Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"deras" poems
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC
Hujan Pembawa Rindu
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Continue reading...
29
*Hujan hari ini begitu deras Dan selepasnya tak kulihat pelangi Tak seperti dongeng-dongeng malam Atau ayat-ayat motivasi penguat hati* *Hujan hujan sebelumnya juga begitu Ku lihat ikan-ikan kesakitan terkena derai siram hujan Lelaki tua peminta kedinginan kebasahan Listrik menyambar, tiang jatuh, seorang anak tertimpa* Buruk, buruk, buruk "Hei ayo bermain!" *Lamunanku terjerat Segerombolan bocah kecil menari dibawah derasnya hujan Bernyanyi gembira nyengir tak terkira Aku menjeling, aku mempelajari, aku mulai tersenyum Agaknya aku yang lupa Tak kupandang rumput kehausan bersorak menanti tibanya air minum mereka Sisi pandangkulah salah Aku menyalahkan pelangi Tak kulihat bahwa petani begitu bahagia dan menanti Ini semua bukan tentang pelangi warna warni itu Pelangi yang sesungguhnya ada disekelilingmu Jangan merana Jangan sepertiku Yang kulihat hanya aku dan segala kesepian ini*
0
Oct 15, 2016
Oct 15, 2016 at 8:52 AM UTC
Pelangi Ucapan Syukur
Desember bersambut hujan, menderas berlukiskan mendung. Sejuk menusuk tulang, yah hujan desember memang tak main - main dan tak tanggung - tanggung, serius. Memelukmu dingin bertubi - tubi. Belajar dari 'hujan desember' Pengorbanan seperti apa yang akan kau ukir untuk membuka pintu kemenangan dakwah ? Setergenang jalan setapak kah, dengan guyuran hujan ? Atau, sesemangat hujan desember kah ? Dengan turunnya susul menyusul melembabkan tanah tahun depan, menyusun rencana agar tanah tak mengering dan gugurlah dedaunan karena cuaca tak menentu .. Segemuruh deras hujan kah ? Berirama dan memberi isyarat bahwa lagi - lagi akan menggenang walau ada saja suara sumbang "aah, hujan turun lagi, sampai kapan " Dan entah akan kembali kah ia, dengan desember yang sama atau justru tertelan waktu dan mati .. Maka, prestasi apa yang telah terukir setahun ini dan rencana - rencana apa yang telah tersusun rapi untuk mendobrak peradaban kelam ini ? Mengembalikan peradaban gemilang "KHILAFAH ISLAMIYAH" .. Mengubur Demokrasi Kapitalisme Sekularisme dan tak bergairah lagi untuk bangkit .. Jangan sampai waktu tak menggenapkan umur . Jangan sampai terlanjur gigit jari, menyesal. Dan, jangan pernah bosan untuk tetap menyeru walau terus dihujat . Demi terterapkannya syari'at islam dan hidup sejahtera dalam naungannya .. Maka, jangan lupa sedekapkan kedua tangan dan berdoalah akan kemenangan islam dipercepat .. Karena hidup adalah IBADAH, AMANAH, dan MUHASABAH .. Allahumma Shayyiban Naafi'an ..
0
Feb 23, 2015
Feb 23, 2015 at 4:51 AM UTC
Be Rain
Desember bersambut hujan, menderas berlukiskan mendung. Sejuk menusuk tulang, yah hujan desember memang tak main - main dan tak tanggung - tanggung, serius. Memelukmu dingin bertubi - tubi. Belajar dari 'hujan desember' Pengorbanan seperti apa yang akan kau ukir untuk membuka pintu kemenangan dakwah ? Setergenang jalan setapak kah, dengan guyuran hujan ? Atau, sesemangat hujan desember kah ? Dengan turunnya susul menyusul melembabkan tanah tahun depan, menyusun rencana agar tanah tak mengering dan gugurlah dedaunan karena cuaca tak menentu .. Segemuruh deras hujan kah ? Berirama dan memberi isyarat bahwa lagi - lagi akan menggenang walau ada saja suara sumbang "aah, hujan turun lagi, sampai kapan " Dan entah akan kembali kah ia, dengan desember yang sama atau justru tertelan waktu dan mati .. Maka, prestasi apa yang telah terukir setahun ini dan rencana - rencana apa yang telah tersusun rapi untuk mendobrak peradaban kelam ini ? Mengembalikan peradaban gemilang "KHILAFAH ISLAMIYAH" .. Mengubur Demokrasi Kapitalisme Sekularisme dan tak bergairah lagi untuk bangkit .. Jangan sampai waktu tak menggenapkan umur . Jangan sampai terlanjur gigit jari, menyesal. Dan, jangan pernah bosan untuk tetap menyeru walau terus dihujat . Demi terterapkannya syari'at islam dan hidup sejahtera dalam naungannya .. Maka, jangan lupa sedekapkan kedua tangan dan berdoalah akan kemenangan islam dipercepat .. Karena hidup adalah IBADAH, AMANAH, dan MUHASABAH .. Allahumma Shayyiban Naafi'an ..
