"daun" poems
Sala bala ang mangimon
Kapin pa pag may rason
Buang na ina bala dayon
Kung nagpalangga ka lang halin sa tagipusuon
Adlaw2x himuon ang tanan
Mabal-an lang ang kabutigan
Madakpan lang nga ginaluiban
Sang nobyo nga ginahalungan
Kung wala gid man dapat pangimunan
Ti ngaa indi gid mahimo palayuan
Kung wala gid man sila
Ngaa himu-himuan ka pa storya nila
Kung sobra ka man sa reaksiyon
Ti kay bali2x man ang rason
Kung gulpi ka lang daun gadesisyon
Sa ulihi ikaw pa ang kontrahon
Tuod nga indi mo gid malikawan
Mga tawo nga indi ka gid maintsindihan
Di bala mas mayo na lang ang imunan
Kis-a sa panghatag-hatag ka lang sa iban
Jan 17, 2016
Jan 17, 2016 at 6:18 AM UTC
Untukmu Cinta
Sejuta kata tercipta untukmu
Segenap jiwa ku serahkan padamu
Hingga akhir waktu ku sembahkan hanya untuk mu
Meski tak kau terima
Cinta dalam hati ku
Terhempas begitu saja
Bagai dari langit ku jatuh
Ingin ku berenang di lautan
Arungi samudera bersama ombak
Desir pasir melagukan alunan daun
Lambaian tangan untuk berselancar
Indah cinta mengikat raga
Satu aliran nadi di salam darah
Mulut mengucap selalu kata cinta
Hati pun akan selalu bahagia
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:53 AM UTC
Waktu aku kecil
Dunia adalah kubus empat belas inci
Yang menayangkan gambar warna-warni
Penuh imajinasi
Waktu aku kecil
Dunia adalah permen loli warna pelangi
Merah jingga kuning hijau biru nila ungu menari
Rasanya manis seperti senyum mentari
Waktu aku kecil
Dunia adalah bulir-bulir air hujan
Yang jatuh mengaliri selokan
Disambut riang tawa kawan-kawan
Waktu aku kecil
Dunia adalah daun-daun kering
Tertiup angin ketika fajar menyingsing
Lalu berputar seperti gasing
Waktu aku kecil
Apalah arti politik dan ekonomi
Tak mengerti sengketa dan perang sana-sini
Yang aku mau boneka Barbie!
Sekarang..
Waktu dan Aku sudah tidak kecil lagi
Waktu tambah berisi
Aku bertambah tinggi
Harus lalui gejolak emosi
Tak bisa bicara seenak hati
Harus menyadari
Banyak tanggung jawab masih menanti
Waktu..
maukah berputar bersamaku?
Biarkan angin bertiup
Kembali ke masa itu
Jul 17, 2013
Jul 17, 2013 at 10:13 AM UTC
Senja masih terasa sama , ia hadir menyapa seakan menghadirkan sejuta tanya ?
kemudian tak lama 'anganku mulai bermain , berhalusinasi akan sebuah daun yang jatuh kemudian terbang bersama angin .
hidup tanpa senja seakan berjalan tiada tulang , tak berdaya , rentan dan rapuh .
appapun yang ingin aku sampaikan melalui goresan ini , adalah bukti bahwa aku tidak pernah mengingkari janji Allah ,
bahwa senja akan terus menemuiku setiap ia akan pulang .
meskipun terkadang ia hadir bersama rintikan hujan yg terus menerus membasahi tanah jakarta
Dan aku tak tau lagi , kapan aku bisa menyaksikan senja tenggelam di pinggir pantai lengkap dengan deburan ombak .
