"kemarin" poems
*lagi, aku menulis untukmu. tidak pernah bosan jemari ini menari diatas kertas putih merangkai kata hanya untukmu, seseorang yang lebih berharga dari sebutir berlian termahal di duna ini.
teruntuk seseorang yang namanya masih belum mampu aku tulis diatas kertas ini,
selamat hari minggu. semoga minggu depan lebih baik dari minggu ini. tenang saja, aku sudah meminta kepada Tuhan untuk menukar seluruh kesedihanmu selama seminggu ke depan dengan kebahagiaanku. ah, tenang saja. aku bisa menahan rasa sedih sebanyak apapun itu.
apa kabar? bagaimana senjamu kemarin? apakah mengesankan? ah, sangat disayangkan. bagiku, setiap senja datang mengunjungi mengintip dari sela-sela jendela kamar, sinarnya selalu mengingatkanku kepadamu. aneh, bukan? hah, mengapa setiap hal yang aku lihat selalu mengingatkanku padamu? mau sampai kapan kamu tetap bersarang dibenakku? tapi aku berjanji, setelah kamu selesai membaca surat usang ini, aku sudah melupakanmu dan seluruh kenangan indah tentangmu.
tujuanku kali ini adalah untuk mengucapkan terima kasih. terima kasih telah mengajariku bagaimana rasanya dijaga dan diperhatikan. bagaimana rasanya jatuh hati. bagaimana rasanya ditinggalkan begitu saja. bagaimana rasanya mengukir rindu diatas batu. aku ingin berterima kasih kepadamu. dan aku berterimakasih kepadamu. karenamu, aku dapat paham bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa timbal balik.
aku hendak pergi. maka itu, aku menulis surat ini sebagai tanda perpisahan denganmu. aku akan pergi meninggalkanmu di belakang. aku akan melepasmu pergi, membiarkanmu mencari kebahaigaanmu sendiri. karena aku akan berkelana mencari kebahagiaanku.
aku akan mengikuti kemana angin akan membawaku. aku ingin bebas leluasa mencari penggantimu. tidak mungkin selamanya aku akan hidup di dalam bejanamu. sudah cukup banyak air mata yang tertahan karena diam mengagumi dari jauh. hal itu sudah cukup membuat hati tersayat sangat dalam. bahkan dengan kecupan macam apapun tidak akan memperbaikinya.
satu hal yang aku minta darimu.
berbahagialah dengan siapapun itu perempuan pilihanmu. hargai dia dan perlakukan dia seperti dia adalah perempuan terakhir yang akan kamu lihat. aku tidak akan pernah berhenti mendoakan kebahagiaanmu. dimanapun kamu berada, berbahagialah.
selamat tinggal. terima kasih untuk 1.700 hari ini. aku belajar sangat banyak. aku tidak akan melupakanmu seutuhnya. aku akan selalu mengingatmu sebagai senja favoritku.*
Mar 13, 2016
Mar 13, 2016 at 9:12 AM UTC
voice over: narrator
Pemberitahuan terakhir disuarakan, keberangkatan pesawat tujuan Frankfurt Airport akan lepas landas tak lama lagi lagi, orang-orang bersiap masuk kabin. Ada satu hal yang terlintas di pikiran Atlas; ia tahu Venus tidak akan datang. Tidak dalam hitungan waktu tiga puluh menit, sepuluh menit, apalagi lima menit. Percuma saja menunggu, Venus benar-benar tidak datang. Perpisahan mereka sudah berlangsung semalam, pertemuan terakhir yang berhasil membuat Atlas berkali-kali memutar ulang seluruh adegan, mendengar suara gelak tawa mantan pacarnya dalam benak khayal, membayangkan senyuman Venus yang ia lukiskan untuknya terakhir kali. Pertemuan terakhir mereka kemarin bahkan tidak terasa seperti perpisahan, namun tetap bagi Atlas terasa begitu janggal. Mungkin karena terlalu tiba-tiba dan cepat, pertemuan terakhir yang merupakan perpisahan, pertemuan terakhir paling bahagia dan paling sedih, yang juga menyudahi hubungan singkat mereka.
Sejenak Atlas merasa sendu. Dalam lubuk hatinya masih sesekali berharap Venus meneleponnya, mengatakan bahwa ia akan datang mengucapkan selamat tinggal. Namun, nyatanya ucapan selamat tinggal Venus hanya berupa memori-memori tentangnya; seratus hal yang tertanam sejati di dalam hati Atlas mengenai segala hal tentang kejanggalan perempuan itu, gelak tawanya, senyumanya, aroma tubuhnya, kerlingan matanya, rambut hitam tebalnya, wajah pemikirnya, serta sosoknya yang seringkali membuat dirinya bertanya-tanya; kisah apa saja yang tidak diketahuinya, yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya sehingga membentuk pribadi sepertinya yang begitu terlihat bagai keajaiban seni paling nyata di mata Atlas? Baginya, Venus adalah sebuah takdir dan keajaiban menjadi satu.
