Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"kuasa" poems
Palembang, 21 Oktober 2012 Maaf kalo aku masih cengeng Maaf kalo aku belum bisa mengontrol emosi Tapi aku bener-bener ga kuat Di kala hati ingin berhadapan dengan dia Jemariku tak kuasa tuk menari di atas keyboard Mengetik namanya, melihat fotonya Menahan rasa malu yang ku bangun sendiri Menahan rasa kembali ingin mencintai Melawan pikiran yang berusaha tuk melupakan dia Tetapi aku mengikuti rasa yang sangat ingin Keinginan yang mustahil Keinginan yang seharusnya tak ada di hati Keinginan yang seharusnya aku sudahi Keinginan yang sudah sepantasnya tuk mati Tetapi, malah semakin kuat setiap hari Aku menangis lagi, dan itu sering Maaf sekali lagi
0
Oct 21, 2012
Oct 21, 2012 at 6:35 AM UTC
Maaf Sekali Lagi
Dalam retrospeksi minda naif kecilku pernah berimaginasi memikirkan dunia luar sana yang bagaikan fantasi hati merontakan suatu kebebasan yang diimpi namun kini ku sedari, itu semua hanyalah persepsi seorang gadis kecil yang dahulunya bercita-cita tinggi masa sudah tiba untuk kembali ke realiti. Selamat datang ke Kota Korupsi di mana manusia-manusia bertopengkan syaitan kehausan kuasa, kerakusan harta duniawi dipuja, dipuji dan disanjung tinggi pil penawar pula makanan ruji untuk depresi tiada lagi tempat mengadu, tempat meluahkan hati hanya tinggal kata-kata yang kehilangan erti terpapar di kotak skrin empat segi. Bangsaku semakin alpa, agamaku jauh sekali soal halal haram tidak dipertikaikan lagi hanya topik sembang santai di kedai kopi bicara hari nanti ditolak dahulu ke tepi. Dunia yang dahulu semakin pudar hanya serpihan di hujung sudut memori masa berlalu terlalu pantas, terlepas dari jari-jemari sekarang sudahpun tiba generasi baru menapakkan kaki namun, lihatlah sejarah mengulangi dirinya sekali lagi selagi nafas belum terhenti selagi kita belum pergi.
0
Dec 29, 2017
Dec 29, 2017 at 6:45 AM UTC
Kota Korupsi
Malam larut tak ku rasa kini Hanya duduk merenungi sepi Aku pun berdiri Mendekati cermin di dekat ku T'lah ku lihat kini Bayang lain pengkejut hati Namun, tak kuasa ku tahan tangis Ingat-ingatmimpi yang lalu Bintang-bintang kabur berkejaran Bulan pun tak lagi berjanji pada ku Untuk selalu menyinari aku Malam larut hilang berganti pagi Menusuk raga saat raga menyinari Membunuh jiwa saat tak lagi kini Ku rasakan malam yang hening Di mana ku selalu teringat Belahan Jiwa Yang dulu slalu mengiasi malam Created by, Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:56 AM UTC
Malam Yang Hilang
Matahari mungkin bosan Bintang mungkin terlalu ramai Bulan mungkin kurang hingar-bingar Aku mungkin tidak tahu Mereka bukan Tuhan, dan aku Adalah hantu dalam tanah; Tak tahu apa-apa akan yang lampau Dan yang akan datang kemudian Seandainya lebih dahulu aku memahami Kalau kita saling mencintai senja, Alangkah baiknya bila di awal Kita mengurungkan niat suci yang menggelora Untuk dapat menjadi bulan (Yang ternyata terus mengejar dalam senyap, Namun, Tak sekalipun dapat ia gapai kasih dari petang.) Alangkah baiknya bila dahulu Kita terbenam bersama-sama Dalam genangan nila dan lembayung Itu jauh lebih indah. (Terbenam, bukan gugur.) Tapi, sudahlah, Matahari mungkin bosan Bintang mungkin terlalu ramai Bulan mungkin berserah pada gemerlap Dan aku tak tahu apapun Tentang kuasa Tuhan.
