Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"basah" poems
Palembang, 22 Juni 2011 Api itu hampir merajai waktu Merenggut harta benda tanpa ampun Mangarang tubuh yang sesepuh Duduk pun terdiam di kursi besi butut Kekuatan api bagai Sang Supernova Membumbung tinggi tak ada yang terjaga Meletup-letup bagai haus dan lapar Tinggallah hamparan abu di senja tiba Sebelum fajar menyingsing indah Berisik di tengah jalan sirine mengulang Langkah kaki mondar-mandir yang tentu arah Bergotong royong pun dengan peluh dan baju basah Ku duduk terdiam terpaku Setengah melamun di sebelum senja muncul Ku tersadar pun di tengah padam lampu Dan ku lihat Monalisa tersenyum pada ku Ku duduk bersimpuh di kaki Menunduk dan berharap ini hanya mimpi Dan aku bangkit tuk lihat situasi Ku dengar mayat rapuh bagai tiada arti lagi Tak mampu tumpah air mata Hanya tubuh kaku mati rasa Pikiran yang ingin selalu waspada Mental ini rapuh butuh udara Abu terasa di mana-mana Terinjak, menyatu dengan tanah Menutup mata kini selaalu terjaga Menjaga hari tanpa Supernova 9 Juni penuh cerita Di bawah tangisan dan panikan Wanita memasak dan menjaga anak Pria bahu membahu membangun rumah
0
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:26 AM UTC
Cerita Semi (9 Juni 2011)
Sebetulnya tidak ada yang terlalu berbeda pada Jogja malam itu, namun memang spesial. Ada kamu di hadapanku, diterangi remangnya lampu kedai kecil tempat kita berdua berteduh dari gerimis dan dinginnya kota Jogja malam itu. Kamu tidak banyak bicara, sibuk dengan sepiring gudeg dan segelas wedang jahe favoritmu. Aku tidak bisa berhenti memandangi parasmu. Meski hanya diterangi lampu remang-remang, dan peluh yang basah akan air hujan, bagiku kamu tetap nomor satu. Sang pemilik kedai pun memutar piringan hitam miliknya, terlantunlah ‘Berdua Saja’. Aku masih ingat betul tatapanmu malam itu seiring dengan alunan lagu. Sederhana, teduh, dan penuh dengan kehangatan. Malam itu, aku sadar bahwa rumah tempatku pulang bukanlah bangunan bata beratap dengan satu pintu dan dua jendela. Malam itu aku sadar, Sepasang mata bola yang teduh dan hangat itulah tempatku pulang. Kamulah tempatku pulang.
0
Oct 22, 2016
Oct 22, 2016 at 12:20 AM UTC
11.00 - Aku, Kamu dan Jogja.
Basah, ku lihat pipimu. Katanya kau kelelahan, Tapi yang ku lihat bukan keringat. Kata nenekku, itu air mata, Karena matamu merah. Mana mungkin, kau berkeringat dengan mata merah dan sedikit bengkak? Lusuh, ku lihat mukamu. Katanya kau tak menyentuh air seharian. Debu yang kemarin kau dapatkan ketika menjemputku di Taman Kota masih menempel, katamu. Lusuhmu bukan karena debu, Kata Ibuku, itu karena lapar. Ternyata kau sudah berhenti makan, Sejak dua hari sebelum kita bertemu. Kenapa memang? Memang aku tidak berhak tahu kalau kau sedang tidak baik saja? Alih-alih kau tidak ingin menambah bebanku, Kau selalu mengatakan kalimat-kalimat yang tidak benar adanya. Kenapa memang? Memang aku tidak berhak untuk paling tidak, membuat mu merasa lebih baik? Ah benar saja, Aku kan tidak pernah mampu, Sebab, siapa aku? Hanya tempat pelampiasan nafsu.
