Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
#sajak
Bunga adalah kebahagiaan, Dan benih, dan kuncup, dan mekar, juga layu. Ku tanam benih itu pada tanah yang subur, Kian hari kian menguncup malu-malu, Waktu demi waktu bermekar indah. Dan masa telah tiba, Keindahannya melayu, Merintih sedih, Dimakan oleh waktu. Menyimpan rasa dari suka menjadi cinta, Kian hari kian bertumbuh dengan malu, Waktu demi waktu semakin jatuh padanya, Sorot mata yang indah membuatku menyimpan rasa padanya. Dan masa telah tiba, Cinta itu terkubur dalam, Saat tahu tak mungkin kuungkapkan, Menghindari waktu dan berlari, Berharap "tak asing" itu tak pernah pergi.
0
Feb 15
Feb 15, 2026 at 1:10 PM UTC
Dan, Adalah.
Kamu adalah ramai yang tak pernah sepi, Juga separuh jiwa yang telah lama kian menepi, Seperti tersapu ombak yang dipaksa untuk berhenti, Membawa kenangan berdebu yang telah kembali. Dan angin menyambutnya lagi dan lagi, Seluruh perasaan tak diharapkan itu kembali, Sang pemilik rasa berusaha menolak kesekian kali, Ia berharap perasaan itu pergi. Namun, nyatanya, perasaan itu memaksa masuk menembus lorong waktu walau kehadirannya tak pernah lagi disenangi.
0
Feb 15
Feb 15, 2026 at 1:05 PM UTC
Luruh
Layaknya komedi putar, seakan berjalan tapi tidak kemana-mana. Pusing? tidak juga, menyenangkan? sangat, sedih? bisa saja. Jatuh cinta diam-diam ternyata seru juga, melihat dia dari jauh saja sudah membuatku senyum-senyum tidak jelas. Kalau boleh jujur, aku tidak bisa menahan salah tingkah ku ini. Ingin rasanya aku berlari menghampirinya dan membawa ia pulang ke rumah.
0
Feb 15
Feb 15, 2026 at 1:00 PM UTC
Komedi Putar
Semuanya berteriak dalam pikir Mengutuk diri berulang kali Menyalahkan atas yang terjadi Dia menginginkan aku untuk pergi Tuhan, aku ingin pulang Rumah di sini tidak senyaman milikmu Di sini berisik Aku dicekik berkali-kali Aku kedinginan Aku ingin hangat yang menenangkan Barangkali sajak ini sampai saat tak ada senyum merekah Tuhan, maaf, aku sudah menyerah
0
Feb 22, 2025
Feb 22, 2025 at 11:08 AM UTC
Sajak 'tak Bertuan
Sunyi nian, sungguh Ketika intuk ku tempuh Lalu hampa melanda angkuh Lenyap semua yang ku butuh Dilematis sekali menggapai asa Hingga nuragapun terkesan percuma Sungguh, hanya daksa yang ku punya Sisanya, tak ada yang benar-benar berguna Pada setiap derap ku melangkah Tak mungkin terasa resah Ketika Sang Penguasa bertitah.
0
Feb 14, 2025
Feb 14, 2025 at 10:27 AM UTC
Sebuah Catatan Kecil di Lantai Dua Kedai Kopi
Bukan sinonim matahari atau mentari, namun, sama-sama menyinari. Jika aku harus memilih untuk menghirup satu aroma, dengan lantang akan ku jawab "aroma tubuh mungilnya, wahai saudara." Seakan tersihir oleh cengkih khasnya, lekuk tubuhmu buatku merona. Sungguh, kau buatku sakit jiwa. Aku ingin terus menghisap tubuh indahnya. Menikmati setiap rasa manis yang ada disana. Karena manismu absolut, tertinggal dalam bibir penuh asap kabut. Kiranya bisa ku putar kembali waktu, nampaknya akan ku salami orangtuamu, meminta restu untuk hidup lebih lama bersamamu. Kiranya diberi nyawa, nampaknya ku terpesona jatuh cinta. Kiranya bisa kau tebak, sedang ku nikmati tubuh surya dalam malam nan panjang.
