing kita hanya fokus mencari ide untuk memulai percakapan mungkin saat itu aku sudah terpikir sesuatu untuk aku mulai tapi lucunya, malah kamu yang memulai percakapan waktu itu kamu bertanya tentang kehidupanku semester ini baik atau tidak baik seperti biasa aku mengumpat, sungguh, tidak baik hidupku satu semester ini kamu tertawa, entah menertawakan nasibku atau reaksiku kamu tertawa seakan aku baru saja memberi lelucon terlucu abad ini mungkin kalau kamu bukan kamu, aku sudah marah tapi aku justru suka dan jujur, aku bisa saja bersyukur mempunyai nasib seburuk itu hanya untuk mendengarkanmu tertawa setelah itu giliranmu bercerita aku sudah bisa menebak, ceritamu pasti seputar hal yang tidak penting dan memang benar..... tapi aku tetap mendengarkan, karena pupil matamu melebar tanda kamu suka dengan hal yang kamu ceritakan dan aku suka ketika kamu semangat dalam meceritakannya aku mendengarkan -//- waktu berjalan, obrolan kami mulai masuk dalam topik yang rumit tentang penciptaan, tentang dunia, tentang alasan kami hidup biasanya otakku mulai memanas ketika membicarakan hal ini dengan lawan bicara yang lain tapi denganmu, aku mengidamkan lebih seperti perpustakaan yang disinari lampu kuning hangat dan kutu buku yang tersenyum membaca tumpukan buku harum setelahnya...
0
Jan 5, 2020
Jan 5, 2020 at 11:23 AM UTC
catatan waktu itu1
mungkin akan menjadi cerita ter-lusuh yang pernah aku tulis ----- ingat ketika aku dan kamu di padang rumput yang menguning? lalu kita sama-sama terpukau dengan pemandangan di depan mata waktu itu kita sama-sama tidak berusaha memotretnya karena masing-masing kita hanya fokus mencari ide untuk memulai percakapan mungkin saat itu aku sudah terpikir sesuatu untuk aku mulai tapi lucunya, malah kamu yang memulai percakapan waktu itu kamu bertanya tentang kehidupanku semester ini baik atau tidak baik seperti biasa aku mengumpat, sungguh, tidak baik hidupku satu semester ini kamu tertawa, entah menertawakan nasibku atau reaksiku kamu tertawa seakan aku baru saja memberi lelucon terlucu abad ini mungkin kalau kamu bukan kamu, aku sudah marah tapi aku justru suka dan jujur, aku bisa saja bersyukur mempunyai nasib seburuk itu hanya untuk mendengarkanmu tertawa setelah itu giliranmu bercerita aku sudah bisa menebak, ceritamu pasti seputar hal yang tidak penting dan memang benar..... tapi aku tetap mendengarkan, karena pupil matamu melebar tanda kamu suka dengan hal yang kamu ceritakan dan aku suka ketika kamu semangat dalam meceritakannya aku mendengarkan -//- waktu berjalan, obrolan kami mulai masuk dalam topik yang rumit tentang penciptaan, tentang dunia, tentang alasan kami hidup biasanya otakku mulai memanas ketika membicarakan hal ini dengan lawan bicara yang lain tapi denganmu, aku mengidamkan lebih seperti perpustakaan yang disinari lampu kuning hangat dan kutu buku yang tersenyum membaca tumpukan buku harum setelahnya...
Continue reading...
