Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
#bahasa
sayang sudah hampir habis dimakan api harapan yang tinggal di detak jantung. kamu laki-laki yang pernah hampir menyayangi saya, kembali lagi mencari apa yang masih menyangkut di paru-paru saya. kamu bisa robek dan belah apa yang tersisa dari tubuh ini, robek semua sampai terbelah tulang rusuk saya. lalu saya akan maafkan kamu lagi, karena ibu dan nenek melihat cinta sebagai memaafkan berulang kali.
0
Aug 6, 2025
Aug 6, 2025 at 1:02 PM UTC
perempuan putri hujan dan laki-laki penyemai harapan
Hatimu tumpah, malam pecah Maka sirna sudah gelisah Dan semua kalimat lelah Hatimu tumpah, kemudian malam terbelah Dan aku hanya bisa mencintaimu lewat dinding tanpa celah
0
Apr 29, 2025
Apr 29, 2025 at 11:13 AM UTC
April 2020
Jika aku berani lagi, biarlah langkah ini menuju tempat yang tenang. Bukan ruang yang penuh tanya, bukan jalan yang samar arahnya. Jika aku berani lagi, biarlah hati ini dipeluk dengan sungguh. Bukan sekadar disentuh, lalu dibiarkan rapuh. Bukan sekadar disapa, lalu dilupakan. Jika aku berani lagi, semoga hatiku tidak jadi sekadar persinggahan. Tidak lagi menjadi perahu yang karam, di laut yang tak pernah berniat menenangkannya. Jika aku berani lagi, semoga bukan untuk luka yang sama. Semoga kali ini, hatiku tidak salah arah.
0
Mar 15, 2025
Mar 15, 2025 at 5:46 AM UTC
Jika
Dalam lembut cahaya hidup yang temaram, Dengan yang tercinta di dekat, hati tetap bimbang. Di balik senyum, ada kehampaan, Saat malam tiba, menyelimuti kesunyian, Engkau berdiri sendiri dalam kesulitan, Jiwa terombang-ambing di lautan kehidupan. Di ruang riuh, sulit memeluk percaya, Seribu wajah, namun jiwa tetap waspada. Pada akhirnya, hanya dirimu, Yang menanggung langit biru. Dalam kesendirian, kita belajar menangis, Karena kesepian tak pernah habis.
0
Aug 18, 2024
Aug 18, 2024 at 10:55 PM UTC
Kesepian Sendirian
Dari dua Kupilih satu Yang mula Daripadamu Sebab main main main main Lalu jatuh Endap lain lain lain batin Baru runtuh Anggap bodoh pemain lama Kalau jodoh takkan kemana Keruh Apa rasaku palsu Alpa jujurmu bisu Biar resah di lembah ragu Atau nyata sungguh lugu Jangan lagi kau cari aku Karena aku si paling batu
0
Mar 4, 2024
Mar 4, 2024 at 7:06 AM UTC
Dari dua
kepala berkecamuk menumpahkan isinya tumpah ke dalam ruang di sekitarnya tak pernah benar-benar terbebas sehelai demi sehelai terajut semakin semrawut hingga kusut mencoba diselesaikan tak pernah benar-benar selesai akhirnya terbaring dalam kalut terbangun karena kusut benar-benar tak pernah lucut bagaimana bisa kepala ini menampung lebih banyak dari apa yang terlihat membawa lebih berat dari massaa badannya
0
Oct 4, 2022
Oct 4, 2022 at 1:47 AM UTC
tuntas
Tentang kopi pekat yang baru mengantar ku pulang dengan mata setengah terpejam Lalu, dirimu yang mulai hilang diantara inginku yang terlalu dipenuhi angan serta kalimat-kalimat basi yang datang pelan dan ringan Dan jarak, Jarak menjelma menjadi tubuh yang menggantikan diriku di lenganmu gadis bermata terang yang bersandar malas di dadamu
0
May 29, 2022
May 29, 2022 at 9:31 AM UTC
Malam Minggu
Setiap hari, aku mengintip dirimu dari kaki-kaki langit Melihat parasmu, yang melumat kewarasanku Dan akhirnya samudra akan memecah 'kita' menjadi kepingan 'aku' dan 'kamu'
0
May 29, 2022
May 29, 2022 at 9:29 AM UTC
Jarak
malam ini, si bocah rewel berhenti menyamar pikirannya terlalu gerah jiwanya renta, terkekang tempurung dahi hanya terisi geram kantong kapuk bersaksi atas tangis kelelahan tanpa suara ia sempat doyan bekerja berpayah-payah memunguti kerikil satu demi satu tiap pijakannya bukan tindakan acak menempa diri demi bilangan kini yang tersisa hanya pendar-pendar ambisi & setungku kekosongan menjemukan Ia berkutat pada teka teki yang tersuguh manis mencari pembebasan yang sepadan berharap segera merdeka dari jerat alur yang mengikat keras berlumuran lamunan ia berserah, membakar doa sambil melempar akal 'adakah satu dari seluruh umat manusia yang masih belum paham, kita ini gerombolan wayang bukan dalang!'
