"katamu" poems
Kemarin aku mengajakmu melihat senja.
Katanya kamu suka warnanya merah jambu bercampur oranye seperti jeruk mandarin kesukaan ibu.
Kamu selalu ceriwis membahas senja ini dan itu.
“Jangan lupa kopi dan puisi! Kita harus merayakan isi bumi.”
Celotehmu.
“Kamu mau kan melihat senja bersamaku?”
Kemarin aku mengajakmu melihat senja.
Telah kupersiapkan sekian lama.
Aku rakit sendiri senjaku dengan kopi manis dan puisi cinta yang kau sebut - sebut itu.
Aku merangkai pelan-pelan sambil menghayal bola mata emas yang berbentuk kenari kesukaanku dan lengkung pelangi bibirmu.
Cukup lama buatnya,
tapi senjaku sangat cantik.
Dan sedikit rapuh.
Aku harap kamu senang.
Kemarin aku mengajakmu melihat senja.
Tapi kau pergi ke laut dan menjelajahi waktu.
Terhanyut malam.
Aku tidak ada di sana.
Kamu menolak senjaku.
Katamu ada senja yang lebih bagus.
—
Senja, senja, senja.
Muak dengan puisi senja.
Aku bukan anak indie regional, aku pendengar Ed Sheeran, top 50 ,Danilla Riyadi dan Sapardi !
Aku ya begini begini begini!
May 15, 2019
May 15, 2019 at 3:13 PM UTC
(Palembang, 28 Oktober 2015)
Halo,
Halo??
Aku bilang, Halo
Lihat aku!
Aku sedang berkemas.
Kemas hati yang telah meleleh karena kata-katamu.
Berantakan,
Berceceran di lantai hingga menghalangi perasaan ini tuk hilang.
Halo~~~
Aku cukup gagal memperbarui hati yang pernah bahagia.
Hati yang pernah merona-rona ketika dekat denganmu.
Hati yang selalu merindu ketika jauh darimu.
Coba lihat hatiku sekarang ini!
Rusak,
Parah~ !!
Tak bisa ku perbaiki.
Halo lagi,
Tanggung jawab atau kau akan aku lupakan selamanya!
Tak percaya lagi denganmu.
Halo, ini yang terakhir kali.
Aku pergi tanpa membawa hati.
Jan 6, 2016
Jan 6, 2016 at 9:31 AM UTC
Upaya faal semesta
Beginilah adanya
Insan di dalamnya
Begitulah hadirnya
Katamu semesta tiada pernah salah
Dan aku percaya padamu, pada semesta
Bahkan ketika waktu terus pergi
Dunia lantas berevolusi
Kalakian musim bersilih
Keyakinanku padamu tak lantas lenyap
Lain halnya dengan waktu, dunia, musim, dan cinta
Katakan
Kau dan aku, apa kita pernah mengkhianati buana?
Sehingga menjadi kami adalah kesulitan berarti
Arkian, cinta ubah wujudnya jadi bersyarat
Insan, iman, susila, keharusan
Sedang cinta terlampau luas layak angkasa
Semesta tak salah, aku percaya
Begitu juga cinta
Nov 10, 2018
Nov 10, 2018 at 8:26 AM UTC
Basah, ku lihat pipimu.
Katanya kau kelelahan,
Tapi yang ku lihat bukan keringat.
Kata nenekku, itu air mata,
Karena matamu merah.
Mana mungkin, kau berkeringat dengan mata merah dan sedikit bengkak?
Lusuh, ku lihat mukamu.
Katanya kau tak menyentuh air seharian.
Debu yang kemarin kau dapatkan ketika menjemputku di Taman Kota masih menempel, katamu.
Lusuhmu bukan karena debu,
Kata Ibuku, itu karena lapar.
Ternyata kau sudah berhenti makan,
Sejak dua hari sebelum kita bertemu.
Kenapa memang?
Memang aku tidak berhak tahu kalau kau sedang tidak baik saja?
Alih-alih kau tidak ingin menambah bebanku,
Kau selalu mengatakan kalimat-kalimat yang tidak benar adanya.
Kenapa memang?
Memang aku tidak berhak untuk paling tidak, membuat mu merasa lebih baik?
Ah benar saja,
Aku kan tidak pernah mampu,
Sebab, siapa aku?
Hanya tempat pelampiasan nafsu.
Nov 30, 2020
Nov 30, 2020 at 12:46 AM UTC
katamu, aku hanya butuh percaya.
katamu, aku tak perlu menyita waktuku dengan adanya kamu di tiap detikku.
katamu, aku pun sudah fasih memahami isi kepalamu.
dan, ya, aku memilih untuk percaya.
nyatanya, tidak semudah bak sang matahari yang rela menyembunyikan teriknya sepanjang malam untuk memikat sang bulan.
kamu hanya tidak tahu seberapa dalam lukaku, kemarin.
kamu hanya tidak tahu seberapa besar rasa sakitku, hingga saat ini.
entah bagaimana,
entah karena apa,
terbesit oleh pikirmu untuk melakukan itu.
apa ini karenaku?
atau memang suratan takdir untukku?
bagaimana dengan semua katamu?
bagaimana dengan semua percayaku?
semukah?