32
Hari ini dia datang lagi Dengan gaun kuning tanpa lengan Rambutnya dibelah dua dan dikepang dengan dua warna karet rambut yang berbeda pada tiap-tiap ujungnya Senyumnya manis sekali "Dasar anak cantik" Dia tersenyum semakin lebar sambil menawarkan aku setangkai balon Sepertinya balon itu baru saja digelembungkan Aku menggeseknya dengan kuku yang baru saja kupotong Aku pikir dia akan mengernyit, entah kenapa dia malah tertawa "Kemana saja kamu selama ini?" Tertulis sebuah nama restoran yang kukenal pada balon itu Jelas bukan tempat makan favoritku Karena aku tak terlalu antusias saat melihat namanya Sebuah tempat yang sering didatangi anak bini Dipenuhi oleh emosi-emosi semu Hanya untuk terlihat intim—setidaknya bukan tempat untuk anak gadis yang terus menatap layar ponselnya tanpa henti "Darimana kamu tahu aku ada di sini?" Dia memberikan aku kepingan lakban yang ternyata masih tercecer Saat itu aku memperapikan koleksi buku harian, ya, dengan upaya untuk tidak melihatnya lagi Supaya aku tak jatuh kepada rasa ingin membaca ulang semua tulisanku Sial! Pasti dia mengawasi aku "Apa tujuanmu kesini?" Air mata berderai dari kedua matanya yang bulat Seolah akan mengujarkan sesuatu dari mulutnya, dia hanya diam Mungkin bukan diam, tapi mengoceh dengan kata-kata yang tak dapat kucerna Kugenggam telapak tangan nya—sungguh kecil dibanding milikku Dia masih saja menangis tanpa henti Untuk segala tenggang rasa yang aku tahan kepada anak-anak, kali ini cukup iba rasanya "Ayo, lah, aku hanya ingin merokok di sini" Entahlah, enyahlah Aku juga harus beranjak pergi dari sini Lapangan tenis kosong yang dihiasi dedaunan repih
0
Jan 23, 2021
Jan 23, 2021 at 5:50 AM UTC
Sebuah Paradigma yang Diterima Begitu Saja
Hari ini dia datang lagi Dengan gaun kuning tanpa lengan Rambutnya dibelah dua dan dikepang dengan dua warna karet rambut yang berbeda pada tiap-tiap ujungnya Senyumnya manis sekali "Dasar anak cantik" Dia tersenyum semakin lebar sambil menawarkan aku setangkai balon Sepertinya balon itu baru saja digelembungkan Aku menggeseknya dengan kuku yang baru saja kupotong Aku pikir dia akan mengernyit, entah kenapa dia malah tertawa "Kemana saja kamu selama ini?" Tertulis sebuah nama restoran yang kukenal pada balon itu Jelas bukan tempat makan favoritku Karena aku tak terlalu antusias saat melihat namanya Sebuah tempat yang sering didatangi anak bini Dipenuhi oleh emosi-emosi semu Hanya untuk terlihat intim—setidaknya bukan tempat untuk anak gadis yang terus menatap layar ponselnya tanpa henti "Darimana kamu tahu aku ada di sini?" Dia memberikan aku kepingan lakban yang ternyata masih tercecer Saat itu aku memperapikan koleksi buku harian, ya, dengan upaya untuk tidak melihatnya lagi Supaya aku tak jatuh kepada rasa ingin membaca ulang semua tulisanku Sial! Pasti dia mengawasi aku "Apa tujuanmu kesini?" Air mata berderai dari kedua matanya yang bulat Seolah akan mengujarkan sesuatu dari mulutnya, dia hanya diam Mungkin bukan diam, tapi mengoceh dengan kata-kata yang tak dapat kucerna Kugenggam telapak tangan nya—sungguh kecil dibanding milikku Dia masih saja menangis tanpa henti Untuk segala tenggang rasa yang aku tahan kepada anak-anak, kali ini cukup iba rasanya "Ayo, lah, aku hanya ingin merokok di sini" Entahlah, enyahlah Aku juga harus beranjak pergi dari sini Lapangan tenis kosong yang dihiasi dedaunan repih
Continue reading...
32
putih warna duplikat hatimu merah merepresentasikan perasaanmu biru unsur yang menyertaimu setiap hari, cerah! kuning, tebaran keceriaan yang kau percik selalu jingga, warnamu yang selalu kurindu kau membuatku sejuk, dengan hijaumu merah muda adalah gambaran kasih yang kau beri akutak sedang memuji pelangi tak juga coba memikatnya aku tak sedang menjual kata tanpa sadar, orang ini sedang mendeskripsikan dirimu kau tak perlu tersipu apalagi coba untuk membalikannya cukup saja dengarkan jika tak senang, bolehlah tutup saja telingamu
0
Aug 21, 2017
Aug 21, 2017 at 12:48 PM UTC
warna
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila Di saat kewarasanku sedang ambruk Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu Dengan bunga berwarna kuning di telinga Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku Aku tak pernah berburu air mata Cacatnya tindak-tanduk Dambaan-dambaan fana Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku Tak paham raut lukaku Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya? Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini Si Manis, yang tutur kata nya lembut Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu Ruam pada tubuhmu Bukan salahmu Masihkah kau berdiam mematung? Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan Dan kaki-kaki yang kau pijat Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
0
Jan 22, 2021
Jan 22, 2021 at 11:45 PM UTC
Suratan dan Imbalan
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila Di saat kewarasanku sedang ambruk Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu Dengan bunga berwarna kuning di telinga Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku Aku tak pernah berburu air mata Cacatnya tindak-tanduk Dambaan-dambaan fana Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku Tak paham raut lukaku Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya? Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini Si Manis, yang tutur kata nya lembut Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu Ruam pada tubuhmu Bukan salahmu Masihkah kau berdiam mematung? Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan Dan kaki-kaki yang kau pijat Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
Continue reading...