Continue reading...
17
JOGJA “Jogja sedang berusaha menutupi kesedihan karena penyesalannya, buktinya akhir-akhir ini Jogja ramai sekali” “Untuk apa Jogja bersedih? Bukankah banyak yang mencintainya selama ini? Buktinya Jogja bisa dengan mudahnya tebar keramahan kesana-kemari kemudian mendapatkan banyak hati.” JAKARTA “Jakarta sudah tidak kuat lagi menahan sakit perasaannya hingga ia menangis, buktinya kemarin hujannya turun deras sekali” “Untuk apa Jakarta menangis? Bukankah Jakarta begitu kuat? Buktinya ia tahan mendengar suara bising dari banyak pasangan kekasih yang melempar janji-janji palsu selama ini.” BANDUNG “Bandung bingung menanggapi apa yang terjadi terhadap Jogja dan Jakarta, buktinya ia hanya bisa diam.” “Tidakkah kau tahu bahwa bandung selalu bersuara? Tetapi selama ini suaranya tersamarkan oleh suara hujan. Buktinya suaranya tidak bisa dibuktikan.”
0
Dec 15, 2017
Dec 15, 2017 at 2:11 PM UTC
Percakapan sepasang kekasih
jangan amuk datang di sela hening, hujan resah masih melaut di tengah jalan jangan angin bisikkan hina, hujan pijak hawa kenyang makan terpaan burung tak bisa terbang jadi makanan hewan atap masjid berhamburan masih kumandang azan jangan rintik sendiri di atas pasang cari sampai gersang tak dapat sayang deras tepi jalan teduh sendiri linang sampai malam ditinggal mati
0
Jan 10, 2016
Jan 10, 2016 at 9:53 AM UTC
senandung hujan
Mendung gelap kala itu Angin yang berlari-lari Kilat petir mengambil alih langit Kegelapan menyelimuti Burung yang terbang diantaranya Satu diantara membuat perbedaan Burung yang duduk diatas pagar Seakan kelelahan melawan Meratapi kegelapan menerpa Hujan deras menyelimutinya Duduk terdiam Lelah akan melawan.
0
Oct 25, 2017
Oct 25, 2017 at 10:00 AM UTC
Lelah.
Jakarta, 22 Mei 2008 Ku tuliskan apa yang ku rasakan Jantungku berdebar kencang Nadiku bergetar kuat Darah ku mengalir deras Ku gambarkan apa yang kurasakan Aku teriak keras Aku mengacak semua Aku menangis kencang Ragaku tegang Mataku kantuk Suasana seram Begitu malam gelap Larut sudah ku tonton Cerita hantu bertaruh nyawa Ya, meski hanya sebuah cerita Namun ini karya mereka Yang harus dihargai Ada pun senang melihatnya
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:40 AM UTC
Rasa 1
some days, his eyes are full with angst his arms down his sides, with his fists as closed as his ears and all I want to say is *I know how it is to be so angry you don't know where to go because the whole world lights you up like a dry stick of explosives, how it is to have your feelings being so big they start to feel like extensions of your limbs, waving uncontrollably and all you can do to avoid their friction from setting you on fire is either to cut them off or keep your arms down your sides* but I step aside, because he can no longer take in my words his six year old eyes are filled with the nothingness of an anger so big and unlabeled but someday, I will tell him and he will understand I will tell him that even though my blood is not in his veins, I will cleanse it from soot and silt, I will be his human shield from this world I will tear kingdoms apart and slay every last creeper just to help him level up and I will uncontrollably, explosively and unconditionally love him // vissa dagar är hans ögon fyllda med ångest hans armar längs sidorna, med nävar lika hårt stängda som hans öron och allt jag vill säga är att *jag vet hur det är att vara så arg att du inte vet vars du ska ta vägen, för hela världen får en