"berusaha" poems
Kau datang di saat ku menginginkanmu
Kau bagaikan menerangi hidupku
Ku tersenyum di setiap waktu
Ku selalu memikirkanmu
Kau menjauh entah mengapa
Ku tersadar bahwa ku yang memulainya
Kau tak sedetikpun berbicara
Ku hanya bisa menyesal
Ku mulai belajar tuk melupakanmu
Ku buka hati ini tuk yang lain
Namun tiba-tiba kau datang dengan sejuta kata
Entah apakah kau berpura-pura peduli pada ku
Kau menyentuh hidup ku, lagi
Kau buat aku menginginkanmu, lagi
Kau buat aku salah tingkah, lagi
Serasa tak ingin aku kehlangan mu, lagi
Kau membuat aku bersyukur pernah mengenal mu
Kau adalah hal terindah yang tak nyata yang pernah aku tahu
Kau adalah semua topik pembicaraan yang ku ceritakan
Kau adalah yang mengiringi perjalanan singkat hidup ku
Kau yang amat susah lepas dari ingatan ku
Kau yang menerangi hidup ku
Kau lah alasan aku tersenyum di setiap waktu
Kau lah yang ku harap hadir di mimpi ku
Kau...
Yang selalu aku harapkan hadir di sisi ku
Yang selalu membuatku ingin merasakan peluk mu
Yang ingin sekali mengecup bibir mu
Kau...
Yang selalu membuat aku gelisah
Yang membuat aku berusaha lebih baik
Yang membuat ku berusaha lebih pantas tuk dimiliki
Kau...
Tak pernah habis kata-kata untuk mu
Selalu ku puji dirimu
Ku ingin bisa mengatakan bahwa
Aku sangat mencintaimu
I LOVE YOU
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 8:41 PM UTC
Dear Nakama...
Kau tenang saja, mulai sekarang aku tak kan marah, kesal, sedih, cemburu, iri, ataupun jengkel saat kau berhubungan dengan Dia. Aku tak apa-apa. J
Dear Nakama...
Sekarang, kau bisa melakukan apa saja sesuka hatimu padanya. Toh, Aku sudah melupakan semua perasaan itu, Aku sudah bisa bangkit dari keterpurukan ini. Jadi, tak ada lagi alasan untuk mu menjauhkan?
Dear Nakama...
Aku merindukanmu, Tak ingin melihat kau seperti ini, mengapa kau seperti ini? L
Dear Nakama...
Bukankah, kita sudah saling berjanji takkan pernah saling menyakiti, akan terus menghubungi dan jangan sampai hilang hubungan? Dan sekarang, Aku ingin menagih janji itu...
Dear Nakama...
Aku di sini sedang sedih. Tapi semoga, Kau baik-baik saja...
Dear Nakama...
Apakah aku tidak boleh mengetahui keadaanmu? Tapi, bukankah itu suatu hal yang wajar di antara hubungan persahabatan? Aku tak mau kehilangan “TEMANKU”, aku tak mau kehilangan “SAHABATKU”, dan Aku tak mau kehilangan “KAKAKKU”... :’(
Dear Nakama...
Selama ini hanya Kau orang yang bisa mengerti Aku, mempercayaiku, dan menyayangiku dengan setulus hati. Akupun Selalu berusaha agar bisa menjadi seperti itu...
Dear Nakama...
Setiap hari aku menimbun sedih, menyembunyikan sakit, menampung rindu, menabung kekecewaan, mengumpulkan kegelisahan, dan terus menelan air mata hanya untukmu...
Dear Nakama...
Pandanganku kabur, pergerakanku kaku, kakiku lesu, tanganku beku, lidahku kelu, air mata terus jatuh, dan sesaat aku merasa duniaku runtuh ketika mengetahui kau sedang berusaha menjauh...
Dear Nakama...
Apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali seperti dulu? Saat-saat di mana Aku belum mengenalnya, saat-saat di mana aku masih menjadi gadis kecil yang polos dan tidak mengenal cinta, saat-saat di mana kita sering berbincang tentang kartun kesukaan kita!
Dear Nakama...
Aku minta maaf, jelas-jelas ini salahku. Dan bodohnya lagi, Aku baru menyadarinya sekarang. Maafkan Aku jika Aku melakukan kesalahan yang membuatmu tersakiti. Kesalahan yang di sengaja maupun tidak di sengaja...
Semoga kau berkenan untuk memaafkanku...
Sahabatmu : Haruna J
Jul 31, 2014
Jul 31, 2014 at 5:52 PM UTC
Aku memiliki seribu mimpi tapi ibu bilang aku tak tahu diri
Tak mengerti keadaan dan kondisi, akupun berhenti membicarakan itu dengannya.
Kopi panas yang ku seduh dengan kekecewaan kemarin pagi diseruput lega olehnya.
"Jadikan perkataan mereka cambuk bagimu"
Salah seorang teman pernah berkata begitu padaku.
Tapi kepalaku ini berisi setan-setan bengal!
Mereka hanya mengerti kesedihan dan kemarahan.
Aku tidur dengan tangan penuh tinta merah setiap malam,
berusaha memindahkan kotak-kotak terlarang dari sudut mimpi ke ruang kegagalan.
Mereka berhenti mencoba membunuhku tapi kali ini mereka menaruh racun disetiap gelas yang akan ku teguk
Bukan! Bukan racun mematikan
tapi cukup membuat jiwaku lumpuh untuk waktu yang tak menentu
Aku berhenti membicarakan mimpi-mimpiku kepada siapapun
Aku tak ingin mimpi yang tersisa hancur diinjak-injak oleh kaki yang bahkan tak peduli berapa lama aku membangunnya 'kembali'
Tahun-tahun tak bernyawa
Meludah kata-kata serapah seakan hatiku dinding beton dingin
Kecukupan seperti apa yang membuat mereka bahagia!
Atau biarkan aku tergeletak di kasur lembut itu
Jangan! Jangan coba bangunkan aku
Mungkin ketenangan di dalam sana mampu meredam kekacauan di kepala malamku
Jan 23, 2016
Jan 23, 2016 at 12:53 AM UTC
Palembang, 3 November 2011
Aku bersabar . . .
Tetap berusaha dengan penuh harap
Supaya bisa melihat wajah mereka
Mendengar suara mereka
Menyaksikan kekompakan mereka yang sangat aku cinta
Aku tidak menangis . .
Hampir,
tetapi ku hapus air mata dan ku pasang senyum bahagia ku
tersenyum sesekali, tertawa bersama mereka
Aku tidak mengerti bahasa mereka
Tapi aku mengetahui yang mereka bicarakan
Aku tidak pernah bertemu mereka
Tapi aku bisa merasakan mereka sangat dekat
Aku tidak mengenal mereka
Tapi aku sangat mencintai mereka
Dari dulu hingga sekarang rasa ini tak akan berubah
Meskipun aku belum beruntung
Doa membantuku memberitahu-Nya
Bahwa aku sangat merindukan mereka
Sekarang,,,
Aku sedang memandang mereka
Merekam setiap kata, gerak, dan ekspresi mereka
Hal terindah yang pernah aku rasakan
Terima Kasih Tuhan, , ,
Hadiah ku datang
Created by. Aridea P
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 11:57 AM UTC
Gadis itu pulang dengan kepingan jiwanya
Berusaha untuk menahan segala rasa sakit
Semua ia simpan rapat-rapat walau tersirat dari matanya
Ia menghempaskan badan diatas tempat tidur
Sambil sesekali memijat keningnya, berharap rasa sakit tak akan hinggap kesana.