Senja engkau berhasil membuat rekaman itu selalu berputar memplay memori ku bersama bapak . memori dan kenangan di masa kecil itu .
aku tidak pernah memikirkan apakah yg harus ku cari esok hari
Feb 11, 2015
Feb 11, 2015 at 5:04 AM UTC
Aku terlalu kecil
Sekecil titik di atas kertas kusut
Aku hanyalah satu dari ribuan
bahkan tak terlihat
Terlindung dalam cangkang sempit dan tipis
Bersembunyi di balik daun yang mulai berubah warna
Rumah pertamaku
akhirnya aku terlahir
sebagai sesuatu yang aneh
Aku si buruk rupa
Tubuhku dipenuhi bulu
Merangkak lemah menyusuri ranting
Menggerogoti daun disekitar
membuatnya berlubang
melarikan diri dari burung
Bergulat dengan semut rangrang
Membuat saya jatuh ke tanah
Hingga buluku rontok berserakan
Hanya cacing yang menyapa
Mereka membenci saya sangat
Aku bisa terbunuh, tidak semuanya menerimaku
sampai aku terjebak dalam dimensi lain
Aku si ulatbulu kesepian yang bersembunyi
Bertapa di dalam kantung usang yang kecil
Mencoba untuk membunuh waktu
Berjuang dalam kegelapan untuk mencapai keindahan
Sudah cukup persinggahanku
Mengarungi kerasnya penantian panjang yang membelenggu
Aku terlahir kembali
menjadi berbeda dan mereka menyukaiku
kebahagiaan berlimpah tiba
terbang tanpa batas dengan kedua sayap yang cantik
pergi ketempat yang indah yang kumau
Sep 16, 2016
Sep 16, 2016 at 10:23 PM UTC
"Cahaya redup itu umpama semesta alam."
birunya naungan langit fajar
ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun
pada hari itu kau berujar
"Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?"
yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu
gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku
sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara
ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya
"Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?"
pernah
taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban
kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu
sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang
"Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?"
"Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan."
matamu mengerling menerawang memandang langit Juni
apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini?
"Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham."
jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat
ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan
dalam gelap dalam redup
lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua
"Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku."
diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa
bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya
apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini?
satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni
apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu?
lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras
seolah tak pernah ingin lepas.
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
Mendengarmu berceloteh,
Daun telingaku kian mengecil,
Menciut sesak dalam lubangnya,
Hingga tiada bunyi menggugah pikiran.
Memandangmu beserta materimu,
Kelopak mataku tak kuasa terbuka,
Ku paksa terbelalak, menatap tajam,
Sampai pandanganku kosong hampa.
Menghadiri kelas mata kuliahmu,
Detik jarum jam seakan tertidur tuk berdetak,
Ruangan seakan penuh dengan jeritan jiwa,
Tinggallah hasrat untuk kembali pulang.
Wahai bapak dosenku,
Adakah engkau menawarkan air di panasnya hati,
Akankah kau menabur harum bunga di otak yang usang,
Atau apakah rasa jemu takkan terganti?.
Mar 14, 2015
Mar 14, 2015 at 3:10 AM UTC
Lalu lintas jalan padat merayap pengap namun tetap senyap
Karena dia menulikan setiap kata-kata di perempatan jalan
Pula desah resah mata-mata yang memandang
Kunang-kunang kuning itu tiba-tiba melintas tenang
Mengambang lembut bagai daun dihanyutkan arus
Membius lampu-lampu sein agar berhenti mengedip
Malam itu, di perempatan jalan itu cahaya meredup
Orang-orang tak tahu menahu, beberapa berandai
Indah juga jika dipelihara di pekarangan rumah
Satu bangkit lalu berjingkat mendekat
Kunang-kunang kuning itu melesat
Tiba-tiba semua orang mengejar berlari
Ingin agar Kunang-kunang itu dipelihara di rumah
Tukang becak, penjaja koran, bos besar perusahaan, mahasiswa,
semuanya tak mau mengalah
Berlari, menyerobot, menggapai, meraih, mendorong,
menginjak, menjambak, mendepak,
merusak, menolak.
Lelah. Kunang-kunang Kuning menang
Tak ada yang berhasil merebutnya
Orang-orang pun lesu, menyumpah,
dan kembali ke apa yang mereka kerjakan sesaat lalu
sambil bergumam
"Tak ada Kunang-kunang Kuning di pekarangan rumah"
Kemudian semua berubah normal
Seperti lalu lintas biasanya
Hanya ada aku, yang masih memandang,
kemana Kunang-kunang Kuning itu terbang.
