Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"habis" poems
Kau datang di saat ku menginginkanmu Kau bagaikan menerangi hidupku Ku tersenyum di setiap waktu Ku selalu memikirkanmu Kau menjauh entah mengapa Ku tersadar bahwa ku yang memulainya Kau tak sedetikpun berbicara Ku hanya bisa menyesal Ku mulai belajar tuk melupakanmu Ku buka hati ini tuk yang lain Namun tiba-tiba kau datang dengan sejuta kata Entah apakah kau berpura-pura peduli pada ku Kau menyentuh hidup ku, lagi Kau buat aku menginginkanmu, lagi Kau buat aku salah tingkah, lagi Serasa tak ingin aku kehlangan mu, lagi Kau membuat aku bersyukur pernah mengenal mu Kau adalah hal terindah yang tak nyata yang pernah aku tahu Kau adalah semua topik pembicaraan yang ku ceritakan Kau adalah yang mengiringi perjalanan singkat hidup ku Kau yang amat susah lepas dari ingatan ku Kau yang menerangi hidup ku Kau lah alasan aku tersenyum di setiap waktu Kau lah yang ku harap hadir di mimpi ku Kau... Yang selalu aku harapkan hadir di sisi ku Yang selalu membuatku ingin merasakan peluk mu Yang ingin sekali mengecup bibir mu Kau... Yang selalu membuat aku gelisah Yang membuat aku berusaha lebih baik Yang membuat ku berusaha lebih pantas tuk dimiliki Kau... Tak pernah habis kata-kata untuk mu Selalu ku puji dirimu Ku ingin bisa mengatakan bahwa Aku sangat mencintaimu I LOVE YOU
0
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 8:41 PM UTC
Semua Tentang Kau
waktu itu kita jalan keluar malam-malam awalnya sedikit hangat didalam ruangan yang temaram lalu kita melangkah keluar, dan dinginnya malam buat semuanya menjadi suram sepertinya angin kencang menjalar dengan kejam malam menjadi bisu, sambil berjalan pun kita berdua diam lalu kamu menunjuk-nunjuk bangunan dengan lampu-lampu dan dinding kayu sepertinya hangat disitu, kalau tidak salah kamu bilang begitu saya setuju dengan kamu saya selalu setuju dijalanan kecil kita melangkah kesitu buru-buru didalam sana udara dingin sudah tidak terasa lagi dengan hati yang riang saya pilih coklat panas dari menu yang kamu beri kata orang coklat bisa menghasilkan hormon endorfin bisa membuat hari yang sedang bermuram durja menjadi tersenyum kembali lalu saat itu coklat panas sudah ada didepan saya saya sentuh pinggiran gelasnya hangat saya minum perlahan-lahan sedikit demi sedikit, tanpa tergesa-gesa sengaja karena tidak terlalu besar ukurannya kalau cepat habis bagaimana? lama kelamaan habis, semuanya juga akan habis saya ingin gelas kosong bekas coklat panas ini tidak digubris tapi akhirnya pelayan itu datang dan mengambilnya sambil tersenyum manis kehangatan kembali terkikis dan menipis kita kembali berdiri dan keluar menelusuri malam yang dingin kembali bergelut dengan angin ingin saya bawa satu gelas coklat panas itu lagi tapi dia akan membeku seiring berjalannya waktu, mungkin tanpa suara, saya tahu kamu mendengar tanpa cahaya, saya tahu kamu melihat tanpa kata, saya tahu kamu mengerti maka, terimakasih untuk ‘coklat panas’ nya. mungkin bisa kita seduh kembali suatu saat nanti Jakarta, 27 Desember 2012 (puisi ini bukan tentang apa-apa. puisi ini tidak berarti apa-apa. puisi ini tidak ada yang mengerti selain saya dan satu orang lagi. puisi ini tentang sebuah Rahasia)
0
Feb 13, 2013
Feb 13, 2013 at 12:59 AM UTC
coklat panas
waktu itu kita jalan keluar malam-malam awalnya sedikit hangat didalam ruangan yang temaram lalu kita melangkah keluar, dan dinginnya malam buat semuanya menjadi suram sepertinya angin kencang menjalar dengan kejam malam menjadi bisu, sambil berjalan pun kita berdua diam lalu kamu menunjuk-nunjuk bangunan dengan lampu-lampu dan dinding kayu sepertinya hangat disitu, kalau tidak salah kamu bilang begitu saya setuju dengan kamu saya selalu setuju dijalanan kecil kita melangkah kesitu buru-buru didalam sana udara dingin sudah tidak terasa lagi dengan hati yang riang saya pilih coklat panas dari menu yang kamu beri kata orang coklat bisa menghasilkan hormon endorfin