0
Feb 13, 2025
Feb 13, 2025 at 11:49 AM UTC
Surya
Your chest becomes lightning in the air, when I chant your worries. A stare like waves on the ocean, when it meets your anxiety.
0
Jan 26, 2022
Jan 26, 2022 at 3:12 PM UTC
Incarnate
I couldn't be silent as the train I was on sped all the way to a station I didn't recognize, I had no control over the engines screaming to be replaced, I couldn't catch up any longer, and the more I ran, the less I knew the speed to stop at. How could I just stand there as the hands of time continued to swing, hurling me from one strange and unpleasant page to another? I'm not sure when everything will be finished, on which page this story will end in a long epilogue, or in whose hands this turmoil will be reconciled. How could I be fine when my head was hit by blunt objects, my limbs were entangled by the weak and helpless, my heart was pumping nonstop, the heart was drained and empty space was left, my mouth was locked, and as much as I tried to free myself, I only increased the grip on my body, and the wound was getting worse? the situation will deteriorate How can I just stand there and stare? While stomachs demand that they be filled, notes demand that they be cleared, and people want that they be scheduled. The days torment me relentlessly; during the day, I am dark and color blind; at night, I stutter, and all colors beg to be painted tomorrow. How can I be like this when the sky is endless, the rain falls on any cheek, other flowers grow and new buds form, the chess horse continues to gallop, or the pen and paper have reached the abyss of the book? How am I supposed to... Oh **** it! I'm sick of sentences; I'm no longer strong. This story has concluded.
0
Jan 26, 2022
Jan 26, 2022 at 2:54 PM UTC
Crisis
I couldn't be silent as the train I was on sped all the way to a station I didn't recognize, I had no control over the engines screaming to be replaced, I couldn't catch up any longer, and the more I ran, the less I knew the speed to stop at. How could I just stand there as the hands of time continued to swing, hurling me from one strange and unpleasant page to another? I'm not sure when everything will be finished, on which page this story will end in a long epilogue, or in whose hands this turmoil will be reconciled. How could I be fine when my head was hit by blunt objects, my limbs were entangled by the weak and helpless, my heart was pumping nonstop, the heart was drained and empty space was left, my mouth was locked, and as much as I tried to free myself, I only increased the grip on my body, and the wound was getting worse? the situation will deteriorate How can I just stand there and stare? While stomachs demand that they be filled, notes demand that they be cleared, and people want that they be scheduled. The days torment me relentlessly; during the day, I am dark and color blind; at night, I stutter, and all colors beg to be painted tomorrow. How can I be like this when the sky is endless, the rain falls on any cheek, other flowers grow and new buds form, the chess horse continues to gallop, or the pen and paper have reached the abyss of the book? How am I supposed to... Oh **** it! I'm sick of sentences; I'm no longer strong. This story has concluded.
Continue reading...
10
tentang melepaskan bervariasi ada yang perlahan lahan ada yang secara kontan! aw! ada yang sepihak ada yang masing masing pihak sepakat ada yang masih meragu ada yang sudah mantap ada juga yang sudah mantap namun pendiriannya runtuh lagi runtuhnya pun akibat hal hal kecil yang manis kalau dinalar pun tidak artinya terlihat bodoh memang bodoh maksudku akhirnya hanya tinggal puing puing bobrok tidak jelas berantakan abu abu menunggu untuk segera diratakan buldozer biar hilang sekalian
0
Jun 15, 2021
Jun 15, 2021 at 9:05 PM UTC
kalo gue sih ya
3 tahun lalu, kamu berjanji ingin terus bersama denganku. 2 tahun lalu, kamu berjanji tidak akan meninggalkanku. 1 tahun lalu, kamu berjanji akan kembali kepadaku. kemarin, kamu berjanji akan menghapus kenangan kita.
0
Aug 31, 2020
Aug 31, 2020 at 9:07 AM UTC
janji
Sayang, kita tak sedang menenggelamkan kepala dalam-dalam ke kubangan lumpur. Sayang, kita sedang meminum darah yang mulai membusuk. Sayang, kita mungkin akan diperkosa dengan biadab oleh diri kita sendiri. Seperti pendosa.