0
Nov 30, 2020
Nov 30, 2020 at 12:46 AM UTC
Salatiga
Dengarlah gemuruh hujan pada malam hari ini; Dengan irama tetesannya kebisuan dicurahkan; Dalam kegelapan jua para pencari melangkah; Menyusuri persimpangan jalanan yang basah; Mungkinkah sudah keraguan mereka terhapuskan? Ataukah praduganya telah menjadi satu bentuk prasangka, Yang sekiranya kembali menolak untuk lagi-lagi berbicara? Dengan satu sapuan halusnya kembalilah dikau sunyi menjadi hening, Hening menjadi tiada, seperti tiada memunculkan hampa; Lalu hampa pergi meninggalkan luka yang menganga pada dikau; Hanya kesembuhan dari hujan yang dinanti mereka yang terluka; Seperti juga berkat yang dinantikan dikau yang tak lelah menanti; Memegang erat setiap butiran yang mungkin tak mampu dimiliki; Mendengar irama yang selamanya tak mampu dimengerti; Bersabdalah hujan pada semesta di malam hari ini; Hanya kesunyian yang terus ia ajak bicara dalam isyarat; Hanya kegelapan yang selamanya tak mampu ia lihat; Pengheningan resah telah menjadi gundah sang hujan; Seperti gundah itu sendiri menjadi gulana dikau; Seperti dikau yang hadir dan hilang dalam rimbanya hujan, Kembali dicari namun tak mampu dihilangkan.
0
Jun 24, 2017
Jun 24, 2017 at 5:56 AM UTC
Perbincangan Dengan Sang Hujan
Apakah langit sedang sedih? Kenapa menangis? Memandang langit yang bermuram durja Bajuku baru! Aku tak mau basah Baju merah berbintik hitam Pas sekali Memetik daun peterseli Memandang refleksi diri di genangan air Bajuku baru! Jangan kehujanan Baju merah berbintik hitam Melekat manis di tubuh mungil
0
Mar 23, 2014
Mar 23, 2014 at 8:40 AM UTC
Payung
Penyair itu melangkahi pengemis pincang yang lelap itu. Kasurnya adalah trotoar dan mimpinya ntah apa. Jangan bahas mimpi jadi jutawan dengan kemeja dasi rambut klimis. Mimpi basah saja harus sembunyi sembunyi. Kan takut toh masturbasi di pinggir kali ? Soalnya guys, coli itu pun harus pake tangan kanan selain soal tekanannya yang konstan .. KALAU TANGAN KIRI KIRI KIRI, Disangka PKI ! Ini perihal dosa Illahi saudara saudari! — Lalu pengemis itu Menatap angannya setinggi bintang di lantai 53 menara menara ibu kota. Mengelus ngelus perut kurusnya. Alhamdullilah, hari ini bisa santap sisa paha ayam dari restoran kebarat baratan itu. Mungkin baginya, Tuhan menjelma dalam bentuk tempat sampah. Menyediakan pangan sisa sisa umat kesayangan-Nya. Dan dia, umat yang lupa ia punya. Pagi datang. Ia terus berjalan tanpa alas kaki. Sekelibat melihat lamborgini, berkawal polisi. Presiden mungkin ah? Nomor satu, atau duah? Dia tidak pernah berharap pada Tuhan. Atau presiden. Mungkin ia harus tetap berjalan saja. Atau mungkin ia harus berharap pada ratu adil. Entah kapan ia munculnya. Apa ketika jari-jari kakinya lepas. Hingga tidak bisa melangkah lagi. Atau lelah menguasai tubuh. Hingga enggan melangkah lagi. Atau seluruh kakinya patah Pun ia tidak peduli lagi? Apa ratu adil sedang sibuk memasang konde besarnya Takut takut tidak terlihat cantik saat hadir sebagai pahlawan kesiangan. Atau ratu adil sedang sibuk Memutuskan hukuman adil untuk penyair ini yang mempertanyakan kuasa Ilahi dia punya? Atau mungkin ratu adil berhati dingin. Seharusnya iya karena mana mungkin beliau yang welas asih membiarkan hambanya pontang panting, malah sibuk mengurus penyair mengkritik program kerja-Nya tahun ini. Yah .. Memperhatikan pengemis itu terpincang-pincang lebih asyik daripada mengurus Tuhan. Presiden. Atau ratu adil. Apakah Mas Aristoteles meramalkan distopia pada nusantara?