Dan, ia tidak akan pernah ada niat untuk melupakannya.
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 6:56 AM UTC
Palembang, Sabtu 8 Januari 2011
Please ... Dont!
Jangan buat hidupku rumit lagi, Cinta
Cukup! Sudah cukup aku mengenal mu
Sekarang aku mau sendiri dulu
Yang aku mau hanya memiliki 1000 Sahabat
Soal jodoh, tunggulah hingga umur ku 23
Please ... Aku mohon ...
Ku lelah memikirkannya terus
Aku lelah tuk berlagak sok sempurna
Kau kan tahu bahwa aku manusia terbodoh sedunia
Tolonglah, cinta
Jangan bikin rumit lagi hati ku
Sudah cukup yang kemarin
Di mana karena ikatan
Aku berubah menjadi orang lain
Cinta, bila kali ini kau bersungguh
Sampaikan pada Tuhan
Bahwa aku ingin kembali menjalin cinta
Jika Dia memudahkan jalannya
Nov 4, 2011
Nov 4, 2011 at 2:30 AM UTC
Palembang, 11 Januari 2014
Ini kisahku
Kisah mengharu biru
Tentang aku yang tak berkawan
Di pulau perantauan
Ini ceritaku
Cerita yang terekam waktu
Tentang seorang anak Hawa
Yang mati tapi bernyawa
Alarm berbunyi, memecah sunyi
Aku diam di sini, sendiri
Mencoba tuk menutup mata, tapi selalu terjaga
Menerawang masa depan, melukiskan kehidupan
Terdengar Ayam bernyanyi, berirama seni
Aku masih merenungi, siapa jati diri?
Mencoba tuk menutup mata lagi, meski ku pun tak yakin
Ku coba sekali lagi, berharap mulai bermimpi
Esok hari penting, tak ingin ku langkahi
Kemarin hari sendu, birkan berlalu
Sekarang hari biasa, cobalah terbiasa
Kenangan akan tercipta, berawal dari mimpi di kala senja
Jan 14, 2014
Jan 14, 2014 at 11:57 AM UTC
Palembang, Sabtu 2 Oktober 2010
Hari ini terjadi lagi
Kakak ku yang indah bertambah usia
Kini ia berbeda dari 29 tahun kemarin
Yang mana masih muda dan polosnya
Tak bisa ku berikan apa-apa
Kecuali doa yang tak henti ku panjatkan
Supaya kakak ku panjang umur
Sehat selalu dan cepat menikah
Pesanku untuknya, adalah
Teruslah ciptakan lirik indah
Karena ku suka saat kau berkata
Dalam bentuk nada yang indah
Pesanku kan ku sampaikan
Melalui sinyal-sinyal batin kita
Semoga Allah SWT melindunginya
Dan biarkan ia hidup bahagia
Created By. Aridea Purple
To Arlonsy M.
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:43 PM UTC
Aku memiliki seribu mimpi tapi ibu bilang aku tak tahu diri
Tak mengerti keadaan dan kondisi, akupun berhenti membicarakan itu dengannya.
Kopi panas yang ku seduh dengan kekecewaan kemarin pagi diseruput lega olehnya.
"Jadikan perkataan mereka cambuk bagimu"
Salah seorang teman pernah berkata begitu padaku.
Tapi kepalaku ini berisi setan-setan bengal!
Mereka hanya mengerti kesedihan dan kemarahan.
Aku tidur dengan tangan penuh tinta merah setiap malam,
berusaha memindahkan kotak-kotak terlarang dari sudut mimpi ke ruang kegagalan.
Mereka berhenti mencoba membunuhku tapi kali ini mereka menaruh racun disetiap gelas yang akan ku teguk
Bukan! Bukan racun mematikan
tapi cukup membuat jiwaku lumpuh untuk waktu yang tak menentu
Aku berhenti membicarakan mimpi-mimpiku kepada siapapun
Aku tak ingin mimpi yang tersisa hancur diinjak-injak oleh kaki yang bahkan tak peduli berapa lama aku membangunnya 'kembali'
Tahun-tahun tak bernyawa
Meludah kata-kata serapah seakan hatiku dinding beton dingin
Kecukupan seperti apa yang membuat mereka bahagia!