0
Apr 7, 2022
Apr 7, 2022 at 12:07 PM UTC
Anjani.
"Dulu aku pernah merasa kalau dicintai dan diterima saja sudah cukup, ternyata sisanya hati dan pikiran jadi babak belur" Dia tertawa sangat puas, "Lalu? Kapan kamu sadar ternyata manusia punya tiga wajah?"
0
Jun 5, 2021
Jun 5, 2021 at 12:19 PM UTC
Mitsumen
Besok matahari akan terbit lagi dan aku sangat mencintai pagi hari. Besok masih ada dan aku akan suka esok hari.
0
Apr 3, 2021
Apr 3, 2021 at 12:55 AM UTC
Selaras
Kenapa diam? Matamu berisik ingin berbisik—perasaanku ini asing, mengusik—tapi kamu tahu, kan? Kamu masih diam. Kenapa menjauh? Aku bukan rumah tak bertuan—aku ini sudah dirumah—tapi kamu salah rumah, kan? Kamu diam lagi. Kenapa mengelak? Setiap kenangan ada di angan, kamu langsung meninggalkan ruangan—jangan, jangan kamu, tidak boleh kamu—dirapalkan terus menerus seperti denting jam dinding tua diujung jalan, kamu takut, kan? Kamu diam lagi. Kenapa menyerah? Rautmu tidak terbaca, saat iris kita beradu lewat kaca. Begitu pula dengan langkahmu, yang berhenti setelah ujung sepatu kita bertemu. Inginku kita bertemu lagi besok pagi, nyatanya mulutmu hanya tahu elegi—karena aku maunya dia, makanya aku meninggalkan ruangan, cukup dia—rasa ini mati sebelum sempat mendapatkan hati.
0
Feb 6, 2021
Feb 6, 2021 at 1:48 PM UTC
—bukan aku.
Aku pernah diajak pulang. Senyumnya seperti figura kecil di ujung ruang, Sentuhannya familiar seperti mainan usang. Aku tidak mau diajak pulang. Tangannya hangat seperti teh yang baru dituang, Tatapannya halus seperti selimut yang sudah dibuang, Tapi sekarang belum saatnya pulang. Aku ditinggal pulang oleh mama. Katanya dia tidak bisa berlama-lama, Katanya dia masih orang yang sama, Yang walaupun raganya sudah tidak bisa diajak bercengkrama, Balut hangat cintanya akan selalu jadi rumah.
0
Feb 2, 2021
Feb 2, 2021 at 12:45 PM UTC
—rumah.
"percayalah kita hanya ujian bagi diri masing-masing. tuhan hanya ingin tahu kita lebih mencintai penciptanya atau ciptaannya" "hanya ujian?  sekali pun aku tidak pernah melihatmu sebagai ujian" "... maaf"
0
Oct 20, 2020
Oct 20, 2020 at 12:41 PM UTC
Perpisahan
cara tuhan menguji ciptaannya memang ada saja harta takhta kuasa dan aku; kamu
0
Oct 12, 2020
Oct 12, 2020 at 2:54 PM UTC
Jangan Bawa Tuhan dalam Percakapan Ini
Pagi ini kugantung kemeja favoritmu depan pintu Sambil menarik satu senyuman Menahan apa yang tertahan di kerongkongan Yang seakan jika kuhembuskan saja Bisa sampai merobek paru-paru Lalu aku memakai serba hitam Merayakan kepergian ini sendirian Atas dirimu yang tak lagi ada untuk menyapa.
