"detiknya" poems
Saat waktu sedang berjalan menjemput,
Aku akan mencintaimu untuk setiap detiknya.
Feb 6, 2018
Feb 6, 2018 at 2:29 PM UTC
Sesekali
Malam bersaksi
Ialah yang kau pandang
Lewat satu-satunya
Jendela hatimu
Jam dinding
Pada tiap detiknya
Merana
Setelah menghitung
Detak jantungmu
Tembok kerap
Meniup nestapa
Saat kau di pembaringan
Meliuk pada
Hamburan mimpimu
Selamat tidur,
Degup duka.
Aku sebuah gelas
Di ujung kamarmu
Yang terlalu penuh
Minumlah sebelum
Terlelap
Agar aku dapat juga
Bersaksi perihal
Kecup dan detak jantungmu
Mar 19, 2016
Mar 19, 2016 at 3:41 AM UTC
bagaimana kau masih bisa percaya
waktu itu berjalan maju
jika engkau dapat dengan mudah mematahkan detik-detiknya
dan kenangan adalah salah satu kemunduran
yang kita percayai sebagai sebuah kemajuan?
Oct 31, 2018
Oct 31, 2018 at 10:49 AM UTC
Terang bulan,
padahal ini tertulis di pukul enam yang masih berembun setelah fajar
Ntah bagaimana yang muncul adalah terang bulan.
Bukan mengenai kisah anak-anak yang dipaksa meminta-minta, menjual kerupuk tiga ribuan.
Hari ini terang bulan muncul lebih awal, dua belas jam lebih awal.
Siapa yang tau isi kepala yang ditutupi rambut hitam orang-orang?
Seperti apa terang bulan yang ada di dalam pikirannya?
Terang bulan diisi dengan ketakutan-ketakutan bertambahnya angka pada umur.
Merasa ada yang salah dengan putaran waktu,
Ia belum siap ternyata.
Sementara hari tidak menunggu apapun, bahkan detiknya.
Terang bulan tidak benar-benar ada, ia hanya muncul saat orang-orang sedang bahagia yang serupa.
Selebihnya adalah sabit di ujung bulan yang kadang muncul sekadarnya.
B_A
11 Maret 2020
Mar 10, 2020
Mar 10, 2020 at 8:11 PM UTC
Ikatan ini tak bisa mengontrol segalanya,
Ikatan ini tak harus tau setiap detiknya "aku sedang apa",
Ikatan ini tak mesti cemburu dengan teman lelakiku,
Ikatan ini tak berhak mengatur pakaian yang kan ku gunakan,
Ikatan ini sebaiknya berikan aku kebebasan, karena bisa saja ku gunting ikatan ini dan akan benar-benar bebas.
-lhm
Oct 23, 2020
Oct 23, 2020 at 10:51 PM UTC