Atau biarkan aku tergeletak di kasur lembut itu
Jangan! Jangan coba bangunkan aku
Mungkin ketenangan di dalam sana mampu meredam kekacauan di kepala malamku
Jan 23, 2016
Jan 23, 2016 at 12:53 AM UTC
Kemarin aku mengajakmu melihat senja.
Katanya kamu suka warnanya merah jambu bercampur oranye seperti jeruk mandarin kesukaan ibu.
Kamu selalu ceriwis membahas senja ini dan itu.
“Jangan lupa kopi dan puisi! Kita harus merayakan isi bumi.”
Celotehmu.
“Kamu mau kan melihat senja bersamaku?”
Kemarin aku mengajakmu melihat senja.
Telah kupersiapkan sekian lama.
Aku rakit sendiri senjaku dengan kopi manis dan puisi cinta yang kau sebut - sebut itu.
Aku merangkai pelan-pelan sambil menghayal bola mata emas yang berbentuk kenari kesukaanku dan lengkung pelangi bibirmu.
Cukup lama buatnya,
tapi senjaku sangat cantik.
Dan sedikit rapuh.
Aku harap kamu senang.
Kemarin aku mengajakmu melihat senja.
Tapi kau pergi ke laut dan menjelajahi waktu.
Terhanyut malam.
Aku tidak ada di sana.
Kamu menolak senjaku.
Katamu ada senja yang lebih bagus.
—
Senja, senja, senja.
Muak dengan puisi senja.
Aku bukan anak indie regional, aku pendengar Ed Sheeran, top 50 ,Danilla Riyadi dan Sapardi !
Aku ya begini begini begini!
May 15, 2019
May 15, 2019 at 3:13 PM UTC
Malam ku kemarin
Amat indah kan abadi
Terukir selalu di dalam hati
Nama mu walau hanya mimpi
Sungguh bahagia hati ku
Bila ingat akan mimpi itu
Lamunan ku berakhir
Saat mentari muncul di pagi hari
Tak dapat ku sebut nama mu
Di dalam mimpi ku malam itu
Karena gugup hati ku
Tergetar semua nadi ku
Kelak kita bertemu
Bertemu menjadi satu
Akankah kau campur cinta mu
Dengan cinta ku yang menunggu
Created by Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:37 AM UTC
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan.
tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia.
aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat.
bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa peduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku.
namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.”
namaku sederhana.
sederhana dan akan selalu nyaman.
setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak.
namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya.
aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati.
rumah.
Jan 18, 2019
Jan 18, 2019 at 8:53 AM UTC
Palembang, Jumat 13 Januari 2012
Kamu, yang membuatku menangis
Kamu, yang membuatku sedih
Setiap hari di setiap malam
Mengapa? Mengapa kamu pergi?
Di saat aku mulai mencintaimu
Aku sangat sangat tidak percaya
Ketika seseorang memberitahuku bahwa
Bahwa.. kau telah pergi
Bahkan dunia telah memberitahuku
Bahwa seseorang itu benar
Aku masih tak percaya
Namun akhirnya aku menyesal
Kemarin aku... aku...
Aku tak tahu harus berkata apa
Aku hanya ingin berkata
I love you Michael
Jan 20, 2012
Jan 20, 2012 at 8:46 AM UTC
waktu tidak serta merta memberi salam maupun pamit
ia berjalan saja mengikuti poros
dan terkadang aku tak merasanya
cepat..
kemarin rasanya aku baru akrab denganmu, setalah kebungkaman yang berbicara menahun
aku hanya bisa tertawa, jika aku ingat dulu.
kamu dan aku kemudian dibawa waktu untuk saling bicara untuk pertama kali
sebenernya aku dipaksa karena aku membutuhkan bantuanmu
aku memanfaatmu..agar kita dekat mungkin itulah cara-Nya
maaf..
sampailah kita diakhir studi kuliah
topi bertali dan jubah sudah mantap kita kenakan
tapi dihari itu aku tak melihatmu
mauku melihatmu dengan jas hitam dan kemeja merah mudamu yang manis
tapi aku senang.