0
Aug 18, 2020
Aug 18, 2020 at 3:56 AM UTC
Pendosa
Bacakan untukku tragedi penghancur semesta Dalam bayang yang merana Ditengah malam para pendosa Bacakan untukku kematian yang harum Melesat masuk kedalam ringkuhnya tulang-tulangmu Hingga remuk berbutir pasir Panggil para penguasa dalam mayanya utopia Biar mereka merangkak disana
0
Aug 11, 2020
Aug 11, 2020 at 12:18 PM UTC
Bacakan
kemudian menyala kembali keributan ombak laut yang dirasa gaduh sangaAAAAAAT di wajahmu ketika melihat sesuatu yang mengecewakan.
0
Jun 23, 2020
Jun 23, 2020 at 8:21 AM UTC
Cemb u r u
ramai sekali seperti diskon akhir tahun dimana lantainya berakhir kotor diinjak-injak hingga pukul 1 pagi ricuh dimana-mana hanya gemuruh hancur ternyata cuma pikiranku.
0
Jun 19, 2020
Jun 19, 2020 at 12:40 PM UTC
Jakarta
ada yang lain di bibirmu yang mekar ketika melihat sesuatu yang indah bukan— bukan kita. ada yang lain di matamu yang memanja nyawa-nyawa lainnya seperti melihat kenyataan yang cantik sekali bukan— bukan kita. ada yang lain dari langkahmu yang luar biasa kuatnya seperti anak umur 5 tahun yang mengejar lenglayangan di ujung lapang—gembira. ada yang lain dariku kosong sekali linu nya masih ada namun ada yang tak kunjung kembali kita yang katamu sungguh berantakan.
0
Jun 18, 2020
Jun 18, 2020 at 11:53 AM UTC
Yang Katamu Sungguh Berantakan.
Rumah joglo di tengah sawah. Dengan cahaya remang yang berasal dari pojok ruangan ini. Pemutar piringan hitammu baru selesai kau perbaiki. Ku memilih untuk mendengarkan album Chet Baker Sings dengan vokalnya, seingatku itu milik mendiang kakekmu. Gelas-gelas tinggi sudah kau siapkan, sebotol anggur dari Bordeaux sudah ku buka. Makan malam kita sudah tandas, dua piring penuh berisi daging sapi yang sore tadi ku panggang, hampir matang penuh, bersama hancuran kentang yang sedikit dibubuhi garam dan lada, dengan saus krim jamur. Jasmu sudah kau tanggalkan dan sampirkan di sisi sofa coklat tua itu. Gaun hitamku masih rapih melekat pada tubuhku, namun rambutku, yang hanya sepanjang bahu, sudah ku urai, agar kau bisa menghirup harum bunga sakuranya. Kita menari, pelan, sembari menengguk asam dan manisnya anggur Bordeaux itu. Ku kira Chet Baker telah letih bernyanyi dan bermain trumpet, suaranya perlahan hilang, digantikan oleh suara jangkrik dari luar sana. Aku pun lelah, ku rebahkan tubuhku di sofa coklat itu, menyandarkan kepala di dekat sampiran jasmu, menghirup bau cendana yang hampir hilang. Kau menghampiriku, memelukku erat, menghirup leherku, pipiku, dan mengecup bibirku. Pelan-pelan, satu per satu pakaian kita tanggal, di bawah cahaya temaram, ditemani suara jangkrik, kita melebur, melebur jadi satu. Tanah Ubud, tak pernah gagal membuatku jatuh cinta, sengaja maupun tidak.
