"bercengkrama" poems
bukan tidak percaya diri,
hanya saja...
rasanya sulit ketika kau berulang kali tenggelam
sampai akhirnya kau lelah untuk meraih udara di atas
lalu nyaman dengan kedalaman
maksudku
haruskah kita selalu berkembang diatas ?
bukankah sama saja ?
semua sudah ditimbang baik buruknya,
tergantung dari sudut mana kau melihatnya.
untukku, aku yang masih 17 tahun ini
sempat terbesit
sudah ingin hidup di ketenangan itu
tidak mau terlalu banyak mengambil bintang
usahakan lebih banyak bersyukur
bercengkrama dengan anemon laut di bawah sana
hiu maupun predator buas pun akan coba kuakrabkan
kalau memang kita tidak diterima diatas kenapa tidak coba membangun istana di bawah ?
apa salahnya terus berusaha tetapi lain jalur dengan para mayoritas ?
Jul 2, 2018
Jul 2, 2018 at 7:25 AM UTC
sudah kuceritakan pada senja
tentang hari yang kulewati
bersama mentari bahkan hujan
dan aku merangkai kisahku
tapi kadang aku bercerita pada malam
malah, bulan dan bintang juga ikut bercengkrama
iya, jika hari tak hujan
mereka berani menemuiku
aku mencoba mengerti bahasa mereka
sama hal nya yang mereka lakukan
tapi kuakui mereka pendengar yang baik
aku masih berdiri didekat jendela
memahami gestur dan menunggu jawaban mereka
atas pertanyaan yang kuajukan tentang seseorang
dan menitip pesan rahasia untuknya
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:27 AM UTC
tatapan kosong yang mencerminkan kesuraman itu,
membunuh jiwaku perlahan namun pasti,
sekarang aku sekarat.
aku tidak menuntut banyak hal dalam hidup,
hanya butuh teman untuk bercerita dan bercengkrama.
sekarang sepi, akankah sampai mati?
Jan 16, 2019
Jan 16, 2019 at 8:48 AM UTC
kadang, waktu yang panjang pun tak cukup untukku menceritakan kepadamu apa-apa yang terjadi padaku
waktu yang tak cukup atau kadang bibir yang terasa kelu?
entah apa alasannya, aku buuh waktu yang lebih panjang! dua, satu, empat, sembilan jam saja tak cukup untuk ku.
seberapa jahatnya engkau terhadapku, terhadap orang yang menyayangimu, aku selalu memiliki kata 'nyaman' sehingga aku selalu suka bercengkrama bersamamu.
Dec 10, 2016
Dec 10, 2016 at 9:13 AM UTC
Aku pernah diajak pulang.
Senyumnya seperti figura kecil di ujung ruang,
Sentuhannya familiar seperti mainan usang.
Aku tidak mau diajak pulang.
Tangannya hangat seperti teh yang baru dituang,
Tatapannya halus seperti selimut yang sudah dibuang,
Tapi sekarang belum saatnya pulang.
Aku ditinggal pulang oleh mama.
Katanya dia tidak bisa berlama-lama,
Katanya dia masih orang yang sama,
Yang walaupun raganya sudah tidak bisa diajak bercengkrama,
Balut hangat cintanya akan selalu jadi rumah.
Feb 2, 2021
Feb 2, 2021 at 12:45 PM UTC
seperti biasa..
suatu rutinitas yang kupikir
tidak akan berubah
hari kemarin, sekarang, ataupun esok
aku melihat mu
duduk di kursi yg sama
di samping jendela yang sama
lelah, tertidur lalu terbangun
lalu bersandar dan menatap langit luar
menantikan sebuah perhentian
tapi hari ini kamu berbeda
aku menangkapmu melirik padaku
lalu membuangnya kearah yg lain
tersipu malu..
dibalik rambutmu
kamu menyembunyikan senyummu
aku pun mulai menerka-nerka
sesuatu yang kupikir tidak biasa
bertanya dalam hati "kamu ini kenapa?"
ya. kita memang selalu bersama
namun tidak pernah bercengkrama
"apakah ini saatnya kita untuk
saling mencairkan suasana?"
Feb 28, 2020
Feb 28, 2020 at 6:24 PM UTC