Aku tahu, bahwa di kota ini,
tidak ada rumah yang memiliki pekarangan
Nov 18, 2016
Nov 18, 2016 at 1:29 PM UTC
Pernah aku melihat sebuah keikhlasan
dari gugurnya daun pohon jati itu
Relakah dia meranggas untuk menghargai
waktu.
Pernah aku melihat sebuah kerahasiaan
dari kata-kata manis seorang ibu
Matikah dia menangis untuk menjadi
hantu.
Tapi seumur hidup aku baru melihat
sebuah kejujuran, dari ujung jarimu
Yang membelai untaian benang biru
kusut, tanpa keluh
Berpeluh namun tak mengenal sendu
Lalu apa artinya ikhlas tanpa rela
ditengah rahasia tanpa kata
dibasuh hujan air mata yang tak jatuh
Membasahi rona merahmu
*Doa kita sampaikan pada awan Nimbus
dan bintang Polaris
Berharap, berdua kita mendapati senyap
Bersama nyala lilin.*
Oct 9, 2016
Oct 9, 2016 at 3:30 PM UTC
O, malam yang suci
Sayang, kau mau kecap itu?
Kecaplah sunyi malam di ujung lidahmu, julurkan sepanjang tangan
Bilamana gelap telah menghujani hari, teguklah dingin dalam gua mulutmu
O sayang, kau mau dengar itu?
Sendengkan telingamu, dengarkan sekali lagi
Dengarkan ketika gelap dan terang tengah melenguh
Harmoni saat daun dan ranting mencumbu satu sama lain
O, sayang, kau mau merasakan itu?
Sentuhlah bibir bulan itu, kau bisa merasakan dia tengah bernyanyi
Bibirnya mengatup dan membuka, mendaraskan kidung yang seketika senja
O, sayang, kau mau melihat itu?
Buka matamu, lihat mereka saling bergesekan, menaut dan berkelindan
Tak ubahnya sepasang kekasih yang tengah bersanggama
Sep 28, 2016
Sep 28, 2016 at 3:36 PM UTC
Apakah langit sedang sedih?
Kenapa menangis?
Memandang langit yang bermuram durja
Bajuku baru! Aku tak mau basah
Baju merah berbintik hitam
Pas sekali
Memetik daun peterseli
Memandang refleksi diri di genangan air
Bajuku baru! Jangan kehujanan
Baju merah berbintik hitam
Melekat manis di tubuh mungil
Mar 23, 2014
Mar 23, 2014 at 8:40 AM UTC
Kau membuatku bingung Raja.
Sebentar bersikap sehangat matahari pagi, sebentar sedingin tiga perempat malam.
Kau membuatku bimbang Raja.
Aku tak tahu harus bersikap bagaimana.
Aku sudah bertanya pada jalan yang setia menyaksikan kau mengantarku pulang.
Mereka diam.
Aku semakin gelisah.
Karena bahkan jika jalan yang setia diam jika kutanya, bagaimana mungkin kau punya jawaban Raja?
Hatimu tak lebih teguh dari daun yang tertiup jatuh.
Lantas aku harus bagaimana?