att tända som en torr bunt sprängämnen, hur det är att ha känslor så stora att de börjar kännas som förlängningar av dina egna armar och ben, okontrollerbart viftande och allt du kan göra för att förhindra att deras friktion tänder eld på dig är att antingen hugga av dem eller hålla armarna längs sidorna* men jag går undan, för han kan inte ta in mina ord längre hans sexåriga ögon fyllda med ingentinget av en ilska så stor och oettikerad ilska men någon dag ska jag berätta för honom och han ska förstå jag ska berätta för honom att även fast mitt blod inte flyter genom hans artärer, ska jag rensa det från smuts och sot, jag ska vara hans mänskliga sköld från den här världen jag ska slita kungariken itu och döda varenda creeper bara för att hjälpa honom att levla upp och jag ska okontrollerbart, explosivt och villkorslöst älska honom
0
May 30, 2013
May 30, 2013 at 4:46 AM UTC
someday
some days, his eyes are full with angst his arms down his sides, with his fists as closed as his ears and all I want to say is *I know how it is to be so angry you don't know where to go because the whole world lights you up like a dry stick of explosives, how it is to have your feelings being so big they start to feel like extensions of your limbs, waving uncontrollably and all you can do to avoid their friction from setting you on fire is either to cut them off or keep your arms down your sides* but I step aside, because he can no longer take in my words his six year old eyes are filled with the nothingness of an anger so big and unlabeled but someday, I will tell him and he will understand I will tell him that even though my blood is not in his veins, I will cleanse it from soot and silt, I will be his human shield from this world I will tear kingdoms apart and slay every last creeper just to help him level up and I will uncontrollably, explosively and unconditionally love him // vissa dagar är hans ögon fyllda med ångest hans armar längs sidorna, med nävar lika hårt stängda som hans öron och allt jag vill säga är att *jag vet hur det är att vara så arg att du inte vet vars du ska ta vägen, för hela världen får en att tända som en torr bunt sprängämnen, hur det är att ha känslor så stora att de börjar kännas som förlängningar av dina egna armar och ben, okontrollerbart viftande och allt du kan göra för att förhindra att deras friktion tänder eld på dig är att antingen hugga av dem eller hålla armarna längs sidorna* men jag går undan, för han kan inte ta in mina ord längre hans sexåriga ögon fyllda med ingentinget av en ilska så stor och oettikerad ilska men någon dag ska jag berätta för honom och han ska förstå jag ska berätta för honom att även fast mitt blod inte flyter genom hans artärer, ska jag rensa det från smuts och sot, jag ska vara hans mänskliga sköld från den här världen jag ska slita kungariken itu och döda varenda creeper bara för att hjälpa honom att levla upp och jag ska okontrollerbart, explosivt och villkorslöst älska honom
Continue reading...
43
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya. Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman. Serreh, 2017
0
Aug 17, 2017
Aug 17, 2017 at 10:21 AM UTC
Memamah Bangkai di Halaman
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya. Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman. Serreh, 2017
Continue reading...
3
antologi itu adalah aliran air deras dari puncak gunung manakala puisi adalah anak-anak alunan buih lunak di kaki terjunan.