Lalu ia berusaha tak mengingat-ingat semuanya
Berharap entah bagaimana caranya agar ia mematikan perasaannya
Dalam hati ia bertanya "kapan terakhir kali kau bahagia?"
Tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan itu
Ia hanya menatap langit-langit kamar sambil tersenyum pahit.
"Yah, begitulah realita hidupmu. Tersiksa karena jatuh berkali-kali untuk orang yang salah"
Otaknya berbicara pada hati yang masih kukuh membela perasaan yang ia punya
Ia tak bisa lagi menampik bahwa kepala dan hatinya setelah ini tak akan pernah ada di kubu yang sama
Karena kelalaian hatinya lah ia berada disini sehingga logika menghukum hati itu, menutup pintunya rapat-rapat dan menenggelamkan kuncinya kedalam samudera pemikirannya.
Suara hujan mengiringi gadis itu
Tak terasa satu demi satu tetes air mata mengalir
Ia hanya bisa memejamkan mata dan berkata
"Aku sudah tak punya hati lagi"
Dec 14, 2015
Dec 14, 2015 at 7:09 AM UTC
Palembang, 16 Juni 2012
Aku mencintaimu dalam sehari
Aku merindukanmu berhari-hari
Aku selalu mengenangmu di dalam hati
Aku menyatakan cinta padamu
Kamu tak mengerti arti cintaku
Aku pun meninggalkanmu
Cintaku termakan waktu
Ku putuskan meninggalkanmu
Aku tak ingin ingat kamu lagi
Aku berusaha buang rasa ini
Aku sudah terbiasa hidup sendiri
Karena aku tak cinta lagi
Jun 16, 2012
Jun 16, 2012 at 10:39 AM UTC
Palembang, Selasa 29 November 2011
Maaf,,,
Maaf hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan
Sungguh,,,
Kalian tahu sendiri aku terlalu bodoh tuk berbuat
Dan aku terlalu bodoh tuk bicara
Yakinlah,,,
Aku selalu berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi
Jadi orang yang mudah senyum dan menyapa
Tapi kalian tahukah?
Tuk melakukannya itu terlampau sulit bagiku
Bila hidup ini ku kurung sendiri
Ku kunci sendiri
Tanpa interaksi
Aku tahu kalian pun bertanya
Mengapa aku terpilih bila aku tak bisa apa-apa?
Jawabannya adalah beruntung
Ya, terkadang Keberuntungan mau berteman dengan ku
Tapi lebih banyak ia meninggalkan ku
Kalian pasti tahulah mengapa ia meninggalkan ku
Karena aku tak pandai berteman
Karena bakat ku melukai perasaan orang
Meski aku tak bermaksud
Terkesan begitulah di hati kalian
Sekali lagi
Maaf aku tak bisa menjadi yang kalian mau
Inilah aku apa adanya
Yang ku mau kalian bisa sabar
Sehingga terbiasa menghadapi aku yang sekarang
Nov 29, 2011
Nov 29, 2011 at 8:05 AM UTC
sore itu dingin.
kupandangi tetes-tetes air yang perlahan hinggap di atas permukaan kaca jendela
secangkir teh dalam genggaman, berbalut tabahnya menahan rindu.
kutunggu kabar
namun tak juga kunjung datang
duduk di atas kursi teras, menanti suaramu hadir di ujung pesawat.
teleponku lagi-lagi kau abaikan, seperti tak pernah sekalipun terlintas minat untuk kau angkat.
terlalu sibuk atau apa?
biar kunanti lagi bersama rintik hujan.
semenit
lima menit
sepuluh menit
dua puluh menit
lima puluh menit
kutunggu telepon balasanmu
namun belum juga kau
izinkan aku mendengar suaramu
aku diam
bersama alunan musik yang dimainkan hujan, air mataku turun
biarkan!
aku letih
berpura-pura merasa tidak sakit hati
bersama lantunan rintik hujan, serta guntur yang belum pula lelah bersahutan, pada dunia mereka seolah mengatakan; alam pun bisa menyuarakan air matanya, dan memiliki jeda jujur yang panjang, berhenti berusaha ceria.
kemudian aku sadar;
seperti alam yang sedang menangis, aku benar-benar letih berpura-pura.