bisa membuat hari yang sedang bermuram durja menjadi tersenyum kembali lalu saat itu coklat panas sudah ada didepan saya saya sentuh pinggiran gelasnya hangat saya minum perlahan-lahan sedikit demi sedikit, tanpa tergesa-gesa sengaja karena tidak terlalu besar ukurannya kalau cepat habis bagaimana? lama kelamaan habis, semuanya juga akan habis saya ingin gelas kosong bekas coklat panas ini tidak digubris tapi akhirnya pelayan itu datang dan mengambilnya sambil tersenyum manis kehangatan kembali terkikis dan menipis kita kembali berdiri dan keluar menelusuri malam yang dingin kembali bergelut dengan angin ingin saya bawa satu gelas coklat panas itu lagi tapi dia akan membeku seiring berjalannya waktu, mungkin tanpa suara, saya tahu kamu mendengar tanpa cahaya, saya tahu kamu melihat tanpa kata, saya tahu kamu mengerti maka, terimakasih untuk ‘coklat panas’ nya. mungkin bisa kita seduh kembali suatu saat nanti Jakarta, 27 Desember 2012 (puisi ini bukan tentang apa-apa. puisi ini tidak berarti apa-apa. puisi ini tidak ada yang mengerti selain saya dan satu orang lagi. puisi ini tentang sebuah Rahasia)
Continue reading...
37
Tangan ku kaku ketika menulis Kaki ku lumpuh ketika melangkah Mata ku buta ketika memandang Raga ku pun mati karena merindukan Langit amat luas Hidup bahagia bersama awan Tapi, langit tak berikan aku Aku pun menangis Air laut menampung kesedihan ku Meluap menjadi awan Dan menenggelamkan jagat raya Termasuk hati ku yang sudah rentan Rentan, karena terik mentari yang menyengat Raga ku roboh terhempas angin menjadi puing Jiwa ku lari saat takut desiran pasir Darah ku habis saat berlari mengejar semua Sumpah mati takkan tergapai Cinta sejati dalam hati yang tulus Dengan ocehan yang melukai Dan kata cinta yang omong kosong Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:48 AM UTC
Cinta Tak Tergapai
Palembang, 18 Desember 2011 Pernahkah kamu berada di Padang Pasir dan tak tahu arah pulang? Pernahkah kamu kehabisan bekal sebelum sampai ke tujuan? Aku pernah Pernahkah kamu tidur di atas rumput duri dan punggungmu tak terluka? Pernahkah kamu merasa sakit setelahnya tetapi hati yang terluka? Aku pernah Tapi pernahkah kamu selalu memiliki tabungan ketika uang mu habis? Pernahkah kamu membeli makanan ketika kamu lapar? Pernahkah kamu menelpon Ibu mu ketika kamu sedih? Pernahkah kamu ditemani orang yang kamu cintai saat kamu butuh? Aku tidak pernah Pernahkah kamu kehilangan jarum padahal hampir berhasil memasukkan benang? Pernahkah kamu terjatuh dari tebing dan tidak pakai tali pengaman? Aku pernah Dan pernahkah kamu berfikir tuk bertemu dengan Sang Pencipta? Pernahkah kamu berfikir tuk selalu berbuat hal baik seumur hidupmu? Pernahkah kamu merasa kamu pantas mendapatkan kesempatan kedua? Dan pernahkah kamu mencintai seseorang melebihi dirimu sendiri? Aku, kamu, pasti pernah
0
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:17 AM UTC
Aku Pernah
Aku berdiri kaku di depan cermin menatap nanar dirimu. Bertanya... Berapa banyak malam yang kau habiskan untuk mencaci tubuh tak bersalah itu? Mencabiknya agar kau tetap bisa merasa hidup. Biru dan ungu selalu menjadi tanda bahwa kau menang melawanku. Aku ingat beberapa orang mengubahmu menjadi kelabu, membunuhmu dengan kejam, lalu membuangmu jauh ke jurang hitam. Kita berjalan beriringan dengan kapak berlumur kata-kata tak dimaksudkan, tapi kau bilang kau telah mati jauh sebelum kita berdamai. Lalu bagaimana denganku? Seperti ruang kosong yang hilang ditelan kesendiriannya, aku berjalan menuju ujung lorong yang tak pernah sempat kau injak. Menari-nari di bawah binar harapan seperti aku lupa bahwa kau tak lagi diam di sana. Ingatkah kau saat kita duduk di meja makan bersama dua orang asing? Kau sibuk bermain dengan gelisahmu, sementara aku tersenyum lebar berperan sebagai hantu. Kau melahap habis semua isi di sana, tetapi hanya berakhir pada kamar air yang sengaja kau sembunyikan. Kau mati. Lalu bagaimana denganku?
