"diujung" poems
kita bertemu dikala petang
dua jari saling bersilang
aku minta izin bertualang
kau beri restu penuh sayang
dengan itu ku bertualang
tak peduli akan halang rintang
semua halang aku terjang
dan diujung senja aku menang
wajah penat berganti riang
sang aku menjadi sang petualang
semua halang kan ku kenang
untuk diceritakan kepada sang sayang
sebelum sang senja hilang
kupenuhi janji untuk pulang
dan dikalau aku datang
aku disambut sang mata berlinang
Mar 2, 2019
Mar 2, 2019 at 12:49 AM UTC
Cinta kembali muncul saat itu
Bersamaan dengan senyuman pasangan itu
Tatapan mata mereka bertemu saat itu
Yang satu pernah mencintai
Yang satu pernah dicintai
Cinta kembali muncul saat itu
Bersamaan dengan semburat oranye diujung barat dunia
Digantikan dengan gelapnya malam bersama terangnya bintang.
Aug 11, 2018
Aug 11, 2018 at 8:26 AM UTC
Kenapa diam?
Matamu berisik ingin berbisik—perasaanku ini asing, mengusik—tapi kamu tahu, kan?
Kamu masih diam.
Kenapa menjauh?
Aku bukan rumah tak bertuan—aku ini sudah dirumah—tapi kamu salah rumah, kan?
Kamu diam lagi.
Kenapa mengelak?
Setiap kenangan ada di angan, kamu langsung meninggalkan ruangan—jangan, jangan kamu, tidak boleh kamu—dirapalkan terus menerus seperti denting jam dinding tua diujung jalan, kamu takut, kan?
Kamu diam lagi.
Kenapa menyerah?
Rautmu tidak terbaca, saat iris kita beradu lewat kaca.
Begitu pula dengan langkahmu, yang berhenti setelah ujung sepatu kita bertemu.
Inginku kita bertemu lagi besok pagi, nyatanya mulutmu hanya tahu elegi—karena aku maunya dia, makanya aku meninggalkan ruangan, cukup dia—rasa ini mati sebelum sempat mendapatkan hati.
Feb 6, 2021
Feb 6, 2021 at 1:48 PM UTC
Daun kuning berjatuhan
Angin dingin menghantarkan salam dari Tuhan
Aku melihat pepohonan yang menari
Semua tampak indah menyejukkan hati
Aku hanya diam..
Diam tak tahu harus kemana
Kabut putih menutup mataku
Mendorongku yang berdiri terpaku
Imajinasiku kabur
Aku akan jatuh
Dan...
Dimanakah aku?
Diruangan serba putih aku terbangun
Menatap dengan pandangan memudar
Siapakah kamu?
Gadis kecil berlari dan tertawa
Berlari menjatuhkan bunga-bunga
Membuka pintu diujung ruangan
Aku berjalan...
Berjalan membuka pintu yang sama
Wanita cantik berambut pirang
Cantik rupawan mengalahkan Godiva
Seorang gadis kecil memeluknya erat
Dia...
Dia yang selama ini kucari
Dia yang selama ini kunanti
Aku mencoba...
Mencoba untuk menyentuhnya
Jari-jarinya yang ramping menepisku
Aku berpikir dia membenciku
Namun tidak
tidak...
Dia berkata padaku,
"Kembalilah, ini belum saatnya"
Kematian bernegosiasi dengan kemungkinan
Kemungkinan untuk meraih kehidupan
Di alam bawah sadar
Aku akan kembali menemukannya
-Kediri, 18 Maret 2018
Mar 25, 2018
Mar 25, 2018 at 11:22 PM UTC
Jika Tuhan tidak pernah sampai
Lalu aku ada dimana?
Ditumpukan sisa rautan pensil, katamu
Habis, kandas menyisakan kehitaman diujung-ujung tajamnya
Jika Tuhan tidak pernah mengirim pesan
Lalu aku bercerita dimana?
Pada kerumunan isi kota yang melenakan
Padat, riuh semua ingin berbicara
Tuhanku mendengar, Tuhanmu juga
Kemudian bagaimana dengan kebebasan?
Ia ada, tanpa diminta.
B_A
24 Agustus 2022
Aug 23, 2022
Aug 23, 2022 at 7:34 PM UTC
Tak ingin hilang,
tak ingin juga berpetualang.
Seakan tak rela,
Namun juga tak ingin menyesal nantinya.
Kau yang berdiri diujung jalan
Dibaliknya terdapat penyesalan
Dia yang berjalan disisi
Angannya yang tak pasti
Temanku berkata, “sudahlah jangan kau pikirkan yang belum pasti”
Tapi kenyataannya aku yang tak tau bagaimana caranya berhenti
“Nanti kau juga capek sendiri”, sahutnya.
Dec 21, 2020
Dec 21, 2020 at 11:48 AM UTC