May 22, 2016
May 22, 2016 at 7:20 AM UTC
ketika berjalan di atas rumput
waktu seakan melambat
seakan aku melangkah terseok
seakan bumi berusaha menelan kakiku
kubiarkan tubuhku terjatuh
sementara mataku memanah langit
menunggu alam menjamahku
menggerogoti nadiku
tulang sumsumku
nyawaku
biarlah darahku menjadi nutrisi bagi tanah
mungkin dagingku bergizi bagi hewan liar
sementara tubuhku membusuk
bersatu dengan hara
tunas-tunas mungil muncul dari dalam
dan bunga-bungaan bermekaran
di antara tulang rusukku
May 7, 2014
May 7, 2014 at 9:03 AM UTC
Palembang, 21 Oktober 2012
Maaf kalo aku masih cengeng
Maaf kalo aku belum bisa mengontrol emosi
Tapi aku bener-bener ga kuat
Di kala hati ingin berhadapan dengan dia
Jemariku tak kuasa tuk menari di atas keyboard
Mengetik namanya, melihat fotonya
Menahan rasa malu yang ku bangun sendiri
Menahan rasa kembali ingin mencintai
Melawan pikiran yang berusaha tuk melupakan dia
Tetapi aku mengikuti rasa yang sangat ingin
Keinginan yang mustahil
Keinginan yang seharusnya tak ada di hati
Keinginan yang seharusnya aku sudahi
Keinginan yang sudah sepantasnya tuk mati
Tetapi, malah semakin kuat setiap hari
Aku menangis lagi,
dan itu sering
Maaf sekali lagi
Oct 21, 2012
Oct 21, 2012 at 6:35 AM UTC
Aku menulis
Menulis lagi hal yang semu
Makna yang tak pasti
Aku berpikir keras,
kata demi kata ku ketik
Klik, Klik, Klik
Berharap kelak tulisanku terpajang indah di tembok lorong
Aku tidak melihat ke depan,
ataupun ke belakang
Aku hanya fokus pada layar yang ada di depanku
Memandang, membaca, memahami
Mengimajinasikan visual hidupku ke dalam kata
Terus
Klik, Klik,
klik
Aku berusaha tak terputus,
terus mengetik
Tiada orang lain yang ada dipikiranku
Tidak diiidiii, ibuku, bahkan kawanku
Hanya berpikir, huruf apalagi yang harus ku tulis setelah huruf ini?
Klik,
klik,
klik,
Aku mulai melambat
Namun ku tak pernah menyerah
Tak ingin kutinggal
Kini pikiranku buntu
Di saat aku mulai meninggalkan layarku
Sejenak imajinasiku berbicara
"You can not be changed... But you can make a change."
.
.
.
Tak ada lagi Klik, Klik, Klik
Aku hanya memikirkannya
Dan semua selesai
Hanya dengan satu KLIK
May 28, 2013
May 28, 2013 at 7:55 AM UTC
ia telah berusaha menjadi sesuatu yang berguna bagi orang-orang terdekatnya
ia membasuh kepalanya yang penuh dengan keringat dan menuangkannya di sebuah mangkuk, dan ia menyuruh orang yang ia sayangi untuk meminumnya
ia meminum air kebahagiaan, sebuah benda cair yang sangat ia tunggu.
ia kembali pergi untuk melakukan tugasnya menemukan logika dan akal pikiran.
ia akhirnya temukan di tengah lautan. ia lepaskan jangkarnya kedalam air. ia melompat dari perahu kecilnya, menyelam ke dalam lautan jiwa.
dari jauh ia temukan sebuah cahaya kecil. cahaya tersebut tersenyum. ia yang bersemangat berenang semakin cepat. hingga akhirnya ia temukan logika dan akal pikirannya hanya sebuah….
cinta.
