"angan" poems
Maa ki mamta ko dekh maut v
aage se hat jati hai
gar maa apmanit hoti
dharti ki chaati fat jaati hai
ghar ko pura jeevan dekar
bechari maa kya pati hai
rukha sukha kha leti hai
paani *** kar soo jati hai
Jo maa jaisi devi ghar ke
mandir me nahi rakh sakte hai
wo lakho punya bhale kar le
inshan nahi ban sakte hai
maa jisko v jal de-de
wo paudha sandal ban jata hai
maa ke charno ko chukar paani
Gangajal ban jata hai
Maa ke anchal ne yugo-yugo se
Bhagwano ko pala hai
maa ke charno me jannat hai
Girijaghar aur Shivala hai
Himgiri jaisi unchai hai
sagar jaisi gahrai hai
dunia me jitni khushboo hai
maa ke anchal se aaye hai
Maa kabira ki sakhi hai
maa tulsi ki chaupai hai
meerabai ki padawali
khusru ki amar rubai hai
maa angan ki tulsi jaisi
pawan bargad ki chaya hai
maa ved richao ki garima
maa mahakavya ki maya hai
Maa maansarovar mamta ka
maa gomukh ki unchai hai
maa parivaro ka sangam hai
maa rishto ki gahrai hai
maa hari dubh hai dharti ki
maa keshar wali kyari hai
maa ki upma kewal maa hai
maa har ghar ki phulwari hai
Saato sur nartan karte jab
koi maa lori gaati hai
maa jis roti ko chu leti hai
wo prasad ban jati hai
maa hasti hai to dharti ka
jarra-jarra muskata hai
dekho to dur kshtiz ambar
dharti ko sheesh jhukata hai
Mana mere ghar ki deewaro me
chanda si murat hai
par mere man ke mandir me
bas kewal maa ki murat hai
maa saraswati lakshmi durga
ansuya mariyam sita hai
maa pawanta me ramcharit
manas me bhagwat geeta hai
Amma teri har baat mujhe
vardaan se badhkar lagti hai
he Maa teri surat mujhko
bhagwan se badhkar lagti hai
saare teerath ke punya jaha
mai un charno me leta hu
jinke koi santan nahi
mai un maawo ka beta hu
Har ghar me Maa ki puja **
Aisa sankalp uthata hu
Mai dunia ki har maa ke
Charno me ye sheesh jhukata hu.....
Aug 6, 2015
Aug 6, 2015 at 3:35 AM UTC
Senja djakarta enam belas januari dua ribu lima belas . di hadapan leptop , aku merangkai kata demi kata untuk menghasilkan sebuah karya yang indah . ku tatapi sekelilingku ... benda mati , sepi, lengang ... andai printer yang disampingku itu berbicara... gunting itu berkata, dan pulpen ini berteriak , akan aku ceritakan sebuah kisah klasik ini di hadapan benda-benda itu . entah apa yang aku rasakan saat ini . abstark sepertinya . aku pernah berangan-angan menikmati teh rosela bersama bapakku didalam dekapan senja hangat mengantarkan mentari itu pulang , dalam dekapan . bapak yang aku rindukan kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini . Maafkan aku mama, aku tidak pernah serindu ini kepada bapakku . tapi percayalah , kedudukanmu dihatiku selalu ku prioritaskan bak malaikat yang selalu menjagaku setiap hari . Mama... bisakah engkau wakilkan rasa ini kepada bapakku , bahwa aku ingin mencium tangannya . kemudian ia tersenyum merasakan hangat cinta anakknya .
rasa apa yg lebih berarti daripada menahan rindu ini , menahan rindu akan sosok bapakku yang genap 8 tahun sudah tidak pernah menyapaku lagi . aku tidak ingin mengingatnya dengan kenangan buruk , tetapi aku akan mencoba menguburnya ,dan ini lah saatnya aku menjadi pribadi yang berubah .
bapak, tahukah engkau pak , aku sudah beranjak dewasa, dr dewasa itu aku menemukan siapa diriku sebenarnya . sadar bahwa aku bukanllah apa-apa tanpamu pak . sadara bahwa aku di dunia ini karena mu dan ibu . maafkan aku yang tidak pernah mendegarkanmu .