semoga kamu gapai maumu selalu
dan selamat.. aku masih merepotkanmu hingga detik ini
Nov 30, 2018
Nov 30, 2018 at 9:44 AM UTC
Setahun yang lalu kupikir kita akan bersama
Menjadi satu persahabatan yang tak terkalahkan
Walaupun jalanmu berbeda
Aku tetap mengikuti dengan senyuman
Berharap kita memang untuk selamanya
Dua tahun yang lalu aku masih rabun
Berjalan tanpa suara
Berhenti hanya untuk menangis
Tanpa istirahat, terus saja
Menyalahi diri sendiri
Tiga tahun yang lalu aku sendiri
Meluapkan amarah
Dan mau menangnya sendiri
Masih buta akan siapa yang salah
Masih berdarah luka di hati ini
Dari semua jalan yang kutempuh
Kehilangan seperti mati
Tanpa rasa tanpa cahaya
Kemarin tersenyum sekarang bisu
Kemarin bersama sekarang sendiri
Apakah adakah
sedikit saja di pikiranmu
keinginan untuk memelukku,
sebelum kau pergi?
Mar 6, 2016
Mar 6, 2016 at 9:47 AM UTC
JOGJA
“Jogja sedang berusaha menutupi kesedihan karena penyesalannya, buktinya akhir-akhir ini Jogja ramai sekali”
“Untuk apa Jogja bersedih?
Bukankah banyak yang mencintainya selama ini?
Buktinya Jogja bisa dengan mudahnya tebar keramahan kesana-kemari kemudian mendapatkan banyak hati.”
JAKARTA
“Jakarta sudah tidak kuat lagi menahan sakit perasaannya hingga ia menangis, buktinya kemarin hujannya turun deras sekali”
“Untuk apa Jakarta menangis?
Bukankah Jakarta begitu kuat?
Buktinya ia tahan mendengar suara bising dari banyak pasangan kekasih yang melempar janji-janji palsu selama ini.”
BANDUNG
“Bandung bingung menanggapi apa yang terjadi terhadap Jogja dan Jakarta, buktinya ia hanya bisa diam.”
“Tidakkah kau tahu bahwa bandung selalu bersuara?
Tetapi selama ini suaranya tersamarkan oleh suara hujan.
Buktinya suaranya tidak bisa dibuktikan.”
Dec 15, 2017
Dec 15, 2017 at 2:11 PM UTC
Basah, ku lihat pipimu.
Katanya kau kelelahan,
Tapi yang ku lihat bukan keringat.
Kata nenekku, itu air mata,
Karena matamu merah.
Mana mungkin, kau berkeringat dengan mata merah dan sedikit bengkak?
Lusuh, ku lihat mukamu.
Katanya kau tak menyentuh air seharian.
Debu yang kemarin kau dapatkan ketika menjemputku di Taman Kota masih menempel, katamu.
Lusuhmu bukan karena debu,
Kata Ibuku, itu karena lapar.
Ternyata kau sudah berhenti makan,
Sejak dua hari sebelum kita bertemu.
Kenapa memang?
Memang aku tidak berhak tahu kalau kau sedang tidak baik saja?
Alih-alih kau tidak ingin menambah bebanku,
Kau selalu mengatakan kalimat-kalimat yang tidak benar adanya.
Kenapa memang?
Memang aku tidak berhak untuk paling tidak, membuat mu merasa lebih baik?
Ah benar saja,
Aku kan tidak pernah mampu,
Sebab, siapa aku?
Hanya tempat pelampiasan nafsu.
Nov 30, 2020
Nov 30, 2020 at 12:46 AM UTC
ini ceritanya jejak si bucin
'dasar bucin !'
'mau mauan aja, bucin !'
'jangan bucin kenapasih !'
salah menyampaikan sayang ?
salah menyuarakan cinta ?
salah mengekspresikan kasih ?
itu semua salah ?
terlebih terhadap pasangan
sana sini memandang, bucin
kenapa ?
berlebihan ?
ya. demi botol nestle kemarin
mungkin berlebihan tapi tidak juga
apakah lebih baik pistol dan pisau daripada bunga dan pita ?
iya saya juga bingung
bucin dianggap remeh
seperti benda yang harus dilepeh
ada apa si dengan bucin ?
makhluk hidup yang mengekspresikan rasanya kan ?
ah tidak tau
tapi semenjak aku bertemu dia
aku tidak apa disebut bucin
karena membuat lengkung di bibirnya
salah satu pencapaian
sudah ya,
pokok pikirannya tidak dapat.
sudah pusing.
hahaha.
salam bucin !