Mar 29, 2012
Mar 29, 2012 at 10:41 AM UTC
Jakarta, Senin 20 Oktober 2008
Ku terlahir di dunia
Untuk hidup dan berusaha
Ku kira, aku akan bahagia
Namun ternyata tidak
Ku berdoa . . .
Ya ilahi … akulah dia
Yang malas bekerja
Yang tak mengejar masa depan
Yang hanya duduk dengan lamunan
Ku iri dengan gunung dan langit
Lirik dengan melodi, hati dengan perasaan
Karang dengan laut, angin dengan pohon
Dan … kini ku sadari
Akulah Manusia Bodoh
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:27 AM UTC
JOGJA
“Jogja sedang berusaha menutupi kesedihan karena penyesalannya, buktinya akhir-akhir ini Jogja ramai sekali”
“Untuk apa Jogja bersedih?
Bukankah banyak yang mencintainya selama ini?
Buktinya Jogja bisa dengan mudahnya tebar keramahan kesana-kemari kemudian mendapatkan banyak hati.”
JAKARTA
“Jakarta sudah tidak kuat lagi menahan sakit perasaannya hingga ia menangis, buktinya kemarin hujannya turun deras sekali”
“Untuk apa Jakarta menangis?
Bukankah Jakarta begitu kuat?
Buktinya ia tahan mendengar suara bising dari banyak pasangan kekasih yang melempar janji-janji palsu selama ini.”
BANDUNG
“Bandung bingung menanggapi apa yang terjadi terhadap Jogja dan Jakarta, buktinya ia hanya bisa diam.”
“Tidakkah kau tahu bahwa bandung selalu bersuara?
Tetapi selama ini suaranya tersamarkan oleh suara hujan.
Buktinya suaranya tidak bisa dibuktikan.”
Dec 15, 2017
Dec 15, 2017 at 2:11 PM UTC
Perjalanan di kereta selalu menarik.
Masing-masing punya cerita, semua ada makna,
Pernah ku bertemu orang asing secara tak sengaja di kereta, sekarang menjadi teman cerita.
Pernah ku menangis, berontak, pusing, mual, homesick di kereta.
Pernah ku melewati perjalanan ini dengan orang-orang berarti yang tak terganti.
Pernah pula aku naik kereta, berbohong pada mama, hanya demi bisa bertemu. Kamu.
Tapi yang pasti, aku sering menganalogikan perjalanan di kereta dengan keharusan memikirkan masalah.
Cinta, terutama.
Klise. Tapi nyata.
Dan pada perjalanan ku yang kali ini, kamu orangnya.
Yang dipikirkan masih sama, apakah harus bertahan atau berusaha lupa.
Biarkan aku memikirkan mu sampai mabuk di kereta, malam ini.
Karena selepasnya, aku akan mengubah statusmu menjadi bukan siapa-siapa.
Sep 9, 2015
Sep 9, 2015 at 3:48 PM UTC
Acara dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) Ke-65 PW Fatayat NU itu diikuti hampir 38 peserta se-Jatim yang meliputi perwakilan seluruh pimpinan cabang Fatayat NU.
Hasil desain peserta diperagakan model andalan mereka. Tak kalah dengan model profesional, para model Fatayat NU ini juga tampak percaya diri berlenggak-lenggok di atas caltwalk.
Dalam lomba fashion show ini, peserta dari PC Fatayat Bojonegoro meraih juara pertama, sedangkan pemenang kedua diraih oleh peserta dari Nganjuk dan pemenang ketiga dari Fatayat Bangil.
Menurut desainer muslimah yang dinobatkan jadi juri lomba ini, Ana Farhasy, ada beberapa poin dimiliki peserta Bojonegoro sehingga meraih juara.