0
Dec 26, 2018
Dec 26, 2018 at 2:26 AM UTC
buku itu
6 a.m di Surabaya - 1 a.m di Gaza Saat bangun tidur badanku terasa lemas. Masih terlalu pagi aku masih ingin berbaring di kasur. Sambil kubuka akun X orang orang Gaza yang kukenal. Tapi hanya akun Omar yang tampak aktif. Memposting apapun yang sedang dia alami. Omar mengeluh susah tidur. Kedinginan berselimut kain tipis usang. Banyak nyamuk masuk ke tendanya. Sementara di luar suara zanana mengganggu. Diselingi ledakan bombardir pesawat jet. 10 a.m di Surabaya - 05 a.m di Gaza Aku bosan menunggu antrian bank yang ramai. Sambil menunggu sepi kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh melihat banyak belatung. Merubung sisa tepungnya yang hampir kadaluwarsa.   Dia tak bisa lagi membuat roti. 11 a.m di Surabaya - 06 a.m di Gaza Aku menunggu ojek online di tepi jalan. Sambil merokok kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh kehabisan sabun dan shampo. Sementara air untuk mandi dan mencuci. Hanya tersisa setengah ember. 01 p.m di Surabaya - 08 a.m di Gaza Aku sedang makan siang di Peneleh. Makan pecel sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh saat mengantri di toko. Menghabiskan waktu dan tenaga. Berdesak desakan hanya untuk sekantung roti. 04 p.m di Surabaya - 11 a.m di Gaza Saat sore aku nongkrong di Wonokromo. Minum kopi sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah belanja di pasar. Bawang , tomat , terong , kentang dan cabai. Harganya semakin naik tak terjangkau. 06 p.m di Surabaya - 01 p.m di Gaza Aku sedang duduk di beranda masjid. Menunggu isya sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah berjalan jauh. Merasakan kepanasan dan kelelahan. Hanya untuk mengecas ponselnya di solar panel dekat pantai. 08 p.m di Surabaya - 03 p.m di Gaza Aku masih makan malam di Tunjungan. Makan rawon sambil kubuka lagi akun Omar. Ternyata di Gaza sedang hujan deras. Omar mengeluh setelah tendanya kebanjiran. Barang barangnya basah terkena air hujan. 09. p.m di Surabaya - 04 p.m di Gaza Temanku mengajak minum kopi di kafe. Minum cappucino sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh sudah lama tidak makan ayam. Yang bisa dia lakukan hanyalah menggambar ayam. Lalu menaruhnya di atas piring kosong. 10 p.m di Surabaya - 5 p.m di Gaza Aku sedang menonton sepakbola. Saat jeda kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah memeriksa Gofundme. Hampir seminggu tak mendapat donasi. Sementara uangnya hanya tersisa puluhan shekel. 01 a.m di Surabaya - 08 p.m di Gaza Tengah malam aku bersiap tidur. Sambil berbaring di kasur kubuka lagi akun Omar. Ternyata pemukiman dekat tendanya baru saja dibombardir. Omar mengeluh setelah kelelahan membantu evakuasi. Dia hampir muntah melihat serpihan tubuh berlumuran darah. 03. a.m di Surabaya - 10 p.m di Gaza Aku merasa kesulitan tidur. Sambil mendengarkan musik kubuka lagi akun Omar. Ternyata dia masih tetap mengeluh. Merasa lelah terus menerus mengeluh. Terlalu banyak keluhan hingga kelelahan mengeluh. Aku juga lelah melihat Omar terus mengeluh. Tapi orang yang menderita memang harus mengeluh. Hanya mayat yang tak bisa lagi mengeluh. Mayat tak merasakan penderitaan untuk dikeluhkan. Daripada menjadi mayat lebih baik Omar tetap hidup walaupun terus mengeluh. November 2024 By Alvian Eleven
0
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:44 PM UTC
OMAR SELALU MENGELUH
6 a.m di Surabaya - 1 a.m di Gaza Saat bangun tidur badanku terasa lemas. Masih terlalu pagi aku masih ingin berbaring di kasur. Sambil kubuka akun X orang orang Gaza yang kukenal. Tapi hanya akun Omar yang tampak aktif. Memposting apapun yang sedang dia alami. Omar mengeluh susah tidur. Kedinginan berselimut kain tipis usang. Banyak nyamuk masuk ke tendanya. Sementara di luar suara zanana mengganggu. Diselingi ledakan bombardir pesawat jet. 10 a.m di Surabaya - 05 a.m di Gaza Aku bosan menunggu antrian bank yang ramai. Sambil menunggu sepi kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh melihat banyak belatung. Merubung sisa tepungnya yang hampir kadaluwarsa.   