0
Feb 8, 2016
Feb 8, 2016 at 10:15 AM UTC
Mungkin Terlambat Terbenam
Saat indah bersamamu Ungkap ku indah amat ku kenang Kuasa Tuhan yang ku hargai Rasa cinta yang terus tercipta Alangkah senang hati ini Yang terhias momen indah Aku dan kamu yang indah berdua Walau kini tak terasa lagi Ingin ku ulangi tuk terakhir kali Nuansa indah penghias hari-hari Alangkah senang hati saat terjadi Takkan ku lupa seumur hidupku Akan ku kenang untuk selamanya
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:24 AM UTC
S.U.K.R.A.Y.A W.I.N.A.T.A
menangis dan berontak jiwa muda melawan prejudis dan komunis minda anak kecil pula dijajah katanya ini untuk masa depan namun mereka lupa dan sentiasa lupa dunia ini sifatnya selamanya sementara diktator terus tersenyum korupsi negeri negeri menjadi bukti mereka kuasa besar kapal empayar tidak lagi membawa selamat malah --membawa mangsa untuk segala seterusnya rakyat pula umpama anak kecil terumbang ambing dan terus merengek gaduh rebutkan yang tak pasti cuma ada beberapa yang berani, kan kedengaran suaranya lalu mereka itu dibunuh agar senyap agar tiada masalah ditelinga kelihatan belia itu duduk menongkat dagu keluh resah dan bimbangnya kedengaran berat nafasnya --lalu berapa lama lagi? tanda soal yang tidak berjawab di minda nya umpama terdampar di laut dengan pelampung menanti untuk diselamat tapi masih tak pasti. seru untuk semua yang ada; yang masih berkudrat yang masih waras akalnya --lalu berapa lama lagi? -f 1029pm oct 2nd
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 10:20 AM UTC
dunia
*Bila cinta sungguh hadir tanpa disadari Siapa pemegang kuasa, maha pemberi cinta, yang seenaknya beri dan ambil? Aneh benar bualan ini. Yang kupercaya cinta hadir dengan ijin sang tuan Bila ya, tinggalah ia, bertumbuh bahkan berbiak Berpupukan gombalan manis atau sedikitnya senyuman sipit Berbuahkan gelak tawa atau jika sedang sial mungkin tuaianmu sesal dan air mata Sungguh malang memang.. Ingat teman, Kau adalah tuan Bukan kau mengemis mencarinya, ia yang bertandang menumpang.. Kau cuma perlu mengenangkan, menikmati cinta..*
0
Jul 29, 2016
Jul 29, 2016 at 12:30 PM UTC
Mandat Cinta
Tenggelam dalam riak nafasmu Bagai ombak bertalu-talu di tepian kalbu Terbuai oleh lantunan irama kehidupan Bersenandung dibalik kerangkeng iga Aku perahu di lautan luasmu Tanpa dermaga yang hendak ku tuju Hening malam tak kuasa membungkam Detak yang berteriak memuja semesta _______________________________ *Engulfed in the ripples of your breath Tides pulsing at the shorelines of soul Lulled by the chanting rhythm of life Strumming against the rib cage I am a boat in your vast ocean Without a harbor to go to The silence of night can't hold in the heartbeats that bellow praises to universe*
0
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:43 AM UTC
Perahu
Mendengarmu berceloteh, Daun telingaku kian mengecil, Menciut sesak dalam lubangnya, Hingga tiada bunyi menggugah pikiran. Memandangmu beserta materimu, Kelopak mataku tak kuasa terbuka, Ku paksa terbelalak, menatap tajam, Sampai pandanganku kosong hampa. Menghadiri kelas mata kuliahmu, Detik jarum jam seakan tertidur tuk berdetak, Ruangan seakan penuh dengan jeritan jiwa, Tinggallah hasrat untuk kembali pulang. Wahai bapak dosenku, Adakah engkau menawarkan air di panasnya hati, Akankah kau menabur harum bunga di otak yang usang, Atau apakah rasa jemu takkan terganti?.
0
Mar 14, 2015
Mar 14, 2015 at 3:10 AM UTC
To : Mr. Dozzen
Disini aku masih di bawah langit milik bumiku Tapi berbeda tempat dan aroma tanah Aku merasa di atmosfer era abad pertengahan Melihat banyak kastil dengan arsitektur tua Pemandangan yang indah di Montmartre, sebuah kerajaan seni yang siap memanjakan mataku seketika Musim gugur menciptakan lukisan indah secara alami Tempat itu seperti kanvas Diciptakan oleh kuas ajaib anugrah yang kuasa Meski Claude Monete dan Renoir sudah tidak ada lagi Aku bisa melihat perpaduan warna cantik di musim gugur dengan mata telanjang kuning, oranye, merah dan coklat Lukisan yang begitu indah Biarkan aku memakai jaket hari ini Sebab udara membuatku cukup dingin Aku berjalan-jalan di pedesaan Prancis Pohon-pohon gugur di sepanjang jalan ditemani oleh nyanyian burung yang menyemarakan hariku Ini sudah waktunya panen Aku menyukai labu di ladang Memilih apel dan pir di kebun dekat benteng Talcy Prancis seperti harta karun emas Paris di musim gugur bulan ini Menara Eiffel sudah menungguku kali ini aku berjalan di atas dedaunan Begitu renyah di bawah kakiku Pohon maple di atas saya memayungi meski hari tak hujan Daunnya yang tersentuh angin berputar-putar Mengirim mereka untuk menari di udara Sangat romantis Aku sedang duduk di bangku kayu Ah jika September tiba...