0
May 14, 2019
May 14, 2019 at 1:28 PM UTC
Penyair Setelah Tahun '65
Penyair itu melangkahi pengemis pincang yang lelap itu. Kasurnya adalah trotoar dan mimpinya ntah apa. Jangan bahas mimpi jadi jutawan dengan kemeja dasi rambut klimis. Mimpi basah saja harus sembunyi sembunyi. Kan takut toh masturbasi di pinggir kali ? Soalnya guys, coli itu pun harus pake tangan kanan selain soal tekanannya yang konstan .. KALAU TANGAN KIRI KIRI KIRI, Disangka PKI ! Ini perihal dosa Illahi saudara saudari! — Lalu pengemis itu Menatap angannya setinggi bintang di lantai 53 menara menara ibu kota. Mengelus ngelus perut kurusnya. Alhamdullilah, hari ini bisa santap sisa paha ayam dari restoran kebarat baratan itu. Mungkin baginya, Tuhan menjelma dalam bentuk tempat sampah. Menyediakan pangan sisa sisa umat kesayangan-Nya. Dan dia, umat yang lupa ia punya. Pagi datang. Ia terus berjalan tanpa alas kaki. Sekelibat melihat lamborgini, berkawal polisi. Presiden mungkin ah? Nomor satu, atau duah? Dia tidak pernah berharap pada Tuhan. Atau presiden. Mungkin ia harus tetap berjalan saja. Atau mungkin ia harus berharap pada ratu adil. Entah kapan ia munculnya. Apa ketika jari-jari kakinya lepas. Hingga tidak bisa melangkah lagi. Atau lelah menguasai tubuh. Hingga enggan melangkah lagi. Atau seluruh kakinya patah Pun ia tidak peduli lagi? Apa ratu adil sedang sibuk memasang konde besarnya Takut takut tidak terlihat cantik saat hadir sebagai pahlawan kesiangan. Atau ratu adil sedang sibuk Memutuskan hukuman adil untuk penyair ini yang mempertanyakan kuasa Ilahi dia punya? Atau mungkin ratu adil berhati dingin. Seharusnya iya karena mana mungkin beliau yang welas asih membiarkan hambanya pontang panting, malah sibuk mengurus penyair mengkritik program kerja-Nya tahun ini. Yah .. Memperhatikan pengemis itu terpincang-pincang lebih asyik daripada mengurus Tuhan. Presiden. Atau ratu adil. Apakah Mas Aristoteles meramalkan distopia pada nusantara?
Continue reading...
45
izinkan  saja angin bertiup dan kamu jatuh tak mengapa jika rintik rintik hujan membuatmu begitu basah karena bumi tetap memelukmu
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:39 AM UTC
daun
teruntuk bulan Juli, walaupun aku selalu membenci hujan dan bagaimana air turun dari langit, bagaimana hujan menghancurkan segala hari-hariku dan lembab tanah yang mengganggu, dan yang pada akhirnya bulan Juli, mataharimu bersinar cerah, dan saking teriknya, panasmu menusuk jiwa bagaikan aku tidak siap untuk segalanya, aku jatuh sendirian dan sejujurnya, naif. aku rindu, langit gelap dan aroma basah tanah saat air hujan turun, aku rindu, kamu memegang tangan eratku pada tengah hujan di kota itu teruntuk bulan Juli, maukah kamu untuk terakhir kali menjatuhkan hujan dari langitmu itu? bukan, bukan untuk mengenang hal indah, tidak, tidak, untuk apalagi? hujan di bulan Juli, aku mohon, hanya untuk membasuh semua luka sakit.
0
Jul 11, 2019
Jul 11, 2019 at 12:40 PM UTC
hujan di bulan Juli
Aku menyusuri jalan, kembali ke tempat itu, memesan kopi yang sama, mengulangi rutinitas kecil yang entah kenapa terasa menenangkan. Kadang aku terjebak hujan, di perjalanan berangkat, atau saat hendak pulang. Tapi aku tak benar-benar sendiri, selalu ada kisah-kisah kecil yang menemani, seperti sore itu: sebuah keluarga kecil menepi di tengah derasnya hujan, anak mereka bersembunyi di antara dua tubuh yang hangat. Aku terdiam, menunduk, berdoa dalam hati: “Semoga rezekimu dilapangkan Dek. Semoga orang tuamu suatu hari bisa membawamu pulang dengan nyaman tanpa perlu basah seperti ini.” Aku jadi ingat, aku pun pernah berdiri di tempat yang sama. Hujan membasahi tanah yang sebelumnya tandus, bersama seorang anak sekolah, dan beberapa orang asing yang memilih meneduh, diam-diam berbagi waktu di bawah atap yang sama. Kala itu, jas hujan ada di sepedaku, tapi aku tetap memilih tinggal. Entah kenapa, terasa penting: melihat hujan membasahi tanah yang dulu kering. Karena aku percaya, kering tak selamanya, dan kita semua di waktu yang sama, sedang bertumbuh.