0
Jun 5, 2020
Jun 5, 2020 at 1:57 PM UTC
Malam Malam, Ubud
Jemariku bergetar saat menuangkan isi hati dan kepalaku kali ini. Entah sudah berapa purnama ku lewatkan tanpa berada di bawah atap yang sama denganmu. Bertukar suara via telepon genggam —yang hanya secuil dibanding dengan waktu duapuluh empat jam— pun ku sudah lupa rasanya. Namun satu hal yang pasti, bagian darimu akan selalu jadi bagian dariku. Akan ku bawa sampai ke ujung waktu. Mungkin aku akan pergi lebih dulu, atau mungkin engkau? Tak ada yang tahu. Semoga Tuhan tetap melindungi, di mana pun kau berada sampai nantinya kita akan bertemu kembali. “Namamu jadi rahasia, dalam diam kan ku bawa; mendarah.” –Mendarah, Nadin Amizah
0
Jun 5, 2020
Jun 5, 2020 at 1:56 PM UTC
Surat Tersirat
Bulan kembali memutari bumi untuk ke-enam kalinya di tahun ini. Bersyukur, hanya itu yang dapat kulakukan untuk segala nikmat yang masih kurasakan. Kalau kata Pak Sapardi, dalam sajaknya « Hujan Bulan Juni ». Ia itu tabah, bijak, dan arif. Namun, akankah ia turun kali ini? untuk merahasiakan, menghapus, dan membiarkan–– ––segala sesuatu perbuatan manusia, pun baik dan buruk.
0
Jun 1, 2020
Jun 1, 2020 at 2:25 PM UTC
JUNI
~a letter for you Kita, Dari daerah melangsir ke kota Dari kota berbalik ke daerah Dan takkan dapat lagi ke kota Lain sebab apa, lain sebab kenapa Kendatipun impresi memberontak kita Kota, Kita ingat tentang kota Kota takkan ingat kita Sebab kita tak miliki tahta Lain sebab apa, lain sebab kenapa Apa daya reminisensi meronta Kota, Kita ingat tentang kota Kawanan sutet di kota kita Menari menawan menara kota Dekorasi dari kita, gradasi ufuk dunia Persuasi para penguasa kota Prasasti Suwarnadwipa, pula Visualisasi ragam abiotik Tuhan Yang Esa Kota, Kita ingat tentang kota Hamparan ladang pabrik di kota Riasan pipa asap terus-menerus menyala, gradasi ufuk dunia Luas menggugah animo di daerah Meski honorarium tak seberapa Kita duga cukup tuk besar di kota Manalagi di daerah Kita, Telah lama tak singgah pada kota Lain sebab apa, lain sebab kenapa Kota kita indah katanya Kota, bilamana kita berjumpa pula? Kita takkan abaikan memori tentang kota Lain sebab apa, lain sebab kenapa Kota kita indah katanya Kota, bilamana kita berjumpa pula? Dari pengagummu di daerah Tuk segenap kenangan kota yang hampa.
0
May 14, 2020
May 14, 2020 at 10:40 AM UTC
KOTA KITA
At times like this, amok often reigns in the head Complaints accompany sleep all day Revolt to and fro It's never good from the right or left ear Awake when people isolate themselves; dying Sleep with an effort to escape tendentious thoughts Perceived briefly in the planning that was never discussed Missing monologue with swearing and cracking and cursing Traces and shadows haunt the footsteps The devil opened the door wide; come on! Sobs broke out The children in the soul are no longer heard Buitenzorg April, 2020
0
May 1, 2020
May 1, 2020 at 9:36 AM UTC
Adrift
perihal rasa siapa yang tahu? yang memiliki sikap dingin tak berperasaan, justru sangat mencintaimu. sedang kamu, bersikap seolah olah amat mencinta, nyatanya tidak.
0
Feb 7, 2020
Feb 7, 2020 at 10:52 PM UTC
siapa yang tahu?
rindu bukan sekedar intensitas tapi juga identitas tak mesti selalu tiba tetapi jelas untuk siapa
0
Feb 7, 2020
Feb 7, 2020 at 8:22 AM UTC
intens
Hiruk pikuk kebencian Menjadi bagian dari malam ini Suara-suara lantang itu Berhasil memenuhi gendang telinga ini Atas dua insan yang berkecamuk Penantian keadilan serta merta Aku bersembunyi dalam doaku yang terburu-buru Sabar, katamu. Bagai asupan yang bahkan aku tidak lapar sekalipun
0
Dec 19, 2019
Dec 19, 2019 at 10:47 PM UTC
Dua Insan
aksaraku benar benar mati, tenggelam bersama tangis, meringis, miris, teriris. selamat tuan, kau pandai memerankan peran antagonis berkedok protagonis.
0
Nov 10, 2019
Nov 10, 2019 at 11:34 AM UTC
—aksara