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 12:24 PM UTC
Jika September tiba
Papa sekarang sudah di puncak Turun kebawah bukan tugasnya. Mama hanya bisa terseret Laksanakan tugas seorang pasangan. Apadayaku yang berada di sini.. dalam, dalam, di bawah tanah. berteriak jua tak sampai bisingku tak kuasa menyentuh Semata-mata mengandalkan kacang; puluhan bungkus tuk bahagia Semata-mata mengandalkan air; puluhan gelas tuk air mata Mama mengingatkan tuk bersua Nyatanya bersua itu lemah, dan anak 16 tahun tidak kuat. Gaduh, gaduh, gaduh saja bisanya. Semak pun belukar menjadi-jadi sebuah bentuk proteksi yang nyata. Biarkan durinya berfungsi; bak pedang tuk mereka.
0
Feb 13, 2015
Feb 13, 2015 at 8:53 AM UTC
Untitled
Penyair itu melangkahi pengemis pincang yang lelap itu. Kasurnya adalah trotoar dan mimpinya ntah apa. Jangan bahas mimpi jadi jutawan dengan kemeja dasi rambut klimis. Mimpi basah saja harus sembunyi sembunyi. Kan takut toh masturbasi di pinggir kali ? Soalnya guys, coli itu pun harus pake tangan kanan selain soal tekanannya yang konstan .. KALAU TANGAN KIRI KIRI KIRI, Disangka PKI ! Ini perihal dosa Illahi saudara saudari! — Lalu pengemis itu Menatap angannya setinggi bintang di lantai 53 menara menara ibu kota. Mengelus ngelus perut kurusnya. Alhamdullilah, hari ini bisa santap sisa paha ayam dari restoran kebarat baratan itu. Mungkin baginya, Tuhan menjelma dalam bentuk tempat sampah. Menyediakan pangan sisa sisa umat kesayangan-Nya. Dan dia, umat yang lupa ia punya. Pagi datang. Ia terus berjalan tanpa alas kaki. Sekelibat melihat lamborgini, berkawal polisi. Presiden mungkin ah? Nomor satu, atau duah? Dia tidak pernah berharap pada Tuhan. Atau presiden. Mungkin ia harus tetap berjalan saja. Atau mungkin ia harus berharap pada ratu adil. Entah kapan ia munculnya. Apa ketika jari-jari kakinya lepas. Hingga tidak bisa melangkah lagi. Atau lelah menguasai tubuh. Hingga enggan melangkah lagi. Atau seluruh kakinya patah Pun ia tidak peduli lagi? Apa ratu adil sedang sibuk memasang konde besarnya Takut takut tidak terlihat cantik saat hadir sebagai pahlawan kesiangan. Atau ratu adil sedang sibuk Memutuskan hukuman adil untuk penyair ini yang mempertanyakan kuasa Ilahi dia punya? Atau mungkin ratu adil berhati dingin. Seharusnya iya karena mana mungkin beliau yang welas asih membiarkan hambanya pontang panting, malah sibuk mengurus penyair mengkritik program kerja-Nya tahun ini. Yah .. Memperhatikan pengemis itu terpincang-pincang lebih asyik daripada mengurus Tuhan. Presiden. Atau ratu adil. Apakah Mas Aristoteles meramalkan distopia pada nusantara?