0
Apr 29, 2025
Apr 29, 2025 at 2:55 AM UTC
Ketika Waktu Menumbuhkan Semua yang Pernah Kering
Hembusan angin sayu, menyapa rumput sendu Rintik hujan turun segan, basah ranting kerontang Seolah bersatu padu, gambarkan kecewaku Mereka kata "lihat mata si bodoh keluar tangis" Kubilang "pergi jauh dasar iblis" Sendiri kini kau disana Gantung diri hilang kecewa Jatinangor, 21 Desember 2017
0
Dec 21, 2017
Dec 21, 2017 at 9:05 AM UTC
Seni Diri
Setetes, dua tetes, tiga tetes, empat tetes Air hujan akhirnya kembali pulang ke kampung halamannya Ke tanah kering, Berisi hamparan debu dan keluhan para penghuni kota yang melebur jadi satu Melagu, menyelimuti atmosfer kota yang dihinggapi kebosanan dan ketergesaan Kemajemukan dan kesamaan-kesamaan Kebebasan dan keterbatasan Kesempatan dan hambatan-hambatan Jalan panjang menuju rumah Dihuni sepi, tetesan hujan di jendela bus, dan pikiran-pikiran tak lumrah Trotoar basah dan langit gelap Berhenti di satu halte, Seorang laki-laki berkemeja kotak-kotak datang menghampiri Tanyanya, “Hai, di sini kosong?” Perempuan itu diam, mengangguk. “Kosong.” Laki-laki itu duduk di sebelahnya, memangku tas ransel hitam, dan bertanya lagi, “Tahu kenapa langit tiba-tiba menangis?” Perempuan itu menggeleng. “Kenapa?” Laki-laki itu bicara lagi, mendekatkan kepalanya, “Karena langit sedang mencari rumahnya yang lama hilang.” Tepat saat itu, Si perempuan tersadar, Terlalu lama ia tenggelam, Dalam percakapan yang hanya hidup di ruang imajinasinya.
0
Aug 26, 2019
Aug 26, 2019 at 7:30 AM UTC
Rumah
Jika dingin rasanya untuk meneriaki hujan, betapa basah dan sedih yang dibawanya pulang Tak usah kau menjeritkan gundah kepada api yang tak sanggup menghanguskan rindu dan pengharapanmu Jangan pula kau tiupkan dustamu pada angin, karena ia melesat pergi bagai anak panah yang kabur dari busur Lihatlah sungai yang mengalir, dia akan menghanyutkan laramu diantara daun-daun sesembahan itu. Alam akan membawamu pergi, seperti air yang meresapi tanah dan membumbung ke angkasa.