Dia tak bisa lagi membuat roti. 11 a.m di Surabaya - 06 a.m di Gaza Aku menunggu ojek online di tepi jalan. Sambil merokok kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh kehabisan sabun dan shampo. Sementara air untuk mandi dan mencuci. Hanya tersisa setengah ember. 01 p.m di Surabaya - 08 a.m di Gaza Aku sedang makan siang di Peneleh. Makan pecel sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh saat mengantri di toko. Menghabiskan waktu dan tenaga. Berdesak desakan hanya untuk sekantung roti. 04 p.m di Surabaya - 11 a.m di Gaza Saat sore aku nongkrong di Wonokromo. Minum kopi sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah belanja di pasar. Bawang , tomat , terong , kentang dan cabai. Harganya semakin naik tak terjangkau. 06 p.m di Surabaya - 01 p.m di Gaza Aku sedang duduk di beranda masjid. Menunggu isya sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah berjalan jauh. Merasakan kepanasan dan kelelahan. Hanya untuk mengecas ponselnya di solar panel dekat pantai. 08 p.m di Surabaya - 03 p.m di Gaza Aku masih makan malam di Tunjungan. Makan rawon sambil kubuka lagi akun Omar. Ternyata di Gaza sedang hujan deras. Omar mengeluh setelah tendanya kebanjiran. Barang barangnya basah terkena air hujan. 09. p.m di Surabaya - 04 p.m di Gaza Temanku mengajak minum kopi di kafe. Minum cappucino sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh sudah lama tidak makan ayam. Yang bisa dia lakukan hanyalah menggambar ayam. Lalu menaruhnya di atas piring kosong. 10 p.m di Surabaya - 5 p.m di Gaza Aku sedang menonton sepakbola. Saat jeda kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah memeriksa Gofundme. Hampir seminggu tak mendapat donasi. Sementara uangnya hanya tersisa puluhan shekel. 01 a.m di Surabaya - 08 p.m di Gaza Tengah malam aku bersiap tidur. Sambil berbaring di kasur kubuka lagi akun Omar. Ternyata pemukiman dekat tendanya baru saja dibombardir. Omar mengeluh setelah kelelahan membantu evakuasi. Dia hampir muntah melihat serpihan tubuh berlumuran darah. 03. a.m di Surabaya - 10 p.m di Gaza Aku merasa kesulitan tidur. Sambil mendengarkan musik kubuka lagi akun Omar. Ternyata dia masih tetap mengeluh. Merasa lelah terus menerus mengeluh. Terlalu banyak keluhan hingga kelelahan mengeluh. Aku juga lelah melihat Omar terus mengeluh. Tapi orang yang menderita memang harus mengeluh. Hanya mayat yang tak bisa lagi mengeluh. Mayat tak merasakan penderitaan untuk dikeluhkan. Daripada menjadi mayat lebih baik Omar tetap hidup walaupun terus mengeluh. November 2024 By Alvian Eleven
Continue reading...
78
Akhir-akhir ini kemarau tak kunjung pulang aku ingin hujan aku ingin dia datang turun deras mengucuri segala resah, rindu dan perkara yang tak kunjung hilang aku ingin hujan datang membawaku pergi bersamanya mengalir melewati segala sudut dan celah dunia supaya ketika saatnya aku pulang, resah dan perkaraku telah tertinggal di tempat-tempat yang mungkin tak akan pernah kusinggahi lagi.
0
Aug 28, 2019
Aug 28, 2019 at 4:29 AM UTC
Aku ingin hujan
Kau puisi indah pengisi kekosongan jiwa Tapi kau pinta menukarnya dengan luka yang mendarah deras Luka untuk benakku yang layu Dapatkah kau rasakan perihnya? Hingga kau buat tangisku terkuras Kau sentuh hati ini dengan kebohongan Aku tersesat dalam jerat samudara kepicikan nuranimu Kau ciptakan murka nan segunung lara di pijakan rapuhku
0
Apr 4, 2025
Apr 4, 2025 at 12:02 AM UTC
Luka
Tentang kamu yang sedang tenggelam dalam ambisimu Aku disini masih menunggu kabar Sejenak aku tak ingin memaksa Tapi hati ini butuh kepastian Jawab panggilan semesta ini ya Karena aku tahu batasku Tidak punya hak untuk meminta Tidak punya cerita untuk diprioritaskan Hanya menonton sandiwaramu dari jauh Bilang bahwa kamu mencoba Tapi hatimu bahkan tak beranjak Aku bingung harus bagaimana Hujan ini terlalu deras untuk diteduhkan Tolong cepat kembali Beri hati ini kabar Ada mahluk yang akan mencurinya
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 11:33 AM UTC
Kebingungan