0
May 14, 2019
May 14, 2019 at 1:28 PM UTC
Penyair Setelah Tahun '65
Penyair itu melangkahi pengemis pincang yang lelap itu. Kasurnya adalah trotoar dan mimpinya ntah apa. Jangan bahas mimpi jadi jutawan dengan kemeja dasi rambut klimis. Mimpi basah saja harus sembunyi sembunyi. Kan takut toh masturbasi di pinggir kali ? Soalnya guys, coli itu pun harus pake tangan kanan selain soal tekanannya yang konstan .. KALAU TANGAN KIRI KIRI KIRI, Disangka PKI ! Ini perihal dosa Illahi saudara saudari! — Lalu pengemis itu Menatap angannya setinggi bintang di lantai 53 menara menara ibu kota. Mengelus ngelus perut kurusnya. Alhamdullilah, hari ini bisa santap sisa paha ayam dari restoran kebarat baratan itu. Mungkin baginya, Tuhan menjelma dalam bentuk tempat sampah. Menyediakan pangan sisa sisa umat kesayangan-Nya. Dan dia, umat yang lupa ia punya. Pagi datang. Ia terus berjalan tanpa alas kaki. Sekelibat melihat lamborgini, berkawal polisi. Presiden mungkin ah? Nomor satu, atau duah? Dia tidak pernah berharap pada Tuhan. Atau presiden. Mungkin ia harus tetap berjalan saja. Atau mungkin ia harus berharap pada ratu adil. Entah kapan ia munculnya. Apa ketika jari-jari kakinya lepas. Hingga tidak bisa melangkah lagi. Atau lelah menguasai tubuh. Hingga enggan melangkah lagi. Atau seluruh kakinya patah Pun ia tidak peduli lagi? Apa ratu adil sedang sibuk memasang konde besarnya Takut takut tidak terlihat cantik saat hadir sebagai pahlawan kesiangan. Atau ratu adil sedang sibuk Memutuskan hukuman adil untuk penyair ini yang mempertanyakan kuasa Ilahi dia punya? Atau mungkin ratu adil berhati dingin. Seharusnya iya karena mana mungkin beliau yang welas asih membiarkan hambanya pontang panting, malah sibuk mengurus penyair mengkritik program kerja-Nya tahun ini. Yah .. Memperhatikan pengemis itu terpincang-pincang lebih asyik daripada mengurus Tuhan. Presiden. Atau ratu adil. Apakah Mas Aristoteles meramalkan distopia pada nusantara?
Continue reading...
45
Dia ingin bermain kata-kata ternyata. Sampah! Mari kita permainkan dia bersama kata-kata! Akankah takut siapa yang tahu jika tidak pernah kita coba! Kita perlu membencinya! Membenci kebohongan busuk akal manusia. Mari kita bermain kata-kata! Siapa yang takut jika ia sering di cerca oleh pertanyaan mengapa! Baiklah, bunyinya seperti ini. Kau busuk akal rupa juga canda tawa tidak pernah ada artinya. Kalimat yang kau lontarkan tidak pernah bermakna lantas apa arti jika harus hidup tak bisa bebas dan merdeka! Bebas dan merdeka hanya kata-kata, tindakan ada setelahnya, apa yang kau perbuat setelah bermain lantas kau bereskan semua permainan yang ada! Kau dalang permainan yang sejak awal kau ingin menang di dalamnya! Masih ingin bermain? Masih ingin bermain atau kau tak punya lawan main? Seperti apa kata-kata kita cipta seperti apa kau punya wewenang kuasa! Lupa cara, buta aturan semua kau yang pegang! Itu ujaran kebencian katanya!
0
Feb 11, 2021
Feb 11, 2021 at 4:33 AM UTC
Ini ujaran kebencian katanya!
Ketika kamu tak bisa melihatku, itu bukanlah kuasa ku. Aku serahkan itu kepada mu. Ketika kamu tak bisa menghargaiku, itu pun juga bukan kuasa ku. Sepenuhnya pilihanmu. Namun, tahukah kamu? Kamu pun tidak memiliki kuasa ketika kaki ini sudah beranjak pergi meninggalkan. Kamu punya pilihan untuk melihatku atau tidak, menganggapku atau tidak. Namun tidak ketika aku sudah beranjak pergi. Kamu tak punya kuasa apapun.
0
Jul 11, 2018
Jul 11, 2018 at 12:37 PM UTC
Semua pilihanmu.