Senja ... saksikanlah bahwa aku ingin sekali bapak duduk di pelaminan bersama ibu , dan aku berada tepat di bawah kakiknya . sembah sungkem merestui pernikahanku bersama pria yang dikirimkan ALLAH untukku .
Jan 16, 2015
Jan 16, 2015 at 6:09 AM UTC
Kudengar adzan berkumandang
Ah! Subuh datang
Membangunkanku dari istirahat malam
Mengecoh mimpi indah malam itu
Belum, kubelum siap bangun
Tapi semesta mendoktrinku
Kuharus bangun dan terjaga
Kuiyakan saja mereka
Sesaat pagi tiba
Kelembutan angin memuaskanku
Segar aroma udara memenuhiku
Pipit mericau ramai
Sesal tak ada dalam benakku
Hanya puas dan sentosa
Kutak menyesal bangun subuh
Aku ingin pagi ini bujur
Tiba-tiba sengat datang
Tolong! Tolong aku
Siang datang mencuri pagiku
Aku mulai belingsatan
Panas matahari mengantup
Aku bergidik
Meratap
Siang jahat!
Aku kutuk siang
Namun ia tak mau pergi
Ia malah semakin menjadi-jadi
Aku hilang kendali
Aku marah
Kembalikan pagiku!
Aku memohon pada siang
Aku menangis
Bahkan aku bersujud
"Siang, aku rindu pagiku"
Aku rindu ricauan pipit pagi itu
Aku kehilangan angan-angan
Novita Olivera.
Apr 30, 2016
Apr 30, 2016 at 1:19 PM UTC
Kesendirian menyelimuti tubuh
Menarikku kembali menuju angan yang tak pernah usai
Sampai kapan harus ku tahan?
Gemuruh rasa rindu yang tak tertahan
Lelah aku
Sampai kapan ini akan berlangsung?
Bayang-bayang wajah di masa lalu
Tak pernah usai mengganggu
Menampakkan kembali sebuah kisah yang telah lalu
Kala ku titipkan rindu ini pada senja
Melepas segala gundah yang akan membuncah
Lisan tiada mampu berucap
Hanya kata merangkai hati
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:08 AM UTC
Inderalaya, 27 Agustus 2014
Aku putus asa di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan
Di saat aku sedang sibuk menyemangati orang lain untuk bertahan
Tepat di saat aku berceramah agar mereka terselamatkan
Aku membela orang lain padahal aku sendiri seorang tahanan
Aku sendiri tak mampu untuk mengembalikan kehidupan, hanya berangan
Melewati waktu tanpa batas yang membuat aku tersesat di jalan
Dengan berani ku telusuri labirin tak berujung di hari tak berawan
Aku mampu menjadi lentera orang lain, di jalan gelap di ujung perapian
Namun aku tetaplah lilin yang tak berapi, angin meniup api dan angan
Aku masih tetap menjadi tahanan yang ingin terbakar di ujung perapian
Aug 26, 2014
Aug 26, 2014 at 10:29 PM UTC
Kekasihku telah meninggal
Tak ada lagi yang tersisa dari
Rambut panjangnya
Bahkan sekarang
Senyumnya berbau masam
Kekasihku telah meninggal
Sudah tak dapat lagi ia ucap
Sajak-sajak getir
Laut di ufuk
Apalagi senandung bintang atas kita
Kekasihku telah meninggal
Sentuhannya dingin
Tubuhnya kaku
Kelembutannya menjadi pisau
Dan gurauannya antarkan duka
Ia tetap tertawa dalam kematiannya
Karena jasadnya dapat terus hidup
Sebagai manusia lain
Yang bagiku, entah siapa
Yang bahkan tak kukenali danurnya
Jika bisa
Aku ingin mengembalikan tubuh itu padanya