May 12, 2016
May 12, 2016 at 4:33 PM UTC
Dalam diam kau mencari sosokku
Dekat namun tak tergapai
Aku ingin menyentuhmu
Namun kau hanyalah sebatas suara bagiku
Aku menatap wajahmu
Sorot tajam diasah sepi
Dalam kesendirianmu kau mencari sosokku
Namun aku hanyalah sebatas kenangan bagimu
Hujan yang memancing air matamu
Daun gugur yang menemani ratapanmu
Aku ingin kau melihatku
Kau ingin aku menyentuhmu
Aku ingin kau tersenyum untukku
Kau ingin aku tertawa untukmu
Waktu akan menghampiri
Tanpa bisa diingkari
Aku menemani dirimu
Walau hanya suara
Kau memberikan hangatmu
Sedih dan duka
Lalui, tidur dan lewati
Suatu hari nanti katakan padaku
Dengan suara lembutmu
Aku yang larut dalam air mata
Gemerlap berkaca-kaca
Semburat jingga langit sore
Gelap langit malam sewarna abu
Menjadi tinta dalam hatiku
Mengukir dengan indah hari-hari itu
Saat kau bersama denganku
Dec 5, 2017
Dec 5, 2017 at 8:40 AM UTC
izinkan saja angin bertiup
dan kamu jatuh
tak mengapa jika rintik rintik hujan
membuatmu begitu basah
karena bumi tetap memelukmu
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:39 AM UTC
Palembang, 6 Februari 2013
Aku ini pohon muda yang ditebang
Roboh
Aku ini kursi rotan yang patah
Rapuh
Aku ini daun hijau yang jatuh
Gugur
Aku ini aku yang Rapuh
Tak tersentuh
Feb 6, 2013
Feb 6, 2013 at 9:09 AM UTC
Kau duduk dalam diam
Segaris senyum kau tebar
Aku yang lemah menyerah kalah
Membakar omong kosong
Menciptakan bara apiku
Aku terpaku, pertama kalinya bagiku
Suara renyah bergairah
Menggelitik daun telinga
Mendarat indah di relung hati
Tak perduli yang kau katakan
Aku hanya ingin mendengarkan
Ingin rasanya kugenggam tanganmu
Menculikmu dengan gagah berani
Layaknya ksatria dan kau sang putri
Menyibak rambut ombakmu
Kusematkan bunga
Yang kita petik bersama
Namun...
Aku bukanlah ksatria
Dan kau sendirilah pemilik kastil itu
Tak ada bunga mekar yang bisa kupetik hari itu
Namun di lain hari kuharap kita bertemu lagi
Sep 29, 2017
Sep 29, 2017 at 4:58 AM UTC
Ahh, judul...
Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan
Begitu merangah, berusaha mencolok
Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar
Aku tahu dia menginginkan sesuatu
Kuasa!
Aha, itu sudah pasti kuasa
Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas
Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya
Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya
Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar
Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka
Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu
Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya
Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri
Padahal judul hanya tak sadar
Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri
Ia lahir karena keresahan kata
Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan
Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan
Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah
Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka
Karena ketakutan kata-lah
Judul hadir sebagai jawaban
Agar kata dilirik pembaca
Agar kata digunakan dalam ruang diskusi
Agar kata hidup dalam kepala
Mengakar kokoh dan menjadi abadi
Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini
Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri
Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan
Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan
Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan
Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan
Lihatlah ibu yang telah melahirkan
Yang terpinggirkan mengandung harapan
Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam
Anak baik jadilah baik
Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta
Bangkitlah!
Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata
Mendengarlah!
Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
Feb 27, 2021
Feb 27, 2021 at 11:55 AM UTC
Daun kuning berjatuhan
Angin dingin menghantarkan salam dari Tuhan
Aku melihat pepohonan yang menari
Semua tampak indah menyejukkan hati
Aku hanya diam..
Diam tak tahu harus kemana
Kabut putih menutup mataku
Mendorongku yang berdiri terpaku
Imajinasiku kabur
Aku akan jatuh
Dan...
Dimanakah aku?
Diruangan serba putih aku terbangun
Menatap dengan pandangan memudar
Siapakah kamu?
Gadis kecil berlari dan tertawa
Berlari menjatuhkan bunga-bunga
Membuka pintu diujung ruangan
Aku berjalan...
Berjalan membuka pintu yang sama
Wanita cantik berambut pirang
Cantik rupawan mengalahkan Godiva
Seorang gadis kecil memeluknya erat
Dia...
Dia yang selama ini kucari
Dia yang selama ini kunanti
Aku mencoba...
Mencoba untuk menyentuhnya
Jari-jarinya yang ramping menepisku
Aku berpikir dia membenciku
Namun tidak
tidak...