0
Oct 4, 2016
Oct 4, 2016 at 7:24 AM UTC
Bagaimana Denganku?
Setia ku hingga akhir waktu Cinta ku tak mati meski hancur Kasih ku tak habis slalu merindu Diriku kan mati ditinggal mu Suara hati ini bisu Jejak langkah ini lumpuh Tapi tetap kepakkan sayap Menuju surga hidup kebahagiaan Lagu cinta hilang Berasa hening kali ini Suara indah berhenti Hatipun bersedih Luapan cintaku tak berakhir Sampai nanti, sampai aku mati
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:50 AM UTC
Untitled
3..2..1.. aku hitung tempat pijak cakrawala tapi tidak pada tempu jejak awan mereka pinta benah kala diri diacung pangkal lusa berpayung tangguh metronom berdecak habis sabar bagai waktu berkecimpung ikut mengawasi tanda memaafkan kabarnya kamu boleh lihai bersembunyi, tetapi gelombang muara mimpi tetap pilih rasa hujan hujan rindu katanya karena dinginnya menggigit menyebar hentikan kata buat tercekat, ke seluruh tubuh buat menggigil aku sudah bangun dari terkejut terimakasih terutama kamu, ciptaan di penghujung hari karen satu dan lain hal
0
Mar 18, 2017
Mar 18, 2017 at 1:53 AM UTC
Sekilas Semburat
melihat matamu kerap kau basahi bibir pipi kamu kemerahan tatkala aku sahut namamu redup hari itu tenang kamu kelihatan indah, indah seperti hari biasa cuma hari ini aku rasa lain hati aku berbisik tangan lembut ini yang menyamankan yang sentiasa ada tatkala aku gusar gelisah aku tentang kamu cuma satu --andai aku tidak layak untuk kamu tanpa segan perlahan kau dekati aku sambil itu kau belai tangan aku, seperti meletak harapan "--aku tahu, fikiran kamu dalam tentang aku. namun sayang ingatan kamu tentang aku adalah salah. apalah rasa ini, andai tiada yang ikhlas untuk memegangnya? telah aku pilih kamu untuk jadi ratu maka, jangan kau gentar pimpin aku akan selalu tanganmu" dia itu adalah bijaksana sentiasa tahu dan selalu tahu resah aku yang tiada habis lalu Tuhan pinta aku mahu dia sentiasa selamat -f 1048pm oct 2nd
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 10:48 AM UTC
Untitled
Palembang, 7 Mei 2012 Somesay, that’s what friends are for. Apa yang teman lakukan untukku? Somesay, habis gelap terbitlah terang. Apa yang terang lakukan pada gelap? Somesay, raihlah mimpimu setinggi bintang di langit. Apa yang mimpi lakukan pada bintang di langit? Somesay, love is a razor. Apa sebenarnya cinta itu? I say love is just stay alive.
0
May 25, 2012
May 25, 2012 at 2:41 AM UTC
Somesay
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 9:17 AM UTC
Suara Tanpa Rupa
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
Continue reading...