Dec 1, 2018
Dec 1, 2018 at 7:01 AM UTC
katamu, aku hanya butuh percaya.
katamu, aku tak perlu menyita waktuku dengan adanya kamu di tiap detikku.
katamu, aku pun sudah fasih memahami isi kepalamu.
dan, ya, aku memilih untuk percaya.
nyatanya, tidak semudah bak sang matahari yang rela menyembunyikan teriknya sepanjang malam untuk memikat sang bulan.
kamu hanya tidak tahu seberapa dalam lukaku, kemarin.
kamu hanya tidak tahu seberapa besar rasa sakitku, hingga saat ini.
entah bagaimana,
entah karena apa,
terbesit oleh pikirmu untuk melakukan itu.
apa ini karenaku?
atau memang suratan takdir untukku?
bagaimana dengan semua katamu?
bagaimana dengan semua percayaku?
semukah?
Mar 20, 2017
Mar 20, 2017 at 2:12 PM UTC
Bapak ... pada senja kali ini , entah mengapa aku ingin saja mengenangmu
kemarin ,aku melihat kau begitu parau ,gelegar suara tawa yg tdk lagi seriang dulu
Wajah keriput sudah tdk semulus dulu sewaktu muda .
Bahkan aku tidak pernah ingat kapan terakhir kali aku mencium keningmu ..
mencium tanganmu
Ya rabb , maafkan
Mar 16, 2015
Mar 16, 2015 at 5:16 AM UTC
Bodohnya aku
Mendatangi rumah sakit untuk berobat
Namun hanya tawa kencang ketika aku mengatakan keluhan
Bodoh
Bodoh
Kemarin dia membawa pisau tajam
Dan menghunuskan tepat di dadaku
Mengatakan "Aku mencintai sahabatmu."
Tepat di situ aku sakit
Feb 20, 2017
Feb 20, 2017 at 6:51 PM UTC
di rumahku
pemandanganku
semuanya kamu
di teleponku
pendengaranku
tentang kamu
pengerat berlari
kamu sendiri
pengerat pergi
kamu tidak cari
setelah kami ini
ada lagi
setelah kami pergi
suaramu meninggi
8 pagi sampai 5 petang
posisimu selalu terlentang
dibelai-belai penuh kasih sayang
bila telat jam makan kau mengerang
sembari menonton sinetron di TV
sembari menghitung sisa uang jajan kemarin
sembari memakan indomie
ketika pulang dini hari
semuanya, kau jadi saksi
Jul 27, 2018
Jul 27, 2018 at 5:56 PM UTC
3 tahun lalu, kamu berjanji ingin terus bersama denganku.
2 tahun lalu, kamu berjanji tidak akan meninggalkanku.
1 tahun lalu, kamu berjanji akan kembali kepadaku.
kemarin, kamu berjanji akan menghapus kenangan kita.
Aug 31, 2020
Aug 31, 2020 at 9:07 AM UTC
entah hari ini atau kemarin
koridor senja coba aku leati
sepi memang hari mulai gelap
semilir sisa angin hujan menggelitik
aku terbiasa menopang diri sendiri
berjalan sendiri tak pernah menjadi debat
lembap dinginnya bagai selimut di malam hari
yang menusuk matahari pagi
entah ekspektasi belaka atau hanya egoku
tidak, aku tidak pernah sekedar bertanya
segala tanya atau tidak kutulis itu tulus
karena aku tumbuh dengan menghargai
aku bisa jadi salah
kupu - kupu menggeliat di perutku sempat hilang
namun, di koridor gelap itu
mengapa mereka datang lagi
Dec 8, 2017
Dec 8, 2017 at 9:52 PM UTC
lampu lampau telah mati.
dicekik bahasa-bahasa cinta
yang menguar dari mulutmu.
ruang penuh raung itu maka
padam. aku diselimuti hangat
tenang dan bara senang.
lihat, setelah punggung
yang kauberi kemarin,
kembang-kembang api
kini tak mau meledak di langit.
pucuknya selalu pecah
sebagai kesunyian
di kepalaku.
kanya, 2017
Aug 5, 2017
Aug 5, 2017 at 12:49 PM UTC
Bagaimana kalau surga dan neraka itu tidak ada,
dan kau
aku
kita
berlomba untuk hidup paling abadi berdampingan semestinya ?
Namun sekarang aku bercermin dengan realita.
mungkin kita berada di ruang yang sama, sibuk bercerita hari kemarin dan besok.
lalu kau harus pergi,
sehingga hanya jejak senyum hari ini yang tersisa dalam perjalanan sendiri-sendiri.
Jadi izinkan aku mengucapkan:
“Hati - hati di jalan ya.
Semoga selamat dan menemukan tujuan. Semoga pula sampai jumpa.
Semoga semua semoga karena 1000 doa ikut serta.
Aku pamit.”
Oct 3, 2019
Oct 3, 2019 at 4:31 PM UTC