Mar 20, 2017
Mar 20, 2017 at 2:12 PM UTC
Ku putar sekali lagi nyanyianmu malam ini,
sebagai penghantar tidur dan penyemangatku esok pagi.
Katamu aku mataharimu,
menebar kehangatan ke sekitarku.
Kau bilang kau tak dapat lupakanku,
juga tak mampu menyatakan ku milikmu.
Tak sadar kah kau yang membohongi diri sendiri,
menyamar sebagai pujangga yang hanya bisa berjanji.
Janji yang kita berdua tahu,
bahwa kata-katamu itu palsu.
Berjanjilah malam ini; bahwa kau takkan ada di sisiku.
Tepati, amali, sebelum waktu ‘kan berlalu.
Feb 26, 2018
Feb 26, 2018 at 10:36 PM UTC
Ku bicara ini.
Kau bicara itu.
Ku lakukan ini.
Kau lakukan itu
Tanpa sepengetahuanku
kamu
berbicara tanpa sepengetahuanku
Berbicara kepada mereka
Sebenarnya apa tujuanmu?
Mempermalukanku?
Tak masuk akal?
Kata-katamu lebih dari aku
Tak bisa bersama?
Kemudian aku pergi?
Ah, kau SALAH!
Baca benar-benar!
Kembalilah ketika kau sadar!
Jun 6, 2012
Jun 6, 2012 at 10:48 AM UTC
*Dan bayang mu semakin semu
Ku tanya bulan dia tak tahu
“Aku mencintaimu” katamu, sendu
Tapi bohong terpampang di matamu
Hujan datang menghapus cerita
Aku mengadu kepada senja
Kau pergi begitu saja
Meninggalkanku dalam derita*
Nov 8, 2016
Nov 8, 2016 at 4:15 AM UTC
Halo Tuan,
Masih ingatkah waktu kita tersesat?
Dilabirin Waktu bersama
Kau seolah paham dengan alurnya
Menuntunku
Aku tersenyum dari belakang
Mengikuti tapak kakimu
Ditengah jalan, kau berhenti
“Aku sadar” katamu.
Mari kita berpisah
Dan jika memang benar alurnya,
Kita akan bertemu di ujung labirin ini
Aku berhenti dan menabrak punggungmu
“Mengapa?”
“Apa?”
Aku masih tidak bisa berpikir jernih
Hanya kalimat tanya yang ku pikirkan
Kau tau aku tak paham dengan labirin ini kan?
Dan kau suruh aku berjalan sendirian,
Dengan hadiah “jika benar kita akan bertemu di ujung labirin”
Tidak
Tuan, lebih baik kita tak bersama dari awal
Akan sangat mudah bagiku untuk memahami alur ini jika aku sendiri saja
Terimakasih untuk setengah perjalanan ini
Dan untuk ujung labirin,
Ku harap aku menemukan ujung labirin lain,
Dan kau pasti tau alasannya.
Feb 14, 2019
Feb 14, 2019 at 10:53 AM UTC
Ditarik, kami diarahkan membaca apapun yang tidak ada penjelasannya.
Dikodratkan harus paham isi kepala makhluk yang hanya sesekali berkata iya dan tidak.
Kami terpingkal, Puan.
Bagaimana tidak?; Kain yang kau gunting sendiri dan pintal dengan rajut sedari subuh sudah cantik--tapi kau merasa kurang, dan kami adalah penyebabnya katamu.
Duduk kami melingkar bersama dengan gelas gelas berisi teh melati,
Hangat membaur aroma kebingungan kaum kami.
Sekali beberapa menit kami terpingkal lagi, berusaha terus membaca setiap halaman kosong dan beberapa titik saja di sudut kiri kanannya.
Tidak ada barang satupun buku yang mengerti keinginan puan.
Cemasnya puan ingin dilindungi,
Lembutnya puan yang ingin dikasihi,
Ah, apalagi tangisan yang tiba-tiba terisak di malam sehabis mimpi.
Tersenyum kami menahan tawa dan kantuk, sembari melihat-lihat wajah puan yang tertunduk mengharap ditanya mengenai hari ini.
Semenit dua menit kami lihat lekat-lekat wajah puan.
Kami bisa tidur malam ini,
Jawaban kebingungan lelaki bukan tertulis pada buku-buku; tapi dua bola mata yang senantiasa banyak bercerita setiap ia duduk hening tanpa berbicara.
Ah, engkau puan~
Buku pelajaran yang tak ada tamatnya.