29
Tahun lalu kita menyusun rencana Menuliskannya pada setiap lembar catatan Di antara selipan buku laporan Meletakkannya secara berantakan Hingga lupa mana tulisan Mana struk belanjaan Memang benar tolol aku kala itu Membangun cinta di atas rasa penasaran Dan selalu berakhir pada tempat pelarian Malam itu kau membelikanku sebuah rak buku Untuk hadiah ulang tahunku Karena tidak ada lagi yang dapat kita perbincangkan Setelah lepas habis cerita kau bacakan Dan aku selalu ketiduran dan tak pernah serius mendengarkan Hujan kembali berderai dengan ringan Malam pekat angin berhebus tak karuan Aku masih mabuk di pangkuan kegelisahan Memukul rata puisi menuliskannya hingga nanti aku mati
0
Apr 13, 2021
Apr 13, 2021 at 7:41 AM UTC
Rencana
si pembawa vespa ku dengar suara bising dari dalam rumah ku suaranya semakin mendekat oh ternyata dikau si pembawa vespa itu.. malam itu sangat dingin karna hujan habis mengguyur alam semesta aku dan si pembawa vespa menyusuri sepanjang jalan sambil ia berkata "lihat itu ada kucing pakai kerudung bawa samurai"
0
Nov 15, 2018
Nov 15, 2018 at 11:45 PM UTC
si konyol
Jam tujuh pagi tadi Ibu mengetuk pintu Bunyi ketukan itu sampai empat kali terulang Di ketukan empat setengah, Pintu terbuka setengah juga “Ya?” “Mandi, Mbak.” “Pingin tidur lagi.” “Tapi hari ini hari kemenangan.” Raut wajahnya yang telah menjadi warisanku tak sedikitpun menunjukkan bahwa dia telah memenangkan apapun. Tidak seperti kebanyakan orang, Untuknya hari ini bukanlah tentang seberapa kental kolam santan yang menyimbahi santapan-santapan Bukan juga tentang berpeluk-rindu dengan orang-orang sambil sesekali bertukar kabar Lelah mengutuk dirinya karena seumur hidup merasa kalah, Aku tahu bahwa sehari saja ia ingin merasa menang. Ia sendiri tahu betul saat hari ini berakhir dan tamu berpamit untuk pulang setelah semua habis terkunyah; ia akan kembali merasa kalah. Menang atas dan untuk apa? Seribu kata maaf pun ia telan begitu saja tanpa mencerna kata tersebut keluar dari mulut siapa Tanpa adanya hari kemenangan yang dibanjiri oleh teks bersampul maaf, Hidupnya memang sudah tentang meminta maaf dan memaafkan Tak ada pilihan lain. Hanya saja hari ini sinar sendu wajahnya menunjukkan bahwa akhirnya, Setidaknya untuk dia, Harapan pahitnya terhadap ‘maaf dan memaafkan’ akan diselebrasikan; Dan seperti dirinya, lebih dari sejuta orang akan melakukannya walaupun untuk sehari saja. Kepada siapa lagi ia harus meminta maaf dan meminta dimaafkan?
0
Jun 5, 2019
Jun 5, 2019 at 8:40 AM UTC
?
Dalam lembut cahaya hidup yang temaram, Dengan yang tercinta di dekat, hati tetap bimbang. Di balik senyum, ada kehampaan, Saat malam tiba, menyelimuti kesunyian, Engkau berdiri sendiri dalam kesulitan, Jiwa terombang-ambing di lautan kehidupan. Di ruang riuh, sulit memeluk percaya, Seribu wajah, namun jiwa tetap waspada. Pada akhirnya, hanya dirimu, Yang menanggung langit biru. Dalam kesendirian, kita belajar menangis, Karena kesepian tak pernah habis.
0
Aug 18, 2024
Aug 18, 2024 at 10:55 PM UTC
Kesepian Sendirian
saya mati dibuat matanya dari awal jumpa pertama, mata itu beda tatapnya mata itu punya bisa ya, tuan? buat jiwa mati rasa sedemikian rupanya. mata itu buat rasa selalu berdalih, sekalipun hamba tahu tatap bukan penuh maksud tapi rasa terus berdalih, semakin berdalih semakin tumbuh rasanya imajinasi semakin keras kepala, rasa makin liar boleh mata buat hamba seorang tuan? boleh, kah? karna raga dimakan waktu, tapi rasa tak habis-habis saya lelah karna tatap itu, saya mati.
0
Nov 25, 2017
Nov 25, 2017 at 6:27 AM UTC
Mata (1998)
Lihat.. Kamu hanya berdiri seorang sendiri Tak takut dan tetap berani Bahkan api merah itupun melelehkanmu Angin menyentuhmu dengan lembut Tapi itu akan membunuhmu Namun kau masih bahagia Kau menerimanya dengan senang hati memutuskan dengan percaya dirimu Memberikan cahaya di tempat yang gelap dan dingin Kamu rela dibakar habis Meskipun kamu sudah tahu bahwa kamu .. Tidak akan mendapatkan apapun, mungkin hanya sakit yang kau dapat Bahkan kamu tau akan dilupakan dan lenyap Tapi ini adalah pilihanmu Ingin tetap diam atau bertindak Memberikan cahaya ajaib pada kegelapan ..