32
nagkaro'n ng kahulugan ang pananatili para sa mga pinagkaitan ng liwanag hindi ba maaaring kanlungin mo ang lahat? o manganak nang manganak mula sa sugat? gano'n ba kadaling hukayin ang pangarap at kuning muli at alisan ng tatak? paano lilingon nang walang luhang papatak? hindi lamang pagtalikod ang pamamaalam o pagpahid ng mansanilya sa pusong nilamutak at sinasagasaan pasasaan ay lilisan, ngunit bakit hinayaan **** mangyari nang mabilisan? walang daan, walang paraan, kung paano ngingiti ang isang kaibigan.
0
Mar 17, 2018
Mar 17, 2018 at 11:32 PM UTC
Dating Isko
bara tubuhku satu nafas, tikaman di perut tapi bukan dari luar bukan dari luar cairan menjelma jadi belati satu tegukan ramuan rempah sakti rimpang agung warisan bumi pertiwi jemari kuning si mbok hadir membukti hangat jamu kuning pekat nan wangi meresap, dinding terkikis rasanya jantung diri digenggam keji kini terlepas dari ragaku sebegini ampuhnya hingga ia menyerah luruh sewaktu-waktu berdalih biasa saja itu hanya gumpalan darah biasa tidak ada yamg mengambil jiwa secara paksa maklumkanlah tubuhnya saja belum terbentuk sempurna itu hanya gumpalan darah biasa
0
Sep 24, 2019
Sep 24, 2019 at 12:13 PM UTC
Secangkir Jamu Hangat
Daun kuning berjatuhan Angin dingin menghantarkan salam dari Tuhan Aku melihat pepohonan yang menari Semua tampak indah menyejukkan hati Aku hanya diam.. Diam tak tahu harus kemana Kabut putih menutup mataku Mendorongku yang berdiri terpaku Imajinasiku kabur Aku akan jatuh Dan... Dimanakah aku? Diruangan serba putih aku terbangun Menatap dengan pandangan memudar Siapakah kamu? Gadis kecil berlari dan tertawa Berlari menjatuhkan bunga-bunga Membuka pintu diujung ruangan Aku berjalan... Berjalan membuka pintu yang sama Wanita cantik berambut pirang Cantik rupawan mengalahkan Godiva Seorang gadis kecil memeluknya erat Dia... Dia yang selama ini kucari Dia yang selama ini kunanti Aku mencoba... Mencoba untuk menyentuhnya Jari-jarinya yang ramping menepisku Aku berpikir dia membenciku Namun tidak tidak... Dia berkata padaku, "Kembalilah, ini belum saatnya" Kematian bernegosiasi dengan kemungkinan Kemungkinan untuk meraih kehidupan Di alam bawah sadar Aku akan kembali menemukannya -Kediri, 18 Maret 2018
0
Mar 25, 2018
Mar 25, 2018 at 11:22 PM UTC
Koma
Nanti, jika 2 Januari sudah sampai di ujung langit tepuk pundakku Jika sebagian nadi masih dingin tepuk lagi sampai terbangun Rasanya apa yang berbelit harus dititipkan padanya dengan kaleng kotak berisi tiga beras putih Masing-masing dibalut kertas pertanyaan dan pernyataan menyalahkan Ntah marah kepada Rabb-mu, atau apapun yang berdiri disekelilingnya Lebih memalukan lagi ia telah menjadi orang lain Nanti, jika langit 2 Januari sudah berubah kuning kemerahan, usap punggungku Ia cuma perlu tenang yang menenangkan.
0
Jan 1, 2019
Jan 1, 2019 at 7:57 PM UTC
2 januari
ingin kuhancurkan diriku yang lalu ingin kuhardik lulu yang kemarin ingin kumaki kelakuanku dulu berfoto di kamar kuning memegang kue tar diberi kaus kaki telur dan pisang gelang merah dan tosca masih kaku tapi senang lain dengan sekarang rambutku tidak karuan mataku seperti dihajar satpam bagbigbug karena keadaan malunya, di rumah cindy aku nangis di rumah cindy
0
May 22, 2021
May 22, 2021 at 5:28 AM UTC
12 oktober di kos, 22 mei di rumah cindy
Bagaimana jika sebenarnya dia tahu? Setiap malam aku bertanya hal yang—tidak penting. Mungkin dia berpikir aku hanya bosan, atau kembali ke kalimat pertama. Konsekuensi yang kudapat akan lebih buruk dari yang kukira, sudahlah. Ingin menyerah tapi sebut saja "Janur kuning belum melengkung" Lagipula, yang datang belum tentu singgah, apalagi tinggal.
0
Apr 12, 2020
Apr 12, 2020 at 10:07 PM UTC
Senin, 13 April 2020