0
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:26 PM UTC
Berhenti Bunuh Diri
Trotoar yang basah karena es yang mencair, Ungkapan penyesalan beserta cacian terlontarkan. Seseorang memilih hidup di masa lalu, Seseorang yang ingin merubah semuanya, Seseorang yang ingin mencari tujuan, Kita semua punya dosa masing-masing bukan "Kami tertawa kami sepakat ini semua baru permulaan." Beberapa pria sulit menceritakan hal buruk yang terjadi pada dirinya, Beberapa dari kita terjebak dalam rutinitas yang tidak pernah kita sukai, Pola yang berulang setiap pekan. 21 yang menyebalkan, namun penuh pelajaran Kami melempar dadu yang sama berkali-kali dan menebak angka yang salah, Kami anggap ini skakmat kehidupan Menunggu dimakan atau membalas menyerang. 2025 reydmh
0
May 19, 2025
May 19, 2025 at 3:23 PM UTC
Pagar besi & botol hijau
6 a.m di Surabaya - 1 a.m di Gaza Saat bangun tidur badanku terasa lemas. Masih terlalu pagi aku masih ingin berbaring di kasur. Sambil kubuka akun X orang orang Gaza yang kukenal. Tapi hanya akun Omar yang tampak aktif. Memposting apapun yang sedang dia alami. Omar mengeluh susah tidur. Kedinginan berselimut kain tipis usang. Banyak nyamuk masuk ke tendanya. Sementara di luar suara zanana mengganggu. Diselingi ledakan bombardir pesawat jet. 10 a.m di Surabaya - 05 a.m di Gaza Aku bosan menunggu antrian bank yang ramai. Sambil menunggu sepi kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh melihat banyak belatung. Merubung sisa tepungnya yang hampir kadaluwarsa.   Dia tak bisa lagi membuat roti. 11 a.m di Surabaya - 06 a.m di Gaza Aku menunggu ojek online di tepi jalan. Sambil merokok kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh kehabisan sabun dan shampo. Sementara air untuk mandi dan mencuci. Hanya tersisa setengah ember. 01 p.m di Surabaya - 08 a.m di Gaza Aku sedang makan siang di Peneleh. Makan pecel sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh saat mengantri di toko. Menghabiskan waktu dan tenaga. Berdesak desakan hanya untuk sekantung roti. 04 p.m di Surabaya - 11 a.m di Gaza Saat sore aku nongkrong di Wonokromo. Minum kopi sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah belanja di pasar. Bawang , tomat , terong , kentang dan cabai. Harganya semakin naik tak terjangkau. 06 p.m di Surabaya - 01 p.m di Gaza Aku sedang duduk di beranda masjid. Menunggu isya sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah berjalan jauh. Merasakan kepanasan dan kelelahan. Hanya untuk mengecas ponselnya di solar panel dekat pantai. 08 p.m di Surabaya - 03 p.m di Gaza Aku masih makan malam di Tunjungan. Makan rawon sambil kubuka lagi akun Omar. Ternyata di Gaza sedang hujan deras. Omar mengeluh setelah tendanya kebanjiran. Barang barangnya basah terkena air hujan. 09. p.m di Surabaya - 04 p.m di Gaza Temanku mengajak minum kopi di kafe. Minum cappucino sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh sudah lama tidak makan ayam. Yang bisa dia lakukan hanyalah menggambar ayam. Lalu menaruhnya di atas piring kosong. 10 p.m di Surabaya - 5 p.m di Gaza Aku sedang menonton sepakbola. Saat jeda kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah memeriksa Gofundme. Hampir seminggu tak mendapat donasi. Sementara uangnya hanya tersisa puluhan shekel. 01 a.m di Surabaya - 08 p.m di Gaza Tengah malam aku bersiap tidur. Sambil berbaring di kasur kubuka lagi akun Omar. Ternyata pemukiman dekat tendanya baru saja dibombardir. Omar mengeluh setelah kelelahan membantu evakuasi. Dia hampir muntah melihat serpihan tubuh berlumuran darah. 03. a.m di Surabaya - 10 p.m di Gaza Aku merasa kesulitan tidur. Sambil mendengarkan musik kubuka lagi akun Omar. Ternyata dia masih tetap mengeluh. Merasa lelah terus menerus mengeluh. Terlalu banyak keluhan hingga kelelahan mengeluh. Aku juga lelah melihat Omar terus mengeluh. Tapi orang yang menderita memang harus mengeluh. Hanya mayat yang tak bisa lagi mengeluh. Mayat tak merasakan penderitaan untuk dikeluhkan. Daripada menjadi mayat lebih baik Omar tetap hidup walaupun terus mengeluh. November 2024 By Alvian Eleven
0
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:44 PM UTC
OMAR SELALU MENGELUH