Akan kugali kuburan dalam hatinya
Kutarik keluar jenazahnya dan kubangkitkan,
Dalam sebuah peluk dan angan
Akan kubiarkan ia merasuk
Pada tubuh tak berhati
Tak berjiwa itu
Tubuh budak
Peradaban lama
Akan kubiarkan ia merasuk
Panjang rambutnya yang fana
Senyumnya yang binar
Hatinya yang murni
Harus ku kembalikan
Pada
Tubuh
Hidup
Gentayangan
Itu
Apr 19, 2016
Apr 19, 2016 at 4:14 AM UTC
Ketika malam berganti pagi
Bintang-bintang berkelip sayu
Menanti angan yang tak tiba
Dua anak manusia
Dibawah temaram sinar lampu
Berbicara dari hati ke hati
Merah ingin mencapai Mars
Hitam ingin mencari yang hilang
Satu berdiam
Satu menangis
Sebuah memori dan luka
Datang mengambilnya
Dalam hati terus ia berucap
"Kembalilah... Kembalilah pada dirimu"
Hanya isakan yang ia dapat
Dan sebuah cerita
Yang dilalui dengan tercabik-cabik
Sep 24, 2015
Sep 24, 2015 at 3:41 PM UTC
Jakarta, 5 Mei 2008
Saat ku ingkar janji
Lagu mu hadir
Dan aku sadari
Aku pun bersedih
Saat masalah datang
Ku tak tau bagaimana
Ku kenang lirikmu
Yang indah dan ku merindu
Melodi gitar dengan kunci
Hasilkan nada yang harmonis
Maaf, ku hanya mengagumi
Sungguh hati ini cinta mati
Maaf, ku hanya bisa menangis
Sungguh, angan ku hanya mimpi
Lagumu penyejuk hati
Sadarkan aku dari ingkar janji
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:46 AM UTC
kulantunkan - lembut
kunyanyikan - kesenian
kukumandangkan - religi
kuikrarkan - formal
kulafazkan - detail
kuucapkan selamat malam duhai..... hahay.. :D
mana nih yang pas ya..
*kukumandangkan maklumat yang merindu..
oleh sanubari yang tersenyum kelu..
dari iman penghapus birahi dalam kalbu..
membangkitkan cinta yang menggebu..
hingga ranting direlung hati tak sempat betanya..
akan kemana gundah dalam jiwa terbawa..
mungkinkah hanya sebuah nestapa...?
yang tersingkap oleh nafsu dunia fana..
nurani yang kian membangkang..
bertanya pada tubuh yang terkekang..
merebahkan raga dihamparan angan yang tak lekang...
adakah keikhlasan yang terjengkang..
tutur bijakmu sering tak terhiraukan..
seluas samudra perhatian kau berikan..
dalam kasihmu tersandar persahabatan..*
Jan 21, 2014
Jan 21, 2014 at 10:30 AM UTC
Ketika pagi beranjak malam
Memutar seribu kenangan di angan
Menelusuri ruang ruang berkarat
Hingga berhenti disatu titik
Teringat asam manis kehidupan
Jiwaku terenyuh
Hanyut dalam ombak mendayu dayu
Itukah kamu cinta
Sayang yang melekat seperti nadi
Suara jangkrik menjadi iringan
Berlari, tertawa, menangis bersama
Aku tau aku tak bisa
Menarik memorimu dan berdansa
Kasih lain telah membawamu
Ketempat suci
Yang bahkan tak bisa ku raih
Dec 24, 2016
Dec 24, 2016 at 10:42 PM UTC
Sesekali
Malam bersaksi
Ialah yang kau pandang
Lewat satu-satunya
Jendela hatimu
Jam dinding
Pada tiap detiknya
Merana
Setelah menghitung
Detak jantungmu
Tembok kerap
Meniup nestapa
Saat kau di pembaringan
Meliuk pada
Hamburan mimpimu
Selamat tidur,
Degup duka.