"Kendati bertemakan busana pesta muslimah, namun desainnya simpel dan elegan. Itu menjadi kelebihan sendiri daripada peserta lain yang banyak menonjolkan aksesoris sehingga tampak berlebihan," katanya.
Selain itu, peserta dari Bojonegoro menampilkan tema gold kayu jati. "Batik yang digunakan asli Bojonegoro," jelas Ana.
Sementara itu, Ketua Fatayat NU Jatim Hikmah Bafaqih mengatakan selain lomba fashion show, kegiatan lain juga digelar dalam rangkaian harlah Fatayat NU itu.
"Ada lomba menulis artikel, lomba menjadi presenter, dan bazar produk unggulan (handycraft) kreasi kader Fatayat di seluruh cabang Fatayat se-Jatim," katanya.
Ia menambahkan, puncak peringatan Harlah Fatayat NU dilaksanakan di kantor PWNU Jatim pada Minggu, 17 Mei 2015. Rencananya, acara puncak dihadiri Menpora Imam Nahrawi, Wagub Jatim Saifullah Yusuf, dan Ketua DPRD Jatim.
"Ketua Umum PP Fatayat NU Hajah Ida Fauziyah tidak bisa hadir karena berbarengan dengan acara prakongres Fatayat di Bandung," katanya.
Mbak Hikmah, sapaan akrabnya, mengemukakan tema yang diambil harlah kali ini adalah "Ikhtiar Fatayat NU menuju Indonesia Berkeadaban".
"Karenanya kita akan terus berusaha untuk melakukan berbagai karya nyata, tentu kita bangun ulang keadaban kita dengan Islam ahlussunnah wal jamaah atau yang kita kenal dengan Islam Nusantara," katanya.Read more here:www.marieaustralia.com/mermaid-trumpet-formal-dresses | www.marieaustralia.com/one-shoulder-formal-dresses
May 17, 2015
May 17, 2015 at 10:37 PM UTC
dia berusaha meyakinkan aku salah
dia mencintai apapun yang kulakukan
mau itu benar atau salah―dia menganggapnya itu indah
dia mencintai setiap inci sayatan di lenganku
mau itu masih berbekas atau tidak―dia menganggapnya itu indah
dia mencintai seluruh buah ide di benakku
mau itu akan berhasil atau tidak―dia menganggapnya itu indah
dia mencintai seluruh jiwa ragaku
mau itu penuh dengan luka atau tidak―dia menganggapnya itu indah
dia mencintai keadaan fisik dan mentalku
mau itu sempurna atau tidak―dia menganggapnya itu indah
dan dari sekian lama aku hidup
tidak pernah merasa seyakin ini sebelumnya
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 10:08 AM UTC
seperti mendung yang merupakan tanda hujan turun
seperti embun yang merupakan tanda matahari terbit
sepasti jam yang berdetak
seperti dan sepasti itu kau memberikan tanda
bahwa suatu saat kau akan lupa
pada kata-kata yang terucap
pada goresan pena yang tertancap
padaku
dibantu dengan hari yang tidak lelah berganti
aku berusaha berjalan pergi
sudah tidak ada yang diharapkan bulan pada matahari pukul 6 pagi
pada akhirnya dia akan terganti
aku akan diganti
May 29, 2016
May 29, 2016 at 2:51 PM UTC
Pukul 02.30
Aku terdiam tanpa berbahasa
Memikirkan sejuta hal yang seharusnya kulakukan
Aku terbiasa bermimpi
Namun kini aku tak mampu
Pukul 02.30
Andai waktu adalah lomba
Maka aku selalu kalah
Lagi-lagi aku tidak dapat terpejam
Pukul 02.30
Aku dan semua lamunanku
Terhenti sejenak oleh suara dengkuran disebelahku
atau mungkin suara angin sejuk dari mesin diatasku
Pukul 02.30
Aku ingin berlari ke dalam lautan
Menantang ombak berderu kencang
Lalu terhempas oleh bayang-bayang
Pukul 02.30
Aku berurai air mata
Berusaha mengartikan rasa
Pencarian yang tak berujung
Pukul 02.30
Katanya Tuhan itu Mahakuasa
Maka aku percaya jawaban itu ada
Dan kupejamkan mataku
Harap semua ini sirna
-wonderwall-
Aug 12, 2019
Aug 12, 2019 at 3:53 PM UTC
aku tidak tahu apakah ini seharusnya menyenangkan bagimu, bagiku atau bagi kita.