Dia berkata padaku,
"Kembalilah, ini belum saatnya"
Kematian bernegosiasi dengan kemungkinan
Kemungkinan untuk meraih kehidupan
Di alam bawah sadar
Aku akan kembali menemukannya
-Kediri, 18 Maret 2018
Mar 25, 2018
Mar 25, 2018 at 11:22 PM UTC
Aku mengikuti intuisi jiwaku intuisi jiwaku,
kemana masa depan membawaku?
sejenak kuberpikir kita hanya menari di bumi
ini hanya untuk sementara.
aku tahu impian ini cukup besar, maka
perkecil ekspetasi akan hal itu
tentang menjadi ayah yang baik
rumah yang luas dan nyaman,
kacamata coklat gagang yang patah,
itu tidak bertahan selamanya.
Aku keras seperti batu tebing, aku
melihat daun yang layu hingga mekar
mudah percaya dan naif tentang banyak hal,
banyak hal yang kutentang tetapi aku hanya diam dan lebih banyak mendengarkan.
dihantui perasaan kehilangan berlebihan
dan perasaan bersalah tentang banyak hal,
dan aku benci film romance
yang berkendara di tepi pantai,
anak kecil yang nakal,
berita hoax,
kedai kopi yang memutar lagu terlalu keras,
sate yang belum matang,
semut, dan wanita yang menari di tempat umum,
tabel - tabel membuatku bingung,
drama tentang pria ideal juga membuatku muak,
Netanyahu keparat dan pembunuh.
2025
reydmh
May 3, 2025
May 3, 2025 at 11:03 AM UTC
Jika dingin rasanya untuk meneriaki hujan, betapa basah dan sedih yang dibawanya pulang
Tak usah kau menjeritkan gundah kepada api yang tak sanggup menghanguskan rindu dan pengharapanmu
Jangan pula kau tiupkan dustamu pada angin, karena ia melesat pergi bagai anak panah yang kabur dari busur
Lihatlah sungai yang mengalir, dia akan menghanyutkan laramu diantara daun-daun sesembahan itu.
Alam akan membawamu pergi, seperti air yang meresapi tanah dan membumbung ke angkasa.
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:26 PM UTC
beberapa musim hujan di bulan november telah berlalu,
daun daun gugur dan menunggu untuk mekar kembali, banyak orang datang dan pergi
tidak ada seorang pun disini,
aku kembali menuliskan tentang hidupku
dan memeriksanya,
atas semua kesalahan yang telah kubuat,
dan aku takut,
aku mencoba membersihkan luka didalam diriku yang begitu dalam,
jadi aku berharap untuk melihatmu
bahkan jika kamu dapat melihat saya
saya tidak dapat melihat kamu,
aku menatap dinding hijau dan bertanya tanya
bisakah aku melihatmu sekarang?
bisakah aku memelukmu sekarang?
hanya kamu yang sabar saat aku kebingungan,
Lihat, orang berubah setiap saat
mereka tidak menyukai anda,
hari berikutnya mereka menyukainya
dan aku berharap semua orang bisa mencintaiku seperti dirimu mencintaiku
2025
reydmh
Apr 19, 2025
Apr 19, 2025 at 4:16 AM UTC
"Wurr be gwain, mah lov'rr?" - Ah,
no soft refrain,
this sentence sweetly rural, in
a country lane.
No country maiden pauses in
her morning walk
with country boy, and, planning for
a lover's talk,
Answers: "Over yuerr, mah lov'rr."
No, still sweeter,
these kind words were spoken not
in love to greet her,
But her father, old and smiling,
close behind her
in the parlor of a pub
by mugs of cider.
It was her brother asked the question,
gently laughing.
"Bain" gwun no-wurr," said the old man.
They were not chaffing,
For in Devon is the world
a natural lover,
both in word as well as feeling;
custom wove her,
Blessed Devon, in a tidy
weave complex.
So daun 'ee vex 'erself mah lov'rr!
Daun 'ee vex!
Sep 8, 2018
Sep 8, 2018 at 6:51 PM UTC