Aku sebuah gelas
Di ujung kamarmu
Yang terlalu penuh
Minumlah sebelum
Terlelap
Agar aku dapat juga
Bersaksi perihal
Kecup dan detak jantungmu
Mar 19, 2016
Mar 19, 2016 at 3:41 AM UTC
Semburat lembayung mewarnai cakrawala
Hawa senja mendekap sisa asa yang masih ada
Tak seorangpun berani berbicara
Terbungkam oleh angan menembus masa
Mentari lambat laun kembali ke persembunyiannya
Bumi seolah bernafas kembali
Setelah terengah-engah berlari bersama waktu
Mencambuk manusia untuk selalu mengejar sesuatu
---------
*Tinge of violet washes over the horizon
The breath of dusk embraces the remnants of hope
No one dares to speak a word
Stifled by desires that pierce through the ages
The Sun slowly returns to its lair
As Earth begins to breathe again
After a winded race against Time
Lashing Man into a perpetual pursuit of Things*
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:43 AM UTC
Tentang kopi pekat
yang baru mengantar ku pulang
dengan mata setengah terpejam
Lalu,
dirimu yang mulai hilang
diantara inginku yang terlalu dipenuhi angan
serta kalimat-kalimat basi
yang datang pelan dan ringan
Dan jarak,
Jarak menjelma menjadi tubuh yang menggantikan
diriku di lenganmu
gadis bermata terang
yang bersandar malas di dadamu
May 29, 2022
May 29, 2022 at 9:31 AM UTC
dunia indah kerana impian,
impian ada kerana mimpi dan angan,
bukan paksaan dan bukan kekangan,
hanya kerana diri yang mahukan,
teruskan berjuang,
tempuh dunia dengan tenang,
yang diatas sudah merancang,
yang dibawah harus syukur dan terus berjalan,
Mar 12, 2013
Mar 12, 2013 at 1:15 PM UTC
Biarkan aku bercerita,
tentang anggun nya malam kala kita bersama.
Dua insan yang terlihat saling suka.
Tertawa lepas tentang angan yang berkelana.
Menyanyikan lagu kesukaan yang ternyata sama.
Berbaring dan saling tatap.
Biarkan aku bercerita,
Tentang isak tangis sang wanita kala rindu menyergap.
Penantian panjang pesan yang tak dibalas.
Lagu yang tak lagi terdengar menyenangkan.
Berbaring dengan harapan sang pujangga kembali datang.
Sep 7, 2018
Sep 7, 2018 at 11:09 AM UTC
Palembang, 6 Mei 2012
Aku ini terbuang
Dari lahan gersang ke oasis kering
Jauh dari keramaian,
Jauh dari kehidupan
Aku ini terbuang
Melawan angin yang menerjang
Memilin tambang,
Dibunuh torpedo yang menyerang
Aku ini terbuang
Tak dikenal
Terbelakang
Angan tertinggal
May 25, 2012
May 25, 2012 at 2:40 AM UTC
Andaikata aku adalah seekor burung
Terbang membentangi praja
Menapaki ribuan ruang impian
Melekang langit senja nan dekat
Tak akan kulakukan
Andaikata aku adalah seekor burung
Yang tentu ialah
Aku rindu dengan potret otentikku
Kedua kaki, kedua tangan, akal dan pikiran
Andaikata aku adalah manusia
Menyandang kedua sayap putih bak malaikat
Tanpa lelah, tanpa sakit, tanpa keluh
Peran satria menjaga fisik juga hati
Angan jauh sebab manusia itu aku
Andaikata aku berjaya nanti
Ada di puncak emas dengan berlian sebagai udaraku
Seraya senyum lagak hormat
Akankah aku merindu sosokku yang sederhana kala itu?
Jun 4, 2018
Jun 4, 2018 at 12:01 PM UTC
Panas terpapar auramu
Menggeliat menyapu menyeluruh
Hingga gugur kalbu
Terbakar oleh angan para penyelatu
Hilang perlahan menggugur
Berasap menghilang semu
Layaknya debu-debu tertiup sang bayu
Memudar seperti bayang nafsu
Dari pemilik warna warna itu
Menjajakan aksara palsu
Mendulang manis ucap rindu
Membiaskan maki dalam untaian lagu
Menerkam mangsa yang diam terpaku
Sampai penuh hasrat itu
”Oh, Jadi seperti ini rupa asli kawan kawanku? sugguh lucu”
Oct 1, 2016
Oct 1, 2016 at 10:13 AM UTC
aku bersebrangan dengan angan dan mauku
sulit jika tak ada prantara
jatuh terperosok mungkin hal biasa
terjungkal aku tak mengapa
hanya jembatan asa yang dirajut harapan kuat
yang jadi kebutuhan dan kekuatan
Nov 15, 2018
Nov 15, 2018 at 7:15 AM UTC
Malang; Biarkan aku bercerita,
tentang anggun nya malam kala kita bersama.