0
Oct 6, 2020
Oct 6, 2020 at 10:39 PM UTC
Satu Paruh Pertama di Bulan Desember
Kita pernah ada di suatu masa ketika rindu merupakan hal yang merapuhkan, sekaligus menguatkan di saat yang bersamaan Kita pernah ada di suatu masa dimana hari-hari terisi oleh caci maki dan argumentasi—yang kini kusadari lebih baik mendengar suara ketusmu ketimbang tidak sama sekali Perihal mimpi-mimpi, janji, serta harapan yang kandas di tengah jalan, aku turut berdukacita karenanya
0
Oct 1, 2016
Oct 1, 2016 at 11:57 PM UTC
Berbelasungkawa
Bacakan untukku tragedi penghancur semesta Dalam bayang yang merana Ditengah malam para pendosa Bacakan untukku kematian yang harum Melesat masuk kedalam ringkuhnya tulang-tulangmu Hingga remuk berbutir pasir Panggil para penguasa dalam mayanya utopia Biar mereka merangkak disana
0
Aug 11, 2020
Aug 11, 2020 at 12:18 PM UTC
Bacakan
ramai sekali seperti diskon akhir tahun dimana lantainya berakhir kotor diinjak-injak hingga pukul 1 pagi ricuh dimana-mana hanya gemuruh hancur ternyata cuma pikiranku.
0
Jun 19, 2020
Jun 19, 2020 at 12:40 PM UTC
Jakarta
ada yang lain di bibirmu yang mekar ketika melihat sesuatu yang indah bukan— bukan kita. ada yang lain di matamu yang memanja nyawa-nyawa lainnya seperti melihat kenyataan yang cantik sekali bukan— bukan kita. ada yang lain dari langkahmu yang luar biasa kuatnya seperti anak umur 5 tahun yang mengejar lenglayangan di ujung lapang—gembira. ada yang lain dariku kosong sekali linu nya masih ada namun ada yang tak kunjung kembali kita yang katamu sungguh berantakan.
0
Jun 18, 2020
Jun 18, 2020 at 11:53 AM UTC
Yang Katamu Sungguh Berantakan.
Yang dipegang tidak ingin diikat, inginnya pergi menjemput belikat. Bukan rahasia kalau belikatnya adalah hidupnya, nanti dia tidak bisa terbang, katanya. Yang diberi hati tidak ingin jatuh hati, dia sudah jatuh, katanya. Sedikit lagi sampai, katanya. Sedikit lagi yang dicarinya digenggamnya, katanya lagi. Yang diinginkan bahagia juga inginnya bahagia, untungnya. Tapi bukan untuk satu sama lain, sayangnya. Tidak apa-apa, kan yang penting bahagia, katanya. Dia tidak mengerti, sayangnya lagi. Dia tidak mengerti, dia ada menghantui sudut ruang, nyata dan berakar, langkahnya tak bergravitasi keluar sangkar, inginnya berputar melingkar, tetap tinggal, tidak meninggalkan. Perasaan ini bermassa, dia sudah pasti tak memberi asa, sudah biasa. Sudah biasa, tidak apa-apa. Jadi dia dibiarkan kembali duduk di sudut ruangan.
0
Jun 18, 2020
Jun 18, 2020 at 1:33 PM UTC
—yang duduk, yang tinggal.
Ibu mengajarkanku menerima biru Agar pada setiap simpuh hanya ada bisu Dan pada 777600 tak tersisa pilu Ibu mengingatkanku merapal namamu Agar padamu, Ia angkat abu dan biru Agar kamu, terlupa apa yang lalu lalu
0
Jun 16, 2020
Jun 16, 2020 at 3:01 AM UTC
777600
"Kelak kamu akan mengerti; setelah tenggelam dalam sepi lalu menangisi apa yang sudah pergi"
0
Jun 13, 2020
Jun 13, 2020 at 12:37 PM UTC
Menenangkan Duka