"Dalam segala manis dan tragisnya perkawinan, Kami sebagai perempuan, mati berkali-kali Dan lahir pula kembali— Tentu juga berkali-kali Disaat kau menyaksikan puluhan katup bibir yang mengatakan “Sah.” Disaat itu pula, Kau seakan disadarkan Bahwa kau tak lebih dari pisau yang harus terus diasah Bukan supaya tajam untuk dapat menikam, Namun supaya siap mencacah manis-pahitnya peristiwa kehidupan menjadi dadu-dadu kecil Lalu menanyakan untuk menyerapnya kembali Untuk diri sendiri Kau, Mati dan lahir lagi, Bukan sebagai isteri, Namun seutuhnya sebagai wanita yang mengayomi Sampai akhirnya kematian itu berdiri di depan pintu Untuk menjemputmu lagi Disaat kau duduk dan melihat pandangan puluhan manusia Yang seakan-akan mengatakan, “Berpandailah dengan urusan dapur.” Mereka dengan bodohnya menutup mata kepada fakta Bahwa sekarang, kau adalah busur Yang dengan senantiasa akan mengarahkan kemana anak-anak panahmu melaju Kau, bertulang rusuk dan adalah tulang rusuk Bukan tulang rusuk dari lanangmu, Namun dari rumah segala rumah Disaat insan keci itu menangis lahir, Disitulah Tuhan dengan segala kuasa-Nya menyemukakanmu Dengan kelahiran yang absolut. Mutlak. Nyata. Tanpa majas atau embel-embel. Kau, bukan hanya wanita bersusu yang menyusui; Walau serapanmu terhadap puji-kejinya kehidupan Akan juga diserap oleh ‘anak panah’ mu Melalui air susu dan tutur katamu Disaat kau melahirkan anak manusia, Tentunya tanpa tanda tanya, Kau betul-betul Lahir kembali."
0
Apr 18, 2019
Apr 18, 2019 at 10:25 PM UTC
Lahir Matinya Perempuan
"Dalam segala manis dan tragisnya perkawinan, Kami sebagai perempuan, mati berkali-kali Dan lahir pula kembali— Tentu juga berkali-kali Disaat kau menyaksikan puluhan katup bibir yang mengatakan “Sah.” Disaat itu pula, Kau seakan disadarkan Bahwa kau tak lebih dari pisau yang harus terus diasah Bukan supaya tajam untuk dapat menikam, Namun supaya siap mencacah manis-pahitnya peristiwa kehidupan menjadi dadu-dadu kecil Lalu menanyakan untuk menyerapnya kembali Untuk diri sendiri Kau, Mati dan lahir lagi, Bukan sebagai isteri, Namun seutuhnya sebagai wanita yang mengayomi Sampai akhirnya kematian itu berdiri di depan pintu Untuk menjemputmu lagi Disaat kau duduk dan melihat pandangan puluhan manusia Yang seakan-akan mengatakan, “Berpandailah dengan urusan dapur.” Mereka dengan bodohnya menutup mata kepada fakta Bahwa sekarang, kau adalah busur Yang dengan senantiasa akan mengarahkan kemana anak-anak panahmu melaju Kau, bertulang rusuk dan adalah tulang rusuk Bukan tulang rusuk dari lanangmu, Namun dari rumah segala rumah Disaat insan keci itu menangis lahir, Disitulah Tuhan dengan segala kuasa-Nya menyemukakanmu Dengan kelahiran yang absolut. Mutlak. Nyata. Tanpa majas atau embel-embel. Kau, bukan hanya wanita bersusu yang menyusui; Walau serapanmu terhadap puji-kejinya kehidupan Akan juga diserap oleh ‘anak panah’ mu Melalui air susu dan tutur katamu Disaat kau melahirkan anak manusia, Tentunya tanpa tanda tanya, Kau betul-betul Lahir kembali."
Continue reading...
39
Ahh, judul... Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan Begitu merangah, berusaha mencolok Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar Aku tahu dia menginginkan sesuatu Kuasa! Aha, itu sudah pasti kuasa Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri Padahal judul hanya tak sadar Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri Ia lahir karena keresahan kata Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka Karena ketakutan kata-lah Judul hadir sebagai jawaban Agar kata dilirik pembaca Agar kata digunakan dalam ruang diskusi Agar kata hidup dalam kepala Mengakar kokoh dan menjadi abadi Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan Lihatlah ibu yang telah melahirkan Yang terpinggirkan mengandung harapan Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam Anak baik jadilah baik Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta Bangkitlah! Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata Mendengarlah! Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
0
Feb 27, 2021
Feb 27, 2021 at 11:55 AM UTC
JUDULNYA ADALAH JUDUL
Ahh, judul... Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan Begitu merangah, berusaha mencolok Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar Aku tahu dia menginginkan sesuatu Kuasa! Aha, itu sudah pasti kuasa Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri Padahal judul hanya tak sadar Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri Ia lahir karena keresahan kata Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka Karena ketakutan kata-lah Judul hadir sebagai jawaban Agar kata dilirik pembaca Agar kata digunakan dalam ruang diskusi Agar kata hidup dalam kepala Mengakar kokoh dan menjadi abadi Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan Lihatlah ibu yang telah melahirkan Yang terpinggirkan mengandung harapan Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam Anak baik jadilah baik Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta Bangkitlah! Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata Mendengarlah! Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
Continue reading...