B_A
10 Mei 2019
May 10, 2019
May 10, 2019 at 12:23 AM UTC
"Dalam segala manis dan tragisnya perkawinan,
Kami sebagai perempuan, mati berkali-kali
Dan lahir pula kembali—
Tentu juga berkali-kali
Disaat kau menyaksikan puluhan katup bibir yang mengatakan “Sah.”
Disaat itu pula,
Kau seakan disadarkan
Bahwa kau tak lebih dari pisau yang harus terus diasah
Bukan supaya tajam untuk dapat menikam,
Namun supaya siap mencacah manis-pahitnya peristiwa kehidupan menjadi dadu-dadu kecil
Lalu menanyakan untuk menyerapnya kembali
Untuk diri sendiri
Kau,
Mati dan lahir lagi,
Bukan sebagai isteri,
Namun seutuhnya sebagai wanita yang mengayomi
Sampai akhirnya kematian itu berdiri di depan pintu
Untuk menjemputmu lagi
Disaat kau duduk dan melihat pandangan puluhan manusia
Yang seakan-akan mengatakan,
“Berpandailah dengan urusan dapur.”
Mereka dengan bodohnya menutup mata kepada fakta
Bahwa sekarang, kau adalah busur
Yang dengan senantiasa akan mengarahkan kemana anak-anak panahmu melaju
Kau, bertulang rusuk dan adalah tulang rusuk
Bukan tulang rusuk dari lanangmu,
Namun dari rumah segala rumah
Disaat insan keci itu menangis lahir,
Disitulah Tuhan dengan segala kuasa-Nya menyemukakanmu
Dengan kelahiran yang absolut.
Mutlak. Nyata. Tanpa majas atau embel-embel.
Kau, bukan hanya wanita bersusu yang menyusui;
Walau serapanmu terhadap puji-kejinya kehidupan
Akan juga diserap oleh ‘anak panah’ mu
Melalui air susu dan tutur katamu
Disaat kau melahirkan anak manusia,
Tentunya tanpa tanda tanya,
Kau betul-betul
Lahir kembali."
Apr 18, 2019
Apr 18, 2019 at 10:25 PM UTC
ada yang lain di bibirmu
yang mekar ketika melihat
sesuatu yang indah
bukan— bukan kita.
ada yang lain di matamu
yang memanja nyawa-nyawa lainnya
seperti melihat kenyataan yang cantik sekali
bukan— bukan kita.
ada yang lain dari langkahmu
yang luar biasa kuatnya
seperti anak umur 5 tahun yang mengejar lenglayangan di ujung lapang—gembira.
ada yang lain dariku
kosong sekali
linu nya masih ada
namun ada yang tak kunjung kembali
kita
yang katamu sungguh berantakan.
Jun 18, 2020
Jun 18, 2020 at 11:53 AM UTC
Hari ini tidak ada pukul tujuh lewat sepuluh
Semua langsung tergeser ke siang hari
Pikirmu menyayangi adalah hal yang sering ku lakukan?
Tidak,
Kemudian bagaimana dengan aku?
'Kau pantas mendapat lebih' katamu
Kita pulang saja ya, bersamaku.
16 Mei 2021
_BA_
May 16, 2021
May 16, 2021 at 7:50 PM UTC
Jika Tuhan tidak pernah sampai
Lalu aku ada dimana?
Ditumpukan sisa rautan pensil, katamu
Habis, kandas menyisakan kehitaman diujung-ujung tajamnya
Jika Tuhan tidak pernah mengirim pesan
Lalu aku bercerita dimana?
Pada kerumunan isi kota yang melenakan
Padat, riuh semua ingin berbicara
Tuhanku mendengar, Tuhanmu juga
Kemudian bagaimana dengan kebebasan?
Ia ada, tanpa diminta.
B_A
24 Agustus 2022
Aug 23, 2022
Aug 23, 2022 at 7:34 PM UTC
Bukankah kita terlihat begitu jauh?
sementara jarak sudah melipat dirinya begitu lekat, supaya Kau dan Aku
melupakan bahwa semuanya
pernah terjadi dan sudah selesai.
Apa yang diinginkan kata dari Kita berdua?
sepertinya mereka ingin Kau mengeja namaku yang sama sekali sulit diucapkan lidahmu, katamu lidah itu kelu dan kaku. Kau bohong.
Pernahkah Kau menenggelamkan diri
dalam bayangan yang terpantul dari cermin?
seakan mataku mengambang di sana
dan senyumku persis terpahat di bibirmu.
Jawabannya
Aku tahu dan Kau juga tahu.
Mar 7, 2021
Mar 7, 2021 at 7:23 AM UTC
Hiruk pikuk kebencian
Menjadi bagian dari malam ini
Suara-suara lantang itu
Berhasil memenuhi gendang telinga ini
Atas dua insan yang berkecamuk
Penantian keadilan serta merta
Aku bersembunyi dalam doaku yang terburu-buru
Sabar, katamu.
Bagai asupan yang bahkan aku tidak lapar sekalipun
Dec 19, 2019
Dec 19, 2019 at 10:47 PM UTC