Sudah terlalu lelah berusaha mejamah.
Kau tak ada ubahnya dengan buih pinggir pantai. Menggoda untuk dikejar, menghilang ketika ditangkap.
Bukannya kau tak mungkin.
Aku hanya lelah.
dan setelah dipikir ulang, mungkin kau tak begitu layak diperjuangkan.
Jul 23, 2015
Jul 23, 2015 at 2:51 PM UTC
bukan tidak percaya diri,
hanya saja...
rasanya sulit ketika kau berulang kali tenggelam
sampai akhirnya kau lelah untuk meraih udara di atas
lalu nyaman dengan kedalaman
maksudku
haruskah kita selalu berkembang diatas ?
bukankah sama saja ?
semua sudah ditimbang baik buruknya,
tergantung dari sudut mana kau melihatnya.
untukku, aku yang masih 17 tahun ini
sempat terbesit
sudah ingin hidup di ketenangan itu
tidak mau terlalu banyak mengambil bintang
usahakan lebih banyak bersyukur
bercengkrama dengan anemon laut di bawah sana
hiu maupun predator buas pun akan coba kuakrabkan
kalau memang kita tidak diterima diatas kenapa tidak coba membangun istana di bawah ?
apa salahnya terus berusaha tetapi lain jalur dengan para mayoritas ?
Jul 2, 2018
Jul 2, 2018 at 7:25 AM UTC
tidak semua yang tak bersajak
tidak layak dipanggil sempurna
karena disetiap penggalan kata nya
ada makna yang selalu disiratkannya
tidak semua yang tak berima
tidak layak dipanggil karya
karena disetiap spasi yang digunakannya
ada hati yang berusaha bicara
Dec 4, 2016
Dec 4, 2016 at 5:34 AM UTC
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun.
Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata.
Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni.
Ini tentang apa yang hidup di dalam sana.
Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja.
Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu.
Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir.
Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya.
Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku.
Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
Apr 25, 2019
Apr 25, 2019 at 5:39 AM UTC
Setelah kesekian kalinya,
Dia berusaha
Di sudut nyala lilin kecil
Dia dapat kembali menangis
Terisak hingga kelelahan
Mengeluarkan semuanya
Dan jatuh tertidur
Wahai puan,
Berapa lama topengmu itu kau gunakan?
Tak apa jika kau ingin bersedih,
Tak apa jika kau ingin marah,
Tak apa jika kau merasa dunia ini tak adil
Jangan mengunci dirimu,
Terdapat langkah kaki yang ingin menemanimu diluar sana
Persilahkan lah
Untukmu,
Tolong jangan memenjarakan diri sendiri
Dec 13, 2018
Dec 13, 2018 at 10:10 AM UTC
Would you please say something?
Hatiku perlahan-lahan membeku. Mungkin karena kau bisu.
Aku tak berharap apa-apa. Mungkin hanya satu sama dua kata.
Dibandingkan kamu yang merasa tahu segala.
Aku hanya tahu satu hal saja.
Aku cinta.
Mungkin aku yang kurang berusaha.
tapi tak perlu rasanya mengumbar semua dalam lembar.
Aku mungkin salah.
Tapi bisa kah kali ini kau yang mengalah?
So would you please say something?
before I give up on you.
Oct 17, 2015
Oct 17, 2015 at 12:45 PM UTC