Dua insan yang terlihat saling suka.
Tertawa lepas tentang angan yang berkelana.
Menyanyikan lagu kesukaan yang ternyata sama.
Berbaring dan saling tatap.
Menyadari cinta selalu ada.
Dec 29, 2018
Dec 29, 2018 at 12:27 PM UTC
Mungkin memang hanya diriku
Yang terlalu dalam jatuh dalam godaan asmara
Hingga membuatku terasa mati dibunuh diri sendiri
Sengaja menyayat hati
Menutupi bingar amarah ini
Sakit yang membuatku terenyum
Tersenyum dengan hati merintih pedih
Bunda, tak ada tempat bagiku untuk kembali
Siapakah diriku
Dimanakah hati ini terbuang
Hanya memandang kosong dalam angan tanpa buaian selayang pandang
Meratap pada langit
Berdusta pada tanah
Kini tinggallah aku berdua dengan-Mu
Masih adakah tempat bagiku di pangkuan-Mu?
Jun 6, 2017
Jun 6, 2017 at 11:54 PM UTC
terasa sesak dalam benak
saat kata 'sampai jumpa' tak terelak
terasa sedih dalam raga
ketika berhenti saling menjaga
akan terasa siksa dalam kalbu
saat nanti tiba rasa rindu yang menyerbu
kawan,
ingatlah, jumpa ini takkan terlupa
segala hal yang telah ditempa
segala hal yang berujung nestapa
semua insan yang telah menjadi siapa-siapa
takkan bisa terlupa
candaan
berhasil mencairkan
ujian
berhasil menguatkan
kebencian
hilang dalam percakapan
kesedihan
hilang dalam dekapan
kawan,
jangan sesali jumpa ini
isak tangis kini
jangan biarkan membebani
kawan,
masa depan menanti
impian tak mungkin berhenti
si pelerai jumpa memang tak punya hati
namun, jangan berkecil hati
percayalah kita kan berjumpa lagi nanti
semesta pasti mengerti
bahwa ini adalah bagian dari rencana si takdir pasti
mempertemukan
lantas
memisahkan
tetapi tenang
rencana si takdir yang dicanang
takkan dibuatnya kita terus berlinang
terima kasih kepada semua insan
yang berpapasan
yang telah menjadi panduan
yang telah memberi acuan
yang telah berlisan
merajut angan
May 27, 2019
May 27, 2019 at 10:53 PM UTC
Kenapa diam?
Matamu berisik ingin berbisik—perasaanku ini asing, mengusik—tapi kamu tahu, kan?
Kamu masih diam.
Kenapa menjauh?
Aku bukan rumah tak bertuan—aku ini sudah dirumah—tapi kamu salah rumah, kan?
Kamu diam lagi.
Kenapa mengelak?
Setiap kenangan ada di angan, kamu langsung meninggalkan ruangan—jangan, jangan kamu, tidak boleh kamu—dirapalkan terus menerus seperti denting jam dinding tua diujung jalan, kamu takut, kan?
Kamu diam lagi.
Kenapa menyerah?
Rautmu tidak terbaca, saat iris kita beradu lewat kaca.
Begitu pula dengan langkahmu, yang berhenti setelah ujung sepatu kita bertemu.
Inginku kita bertemu lagi besok pagi, nyatanya mulutmu hanya tahu elegi—karena aku maunya dia, makanya aku meninggalkan ruangan, cukup dia—rasa ini mati sebelum sempat mendapatkan hati.
Feb 6, 2021
Feb 6, 2021 at 1:48 PM UTC