Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
Sarah Oct 2013
Maaf
Maaf
Maaf

Kau bukan secarik kertas
yang dibuang begitu saja setelah kupakai
Kusut, coreng-moreng
Bukan, kau adalah kartu pos
yang disimpan rapi di lemari jati
Meski usiamu tiada muda

Kau bukan terik matahari
yang dicaci orang ketika ada,
diabaikan ketika tiada
Bukan, kau adalah suara rintik hujan
yang dipuji, dikagumi, didengar
Meski kau membasahi baju mereka

Kau bukan jam rusak
yang digantung terlalu tinggi untuk diganti
Berdebu, usang
Bukan, kau adalah api
yang dicari orang sampai kalang-kabut
Meski kau membakar rumah mereka

Tapi maaf jika aku membuatmu merasa seperti
secarik kertas, terik matahari, dan jam rusak
Bukan niat ingin menyakiti
Tapi aku memang tak bisa dicintai

Maaf.
GOD I **** AT WRITING IN BAHASA INDONESIA but hey this is my first attempt so please forgive me?
Gina Sonya Mar 21
Kepada ia yang anggap suara rakyat gonggongan anjing, aku harap matimu dikoyak anjing.

Kepada ia yang ketuk palu di gedung berisi maling—mengabaikan kami yang mau hidup tanpa takut maling mengambil hak kami—aku harap dosamu tak terampuni.

Kepada ia yang bersenang-senang dalam gelembung—mencemooh kami yang sedang berkabung—aku harap Tuhan beri hukum dan kepalamu digantung.

Tidakkah kamu malu wahai bandit yang nuraninya saru? Tidakkah kamu takut dosa mencabik kamu sepanjang waktu? Tak perlu kutanya pun jawabanmu aku sudah tahu. Sudah pasti hatimu begitu busuk.

Semoga, tubuhmu terkoyak sampai jadi debu. Semoga kepalamu tergantung dan jiwamu membusuk.

Kepada kalian bandit-bandit negeri, aku harap neraka menyambut kalian saat mati nanti.
Semoga pemerintah dzolim mati bersama najis

— The End —