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 12:05 PM UTC
sebuah lilin
Aku suka kata-kata ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ begitu pun kamu tapi bukankah Seno pernah mengutuk kata-kata karena mereka sudah terlalu banyak di dunia?* .kata-kata tak punya makna apalagi jiwa kata-kata mudah menguap sampai kita harus (mengurungnya) sebelum terevaporasi entah-berentah tak lagi dipahami! Apa arti 'kita' jika kata-kata tak punya makna? Aku cukup payah mencari kata 'kita' di antara tumpukan buku yang tak selesai kubaca. Kamu pernah bilang aku membiusㅡmembisukan tapi bukankah kata hanya sampai bila diutarakan? tidak ke selatan, 'kan? Kata-kata memang tak punya makna apalagi yang tak tersampaikan kata-kata mudah dilupakan meski kamu pandai meramu kata menjadi sajak-sajak cinta, dan menyuapiku: semua terasa getir, aku tak punya selera. Aku hanya bisa menelan perasaan penasaran yang tak kunjung habis. Hingga aku kepayahan merapal kata-kata 'kita,' entah-berentah Aku belum paham.
0
Dec 13, 2019
Dec 13, 2019 at 9:44 AM UTC
padam rasa
Apa yang terjadi ketika minyak tanah bertemu api? Kebakaran. Itulah yang terjadi pada kami Saling menghabisi sampai terlalu sering. Tapi terkutuklah! Tiada habis-habisnya sumber daya kami, mungkin baru habis kala reyot nanti!/ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Saat-saat kami melebur menghasilkan bunga api yang berkobaran— saling mengadu tinggi lidah api, hingga disembur air mata dari mulut sang jawara, itu lebih berharga dalam sarekat ini dibandingkan bercokol bagai sahaya di kelas./ Sungguh absurd. Sepertinya kami harus jauh-jauh dari lahan gambut, biar tak ada lagi karhutla bersengkarut. Sebab Lautan pun membara dekat-dekat kami./ Tapi Jangan serius-serius betul lah Kami lucu benar, percayalah. Kami lebih suka berkelakar, daripada diciduk karena jadi makar. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ #ReformasiDikorupsi
0
Sep 27, 2019
Sep 27, 2019 at 9:23 PM UTC
#ReformasiDikorupsi
Sambil mengendarai mobil, aku melirik calar yang menghiasi tangan kananku. Merah seakan salah satu kucingku baru saja mengamuk. Tapi hanya aku dan sebilah pisau di kamar yang tahu itu bukan hasil karya seekor kucing melainkan binatang yang jauh lebih biadab, depresi. Lampu dijalanan berubah merah, sambil melihat sekeliling aku tersenyum mengamati hiruk pikuk yang sedang terjadi. Aku jadi rindu perasaan utuh yang lambat laun terkikis waktu dan kalimat-kalimat bernoda. "Kurang kuat iman sih" Tak ada kaitannya dengan imanku, sayang. "Mungkin cuma ada di kepalamu saja." Dan kepalaku adalah satu-satunya tempat dimana aku tak bisa lari. "Memang penyebab depresimu apa?" Karena 1095 hariku tercemar darah, puntung rokok, pecahan gelas, dan caci makian tiada henti. Tak semudah itu untuk keluar hidup-hidup dari kandang singa, harus ada luka yang aku tanggung seumur hidup. "Apakah kau gila?" Aku bukan gila, aku baik-baik saja. Hanya ada bagian di dalam sana yang mati dan tak bisa diperbaiki lagi. Lampu hijau dan klakson dari mobil membangunkanku dari suara-suara itu. Tapi ketika sudah melaju dengan kecepatan yang nyaman ada satu suara yang muncul lagi, menoreh hatiku. "Aku tak habis pikir bagaimana seseorang bisa nekat melukai dirinya sendiri sedangkan masih banyak yang bisa dilakukan" Kalau kau tak paham, tak mengapa. Tapi aku melakukan itu bukan untuk mati, aku lelah tak merasa apapun karena ada bagian di dalamku yang memang sudah mati. "Kau mirip banteng ketaton" Ya, aku marah kalau kau seenaknya menyebut aku gila. Aku terluka kalau kau seenaknya main hakim sendiri. Calar itu adalah sebuah pengingat bahwa aku masih hidup.