6 a.m di Surabaya - 1 a.m di Gaza Saat bangun tidur badanku terasa lemas. Masih terlalu pagi aku masih ingin berbaring di kasur. Sambil kubuka akun X orang orang Gaza yang kukenal. Tapi hanya akun Omar yang tampak aktif. Memposting apapun yang sedang dia alami. Omar mengeluh susah tidur. Kedinginan berselimut kain tipis usang. Banyak nyamuk masuk ke tendanya. Sementara di luar suara zanana mengganggu. Diselingi ledakan bombardir pesawat jet. 10 a.m di Surabaya - 05 a.m di Gaza Aku bosan menunggu antrian bank yang ramai. Sambil menunggu sepi kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh melihat banyak belatung. Merubung sisa tepungnya yang hampir kadaluwarsa.   Dia tak bisa lagi membuat roti. 11 a.m di Surabaya - 06 a.m di Gaza Aku menunggu ojek online di tepi jalan. Sambil merokok kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh kehabisan sabun dan shampo. Sementara air untuk mandi dan mencuci. Hanya tersisa setengah ember. 01 p.m di Surabaya - 08 a.m di Gaza Aku sedang makan siang di Peneleh. Makan pecel sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh saat mengantri di toko. Menghabiskan waktu dan tenaga. Berdesak desakan hanya untuk sekantung roti. 04 p.m di Surabaya - 11 a.m di Gaza Saat sore aku nongkrong di Wonokromo. Minum kopi sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah belanja di pasar. Bawang , tomat , terong , kentang dan cabai. Harganya semakin naik tak terjangkau. 06 p.m di Surabaya - 01 p.m di Gaza Aku sedang duduk di beranda masjid. Menunggu isya sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah berjalan jauh. Merasakan kepanasan dan kelelahan. Hanya untuk mengecas ponselnya di solar panel dekat pantai. 08 p.m di Surabaya - 03 p.m di Gaza Aku masih makan malam di Tunjungan. Makan rawon sambil kubuka lagi akun Omar. Ternyata di Gaza sedang hujan deras. Omar mengeluh setelah tendanya kebanjiran. Barang barangnya basah terkena air hujan. 09. p.m di Surabaya - 04 p.m di Gaza Temanku mengajak minum kopi di kafe. Minum cappucino sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh sudah lama tidak makan ayam. Yang bisa dia lakukan hanyalah menggambar ayam. Lalu menaruhnya di atas piring kosong. 10 p.m di Surabaya - 5 p.m di Gaza Aku sedang menonton sepakbola. Saat jeda kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah memeriksa Gofundme. Hampir seminggu tak mendapat donasi. Sementara uangnya hanya tersisa puluhan shekel. 01 a.m di Surabaya - 08 p.m di Gaza Tengah malam aku bersiap tidur. Sambil berbaring di kasur kubuka lagi akun Omar. Ternyata pemukiman dekat tendanya baru saja dibombardir. Omar mengeluh setelah kelelahan membantu evakuasi. Dia hampir muntah melihat serpihan tubuh berlumuran darah. 03. a.m di Surabaya - 10 p.m di Gaza Aku merasa kesulitan tidur. Sambil mendengarkan musik kubuka lagi akun Omar. Ternyata dia masih tetap mengeluh. Merasa lelah terus menerus mengeluh. Terlalu banyak keluhan hingga kelelahan mengeluh. Aku juga lelah melihat Omar terus mengeluh. Tapi orang yang menderita memang harus mengeluh. Hanya mayat yang tak bisa lagi mengeluh. Mayat tak merasakan penderitaan untuk dikeluhkan. Daripada menjadi mayat lebih baik Omar tetap hidup walaupun terus mengeluh. November 2024 By Alvian Eleven
Continue reading...
78
Biar rintik tangis langit membawa ceritaku ke awan dan dijatuhkannya di depan matamu. Sampai basah tersimpan pada kelamnya aspal Gudang Utara malam ini. Sudah berendam pada firman-firman Bapa, untuk pudarkan namamu dari jiwaku. Pikiranku bulat, doaku tegak. Jadi, sampai disini saja pementasanmu, kamu bukan lagi lakon utama ataupun lakon pendukung ceritaku. Koper ini kutinggalkan, terlalu lelah pundakku menanggung beban pikiran atas kemungkinan yang fana. Biar bumi berkisah tentang kekosongan yang pernah tak kupahami. Memoriku telah lalu, kini terisi dengan yang baru.
0
Mar 6, 2020
Mar 6, 2020 at 10:46 AM UTC
Baggage.
Ada banjir di suatu petang, banjir yang paling kutakuti. Banjir air sudah biasa, banjir yang ini luar biasa. Kenangan di mana-mana. ​ Banjir basah di mata, banjir pilu di hati, banjir rindu di ulu.
0
Nov 17, 2022
Nov 17, 2022 at 7:46 PM UTC
Bukan Banjir Air