Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
 
 Jun 2017 Elle Sang
Noandy
Sarsaparilla

Habisi aku hingga tak tersisa setetes pun dari beling belang sewarna kelam kulitmu.

Kapal di telunjuk meraba bekas kecup bibir pada ujung botol dengan wangi pahit yang teringat untuk terlupa karena seangin lalu hadirnya.

Wangi obat dan balsam,
dalam seteguk hela nafas di ujung keseharianku.

Bulan dari jendela menatap genangan hitam setelah busa-busa sassafras dan jari kita terjalin di bawah remang lampu;
ruang kedap suara tak butuh suara lain selain jerit garing dahaga yang menari di jalinan lidahmu,
jilat sassafras.

Yang menari di wangi rambutmu,
wangi sassafras.

Yang menari di matamu,
bening hitam botol sassafras.

Letupan soda yang menggerogoti tiap kuncup di lidah ialah pengingat atas tubuh kita yang kelak jasad belaka.

Wangi obat dan balsam. Mengawet sebagai mumi.
Menyoklat, menghitam,
sekelam botol sassafras terguling.

"Jika mumiku bangkit di senjakala dunia, habisi aku sekali lagi, lalu rendam tubuhku;
Dalam botol-botol hitam sassafras,
ramu apapun yang kelak tersisa dariku."

Malam ini tak ada daun tergantung, kering perban mumi dan,
akar sassafras.

Tak ada pahit yang lebih pahit dari manis akar pilu, manis genggam jarimu, manis tertanam di punggung tangan, tergali, digali, mengakar;
akar sassafras
dan akar kata-katamu,
memanas meranggas dalam tubuh di kering kemarau.
Malam
Jemari
Jemarimu
Hitam botol sassafras
Hitam matamu
Balsam
Panas
Lepas.

Kau dan seteguk
Sarsaparilla terakhir di penghujung hari;
Habisi aku hingga tak tersisa setetes pun dari beling belang sewarna kelam kulitmu.

— The End —