0
May 30, 2018
May 30, 2018 at 8:15 AM UTC
Ketaton
Sambil mengendarai mobil, aku melirik calar yang menghiasi tangan kananku. Merah seakan salah satu kucingku baru saja mengamuk. Tapi hanya aku dan sebilah pisau di kamar yang tahu itu bukan hasil karya seekor kucing melainkan binatang yang jauh lebih biadab, depresi. Lampu dijalanan berubah merah, sambil melihat sekeliling aku tersenyum mengamati hiruk pikuk yang sedang terjadi. Aku jadi rindu perasaan utuh yang lambat laun terkikis waktu dan kalimat-kalimat bernoda. "Kurang kuat iman sih" Tak ada kaitannya dengan imanku, sayang. "Mungkin cuma ada di kepalamu saja." Dan kepalaku adalah satu-satunya tempat dimana aku tak bisa lari. "Memang penyebab depresimu apa?" Karena 1095 hariku tercemar darah, puntung rokok, pecahan gelas, dan caci makian tiada henti. Tak semudah itu untuk keluar hidup-hidup dari kandang singa, harus ada luka yang aku tanggung seumur hidup. "Apakah kau gila?" Aku bukan gila, aku baik-baik saja. Hanya ada bagian di dalam sana yang mati dan tak bisa diperbaiki lagi. Lampu hijau dan klakson dari mobil membangunkanku dari suara-suara itu. Tapi ketika sudah melaju dengan kecepatan yang nyaman ada satu suara yang muncul lagi, menoreh hatiku. "Aku tak habis pikir bagaimana seseorang bisa nekat melukai dirinya sendiri sedangkan masih banyak yang bisa dilakukan" Kalau kau tak paham, tak mengapa. Tapi aku melakukan itu bukan untuk mati, aku lelah tak merasa apapun karena ada bagian di dalamku yang memang sudah mati. "Kau mirip banteng ketaton" Ya, aku marah kalau kau seenaknya menyebut aku gila. Aku terluka kalau kau seenaknya main hakim sendiri. Calar itu adalah sebuah pengingat bahwa aku masih hidup.
Continue reading...
20
mencintai tanpa memiliki. klasik, ya, apa boleh buat? aku tak pernah menganggapmu adalah milikku, pun aku adalah milikmu. namun rasa itu tumbuh di antara kita, tanpa satu pun yang memaksa. aku tau kau masih memiliki seseorang dalam daftar prioritasmu, terlebih, mungkin dirinya lah yang nomor satu. tunggu, bukan berarti aku senang dijadikan yang ke-sekian; lagi-lagi, apa boleh buat? aku hanya bisa menunggu sampai sang waktu memberiku lelah yang luar biasa hingga rasa sabarku perlahan habis, karena ku tau rasa cintaku takkan pernah.
0
Jun 12, 2019
Jun 12, 2019 at 11:25 AM UTC
apa boleh buat?
Ah muncul lagi Lelaki benalu kesayanganku mengendap-endap masuk ke pikiran kosong Di hitamnya langit kutemukan selintas retrospeksi terselip diatara bintang kau dadakan hilang tak 1 pun kata kau anggap perlu kau beberkan mulutmu rapat terkunci mungkin penjelasan itu hanya bisa ditemukan di air luka hatimu yang dalam Sini duduk sebentar biar kupinjamkan sepatu heelsku malah tak perlu kudandani kamu tak perlu busana merah muda mencolok kamu sendiri sadar kamu banci, maksudku pengecut Tak sudi kusebut kamu banci banci saja lebih jantan darimu mereka berani unjuk diri depan dunia gagah gigih tampil beda mencolok meniupkan asap rokok ke muka komentator Ada udang dibalik batu ada busuk dibalik hadirmu kau pergi karena kau anggap tak ada lagi gunaku bagimu kan? Dalam senyum sumingrah kuucap syukur pada Bapa di sorga sebab benalu sepertimu tak pantas ada disini jam pasir telah dibalik segera akan habis waktu permatamu biar gelapnya malam yang menghajar pancaran sinarmu yang menjijikan Lelaki benalu kesayanganku habis digerogoti nafsu keserakahannya
0