43
Maafkan aku suka Lembut namun menggoda Senyum manis kutatap lama Ingin kumiliki walau sementara Maafkan aku suka Tak biasa dan tanpa sengaja Indah walau sedikit memaksa Beda tipis cinta dan keras kepala Maafkan aku suka Harumnya membuat terlena Kucoba lupa namun tak kuasa Wanginya mengajak berdansa Maafkan aku suka Sosoknya menjadi candu seketika Selalu kucari entah ke mana Selalu terbayang kapan saja Maafkan aku suka Di atas kertas tampak nyata Kalian tak mengerti tak mengapa Walaupun menyiksa Dia tak perlu membalas suka, Apalagi cinta
0
Feb 7, 2018
Feb 7, 2018 at 12:36 PM UTC
Maaf dalam Kertas
cara tuhan menguji ciptaannya memang ada saja harta takhta kuasa dan aku; kamu
0
Oct 12, 2020
Oct 12, 2020 at 2:54 PM UTC
Jangan Bawa Tuhan dalam Percakapan Ini
Awan lara bersayapkan derita Diselimuti kabut tersenyum manis Tak perlu senyum itu kau balas Sebentar lagi menuju terang Kabut sirna melayang-layang Apa kabar... Tanyakan padaku Berikan sedikit suaramu Tak kuasa lagi mengharap cahaya Namun aku ingin melangkah Walau tanpa cahaya Mungkin ada suara Aku baik-baik saja... Sampaikan padaku Dari tepian jauh aku melihat Jangan coba kau menggapai Cukup doa yang mengantar Tanpa perlu kembali lagi
0
Nov 25, 2017
Nov 25, 2017 at 12:28 PM UTC
Sampaikan Nanti
Apa yang akan orang katakan Kala melihat kasihku mendorong air? Dimana kukira itu karang Walaupun ternyata air tergenang Dan batu tetap bergeming Lalu kulihat dia mengambang Di atas beling-beling berkilauan Kusangka samudra atau genangan lainya Namun tetap saja riak matanya berkeluk-keluk Bagai gelombang yang ada di kakinya Kulihat jemari kecilnya tak kuasa menahan buih dan deru Jika tak pelak aku yang terhempas Kalau saja kasihku menolak ombak Kasihku mendorong air Aku mencampak karang Kasihku menolak ombak Aku menghenyak batu Bergeming, dan tergenang Diantara citra atas gelombang
0
Oct 16, 2017
Oct 16, 2017 at 9:57 PM UTC
Kasihku Mendorong Air
Terhampar dan berserakan ke segala penjuru, harap dan segala bentuk kejahatan yang diperbuatnya. Begitu berani, konyol dan tak tahu malu. Mengambil tempat semaunya di ruang hati—tanpa permisi, menebas nyawa logika. Menuntun karsa menuju pemakaman terakhirnya. Mengubur rasa hingga lagi 'tak mampu mencercah cahaya. Sikap harap begitu manis, sampai 'tak sadar ada kuasa diri yang teracuhkan dan teraniaya. Sifat harap adalah antagonis, manusia-lah yang menolak percaya.
0
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 10:45 AM UTC
ADIKSI AMBISI
Kadang ada hal-hal yang di luar kuasa kata-kata. Lalu, bagaimana cara orang bisu mengungkapkan rasa, ya ?
0
Oct 3, 2019
Oct 3, 2019 at 4:42 PM UTC
Disabilitas
Hai, sudah lama rupanya diri ini tidak mencurahkan segala hal yang ada di kepala nya melalui platform ini.. Karena selama ini aku mempunyai diary berjalanku yang kini sudah berpulang ke pangkuan yang Maha Kuasa Rupanya, dan ya memang aku kembali menemukan diriku yang berkelut dengan kata demi kata yang berisik di kepala nya Sebagai bentuk coping mechanism nya aku menuangkan melalui untaian kata, dan mungkin aku mulai menulis lagi? Ntahlah Aku mulai sajak ini dengan.. Mengisi takdir baik untuk diriku. 19/02/2024
0
Feb 19, 2024
Feb 19, 2024 at 10:37 AM UTC
Mengisi takdir baik untuk diriku