Jul 3, 2019
Jul 3, 2019 at 12:30 PM UTC
Banci Saja Lebih Jantan
Jika Tuhan tidak pernah sampai Lalu aku ada dimana? Ditumpukan sisa rautan pensil, katamu Habis, kandas menyisakan kehitaman diujung-ujung tajamnya Jika Tuhan tidak pernah mengirim pesan Lalu aku bercerita dimana? Pada kerumunan isi kota yang melenakan Padat, riuh semua ingin berbicara Tuhanku mendengar, Tuhanmu juga Kemudian bagaimana dengan kebebasan? Ia ada, tanpa diminta. B_A 24 Agustus 2022
0
Aug 23, 2022
Aug 23, 2022 at 7:34 PM UTC
Jika
ah bagaimanalah aku bisa menulis tentangmu? kerna tak ada bait kata bisa melukis senyummu tak ada puisi indah dapat menceritakan bagaimana matamu bersinar cemerlang saat kau jatuh cinta, dan tak ada tulisan yang bisa membuat tafsiran fikiranmu yang sesak. kamu sempurna, aku sahaja yang biasa buat kamu. . . malam itu kita sibuk berbahas soalan, tapi... tak kau habiskan cerita tentang kisah cintamu yang berakhir kejam, tentang amarahmu terhadap ditaktor dan bencimu pada korupsi, dan tentang bagaimana angin rindu entah dari siapa yang tak lagi menyapa pipimu... "kamu cantik" cara kau memutus obrolan kita, "kamu pintar!" bilangku sebagai jawapan pada pujian itu . . seperti kecewa dengan semesta yang tak pernah ramah denganmu "dunia ini sibuk, ya? porak perandanya tak habis" kau soalkan dunia kepada ku seperti sengaja... . aku yang mentah soal dunia dan kamu seolah tahu selok beloknya fikiranmu kacau banyak soalan tak berjawab ada cerita yang tak kau bilang pada dunia ada luka yang tak tersembuh dengan cinta ada rindu yang tak disentuh dan ada nama yang tak ingin kau sebut riak muka mu aku tahu, kamu sedang tak aman tapi kau temukan nyaman denganku aku yang sifatnya sementara . ah.. bagaimanalah aku bisa menulis tentangmu? kamu terlalu bijaksana buat ku kau bukan lawanku... dan aku cuma ingin menyentuhmu mengubat jiwamu.. ah.. bukan, aku ingin merinduimu! meski kita tak lagi pernah bertatap mata . . . semoga kita ketemu ya?
0
Aug 30, 2022
Aug 30, 2022 at 10:33 AM UTC
bukan puisi buatmu tapi kisah dongeng malam buat kamu
"Jika benar kurangnya dia bisa sempurnakan kamu Apa kurangku tak cukup?" Kita di kamarmu malam ini Membahas apakah semesta masih maukan kita? Apakah alam masih setuju... . . . . 10 tahun berlalu pantas Kita masih belum dewasa tentang soal ini... Seperti ada sesuatu yg menahan Tapi tak kau luahkan... Dan saat itu tak ku kenal lagi permintaanmu Permintaan yg polos, tapi menghancurkan... Tapi aku pasti itu mmg benar kamu Yg susah tuk ku duga Keras kepala Amarahmu tak pernah reda Sayangmu tak kau nampakkan... Dan mau mu yg tak jelas... Kamu berantakkan Halusku sebut namamu... lalu, "Dunia takkan pernah habis kau jelajahi Kelak kau kan pertemukan apa yg tertulis buatmu Semesta juga harus setuju jika itu sudah kehendaknya Jadi tak usahlah kau risau" Semakin jauh Kita tak bertemu lagi.
0
Sep 25, 2021
Sep 25, 2021 at 3:29 PM UTC
Selamat jalan
Lilin telah nyala Musik telah berirama Inikah saatnya? Tanpa diminta ia datang Aku yang tak menutup pintu, pasrah Ia berjalan di alur kerangka kepalaku di setiap sudut batinku Abu abu, tapi bahagia Lilin padam Musik berhenti Tapi mengapa dia tak pergi? Tolong, waktu mu sudah habis Kau bisa pergi, jejak abu Jangan takut Aku tidak lupa dengan keabu abuannya Aku hanya tak bisa berpikir Mengapa dia memilih menjadi jejak abu?
0
Oct 21, 2018
Oct 21, 2018 at 2:20 PM UTC
Jejak Abu